Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Gereja dan Misi » 1538: Benarkah Kristen Sudah Masuk Minahasa? Jejak Francisco de Castro

1538: Benarkah Kristen Sudah Masuk Minahasa? Jejak Francisco de Castro

  • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
  • visibility 58
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di banyak tulisan populer tentang sejarah Sulawesi Utara beredar satu kalimat yang tampak kokoh, pada tahun 1538 seorang nakhoda Portugis bernama Francisco de Castro, yang diutus António Galvão dari benteng Ternate, berlayar menyusuri pantai utara Sulawesi, dan di sanalah pembaptisan pertama berlangsung.

Otoritas yang biasanya dilekatkan padanya adalah Documenta Malucensia, himpunan dokumen Jesuit yang memang menjadi sumber utama sejarah Kristen awal di kawasan ini.

Kalimat itu tidak bertahan pada pemeriksaan. Tetapi yang menarik bukan hanya bahwa itu keliru, melainkan bahwa asal-usulnya dapat dilacak sampai ke satu catatan kaki tertentu di satu halaman tertentu, dan dalam satu buku tertentu.

Tulisan ini menelusuri jalur itu, lalu memaparkan apa yang sebenarnya dapat dikatakan tentang orang Kristen paling awal di Manado berdasarkan dokumen yang dapat diperiksa dan tertera jelas di catatan kaki.

Dua Kekeliruan Dalam Klaim Yang Beredar

Soal sumber, Documenta Malucensia jilid I memuat dokumen tahun 1542–1577.[^1] Serikat Yesus sendiri baru berdiri pada 1540. Peristiwa tahun 1538 karena itu mustahil hadir di dalamnya sebagai laporan sezaman. Alamat itu salah dari dasarnya.

Sumber yang sebenarnya memuat bahan tentang Galvão adalah buku lain: A Treatise on the Moluccas (c. 1544), sebuah naskah yang dari versi awal História das Molucas Galvão yang hilang, disunting Hubert Jacobs dan terbit dalam seri Sources and Studies for the History of the Jesuits jilid III.[^2]

Jilid dan seri ini terpisah sama sekali dari Documenta Malucensia yang membuat keduanya mudah tertukar hanyalah kebetulan bahwa penyuntingnya orang yang sama.

Soal Arah Pelayaran

Galvão sendiri menulis tentang pelayaran Francisco de Castro dalam Tratado dos Descobrimentos (Lisboa, 1563). Pada fol. 68v ia menyebut pembaptisan enam raja di “ylha de Midanao & outras acima dellas” — Pulau Mindanao dan pulau-pulau di atasnya.[^3] Sangihe, Siau, dan Manado tidak disebut sama sekali.

Tujuan pelayaran itu adalah Makassar, angin berlawanan menggagalkannya dan ekspedisinya berakhir di Mindanao. Di sanalah pembaptisan yang dibanggakan Galvão berlangsung. Tidak ada pendaratan di pesisir Minahasa dalam sumbernya.

Hulu Klaim: Satu Catatan Kaki Tahun 1971

Klaim yang beredar bukan karangan bebas. Ia turunan dari sebuah keterangan penyunting yang dalam perjalanannya ke tangan penulis Indonesia, kehilangan kehati-hatiannya.

Dalam Treatise hlm. 298, Galvão mendaftar arah dan jarak persebaran orang Kristen dari Ternate, dan di antaranya menyebut, sekitar enam puluh legua ke arah barat, “beberapa kaum dan kota yang mereka sebut os Selebres“. Pada frasa itu Jacobs memasang catatan kaki nomor 11 yang bunyinya:

Dengan menyebut pulau-pulau utara (Mindanao) dan Celebes seperti ini, penulis menyinggung ekspedisi Francisco de Castro yang diutus Galvão. Lihat Castanheda, VIII, 200; Galvão, Descobrimentos, 256; yang terakhir menempatkan peristiwanya pada tahun 1538.[^4]

Inilah tempat de Castro, Celebes, dan angka 1538 pertama kali berdiri dalam satu kalimat. Tiga hal perlu dicatat tentangnya.

