Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » K. Sumampow: Jejak Keberanian Prajurit Minahasa di Medan Perang Aceh

K. Sumampow: Jejak Keberanian Prajurit Minahasa di Medan Perang Aceh

  • calendar_month Senin, 31 Mar 2025
  • visibility 170
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di antara ribuan nama yang pernah tercatat dalam sejarah panjang Korps Marechaussee (Marsose) Hindia Belanda, nama K. Sumampow (Nomor prajurit 44891) menempati tempat yang istimewa.

Ia bukan seorang perwira, bukan pula tokoh politik kolonial. Namun, dalam berbagai laporan resmi militer Belanda, prajurit asal Talaitad, Tontemboan Minahasa, ini beberapa kali disebut karena keberaniannya yang luar biasa di medan tempur Aceh.

Kisah Sumampow memperlihatkan bagaimana pemuda-pemuda Minahasa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 menjadi bagian dari mesin militer kolonial.

Mereka dikirim ribuan kilometer dari tanah kelahirannya untuk bertempur dalam konflik-konflik yang membentuk sejarah Hindia Belanda.

Di balik catatan resmi itu, tersimpan pula ironi sejarah: keberanian mereka dikenang sebagai prestasi militer, tetapi berlangsung dalam perang kolonial yang memperhadapkan sesama penduduk Nusantara.

 

Dari Talaitad Menuju Aceh

 

K. Sumampow lahir di Talaitad pada tahun 1876. Ia memasuki dinas militer Hindia Belanda pada 1894, ketika pemerintah kolonial sedang memperkuat pasukan Korps Marechaussee, satuan elite yang dibentuk khusus untuk menghadapi perang gerilya di Aceh.

Dua tahun kemudian, pada 1896, Sumampow dikirim ke Aceh. Saat itu, Perang Aceh telah berlangsung lebih dari dua dekade. Meski ibu kota kesultanan telah dikuasai Belanda, perlawanan rakyat Aceh belum pernah benar-benar padam.

Operasi-operasi militer terus dilakukan hingga ke pedalaman, termasuk ke wilayah Samalanga dan dataran tinggi Gayo.¹

 

Menyelamatkan Komandan di Batoe Hik

 

Nama Sumampow mulai dikenal setelah pertempuran di Benteng Batoe Hik, Samalanga, pada 2 Februari 1901.

Dalam operasi tersebut, Letnan J.J Korndorffer memimpin serangan langsung terhadap benteng pertahanan lawan.

Ketika sang perwira berhasil melompat ke atas dinding benteng, ia justru terkena tembakan dan terluka parah. Situasi berubah menjadi sangat genting karena komandan berada dalam posisi terbuka dan terancam diserang.

 

Letnan J.J. Korndorffer (getarchive.net)

Letnan J.J. Korndorffer (getarchive.net)

 

Melihat keadaan itu, Sumampow bergerak tanpa menunggu perintah. Ia menerobos ke depan, memanjat benteng, lalu menghadapi para pejuang yang masih bertahan.

Menurut catatan resmi, dengan peluru terakhir yang dimilikinya, ia berhasil menembak mati empat orang lawan sehingga memberi kesempatan bagi pasukan lain menguasai benteng sekaligus menyelamatkan Korndorffer.¹

 

 

Aksi tersebut kemudian diakui sebagai tindakan keberanian luar biasa. Pemerintah Hindia Belanda menganugerahinya Militaire Willems-Orde, penghargaan militer tertinggi Kerajaan Belanda yang hanya diberikan kepada prajurit yang menunjukkan keberanian luar biasa di medan perang.¹

 

Kembali Berhadapan dengan Perlawanan Gayo

 

Setahun berselang, Sumampow kembali berada di garis depan.

Pada 20 Agustus 1902, pasukan Marsose melancarkan ekspedisi ke wilayah Gayo dengan sasaran sebuah posisi pertahanan di Boer Ind ni Rbroh.

Benteng alam di kawasan pegunungan itu diperkirakan dijaga sekitar 200 pejuang Gayo yang telah mempersiapkan pertahanan lengkap dengan persenjataan api.²

Serangan berlangsung cepat dan sengit. Lereng yang curam, hutan lebat, serta tembakan dari posisi tinggi membuat pasukan kolonial mengalami kesulitan besar. Dalam operasi itu, Sumampow kembali tampil sebagai salah satu prajurit yang disebut secara khusus dalam laporan resmi.

