Jejak Kuda dan Sapi di Minahasa: Integrasi Ekonomi Agraria dari Era Iberia hingga Hindia Belanda
- calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
- visibility 207
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sejarah kuda dan sapi di Minahasa sering dibuka dengan kedatangan Portugis dan Spanyol pada abad ke-16. Sumber sezaman menunjukkan urutan yang lain.
Selama dua abad pertama kontak dengan Eropa, arsip berbicara tentang beras yang dipikul manusia. Kuda baru menjadi penting pada abad ke-19 dan sapi lebih kemudian lagi. Keduanya didorong oleh kopi wajib dan jalan-jalan yang dibangun untuk mengangkutnya.
Kawanan Yang Tak Pernah Ada
Kata Portugis manada berarti kawanan dan kata ini kadang dijadikan asal nama Manado. Sumbernya Galvão, yang menulis bahwa rombongan Simão d’Abreu pada 1523 houveraõ vista das Ilhas de Manada Panguensara, artinya mereka melihat pulau-pulau itu.¹
Kalimat itu bagian dari deret nama tempat di sepanjang rute pelayaran, bukan tentang ternak. Buku cetak Eropa tertua yang menyebut Manado tidak berbicara tentang hewan sama sekali.
Kuda: Dari Legenda Spanyol Ke Kapal Gorontalo
Kehadiran Spanyol di kawasan Manado pada abad ke-17 tercatat. Ada residensi Jesuit dan tentara pada 1620, dan sebuah pequeño presidio yang masih diingat dalam surat Manila tahun 1671. Namun sumber-sumber itu tidak mencatat kuda.²
Surat-surat Jesuit abad ke-16 memberi latar yang sama. Dari Ambon pada 1546, Fransiskus Xaverius menulis bahwa di pulau-pulau Maluku “tidak ada kuda dan orang pun tak bisa berkuda di sana”.³
Tiga belas tahun kemudian, dalam tambahan pada suratnya dari Malaka, Baltasar Dias mendengar kabar bahwa Makassar adalah negeri besar yang penduduknya “memakai banyak kuda di pedalaman”.⁴
Pada 1576, Nicolau Nunes, yang sudah dua puluh enam tahun tinggal di Maluku, mencatat bahwa di sana tidak ada sapi maupun kerbau kecuali yang didatangkan dari Jawa dan yang ada hanya kambing dan ayam.⁵
Dalam catatan Iberia, kuda di kawasan ini adalah milik orang Sulawesi Selatan, bukan muatan kapal Portugis atau Spanyol. Tak satu pun dokumen yang sudah diperiksa menyebut kuda di Manado.
Henley hanya berani menyebut kuda “barangkali” sudah ada di Minahasa pada abad ke-17. Yang pasti ada pada abad itu hanyalah kuda di Lembah Palu.⁶
Di Gorontalo, Padtbrugge tidak melihat seekor kuda pun pada 1677 maupun 1681. Kuda baru pasti ada di sana pada 1729.⁷
Anggapan bahwa kuda dibawa orang Spanyol baru tercatat pada 1860-an, dan bentuknya sebuah cerita. Graafland menulis:
“Vroeger waren hier de paarden onbekend, en men verhaalt, dat, toen het eerste paard met ruiter de bergen bezocht, de bewoners des lands stellig dachten, dat die beiden één waren, – en het geheel dus voor eenen ĕmpung (god) hielden.”
Artinya: dahulu kuda tidak dikenal di sini, dan konon ketika kuda pertama bersama penunggangnya mengunjungi pegunungan, penduduk yakin keduanya satu makhluk dan menganggapnya ĕmpung (dewa). Menurut Graafland, dari orang Spanyol pula kuda dikenal dengan nama kawalo di kalangan penutur bahasa Alfur yang tidak terbiasa dengan kata Melayu koeda.⁸
Keterangan ini punya dua lapis. Lapis pertama adalah legenda: Graafland sendiri menandainya dengan “konon” dan motif penunggang serta kuda yang disangka satu makhluk ilahi dikenal dari kisah penaklukan di tempat lain.
