Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Mergel Putih di Langowan: Penemuan dan Percobaan pada 1862

Mergel Putih di Langowan: Penemuan dan Percobaan pada 1862

  • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
  • visibility 63
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 14 Juli 1862, E. V. J. Waersegers, arsitek yang menjalankan tugas sebagai insinyur kelas satu di Manado, telah menyampaikan keterangan mengenai kemungkinan adanya bahan-bahan mineral di Keresidenan Manado. Ia belum dapat memastikan bahwa wilayah keresidenan yang luas itu tidak memiliki jenis mergel penting lain atau bahan pengganti yang cocok dijadikan pozolan. Keterangan tersebut kemudian dilanjutkan setelah ia melakukan pemeriksaan lain di Distrik Langowan, Afdeling Tondano. Dalam pemeriksaan itulah Waersegers menemukan suatu jenis mergel yang kemudian dilaporkannya secara khusus.

Waersegers menyusun laporan lanjutan di Manado pada 8 September 1862. Mergel yang ditemukan di Langowan digambarkannya menyerupai kaolin atau tanah porselen Cina. Warnanya putih, sedangkan sifatnya lunak dan terasa berlemak ketika disentuh. Bahan itu tidak larut di dalam air, tetapi dapat bercampur dengan air dalam segala perbandingan. Apabila terkena asam, bahan tersebut menimbulkan buih. Ketika dibakar, penyusutannya hanya sedikit dan warnanya tetap hampir putih.

Beberapa percobaan yang dilakukan Waersegers memberikan hasil yang dinilainya baik. Hasil itu mendorongnya mengirimkan sebuah peti penuh mergel Langowan. Pengiriman tersebut dimaksudkan agar Direktur Pekerjaan Umum Sipil dan pengurus Perkumpulan Ilmu Alam di Hindia Belanda dapat melakukan percobaan serta pengerjaan kimia terhadap bahan itu. Di bagian atas peti, ia juga menempatkan sebuah kotak kecil berisi sejumlah contoh bahan dan benda hasil percobaannya.

Paket bernomor 1 berisi dua bola kecil yang dibuat dari satu bagian mergel yang telah dibakar dan satu bagian kapur koral seperti contoh bernomor 2. Campuran itu dijadikan adonan menggunakan air sungai. Kedua bola kemudian ditempatkan dalam gelas minum yang diisi air sungai bersih. Menurut laporan Waersegers, bola-bola tersebut sudah mengeras dalam waktu lima puluh menit. Empat jam kemudian, keduanya melekat begitu kuat pada dasar gelas yang licin sehingga ia harus menggunakan tenaga untuk melepaskannya.

Waersegers menulis bahwa pembentukan ikatan kimia di bawah air yang begitu cepat dan sempurna belum pernah diketahuinya, bahkan pada campuran semen dan pozolan yang sangat kuat. Ia juga membuat bola-bola lain menggunakan bahan yang sama, kemudian meletakkannya di dasar sungai yang airnya mengalir. Bola-bola itu disebut mengeras dengan cepat dan sempurna. Mergel tersebut dibakar sendiri oleh Waersegers di dalam sebuah krus lebur dari Hessen. Ia juga membakar koral murni yang dijadikan contoh bernomor 4 dan menghasilkan kapur seperti contoh bernomor 2.

Bola bernomor 5 dibuat seperti kedua bola dalam paket pertama. Waersegers mencampurkan satu bagian mergel bakar yang sama dengan satu bagian kapur koral lama yang telah dipadamkan, seperti contoh bernomor 3. Ke dalamnya ditambahkan seperempat bagian pasir laut seperti contoh bernomor 6, lalu seluruh bahan dijadikan adonan menggunakan air laut. Bola itu diletakkan di bawah air sungai dan mengeras dalam waktu satu setengah jam. Dua jam kemudian, Waersegers dapat menggulingkannya di atas lantai batu tanpa membuatnya pecah.

Percobaan berikutnya dilakukan terhadap sebagian mergel bakar yang telah dijadikan bubuk. Bubuk itu ditaruh di dalam sebuah gelas dengan sedikit air tanpa dicampur kapur atau bahan lain. Pada hari berikutnya, bahan tersebut telah kering dan mengeras karena airnya terserap. Waersegers juga melakukan pemeriksaan mengenai susunannya, tetapi ia sendiri menyebut pemeriksaan itu tidak sempurna. Dalam laporan dicantumkan tanah silika, alumina, magnesium karbonat, kapur karbonat, air, dan kehilangan sebagai bagian-bagian yang diperiksa.

