Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Historiografi » Sebelum Magalhães: Jejak Kekristenan yang Terlupakan

Sebelum Magalhães: Jejak Kekristenan yang Terlupakan

  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 64
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada April 1588, seorang Visitator Jesuit bernama Antonio Marta menyelesaikan laporannya tentang keadaan kekristenan di Maluku. Di dalamnya ada satu bab pendek tentang Celebes.

Bab itu menceritakan bagaimana Pater Diogo de Magalhães membaptis penduduk Manado dan raja Kaidipang pada 1563. Tetapi kalimat pembukanya menyebut sesuatu yang lain: Magalhães pergi ke sana, tulis Marta, “untuk mengunjungi beberapa orang Kristen yang sudah dibaptis oleh seorang klerus sekuler yang lewat di kepulauan Celebes.”[^1]

Anak kalimat itu tidak pernah dijelaskan. Klerus itu tidak dinamai, tidak diberi tarikh, tidak disebut lagi. Ia lewat, ia membaptis, ia hilang.

Dua puluh delapan paragraf sebelumnya, Marta memakai rumus yang persis sama untuk tempat lain. Kekristenan Maluku, tulisnya, sudah dimulai sebelum orang Serikat Yesus datang, “por mão de hum sacerdote secular“, dan ketika Fransiskus Xaverius tiba di Pulau Moro, ia mendapati di sana pun sudah banyak orang Kristen yang dijadikan Kristen “por hum sacerdote secular.“[^2]

Satu kategori, dua tempat, dan dalam kedua tempat itu orangnya tanpa nama. Perbedaannya baru muncul empat abad kemudian. Penyunting modern korpus itu dapat menamai yang di Moro — Fr. Simão Vaz — dan tidak dapat menamai yang di Celebes.[^3]

Tulisan ini tentang lapisan itu. Bukan untuk menemukan namanya, karena tampaknya memang tidak ada yang menyimpannya, melainkan untuk memperlihatkan bahwa lapisan itu punya lembaga, punya aturan, punya cara kerja yang bisa diperiksa dan bahwa justru aturan itulah yang membuatnya tak bernama.

Sebuah Jabatan, Bukan Sebuah Misi

Ketika Portugis mendirikan benteng di Ternate pada 1522, padroado kerajaan menyediakan untuknya seorang vigário dan, bila perlu satu atau dua beneficiado. Mereka bukan anggota ordo. Mereka klerus sekuler, dan tugas mereka dirumuskan sempit. Perawatan jiwa bagi garnisun dan bagi orang Portugis di kota benteng. Pertobatan penduduk pribumi bukan bagian dari kewajiban mereka. Hanya apabila kapten benteng menganggapnya perlu atau berguna bagi kepentingan Tuhan dan Raja, ia dapat mengirim sang vigário keluar untuk membuat orang Kristen.[^4]

Dari sinilah seluruh perkara mengalir.

Seorang misionaris ordo berangkat karena diutus atasannya, menulis surat kepada atasannya dan suratnya disimpan di arsip ordonya. Seorang vigário benteng tidak berangkat ke mana pun kecuali seorang kapten memutuskan begitu. Ia diangkat oleh uskup sampai Februari 1558 lewat keuskupan Goa, sesudahnya lewat keuskupan Malaka[^5] dan kalau perbuatannya tercatat sama sekali, tempatnya bukan dalam korespondensi ordo melainkan dalam surat sang kapten kepada Raja, di antara laporan cengkih, meriam, dan sengketa jabatan.

Itu jenis arsip yang berbeda, dan ia jauh lebih jarang menyimpan nama orang.

Tiga penampakan, 1528–1531

Yang tertua yang bisa diperiksa bukan sebuah pembaptisan melainkan sepucuk granat.

