Pilihan Pembaca
light_mode
Topik Menarik
Beranda » Sejarah » Landraad Manado 1697: Ketika Para Kepala Negeri Mengadili Rakyat di Hadapan VOC

Landraad Manado 1697: Ketika Para Kepala Negeri Mengadili Rakyat di Hadapan VOC

  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • visibility 23
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jumat 30 Agustus 1697, pukul tujuh pagi. Di loji benteng Amsterdam Manado para utusan VOC dari Ternate duduk bersidang dengan tiga hukum mayor kepala yaitu Soepit, Lonto, dan Paat dari Tomon yang baru diangkat provisioneel (sementara) .

Bersama mereka hadir para bobato utusan dari negeri-negeri bawah dan atas. Hanya Tompaso dan Rumoong (Tompasso dan Romon) yang tidak datang. [1]

Juru tulis para utusan menamai pertemuan itu “dese algemeene landraad”, dewan negeri umum ini. [1]

Hari itu dewan tersebut akan memutus perkara demi perkara, para hakim negeri yang membangkang, pemuda yang kabur ke hutan, hukum yang menahan istri orang, putra kapitan yang menantang Kompeni, dan sengketa anak-anak seorang budak. Semua itu tercatat dalam jurnal yang dikirim Ternate ke Batavia bersama surat 26 September 1697.

Kabar orang Mandar

Rapat itu juga dipanggil karena suatu ketakutan. Sersan komandan Kompeni VOC di Manado bernama Henrij de Chieze, berkali-kali menulis ke Ternate bahwa orang negeri atas terlalu mudah termakan “los gerugt en valsche uijtstrooijingen”, kabar angin dan desas-desus palsu.

Kabarnya, orang Mandar (mandaresen, Sulawesi barat) akan datang menyerang. Mendengar itu, orang pegunungan beberapa kali mengungsikan istri dan anak dari negeri mereka ke tanah atas. Sebagian laki-laki bahkan ikut lari bersembunyi ke hutan. [2]

Ketakutan itu ada sebabnya. Kompeni baru saja menarik sebagian pasukan dan amunisi dari Manado. Jurnal menyebut penarikan itu “dese ligting”, penarikan ini.

Para utusan merasa perlu menegaskan bahwa pasukan itu tidak ditarik untuk meninggalkan para kepala negeri, dan bukan pula karena Kompeni tidak mempercayai mereka. [3]

Para utusan VOC lalu menjawab ketakutan itu di depan sidang. Kompeni kata mereka, “door gods genade”, berkat rahmat Tuhan tidak kekurangan kapal, sekoci, orang, mesiu, ataupun peluru. Buktinya dua kapal sedang berlabuh di rede Manado, dan belum lama sebuah sekoci besar berangkat ke Kaidipang. Kompeni sanggup memenuhi perjanjian 10 Januari 1679 yang dibuat Gubernur Robertus Padtbrugge, yaitu membela para kepala negeri dari siapa pun yang hendak mencelakai mereka. [2]

Sesudah itu datang teguran. Para kepala negeri dimarahi karena “laff-hartigheijt”, pengecut. Kalau ada lagi negeri yang ditinggalkan penduduknya hanya karena kabar angin, Kompeni akan menghukum “die kinderlijcke, en beangstigde, jae bange inwoonderen”, penduduk yang kekanak-kanakan, ketakutan, bahkan penakut itu, begitu rupa sehingga yang lain mendapat exempel, contoh. [3]

Hakim Manado dan dua buronan

Perkara pertama menyangkut negeri Manado sendiri. “Den mandonesen rigter david liaha”, yaitu hakim Manado David Liaha dipanggil ke depan sidang. Ia ditanya mengapa tidak menyerahkan dua buronan bernama Laurenso Bakalo dan marinyo Alexander Candabolij kepada komandan sebelum para utusan tiba, padahal itu ada dalam kuasanya. [3]

Alasan Liaha dinilai “sober en frivole”, tipis dan mengada-ada. Ia didenda sehelai kain salempuris. Mendengar putusan itu Liaha menunjukkan “een koppigen en affrontanten geest”, watak keras kepala dan menantang lalu minta saat itu juga dibebaskan dari jabatannya. Permintaan itu tidak dikabulkan. Ia dinilai cukup cakap, sebagaimana terlihat juga dari surat-surat Manado ke Ternate bertanggal 16 Februari 1697, sehingga ia tetap memegang jabatannya seperti sebelumnya. [3] [4]

