Legenda Opo Kawatak: Penjaga yang Tersisih dari Gunung Lokon
- calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Menurut cerita tua masyarakat Tombulu, pada masa Opo Toar dan Lumimuut, keturunan mereka dipilih dan ditempatkan untuk menjadi penghuni sekaligus penjaga gunung-gunung dan bukit-bukit yang tersebar di seluruh tanah Minahasa, yang pada masa lampau dikenal sebagai Malesung.
Di antara para keturunan itu, sebenarnya Opo Kawatak telah dipilih untuk menghuni dan menjaga Gunung Lokon. Namun, keputusan tersebut tidak berjalan mulus. Saudara-saudara Opo Kawatak mengajukan keberatan karena tubuhnya yang pendek.
Mereka menganggap bahwa penjaga Gunung Lokon seharusnya memiliki tubuh besar dan tinggi agar mampu mengawasi kawasan pegunungan yang luas, dengan hutan lebat yang membentang di sekelilingnya.
Keberatan itu kemudian dipertimbangkan kembali. Akhirnya, kedudukan sebagai penjaga Gunung Lokon diberikan kepada Opo Pinontoan. Sementara itu, Opo Kawatak ditempatkan di sebuah bukit besar yang kemudian dikenal sebagai Gunung Kawatak, sesuai dengan namanya sendiri.
Gunung Kawatak tersebut berada di wilayah Wanua Walewangko, Langowan. Di sanalah Opo Kawatak menjalankan perannya, meskipun tempat itu bukanlah gunung yang semula diperuntukkan baginya.
Namun, Opo Kawatak ternyata belum sepenuhnya menerima keputusan tersebut. Ia merasa tidak puas dengan penempatan yang diberikan kepadanya. Karena itu, ia meminta sebidang tanah di lereng Gunung Lokon, gunung yang pada awalnya telah dipilih sebagai tempat tinggal dan wilayah penjagaannya.
Permintaan itu pun meninggalkan jejak dalam ingatan masyarakat. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, tempat yang dikaitkan dengan permintaan Opo Kawatak tersebut masih dikenal hingga sekarang. Lokasi itu dipercaya sebagai tempat raragesan, yakni tempat bertapa atau menjalankan laku spiritual yang digunakan oleh para tonaas dan walian.
Demikianlah legenda Opo Kawatak, sebuah cerita rakyat Tombulu yang mengisahkan pemilihan penjaga gunung, perselisihan di antara saudara, dan keinginan untuk tetap memiliki tempat di Gunung Lokon.
Di balik kisahnya, legenda ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Minahasa mewariskan ingatan tentang hubungan manusia, leluhur, dan gunung-gunung yang dianggap memiliki makna penting dalam kehidupan mereka.
- Penulis: Moderator Malesung
