Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Soputan di Minahasa: Gunung Api, Kawah dan Aktivitas Vulkanik

Soputan di Minahasa: Gunung Api, Kawah dan Aktivitas Vulkanik

  • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
  • visibility 85
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Arthur Wichmann merupakan ahli geologi yang memberikan perhatian khusus terhadap kondisi geologi di Hindia Belanda, termasuk gunung-gunung api di Minahassa. Pada 2 September 1910, dari Utrecht, ia menulis kajian berjudul Über den Vulkan Soputan in der Minahassa atau Tentang Gunung Api Soputan di Minahasa. Tulisan tersebut diterbitkan sebagai cetak ulang dari Monatsberichten der Deutschen Geologischen Gesellschaft, Band 62, tahun 1910. Kajian ini menarik karena Wichmann tidak hanya menjelaskan keadaan Soputan, tetapi juga menguji kembali berbagai laporan mengenai letusan dan perubahan bentuk gunung tersebut.

Soputan dan Perdebatan tentang Bentuk Gunung

Wichmann memulai pembahasannya dengan mengkritik keterangan J. Ahlburg mengenai geologi Celebes, khususnya mengenai Soputan. Menurut Ahlburg, pada tahun 1828 puncak Soputan yang ketika itu berbentuk runcing telah terlempar ke udara akibat sebuah ledakan besar. Ledakan tersebut kemudian dikatakan membentuk sebuah kawah yang sangat dalam. Menurut cerita itu, kawah tersebut perlahan-lahan terisi kembali oleh material batuan yang runtuh dari dindingnya selama abad berikutnya. Bagi Wichmann, gambaran tersebut tidak dapat diterima begitu saja karena tidak sesuai dengan sumber-sumber yang lebih awal.

Wichmann menunjukkan bahwa C. G. C. Reinwardt telah mendaki Soputan pada 1821, sehingga keberadaan kawah yang dalam dapat dipastikan sudah diketahui sebelum peristiwa yang diklaim Ahlburg. Ia menegaskan bahwa tidak ada sumber yang menyebut Soputan sebelumnya memiliki puncak runcing yang kemudian seluruhnya “terbang ke udara”. Karena itu, menurut Wichmann, kawah dalam Soputan bukanlah hasil dari ledakan tahun 1828 sebagaimana digambarkan Ahlburg. Peristiwa penting pada abad ke-19 memang terjadi pada dekade 1830-an, tetapi kondisi kawah telah ada sebelumnya.

Kawah Soputan yang Sudah Ada Sejak 1821

Catatan Reinwardt menjadi salah satu dasar penting dalam argumentasi Wichmann. Ketika Reinwardt berada di Soputan pada 1821, ia tidak dapat mengukur kedalaman kawah secara langsung dari tempatnya berdiri di sisi timur laut karena tonjolan-tonjolan dinding kawah menghalangi pandangan ke dasar. Bahkan, seorang juru gambar yang ikut dalam perjalanan tersebut terpaksa tetap berada di kaki gunung karena sakit, sehingga tidak tersedia gambar mengenai kondisi kawah pada masa itu. Meski demikian, catatan perjalanan Reinwardt menunjukkan dengan jelas bahwa kawah yang dalam telah ada pada saat tersebut.

Beberapa puluh tahun kemudian, para pendaki memberikan perkiraan mengenai ukuran kawah Soputan. F. Rinne, yang mendaki gunung tersebut pada 1899, memperkirakan kawah memiliki lebar sekitar 400 meter dan kedalaman sekitar 250 meter, meskipun seluruh kedalamannya tidak dapat diukur karena dinding yang curam menutupi bagian bawah. S. H. Koorders, yang berada di puncak pada 1895, juga memperkirakan kedalaman sekitar 250 meter. Sebaliknya, H. Bücking pada 1898 memberikan angka sekitar 60 meter, yang dinilai terlalu rendah oleh P. dan F. Sarasin. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi medan membuat pengukuran kawah secara langsung menjadi persoalan tersendiri.

Menurut Wichmann, perubahan kecil pada kawah tetap mungkin terjadi. Erosi yang terus berlangsung serta aktivitas solfatara dapat mengubah bentuk permukaan gunung secara perlahan. Namun perubahan tersebut tidak cukup besar untuk menghilangkan gambaran mengenai kondisi Soputan yang telah diketahui sejak 1821. Karena itu, Wichmann berpendapat bahwa klaim mengenai perubahan besar bentuk kawah akibat sebuah letusan dahsyat harus diperlakukan dengan hati-hati.

Letusan pada Dekade 1830-an

Salah satu laporan yang dibahas Wichmann menggambarkan sebuah letusan yang berlangsung selama dua hari. Dalam laporan tersebut, jumlah abu yang dikeluarkan begitu besar sehingga matahari menjadi gelap. Abu mencapai Amurang, sementara bau belerang yang kuat menyebar ke berbagai tempat. Letusan juga disertai suara bawah tanah yang terdengar seperti dentuman guntur. Batu-batu besar dilaporkan terlontar dari kawasan kawah, sedangkan dari kejauhan tampak kolom api yang menjulang.

