Waleo: Rumah Baru di Pesisir Timur Minahasa
- calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar
- print Cetak

Desa Waleo, kecamatan Kema, Minahasa Utara
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di pesisir timur jazirah utara Sulawesi, di antara jalur yang kini dilintasi Jalan Raya Trans-Sulawesi, berdiri sebuah kampung tua bernama Waleo.
Secara administratif, wilayah ini berada di Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara. Namun bagi masyarakat setempat, Waleo bukan sekadar nama geografis.
Ia adalah ruang ingatan kolektif tentang bencana, perpindahan penduduk, serta ketahanan sosial masyarakat Tonsea dalam membangun kembali kehidupan mereka di tanah baru.
Sebagaimana banyak kampung tua di Minahasa, sejarah Waleo hidup melalui perpaduan antara tutur lisan, memori keluarga, dan jejak administrasi kolonial. Dalam tradisi lokal, asal-usul desa ini selalu dikaitkan dengan sebuah peristiwa besar pada penghujung abad ke-19: banjir bandang Sungai Lilang tahun 1882 yang menghancurkan permukiman lama masyarakat di wilayah Lilang Tua.^1
Air Bah Sungai Lilang dan Lahirnya Permukiman Baru
Catatan sejarah lisan masyarakat yang dihimpun oleh Rommi Kumontoy menyebutkan bahwa pada tanggal 16 Mei 1882, sebuah banjir besar melanda Desa Lilang Tua.
Permukiman lama tersebut kala itu berada di sebelah barat aliran Sungai Lilang, sekitar 700 meter dari lokasi Desa Lilang saat ini.^2
Hujan deras yang turun di kawasan pegunungan menyebabkan sungai meluap dengan arus sangat kuat. Rumah-rumah penduduk hanyut terbawa air, kebun rusak, dan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal.
Dalam situasi genting itu, masyarakat terpaksa meninggalkan kampung lama mereka demi menyelamatkan diri.
Sebagian warga bergerak menuju wilayah perkebunan di kawasan Walean, sementara kelompok lainnya berpindah ke kawasan pesisir selatan yang kemudian berkembang menjadi Desa Waleo.^3
Pada tahap awal, mereka hanya membangun sabua atau walian pondok-pondok sederhana sebagai tempat berlindung sementara.
Namun seiring waktu, pondok tersebut mulai diperkuat dan diubah menjadi rumah permanen (wale), menandai lahirnya sebuah komunitas baru.
Tradisi lisan masyarakat menyebut bahwa ketika beberapa warga Lilang Tua sedang melaut dan memandang ke arah daratan, mereka melihat deretan rumah baru yang mulai berdiri. Dengan penuh takjub mereka berseru:
“O’wale… O’wale…”
Dalam bahasa setempat, ungkapan itu berarti “rumah… rumah…”. Dari seruan spontan tersebut lahirlah nama “Waleo,” yang kemudian menjadi identitas resmi kampung baru itu.^4
Nama tersebut bukan sekadar penanda geografis, melainkan simbol tentang rumah sebagai tempat kembali setelah kehilangan akibat bencana.
Karel Umboh Sumapouw dan Fondasi Awal Desa
Dalam proses membangun kehidupan baru, masyarakat kemudian memilih seorang tokoh bernama Karel Umboh Sumapouw sebagai tunduan atau pemimpin adat.^5 Di bawah kepemimpinannya, komunitas baru mulai menata kehidupan sosial dan pemerintahan kampung secara lebih teratur.
Menurut catatan tutur lokal, Residen Manado bernama Thidemon kemudian mengusulkan agar perkampungan baru itu diresmikan sebagai desa administratif Hindia Belanda. Karel Umboh Sumapouw lalu diangkat sebagai Hukum Tua pertama Desa Waleo.^6
Tanah tempat berdirinya permukiman baru itu berasal dari pinjaman sukarela enam dotu atau pemilik tanah adat, yaitu Dotu Lasut, Dotu Mentang, Dotu Tangkudung Tanod, Dotu Umboh, Dotu Lumolindin, dan Dotu Ompis.^7
Melalui musyawarah bersama, tanah tersebut dipergunakan untuk membangun rumah-rumah penduduk, jalan kampung, sekolah rakyat (Volks School), tempat ibadah, dan fasilitas umum lainnya. Tradisi kolektivitas Minahasa terlihat sangat kuat dalam fase ini, di mana kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi.
Mapalus dan Semangat Membangun Kembali
Kehidupan awal masyarakat Waleo sangat bergantung pada budaya gotong royong Minahasa yang dikenal sebagai mapalus. Dalam tradisi masyarakat Tonsea di Waleo, praktik ini dikenal melalui budaya Mapalus Mamuleng Wale.^8
Tradisi tersebut merupakan bentuk kerja sama sosial untuk membantu keluarga yang sedang membangun rumah. Para anggota komunitas bergotong royong mendirikan tiang, mengangkat rangka rumah, memasang dinding hingga menaikkan atap tanpa imbalan materi.