Posisi pertahanan akhirnya berhasil direbut. Namun kemenangan tersebut dibayar mahal. Sebanyak 12 anggota Marsose mengalami luka-luka, termasuk dua perwira, yakni Letnan Gerard Joan Henri van Steijn van Hensbroek dan Letnan Korndorffer perwira yang setahun sebelumnya pernah diselamatkan Sumampow di Batoe Hik.²

Sesudah pertempuran, pasukan menemukan 42 pejuang Gayo gugur dan dua lainnya terluka. Berbagai senapan, senjata tajam, serta persediaan logistik berupa karung-karung beras turut disita.

 

Letnan Gerard Joan Henri van Steijn van Hensbroek - kiri (Wikipedia)

Letnan Gerard Joan Henri van Steijn van Hensbroek – kiri (Wikipedia)

 

Dalam laporan resmi operasi itu, hanya empat nama yang secara khusus memperoleh pujian atas keberanian mereka, yakni Letnan Steijn van Hensbroek, Letnan Korndorffer, Sersan Ambon Pattiasina (No. 32097), dan Prajurit K. Sumampow (No. 44891).²

 

Ekspedisi yang Berakhir Tanpa Sasaran Utama

 

Meski berhasil merebut posisi strategis, tujuan utama operasi sebenarnya belum tercapai. Pasukan kolonial bermaksud mengejar Panglima Polem dan seorang tokoh yang dalam dokumen Belanda disebut sebagai Sultan Pretendent.

Namun, kondisi pasukan yang semakin berat membuat komandan memutuskan menghentikan pengejaran di wilayah Kenjbrbn. Banyaknya korban luka serta medan pegunungan yang belum dipetakan menjadikan operasi lanjutan terlalu berisiko.²

Perjalanan kembali menuju Lampahan menjadi ujian tersendiri. Para prajurit harus mengusung rekan-rekan mereka yang terluka melewati jalur berlumpur, lembah berkabut, dan tanjakan pegunungan. Empat prajurit yang mengalami luka berat meninggal dalam perjalanan.

Duka kembali datang ketika Letnan Steijn van Hensbroek wafat akibat luka-lukanya di Aloer Bro’ pada 31 Agustus 1902. Secara keseluruhan, laporan operasi mencatat sekitar 90 pejuang perlawanan gugur, tetapi Panglima Polim maupun Sultan Pretendent tetap berhasil menghindari penangkapan.²

 

Membaca Sejarah dalam Konteks Zamannya

 

Kisah K. Sumampow perlu dipahami dalam konteks politik Nusantara pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Saat itu Indonesia sebagai negara belum berdiri. Kepulauan Nusantara terdiri atas berbagai kerajaan, komunitas adat, dan wilayah yang memiliki hubungan politik berbeda-beda dengan pemerintah kolonial.

Minahasa merupakan salah satu wilayah yang sejak abad ke-17 menjalin hubungan politik dan militer dengan Belanda. Dari kawasan inilah pemerintah kolonial merekrut banyak pemuda menjadi serdadu profesional.

Sebaliknya, Aceh tetap mempertahankan perlawanannya terhadap ekspansi kolonial.

Karena itu, perang yang terjadi bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan bagian dari upaya Belanda menaklukkan wilayah-wilayah yang masih mempertahankan kedaulatannya.

Istilah “Sultan Pretendent” yang muncul dalam arsip Belanda juga mencerminkan sudut pandang kolonial. Sebutan tersebut digunakan pemerintah Hindia Belanda bagi tokoh yang diakui pendukungnya sebagai sultan, tetapi tidak diakui legitimasi politiknya oleh pemerintah kolonial.²

Lebih dari satu abad kemudian, nama K. Sumampow tetap menjadi bagian penting dari sejarah Minahasa. Keberaniannya tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa ia adalah seorang prajurit profesional pada zamannya.

Sementara itu, perjuangan rakyat Aceh dan Gayo juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme. Keduanya memperlihatkan kompleksitas sejarah Nusantara, ketika keberanian dapat hadir di kedua sisi medan perang.