Pada 11 Juni 1528, seorang Kastilia bernama Diego de Salinas menulis dari Tidore kepada Raja Spanyol. Ia melaporkan percobaan pembakaran kapal yang sedang mereka bangun, sepuluh granat dibawa oleh salah seorang dari tiga orang Portugis yang datang, “yang bernama Jorge Baez, yang seorang klerus“, atas perintah Kapten Don Jorge.[^6]

Sebutan itu datang dari pihak lawan, dalam laporan perang dan tidak boleh dibebani lebih dari yang ditanggungnya. Tetapi ia memperlihatkan sesuatu yang berguna, seorang klerus benteng ikut dalam pekerjaan kapten dan yang dicatat orang tentang dirinya bukan sakramen.

Tiga tahun kemudian, gambaran itu menjadi lebih terang. Pada Desember 1531 Vicente da Fonseca menulis kepada Raja Portugal untuk melaporkan kekacauan di Ternate sesudah Kapten Gonçalo Pereira ditikam pada waktu tidur siang. Penghuni benteng berkumpul untuk memilih kapten baru, seluruh orang di dalamnya disumpah dan yang mengambil kesaksian setiap orang satu per satu adalah para juru tulis feitoria bersama Padre Vigário dan seorang padri lain bernama Johão Mexia.[^7]

Klerus benteng di sini tampil sebagai pemegang pena dalam perkara sipil. Ia menulis untuk orang lain. Itu kalau boleh diringkas, adalah nasib seluruh lapisan ini: ia menghasilkan dokumen tanpa menjadi pokoknya.

Moro, 1534–1536: Satu Episode Yang Utuh

Hanya sekali dalam korpus ini kita dapat melihat seluruh rangkaiannya, sebab, keputusan, pelaksana, dan akibat karena dua orang yang berselisih kebetulan menuliskannya.

Yang pertama Kapten Tristão de Ataíde sendiri, dalam surat panjangnya kepada Raja bertarikh 20 Februari 1534. Ketika ia pergi ke Jailolo, dua governador dari sebuah permukiman kepulauan Moro — lima atau enam ribu jiwa, takluk kepada raja Ternate — menyertainya. Sekembalinya ke benteng mereka menyatakan hendak menjadi Kristen, dengan syarat ia membebaskan mereka dari raja Ternate dan orang-orangnya, yang menindas mereka dan merampas segala milik mereka.

Ataíde menjawab akan membuat mereka isemtos dari raja Ternate. Lalu — dan ini bagian yang jarang dikutip — ia memanggil raja Ternate, memberitahukan seluruhnya dan raja itu menyatakan setuju, asalkan ia dan orang-orangnya sendiri tidak dipaksa meninggalkan hukum mereka. Ataíde menerimanya.[^8]

Para governador itu ia jadikan Kristen di benteng dengan kehormatan besar dan pemberian, tujuh atau delapan orang lain yang menyertai mereka mengikuti. Ke negeri asal mereka ia mengirim dua orang Portugis awam yang mengenal daerah itu dan bersahabat dengan mereka.

Dan ketika penduduk melihat para pemimpin mereka pulang sudah menjadi Kristen, tulis Ataíde, kegembiraan begitu besar sehingga semuanya akan menjadi Kristen serentak — “se la estevera algum creligo“, seandainya ada seorang klerus di sana.[^9]

Kalimat itu memperlihatkan batasnya dengan telanjang. Yang menghalangi bukan keengganan penduduk namun yang menghalangi adalah bahwa sakramen terikat pada tempat lembaganya berada. Orang dibaptis di benteng, karena vigário ada di benteng. Karena itu pula yang datang ke benteng adalah para pemimpin dan pola yang sama terulang tiga puluh tahun kemudian di lengan utara Sulawesi, ketika raja Siau justru dibaptis di Manado karena ia sedang berada di sana.

Ataíde menutup bagian itu dengan rencana begitu dua governador berikutnya dijadikan Kristen, ia akan segera mengirim Padre Vigário bersama sepuluh atau dua belas orang Portugis pemegang senapan dan sepasang meriam kecil untuk membangun sebuah gereja.[^10]

Apa yang terjadi kemudian kita ketahui dari orang yang membencinya.

