Waruga Turangwalelaki, Arsip Batu dari Masa Ketika Minahasa Menyapa Dunia
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
- visibility 64
- comment 0 komentar
- print Cetak

Waruga Turangwalelaki di Likupang (foto Jeffry Liando)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di pesisir utara Minahasa, tepatnya di kawasan Malompoy atau Maiompaoy, wilayah Minawanua Linekepan yang kini termasuk Kecamatan Likupang Timur, berdiri salah satu peninggalan megalitik paling unik di Sulawesi Utara.
Waruga tersebut dikenal sebagai Waruga Turangwalelaki, sebuah kubur batu kuno yang tidak hanya menyimpan jejak budaya Minahasa, tetapi juga merekam perjumpaan awal masyarakat lokal dengan bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-16.
Berbeda dengan kebanyakan waruga di Minahasa yang menampilkan simbol-simbol kosmologi lokal, Waruga Turangwalelaki justru memperlihatkan relief dan ikonografi yang sangat asing bagi tradisi Austronesia.
Pada penutupnya terdapat pahatan figur manusia yang mengenakan pakaian bergaya Eropa, lengkap dengan baret, mantel, anjing pelacak, serta wajah-wajah berjanggut yang menyerupai pelaut Iberia.¹
Temuan tersebut menjadikan Waruga Turangwalelaki sebagai salah satu artefak penting dalam kajian hubungan awal antara masyarakat Minahasa dan para penjelajah samudra dari Portugis maupun Spanyol.
Turangwalelaki dan Munculnya Kekuasaan Pesisir
Dalam tradisi lisan masyarakat Tonsea, Turangwalelaki dikenal sebagai pemimpin besar yang memerintah kawasan pesisir Likupang pada abad ke-16. Namanya sering dikaitkan dengan berdirinya suatu entitas politik yang disebut “Ma-Esa”, yang berpusat di wilayah pesisir Tonsea.²
Istilah Turang Walelaki sendiri diyakini berasal dari bahasa lokal. Kata turang merujuk pada tiang atau garis keturunan, sedangkan wale laki berarti rumah besar atau rumah pemimpin.
Secara simbolis, nama tersebut menggambarkan seorang tokoh yang menjadi penyangga utama masyarakatnya.³
Dalam sejumlah sumber kolonial dan tradisi lokal, Turangwalelaki disebut menggunakan gelar Kolano, istilah yang lazim dipakai oleh penguasa Ternate dan Tidore.
Penggunaan gelar tersebut menunjukkan bahwa kawasan pesisir Minahasa pada masa itu telah terhubung dengan jaringan perdagangan dan diplomasi yang membentang dari Maluku hingga Filipina Selatan.⁴
Keterhubungan ini menjelaskan mengapa unsur-unsur budaya asing dapat hadir dan kemudian diabadikan dalam monumen megalitik lokal.
Jejak Bangsa Eropa pada Sebuah Waruga
Keunikan utama Waruga Turangwalelaki terletak pada ukiran yang menghiasi bagian penutupnya.
Kajian yang dilakukan oleh para peneliti kolonial Belanda serta analisis terhadap naskah Cerita Fernao de Magelhaes menunjukkan bahwa sejumlah relief pada waruga tersebut memiliki kemiripan kuat dengan ikonografi Eropa abad ke-16.⁵
Salah satu relief menggambarkan seorang tokoh mengenakan mantel panjang dan baret yang identik dengan pakaian pelaut Portugis dan Spanyol pada masa penjelajahan samudra.
Di sisi kanan dan kiri figur tersebut terdapat pahatan dua ekor anjing pemburu yang lazim menyertai bangsawan dan kapten kapal Eropa.
Pada bagian bawah penutup waruga juga ditemukan pahatan kepala manusia dengan ciri fisik Kaukasia, berjanggut melingkar (ring beard) dan mengenakan penutup kepala bergaya Iberia.
Beberapa laporan bahkan menyebut keberadaan simbol-simbol persenjataan serta bentuk salib yang memperlihatkan pengaruh awal Kekristenan sebelum kedatangan VOC.⁶
Bagi para sejarawan, relief-relief tersebut bukan sekadar dekorasi. Mereka merupakan bukti bahwa masyarakat pesisir Minahasa telah menjalin kontak langsung dengan dunia luar jauh sebelum dominasi Belanda di kawasan ini.
Arsip Batu yang Menantang Narasi Lama
Selama bertahun-tahun, sejarah Minahasa sering digambarkan sebagai sejarah masyarakat pegunungan yang relatif terisolasi. Namun Waruga Turangwalelaki menghadirkan narasi berbeda.
Artefak ini menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Tonsea merupakan bagian dari jaringan maritim internasional yang aktif.
Mereka tidak hanya menerima pengaruh asing, tetapi juga mengolah dan menafsirkannya menurut kerangka budaya lokal.
Dengan kata lain, pahatan bergaya Eropa pada waruga tersebut bukanlah simbol dominasi asing, melainkan representasi bagaimana seorang pemimpin lokal memanfaatkan simbol-simbol global untuk memperkuat legitimasi dan wibawanya di hadapan masyarakatnya sendiri.⁷
Tradisi Lisan tentang Pemindahan Waruga
Selain nilai arkeologisnya, Waruga Turangwalelaki juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Likupang melalui sebuah kisah yang terus dituturkan dari generasi ke generasi.