Akhirnya setelah didesak keras, Liaha menyebut nama tiga orang dari negeri Manado yang membangkang yaitu Alexander Candabolij, Laurenso Bakolo, dan Andries Papoea. Dua yang pertama sudah dirantai di benteng Amsterdam sehari sebelumnya, lalu dibawa ke sidang. [4]

Alexander Candabolij dibawa ke tempat sidang lalu ditanya mengapa begitu lama meninggalkan negerinya. Ia menuduh sersan komandan suka memasukkan orang ke benteng tanpa alasan. Buktinya hanya satu yakni sersan pernah menahan tiga perempuan. Tuduhan itu ternyata “een pure laster”, sebuah fitnah belaka. Ketiga perempuan itu sendiri mengaku di depan sersan dan para utusan bahwa mereka berurusan dengan orang-orang Cina yang baru berangkat, dan mereka sudah dihukum menurut adat negeri. [4]

Alasan Alexander yang sebenarnya lain. Ia dituduh memukul ibunya, sehingga tidak berani menghadap sersan. Tuduhan memukul ibu tidak terbukti. Namun terbukti bahwa ketika seorang suruhan komandan datang mencarinya, Alexander hendak menyerang orang itu dengan werp-spies, tombak lempar dari dalam hutan. [4]

Maka diputuskan, “ten spiegel van andere”, sebagai cermin bagi yang lain, ia dikirim ke Ternate untuk dihukum dan dipekerjakan pada pekerjaan umum. Sampai kapal berangkat, ia kembali ditahan. [5]

Marinyo Laurens Bakolo menyusul. Komandan sudah berkali-kali memanggilnya, tetapi ia menyuruh orang menjawab dengan “ik hebbe met den sergeant niet te doen, ik en wil niet bij hem komen”, aku tidak ada urusan dengan sersan, aku tidak mau datang kepadanya. Alasannya adalah komandan telah mengambil rotting, tongkat rotan tanda jabatan marinyo darinya. Itu pun ternyata tidak benar. Karena membangkang dan berbicara lancang, ia dirantai tiga hari di benteng Amsterdam, lalu dilepas. [5]

Hukum Lasso dan Anika

Sesudah orang Manado, giliran seorang hukum dari Aris. “Den hoecum lasso, uijt de negorije aris berispten sterck”, hukum Lasso dari negeri Aris kami tegur keras.

Ia begitu lancang tulis juru tulis, sehingga menahannya selama beberapa hari “een egte kristen vrouw anika genaamt”, ia menahan seorang perempuan Kristen sejati bernama Anika, tanpa sepengetahuan suaminya, “daar hij een heijden was”, padahal ia seorang kafir (belum dibaptis). Ia juga mengambil dari Anika sehelai “boelangs kleetje”, kain boelangs, senilai kira-kira dua rijksdaalder (ringgit perak Kompeni).[5]

Maksudnya adalah Lasso yang belum dibaptis ini, membiarkan istri orang tinggal bersamanya beberapa hari tanpa sepengetahuan suaminya. Bagi Kompeni, berat hukumannya akan bertambah karena perempuan itu Kristen dan sudah menikah secara Kristen.

Lasso membela diri. Menurutnya, perempuan itu masih kerabatnya dan ia menyangkal Anika pernah tinggal berhari-hari di rumahnya. Sidang tidak menerimanya.

Lasso dinyatakan cukup terbukti “van ontrouw omtrent dese vrouw haar man”, berbuat tidak setia terhadap suami perempuan itu. Ia didenda sepotong kain guinees lijwaat (kain katun dari India) untuk para land-regters, hakim negeri, dan kain boelangs tadi disita. [5]

Lasso bukan seorang hukum sembarangan. Ia adalah Lassout, salah satu dari dua hukum mayor Aris bersama Lolabij sejak 1695. Juru tulis Kompeni menulis namanya dengan berbagai ejaan yakni Lassout, Lasoet, dan Lasso. Dalam berkas 1699, misalnya, ia disebut “de hoofd hoecims lolabij, en lasso”, “hukum kepala Lolabij dan Lasso”. [5] Jadi yang ditegur keras dan didenda di depan landraad ini adalah seorang hukum mayor.

Pada hari yang sama Lasso juga tampil sebagai penggugat. Ia menggugat seorang Tondano bernama Imbor karena barang-barangnya diambil tanpa izin. Karena tergugat tidak hadir, perkara itu diserahkan kepada para hukum mayor kepala dan bobato lainnya untuk diperiksa bila Imbor turun ke Manado. [6]

Perkara tiga puluh tahun

Sidang tiba-tiba menerima banyak sekali perkara. “Veele en diverse oude questien, van dertig à veertig jaaren”, banyak perkara lama dari tiga puluh sampai empat puluh tahun silam, diajukan oleh berbagai orang. Rapat terpaksa membuat aturan. Hanya tuntutan yang timbul sesudah kepergian dua utusan sebelumnya yaitu Pieter Alsteijn dan Thiery, yang akan diputus. [6] Jadi perkara yang lebih tua dari itu dianggap sudah tutup buku.