Dalam budaya Minahasa, rumah tidak hanya dipandang sebagai bangunan tempat tinggal, melainkan lambang kehormatan dan keberlangsungan keluarga. Karena itu, membantu membangun rumah bagi korban bencana dianggap sebagai kewajiban moral bersama.
Budaya mapalus inilah yang memungkinkan masyarakat Waleo bangkit dengan cepat pasca-banjir besar 1882.
Jalan Residen dan Penyatuan Komunitas
Perpindahan penduduk dari Lilang Tua ternyata sempat menimbulkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Sebagian warga memilih tetap bertahan di kawasan lama, sementara sebagian lain menetap di wilayah selatan yang berkembang menjadi Waleo.^9
Namun hubungan kekeluargaan di antara kedua kelompok tetap terjaga. Penduduk di wilayah utara yang kemudian berkembang menjadi Desa Kolongan bahkan membuka jalur penghubung menuju Waleo.
Jalan itu dikenal masyarakat sebagai “Jalan Residen,” simbol keterhubungan antara dua komunitas yang berasal dari akar sejarah yang sama.^10
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa identitas masyarakat Minahasa tidak dibangun semata-mata atas batas wilayah, melainkan pada ikatan genealogis dan solidaritas komunal.
Pengakuan Pemerintah Kolonial
Berdasarkan usulan para tua-tua kampung dan tunduan yang diteruskan melalui Hukum Besar Airmadidi kepada pemerintah kolonial, Desa Waleo akhirnya memperoleh pengakuan resmi dari Hindia Belanda pada tanggal 23 September 1883.^11
Pengakuan itu mencakup keberadaan desa, gereja, serta sekolah rakyat yang telah berdiri di wilayah tersebut. Tanggal tersebut kemudian dikenang masyarakat sebagai hari lahir resmi Desa Waleo.
Pada masa kolonial berikutnya, kawasan Kema dan desa-desa sekitarnya masuk dalam struktur administrasi Minahasa yang diperkuat melalui pembentukan Minahasaraad tahun 1919.^12
Kedekatan Waleo dengan Pelabuhan Kema membuat wilayah ini ikut berkembang sebagai jalur distribusi hasil bumi dan aktivitas ekonomi pesisir.
Waleo Hari Ini
Lebih dari satu abad setelah banjir besar Sungai Lilang, Waleo berkembang menjadi desa pesisir yang hidup dari perpaduan sektor perikanan, pertanian, dan perkebunan. Laut di pesisir timur Minahasa menjadi sumber penghidupan masyarakat nelayan, sementara lahan-lahan subur di sekitar desa menghasilkan kelapa, cengkih, dan berbagai komoditas pertanian lainnya.
Namun di balik perkembangan itu, masyarakat Waleo tetap menjaga ingatan tentang asal-usul kampung mereka. Nama Waleo terus dikenang sebagai simbol rumah, tempat kembali, dan semangat persaudaraan yang lahir dari sebuah bencana besar.
Di tengah arus modernisasi, sejarah Waleo memperlihatkan satu hal penting: bahwa desa-desa tua di Minahasa tumbuh bukan hanya dari kekayaan alam, melainkan dari kemampuan masyarakatnya untuk bertahan, berbagi, dan membangun kembali kehidupan secara bersama-sama.
Catatan Kaki
- Catatan sejarah lisan masyarakat Desa Waleo mengenai banjir Sungai Lilang dan perpindahan penduduk pasca-bencana tahun 1882.
- Catatan sejarah lisan masyarakat yang dihimpun oleh Rommi Kumontoy mengenai banjir Sungai Lilang tanggal 16 Mei 1882.
- Ibid.
- Tradisi tutur masyarakat Tonsea mengenai asal-usul nama “O’wale” atau Waleo, dihimpun dalam catatan lokal Rommi Kumontoy.
- Catatan sejarah lokal Desa Waleo mengenai pengangkatan Karel Umboh Sumapouw sebagai tunduan pertama.
- Ibid.
- Dokumentasi sejarah lisan masyarakat mengenai enam dotu peminjam tanah permukiman Desa Waleo.
- Repositori Jurnal Ilmiah GKN, Berpastoral Dalam Budaya Mamuleng Wale Suku Tonsea, 2024.
- Catatan sejarah lisan masyarakat Desa Waleo tentang perpindahan penduduk pasca-banjir Lilang.
- Ibid.
- Arsip dan tradisi lisan masyarakat mengenai pengakuan resmi Desa Waleo oleh Pemerintah Hindia Belanda tanggal 23 September 1883.
- Catatan sejarah Minahasa mengenai pembentukan Minahasaraad tahun 1919 dan administrasi kolonial di wilayah Kema-Minahasa Utara.
- Penulis: Moderator Malesung