Menurut tradisi lisan masyarakat Minawanua Linekepan, waruga ini awalnya berada di lokasi aslinya di Malompoy.
Pada akhir dekade 1960-an, ketika Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur H.V. Worang menjalankan program penataan dan pemindahan waruga (mera waruga), sejumlah waruga kuno dari kawasan Likupang dipindahkan ke lokasi yang dianggap lebih aman.⁸
Ritual pemindahan dilakukan secara adat dan melibatkan para tonaas serta walian. Salah satu tokoh yang disebut dalam cerita masyarakat adalah Walian Nene Dora yang ketika itu masih hidup dan terlibat dalam prosesi adat.
Setelah sejumlah waruga berhasil dipindahkan, tibalah giliran Waruga Turangwalelaki.
Waruga tersebut diangkat secara gotong royong dari Malompoy, dibawa menyeberangi sungai menggunakan tenaga manusia, kemudian dimuat ke atas truk untuk melanjutkan perjalanan.
Namun dalam perjalanan menuju lokasi tujuan, truk yang mengangkut waruga mengalami kerusakan berat di kawasan antara Kokoleh dan Kaweruan.
Menurut cerita masyarakat, patahnya per dan baut utama kendaraan menyebabkan perjalanan terhenti selama beberapa hari.
Pada masa itu kondisi jalan menuju Likupang masih berupa jalan berbatu sehingga proses perbaikan berlangsung sangat sulit.⁹
Selama menunggu perbaikan kendaraan, para pekerja yang terlibat dalam pemindahan berkemah di sekitar lokasi. Tradisi lisan kemudian menuturkan bahwa satu per satu anggota rombongan jatuh sakit dan meninggal dunia.
Peristiwa ini dipercaya sebagai pertanda bahwa pemindahan Waruga Turangwalelaki tidak direstui oleh para leluhur.
Terlepas dari kebenaran historisnya yang sulit diverifikasi secara akademis, kisah tersebut masih sangat kuat hidup dalam memori masyarakat setempat hingga sekarang.
Mengapa Waruga Itu Tetap di Likupang?
Menurut cerita yang diwariskan para tetua kampung, setelah peristiwa tersebut muncul keinginan untuk mengembalikan waruga ke lokasi asalnya di Malompoy (Kampung Tua leluhur dikawasan Likupang).
Akan tetapi keadaan sungai yang sedang banjir membuat rencana tersebut tidak dapat dilaksanakan.
Melalui musyawarah adat yang melibatkan H.V. Worang dan para pemuka adat, diputuskan bahwa Waruga Turangwalelaki ditempatkan sementara di kompleks pekuburan keluarga Mantiri di Desa Likupang.
Namun tempat sementara itu kemudian menjadi lokasi permanen hingga saat ini.¹⁰
Tradisi lisan juga menyebut bahwa tidak seluruh bagian waruga berhasil dipindahkan. Empat buah patung pahatan yang dahulu menghiasi keempat sisi waruga disebut tertinggal dan tidak pernah dikembalikan ke tempat penyimpanan barunya.
Peristiwa yang diyakini memakan banyak korban tersebut kemudian dianggap sebagai akhir dari program mera waruga berskala besar yang berlangsung di kawasan Likupang.
Waruga yang Menjembatani Dua Dunia
Waruga Turangwalelaki merupakan contoh langka bagaimana artefak megalitik dapat menjadi titik temu antara sejarah, arkeologi, dan memori kolektif masyarakat.
Di satu sisi, waruga ini menyimpan bukti material mengenai hubungan awal Minahasa dengan dunia maritim global pada abad ke-16. Di sisi lain, keberadaannya juga dilingkupi kisah-kisah lisan yang terus hidup dalam ingatan masyarakat hingga hari ini.
Karena itu, Waruga Turangwalelaki bukan sekadar kubur batu kuno. Ia adalah arsip batu yang merekam perjumpaan budaya, perubahan politik pesisir Tonsea, dan keyakinan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Catatan Kaki
¹ Roderick C. Wahr (ed.), Cerita Fernao de Magelhaes, terjemahan dari tulisan Tjalie Robinson dalam majalah Tong-Tong (1966).
² Tjalie Robinson, Cerita Fernao de Magelhaes.
³ Jessy Wenas, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa (Manado: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, 2007).
⁴ dan dalam berbagai sumber sejarah kawasan Maluku dan Sulawesi Utara.
⁵ Roderick C. Wahr (ed.), Cerita Fernao de Magelhaes.
⁶ Oudheidkundig Verslag Dinas Kepurbakalaan Hindia Belanda, berbagai laporan dekade 1920–1930-an.
⁷ J.G.F. Riedel, “De Minahasa in 1825,” Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (1872).
⁸ Tradisi lisan masyarakat Minawanua Linekepan yang dituturkan oleh para tetua adat Likupang dan keluarga-keluarga pewaris sejarah lokal.
⁹ Tradisi lisan masyarakat Likupang mengenai peristiwa mera waruga pada akhir dekade 1960-an.
¹⁰ Tradisi lisan masyarakat Likupang serta kesaksian turun-temurun keluarga Mantiri mengenai penempatan Waruga Turangwalelaki di kompleks pekuburan keluarga Mantiri.
- Penulis: Moderator Malesung
