Musyawarah Minahasa dalam Catatan 1679
- calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

Robertus Padtbrugge dan pasukan VOC menunggu di tengah rapat para pemimpin Minahasa, 1679. (ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Apa yang sebenarnya dilihat seorang gubernur Kompeni ketika orang Minahasa mengambil keputusan, dan apa yang tidak ia lihat.
Orang Minahasa sering digambarkan sebagai masyarakat yang sejak dulu hidup tanpa raja dan memutuskan segala sesuatu lewat musyawarah.
Gambaran itu biasanya disertai angka tahun yang sangat tua dan cerita tentang batu di Pinawetengan. Angka-angka itu tidak memiliki sandaran, tetapi ada satu catatan sezaman yang benar-benar menyaksikan cara orang Minahasa bermusyawarah dan isinya jauh lebih menarik daripada versi populernya.
Catatan itu ditulis pada 1679 oleh Robertus Padtbrugge, gubernur Kompeni VOC di Ternate. Judul aslinya panjang dan sedikit kering, uraian tentang adat dan kebiasaan orang Alifuru di bagian utara Celebes atau Manado. Naskahnya baru dicetak hampir dua abad kemudian, pada 1866.[1]
Padtbrugge bukan pengagum. Ia menulis sebagai pejabat kolonial yang ingin memahami dan sering kali jengkel pada orang-orang yang tidak bisa diperintah lewat satu orang raja ini.
Negeri-negeri tanpa raja
Padtbrugge mencatat bahwa orang Manado Tua akhirnya tunduk kepada raja Bolaang karena mereka sendiri hebbende geen koning, tidak punya raja.[2]
Di daratan Minahasa keadaannya serupa, ketika Kompeni membuat perjanjian pada tahun yang sama, lawan bicaranya bukan seorang penguasa melainkan para kepala negeri dari banyak negeri sekaligus.[3]
Perjanjian itu dibahas dalam sebuah generale vergaderinge, rapat umum para kepala, pada Februari 1679.[4]
Yang tua yang memimpin
Siapa yang menjadi kepala negeri? Jawaban Padtbrugge mungkin mengejutkan pembaca yang membayangkan pemimpin pilihan karena kecakapannya.
Menurutnya, kepala dipilih dari orang yang paling tua, disebut Tarelbaram dan jabatannya tidak turun-temurun.
“…geenszins gelet op afkomst, geslacht of bekwaamheid, maar enkelijk op de jaren”
“…sama sekali tidak memandang asal-usul, keturunan, atau kecakapan, melainkan semata-mata usia.”
(Padtbrugge 1679, hlm. 312)
Jadi yang tercatat adalah kepemimpinan para tetua, bukan kepemimpinan berdasarkan kecakapan.
Dan Padtbrugge menulisnya dalam bentuk lampau. Kalimatnya berlanjut dengan keluhan bahwa sejak beberapa tahun aturan umur itu tidak lagi dipegang ketat.
Pada masa komandan Kompeni sebelumnya, gelar dibagi-bagikan dengan murah, sampai di Tonsea jumlah kepala lebih banyak daripada rakyat biasa sekitar lima atau enam regter, sekitar tiga puluh kapitan, beberapa kimalaha, dan tidak kalah banyak merinho.[5]
Tatanan yang ia saksikan tersebut dengan kata lain, sudah bersentuhan dengan kekuasaan asing.
Sidang di bawah pohon
Bagian yang paling hidup dari catatan ini adalah cara perkara diputuskan. Sidang tidak diadakan di balai, tetapi di jalan terbuka atau di bawah pohon.
Kalau hujan, orang-orang pindah ke kolong rumah sang kepala negeri. Kepala sidang memanggil semua kepala negeri lain beserta seluruh rakyat negeri melalui seorang penyeru umum. Perkara lalu ditelusuri dari akarnya, sejauh yang masih diingat dari zaman ayah, kakek, dan buyut.[6]
Lalu datang kalimat yang menjadi inti artikel ini:
“De boeren en het graauw nemen na de Hoofden ook de zaken in beraad en overlegging, en wordt niet dan met de meeste stemmen, zonder inzigt van personen, de zaak tot besluit gebragt.”
“Para petani dan rakyat jelata, sesudah para kepala, ikut menimbang dan merundingkan perkara, dan perkara tidak diputuskan kecuali dengan suara terbanyak, tanpa memandang siapa orangnya.”
