Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Profil » Desa » Kokoleh, Jejak Tua Peradaban Tonsea di Tanah Likupang

Kokoleh, Jejak Tua Peradaban Tonsea di Tanah Likupang

  • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
  • visibility 111
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di pesisir selatan Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, terdapat sebuah desa yang menyimpan lapisan sejarah panjang yang melampaui batas-batas administrasi modern. Desa Kokoleh, yang kini terbagi menjadi Kokoleh I dan Kokoleh II bukan sekadar permukiman biasa.

Di balik hamparan kebun kelapa dan perkampungan yang tenang, tersimpan kisah migrasi leluhur, warisan megalitik, serta transformasi sosial yang berlangsung selama berabad-abad.

Sejarah Kokoleh hidup melalui dua sumber utama: tradisi lisan yang dikenal sebagai Sisil Wanua dan berbagai catatan kolonial yang merekam perubahan masyarakat Minahasa sejak masa VOC hingga Hindia Belanda.

Keduanya membentuk mozaik sejarah yang memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas lokal bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan zaman.

 

Dari Watu Pinabetengan hingga Likupang

 

Dalam kosmologi Minahasa, asal-usul masyarakat berakar pada kisah Toar dan Lumimuut, pasangan leluhur yang diyakini menurunkan berbagai kelompok etnis di tanah Minahasa.

Memori kolektif mengenai persatuan masyarakat itu terpusat pada Watu Pinabetengan, situs sakral yang dipercaya menjadi tempat pembagian wilayah dan musyawarah para leluhur.

Dari peristiwa tersebut lahir konsep Mina Esa, yang berarti “menjadi satu” atau “bersatu”. Konsep ini kemudian berkembang menjadi nama Minahasa dan menjadi fondasi identitas masyarakatnya.¹

Semangat persatuan itu pula yang mendorong kelompok-kelompok masyarakat melakukan migrasi ke berbagai wilayah baru, termasuk kawasan yang kemudian dikenal sebagai Kokoleh.

 

Sembilan Leluhur dan Lahirnya Nama Kokoleh

 

Menurut tradisi Sisil Wanua, sejarah Kokoleh bermula dari perpindahan sekelompok leluhur dari kawasan Tongkeina Watan atau wilayah sekitar Gunung Kalawat.

Mereka dipimpin oleh sembilan tokoh perintis yang dikenal dalam silsilah lokal, yakni Pangrapan, Mamarimbing, Makataner, Boki, Pontororing, Pantouw, Karundeng, Makalew, dan Tampanatu.²

Kelompok ini menjelajahi hutan-hutan lebat di wilayah utara Minahasa untuk mencari tempat menetap yang baru. Dalam perjalanan tersebut, lahir kisah yang kemudian menjadi asal-usul nama Kokoleh.

Tradisi lisan menyebutkan bahwa suatu ketika cawat milik Pangrapan tertinggal di lokasi yang sedang mereka jelajahi. Dalam bahasa Minahasa, jejak atau peninggalan tersebut dikenal sebagai koko atau lean.

Benda yang tertinggal itu kemudian dianggap sebagai tanda kepemilikan atas wilayah yang sedang dibuka.

Namun kisah penamaan Kokoleh tidak berhenti di situ.

Dalam tradisi yang sama disebutkan bahwa sekitar abad ke-13, ketika kelompok tersebut hendak memperluas wilayah permukiman, dilakukan upacara adat untuk memohon petunjuk Sang Pencipta dan para leluhur.

Dalam ritual itu seekor ayam jantan putih terbang mengitari peserta upacara sebelum hinggap di pohon beringin dan berkokok sebanyak sembilan kali.

Peristiwa itu ditafsirkan sebagai pertanda baik. Kokok ayam tersebut dikenal dengan ungkapan Ko’ Ko’Leos, yang berarti “kokok yang baik” atau “restu yang terkabul”.

Dari perpaduan simbol peninggalan leluhur dan pertanda spiritual itulah lahir nama Kokoleh yang dikenal hingga sekarang.²

 

Perluasan Wilayah dan Masa Kejayaan Waruga

 

Setelah menetap, masyarakat Kokoleh mulai mengembangkan sistem sosial yang terorganisasi. Kepemimpinan dijalankan oleh Tunduan sebagai pemimpin kelompok dan Tonaas sebagai pemimpin adat serta spiritual.

Dalam periode ini muncul sejumlah tokoh yang dikenang dalam tradisi lokal, di antaranya Opo Tamblang atau Watupongoh serta Opo Pinantik atau Walewangko. Mereka berperan dalam membuka wilayah-wilayah baru yang kemudian berkembang menjadi permukiman tersendiri.