Pertama, Jacobs menulis penulis “menyinggung” (alludes to) — bukan melaporkan. Ia sadar bahwa tautan ini adalah simpulannya sendiri, bukan pernyataan Galvão.

Kedua, catatan itu menempatkan Mindanao dan Celebes bersama-sama. Ekspedisi de Castro memang berakhir di Mindanao, dan di sanalah pembaptisan yang terdokumentasi terjadi. Penyalin di kemudian hari hanya mengambil separuhnya.

Ketiga, alamatnya bukan Documenta Malucensia melainkan Treatise — dan dua rujukan pendukungnya, Castanheda dan Descobrimentos, keduanya bermuara pada Galvão dan penulis sezamannya bukan pada arsip misi.

Apa Yang Sebenarnya Tertulis Pada Halaman Itu

Bab LV Treatise (hlm. 296–299) layak dibaca utuh karena isinya justru menggugurkan pembacaan bahwa pembaptisan berlangsung di Sulawesi.

Galvão, tulis naskah itu, meminta izin kepada raja-raja setempat untuk membuat orang Kristen. Izin diberikan terbatas, untuk beberapa orang tertentu, dengan syarat mereka bukan Muslim. Lalu menyusul deretan kasusnya, seorang sepupu raja Jailolo yang dibaptis dan mengambil nama António de Sá dan tak lama kemudian di Ternate, seorang anggota dewan kerajaan bernama Kolano Sabia.

Yang terakhir menimbulkan kegemparan besar di kalangan Muslim maupun Portugis, sampai Galvão harus menyatakan akan mempertahankannya dengan pedang di tangan dan tidak akan menolak air baptisan kepada siapa pun yang memintanya. Bahkan raja Ternate sendiri hampir dibaptis dan gagal pada saat-saat terakhir.[^5]

Halaman berikutnya membuka dengan seorang Muslim yang menjadi Kristen dan mengambil nama Manoell Galvão, beserta seluruh isi rumahnya. Sesudah itu baru muncul daftar arah dan jarak  lebih dari dua ratus legua ke utara, enam raja dan ratu, pangeran, dan bangsawan lain; lebih dari enam puluh legua ke barat, kaum-kaum dan kota-kota yang disebut Celebes; ke selatan orang Ambon; ke arah timur Morotai dan Morotia.[^6]

Struktur kalimatnya adalah daftar asal-usul para petobat, bukan daftar tempat berlangsungnya upacara. Seluruh bab itu berkisah tentang pembaptisan yang dilakukan di Ternate atas orang-orang yang datang dari berbagai negeri. Galvão bahkan tidak leluasa membaptis di Ternate sendiri, apalagi mengirim rombongan pembaptis ke Sulawesi.

Mekanismenya diperjelas pada bagian berikutnya, untuk mengukuhkan pekerjaannya, Galvão mengumpulkan putra-putra bangsawan ke rumahnya, yang ia ubah menjadi sekolah, dan mengajar mereka membaca, menulis, serta katekismus.[^7] Anak-anak elite dari seluruh kawasan dibawa ke Ternate, bukan pastor yang dibawa ke negeri mereka.

Keberatan Jacobs Terhadap Galvão

Yang layak dicatat adalah penyunting yang sama yang membangun tautan 1538 juga mengajarkan cara meragukan klaim keutamaan Galvão. Pada catatan 14 di halaman yang sama, Jacobs menulis bahwa pernyataan Galvão sebagai “yang pertama” hanya sebagian benar, di bawah Tristão de Ataíde sudah ada pertobatan di negeri Moro, dengan rujukan pada Castanheda dan pada surat Ataíde yang tercetak dalam Sá, Insulíndia I, hlm. 316–318.[^8]

