Dua Negeri dalam Abu: Tumon dan Saronson pada 12 Agustus 1660
- calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pertempuran Tomun, 12 Agustus 1660 — Perlawanan orang Tomun dan Saronson terhadap pasukan VOC yang dipimpin Matthijs Proot, dengan bantuan Raja Manado.(ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada 12 Agustus 1660, dua negeri di pedalaman Manado yakni negeri Tumon dan Saronson, direbut lalu dibakar habis.
Kabarnya baru ditulis sembilan belas hari kemudian di Ternate. Gubernur Simon Cos dan anggota dewannya menutup laporan mereka kepada Gubernur Jenderal di Batavia dengan baris “Ternate int Casteel Orangie desen laatsten augusty a° 1660” (Ternate, di Kastil Oranje, hari terakhir bulan Agustus 1660).[1]
Surat itu panjang, lebih dari delapan lembar. Sebagian besar isinya urusan cengkih, Tidore, dan hadiah raja Ternate. Peristiwa di Manado hanya mendapat satu halaman ditambah beberapa baris di halaman berikutnya.[2] Meski pendek, halaman itulah satu-satunya catatan sezaman tentang pembakaran ini yang kita punya sejauh ini.
Artikel ini membaca halaman itu pelan-pelan untuk menjawab beberapa pertanyaan sederhana yakni siapa yang dibakar, mengapa, oleh siapa, dan ke mana penduduknya lari. Lalu kita akan melihat bagaimana Batavia mencatat atau tidak mencatat peristiwa itu. Terakhir, kita akan mengikuti nama kedua negeri ini dalam arsip Kompeni sampai empat puluh tahun kemudian.
Timon sebelum 1660
Bagi Kompeni nama Timon sudah lama identik dengan Spanyol. Dalam suratnya bulan Juli 1657, Cos menyebut Timon “d’hooftplaets der Spanjaerden” (tempat kedudukan utama orang Spanyol) di pedalaman.[3]
Surat yang sama mengenang ekspedisi VOC bersama kerajaan Ternate tahun 1644 ke negeri itu. Ekspedisi itu gagal karena pasukan Ternate tercerai-berai diterpa angin kencang sebelum sempat tiba.
Menurut surat itu, garnisun Spanyol di Timon berjumlah sekitar empat puluh orang kulit putih. Empat atau lima bulan sesudah 1644 mereka mundur ke Gammalamma di Ternate. Selama tujuh tahun negeri itu tidak didatangi, sampai orang Spanyol kembali sekitar 1651.[3]
Yang akhirnya mengusir Spanyol dari Timon ternyata bukan Kompeni, melainkan penduduknya sendiri. Surat Cos bertanggal 12 April 1658 bercerita bahwa orang Spanyol membakar dua kebun, menewaskan lebih dari dua puluh orang, dan menyandera anak-anak tiga pemuka “soo van Timon als Zagoena” (baik dari Timon maupun dari Zagoena).[4] Orang Timon dan kampung-kampung di sekitarnya lalu mengepung kubu Spanyol sampai penghuninya terpaksa keluar.
Rombongan yang pergi berjumlah tiga puluh lima jiwa terdiri dari sepuluh orang Spanyol, sepuluh orang Pampanga dari Filipina, tiga Mardijker, dan dua belas orang Siau. Kompeni memberi mereka perahu untuk menyeberang ke Siau. Cos menutup kisah itu dengan nada lega, seluruh negeri itu kini “gesuijvert” (sudah dibersihkan).[4]
Jadi dua tahun sebelum dibakar, orang Timon justru membantu tujuan Kompeni, karena merekalah yang mengusir Spanyol.
Nama “Zagoena” dalam surat itu akan muncul lagi dua tahun kemudian, dengan ejaan berbeda dan makna yang lebih jelas.
Padi yang tak datang
Bagian tentang Manado dalam surat 1660 dibuka dengan sebuah keluhan: “Van Manado hebben wij dit jaer geen rijs bekoomen” (dari Manado tahun ini kami tidak menerima beras).[5]
Bagi Kompeni, suplai Manado yang paling utama adalah beras. Benteng di sana dibangun antara lain supaya padi dari pedalaman bisa dikumpulkan untuk garnisun di Maluku, yang tanahnya tidak menghasilkan cukup pangan.
Menurut Simon Cos, biang masalahnya ada di Timon.
