Menelusuri Garis Darah Sang Ratu: Silsilah Nawo Oki dan Terbentuknya Marga-Marga di Touluaan
- calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
- visibility 230
- comment 0 komentar
- print Cetak

Slagbom Ratu Oki (dokumen silsilah Desa Lobu)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di balik kisah heroik Ratu Oki yang disebut berhasil memukul mundur armada Spanyol pada abad ke-17, tersimpan warisan lain yang tak kalah penting: garis keturunannya. Sebuah dokumen silsilah dari Arsip Desa Lobu, Kecamatan Touluaan, Minahasa Tenggara, membuka kembali jejak tersebut.
Dokumen ini bukan sekadar daftar nama. Ia menghadirkan peta sejarah yang menghubungkan memori kolektif masyarakat lokal dengan catatan arsip kolonial Eropa. Melalui bagan silsilah Nawo Oki yang juga dikenal sebagai Ratu Oki terlihat bagaimana garis darah itu mengalir, menyebar, dan membentuk struktur sosial masyarakat Minahasa Tenggara hingga masa kini.
Akar Leluhur di Tanah Malesung
Penelusuran dalam dokumen ini dimulai dari garis leluhur Nawo Oki, jauh sebelum ia dikenal sebagai penguasa di Tonsawang dan Amurang. Nasabnya ditarik hingga sosok Tonaas Mamosey, seorang anak suku Toulour yang berasal dari Lusuan.
Dari Tonaas Mamosey, garis keturunan berlanjut kepada Bulanba’toh, kemudian Lumapow, hingga akhirnya sampai pada Nawo Oki. Rangkaian ini menunjukkan bahwa akar genealogis sang ratu tertanam kuat di tanah Malesung.
Penegasan asal-usul ini menjadi penting, karena menunjukkan basis demografis dan kultural Nawo Oki sebelum ia terlibat dalam dinamika politik dan peperangan di wilayah utara Sulawesi.
Dua Aliansi, Dua Garis Keturunan
Bagian tengah bagan memperlihatkan titik krusial dalam kehidupan Ratu Oki, yakni dua pernikahan yang membentuk arah sejarahnya.
Pada sisi kiri, tercatat pernikahan pertamanya dengan Panglima Monde—dalam silsilah tertulis Konde yang berasal dari wilayah Remboken. Dari pernikahan ini lahir tiga anak, yaitu Ohudon, Pangasaran, dan Bulawan.
Sementara pada sisi kanan, tercatat pernikahan kedua Nawo Oki dengan Raja Bolaang Mongondow, Loloda Mokoagouw. Dari hubungan ini lahir dua anak, yakni Manopo, yang kemudian dikenal sebagai Raja Jacobus Manoppo serta Mohodaser.
Pemisahan garis keturunan ini menjadi temuan penting. Dokumen Arsip Desa Lobu menunjukkan kesesuaian dengan catatan etnografer Hindia Belanda abad ke-19, seperti J.G.F. Riedel, yang juga membedakan secara jelas keturunan Ratu Oki dari kedua pernikahan tersebut.
Konsolidasi Marga hingga Era Modern
Pada bagian bawah bagan, terlihat perkembangan keturunan dari generasi pertama hingga generasi kesepuluh. Garis darah ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mengalami proses konsolidasi melalui pernikahan antarkerabat.
Dari keturunan anak-anak Nawo Oki, muncul berbagai marga seperti Dapongangoy, Tondong-Sinunde, Munaisubu, dan Koyongian. Pada generasi berikutnya, proses konsolidasi semakin menguat.
Hal ini tampak pada persilangan antara keluarga Mosey dan Sarendatu. Rangkaian nama seperti Pilipus Sarendatu dan Sophia Mosey, hingga generasi berikutnya seperti Ngeley Sarendatu dan Dave Sarendatu, menunjukkan keberlanjutan garis keturunan tersebut hingga masa kini.
Kesimpulan
Dokumen silsilah dari Desa Lobu ini menghadirkan perspektif lain tentang sosok Ratu Oki. Ia tidak hanya tercatat sebagai tokoh perlawanan dalam sejarah kolonial, tetapi juga sebagai leluhur yang jejaknya masih hidup dalam masyarakat.
Melalui silsilah ini, Ratu Oki dipahami sebagai Opo leluhur yang warisannya terus mengalir dalam kehidupan masyarakat Touluaan, Tombatu, dan wilayah sekitarnya hingga hari ini.
- Penulis: Moderator Malesung