Akan tetapi, persoalan besar muncul mengenai tahun terjadinya letusan tersebut. Jünghuhn, berdasarkan laporan C. A. L. Pecqueur, menempatkannya pada 1838. Wichmann mempertanyakan tanggal tersebut karena Pecqueur baru dipindahkan dari Batavia ke Menado pada kuartal kedua tahun 1845. Dengan demikian, ia bukan saksi mata langsung atas peristiwa yang dikisahkan. Wichmann juga tidak menemukan laporan resmi mengenai letusan tersebut dalam penelusurannya terhadap Javasche Courant untuk periode 1831–1840.

Sumber-sumber lain memberikan tanggal berbeda. S. H. de Lange menyebut tahun 1831, N. Graafland dan seorang penulis anonim menyebut 1832, sedangkan penulis anonim lainnya memberikan tahun 1833. Wichmann juga memperhatikan bahwa Van de Velde mengunjungi Danau Tondano pada 1839 dan membuat gambar Soputan tanpa menunjukkan tanda aktivitas luar biasa. C. T. Hermann, yang telah menjadi misionaris di Amurang sejak 1836, juga tidak menyebut letusan tersebut dalam surat maupun tulisan yang diperiksa Wichmann.

Berdasarkan perbandingan tersebut, Wichmann akhirnya memilih tahun 1833. Ia menganggap tanggal tersebut lebih dapat dipercaya karena memiliki prioritas dalam sumber dan berasal dari seorang pelapor yang menurutnya berpendidikan ilmiah serta memiliki catatan yang dapat diandalkan. Wichmann bahkan membuka kemungkinan bahwa tahun 1838 dalam karya Jünghuhn merupakan kesalahan tulis atau kesalahan cetak. Ia juga menyatakan bahwa kawah tidak mengalami perubahan penting akibat letusan 1833.

Soputan dan Aktivitas Solfatara

Bagi Wichmann, persoalan Soputan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai tanggal letusan. Ia juga mempertanyakan apakah aktivitas yang dilaporkan benar-benar berasal dari kawah utama. Dalam laporan tentang peristiwa pada dekade 1830-an disebutkan bahwa suara bawah tanah seolah berasal dari kaki gunung dan bau belerang tersebar luas. Wichmann memperoleh kesan bahwa aktivitas tersebut mungkin terutama berkaitan dengan salah satu solfatara di kaki utara Soputan, bukan letusan lava besar dari kawah utama.

Kemungkinan tersebut menjadi semakin menarik ketika Wichmann membahas aktivitas pada 1901. Pada 2 Februari terjadi guncangan kuat di wilayah Tondano yang berulang dalam beberapa hari. Bersamaan dengan itu muncul laporan mengenai peningkatan aktivitas Soputan. Namun pemeriksaan M. Koperberg pada awal Maret menunjukkan bahwa aktivitas tersebut sebenarnya berupa letusan lumpur dari sebuah solfatara di daerah hulu Sungai Pentu. Lumpur mendidih dapat menyembur beberapa meter ke udara, sementara dinding lembah tertutup lumpur dan batu. Yang sangat penting, Koperberg justru tidak menemukan peningkatan aktivitas pada kawah Soputan yang sebenarnya.

Fenomena serupa kembali terjadi pada 1906 dan 1907. Pada 17 Juni 1906 terjadi hujan lumpur dan abu bersamaan dengan gempa kuat yang mengguncang seluruh Minahassa. Beberapa hari kemudian ditemukan sebuah “kawah” baru di sekitar lokasi aktivitas sebelumnya. Dari tempat itu terlihat pasir panas atau “bercahaya” dan batu-batu terlontar, tetapi tidak ditemukan lava. Pada Juni 1907, kepulan asap kembali muncul dari kawah tersebut, termasuk setelah gempa yang terjadi pada 25 Juni.

Soputan dalam Catatan Wichmann

Tulisan Arthur Wichmann memperlihatkan Soputan sebagai gunung api yang sejarah aktivitasnya tidak mudah direkonstruksi. Di satu sisi terdapat kisah dramatis tentang abu yang menggelapkan matahari, batu-batu yang terlontar, suara seperti guntur, dan bau belerang. Di sisi lain, terdapat perbedaan tanggal, kesaksian yang tidak lengkap, serta pengamatan lapangan yang menunjukkan bahwa sebagian aktivitas mungkin berasal dari kawasan solfatara di sekitar kaki gunung. Karena itu, Wichmann tidak menerima semua laporan secara langsung, melainkan membandingkannya dengan pengamatan Reinwardt dan para peneliti setelahnya.