Bohan dari Bantik

Perkara paling keras datang dari Bantik. Yang dihadapkan adalah “de soon van den bantikse Capitain Sangiyang, Bohan genaamt”, putra kapitan Bantik Sangiyang, yang bernama Bohan”. Dakwaannya ada dua. [7]

Pertama, dalam suatu perkara penting ia “hadde heeten liegen”, telah mengatai pendusta, tiga orang sekaligus yaitu hukum mayor kepala Soepit, komandan De Chieze, dan tolcq, juru bahasa, Manuel Parera.

Ketiganya orang yang paling menentukan pemerintahan di Manado saat itu. Soepit seorang kepala terbesar negeri atas, De Chieze memimpin pos Kompeni, dan lewat mulut juru bahasa Parera setiap kata Kompeni sampai ke telinga para kepala negeri. [7]

Kedua, Bohan menolak datang ke rapat ketika dipanggil sersan. Ia malah menyuruh pembawa pesan menyampaikan bahwa ia tidak mau datang kepada komandan. Biar saja komandan “hem door de hollanders laten haalen, op het fort setten, door de kop kon laten schieten”, menyuruh orang Belanda menjemputnya, menaruhnya di benteng, dan menembak kepalanya. [7]

Kalimat itu tantangan, bukan permohonan ampun. Namun landraad tidak menjawabnya dengan peluru. Bohan “wierd mede door desen landraad overtuijgt”, dinyatakan bersalah oleh dewan negeri ini, dan dijatuhi denda barang berupa:

  • 2 helai “boelangse witte kleetjes”, kain boelangs putih,
  • 2 badem, kain linen,
  • 3 pieringen, piring,
  • 3 commen, mangkuk.

Denda itu dibayar di tempat, selagi sidang berlangsung. Bohan lalu dilepas dengan peringatan. Kalau ia berbuat tidak pantas lagi, ia akan diserahkan kepada Kompeni VOC untuk dihukum. [7]

Denda Bohan memperlihatkan wajah hukum dalam landraad itu. Hukuman dibayar dengan barang sehari-hari, kain dan perabot dapur, bukan dengan darah. Kekerasan yang ia tantang tidak dipakai, sedangkan Alexander dari Manado, yang benar-benar mengangkat tombak dikirim ke Ternate.

Negeri yang tidak datang, dan anak-anak seorang budak

Tompaso dan Rumoong menyusul diadili tanpa hadir. Hukum mayor kepala sudah diperintahkan menyuruh kedua negeri itu mengirim bobato utusan ke benteng Amsterdam, tetapi mereka tidak muncul. Masing-masing didenda sehelai kain salempuris. [7]

Lalu dua kepala negeri besar berhadapan. Lonto, hukum mayor kepala dari Sarongsong, menggugat Paat dari Tomon, yang baru diangkat sementara karena seorang budak yang diambil darinya. [7]

Paat, “hij verweerder”, selaku tergugat, menjelaskan alasannya. Seorang budak milik Lonto mendapat anak-anak dari seorang perempuan merdeka, kerabat sedarah Paat. Namun “de bruijd-schat”, harta kawin, belum diserahkan kepada kerabat perempuan itu “naar hun ‘s lants wijse”, menurut adat negeri mereka. [7] Jadi Paat menahan budak Lonto karena perkawinan itu belum tuntas menurut adat.

Naskah awal putusannya terpotong di pergantian halaman, tetapi intinya terbaca. Kedua anak itu rupanya dibagi-bagi yakni satu tinggal pada satu pihak, “het andere bij hem”, yang lain padanya.

Syaratnya tegas. “Dese drie persoonen, off moeder en twee kinderen”, ketiga orang ini, yaitu ibu dan dua anaknya, harus “als vrije menschen steets bij hun getracteert”, selalu diperlakukan sebagai orang merdeka, dan “nooijt in slavernij souden mogen getrocken worden”, tidak boleh sekali-kali ditarik menjadi budak. [6]

Kedua pihak “vrundelijk bedanckten”, berterima kasih dengan ramah, kepada dewan, dan perkara itu “geassoupieerd”, dipadamkan. [6] Anak-anak seorang budak dengan ibu yang merdeka dinyatakan merdeka.