Lionel de Lima menulis dari Malaka pada 8 November 1536. Ia menerangkan lebih dulu apa arti Moro bagi Maluku. Raja-raja Maluku membagi tanah itu di antara mereka, letaknya enam puluh sampai tujuh puluh legua dan dari sanalah datang beras, sagu, babi dan ayam yang menghidupi kepulauan yang tanahnya sendiri hampir tak menghasilkan pangan. Penduduk Moro adalah budak raja-raja itu. Dan karena kepada mereka dikatakan bahwa dengan menjadi Kristen mereka akan bebas dan merdeka, mereka menjadi Kristen, lalu bangkit melawan raja-raja itu dan berhenti mengirim bahan pangan.[^11]

Raja Ternate menawarkan penyelesaian, siapa yang menjadi Kristen boleh pindah ke benteng akan diberi tanah dan rumah, asal mereka mengosongkan Moro. Ataíde menjawab dengan keras, dan “mandou loguo muitos omẽns e vigairo a faze-los christãos e favorece-los” — segera mengirim banyak orang dan seorang vigário untuk menjadikan mereka Kristen dan melindungi mereka.[^12]

Di sanalah kaidah padroado itu tertangkap sedang dijalankan, kata demi kata: seorang kapten memutuskan, dan seorang vigário dikirim keluar.

Akhirnya dicatat Lima beberapa baris kemudian, tanpa dramatisasi. Di tanah Moro itu, orang-orang Kristen itu sendiri bangkit dan membunuh orang Portugis serta vigário yang ada di sana.[^13]

Penilaian Lima atas seluruhnya pahit dan mengenai pokok tulisan ini. Dalam pembuatan orang-orang Kristen itu Ataíde tidak memberi bagian kepada siapa pun kecuali kepada dirinya sendiri dan perkara yang dijalankan tanpa musyawarah tidak membuahkan apa-apa selain kerugian bagi Raja.[^14]

Seorang klerus dikirim atas keputusan satu orang, bekerja beberapa bulan, dan dibunuh. Dalam dua laporan yang menceritakannya ia disebut lima kali, selalu sebagai vigairo — jabatan, bukan orang. Ia tidak pernah dinamai.

Celah 1556

Dua puluh tahun kemudian dan di tempat lain, sebuah keterangan singkat masuk ke korpus Jesuit. Sebuah ikhtisar yang disusun di Portugal menyebut adanya suatu kaum bernama celebes, “di mana ada seorang raja Kristen yang disebut raja Manado”; keadaan yang dilukiskannya adalah keadaan tahun 1556, tujuh tahun sebelum Magalhães datang.[^15]

Dua rambu harus dipasang sekaligus.

Pertama, rey christão dalam dokumen ini bukan sinonim “sudah dibaptis”. Dalam ikhtisar yang sama, paragraf berikutnya menyebut tiga raja Kristen di Makassar yang justru belum ada yang mengajar dan membaptis mereka.[^16] Sebutan itu menandai keberpihakan, bukan sakramen.

Kedua, tidak adanya keterangan lanjutan sebagian bersebab teknis. Pada Desember 1559 Baltasar Dias menulis dari Malaka bahwa sudah tiga tahun para padri di Maluku menderita perang dan kelaparan, dan sudah dua tahun tidak ada kabar sama sekali dari sana.[^17] Jalur Malaka–Maluku praktis putus persis pada tahun-tahun yang ingin kita ketahui.

Yang tersisa adalah sebuah takhta yang disebut Kristen dan seorang pembaptis yang tak pernah disebut siapa pun, kalau memang ada.

Mekanisme Itu Tertangkap Sedang Bekerja, 1579

Bukti bahwa peristiwa semacam itu memang terjadi datang dari tahun yang salah, tetapi datang dengan jelas.