Wilayah Kamanga, misalnya, berasal dari kata Kamang yang berarti bahagia. Daerah ini kemudian diwariskan kepada keturunan Opo Watupongoh. Sementara Paslaten berasal dari kata Paleten yang berarti batas, merujuk pada pemisahan wilayah oleh sebuah saluran air.

Adapun Sawangan berkembang dari istilah Pasawangan, yang menggambarkan pertemuan dua aliran sungai sekaligus simbol kerja sama masyarakat.²

Jejak fisik dari masa tersebut masih dapat ditemukan hingga kini melalui keberadaan waruga atau kubur batu megalitik.

Di kawasan timur Kokoleh terdapat sedikitnya 14 waruga yang dipercaya menjadi tempat peristirahatan para pemimpin dan leluhur desa antara abad ke-13 hingga abad ke-17.

Beberapa nama yang disebut dalam tradisi lokal antara lain Tampanatu, Makatuuk, Unsulangi, dan Wagiu. Selain itu terdapat pula waruga yang dikaitkan dengan Opo Lalawi dan Opo Tamblang.²

Nilai penting situs ini mendapat perhatian para peneliti sejak masa kolonial. Pada tahun 1927, seorang peneliti Jerman bernama Prof. Dr. Tauschman melakukan survei di kawasan tersebut dan menyimpulkan bahwa waruga-waruga Kokoleh masih berada pada posisi aslinya (in situ), sehingga memiliki nilai arkeologis yang tinggi.³

 

Datangnya Kolonialisme dan Perubahan Sosial

 

Perubahan besar mulai terjadi ketika Minahasa memasuki jaringan kekuasaan VOC pada abad ke-17. Salah satu tonggaknya adalah perjanjian yang dikenal sebagai Verbond van Minahasa tahun 1679 antara para pemimpin walak Minahasa dan Gubernur VOC Robertus Padtbrugge.⁴

Likupang kemudian berkembang menjadi salah satu kawasan strategis bagi kepentingan perdagangan dan pengawasan kolonial.

Masyarakat mulai terlibat dalam sistem kerja wajib dan penyetoran hasil bumi yang menjadi ciri pemerintahan kolonial pada masa itu.

Memasuki abad ke-19, pemerintah Hindia Belanda melakukan reorganisasi besar-besaran terhadap desa-desa di Minahasa.

Dalam catatan misionaris Nicolaas Graafland, banyak kampung dipindahkan dari lokasi-lokasi pegunungan ke daerah yang lebih datar agar lebih mudah diawasi serta ditata mengikuti jalur jalan utama.⁵

Kebijakan tersebut turut memengaruhi perkembangan Kokoleh. Pola hidup berbasis perladangan tradisional perlahan berubah menjadi ekonomi perkebunan dengan komoditas utama kelapa yang menghasilkan kopra.

Perubahan lain yang tidak kalah penting adalah masuknya agama Kristen melalui aktivitas para zendeling atau pekabar Injil. Bersamaan dengan itu, pemerintah kolonial melarang penggunaan waruga sebagai tempat penguburan pada pertengahan abad ke-19 dengan alasan kesehatan dan sanitasi.⁶

Larangan tersebut mengakhiri tradisi pemakaman megalitik yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Sejak saat itu masyarakat beralih menggunakan kompleks pemakaman umum dan secara bertahap mengadopsi sistem keagamaan serta tata sosial baru yang diperkenalkan pemerintah kolonial dan lembaga zending.

 

Merawat Ingatan Leluhur

 

Di tengah modernisasi yang terus berlangsung, Kokoleh tetap menyimpan identitas sebagai salah satu minawanua atau permukiman tua di wilayah Tonsea. Tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, keberadaan waruga, serta berbagai nama tempat yang masih bertahan hingga kini menjadi penanda kuat hubungan masyarakat dengan masa lalunya.

Sejarah Kokoleh menunjukkan bahwa identitas sebuah desa tidak hanya dibentuk oleh batas administrasi, melainkan oleh ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari kisah sembilan leluhur yang merambah hutan Kalawat, kokok ayam yang dianggap sebagai restu alam, hingga batu-batu waruga yang tetap berdiri kokoh, Kokoleh menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Minahasa di pesisir utara Sulawesi.

 

Catatan Kaki

 

1 Jessy Wenas, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa (Manado: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, 2007).

2 Theo Evalinge, Sisil Wanua Kokoleh (Dokumen Tradisi Lisan dan Sejarah Lokal Desa Kokoleh, Likupang Selatan, Minahasa Utara).

3 Catatan Survei Purbakala Prof. Dr. Tauschman, 1927, sebagaimana direkam dalam arsip sejarah lokal Desa Kokoleh.

4 Mieke Schouten, Leadership and Social Mobility in a Southeast Asian Society: Minahasa, 1677–1983 (Leiden: KITLV Press, 1998), hlm. 37–41.