Budak dari Tombariri dan timbangan

Para utusan juga menyampaikan jawaban Ternate kepada para bobato Tombariri yang meminta agar “den slaaff boelang jtam”, artinya budak asal Bolaang Itang, dipulangkan “terug in sijn land”, ke negerinya sendiri. Dewan VOC Ternate bersedia asal dibayar 20 rijksdaalder, tetapi para bobato tidak berminat membayarnya, jadi budak itu tetap tinggal di Ternate.[8]

Lalu “de generale bobatos”, semua bobato bersama-sama, mengajukan permintaan mereka sendiri. Mereka minta dikirimkan dari Ternate dengan kapal berikutnya, “een geijckte waage”, sebuah timbangan yang ditera, yaitu timbangan yang sudah diperiksa dan diberi cap resmi sebagai tanda ukurannya benar. Timbangan itu untuk kantor Kompeni di Manado. Alasannya, “om gewist te sijn dat de goederen die hun toequamen haar behoorlijk verstrekt wierden”, supaya pasti bahwa barang-barang yang menjadi hak mereka diserahkan dengan semestinya. Para utusan berjanji menyampaikannya kepada Gubernur Salomon le Sage. [8]

Permintaan ini menunjukkan bahwa para kepala negeri tidak mau sekadar percaya pada timbangan Kompeni. Mereka ingin takarannya bisa diperiksa.

Aris dan Ombin menjadi satu

Ketika para kepala negeri ditanya satu per satu apakah masih ada sengketa yang bisa dibantu Kompeni, negeri Aris mengajukan permintaan tertulis. Mereka ingin orang-orang mereka yang tinggal di negeri Ombin (negeri disamping benteng Amsterdam) boleh kembali menetap di Aris seperti dulu. [6]

Para hukum mayor kepala lalu mengusulkan jalan lain. Kedua negeri itu sama-sama terletak “hier onder het fort”, di sini di bawah benteng, sedangkan Ombin “seer kleijn en onsterck van volk”, sangat kecil dan kekurangan orang. Maka sebaiknya Aris dan Ombin “in een, tot een negorije”, dilebur menjadi satu negeri. Para bobato kedua negeri setuju. Usul itu dikabulkan, menunggu restu Gubernur dan dewan di Ternate. [8]

Namun syaratnya adalah penduduk negeri gabungan itu harus memikul bagian mereka dalam kerja untuk Kompeni “sonder exceptie”, tanpa kecuali. Mereka menyanggupinya “onder handtasting”, dengan berjabat tangan. [8]

Hukum negeri gabungan itu diangkat beberapa waktu kemudian “den sergeant ombin tot hoekum van de negorij aris en ombin”, sersan Ombin menjadi hukum negeri Aris dan Ombin. [9]

Kontrak dibacakan, Paat muda diangkat

Menjelang akhir sidang ada pengumuman yang menyangkut Kompeni sendiri. Sersan komandan Henrij de Chieze dipanggil ke Ternate dengan “een springtochtje”, perahu kecil pengantar, untuk membereskan urusan Kompeni bersama opperkoopman Pieter Roselaar.

Karena para kepala negeri bawah dan atas sedang berkumpul, para utusan langsung memperkenalkan penggantinya sementara di depan sidang yaitu korporal Jacob Jojeris. Ia dinilai “een bequaam en vroom man”, orang yang cakap dan saleh, dan “taalkundig”, menguasai bahasa setempat. Para hukum mayor kepala dan bobato berjanji memberinya hormat dan ketaatan. [1] [9]

Sesudah itu kontrak 10 Januari 1679 dibacakan “de novo”, sekali lagi, oleh juru bahasa Manuel Parera dalam bahasa para kepala negeri sendiri.

Tujuannya “tot meerder aanmaning van hun pligt”, untuk lebih mengingatkan kewajiban mereka, karena banyak negeri meminta pejabat baru pengganti yang wafat atau tidak cakap. Selesai dibaca, “die gesamentlijcke heertjes”, tuan-tuan kecil itu semuanya, ditanya apakah mereka mengerti dan masih mau menaatinya. Mereka “met luijder keelen ja.ja. riepen”, berseru ‘ya, ya’ dengan suara lantang. [9] [10]

Lalu diumumkan pengganti di Tomon. “In plaats van den overleden hooft hoekum major paat”, sebagai ganti mendiang hukum mayor kepala Paat, diangkatlah “desselfs zoon, als de naaste daar toe sijnde, den capitain Rontom paat, op de negorij tomon”, anaknya, sebagai yang terdekat untuk jabatan itu, kapitan Rontom Paat, di negeri Tomon”. Pengangkatan itu masih menunggu restu dewan VOC Ternate. [9] Karena itulah sepanjang sidang ia disebut provisioneel, sementara.