(Padtbrugge 1679, hlm. 314)
Padtbrugge menambahkan bahwa sekali keputusan diambil, orang-orang ini tidak bergeser sejengkal pun, bahkan bila keputusan itu merugikan diri mereka sendiri.
Nadanya bukan pujian, bagi seorang pejabat yang terbiasa berunding dengan raja, cara ini lambat dan sulit dikendalikan. Justru karena itu kesaksiannya berharga, ia mencatat musyawarah bukan untuk mengagumi, melainkan karena terpaksa menghadapinya.
Mencari pihak yang netral
Orang Minahasa juga punya cara menjaga keadilan dalam sengketa. Perselisihan kecil dan perkara harta sengaja dibawa ke negeri lain supaya diputus oleh orang yang tidak berpihak.[7]
Dalam perang antarnegeri, negeri-negeri yang tidak terlibat datang menengahi. Seorang yang dikenal cinta damai ditunjuk untuk mendengar kedua pihak dan menyelesaikannya bersama para kepala yang berselisih.
Denda ditaksir menurut kesanggupan negeri yang bersalah. Perdamaian itu ditutup dengan sumpah yang disebut Malua, senjata diletakkan, pidato panjang tentang manfaat damai diucapkan, kutukan dijatuhkan atas siapa saja yang melanggar beserta seluruh keturunannya, lalu senjata itu dilangkahi tiga kali.[8] Malua sudah ditulis dalam artikel terpisah.
Keputusan bersama juga masuk ke urusan rumah tangga. Seorang suami hanya boleh menceraikan istrinya met kennis des regters en toestemming des volks, dengan sepengetahuan kepala negeri dan persetujuan rakyat.[9] Bahkan keputusan berperang diambil aanstonds en gezamenlijk, serentak dan bersama-sama, setelah orang mendengarkan penuturan panjang tentang perbuatan, kisah para leluhur dari cerita dan nyanyian lama.[10]
Batas-batas musyawarah
Catatan yang sama juga memperlihatkan hal-hal yang jarang disebut dalam versi populer.
Kepala negeri tidak hanya mengurus perkara duniawi. Padtbrugge menyebut mereka te gelijk Koningen en Priesters, sekaligus raja dan imam, yang mengumumkan waktu menebang, menanam, dan memanen.[11] Tidak ada pemisahan antara urusan pemerintahan dan urusan agama.
Perkara darah juga berada di luar sidang umum. Pembunuhan tidak diputus dengan suara terbanyak, tetapi diserahkan pada balas-membalas antarkerabat.[12]
Dan ketika sebuah negeri pecah karena perselisihan golongan, pihak yang lebih lemah tidak tunduk pada pihak yang menang. Mereka pergi dan mendirikan negeri sendiri di tempat lain.[13]
Musyawarah dengan kata lain, berlaku di dalam satu negeri. Di antara negeri-negeri, yang berlaku adalah perang, perundingan, dan pemekaran.
“Minahasa” masih nama sebuah rapat
Ada satu hal kecil yang mudah terlewat. Kata Minahasa tidak muncul dalam naskah Padtbrugge.
Kata itu hanya ada pada judul dan kepala halaman yang dibuat penyunting cetakan 1866.[14]
Dalam dokumen Kompeni abad ke-17 dan ke-18, kata ini masih menunjuk sebuah rapat, bukan sebuah wilayah. Perjanjian lanjutan tahun 1699 menyebut algemeene Landvergadering, rapat umum negeri.
Pasal kedelapannya menetapkan bahwa bila rapat tidak mencapai mufakat, perkara ditunda sampai utusan Kompeni datang, sonder in die tusschentijd eenige feijtelijkheden, gelijk weleer geschiet sij, tanpa kekerasan di antara waktu itu seperti yang dulu terjadi.[15]
Seabad kemudian pada 1790, kontrak-kontrak lama dikukuhkan ter zitting van de Minhasa of Landraad, dalam sidang Minahasa atau Landraad.[16] Nama yang kini dipakai untuk seluruh tanah dan orangnya berasal dari nama tempat mereka berunding.
Sesudah 1679
Musyawarah itu tidak hilang setelah Kompeni VOC datang. Pada 1702 Batavia melapor bahwa penduduk Manado menyangkal perjanjian 1699, karena mereka tidak bisa membaca dan menulis.
Dengan suara bulat, eenstemmig, mereka menyatakan ingin tetap pada adat lama tanpa perubahan.[17]
Empat dekade kemudian, Gubernur Marten Lelivelt mengeluh dalam laporan serah terimanya.
