Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Pengayauan dan Tumbal Hewan di Minahasa — Antara Kepercayaan, Pembangunan, dan Ketakutan

Pengayauan dan Tumbal Hewan di Minahasa — Antara Kepercayaan, Pembangunan, dan Ketakutan

  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 68
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kira-kira tahun 1931, tulisan karya misionaris Katolik Pater Jac. Duray menggambarkan suasana yang berbeda dari gambaran sederhana tentang Minahasa sebagai masyarakat yang telah meninggalkan praktik pengayauan. Dalam artikel berjudul “Koppensnellen in de Minahassa”, yang dimuat dalam Almanak Missiehuis Tilburg jilid 41, Duray justru menceritakan bagaimana kabar tentang koppenzoekers yang artinya “pencari kepala (pengayauan)” menimbulkan ketakutan di berbagai tempat di Minahasa. Tulisan tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan bagaimana ingatan tentang pengayauan masa lalu masih dapat memengaruhi kehidupan masyarakat melalui rumor dan kepercayaan.

Duray membuka tulisannya dengan nada yang sengaja provokatif. Ia mengatakan bahwa pembaca mungkin akan merasa ngeri ketika mendengar judul tentang pengayauan. Namun, menurutnya, yang sedang ia bicarakan bukanlah orang Minahasa yang pada 1931 melakukan pengayauan, melainkan cerita mengenai orang-orang Belanda yang disebut berkaitan dengan praktik tersebut. Ia menjelaskan adanya kepercayaan bahwa ketika orang Belanda membangun pekerjaan besar seperti jembatan, kantor, atau pabrik sebuah kepala manusia harus dikuburkan di bawah fondasi agar bangunan tersebut berhasil. Dengan demikian, pengayauan dalam tulisan Duray muncul dalam hubungan dengan kepercayaan mengenai pembangunan dan perlindungan dari pengaruh buruk.

Menariknya, Duray tidak menyatakan bahwa praktik tersebut masih berlangsung secara terbuka pada masa ia menulis. Ia mengatakan bahwa beberapa orang tua yang dimintainya penjelasan mengakui bahwa pengayauan memang pernah dilakukan pada masa lalu. Menurut kesaksian yang ia terima, kepala manusia dahulu dipandang sebagai semacam persembahan untuk menangkal pengaruh buruk.

Ketika proyek besar seperti jembatan atau saluran air untuk pengairan sawah dimulai, kepala manusia disebut harus dikuburkan terlebih dahulu agar pekerjaan itu tidak mengalami kegagalan. Duray juga mencatat bahwa ketika seorang Minahasa yang sangat penting atau pejabat tinggi meninggal, pada masa sebelumnya kepala manusia juga dikaitkan dengan upaya menjauhkan gangguan roh jahat.

Namun, dalam praktik sehari-hari yang diceritakannya, bentuk kepercayaan yang disebut Duray tampak lebih dekat dengan penggunaan hewan. Ia mencatat kepercayaan bahwa ketika sebuah rumah dibangun, darah anjing harus dioleskan pada sudut belakang kiri atau kepala anjing dikuburkan di tempat tersebut. Ketika pastoran di Tomohon mulai dibangun, para pekerja bahkan meminta seekor anjing. Akan tetapi, Duray memperoleh jawaban yang cukup pragmatis: anjing itu diperlukan untuk mendapatkan darah, sedangkan setelah disembelih dagingnya dapat dimakan. Kisah ini menunjukkan bahwa bagi Duray, kepercayaan lama tidak selalu hadir sebagai praktik yang sepenuhnya ritual; ia juga dapat bercampur dengan kepentingan praktis masyarakat.

Bagian paling menarik dari tulisan Duray muncul ketika ia menceritakan kepanikan masyarakat terhadap koppenzoekers. Ia mengatakan bahwa hampir seluruh Minahasa pada saat itu diliputi ketakutan. Bahkan sebuah mobil tertentu disebut-sebut sebagai kendaraan para pencari kepala. Beredar cerita bahwa orang-orang di dalam mobil tersebut membawa tali panjang untuk menangkap seseorang dengan cara dilemparkan ke leher lalu menyeret korbannya.

Duray menanggapi cerita itu dengan nada skeptis dan menyindir bahwa jika mereka memang sudah beroperasi selama beberapa minggu, seharusnya telah ada korban yang berhasil mereka tangkap.

Meski demikian, rumor tersebut memiliki dampak nyata. Pada malam hari, menurut Duray, hampir tidak ada orang yang berani keluar rumah. Kehadiran masyarakat dalam kebaktian malam menurun, bahkan sebagian orang tua takut mengirim anak mereka ke sekolah jika sekolah itu berada cukup jauh dari rumah. Duray juga menceritakan pengalamannya ketika sedang menunggang kuda dan bertemu orang-orang di kebun. Jika sebelumnya orang hanya memandangnya dengan agak waspada, dalam situasi kepanikan tersebut beberapa orang bahkan langsung melarikan diri ketika melihat orang yang tidak mereka kenal. Dengan kata lain, meskipun keberadaan para “pencari kepala” tidak dibuktikan oleh Duray, ketakutan terhadap mereka benar-benar menghasilkan konsekuensi sosial.