Alasannya patut dicatat adalah de naaste, “yang terdekat”. Jabatan turun kepada kerabat terdekat kepala negeri yang wafat, nama Paat pun ikut turun. Karena itu Paat yang menandatangani Nader Contract 10 September 1699 bersama Soepit dan Lonto adalah Paat yang kedua (Paat muda). [11]

Pangkat-pangkat baru

Sesudah Paat, pengangkatan lain dibacakan satu per satu. Daftarnya memperlihatkan susunan pangkat negeri-negeri bawah, yang meniru pangkat tentara yakni kapitan, letnan, vaandrig (pembawa panji), sersan, dan korporal. [9]

  • Sersan Ombin menjadi hukum negeri Aris dan Ombin. Vaandrig Makkajrou naik menjadi letnan, sersan Motoulo menjadi vaandrig menggantikannya, dan korporal Tomewan menjadi sersan.
  • Tinkol, “een gemeen man”, orang biasa, menjadi marinyo karena banyaknya penduduk negeri Tondano.
  • Di Bantik, letnan Lomban menjadi kapitan, menggantikan kapitan Lonto yang dipecat karena “onbequaam”, “tidak cakap”. Sersan Rappor menjadi letnan, dan korporal Copopat menjadi sersan. Sele dan Cobij, dua orang biasa, dijadikan marinyo karena Bantik sama sekali tidak punya marinyo.
  • Di negeri Kristen, kapitan Hendrik Oelaan diangkat menjadi hukum karena besarnya negeri itu. Letnan Pieter Ombin naik menjadi kapitan, dan vaandrig Pedro Rantto (Ranty) menjadi letnan.

Jabatan vaandrig dan sersan di negeri Kristen, serta jabatan kapitan di negeri Manado, dibiarkan kosong sampai ada kesempatan berikutnya. [9]

Sabel untuk Soepit

Rapat ditutup dengan hadiah. Atas permintaannya sendiri, Soepit diberi sebilah sabel, pedang lengkung Belanda bergagang tembaga, senilai 5 rijksdaalder, dan seuntai koral biru besar senilai 1 rijksdaalder. Para utusan menilai uang 6 rijksdaalder itu sangat tepat dibelanjakan. Seluruh rapat yang mereka taksir 400 sampai 500 orang, bersorak. Rapat bubar pukul lima sore. [12] Bagian ini sudah ditulis dalam artikel terpisah.

Esoknya pada Sabtu 31 Agustus, pagi-pagi para bobato negeri atas minta pamit pulang. Hanya tiga hukum mayor kepala, Soepit, Lonto, dan Paat muda yang masih tinggal di loji Kompeni menemani para utusan VOC Ternate. [12]

Sore harinya datang seorang Tondano yang ikut memuat padi ke kapal De Herderin. Ia mengadu bahwa seorang kelasi melukai lengannya dengan kait sekoci, dan lukanya memang terlihat. Kelasi itu diperiksa. Ternyata kejadiannya “meer per ongeluck dan uijt malitie”, lebih karena kecelakaan daripada niat jahat.

Para utusan VOC mengira perkara itu akan reda sendiri. Namun orang Tondano yang sudah dalam perjalanan pulang mengirim utusan untuk menuntut keadilan. Para utusan VOC pun berjanji mengadilinya, asal para hukum kepala negeri Tondano kembali ke benteng. [12]

Larut malam Soepit diserang demam berat. Ia pamit dan minta diusung pulang ke “sijne residentie plaats tombarirj”, tempat kediamannya, Tombariri. [12]

Tidak memandang putih atau hitam

Perkara kelasi yang melukai orang Tondano ternyata belum selesai. Minggu 1 September, hari istirahat yang diisi kebaktian, para utusan negeri Tondano datang lagi.