Ada dua puluh negeri, masing-masing dengan kepala negerinya sendiri. Kompeni menginginkan satu kepala tertinggi, karena tanpa itu orang harus menunggu sampai semua kepala negeri, die mede zoo veel gevoelens als koppen hebben, yang pendapatnya sebanyak kepalanya, mencapai satu kata.
Tetapi jabatan kepala tertinggi itu berulang kali disalahgunakan untuk kekerasan dan pemerasan, sehingga berkali-kali dihapus.[18]
Keluhan Lelivelt adalah bukti terbaik bahwa cara memutuskan bersama masih hidup pada pertengahan abad ke-18.
Yang tidak ada dalam catatan 1679
Padtbrugge tidak menyebut Pinawetengan, Tona’as, Wali’an. Ia juga tidak menyebut teterusan sebagai panglima dengan mandat sementara dan tidak memberi angka tahun untuk asal-usul musyawarah ini.
Sebutan tercetak tertua untuk Pinawetengan yang bisa kita periksa baru muncul pada 1869, dalam karangan J.G.F. Riedel tentang pemilikan tanah, sebagai nama tempat di dekat Kanonang tempat para leluhur membagi tanah.[19]
Kaitannya dengan batu bergambar baru tercetak pada 1898, setelah tempat itu ditunjukkan kepada zendeling Schwarz pada 1888.[20] Kisah Pinawetengan adalah ingatan penting bersama, tetapi ia bukan kesaksian dari abad ke-17.
Yang tersisa dari 1679 sudah cukup besar. Seorang pejabat asing yang tidak menyukai apa yang dilihatnya mencatat bahwa orang Minahasa memilih kepala dari yang tertua, menyidangkan perkara di bawah pohon di hadapan seluruh negeri, membiarkan rakyat jelata ikut berunding, memutus dengan suara terbanyak tanpa memandang orang, mencari penengah yang netral, dan menutup perang dengan sumpah.
Ia juga mencatat bahwa tatanan itu punya batas, punya kekerasan, dan sudah mulai berubah di bawah pengaruh Kompeni. Kedua sisi itu bersama-sama adalah sejarahnya.
Catatan
1. R. Padtbrugge, “Beschrijving der zeden en gewoonten van de Alfoeren, in het noorderdeel van Celebes of Manado, 1679”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië XIII (1866), hlm. 303–330; pengantar penyunting hlm. 303–305, teks Padtbrugge mulai hlm. 306.
2. Padtbrugge 1679, hlm. 306.
3. Kontrak 1679 dalam J.E. Heeres dan F.W. Stapel (ed.), Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum III, no. CDXXV, hlm. 172–176.
4. E.C. Godée Molsbergen, *Geschiedenis van de Minahassa tot 1829* (Weltevreden: Landsdrukkerij, 1928), hlm. 78.
5. Padtbrugge 1679, hlm. 312–313.
6. Padtbrugge 1679, hlm. 313.
7. Padtbrugge 1679, hlm. 315.
8. Padtbrugge 1679, hlm. 319–320.
9. Padtbrugge 1679, hlm. 320.
10. Padtbrugge 1679, hlm. 317.
11. Padtbrugge 1679, hlm. 313 dan 325.
12. Padtbrugge 1679, hlm. 314.
13. Padtbrugge 1679, hlm. 315.
14. Padtbrugge 1679, hlm. 306; judul “Minahassa” adalah buatan penyunting 1866.
15. Kontrak 10 September 1699, Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum IV, no. DCVI, hlm. 161–168, pasal 8; juga dikutip dalam Godée Molsbergen 1928, hlm. 90–93.
16. Godée Molsbergen 1928, hlm. 139 (kontrak 5 Agustus 1790); bandingkan glos “Landraad, vergadering der Dorpshoofden” pada hlm. 135, cat. 4.
17. Godée Molsbergen 1928, hlm. 95, mengutip surat Batavia kepada Heeren XVII, 30 November 1702.
18. Godée Molsbergen 1928, hlm. 113–114, mengutip memorie Gubernur Marten Lelivelt (1744).
19. J.G.F. Riedel, “Iets over het landbezit in de Minahasa (Residentie Menado)”, Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch-Indië XIV (1869), hlm. 2.
20. J.G.F. Riedel, “De Watu Rerumeran ne Empung of de steenen zetel der Empungs in de Minahasa”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde XL (1898), hlm. 188–190; J. Alb. T. Schwarz, “Ethnographica uit de Minahassa”, *Internationales Archiv für Ethnographie XVIII (1908), hlm. 44–50.
- Penulis: Alfa Leo