Kepanikan bahkan dapat berkembang dari kejadian kecil menjadi alarm masyarakat. Duray menceritakan bahwa di sebuah tempat yang cukup besar pada hari pasar, beberapa anak melihat seseorang yang dianggap mencurigakan. Cerita tersebut kemudian berkembang semakin besar sepanjang hari. Pada sore hari, masyarakat sampai membunyikan lonceng serta memukul trom dan gong untuk mengumpulkan orang.

Kisah ini memperlihatkan mekanisme penyebaran rumor: sesuatu yang semula hanya berupa pengamatan terhadap orang yang dianggap asing dapat berkembang menjadi ancaman yang dipercaya oleh masyarakat luas.

Duray bahkan memberikan penjelasan lain mengenai mengapa rumor semacam itu dapat bertahan. Ia menduga bahwa para pencuri mempunyai kepentingan untuk mempertahankannya. Menurutnya, rumor pencari kepala muncul kembali setiap tahun, terutama pada musim panen. Ketika masyarakat takut berada di kebun, pencuri justru memperoleh kesempatan untuk mengambil hasil kebun dengan lebih leluasa. Ayam dan hewan peliharaan yang berada di rumah kebun juga disebut menjadi sasaran pencurian. Dalam pembacaan kritis, bagian ini penting karena memperlihatkan bahwa rumor tidak selalu hanya lahir dari ketidaktahuan atau kepercayaan; ia juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.

Masyarakat dan pemerintah desa kemudian berusaha menghentikan kepanikan tersebut. Di beberapa tempat, kepala desa mengeluarkan pengumuman untuk menenangkan masyarakat. Ada pula gagasan yang lebih tidak biasa: membuat pesta, menyembelih seekor banteng, lalu menguburkan kepalanya secara seremonial untuk mengakhiri rumor. Duray mengatakan bahwa praktik semacam itu disebut telah dilakukan di beberapa tempat dan dianggap berhasil.

Namun ia juga mencatat adanya kecurigaan karena kepala yang dikuburkan dibungkus sedemikian rupa sehingga orang tidak dapat mengetahui apakah sebenarnya kepala banteng atau kepala manusia.

Pada akhirnya, Duray sendiri mengakui bahwa penalaran rasional tidak selalu mampu menghapus kepercayaan semacam itu. Orang dapat menerima penjelasan seorang pastor ketika berada di satu desa, tetapi kemudian mengatakan bahwa hal tersebut mungkin benar-benar terjadi di desa lain.

Ia menggambarkan sebuah lingkaran keyakinan yang sulit dipatahkan: jika tidak terjadi di tempat A, mungkin terjadi di B; jika tidak di B, mungkin di A. Bagi Duray, persoalan tersebut merupakan bentuk takhayul yang masih bertahan. Ia kemudian menghubungkannya dengan proses penyebaran agama Kristen dan perubahan masyarakat Minahasa.

Menariknya, pada bagian akhir Duray menyebut sebuah dokumen mengenai hubungan orang Minahasa dengan Inggris pada awal abad ke-19. Dalam perjanjian tersebut, menurut Duray, terdapat kewajiban agar orang Minahasa “geen koppen meer te snellen yang artinya tidak lagi melakukan pengayauan”. Ia menyebut dokumen itu ditemukan dalam arsip ketika peringatan 250 tahun kedatangan orang Belanda dirayakan. Bagi Duray, dokumen tersebut menjadi bukti bahwa dalam rentang sekitar satu abad telah terjadi perubahan besar. Namun sebagai sumber sejarah, pernyataan ini tetap perlu ditempatkan sebagai klaim Duray, bukan sebagai bukti tunggal yang dengan sendirinya dapat menggambarkan seluruh sejarah pengayauan di Minahasa.

Karena itu, Koppensnellen in de Minahassa lebih menarik jika dibaca bukan semata-mata sebagai bukti bahwa pengayauan masih berlangsung pada 1931. Sumber ini justru memperlihatkan jejak ingatan tentang pengayauan dan bagaimana ingatan tersebut dapat berubah menjadi rumor, ketakutan, bahkan kepanikan sosial. Di dalam tulisan Duray terdapat tiga lapisan yang berbeda: kesaksian mengenai praktik masa lalu, kepercayaan tentang perlindungan dalam pembangunan, dan rumor kontemporer mengenai pencari kepala. Ketiganya tidak boleh dicampur menjadi satu fakta yang sama.