Mereka sangat tidak puas karena mengira kelasi itu tidak akan dihukum. Kedua utusan Ternate, fiskal Daniel Fiers dan adjunct Jan Walraven de la Fontaine menanggapinya dengan cemas. [13]

Mereka ingat kata-kata yang beberapa waktu sebelumnya diucapkan orang Tondano “dat in lang geen wit bloed gesien hadden, “sudah lama tidak melihat darah putih”. Yang dimaksud adalah orang Eropa yang tinggal di Manado. Maka para kepala negeri Tondano dipanggil turun dengan setengah ancaman, dan dijanjikan bahwa perkara itu akan diputus dalam rapat “naar ‘s lands regten”, menurut hukum negeri. [13]

Selasa 3 September pukul delapan pagi, rapat bersidang lagi. Para utusan bertanya kepada para kepala negeri, hukuman apa yang pantas bagi si kelasi apakah dirantai, atau dihukum badan. Orang Tondano menjawab bahwa yang menyakitkan bagi mereka adalah orangnya “gehoond”, dihina, justru ketika sedang bekerja untuk Kompeni. Kalau orang mereka memang bersalah, katanya, yang berhak menghukumnya adalah kepala negerinya sendiri, bukan seorang kelasi. Namun mereka tidak mau mengusulkan hukuman, dan akan menerima apa pun yang diputuskan. [14]

Sesudah “lang dispuijt over en weer”, berdebat lama ke sana kemari, diputuskan bahwa kelasi itu dihukum oleh awak kapalnya sendiri di atas De Herderin. Ia juga harus membayar sehelai kain bafta sebagai soulaas, penghibur, bagi orang yang dilukai dan kerabatnya. Kain itu dibayar saat itu juga. [14]

Juru tulis mencatat bahwa “dese land-heertjes”, tuan-tuan negeri kecil ini, sangat puas. Mereka memuji Kompeni “dat nog wit nog swart aansag, maar regtvaardiglijk loon naar wercken geeft”, yang tidak memandang putih atau hitam, melainkan memberi upah setimpal dengan perbuatan. [14]

Selesai rapat, Fiers, La Fontaine, dan tiga “aanzienlijkste hooft rigters”, hakim kepala yang paling terpandang, naik ke kapal untuk menyaksikan hukuman bil-slag, cambuk di bokong, dijalankan atas kelasi itu.

Mereka kembali ke darat diiringi tembakan meriam. Orang Tondano diberi izin pulang dengan pesan, kini mereka sudah melihat Kompeni menghukum orangnya sendiri, maka mereka pun akan dihukum bila tidak berlaku sesuai kewajiban.

Juru tulis menutup catatannya dengan lega. “Dese kleijne vonck”, percikan kecil ini, yang bisa menjadi “een groot vuur van oppositie”, api perlawanan yang besar, telah “in de geboorte gesmoort”, dipadamkan sejak lahir . [14]

Pada hari yang sama diangkat lagi beberapa pejabat atas permintaan para kepala. Jacob Roumorij menjadi vaandrig menggantikan Pedro Ranto (Ranty) yang naik pangkat, dan Coenraat menjadi sersan di negeri Kristen menggantikan Jonas Woewelan yang wafat.

Di negeri yang dalam naskah tertulis “maradose negorij” (Manado, karena jabatan kapitan Manado sedang kosong saat itu), Hendrik van den Broek menjadi kapitan menggantikan mendiang Anthonij Bakeba, dan Hendrik Optouan menjadi sersan. Beeke* dari Bantik menjadi korporal, dan Makkaij dari Klabat menjadi marinyo Klabat bawah karena banyaknya penduduk di sana. [14]

Anak yang ditikam di pantai

Rabu 4 September, kapal De Herderin sudah penuh muatan padi. Malam itu sekitar pukul tujuh, korporal Jacob Jojeris datang membawa kabar buruk.

Seorang budak milik krankbezoeker Pieter Adriaansz, anak berumur tujuh atau delapan tahun, ditikam di pantai oleh “een goddeloosen jnlander”, seorang pribumi dengan keji, yang tidak diketahui nama maupun negerinya. Senjatanya buijk-snijder, pisau perut. Tusukannya masuk di bawah dada kiri sampai ke rongga perut, dan ada luka lain sepanjang satu jari di bokongnya. Ahli bedah sempat membalutnya, tetapi anak itu tak lama kemudian meninggal. [14] [15]

Para utusan langsung menjanjikan hadiah empat helai kain guinees lijwaat bagi siapa saja yang bisa menyerahkan pembunuhnya kepada Kompeni, dan mengumumkannya ke negeri-negeri. Lonto dan Paat, yang masih tinggal di loji, diminta mengerahkan segala cara untuk menemukan pelakunya. Mayat anak itu tidak boleh dikubur sebelum dibedah oleh dua ahli bedah, Pieter Stappert dan Daniel Jacobsz Sandauw. [15]

Kamis 5 September pukul tujuh pagi, para utusan dan para hukum mayor kepala pergi ke rumah sang krankbezoeker. Tubuh anak itu sudah dibuka. Para ahli bedah menunjukkan bahwa pisau menembus tulang rawan dada kiri, lobus kiri hati, dan ujung usus, dan di perut bawahnya ada darah beku. Kesaksian sersan Jan van der Lijn dan korporal Jacob Jojeris dicatat, lalu disusul keterangan tertulis para ahli bedah. [15]

Dalam surat ke Siau bertanggal 1 September, Fiers dan La Fontaine juga meminta raja Siau menangkap seorang Talaud bernama Pedro Mans. Orang itu memukuli istrinya, Maria Betenbeslain di negeri Touadebalo, sampai hampir mati, lalu menguburnya hidup-hidup.