Dalam pandangan Wichmann, Soputan pada akhirnya bukan hanya kisah tentang sebuah gunung yang pernah meletus, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan mengenai gunung api dibangun dari catatan perjalanan, kesaksian, laporan ilmiah, pengamatan langsung, dan perbandingan berbagai sumber. Ia memilih 1833 sebagai tanggal yang lebih mungkin untuk letusan penting pada dekade 1830-an, sekaligus menolak anggapan bahwa puncak Soputan baru terbentuk atau kawahnya baru tercipta akibat ledakan besar. Catatan tahun 1910 tersebut dengan demikian menjadi salah satu sumber penting untuk memahami bagaimana Soputan dan aktivitas vulkaniknya dipelajari dalam sejarah ilmiah Minahassa pada awal abad ke-20.

Referensi:

Wichmann, C. E. A. (1910). “Über den Vulkan Soputan in der Minahassa.” Zeitschrift der Deutschen Geologischen Gesellschaft, Monatsberichte, 62, 589–595; Wichmann pada 1911, “Über die Ausbrüche des Soputan in der Minahassa”, Monatsberichte 63, hlm. 228–232.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Sejarah Desa Pinapalangkow atau Kalewo’an Minahasa

    Sejarah Desa Pinapalangkow atau Kalewo’an Minahasa

    • calendar_month Minggu, 9 Jun 2024
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Desa Pinapalangkow terletak di distrik Sondér dan didirikan oleh Wumbene, seorang anak dari Silap dan Licep. Awalnya, Wumbene tinggal di Sondér. Suatu hari, ia memutuskan untuk menjelajahi hutan yang lebih dalam. Dalam penjelajahannya, Wumbene menemukan sebuah dataran yang dianggapnya cocok untuk pemukiman baru. Setelah kembali ke Sondér, Wumbene mengajak beberapa temannya untuk mendirikan desa di […]

  • Residen George Fredrik Dürr dan Kapten Puluwang (Ilustrasi)

    Tomohon 1794: Kebohongan, Pemerasan, dan Runtuhnya Wibawa Residen Dürr

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Pada penghujung abad ke-18, wilayah Minahasa tidak hanya menjadi panggung tarik-menarik kekuasaan antara penguasa kolonial dan pemimpin adat, tetapi juga memperlihatkan rapuhnya struktur pemerintahan itu sendiri. Di balik simbol otoritas Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), tersembunyi celah besar: ketergantungan pada perantara lokal yang justru membuka ruang penyimpangan. Salah satu episode paling mencolok terjadi pada tahun 1794, […]

  • Lodywik Dirk Ngantung, Maestro Tari Kabasaran Minahasa

    Lodywik Dirk Ngantung, Maestro Tari Kabasaran Minahasa

    • calendar_month Senin, 3 Apr 2023
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Sekadar pengingat, ada sosok yang berjasa dalam pengembangan Tari Kabasaran hingga begitu terkenal. Namanya, Lodywik Dirk Ngantung atau Opa Owik asal Paslaten Tomohon, Sulawesi Utara.   Tari Kabasaran adalah tarian perang dari suku Minahasa, Sulawesi Utara.   Tarian ini kerap terlihat kala penyambutan tamu penting yang datang ke tanah Toar Lumimuut tersebut. Dengan pakaian khas merah […]

  • Pinabetengan: Dari Batu Musyawarah Leluhur hingga Desa Bersejarah di Jantung Minahasa

    Pinabetengan: Dari Batu Musyawarah Leluhur hingga Desa Bersejarah di Jantung Minahasa

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Di dataran tinggi Tompaso, Kabupaten Minahasa, berdiri sebuah situs batu besar yang hingga kini terus mengundang perhatian para sejarawan, antropolog, hingga peziarah budaya. Batu itu dikenal sebagai Watu Pinawetengan, sebuah monumen megalitik yang dalam ingatan kolektif masyarakat Minahasa dipercaya sebagai tempat pembagian wilayah dan permufakatan leluhur berbagai sub-etnis Minahasa. Situs ini secara administratif berada di […]

  • Pengeran Diponegoro tiba di pelabuhan Manado 12 Juni 1830 (Ilustrasi)

    Melayari Takdir ke Tanah Malesung, Pengasingan Pangeran Diponegoro dalam Jurnal Letnan Knoerle (1830)

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Pada pagi lembap di pelabuhan Batavia, 4 Mei 1830, sebuah kapal perang Belanda bersiap meninggalkan Jawa menuju timur Nusantara. Di geladak korvet Pollux itu berdiri seorang bangsawan Jawa yang baru saja kehilangan segalanya: tanah, pengikut, dan peperangan yang ia yakini suci. Dialah Pangeran Diponegoro. Perang Jawa telah berakhir. Penangkapannya di Magelang pada Maret 1830 menutup […]

  • Johann Friedrich Riedel (wikitree)

    Johann Friedrich Riedel: Jejak Sang Penginjil dari Erfurt di Tanah Minahasa

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Nama Johann Friedrich Riedel menempati posisi penting dalam sejarah pekabaran Injil dan pendidikan Kristen di Minahasa pada abad ke-19. Bersama Johann Gottlieb Schwarz, Riedel menjadi bagian dari generasi awal penginjil yang dikirim Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) ke wilayah Minahasa. Kedatangan keduanya pada 12 Juni 1831 kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah kekristenan […]

expand_less