Dengan demikian, tulisan Pater Jac. Duray memberi gambaran yang berharga tentang Minahasa pada awal abad ke-20, sekaligus memperlihatkan cara seorang misionaris Katolik Eropa memandang kepercayaan masyarakat setempat. Sumber tersebut juga mengingatkan bahwa dalam sejarah, rumor sendiri dapat menjadi peristiwa penting. Walaupun keberadaan “pencari kepala” yang diceritakan Duray tidak dibuktikan secara konkret dalam tulisannya, ketakutan terhadap mereka nyata: masyarakat menghindari jalan pada malam hari, takut mengirim anak ke sekolah, meninggalkan kebun, dan bahkan mengadakan tindakan bersama untuk mengatasi kepanikan.

Referensi: Pater Jac. Duray, “Koppensnellen in de Minahassa,” Almanak Missiehuis Tilburg, jilid 41 (1931), hlm. 67–74. Artikel tersebut diterbitkan di bawah judul “Apostolische Prefectuur van Celebes” dan mencantumkan Duray sebagai pastor dari Valkenswaard yang bekerja dalam misi di Celebes.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Peta Sulawesi Exacta et Accurata Delineatio tahun 1595

    Babontehu: Kerajaan Kristen Awal di Utara Sulawesi

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Di tengah gelombang besar historiografi lokal Sulawesi Utara, nama Babontehu sering hadir dalam dua wajah sekaligus: sebagai ruang historis dan sebagai ruang mitologis. Dalam tradisi tutur masyarakat, Babontehu dikaitkan dengan silsilah para dotu dan tokoh pendiri yang hidup jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Namun ketika sejarah direkonstruksi secara ketat berdasarkan arsip kolonial primer, laporan ekspedisi, […]

  • Beras Minahasa yang Diperebutkan Spanyol dan VOC

    Beras Minahasa yang Diperebutkan Spanyol dan VOC

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, beras telah menjadi salah satu bahan makanan utama di Minahasa. Dalam A History of the Minahasa c. 1615–1680, Jouke S. Wigboldus menulis bahwa sampai abad ke-16, beras dan daging babi merupakan makanan yang menonjol. Penduduk menjalankan pertanian berpindah, sedangkan sawah sederhana ditemukan terutama di sekitar Danau Tondano. Tanah masih tersedia dalam […]

  • Peta Exacta & Accurata Delineatio karya Jan Huyghen van Linschoten (1595/1596).

    Ketika Manado Masih Sebuah Pulau: Menelusuri Jejak yang Terlupakan

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Nama sering kali berpindah, tetapi jejak sejarah tidak selalu ikut menghilang. Dalam perjalanan panjang sebuah kota, ada kalanya identitas geografis bergeser perlahan hingga masyarakat modern menerima suatu keadaan sebagai sesuatu yang sejak awal memang demikian adanya. Manado mungkin termasuk salah satunya. Banyak orang mengenal Manado sebagai sebuah kota di pesisir utara Sulawesi, sebuah kawasan yang […]

  • Sultan Pahang bersama istrinya Maria Menado (Koran Sinar Harapan, 19-07-1969 hal 5, kol. 1-2. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba-Perpustakaan Nasional RI)

    Dari Minahasa ke Istana Pahang: Jejak Langkah Liesbet Dotulong di Era Emas Perfilman Melayu

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Liesbet Dotulong yang kemudian dikenal luas dengan nama panggung Maria Menado lahir pada 2 Februari 1932 di wilayah Minahasa, Sulawesi Utara.[1] Ia berasal dari lingkungan masyarakat Minahasa yang pada masa itu telah memiliki tradisi mobilitas sosial dan pendidikan yang relatif terbuka. Sejak usia dini, Liesbet telah meninggalkan kampung halamannya dan mengikuti keluarga ke Makassar, sebelum […]

  • Kyai Modjo dan rombongan tiba di pelabuhan Manado tahun 1830 (Ilustrasi)

    Diplomasi Opo’ Tombokan: Saat Tanah Adat Mengalahkan Ambisi Kolonial

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Kebijakan pengasingan internering yang dijalankan pemerintah Hindia Belanda setelah perang Jawa kerap dipahami semata sebagai strategi mematahkan perlawanan. Namun di Minahasa, kebijakan itu justru melahirkan sebuah babak sejarah yang berbeda: pertemuan antara eksil politik, kekuatan adat, dan kemampuan beradaptasi yang menghasilkan komunitas baru, Jawa Tondano. Pada pertengahan 1830, seorang tokoh sentral perlawanan Jawa, tiba di […]

  • Benteng Amurang: Jejak VOC di Gerbang Selatan Minahasa

    Benteng Amurang: Jejak VOC di Gerbang Selatan Minahasa

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Di tepi Teluk Amurang, sebelah barat muara sungai Ranowangko, berdiri sisa sebuah tembok tua. Denahnya menyerupai huruf D, satu sisi lurus sepanjang kira-kira 30 meter, satu sisi melengkung menghadap laut, tingginya hampir tiga meter, dengan enam lekukan tempat meriam. Pada temboknya tertulis angka 1512.[1] Orang menyebutnya Benteng Portugis. Nama itu sudah lama melekat. Tetapi ketika […]

expand_less