Ia diminta dikirim ke Ternate bersama para saksi untuk menerima “sijne regtvaardige straffe”, hukumannya yang adil.[13] Jadi dalam sepekan itu Kompeni VOC di Manado mengurus dua perkara pembunuhan sekaligus.

Sesudah rapat

Jumat 6 September pagi, para utusan mengambil salinan kesaksian tentang pembunuhan anak budak itu untuk dibawa ke Ternate. Mereka menyebutnya “soo goddeloosen en verfoeijelijcken moort”, pembunuhan yang begitu keji dan menjijikkan. Lonto dan Paat sekali lagi diminta tidak segan berusaha menemukan pelakunya, dan mereka berjanji dengan berjabat tangan. Raja Bolaang Jacobus Manoppo yang rupanya juga ditunggu, tidak muncul. [16]

Hari itu juga Jacob Jojeris resmi diangkat sebagai “provisioneel Corporaal Commandant”, korporal komandan sementara, di Manado. Ia sudah bertahun-tahun menjadi residen Kompeni di Tagulandang dan Kaidipang, sehingga “de humeuren deser volckeren”, watak bangsa-bangsa ini, sudah ia kenal.

Instruksi untuknya mencatat bahwa pada rapat 30 Agustus “alle de regenten der beneden en boven negorijen volmondig en blijmoediglijk verklaarden”, semua kepala negeri bawah dan atas menyatakan dengan sepenuh mulut dan riang hati, bahwa mereka puas dan tak ada lagi perselisihan di antara mereka. [16]

Instruksi itu juga merinci kewajiban kerja tiap negeri menurut kontrak 1679 yaitu: [16]

  1. Manado menyediakan seorang pandai besi untuk Kompeni dan membuat keranjang rotan. Bersama Negeri Kristen Baru memelihara sekolah. Ia juga mengantar para pendeta pada kunjungan gereja, membawa surat-surat Kompeni, menyiapkan kayu untuk benteng dan loji, mengayak kapur untuk bangunan, dan memagari kakus baru dengan bambu.
  2. Nieuwe Christen negorij, “Negeri Kristen Baru”, bersama Manado memelihara sekolah. Bila ada kebocoran di benteng Amsterdam, loji, dapur, atau rumah lain, atau bila pagar roboh diterpa angin, negeri ini memperbaikinya. Ia juga membangun kakus baru bila perlu dan memasang rotan pada jendela loji.
  3. Aris dan Ombin, yang letaknya “digt aan het fortres”, dekat sekali dengan benteng, dan kini sudah dilebur, menyediakan sabut kelapa atau kulit kayu bagi serdadu untuk membuat lont, sumbu senapan. Mereka juga menutup bocoran atap dan sudut-sudut atap benteng dengan goe-moet, ijuk, dan bambu, serta mengatapi rumah perahu (orembaij-huijs) di pantai.
  4. Tomon, Tombariri, Sarongsong (tonserouson), dan Kakaskasen (kaskasser) menyediakan adappen, atap, untuk benteng, loji, dua dapur, sumur, dan kakus. Mereka juga menyediakan sabut kelapa atau kulit kayu untuk sumbu senapan.

Sehari di dewan negeri

Rapat 30 Agustus 1697 dimulai dengan ketakutan akan orang Mandar, tetapi yang paling banyak dibahas justru urusan penduduk. Seorang pemuda dituduh memukul ibunya. Seorang marinyo kehilangan tongkatnya. Seorang perempuan Kristen ditahan seorang hukum yang belum dibaptis. Anak-anak seorang budak dan seorang perempuan merdeka diperebutkan. Sebuah timbangan diminta supaya takaran bisa diperiksa.

Denda dibayar dengan kain, piring, dan mangkuk. Perkara yang lebih tua dari kedatangan Alsteijn tidak lagi dibuka. Jabatan diwariskan kepada kerabat terdekat. Di tengah semua itu, putra seorang kapitan Bantik berani menuduh kepala terbesar, komandan, dan juru bahasa berbohong, lalu menantang mereka menembak kepalanya. Ia pulang dengan denda dua helai kain, dua linen, tiga piring, dan tiga mangkuk.