Bukti Negatif Dari Korpus Portugis 1506–1549

Himpunan Artur Basílio de Sá, Documentação para a História das Missões do Padroado Português do Oriente: Insulíndia jilid I, mencakup dokumen Portugis tahun 1506–1549, persis rentang yang memuat tahun 1538. Indeks geografis dan onomastis di belakang jilid itu memberi tiga hasil:

  • Lema Castro, Francisco de tidak ada. Deret lema pada hlm. 624 berjalan dari Afonso de → Fernão de → Gil de → João de → Jorge de → Rui de; menurut abjad, Francisco seharusnya duduk antara Fernão dan Gil.[^9] Perlu dicatat sebagai rambu: Jorge de Castro, kapten Ternate 1539–1544, adalah orang yang berbeda sama sekali.
  • Lema Manado tidak ada. Halaman 633 berjalan mulus dari Maluvo ke Mansilhas ke Manuel.[^10]
  • Lema Celebes, ilhas hanya menunjuk empat halaman: 315, 320, 326, dan 608.[^11] Tiga yang pertama seluruhnya berada di dalam satu dokumen, surat Tristão de Ataíde kepada Raja, Maluku, 20 Februari 1534 dan konteksnya seluruhnya fiskal. Celebes disebut sebagai sumber emas, bukan sebagai ladang misi.[^12]

Dua rambu perlu dipasang atas bukti negatif ini. Pertama, ketiadaan lema tidak sama dengan ketiadaan sebutan: Sá menyatakan sendiri bahwa untuk nama pribumi ia mengikuti ejaan Portugis dalam teksnya, sehingga sebutan Manado dengan ejaan lain akan duduk di lema lain.

Bukti ini kuat untuk nama Portugis seperti Francisco de Castro, lebih lemah untuk toponim setempat. Kedua, Sá bukan satu-satunya korpus, arsip Spanyol dan dokumen ANTT di luar pilihannya belum diperiksa.

Meski demikian, rumusan yang bertahan sudah cukup sampai 1549, dalam korpus Portugis terbitan Sá, Manado tidak muncul dalam indeks dan Sulawesi hadir hanya sebagai sumber emas dalam laporan fiskal kapten Ternate. Beban pembuktian berpindah kepada pihak yang mengklaim ada pembaptisan di sana pada 1538.

Sebutan Tertua: Raja Kristen Manado Pada 1556

Penyebutan Manado yang paling awal dalam korpus misi yang sudah diperiksa ada dalam sebuah surat panjang: Luís Fróis SJ, atas perintah Baltasar Dias SJ, kepada para Jesuit di Portugal, Malaka, 19 November 1556.[^13] Pada paragraf ke-44 surat itu Fróis menulis, dengan menyebut sumbernya secara terbuka:

“…saya hanya akan memberikan kabar tentang negeri-negeri lain, yang diteguhkan kepada saya oleh Bruder Nicolao Nunez, tempat banyak jiwa hilang tanpa mengenal Penciptanya; di antara mereka ada suatu kaum yang disebut selebes, tempat ada seorang raja Kristen yang disebut El-Rei do Manado. Di negeri itu, kata mereka, banyak emas, tetapi tak ada yang bernilai kekal, karena semua orang tidak mengenal Kebaikan Tertinggi. Mereka orang yang baik tabiat dan sifatnya, tetapi tidak ada seorang pun yang mengatakan kepada mereka: jadilah Kristen.”[^14]

Kalimat penutup itu adalah kunci keseluruhan persoalan.

