Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Pasar dan Denyut Ekonomi Kota Manado pada 1933

Pasar dan Denyut Ekonomi Kota Manado pada 1933

  • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
  • visibility 105
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bagaimana kegiatan ekonomi Kota Manado pada awal dekade 1930-an? Sebuah catatan penting yang disusun oleh burgemeester F. H. van de Wetering pada 16 Juni 1933 memberikan gambaran cukup rinci mengenai kehidupan ekonomi kota. Dalam De Gemeente Manado: Nota van Overdracht, kegiatan ekonomi Manado tidak hanya terlihat dari keberadaan pasar, tetapi juga dari pelelangan ikan, rumah potong hewan, perdagangan impor-ekspor, perdagangan kopra, pelayaran, hingga aktivitas pelabuhan.

Pasar sebagai sumber pendapatan gemeente

Salah satu kegiatan ekonomi yang mendapat perhatian khusus dalam laporan Van de Wetering adalah pasar atau pasarbedrijf. Pemerintah Gemeente Manado bahkan menyebut bidang ini sebagai bagian tugas yang selalu mendapat perhatian serius.

Menariknya, perkembangan pasar berkaitan langsung dengan keuangan gemeente. Sistem tersebut bermula dari pasarfonds, yang kemudian berkembang menjadi gemeentefonds. Pemerintah pada awalnya pernah berpendapat bahwa keuntungan dari pengelolaan pasar tidak seharusnya diperoleh pemerintah daerah karena dianggap bertentangan dengan kepentingan umum. Namun kebijakan tersebut kemudian berubah. Perluasan dan perbaikan pasar justru menjadikannya salah satu sumber pendapatan penting bagi daerah otonom.

Di Manado, pendapatan dari pasar meningkat cukup tajam. Pada 1919, penerimaan pasar tercatat sekitar ƒ9.500. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi ƒ72.214,17 pada 1931, sebelum sedikit menurun menjadi ƒ70.073,19 pada 1932. Van de Wetering mencatat bahwa surplus pasar membantu gemeente mempertahankan pajak tambahan (opcenten) pada tingkat yang relatif rendah.

Artinya, pasar bukan sekadar tempat orang berjualan dan membeli kebutuhan sehari-hari. Bagi Gemeente Manado, pasar juga merupakan salah satu mesin pendapatan kota.

Sembilan pasar dalam Kota Manado

Pada 1933, Van de Wetering mencatat sembilan pasar yang berada dalam pengelolaan gemeente:

  • Pasar Minahasa — sayuran dan buah-buahan
  • Pasar Tjita — barang-barang manufaktur
  • Pasar Tellings — bangunan/toko
  • Pasar Manado — barang-barang manufaktur
  • Pasar Forbes Wells — barang-barang manufaktur
  • Pasar Ikan — penjualan ikan
  • Pasar Makanan — warung makanan
  • Pasar Sajoran — penjualan sayuran
  • Pasar Sembilan — pasar lingkungan (wijkpasar)

Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa sistem pasar Manado telah memiliki pembagian fungsi berdasarkan jenis barang dan kegiatan perdagangan. Pasar tidak berdiri sebagai satu lokasi tunggal, melainkan merupakan jaringan berbagai pusat perdagangan yang tersebar di dalam kota.

Selain pasar-pasar tersebut, pasarbedrijf juga mencakup warung jalanan (straatwarongs), pengelolaan pemandian umum dan WC di kawasan pasar, serta tempat parkir atau standplaatsen bagi mobil, bendy, dan roda.

Pasar Tellings menjadi salah satu sumber terbesar

Data pendapatan yang dicatat Van de Wetering memperlihatkan bahwa tidak semua pasar memberikan kontribusi yang sama.