“De Timonders” (orang Timon), penduduk negeri utama tempat Spanyol dulu berkedudukan, telah memberontak dan menarik beberapa negeri lain ke pihak mereka. Mereka “brengende niet alleen haere padje tot d’onse niet aen” (bukan hanya tidak menyerahkan padi mereka kepada pihak kami), tetapi juga menghalangi negeri lain menyerahkannya.[5]
Dalih mereka tulis Cos, hanyalah sebatang pohon. Orang pesisir sudah membuka jalan ke sana, lalu sebatang pohon tumbang melintang di atasnya. Soal bagaimana pohon itu tumbang, ceritanya berbeda-beda. “Dese seggen d’onse, van selfs, en d’andere door hun toedoen gevallen te wesen” (kata orang kami, pohon itu tumbang sendiri; kata yang lain, tumbang karena ulah mereka). Bagaimanapun, kata Cos, pohon itu hampir tidak menghalangi orang lewat.[5]
Sebab yang sebenarnya menurut Cos, ada dua.
Sebagian orang masih “spaensgesint” (berpihak pada Spanyol). Sebagian lagi sudah dihasut bahwa orang Belanda “geen soldaten waeren, de bergen niet konden beklimmen” (bukanlah prajurit dan tidak sanggup mendaki gunung) dan mereka ingin melihat sendiri buktinya.[5]
Perlu diingat bahwa semua ini penjelasan dari satu pihak saja. Kita tidak punya suara orang Timon sendiri, baik tentang pohon itu, tentang padi, maupun tentang alasan mereka melawan.
Pasukan dari Ternate
Simon Cos lalu memutuskan untuk memadamkan perkara itu “in sijn geboorte” (sejak lahirnya), sebelum sempat membesar. Pada 12 Juli 1660, dua chaloup (sekoci layar) berangkat dari Ternate membawa 32 serdadu yang diambil dari garnisun Ternate, Tidore, dan Makian.[6]
Ikut serta pula “de groote[n] vanden Coningh” (para pembesar raja) Ternate beserta 30 orang Ternate, di bawah pimpinan “den Tolck Craan” (juru bahasa Craan). Tugas juru bahasa itu, menurut surat tersebut, adalah menjauhkan “de Ternataense vexatien” (kesewenang-wenangan orang Ternate) dari daerah itu.[6] Jadi Kompeni membawa sekutunya sambil berjaga agar sekutu itu tidak berbuat sesukanya.
Seluruh rombongan dipimpin “onsen Vaendrich app.te Matthijs Proot” (vaandrig kami, Matthijs Proot). Vaandrig adalah perwira rendah, setingkat letnan muda, bukan kapten. Pilihan ini menunjukkan bahwa Ternate memandang operasi ini sebagai urusan kecil.[6]
Di Manado mereka tidak bergerak sendiri. Serangan dilakukan “met hulpe vanden Manadese Coningh” (dengan bantuan raja Manado).[7] Dalam surat-surat Cos sebelumnya, raja Manado disebut “onsen bontgenoot” (sekutu kami).[4]
Namanya tidak disebut dalam surat 1660. Tetapi di halaman berikutnya pada surat yang sama melaporkan bahwa raja Manado sedang menyiapkan sembilan kora-kora untuk menyerbu “Boel ende Caijlj” (Buol dan Kaili), yang disebut “onderdanen van Macassar” (rakyat Makassar).[8] Ia jelas bukan sekadar penunjuk jalan. Ia sekutu yang sedang menjalankan perangnya sendiri.
Perang itu bagian dari pertarungan yang lebih besar. Musim yang sama adalah musim perang antara Kompeni dan Makassar. Menurut penyunting Corpus Diplomaticum, salah satu hal yang memperuncing hubungan keduanya justru kubu Kompeni di Manado, yang oleh Sultan Makassar dianggap “onder deszelfs gehoorsaemheijt te staen” (berada di bawah kekuasaannya).
Armada Kompeni tiba di Makassar awal Juni 1660 dan merebut benteng Panakkukang. Perdamaian ditandatangani di Batavia pada 19 Agustus 1660, tepat tujuh hari sesudah Tumon dan Saronson dibakar.
Pasal 2 perjanjian itu mewajibkan raja Makassar melepaskan Manado, “het wellcke de gemelte coninck Mandarhaha ook van outs heefft toegecomen” (yang sejak dahulu memang milik raja Mandar Syah tersebut), yaitu Sultan Ternate.[9]
Perjanjian lanjutan di Makassar pada 2 Desember 1660 mengukuhkan semua pasal itu.[10] Penyunting Corpus Diplomaticum kelak menulis bahwa Makassar baru benar-benar melepaskan Manado lewat Perjanjian Bongaya tahun 1667.[11] Pasal 2 ini menunjukkan bahwa tuntutan itu sudah tertulis tujuh tahun lebih awal.