Mengapa “Raja Kristen” Belum Tentu Berarti “Sudah Dibaptis”

Paragraf berikutnya tentang Makassar, mengunci pembacaannya. Fróis menulis bahwa di sana ada tiga raja Kristen, dan bahwa mereka “tanpa seorang pun yang mengajar mereka, maupun membaptis mereka, maupun mendidik mereka dalam iman”.[^15]

Jadi dalam satu dokumen yang sama, seorang penulis Jesuit menyebut raja-raja sebagai rei christão sekaligus menyatakan mereka belum dibaptis. Sebutan itu, pada dekade 1550-an di lingkungan Maluku, adalah penanda politik-keagamaan, keberpihakan, kesediaan, pengakuan pada Raja Portugal dan tidak dengan sendirinya mengandaikan sakramen. Latar politiknya terbaca terang dalam surat Ataíde 1534, yang menyatakan bahwa dengan menaklukkan negeri-negeri itu ia “akan menjadikan mereka semua Kristen dan menghasilkan uang yang tak terhingga” bagi Raja, kristenisasi dan pendapatan disebut dalam satu tarikan napas.[^16]

Karena itu, status raja Manado pada 1556 tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa ia telah menerima baptisan dan lebih-lebih tidak sebagai bukti bahwa ada pembaptis yang datang sebelumnya.

Siapa Nicolau Nunes, Dan Apa Bobot Keterangannya

Nicolau Nunes tiba di Maluku pada 1547 dan bekerja di sana sekitar sepuluh tahun. Ia ditahbiskan imam di Goa, dan menurut catatan penyunting keputusan itu didasarkan bukan pada studi teologinya melainkan pada penguasaannya atas bahasa-bahasa setempat hal yang langka dalam korpus yang penuh keluhan tentang penerjemah.[^17]

Namun indeks Documenta Malucensia menempatkan seluruh medan kerjanya di Halmahera dan sekitarnya: Moro, Tolo, Cawa, Jailolo, ditambah Ambon, Malaka, dan Goa.[^18] Manado tidak pernah disebut. Keterangannya tentang raja Manado karena itu adalah kabar yang beredar di lingkungan Ternate–Moro, bukan kesaksian mata dan Fróis sendiri menandainya dengan kata “diteguhkan kepada saya”.

Satu catatan alamat perlu dibuat di sini. Keterangan yang sama beredar pula dalam sebuah ikhtisar bertarikh [Portugal, Juni–Oktober 1561] dan sering dikutip dari sana. Ikhtisar itu adalah ringkasan turunan: seluruh catatan kakinya merujuk kembali ke surat Fróis 1556, dan penyunting menyatakan bahwa keadaan yang dilukiskannya adalah keadaan tahun 1556.[^19] Yang seharusnya dikutip adalah surat aslinya.

Bandingan Yang Tidak Nyaman: Sulawesi Bagian Selatan

Ada baiknya kita memasang sendiri perbandingan yang mungkin dipakai orang lain untuk membantah.

Untuk Sulawesi bagian selatan, urutan bukti sezamannya jauh lebih rapat. Pembaptisan pertama atas orang-orang terkemuka dari Makassar dilakukan Galvão di Ternate pada 1538, pertobatan pertama di tempatnya sendiri dilakukan António de Paiva pada 1544 dan dari 1545 sampai 1547 seorang imam sekuler dari Malaka, Vicente Viegas, menjalankan pekerjaan misi di sana. Sesudah itu tidak ada lagi imam yang tersedia untuk melanjutkannya.[^20]

Perhatikan pembedaan yang dipakai Jacobs dalam judul kajiannya sendiri tentang peristiwa itu: “The first locally demonstrable Christianity in Celebes, 1544″ — Kristen pertama yang dapat dibuktikan terjadi di tempatnya.[^21]

Istilah itu tepat dan bisa dipinjam untuk persoalan Manado, yang kita cari bukan kabar tentang seorang raja berstatus Kristen, melainkan peristiwa yang dapat ditunjukkan berlangsung di pesisir Minahasa.

Bandingan ini juga memperlihatkan bentuk bukti yang seharusnya ada seandainya sesuatu terjadi di Manado sebelum 1556: nama seorang imam, rentang tahun, dan sebuah negeri. Untuk Makassar semuanya ada. Untuk Manado tidak ada satu pun.