Pada 1932, misalnya, Pasar Tellings menghasilkan sekitar ƒ19.690, menjadikannya salah satu sumber penerimaan terbesar di antara pasar-pasar yang dicatat. Pasar Tjita menghasilkan ƒ6.528, Pasar Manado sekitar ƒ6.119, Pasar Minahasa ƒ5.176,30, sedangkan Pasar Makanan sekitar ƒ5.290.

Pada tahun yang sama, penerimaan dari standplaatsen—tempat-tempat usaha atau tempat mangkal—mencapai sekitar ƒ9.379,15. Pemandian dan WC menghasilkan sekitar ƒ2.462,52, sementara straatwarongs menghasilkan sekitar ƒ3.607.

Menarik pula bahwa sejak akhir 1931, gemeente mulai menempatkan 20 straatwarongs, kemudian jumlah tersebut ditambah lagi sebanyak 20 pada awal 1932. Ini menunjukkan bagaimana ruang perdagangan informal mulai masuk ke dalam sistem pengelolaan ekonomi kota.

Pelelangan ikan: pemerintah mencoba mengubah hubungan ekonomi nelayan

Kegiatan ekonomi Manado tidak berhenti di pasar. Pada Juni 1930, Gemeente Manado mendirikan pelelangan ikan kota (gemeentelijke vischveiling) dengan mencontoh sistem yang telah diterapkan di Batavia.

Tujuannya bukan hanya meningkatkan pendapatan gemeente. Menurut laporan Van de Wetering, pelelangan tersebut juga memiliki tujuan sosial: membebaskan nelayan dari kontrak yang dianggap memberatkan dengan para pemberi pinjaman, sekaligus menekan harga ikan yang dianggap terlalu tinggi akibat permainan para pedagang perantara.

Peraturan pelelangan bahkan menetapkan bahwa ikan yang dilelang di dalam kota harus melalui bangunan pelelangan yang ditunjuk pemerintah. Ikan segar yang tidak dibeli melalui pelelangan juga tidak boleh begitu saja dipajang, dijajakan, atau dijual tanpa izin tertulis.

Namun Van de Wetering juga menunjukkan bahwa persoalan nelayan tidak sesederhana aturan pasar. Nelayan biasanya memiliki hubungan utang dengan pemberi pinjaman. Mereka dapat mengambil uang atau memperoleh kebutuhan sehari-hari sepanjang tahun dan kemudian melakukan perhitungan utang pada akhir tahun.

Karena itu, gemeente kemudian memberikan pinjaman kepada nelayan yang memenuhi syarat. Dari setiap hasil pelelangan, 25 persen dipotong untuk pembayaran kembali pinjaman. Menurut laporan tersebut, kebijakan ini mendorong peningkatan armada perikanan dan usaha nelayan untuk melunasi pinjaman mereka.

Hasil pelelangan menunjukkan besarnya kegiatan tersebut. Dari Juli–Desember 1930 hingga 1932, jumlah kavelingen meningkat dari 33.033 menjadi 106.478. Nilai transaksi seluruhnya tercatat ƒ147.103 pada periode 1930, ƒ230.028,95 pada 1931, dan ƒ168.950,30 pada 1932.

Akan tetapi, Van de Wetering memberikan catatan penting: jumlah ikan yang masuk meningkat, tetapi daya beli masyarakat menurun sehingga harga ikan justru turun.

Rumah potong hewan dan perdagangan daging

Bidang ekonomi lainnya adalah slachtbedrijf, atau usaha pemotongan dan pemeriksaan hewan.

Pada 1932, aturan gemeente mengatur penggunaan rumah potong, penyembelihan, pemeriksaan daging, serta pemasukan, penjualan, dan pengangkutan daging. Pemerintah kota juga mengembangkan pengawasan veteriner terhadap rumah pemotongan dan perdagangan daging.

Gemeente membangun rumah potong baru setelah Dewan Kota memutuskan pembangunan tersebut pada September 1930. Untuk pembangunannya, gemeente mengambil pinjaman ƒ65.000, dan fasilitas tersebut mulai digunakan pada 1 Desember 1931.