Kedua perjanjian itu sama sekali tidak menyebut Tumon. Namun bersama rencana raja Manado menyerbu Buol dan Kaili, keduanya memperlihatkan bahwa api di pedalaman Manado menyala di tengah perebutan yang jauh lebih besar bahwa siapa yang berhak atas Manado.
12 Agustus: dua api
Kalimat inti tentang peristiwa itu pendek saja. Proot dan pasukannya, tulis Cos, “die op 12en deser, met hulpe vanden Manadese Coningh, de negrijen van Tumon en Saronson innaemen ende inde assen leijden” (yang pada tanggal 12 bulan ini, dengan bantuan raja Manado, merebut negeri Tumon dan Saronson dan menjadikannya abu).[7] Karena surat itu ditulis di akhir Agustus, “tanggal 12 bulan ini” berarti 12 Agustus 1660.
Kalimat berikutnya menyebut api kedua. Kompeni tidak berhasil menangkap seorang pun, sebab “de verweerders” (para pembela negeri), ketika tak sanggup bertahan lagi, membakar sendiri rumah-rumah yang berdiri di arah angin di belakang mereka sambil mundur. Dengan begitu mereka tidak bisa dikejar.[7]
Jadi pada hari itu ada dua pembakaran, satu oleh pasukan penyerang, satu lagi oleh para pembela yang mundur. Surat itu tidak memisahkan bagian mana dibakar oleh siapa.
Kata “verweerders” juga penting. Artinya Tumon dan Saronson tidak ditinggalkan kosong ketika pasukan datang. Kedua negeri itu dipertahankan dengan senjata oleh para pembela sampai tidak bisa dipertahankan lagi.
Di sisi lain, surat itu diam tentang korban. Tidak disebut berapa orang tewas di kedua pihak, berapa rumah terbakar, ataupun berapa penduduk yang tinggal di sana.
Lari ke Lagoena
Penduduk yang selamat lari ke Tondano, “bij de spaensche Lagoena genaemt” (yang oleh orang Spanyol dinamai Lagoena), sebuah tempat di danau di pegunungan.[7] Danau itu, tulis Cos, “lanck twee, ende breet een halff mijlen” (panjangnya dua mil dan lebarnya setengah mil).[8]
Kalimat ini sekaligus memecahkan teka-teki dalam surat 1658 tadi, yang menyebut anak-anak pemuka “van Timon als Zagoena”.[4]
Dalam tulisan tangan surat itu, huruf pertama “Zagoena” memang tampak seperti Z. Tetapi karena Timon dan Lagoena muncul berpasangan dalam surat 1660, hampir pasti keduanya menunjuk tempat yang sama. Lagoena berasal dari kata Spanyol laguna, artinya danau. Penyalin di Batavia dengan mudah bisa keliru membaca huruf L yang berlengkung sebagai Z.
Kompeni sempat berniat mengejar mereka ke danau, “waer soo sij niet affkoomen” (kalau mereka tidak mau turun sendiri). Namun rencana itu ditunda. Menyiapkan “vlotten” (rakit) dan perlengkapan lain akan memakan waktu terlalu lama, dan kedua chaloup itu juga sedang dibutuhkan untuk berlayar ke Ambon.[8]
Batavia yang diam
Bagaimana kabar itu diterima di Batavia? Jawabannya ada di generale missive (surat laporan tahunan) bertanggal 16 Desember 1660, yang dikirim Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker dan Dewan Hindia kepada para direktur Kompeni di Belanda.
Salinan surat itu yang sampai di Belanda dan masih utuh tersimpan di Nationaal Archief, lengkap dengan penutup “In UEd.s Casteel Batavia 16 december 1660”.[12]
Bagian tentang Manado hanya satu paragraf, dengan catatan pinggir “Manado”. Isinya dibuka dengan nada kecewa bahwa “Met den rijs procure op Manado schijnt het niet veel om ‘t lijf te sullen hebben” (pengadaan beras di Manado tampaknya tidak banyak artinya). Dari 1.000 last padi yang diharapkan, “niet meer als 100 d[itt]o gewonnen sijn” (tidak lebih dari 100 last yang berhasil dipanen). Karena itu Batavia “seer twijffelen” (sangat ragu) apakah benteng di sana masih perlu dipertahankan.[12]
Hanya dua alasan yang membuat benteng itu masih layak ditimbang.