Pembaptis Pertama Yang Namanya Diketahui

Baru pada 1563 muncul peristiwa yang memenuhi syarat itu. Diogo de Magalhães SJ membaptis raja Manado dan raja Siau. Peristiwanya terdokumentasi dalam dua jalur transmisi yang terpisah dalam Documenta Malucensia I dan dalam himpunan Sá jilid III melalui surat Pero Mascarenhas dari Ternate 10 Februari 1564, yang di dalamnya tersisip surat Magalhães sendiri yang ditulis dari Manado.[^22]

Rumusan yang bertahan karena itu bukan “Magalhães adalah pembaptis pertama”, melainkan:

Diogo de Magalhães adalah pembaptis pertama di Manado yang namanya diketahui.

Perbedaan kedua rumusan itu penting, dan sekarang dapat dinyatakan lebih tegas daripada sebelumnya. Karena surat Fróis 1556 memakai sebutan “raja Kristen” untuk raja yang belum tentu dibaptis, dan karena tidak ada satu pun pembaptis bernama yang mendahuluinya dalam korpus yang diperiksa, kemungkinan bahwa Magalhães memang pembaptis pertama kini punya dasar tekstual, meski belum tertutup.

Apa Yang Tersisa Terbuka

Beberapa hal sengaja dibiarkan menganga, dan sebaiknya dinyatakan terang daripada ditambal dengan dugaan: Siapa raja itu, tidak diketahui namanya. Dokumen Portugis mencatat el-rei do Manado sebagai jabatan, bukan sebagai orang. Yang terdokumentasi adalah takhtanya, bukan pemangkunya.

Apakah raja Kristen 1556 dan raja yang dibaptis 1563 orang yang sama, belum diuji. Ini pertanyaan yang menentukan, dan jawabannya menunggu pembacaan kata demi kata atas surat Magalhães dalam kedua jalurnya.

Bagaimana status Kristen itu muncul pada 1556, hanya bisa diduga. Dugaan yang paling sesuai dengan mekanisme yang terbukti bekerja adalah jalur Ternate adalah seorang raja yang dibaptis atau menyatakan diri Kristen dalam kunjungan ke benteng atau seorang anak bangsawan yang dididik di sekolah Galvão.

Jalur kedua adalah klerus sekuler, imam-imam yang tidak menulis surat berkala seperti Jesuit dan karena itu tidak meninggalkan jejak. Bahwa mereka ada dan berlayar keluar Ternate untuk membaptis dapat ditunjukkan adalah pada masa Galvão, vikaris Francisco Álvares Pinheiro diangkat menjadi kapten sebuah armada ke Moro justru karena ia toh harus ke sana untuk memberikan air baptisan.[^23]

Tetapi Pinheiro berlayar ke Moro, bukan ke Sulawesi. Ini memperlihatkan bahwa mekanismenya ada dan bekerja, bukan bukti bahwa ia bekerja di Manado. Keduanya dugaan berperingkat, bukan temuan. Keduanya perlu ditulis sebagai dugaan.

Penutup

Yang dapat dikatakan dengan alamat yang dapat diperiksa adalah ini:

  1. Klaim bahwa Francisco de Castro membawa Kristen ke pantai utara Sulawesi pada 1538 tidak terdukung karena arah pelayarannya keliru, dan alamat sumbernya keliru.
  2. Klaim itu berpangkal pada sebuah catatan kaki penyunting tahun 1971 yang memakai kata “menyinggung”, dan yang dalam penyalinannya kehilangan kehati-hatian itu.
  3. Sebutan tertua tentang seorang raja Kristen di Manado berasal dari 1556, dari kabar yang diteruskan Nicolau Nunes dalam dokumen yang pada paragraf berikutnya memperlihatkan bahwa sebutan “raja Kristen” dipakai juga untuk raja yang belum dibaptis.
  4. Pembaptis pertama di Manado yang namanya diketahui adalah Diogo de Magalhães SJ, tahun 1563.