Bangunan itu terdiri atas bangunan utama, rumah potong sapi, dan rumah potong babi. Di dalam bangunan utama terdapat kantor dokter hewan, laboratorium, klinik hewan, serta ruang administrasi.

Menurut laporan tersebut, setelah tenaga terlatih ditempatkan, pemotongan hewan secara ilegal berkurang cukup besar, sementara pendapatan meningkat. Pelayanan veteriner juga mengawasi toko daging, pedagang daging, rumah sagoeweer, pasar-pasar, pemeriksaan ikan, serta hewan penarik roda dan bendi.

Dari pasar lokal menuju perdagangan internasional

Jika pasar memperlihatkan ekonomi sehari-hari masyarakat Manado, maka bab perdagangan dan pelayaran dalam buku Van de Wetering memperlihatkan bahwa kota ini juga terhubung dengan jaringan ekonomi yang jauh lebih luas.

Dalam laporan tersebut, istilah perdagangan mencakup perdagangan impor, ekspor, dan perbankan. Van de Wetering mencatat keberadaan berbagai perusahaan dagang di Manado yang bergerak dalam minyak dan bensin, impor, ekspor, hasil perkebunan, serta kegiatan teknis. Di antaranya terdapat perusahaan Belanda, Jerman, Inggris, Amerika, Jepang, dan Denmark.

Namun ada perubahan penting dalam struktur perdagangan. Van de Wetering mencatat bahwa perdagangan perantara (tusschenhandel) semakin mengambil peran yang sebelumnya banyak dijalankan oleh perusahaan impor Eropa dan Jepang. Perubahan ini dianggap penting karena memengaruhi posisi perusahaan dagang Eropa di Manado.

Pada perdagangan ekspor, komoditas yang paling penting menurut laporan tersebut adalah kopra. Sejak sekitar 1930 terjadi perubahan dalam pola perdagangan kopra. Pedagang perantara semakin terlibat dalam perdagangan langsung dengan Makassar dan Surabaya, bahkan melakukan hubungan langsung dengan Eropa dan Amerika.

Angka perdagangan Manado pada 1930–1932

Van de Wetering memberikan angka perdagangan yang cukup menarik.

Tahun Impor Nilai impor Ekspor Nilai ekspor
1930 34,310 juta kg ƒ8,561 juta 32,778 juta kg ƒ6,741 juta
1931 26,956 juta kg ƒ5,332 juta 29,758 juta kg ƒ4,247 juta
1932 26,530 juta kg ƒ4,217 juta 38,986 juta kg ƒ3,592 juta
1933* 10,675 juta kg ƒ1,083 juta 7,537 juta kg ƒ646 ribu

*1933 hanya sampai akhir Maret.

Data tersebut memperlihatkan sesuatu yang menarik: volume ekspor kopra dan hasil perdagangan meningkat dalam beberapa aspek, tetapi nilai barang mengalami penurunan. Van de Wetering menghubungkannya dengan peningkatan hasil kebun kelapa serta masuknya kopra dalam jumlah besar dari Kepulauan Sangihe dan wilayah pantai utara maupun selatan menuju Manado untuk diteruskan ke Amerika. Pada saat yang sama, harga rata-rata per kilogram menurun, mencerminkan penurunan nilai umum di pasar komoditas.

Pelabuhan Manado dan jaringan perdagangan dunia

Kegiatan ekonomi tersebut tidak dapat dipisahkan dari pelabuhan.

Menurut laporan Van de Wetering, sejak 1930 kopra semakin banyak dikumpulkan di Manado dan kemudian dikirim langsung menuju pantai Pasifik Amerika. Beberapa perusahaan pelayaran internasional ikut mengangkut komoditas tersebut. Dengan demikian, Manado kembali terhubung secara langsung dengan jaringan perdagangan dunia.