5 Nicolaas Graafland, De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand (Batavia: G. Kolff & Co., 1898).

6 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), Data Inventarisasi Kubur Batu Waruga di Sub-etnis Toumbulu dan Tonsea, Sulawesi Utara (1995/1997).

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Toar dan Lumimuut (Ilustrasi)

    Dari Graafland hingga Schwarz: Evolusi Pencatatan Legenda Toar dan Lumimuut

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Kisah Toar dan Lumimuut merupakan salah satu mitos asal-usul paling penting dalam tradisi masyarakat Minahasa. Cerita ini telah diwariskan secara lisan selama berabad-abad sebelum akhirnya dicatat oleh para penulis Eropa pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Beberapa sumber tertulis yang sering dijadikan rujukan berasal dari karya Nicolaas Graafland dalam De Minahassa: haar verleden en […]

  • Transformasi pemerintahan Minahasa besar-besaran terjadi setelah peristiwa Benteng Moraya (Ilustrasi)

    Transformasi Walak: Dari Persekutuan Otonom ke Mesin Administrasi Kolonial

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Perubahan besar dalam sejarah Minahasa tidak selalu hadir dalam bentuk perang terbuka. Sebagian justru berlangsung senyap melalui pergeseran struktur sosial, pengaturan ulang wilayah, dan redefinisi kekuasaan. Sistem walak, yang semula menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minahasa, mengalami transformasi mendasar hingga akhir dekade 1820-an. Catatan sejarah yang dihimpun dalam Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 karya E.C. […]

  • Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi (Sam Ratulangi) bersama Soekarno, Ahmad Subardjo, dan sejumlah pejabat sipil serta militer Jepang berfoto bersama di Makassar pada 30 April 1945. Foto ini merekam salah satu momen penting menjelang berakhirnya pendudukan Jepang dan lahirnya Indonesia merdeka.(Makassar Tanggal: 30 April 1945 Koleksi foto: Nishijima sumber: Engel Yong)

    Ketika Bukit Sampuk Menjadi Ladang Maut: Kisah Tawanan Perang Minahasa 1942

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • visibility 53
    • 0Komentar

    Invasi Jepang ke Minahasa pada awal 1942 tidak hanya meninggalkan kisah heroisme di medan tempur, tetapi juga membuka babak kelam berupa penangkapan, penyiksaan, dan eksekusi terhadap para pejuang KNIL serta warga sipil yang dituduh membantu perlawanan. Salah satu lokasi yang paling dikenang adalah kawasan yang oleh masyarakat dijuluki “Tokyo Baru”, sebuah nama sandi untuk tempat […]

  • Jejak Sejarah Desa Kumelembuai: Asal-Usul dan Dinamika Masyarakat Awal

    Jejak Sejarah Desa Kumelembuai: Asal-Usul dan Dinamika Masyarakat Awal

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Di bagian selatan tanah Minahasa, tepatnya di wilayah Kecamatan Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan, terdapat sebuah desa tua bernama Kumelembuai. Desa ini bukan sekadar permukiman biasa di kawasan pedalaman Tontemboan, melainkan salah satu titik penting perkembangan pendidikan, kekristenan, dan pembentukan masyarakat modern di Minahasa Selatan pada abad ke-19. Berbeda dengan pusat-pusat kolonial di pesisir seperti Amurang, […]

  • Ratu Oki dan Panglima Monde (Ilustrasi Ai)

    Harmoni Kuasa di Tanah Malesung: Kepemimpinan Kolektif Ratu Oki dan Panglima Monde Abad ke-17

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • visibility 374
    • 0Komentar

    Sejarah Minahasa pada abad ke-17 tidak sepenuhnya dibentuk oleh figur penguasa tunggal yang memegang kendali absolut. Di tengah tekanan ekspansi kolonial dan persaingan kekuatan maritim di kawasan utara Sulawesi, masyarakat lokal justru mengembangkan pola kepemimpinan kolektif yang memungkinkan pembagian peran secara efektif antara urusan sipil dan militer. Model tersebut tampak jelas di wilayah selatan walak […]

  • Keterangan tentang Moral dan Adat Istiadat Penduduk Minahasa – R. Padtbrugge (1679)

    Keterangan tentang Moral dan Adat Istiadat Penduduk Minahasa – R. Padtbrugge (1679)

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 26
    • 0Komentar

    Keterangan tentang Moral dan Adat Istiadat Penduduk Minahasa – R. Padtbrugge – 1679 Dokumen “Beschrijving van de Zeden en Gewoonten van de Bewoners van de Minahasa” oleh Robert Padtbrugge, Gubernur Maluku (1682-1687), adalah dokumen yang sering dikutip dalam literatur tentang Minahasa.   Ini adalah dokumen komprehensif pertama yang menggambarkan lingkungan dan masyarakat Minahasa (tahun 1679), […]

expand_less