Lapis kedua adalah kata kawalo, turunan caballo, yang hanya hidup di pedalaman berbahasa Alfur. Kata itulah jejak Iberia yang paling kuat. Namun kata tidak menunjukkan kapan dan lewat jalur mana, kuda pertama datang.
Pada masa Graafland, kuda sudah menjadi sarana bepergian biasa. Tidak ada kuda pos, sehingga siapa pun yang berkeliling Minahasa memakai het gewone reismiddel – de rijpaarden, kuda tunggang.
Kudanya berbiak kecil, tetapi sanggup menempuh 20 sampai 30 mil Inggris sekali jalan, melintasi gunung setinggi sekitar dua ribu kaki.
Graafland juga mencatat asal kuda-kuda itu. Sebagian besar didatangkan dari Gorontalo, sesekali dari Timor dan Sumba (“Sandelhout–eiland“).
Ia mengeluh bahwa kuda-kuda itu ditunggangi terlalu muda, sering dipakai memikul beban berat dan dibiarkan luka.⁹
Catatan bea cukai Gorontalo menguatkannya: rata-rata 54 ekor kuda dikapalkan ke Minahasa setiap tahun antara 1828 dan 1846.¹⁰
Beras Yang Dipikul
Selama abad ke-17 dan ke-18, nilai kawasan ini bagi Kompeni diukur dengan beras. Pada 1661, Manado dinilai sanggup menyerahkan 100 sampai 150 last beras setahun.
Pada 1665, raja dan para kepala meminta redut batu dengan gudang kokoh om de graenen in te bergen, untuk menyimpan biji-bijian.¹¹
Beras itu memasok Ternate, Ambon, dan perang melawan Makassar. Pada 1766, Manado disebut de broodkamer der Molukkos, lumbung roti Maluku.¹²
Pengangkutan di darat bertumpu pada tenaga manusia. Reinwardt, yang berkunjung pada 1821, menulis bahwa barang dipikul orang.¹³
Kerbau, yang di banyak tempat di Nusantara menjadi hewan pembajak, hampir tidak ada di Minahasa. Kerbau hanya hidup setengah liar di sudut tenggara dekat Belang dan Ratahan, lalu dimusnahkan lewat perburuan atas perintah Belanda pada paruh kedua abad ke-19.¹⁴
Babi, Bukan Kuda
Pada awal abad ke-19, ternak besar sangat sedikit di Minahasa. Hewan utamanya babi.
Reinwardt mencatat pada 1821 bahwa tidak ada keluarga tanpa babi dan angka tahun 1850 menunjukkan hampir 50.000 ekor babi.
Kambing dan kuda ada, tetapi sedikit.¹⁵ Jagung dipakai sebagai pakan babi dan kemudian juga kuda.¹⁶
Kopi, Jalan, Dan Kuda
Perubahannya datang bersama kopi wajib. Pada awal abad ke-19, “jalan” Minahasa hanyalah jalan setapak sempit untuk berkuda. Pembangunan jalan yang lebih lebar untuk gerobak kuda dan sapi baru dimulai pada 1840-an.¹⁷
Kuda menggantikan para pemikul pada tahun-tahun awal kopi wajib. Jumlahnya naik dari beberapa ratus ekor pada 1820 menjadi lebih dari 8.000 pada 1845, lalu menyusut tajam pada 1845–1855.¹⁸
Graafland menyebut penyebab penyusutan itu. Beberapa tahun sebelum ia menulis, datang penyakit droes. Menurut cerita penduduk, penyakit itu terbawa oleh seorang perwira yang memakai tali kekang bekas kuda sakit dari tempat lain.
Graafland tidak mau menjamin kebenaran cerita itu, tetapi menegaskan bahwa penyakit tersebut dahulu tidak dikenal dan dalam beberapa tahun eenige duizenden paarden heeft weggesleept, merenggut beberapa ribu ekor kuda.¹⁹
Graafland juga memperlihatkan seberapa berat beban pengangkutan, lewat contoh kopi. Dahulu, penanam menerima lima belas gulden tembaga untuk sepikol kopi yang mereka serahkan di Manado atau Amurang, dan tiga gulden di antaranya jatuh ke para kepala.