Pada 1932 tercatat 265 kapal besar dengan total isi bersih sekitar 1.714.828,25 m³, serta 834 kapal pesisir dengan total isi bersih sekitar 27.455 m³ yang berkaitan dengan aktivitas pelayaran Manado.

Selain KPM, Van de Wetering menyebut Java China Japan Lijn dan Nippon Yuzen Kaisha, serta sejumlah kapal charter dari negara-negara Nordik. Manado Produce Company juga secara berkala mengirim kopra ke Aarhus, Denmark, tempat pabrik minyak milik perusahaan induknya berada. Kapal tanker B.P.M. juga datang untuk membongkar minyak curah ke instalasi tangki di Sario.

Pengelolaan pelabuhan sendiri menghasilkan pendapatan yang cukup besar. Dalam laporan tersebut, pendapatan pelabuhan tercatat ƒ129.466,44 pada 1930, ƒ116.773,10 pada 1931, dan ƒ119.463,95 pada 1932.

Manado sebagai pusat ekonomi pada 1933

Dari catatan Van de Wetering, terlihat bahwa ekonomi Manado pada 1933 memiliki beberapa lapisan.

Di tingkat paling dekat dengan masyarakat terdapat pasar, warung, pedagang sayuran, makanan, ikan, dan barang manufaktur. Di atasnya terdapat kegiatan pelelangan ikan, perdagangan daging, jasa transportasi, serta berbagai layanan kota. Sementara pada tingkat yang lebih luas, Manado terhubung dengan perdagangan kopra, perusahaan impor-ekspor, pelayaran antarpulau, dan perdagangan internasional.

Bahkan berbagai perusahaan kota yang dikelola gemeente memperlihatkan bahwa pemerintah kota telah berperan langsung dalam kehidupan ekonomi. Dalam anggaran 1933, Pasarbedrijf dianggarkan sekitar ƒ69.000, slachtbedrijf ƒ18.000, perusahaan air minum ƒ84.000, pelelangan ikan ƒ8.000, dan magazijnbedrijf ƒ46.000.

Dengan demikian, pasar dan kegiatan ekonomi Manado pada 1933 tidak dapat dipahami hanya sebagai aktivitas jual-beli di pasar. Ia merupakan jaringan ekonomi kota yang menghubungkan pedagang, nelayan, peternak, perusahaan dagang, pemerintah kota, pelabuhan, hingga pasar internasional.

Potret Ekonomi Manado Tahun 1933

De Gemeente Manado: Nota van Overdracht memberikan gambaran bahwa pada 1933 Manado telah memiliki sistem ekonomi perkotaan yang cukup kompleks. Pasar menjadi sumber pendapatan penting bagi gemeente, pelelangan ikan menjadi instrumen perdagangan sekaligus kebijakan sosial bagi nelayan, rumah potong hewan menjadi bagian dari pengawasan perdagangan daging, sementara perdagangan kopra dan aktivitas pelabuhan menghubungkan Manado dengan Makassar, Surabaya, Eropa, Amerika, Jepang, hingga Denmark.

Namun sumber ini juga memperlihatkan sisi lain: depresi ekonomi dunia dan menurunnya daya beli masyarakat ikut menekan harga dan nilai perdagangan. Jadi, Manado tahun 1933 bukan hanya sebuah kota yang sedang berkembang, tetapi juga kota yang sedang menghadapi perubahan besar dalam struktur perdagangan dan ekonomi dunia.