Pada 12 Mei 1581, Bernardino Ferrari menulis dari Ambon kepada Jenderal Serikat Yesus di Roma. Negeri-negeri Kristen di kepulauan Celebes, Siau, dan Sangihe bertahan, katanya karena jauh dari Ternate alhasil sudah sepuluh atau dua belas tahun mereka tidak dikunjungi orang Serikat, yang terakhir Pero Mascarenhas pada 1569. Lalu kalimatnya:

“kira-kira dua tahun yang lalu, sebuah galeon dari Malaka lewat membawa vikaris Maluku, masuk ke pelabuhan itu dan membaptis beberapa anak”.[^18]

Penyuntingnya mencatat bahwa ini penyebutan pertama seorang vikaris untuk benteng baru Tidore, dikirim dari Malaka jelas oleh uskup, tiba sekitar Oktober 1579; dan bahwa jalur laut yang mengitari utara Borneo memang melewati Siau.[^19]

Inilah rumus passando Marta yang tertangkap dalam sumber sezaman dan bertarikh, bukan seseorang yang diutus melainkan seorang pejabat keuskupan yang menumpang kapal rutin, singgah karena jalurnya memang lewat situ, membaptis sebentar, lalu pergi. Namanya juga tidak disebut.

Dua batas harus dinyatakan. Peristiwa 1579 terlalu belakangan untuk menjelaskan raja Kristen 1556, nilainya adalah membuktikan jenis peristiwanya, bukan peristiwanya. Dan teksnya tidak menyebut Manado: yang tertulis hanya “pelabuhan itu”, di antara Celebes, Siau, dan Sangihe, tanpa memilih.

Mengapa Mereka Tidak Bernama

Kalau seluruh keping di atas disusun, jawabannya bersifat arsip, bukan kebetulan. Orang Serikat Yesus menulis surat karena diwajibkan menulis surat kepada atasan yang menyimpannya, dalam jaringan yang menyalin dan meneruskannya ke Roma; empat abad kemudian surat-surat itu diterbitkan dalam edisi kritis berjilid-jilid.

Vigário benteng tidak berada dalam jaringan itu. Ia melapor kepada uskup, bergerak atas keputusan kapten dan muncul dalam korpus Jesuit hanya secara kebetulan. Sebagai lawan dalam sengketa yurisdiksi atau sebagai keterangan sambil lalu seperti pada Ferrari 1581.

Marta sendiri menyediakan pengukurnya. Ketika ia mencari catatan tentang misi masa lalu, ia menyatakan tidak menemukan apa-apa dalam buku mana pun dan harus bersandar pada kesaksian lisan orang-orang yang masih hidup.[^20]

Dan tentang Manado ia menulis kalimat yang memaksa, sesudah Magalhães pergi tidak ada yang menggantikannya, kekristenan itu kini hilang seluruhnya, “tidak ada buku baptis maupun asapnya.”[^21]

Kalau seorang Jesuit yang bertugas di sana pun tidak meninggalkan buku baptis, maka seorang klerus yang lewat dengan kapal tentu tidak. Yang bertahan dari orang seperti itu hanyalah satu anak kalimat dalam laporan orang lain, dua puluh lima tahun kemudian yang menyebut jabatannya dan bukan namanya.

Itu bukan kekosongan yang harus diisi dengan tebakan. Itu bentuk yang ditinggalkan oleh sebuah lembaga.

Catatan Sumber Dan Yang Masih Terbuka

Seluruh bahan tulisan ini berasal dari dua himpunan dokumen: Sá, Insulíndia, untuk sisi Portugis-kerajaan, dan Documenta Malucensia, untuk sisi Jesuit. Keduanya memuat dokumen yang kadang sama lewat naskah berbeda, di sini keduanya tidak pernah dipakai sebagai dua rujukan yang saling menguatkan untuk satu dokumen yang sama.

Empat hal sengaja dibiarkan terbuka.