Pertama, dengan benteng itu Kompeni bisa menghalangi orang Kastilia, yaitu Spanyol, mengumpulkan beras, sehingga mereka lebih cepat angkat kaki dari sana.
Kedua, benteng itu berguna “om een oogh op den Maccassar te houden” (untuk mengawasi Makassar), supaya Makassar tidak tiba-tiba menyerbu wilayah timur Kompeni lewat jalur itu. Batavia juga mencatat usul Cos sendiri: dua kapal jacht penjaga “inde Straet Lemba” (di Selat Lembeh) cukup untuk menghadang armada Makassar. Semua itu, tulis Batavia, “considerabile speculatien” (pertimbangan yang patut dipikirkan).[12]
Yang tidak ada dalam paragraf itu justru mencolok. Nama Tumon dan Saronson tidak disebut. Begitu juga Timonders, Proot, dan pembakaran. Panen yang gagal dicatat tanpa penjelasan sebabnya. Dari kacamata Batavia, Manado adalah soal angka padi, beras dan soal strategi menghadapi Makassar dan Spanyol, bukan soal dua negeri yang menjadi abu.
Danau yang tak bisa ditaklukkan
Kisah di danau berlanjut tahun berikutnya. Pada 1 Juni 1661, buku harian Kastil Batavia mencatat laporan dari Manado bahwa “de rebellen sich tot in het lak bij de Tondaners begeven hadden” (para pemberontak telah menyingkir sampai ke danau, ke tempat orang Tondano).
Negeri-negeri lain, menurut laporan itu, “of ingenomen of gedwongen waren onse zijde te houden” (sudah direbut atau dipaksa berpihak kepada kami). Gubernur lalu mengirim empat chaloup berisi 65 serdadu dan sejumlah Mardijker untuk menghadapi sekitar 1.400 “weerbare Alphoeresen” (orang Alifuru yang sanggup bertempur) di danau itu, sekali lagi dengan bantuan raja Manado.[13]
Pasukan itu membawa tiga syarat.
Pertama, penduduk danau harus meninggalkan permukiman mereka di pegunungan dan pindah ke pesisir laut.
Kedua, mereka harus menyerahkan setidaknya beberapa “principaelste belhamels” (biang keladi utama).
Ketiga, mereka harus membayar denda 50 atau 60 budak sebagai ganti biaya perang dan beras yang hilang. Tidak boleh ada perdamaian tanpa syarat-syarat itu, “insonderheijd” (terutama) dua syarat pertama. Kalau tidak, tulis laporan itu, kekacauan akan terulang setiap tahun seperti di masa Spanyol.[13]
Hasilnya jauh dari perintah itu. Generale missive 30 Januari 1662 melaporkan bahwa rencana Simon Cos menurunkan seluruh penduduk pegunungan ke pesisir untuk bersawah “heeft niet willen gelukken” (tidak berhasil).
Mereka yang menolak, “boven in een meyr gelegen sijnde” (karena tinggal di atas, di sebuah danau), tidak bisa dipaksa dengan cara apa pun.
Akhirnya Cos memilih berdamai. Penduduk danau menyerahkan sejumlah budak dan senjata sebagai tebusan perlawanan mereka, berjanji patuh dan menanam padi dan sebagai gantinya boleh tetap tinggal “op haer oude plaetsen” (di tempat mereka yang lama).[14]
Generale missive 26 Desember 1662 menutup babak ini. Di bawah catatan pinggir “Tondano is weder in rust gebragt” (Tondano sudah kembali tenang), Batavia menulis bahwa orang Tondano “hebben eyndelijck haere wallen ende vestingen afgeworpen en haer schiet geweer aen onse besetters tot Manado overgegeven” (akhirnya merobohkan tembok dan benteng mereka dan menyerahkan senapan mereka kepada garnisun kami di Manado). “Waermede dan die landen weder in ruste waren gebracht” (dengan itu negeri-negeri tersebut kembali tenang).[15]
Nada Batavia juga berbalik. Dua tahun sebelumnya mereka ragu apakah benteng Manado layak dipertahankan.