Pada 1852, Residen Scherius mendirikan gudang-gudang kopi di pedalaman. Sejak itu penanam menerima f 0,075 per pon, atau f 9,37½ per pikol, tanpa potongan apa pun.
Menurut Graafland, harga yang lebih rendah itu tetap menguntungkan. Dahulu, untuk menyerahkan sepertiga pikol saja, mereka dikwijls zonder hulp van lastdieren, sering tanpa bantuan hewan beban, kehilangan tiga hari atau lebih. Penyerahan kopi bertambah karena kini lebih mudah.
Penanam yang punya gerobak menerima f 0,07 per pal per pikol untuk mengangkut kopi, dan menurut Graafland banyak yang memperoleh penghasilan baik dari situ.²⁰
Pedati Sapi, 1852
Pada tahun yang sama dengan berdirinya gudang-gudang kopi pedalaman, pedati sapi diperkenalkan. Sejak itu sapi makin menggantikan kuda sebagai hewan beban. Jumlah sapi berlipat tiga dalam lima tahun, dan terus melonjak seiring rampungnya jaringan jalan, ramainya perdagangan lokal, dan meluasnya pemakaian bajak.
Bibit awal sapi tampaknya didatangkan dari Filipina. Kuda tidak tersingkir: jumlahnya ikut naik, dan di Minahasa kuda bahkan dipakai membajak, sesuatu yang tidak lazim di Indonesia.²¹
| Tahun | Kuda | Kerbau | Sapi | Total ternak besar |
|---|---|---|---|---|
| 1850 | 6.649 | t.a. | 1.648 | >8.297 |
| 1900 | 13.836 | 0 | 28.430 | 42.266 |
| 1920 | 14.591 | 1 | 38.681 | 53.273 |
Antara 1850 dan 1920, ternak besar bertambah dari sekitar 10.000 menjadi lebih dari 50.000 ekor, sementara penduduk tumbuh dari 100.000 menjadi 240.000 jiwa.²² Henley sendiri mengingatkan bahwa statistik ternak abad ke-19 tidak dapat diandalkan.
Angka 1850 memuat dua petunjuk. Pertama, 6.649 kuda pada 1850 berada di bawah angka lebih dari 8.000 pada 1845, cocok dengan wabah yang dicatat Graafland.
Kedua, sudah ada 1.648 sapi dua tahun sebelum pedati sapi diperkenalkan. Kapan sapi pertama tiba masih terbuka.
Penutup
Kerangka lama menaruh kuda dan sapi sebagai warisan kontak Iberia abad ke-16. Kerangka itu bertumpu pada sebuah legenda yang baru dicatat tiga abad kemudian, sementara surat-surat Jesuit sezaman justru menyatakan Maluku tanpa kuda dan tanpa sapi.
Yang terdokumentasi adalah urutan lain. Selama dua abad, beras dipikul manusia dan babi menjadi hewan rumah tangga. Lalu, dalam satu generasi, kuda dan sapi mengambil alih pengangkutan, didorong kopi wajib, gudang-gudang pedalaman dan jalan yang dibangun dengan kerja wajib. Hewannya datang dari tetangga: kuda dari Gorontalo, Timor, dan Sumba, sapi dari Filipina.
Jejak Spanyol mungkin tersisa pada kata kawalo, tetapi kawanan ternak Minahasa lahir di abad kolonial yang jauh lebih kemudian.
Catatan Kaki
- António Galvão, Tratado que compôs o nobre & notauel capitão Antonio Galuão… (Lisboa: Ioam da Barreira, 1563), fol. 48v; cetakan Lisboa Occidental: Officina Ferreiriana, 1731, hlm. 61.
- Documenta Malucensia III, D 121–122 (1620), hlm. 415, 425–432; D 215 (Manila, 25 Januari 1671), §4, hlm. 661.
- Documenta Malucensia I, D 3 (Fransiskus Xaverius kepada para Jesuit di Eropa, Ambon, 10 Mei 1546), §12, hlm. 13.