Pertama, ada satu kajian khusus tentang pokok ini yang belum diperiksa: Hubert Jacobs, “Brief Notes on the Vicars and other Secular Clerics of the Portuguese Fortresses in Maluku up to 1605”, Neue Zeitschrift für Missionswissenschaft 31 (1975), hlm. 207–222 dan 271–287. Penulisnya adalah penyunting Documenta Malucensia sendiri. Bila di dalamnya terdapat daftar vigário Ternate sebelum 1563, tulisan ini harus dibaca ulang.

Kedua, teks Portugis lengkap keterangan 1556 — D 63 §44, surat Luís Fróis dari Malaka 19 November 1556 — belum dibuka langsung; yang dipakai di sini adalah ikhtisar yang menurunkannya. Rumusan yang tepat di sana dapat mengubah bobot bagian “Celah 1556”.

Ketiga, apakah raja Kristen 1556 dan raja yang dibaptis Magalhães pada 1563 orang yang sama belum diketahui. Penyunting Documenta Malucensia sendiri hanya berhipotesis bahwa yang kedua “mungkin penerusnya”.

Keempat, satu selisih kecil yang perlu dicatat: ringkasan penyunting untuk surat Vicente da Fonseca menamai padri kedua itu Afonso Mexia, sedangkan badan teks dokumennya berbunyi Johão Mexia. Di sini dipakai bentuk badan teks.

Keterangan

Klerus = orang yang sudah menerima tahbisan gerejawi. Padanan Indonesia lazimnya “rohaniwan”; dalam bahasa Portugis dokumen-dokumen itu clérigo, dalam bahasa Spanyol clerigo.

Klerus sekuler (sacerdote secular, clérigo secular) — imam yang tidak masuk ordo mana pun. Ia berada langsung di bawah uskup wilayahnya, tidak berkaul kemiskinan, tidak hidup dalam komunitas, tidak punya konstitusi ordo. “Sekuler” di sini bukan lawan dari “religius” dalam arti modern; asalnya saeculum, dunia — imam yang bekerja di tengah umat biasa, bukan di dalam biara.

Klerus regular — anggota ordo: Jesuit, Fransiskan, Dominikan. Berkaul, punya atasan sendiri di dalam ordo, punya jaringan surat-menyurat internal.

– Vigário — imam sekuler yang diangkat uskup untuk sebuah benteng, semacam pastor paroki bagi garnisun dan orang Portugis di situ.
– Beneficiado — imam pembantunya, dinamai begitu karena hidup dari benefício, tunjangan yang melekat pada jabatan.

Sebutan lain yang bukan klerus sama sekali: irmão (bruder Jesuit, belum imam, tidak boleh membaptis dalam keadaan biasa) dan frade (biarawan ordo mendikan; Fransiskan disebut frade descalço).

Visitator (Lat. visitator, Port. visitador) adalah pejabat yang diutus untuk memeriksa — bukan menggembalakan. Ia datang, menginspeksi, menilai, lalu melaporkan ke atas. Dalam Serikat Yesus ada dua tingkatan yang sama-sama disebut begitu:
Visitator Jenderal — utusan pribadi Pater Jenderal di Roma, berkuasa hampir sebesar Jenderal itu sendiri, membawahi para Provinsial. Alessandro Valignano di Asia adalah contohnya.
Visitator wilayah — diutus Provinsial atau Visitator Jenderal untuk memeriksa satu misi tertentu. Antonio Marta masuk kategori ini: ia ditugasi memvisitasi Maluku oleh Valignano dan laporannya ditujukan kepada Provinsial di Goa. Yang ia periksa bukan hanya rohani: jumlah dan keadaan para padri, keuangan dan rumah, hasil kerja misi, keluhan, dan apa yang perlu diperbaiki.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Gereja di Woloan (ca.1930 - Archieven - upload Engel Yong)