Kini mereka menulis bahwa garnisun “niet geheel van daer sal dienen te worden gelicht” (tidak boleh ditarik seluruhnya dari sana). Alasannya, kalau ditarik, orang Makassar akan berusaha menyusup ke sana, atau orang Spanyol akan mendapat kesempatan baik di Sulawesi, “daer sij haer volck en al eenigh Christendom hebben” (tempat mereka punya orang dan sudah ada sedikit agama Kristen). Pada akhir 1662 itu Cos sendiri sudah tidak di Ternate lagi. Ia telah menjadi gubernur Ambon.[15]
Dengan kata lain bahwa syarat pertama pindah ke pesisir tidak pernah terpenuhi. Yang terjadi tiga tahun kemudian juga bukan pindah ke pesisir, pada 1664 orang Tondano meninggalkan permukiman di atas air dan membangun negeri baru di daratan. Itu kisah lain, yang dibahas di artikel tersendiri.
Dari abu ke meja hakim
Tumon dan Saronson tidak lenyap dari arsip. Sembilan belas tahun kemudian keduanya muncul lagi, kali ini sebagai sekutu Kompeni. Arsip tahun 1670-an dan 1680-an menulis nama negeri itu “Tomon” atau “Thomon”, bukan “Tumon” seperti surat 1660.
Januari 1679. Dalam kontrak yang dibuat Gubernur Padtbrugge pada 10 Januari 1679, “Tomon” dan “Saronson” termasuk dua puluh satu negeri yang kepalanya hadir dalam “algemeyne vergaderinge” (rapat umum) di Manado. Bersama negeri-negeri lain, mereka mengakui Kompeni sebagai “wettich, eenig en eeuwich opperheer” (penguasa tertinggi yang sah, satu-satunya, dan abadi). Sebagai balasannya, Kompeni berjanji tidak akan membiarkan “den coningh van Boelang” (raja Bolaang) berkuasa lagi atas mereka.[11]
Februari 1681, di atas kapal Wapen van Middelburg yang berlabuh di depan Manado, para kepala negeri menyatakan tidak mau lagi berurusan dengan Raja Loloda dan siap mempertaruhkan “goedt en bloedt” (harta dan darah) untuk Kompeni.
Penulis jurnal mencatat mereka menyatakannya satu per satu: “dit zeijde Aris, dit zeijde Clabat, dit zeijde Manado, dit zeijde Thomon, dit zeijde Cascassen, Saronson, Tondano” (begitu kata Aris, begitu kata Klabat, begitu kata Manado, begitu kata Thomon, begitu kata Kakaskasen, Saronson, Tondano).[16]
Mei–Juni 1683. Sebuah jurnal utusan Kompeni yang tiba di Manado pada 7 Mei 1683 memberi gambaran paling hidup tentang Tomon dan Saronson dua dekade setelah pembakaran.[17]
Pada 16 Mei, sesudah kebaktian berbahasa Melayu, para “Boeren” (orang negeri) dari negeri-negeri dekat benteng berkumpul di depan loji. Jumlahnya “wel ontrent drie hondert man, inde wapenen, naer slants wijse wel gedost” (sekitar tiga ratus orang, bersenjata, berpakaian menurut adat negeri). Di hadapan mereka diumumkan kemenangan Kompeni atas Banten, dan pemegang buku Anthonij van der Mast diperkenalkan sebagai opperhoofd (kepala pos) yang baru. Malamnya para kepala dijamu dengan daging seekor sapi jantan tua, arak, dan saguer.[17]
Penulis jurnal mencatat seorang tamu secara khusus: “den Capt.n Paat van Tomon, die redelijck wel … d’Malydse tale verstaet” (Kapten Paat dari Tomon, yang cukup paham bahasa Melayu). Paat bertanya tentang kekuatan dan pasukan Banten. Ia heran kerajaan sebesar itu bisa ditaklukkan dalam waktu singkat, lalu memuji kesabaran Kompeni. Ia juga menyindir “Opper-rigter Mangananton” (hakim kepala Mangananton), yang menurut penulis jurnal sudah lama kehilangan kepercayaan.[17]
Beberapa hari kemudian sekitar 18 Mei, para kepala negeri berkumpul dalam pertemuan umum di loji, dan nama mereka dicatat satu per satu. Dari “Thomon” hadir empat pejabat: Houcom Maior Mangenantong, Kapten Mayor Benor, Kapten Pedro Paet, dan Vaandrig Pioloh. Dari “Saronson” hadir tiga: Houcom Maior Sacoul, Houcom Fransisco Mendaigi, dan Kapten Capoa. Tetangga mereka, “Tomaririj”, diwakili lima orang, di antaranya Kapten Soupit.[17]
Kepada para kepala itu, utusan gubernur Maluku Jacob Lobs menanyakan apakah mereka pernah dianiaya, dirugikan, atau dipaksa bekerja di luar kewajiban oleh opperhoofd yang baru meninggal atau oleh siapa pun atas nama Kompeni. Mereka menjawab tidak punya keluhan dan merasa puas dengan Kompeni. Mereka hanya memohon agar tidak dibebani pekerjaan lebih banyak daripada yang sudah ada.[17]
Pada 19 Mei, dalam sidang para kepala di loji, nama Tomon muncul lagi. Seorang warga mestizo Manado menuntut kembali seorang budak yang dulu dijual kepada istrinya oleh “den Songhadie vant dorp Tomon Pelealo” (sangaji negeri Tomon, Pelealo). Budak itu lalu lari ke negeri tetangga, Tomariri, dan Kapten Soupit dari Tomariri menolak menyerahkannya.[17]
Pada 6 Juni, ketika diminta segera menyerahkan padi untuk Kompeni, para kepala menyatakan bersedia tetapi tidak sanggup. Salah satu alasannya, padi di negeri-negeri seperti “Tomon Tambariry” (Tomon dan Tombariri) telah terbakar, “waerdoor veel van dat graen inde assche geraakt is” (sehingga banyak dari padi itu menjadi abu).