Arsip ini mengingatkan orang Minahasa bahwa jauh sebelum zaman modern, leluhur mereka telah memiliki tatanan pemerintahan, hukum, dan cara menyelesaikan persoalan. Membacanya berarti mengenali kembali jejak sejarah dan identitas masyarakat sendiri.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Perang Tompaso 1693 (ilustrasi)

    Perang Tompaso 1693: Saat Minahasa Bersatu Menahan Ekspansi Bolaang Mongondow

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Di dataran tinggi Tompaso, sekitar akhir abad ke-17, sebuah peristiwa penting berlangsung yang kelak membentuk wajah politik Sulawesi Utara hingga hari ini. Perang yang terjadi pada 1693 itu bukan sekadar bentrokan antara pasukan Kerajaan Bolaang Mongondow dan komunitas-komunitas di tanah Minahasa. Lebih dari itu, konflik tersebut menjadi momentum lahirnya kesadaran kolektif yang memperkuat identitas Minahasa […]

  • Suara Lisan dan Hak Pilih: Pemilihan Kepala Negeri Minahasa

    Suara Lisan dan Hak Pilih: Pemilihan Kepala Negeri Minahasa

    • calendar_month Selasa, 27 Okt 2026
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Pada 1854, Residen A.J.F. Jansen memperkenalkan pemilihan kepala negeri di Minahasa. Tahun tersebut disebut dalam Adatrechtbundel IX: Celebes yang terbit pada 1914 dan dalam Bestuursvormen en bestuursstelsels in de Minahassa karya Marten Brouwer, terbitan 1936. Menurut Adatrechtbundel IX, sejak sistem itu diperkenalkan, pengangkatan kepala negeri oleh kepala pemerintahan wilayah pada umumnya merupakan pengesahan atas pilihan […]

  • Pendiri sanggar Tangkasi, Axsel Leonardo Galatang

    Profil Sanggar Seni Tangkasi Bitung

    • calendar_month Selasa, 24 Des 2024
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Pada hari Kamis, 23 Juli 2020, Sanggar Seni Tangkasi Bitung merayakan hari jadinya yang ke-37. Selama lebih dari tiga dekade, sanggar ini telah menjadi wadah kreativitas dan pendidikan seni bagi ribuan anggotanya. Berbagai kegiatan diadakan untuk memperingati ulang tahunnya, seperti lomba baca puisi, menyanyi lagu karya Leonardo Axsel Galatang, aksi teaterikal, seminar teater daring, hingga […]

  • Membaca Ulang Kematian Singamangaraja XII: Telaah Historiografis atas Nama Hamisi dan Rotikan

    Membaca Ulang Kematian Singamangaraja XII: Telaah Historiografis atas Nama Hamisi dan Rotikan

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Telaah Historiografis atas Kematian Singamangaraja XII (1907)   Pendahuluan   Singamangaraja XII merupakan simbol perlawanan masyarakat Batak terhadap ekspansi kolonial Belanda di Tapanuli pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Peristiwa kematiannya pada tahun 1907 menjadi salah satu episode penting dalam sejarah kolonial Indonesia. Namun, identitas prajurit yang menembak mati sang raja selama ini […]

  • Patung Sam Ratulangi di pusat kota Davao (IKPNI-PAHNAS, 2025)

    Dari Minahasa ke Davao: Jejak Sam Ratulangi yang Diabadikan di Filipina

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Di tengah rimbunnya pepohonan di Millennium Park, Davao City, Filipina, berdiri sebuah patung dada yang mungkin mengejutkan banyak pengunjung Indonesia. Patung itu bukan milik tokoh Filipina, melainkan Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi lebih dikenal sebagai Sam Ratulangi pahlawan nasional Indonesia sekaligus putra terbaik Minahasa. Keberadaan monumen tersebut menjadi bukti bahwa jejak perjuangan Sam Ratulangi […]

  • Pulau Ponteng

    Pulau Ponteng Surga Tersembunyi yang Wajib Dikunjungi

    • calendar_month Sabtu, 7 Jun 2025
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Sulawesi Utara memiliki banyak destinasi wisata yang menakjubkan, dan salah satunya adalah Pulau Ponteng. Terletak di Desa Rinondoran, Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, pulau kecil ini menawarkan keindahan alam yang masih alami dan belum banyak dijamah wisatawan.   Keindahan Alam yang Memikat   Pulau ini memikat hati para pengunjung dengan pasir putih yang lembut dan […]

expand_less