    Jejak Sejarah Woloan: Asal-Usul Wanua Tua di Jantung Tanah Tombulu

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Di lereng barat Tomohon, berdiri sebuah wanua (negeri/desa) tua yang namanya telah lama dikenal jauh melampaui batas Minahasa. Woloan bukan hanya identik dengan rumah panggung kayu yang dikirim hingga ke berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah yang membentang sejak masa migrasi awal masyarakat Tombulu, pergulatan menghadapi ekspansi kolonial Spanyol, hingga […]

  • Kisah Heroik Adolf Gustaaf Lembong: Pejuang yang Terlupakan

    Kisah Heroik Adolf Gustaaf Lembong: Pejuang yang Terlupakan

    • calendar_month Sabtu, 30 Mar 2024
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Adolf Gustaaf Lembong adalah sosok yang layak dikenang sebagai pahlawan Indonesia, meskipun selama ini lebih dikenal sebagai korban dari keganasan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin oleh Westerling. Namun, perjuangannya sebagai gerilyawan yang berani melawan pasukan Jepang di Filipina selama Perang Dunia II sering terlupakan.   Lembong adalah figur yang sangat mirip dengan Che […]

  • Potret grup saat konferensi Persatuan Pegawai Negeri Sipil (Ambtenaar) Dinas Kehutanan Hindia Belanda (VHABINOI) di Yogyakarta pada 1915. (Wikimedia Commons)

    Rekrutmen KNIL dan Ambtenaar di Minahasa pada Masa Kolonial

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Sejarah sosial Minahasa pada masa Hindia Belanda menunjukkan satu corak yang relatif khas dibanding banyak daerah lain di Nusantara: terbentuknya kelas menengah pribumi yang terdidik dan terhubung erat dengan struktur negara kolonial. Sejak pertengahan abad ke-19, penetrasi pendidikan Barat melalui sekolah zending dan pemerintah kolonial meningkatkan literasi masyarakat secara signifikan. Dalam konteks itu, Minahasa kemudian […]

  • Sejarah Berdirinya Desa Mapanget: Dari Tapanget hingga Menjadi Sentra Pemekaran Wilayah

    Sejarah Berdirinya Desa Mapanget: Dari Tapanget hingga Menjadi Sentra Pemekaran Wilayah

    • calendar_month Sabtu, 14 Des 2024
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Desa Mapanget, yang kini menjadi salah satu wilayah strategis di Kota Manado, Sulawesi Utara, memiliki sejarah panjang yang penuh makna.   Berdiri sejak abad ke-16, tepatnya pada 23 Februari 1782, desa ini memiliki akar budaya dan tradisi yang kuat, dibuktikan dengan keluarnya surat resmi dari Residen Manado yang ditandatangani oleh Dr. J. Boot, Komandan Benteng […]

  • Menikmati

    Menikmati Pesona Agrowisata Rurukan di Tomohon

    • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Agrowisata Rurukan: Tempat Healing dengan View Alam yang Bikin Betah Hai, Sobat Traveler! Lagi cari tempat wisata yang sejuk, tenang, dan penuh keindahan alam di Sulawesi Utara? Yuk, kenalan sama Agrowisata Rurukan! Terletak di Kota Tomohon, tempat ini cocok banget buat kamu yang ingin “kabur sejenak” dari hiruk pikuk kota dan menikmati udara segar sambil […]

  • Peta Manado (1679): Sebuah Jejak Sejarah Kota yang Kaya Warisan

    Peta Manado (1679): Sebuah Jejak Sejarah Kota yang Kaya Warisan

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2024
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Peta bersejarah Manado dari tahun 1679, yang dikenal dengan judul Kaartje van de Manahassa, mencatat jejak panjang sejarah kota ini. Dalam peta tersebut, bendera Belanda terlihat berdampingan dengan nama Manado, bagian dari register harian yang disusun oleh Gubernur Padtbrugge dalam arsip VOC 1345.   Peta ini memiliki ciri khas dengan pinggirannya yang menguning, menunjukkan bahwa […]

expand_less