Alasan lainnya, sebagian besar tanaman mereka masih di ladang, dan padi muda harus dikeringkan dulu kira-kira dua bulan. Menurut hitungan Kompeni, penyerahan baru bisa dilakukan pada akhir Juli.[17]
Sebab kebakaran itu tidak disebutkan. Tetapi dua puluh tiga tahun setelah negerinya dijadikan abu, abu kembali tercatat di Tomon, kali ini abu padi dan lagi-lagi dalam urusan setoran padi untuk Kompeni VOC.
Juli 1689, Sebuah surat dari Ternate menyebut tiga kepala yang diangkat untuk memutus “alle voorname geschillen” (semua sengketa penting): “Soepit Capt: van Tomariry, Pa=at hoecom van Thomon, en Mandagij hoecom van Saronson” (Soepit, kapten Tomariri; Pa’at, hukum Thomon; dan Mandagij, hukum Saronson). Mandagij sudah wafat enam sampai delapan bulan sebelumnya.
dan Pa’at masih menjabat dan surat itu menjuluki keduanya “2: gauwe en doortrapte gasten” (dua orang yang cerdik dan licin).[18] Kapten Pedro Paet dan Houcom Fransisco Mendaigi dalam daftar 1683 sangat mungkin orang yang sama dengan Pa’at dan Mandagij ini.
Surat itu juga terus terang soal apa gunanya mereka bagi Kompeni. Dulu Kompeni tidak pernah tahu “wat’er int geborgte omging” (apa yang terjadi di pegunungan). Sekarang tidak ada hal penting yang lewat tanpa dilaporkan oleh mereka atau utusan mereka.[18]
Surat yang sama menyebut bahwa keduanya pernah dipakai untuk menandatangani kontrak Padtbrugge atas nama semua negeri.
Kenyataannya, kontrak 10 Januari 1679 tidak ditandatangani para kepala sendiri, sebab “dese volkeren geen kennisse nochte verstandt van schryven hebben” (bangsa-bangsa ini tidak punya pengetahuan maupun pemahaman tentang tulis-menulis). Tanda dibubuhkan oleh empat perantara yaitu juru bahasa Bastiaan Saway, richter (hakim) Maondy, dan dua kapten, “Pacat Soepit en Pedro Ranty”.[11] Soepit memang ada di sana, tetapi nama Paät tidak tercantum.
September 1699, sepuluh tahun kemudian, dalam kontrak lanjutan bertanggal 10 September 1699, “Soepit, Lonto en Paät” tampil sebagai tiga hukum mayor kepala yang mewakili seluruh negeri. Di bawah naskah Melayunya, ketiganya membubuhkan “mercken” (tanda), bukan tanda tangan.[19]
Dalam daftar kewajiban yang menyertai kontrak itu, “Tomon, Tomeriry, Tonsoronson” dan “Cascassen” bersama-sama wajib menyerahkan atap daun untuk benteng dan loji Kompeni.[19] Negeri yang dibakar tahun 1660 kini ikut menutup atap kubu yang dulu mengirim pasukan untuk membakarnya.
Kalau Tumon tahun 1660 memang Tomon atau Thomon dalam arsip kemudian, ceritanya berbalik dengan tajam. Pada 1660, Tumon dan Saronson dibakar karena melawan Kompeni. Hampir tiga puluh tahun kemudian, pada 1689, Kompeni mengangkat tiga orang hakim untuk memutus semua sengketa besar di tanah itu, dan dua di antaranya berasal dari kedua negeri tersebut yaitu Pa’at dari Thomon dan Mandagij dari Saronson.