- Documenta Malucensia I, D 88 (Baltasar Dias kepada Provinsial António de Quadros, Malaka, 3 Desember 1559), §10, hlm. 306, dan catatan kaki penyunting no. 29. Menurut penyunting (hlm. 307), paragraf ini ditulis sesudah 3 Desember, setelah kapal ke Makassar berangkat. Paragraf ini tidak terdapat dalam naskah B (aparatus hlm. 306, baris 94–102).
- Documenta Malucensia I, D 213 (Nicolau Nunes, laporan umum tentang Maluku atas permintaan P. Martim da Silva SJ, Goa, 4 Januari 1576), §10 dan §12, hlm. 679–680, dan catatan kaki no. 37. Naskah tunggal: ARSI, Goa 47, ff. 117r–122v, ditulis juru tulis.
- David Henley, Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600–1930 (Leiden: KITLV Press, 2005), hlm. 69, mengutip Van Dam 1931:91.
- Henley 2005, hlm. 69 dan nt. 59, mengutip Robidé van der Aa 1867:166–7, Van Dam 1931:97, dan NA VOC 2132:217.
- N. Graafland, De Minahassa: haar verleden en haar tegenwoordige toestand, jilid I (Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1867), hlm. 43.
- Graafland, jilid I, hlm. 42–43.
- Henley 2005, hlm. 96 nt. 167, mengutip “Journaal van inkomende en uitgaande regten” (ANRI Gorontalo 8, 9).
- Dagh-Register gehouden int Casteel Batavia, ed. J.A. van der Chijs, Anno 1661 (Batavia: Landsdrukkerij; ‘s-Hage: M. Nijhoff, 1889), hlm. 160 (1 Juni 1661); Anno 1665 (1894), hlm. 292 (4 Oktober 1665).
- Documenta Malucensia III, D 215, §4, hlm. 661; NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv.nr. 3217, fol. 849–858.
- Henley 2005, hlm. 91, mengutip C.G.C. Reinwardt, Reis naar het oostelijk gedeelte van den Indischen Archipel, in het jaar 1821, ed. W.H. de Vriese (Amsterdam: Frederik Muller, 1858), hlm. 585.
- Henley 2005, hlm. 69 dan nt. 58; hlm. 537; hlm. 538 nt. 46, mengutip Graafland 1898, II:V.
- Henley 2005, hlm. 537 dan nt. 40, mengutip Reinwardt 1858:589 dan AV Manado 1850 (ANRI Manado 51).
- Henley 2005, hlm. 452 nt. 23, mengutip Edeling 1919:73, N.P. Wilken 1870:374, dan J.J. ten Siethoff, “Topografische schetsen van een gedeelte der residentie Menado, 1845” (ANRI Manado 46).
- Henley 2005, hlm. 396 nt. 103, mengutip AV Manado 1833 (ANRI Manado 48), AV Manado 1849 (ANRI Manado 51), Francis 1860:371–2, dan Schouten 1998:64.
- Henley 2005, hlm. 538 dan nt. 42, mengutip Reinwardt 1858:588, Francis 1860:372, Fragment 1856:4, De Lange 1897:689, dan Quarles van Ufford 1856:16.
- Graafland, jilid I, hlm. 43. Istilah droes bisa berarti ingus tenang (goede droes) atau glanders (kwade droes); Graafland tidak merinci.
- Graafland, jilid I, hlm. 80–81. Henley 2005, hlm. 91 dan nt. 145, merujuk halaman yang sama sebagai bukti pengangkutan beras, padahal konteks Graafland adalah penyerahan kopi ke gudang.
- Henley 2005, hlm. 538 dan nt. 43, mengutip AV Manado 1852 (ANRI Manado 51), Wessels 1891:63, Riedel 1870a:60, dan Van Leeuwen 1951.
- Henley 2005, hlm. 538, Tabel 31 dan nt. 44–48: angka 1850 dari AV Manado 1850 (ANRI Manado 51); angka 1900 dari Koloniaal Verslag 1902, Bijlage A:7; angka 1920 dari Van Marle 1922, I:91.
Editor: Alfa Leo
- Penulis: Moderator Malesung