Sumber: F. H. van de Wetering, De Gemeente Manado: Nota van Overdracht, Manado, 16.06.1933 – Handelsdrukkerij Liem Oei Tiong Co.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Robertus Padt-Brugge 1679 (Ilustrasi Ai)

    Keadilan di Tanah Malesung: Catatan Robertus Padt-Brugge tentang Hukum Pidana Minahasa Abad ke-17

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Pada tahun 1679, Gubernur Maluku Robertus Padt-Brugge melakukan perjalanan ke wilayah utara Sulawesi. Dalam laporannya berjudul Beschrijving der Zeden en Gewoontes van de Bewoners der Minahasa (Deskripsi Adat dan Kebiasaan Penduduk Minahasa). Ia tidak hanya mencatat kondisi geografis dan praktik kepercayaan masyarakat setempat, tetapi juga menyoroti struktur sosial yang bagi bangsa Eropa kala itu dianggap […]

  • Objek Wisata Bukti Doa di Warembungan

    Warembungan: Jejak Perpindahan Tombulu dan Konsolidasi Hindia Belanda di Minahasa

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Desa Warembungan di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, menyimpan sejarah yang tidak sederhana. Ia bukan sekadar hasil perpindahan permukiman masyarakat Tombulu, melainkan bagian dari dinamika besar yang melibatkan wabah penyakit, reorganisasi kolonial Belanda, hingga praktik pengasingan politik pada abad ke-19. Dalam lintasan sejarah Minahasa, Warembungan lahir dari pertemuan antara tradisi lokal dan tekanan administrasi kolonial yang […]

  • Waraney Minahasa (Ilustrasi)

    Jejak yang Terhapus: Kisah Tato Waraney Minahasa dalam Arsip Kolonial

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • visibility 355
    • 0Komentar

    Ada satu hal yang jarang disadari ketika kita membicarakan tubuh orang Minahasa lama: hampir tidak ada yang benar-benar kita ketahui tentangnya. Nama yang paling sering muncul dalam pembicaraan tentang Minahasa abad ke-17 adalah Robertus Padtbrugge, Gubernur VOC untuk Maluku (1677–1682). Padtbrugge meninggalkan dua dokumen berbeda tentang Minahasa, dan keduanya kerap tertukar dalam kutipan-kutipan populer: Pertama, […]

  • Jan Willem Gerungan (Repro Ai)

    Perwira Breda di Rimba Kahar: Fragmen Dendam dan Cinta Dee Gerungan

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Lelaki itu berdiri tegak dengan dagu terangkat, memancarkan aura wibawa yang tak mampu disembunyikan oleh seragam gerilyanya yang mulai kusam. Jan Willem Gerungan, atau yang lebih dikenal sebagai Dee Gerungan, adalah anomali paling tajam dalam sejarah pergolakan daerah di Indonesia. Lahir di Remboken pada 26 Mei 1920, ia adalah putra Minahasa yang membawa kecemerlangan intelektual […]

  • Kain Pinawetengan Minahasa: Filosofi Motif dan Cara Membelinya di Galeri Tompaso dan Toko Online

    Kain Pinawetengan Minahasa: Filosofi Motif dan Cara Membelinya di Galeri Tompaso dan Toko Online

    • calendar_month Senin, 3 Feb 2025
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Kain Pinawetengan merupakan salah satu wastra khas Minahasa, Sulawesi Utara, yang tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi mendalam. Terinspirasi dari Watu Pinawetengan, kain ini menjadi simbol persatuan, identitas, dan kebijaksanaan leluhur Minahasa yang kini hadir dalam bentuk fashion etnik berkelas.   Asal-Usul dan Filosofi Motif Kain Pinawetengan   Nama […]

  • Sejarah Singkat Musik Bambu di Minahasa

    Sejarah Singkat Musik Bambu di Minahasa

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2024
    • visibility 313
    • 0Komentar

    Musik bambu adalah seni tradisional khas Minahasa yang berakar pada perpaduan budaya lokal dan pengaruh pendidikan Zending Protestan di abad ke-19. Diperkirakan, musik bambu mulai berkembang sekitar tahun 1850-an melalui pengajaran suling bambu di sekolah-sekolah zending.   Instrumen ini diajarkan oleh para nyora (istri guru jemaat) sebagai bagian dari kurikulum yang bertujuan menggantikan Kolintang Gong, […]

expand_less