Yang belum kita ketahui
Semua yang kita ketahui tentang 12 Agustus 1660 berasal dari satu halaman surat Kompeni. Karena itu beberapa hal masih terbuka.
- Suara orang Tumon dan Saronson. Alasan mereka menahan padi hanya kita kenal dari penjelasan Cos.
- Korban. Surat itu tidak menyebut berapa orang tewas, berapa rumah terbakar, atau berapa penduduk yang melarikan diri.
- Letak. Surat 1660 menyebut pemberontaknya “Timonders” dan negeri yang dibakar “Tumon”. Artikel ini membacanya sebagai satu tempat. Peta Padtbrugge (“Kaartje van de Manahassa”, artinya peta kecil Minahasa, 1679, oleh “H.M.”, Nationaal Archief, VEL 1305) menggambar Tomon dan Seronson bertetangga, membentuk segitiga dengan Cascas dan Tomriri di sebelah barat danau. Daftar kepala negeri tahun 1683 hanya memuat satu “Thomon”. Entri lain yang sekilas mirip ternyata “Romon”, yang tercatat di antara Toncimbout (Tontemboan) dan Tonpassau (Tompaso), dan Tomohon sama sekali tidak muncul di daftar itu.[17] Dalam daftar kewajiban 1699, “Tomon” dan “Tomohon” tercantum sebagai dua negeri yang berbeda, jadi Tomon tidak bisa begitu saja disamakan dengan Tomohon.[19] Mencocokkannya dengan desa masa kini masih memerlukan bukti lain.
- Raja Manado. Namanya tidak disebut dalam surat 1660.
- Diamnya Batavia. Naskah lengkap missive 16 Desember 1660 sudah diperiksa, dan nama Tumon dan Saronson tidak muncul di dalamnya. Begitu juga dalam missive 26 Desember 1662.[12][15] Hanya Ternate yang mencatat nama kedua negeri itu dan api yang memusnahkannya. Mengapa Batavia diam, sumber-sumber ini tidak menjelaskan.
Catatan kaki
- NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1233 (“1661 YYY. Tweede boek: Batavia’s ingekomen brievenboek” = buku kedua: buku surat masuk Batavia), fol. 245r. Penutup surat Gubernur dan Dewan Ternate kepada Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia, ditandatangani Simon Cos, Max. de Jongh, dan “D: V: Bolck” (inisial seperti tertulis).
- Idem, fol. 237r–245r. Bagian Manado: fol. 241v–242r.
- NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1221 (“1658 VVV. Tweede boek” = buku kedua), fol. 219. Surat Simon Cos dan Dewan Ternate, Ternate, 23 Juli 1657 (fol. 210–239).
- NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1225 (“1659. WWW. Eerste boek” = buku pertama), fol. 393v–394. Surat Simon Cos dan Joan van Hammen, Ternate, 12 April 1658.
- Inv. 1233, fol. 241v.
- Idem.
- Idem.
- Inv. 1233, fol. 242r.
- J. E. Heeres (ed.), Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, Tweede Deel (jilid kedua, 1650–1675), BKI 87 (1931), no. CCXLIII, “Makassar, 19 Augustus 1660” (dari Contractboek, buku kontrak), hlm. 168–177; pengantar penyunting hlm. 168–169, pasal 2 hlm. 171. Coolhaas, Generale Missiven III, hlm. 318, juga merujuk perjanjian ini sebagai “Corpus II, nr. CCXLIII”.
- Idem, no. CCXLIV, “Makassar, 2 December 1660”, hlm. 177 dst.
- J. E. Heeres dan F. W. Stapel, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, deel III (jilid ketiga, 1676–1691), BKI 91 (‘s-Gravenhage: Nijhoff, 1934), no. CDXXV, “Minahassa—Menado, 10 Januari 1679”, hlm. 172–176 (pengantar penyunting hlm. 172; daftar negeri hlm. 173; tanda tangan hlm. 176); bandingkan Godée Molsbergen, hlm. 55–58.
- NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1232 (“1661. YYY. Eerste boek” = buku pertama), fol. 16r–16v (catatan pinggir “Manado”); penutup “In UEd.s Casteel Batavia 16 december 1660”, ditandatangani Joan Maetsuyker dan anggota Dewan Hindia. Petikan dicetak dalam E. C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Sejarah Minahasa sampai 1829) (Weltevreden: Landsdrukkerij, 1928), hlm. 17–18, dari L. A. Bat., Afg. Patr. Br. 1660/1, bl. 47/8. Coolhaas (deel III, hlm. 318) tidak mencetak bagian Manado dari missive ini dan hanya merujuk ke Godée Molsbergen.