Sisanya adalah celah, dan celah itu lebih jujur dibiarkan terbuka daripada diisi dengan nama yang tidak pernah tertulis.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Kakao Minahasa: Usaha Penanaman Sejak 1826, Lalu Terserang Penyakit

    Kakao Minahasa: Usaha Penanaman Sejak 1826, Lalu Terserang Penyakit

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Persis kapan dan oleh siapa kakao pertama kali dibawa ke Minahasa penulis an Jouke S. Wigboldus dalam A History of the Minahasa c. 1615–1680 menulis bahwa orang Spanyol kemungkinan membawa kakao ke Minahasa. Ia merujuk tulisan A.J.F. Jansen yang terbit pada 1861, tetapi kata “kemungkinan” dalam uraian Wigboldus tidak boleh diubah menjadi kepastian. Bukti yang […]

  • Pantai Tolundadu

    Pantai Tolundadu, Surga Tersembunyi di Bolsel

    • calendar_month Sabtu, 19 Jul 2025
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Menjelajahi Keindahan Pantai Tolundadu di Bolaang Mongondow Selatan Hai, sobat traveler! Kalau kamu lagi cari tempat liburan yang tenang, alami, dan pastinya Instagramable, maka Pantai Tolundadu di Bolaang Mongondow Selatan bisa jadi pilihan yang pas banget! Meskipun belum seterkenal pantai-pantai di Bali atau Lombok, tetapi keindahannya sungguh memikat.     Pasir Putih & Laut Biru […]

  • Robertus Padtbrugge adalah Gubernur Maluku dari VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda) yang menjabat pada akhir abad ke-17 sekitar 1677–1682 (ilustrasi)

    Manado 1682: Saat Monopoli Rempah Terancam dan Birokrasi Kolaps

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Dalam sejarah kolonial abad ke-17, posisi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di ujung utara Celebes kini Sulawesi tidak pernah benar-benar aman. Manado, yang menjadi salah satu simpul penting dalam jaringan perdagangan dan militer Belanda di kawasan timur Nusantara, menghadapi tekanan berlapis: ancaman dari kekuatan asing di laut, sekaligus keruntuhan dari dalam tubuh birokrasinya sendiri. Gambaran situasi […]

  • Taman

    Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Surga Tersembunyi

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Halo, Sobat Traveler! 🌿 Udah pernah denger soal Taman Nasional Bogani Nani Wartabone? Kalau belum, yuk duduk manis, kita ngobrolin salah satu surga tersembunyi di Pulau Sulawesi yang bakal bikin kamu jatuh cinta sama alam Indonesia! Apa Itu Taman Nasional Bogani Nani Wartabone? Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (sering disingkat TNBNW) adalah kawasan konservasi alam […]

  • Garnisun Spanyol dan warga lokal membangun kubu berpagar kayu di pesisir Bolaang pada abad ke-17.(ilustrasi)

    Ketika Spanyol Kembali ke Sulawesi Utara Lewat Pintu Bolaang 1672

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Pada musim barat 1657–1658, orang Timon mengusir garnisun Spanyol terakhir di pedalaman Minahasa. Rombongan itu turun ke pantai dan menyeberang ke Siau dengan perahu pinjaman Kompeni. Lima tahun kemudian pada Juni 1663, Spanyol meninggalkan benteng-benteng mereka di Ternate. Di atas kertas, babak Spanyol di utara Sulawesi sudah selesai. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Spanyol masih bertahan […]

  • Beras Minahasa untuk Maluku: Petani, Pedagang, dan Monopoli pada 1720–1820

    Beras Minahasa untuk Maluku: Petani, Pedagang, dan Monopoli pada 1720–1820

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Pada awal abad ke-18, beras merupakan komoditas utama yang menghubungkan Minahasa dengan Maluku. Sebagian hasil panen penduduk dibeli untuk dikirim ke wilayah yang membutuhkan pasokan pangan, terutama Ternate. Perdagangan ini melibatkan petani, kepala-kepala setempat, pedagang swasta, serta pejabat VOC. Barang-barang dari luar masuk sebagai pembayaran atas beras yang dikumpulkan dari Minahasa. Menurut David Henley dalam […]

expand_less