 

Catatan Kaki

 

  1. L.F. van Gent, Nederland-Menado (1896–1921) (Batavia: Balai Poestaka, 1922), hlm. terkait mengenai K. Sumampow, operasi Batoe Hik, dan penganugerahan Militaire Willems-Orde.
  2. Gedenkboek van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onderhoorigheden, 1890–1940 (Batavia: Departement van Oorlog, 1940), bagian operasi Gayo, 20 Agustus 1902, laporan korban, daftar prajurit yang mendapat pujian, serta ekspedisi pengejaran Panglima Polem dan Sultan Pretendent.
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Walikota Manado Menolak Menyerahkan Toko

    Walikota Manado Menolak Menyerahkan Toko

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Augustine Magdalena Waworuntu merupakan salah satu perempuan yang memegang jabatan pemerintahan di Manado pada masa awal Republik Indonesia. Dalam tulisan “Augustine Magdalena Wawo Runtu (1899–1987),” Cora Vreede-de Stuers menyebutnya sebagai walikota perempuan pertama dalam sejarah Republik. Masa jabatannya berlangsung ketika Manado masih menghadapi pembangunan kembali sesudah perang dan persoalan penempatan bekas anggota militer. Sebelum menjadi […]

  • Nola Tilang (Koleksi surat kabar langka - Perpus Nasional Salemba 1984)

    Jejak Nola Tilaar: Dari Minahasa, Menyentuh Eropa, dan Menggema Lewat “Dansa Reggae”

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Dalam sejarah musik populer Indonesia era 1980-an, nama Nola Tilaar hadir sebagai bagian dari generasi penyanyi yang memperkaya warna musikal nasional di tengah perubahan selera publik. Meski tidak selalu ditempatkan di garis depan historiografi musik populer, jejak kariernya menunjukkan persinggungan menarik antara pengalaman internasional dan dinamika industri musik dalam negeri. Berbagai sumber biografis menyebut Nola […]

  • Waruga Turangwalelaki di Likupang (foto Jeffry Liando)

    Waruga Turangwalelaki, Arsip Batu dari Masa Ketika Minahasa Menyapa Dunia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Di pesisir utara Minahasa, tepatnya di kawasan Malompoy atau Maiompaoy, wilayah Minawanua Linekepan yang kini termasuk Kecamatan Likupang Timur, berdiri salah satu peninggalan megalitik paling unik di Sulawesi Utara. Waruga tersebut dikenal sebagai Waruga Turangwalelaki, sebuah kubur batu kuno yang tidak hanya menyimpan jejak budaya Minahasa, tetapi juga merekam perjumpaan awal masyarakat lokal dengan bangsa-bangsa […]

  • Pulau

    Pulau Lembeh, Surga Tersembunyi Para Pecinta Selam!

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • visibility 19
    • 0Komentar

    Selamat Datang di Pulau Lembeh! Halo, traveler! 🌴 Kalau kamu sedang mencari destinasi wisata yang tenang, alami, tapi tetap spektakuler, maka Pulau Lembeh adalah jawabannya. Terletak di sebelah timur Kota Bitung, Sulawesi Utara, Lembeh di kenal dunia sebagai salah satu surga diving terbaik—khususnya untuk penggemar muck diving! Apa Sih yang Bikin Pulau Lembeh Istimewa? Lembeh […]

  • Pantai Tumbak

    Pantai Tumbak, Surga Bahari di Minahasa Tenggara

    • calendar_month Minggu, 22 Jun 2025
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Lokasi dan Akses Menuju Pantai Tumbak   Pantai Tumbak berlokasi di Desa Tumbak, Kecamatan Posumaen, Minahasa Tenggara. Kamu bisa mencapai lokasi dari Manado dalam waktu sekitar tiga jam via darat. Setelah tiba di Desa Tumbak, kamu harus melanjutkan perjalanan dengan perahu lempar yang tersedia di dermaga setempat—itu hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja untuk […]

  • Ilustrasi penebangan pohon cengkih oleh prajurit VOC dan penduduk setempat di Kepulauan Utara, 1677.

    Ditanam, Dilarang, Ditebang: Polemik Cengkih di Utara, 1646–1677

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Ada satu klaim yang cukup sering muncul dalam tulisan sejarah Sulawesi Utara: Belanda menebangi pohon cengkih di Manado dan sekitarnya. Klaim itu perlu dibaca dengan lebih hati-hati. Bahwa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) menjalankan kebijakan pemusnahan pohon cengkih terbukti jelas. Pelaksanaannya juga terdokumentasi secara rinci di sejumlah pulau di kawasan utara. Namun, apakah penebangan yang sama […]

expand_less