- Dagh-Register gehouden int Casteel Batavia, Anno 1661 (Buku Harian Kastil Batavia, tahun 1661), ed. J. A. van der Chijs (Batavia/’s-Hage 1889), hlm. 160, entri 1 Juni 1661; dikutip juga oleh Godée Molsbergen, hlm. 18–19.
- Generale missive 30 Januari 1662, fol. B7r–9r, dalam W. Ph. Coolhaas (ed.), Generale Missiven, deel III (RGP Grote Serie 125, 1968), hlm. 384–385; catatan Coolhaas: “meyr” (danau) = danau Tondano. Godée Molsbergen (hlm. 19) menyimpulkan “De expeditie had succes en bracht rust” (ekspedisi itu berhasil dan membawa ketenteraman), tetapi missive ini menunjukkan bahwa syarat pemindahan tidak tercapai.
- NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1238 (“1663. AAAA. Eerste boek” = buku pertama), fol. 75r–75v (catatan pinggir “Tondano is weder in rust gebragt” dan “de besettingh dient daer gecontinueert”). Coolhaas, Generale Missiven III, missive XXVII (Maetsuyker, Hartsinck, Verburch, Steur en Joan Thijsz., 26 december 1662), hlm. 412–413, hanya meringkas bagian ini dengan rujukan “P. 75” dan “afgedr. Minahassa, p. 19”, lalu mencatat bahwa Cos kini gubernur Ambon. Bandingkan Godée Molsbergen, hlm. 19, dari L. A. Bat., Afg. Patr. Br. 1662/3, bl. 51.
- NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1366 (“1682 VVVV. Derde boek: Ternate” = buku ketiga: Ternate), hlm. 616. Jurnal “In ‘t Schip ‘t Wapen van Middelb: Voor de Manado” (di atas kapal Wapen van Middelburg, di depan Manado), Februari 1681.
- NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1392 (“1684 XXXX. Elfde boek: van Batavia betreffende de Molukken” = buku kesebelas: dari Batavia tentang Maluku), jurnal di Manado, Mei–Juni 1683:
- Surat bertarikh “Manado aende Fortresse Amsterdam dese 15e Maij 1683”, ditandatangani Andries Oloffsz. Loffsang dan Anthony van der Mast, dibuka dengan “Onse aenkomste hier tot Manado was den 7e deser” (kami tiba di Manado tanggal 7 bulan ini).
- Entri “Den 16e”, pengumuman kemenangan atas Banten di depan sekitar tiga ratus orang bersenjata, pelantikan Van der Mast, jamuan, dan percakapan dengan Paat.
- Daftar kepala negeri dan paragraf tentang utusan gubernur Jacob Lobs. Daftar ini dibuka dengan “Den 10e s’morgens” (tanggal 10, pagi hari). Angka di naskah jelas tertulis 10, tetapi urutan jurnal menunjukkan bahwa itu kemungkinan besar salah tulis untuk 18 Mei: entri sebelumnya “Den 17e”, entri sesudahnya “Den 19:”, dan jurnal berlanjut sampai “Primo Juny” serta surat bertarikh “Manado den 4 Juny a° 1683”.
- Sengketa budak Sangaji Pelealo dari Tomon, entri “Den 19:”.
- Penolakan setoran padi karena padi Tomon dan Tombariri terbakar, entri “Den 6” (Juni).
- NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 1461 (“1690 DDDDD. Vijfde boek: Batavia’s ingekomen brievenboek, deel I: Ambon, Banda, Ternate, Makassar, Timor, Solor” = buku kelima: buku surat masuk Batavia, bagian I), fol. 462 dan versonya. Surat Ternate, 31 Juli 1689.
- F. W. Stapel, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, deel IV (jilid keempat, 1691–1725), BKI 93 (1935), no. DCVI, “Minahassa—Menado, 10 September 1699”, hlm. 161–168 (pembuka hlm. 162; tanda Soepit, Lonto, dan Paät hlm. 165; daftar kewajiban negeri hlm. 166–168). Menurut Stapel, daftar kewajiban itu diambil dari Godée Molsbergen dan tidak tercantum dalam buku harian para utusan Kompeni.
- Penulis: Alfa Leo