Baik dalam keadaan telah dibakar maupun belum dibakar, tanah tersebut melekat pada lidah. Menurut Waersegers, daya lekatnya bahkan lebih kuat daripada tanah liat pipa dari Gouda. Ia membandingkannya dengan sebuah pipa Gouda baru yang ditumbuk hingga menjadi bubuk. Meskipun demikian, bubuk pipa itu tidak memiliki sifat hidraulis seperti tanah dari Langowan. Laporan tersebut ditandatangani Waersegers dalam kedudukannya sebagai arsitek yang sementara menjalankan tugas insinyur kelas satu.

Laporan Waersegers dibicarakan dalam rapat pengurus Perkumpulan Ilmu Alam yang diselenggarakan pada 22 November 1862. Pengurus memutuskan bahwa pemeriksaan lanjutan terhadap mergel tersebut akan ditentukan setelah peti berisi contoh-contohnya diterima oleh pengurus. Terbitan yang sama kemudian mencatat Waersegers sebagai anggota biasa perkumpulan tersebut dan menyebut kedudukannya sebagai arsitek sekaligus pejabat sementara insinyur kelas satu di Manado.

Berdasarkan pengujian yang ia lakukan (akui masih belum sempurna), jenis tanah margel ini terdiri dari:

  • Kiezelaarde (Silika / Asam Silisat)
  • Aluinaarde (Alumina / Aluminium Oksida)
  • Koolzure magnesia (Magnesium Karbonat)
  • id. kalk (Kalsium Karbonat / Kapur Karbonat)
  • Water (Air)
  • Verlies (Penyusutan / Residu Terbuang)

Beberapa tahun kemudian, Graafland mencatat keberagaman bahan mineral dan jenis tanah di Minahasa. Ia menyebut tanah liat murni, campuran tanah liat dengan kapur atau pasir, tanah gambut, pasir berlumpur di dataran rendah, serta lapisan humus. Graafland juga mencatat sejenis tanah pipa atau kapur yang terbentuk dari trakit terbakar dan tanah liat di sekitar mata air mendidih dan tempat-tempat yang sangat vulkanis. Bahan itu ditemukan dalam warna merah, kuning, dan putih.

Menurut keterangan Graafland, jenis yang berwarna putih digunakan untuk mengapur rumah. Ia juga mencatat penilaian seorang pengawas pekerjaan air di Manado bahwa bahan tersebut cocok untuk menghasilkan semen yang sangat baik dan dapat dipakai membuat pasangan batu yang kokoh, bahkan di bawah air. Dalam bagian yang sama, Graafland menyebut keberadaan balok-balok trakit, batu sabak, kristal gunung putih tembus cahaya menyerupai alabaster, batu pasir, serta pasir kasar dan halus dengan warna hitam, kuning, atau putih. Graafland tidak menyebut nama pengawas itu maupun menyatakan secara langsung bahwa catatannya merujuk kepada contoh dari Langowan. Ia menutup bagian tersebut dengan menyatakan perlunya pemeriksaan lebih lanjut oleh seorang ahli terhadap kekayaan mineral Minahasa.

Referensi:

Graafland, N. De Minahassa, haar verleden en haar tegenwoordige toestand. Jilid II. Rotterdam: M. Wijt & Zonen, 1867.

Koninklijke Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indië. Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië. Deel XXV. Batavia–’s-Gravenhage: H. M. van Dorp–Martinus Nijhoff, 1863.

Waersegers, E. V. J. “Over het voorkomen eener mergelsoort in het distrikt Langowang, residentie Menado.” Dalam Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, Deel XXV, 376–378. Batavia–’s-Gravenhage: H. M. van Dorp–Martinus Nijhoff, 1863.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Mayjen Hein Victor Worang, Pahlawan dari Sulawesi Utara yang Berjasa

    Mayjen Hein Victor Worang, Pahlawan dari Sulawesi Utara yang Berjasa

    • calendar_month Sabtu, 30 Mar 2024
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Hein Victor Worang, yang akrab disapa “Kembie”, lahir di Tontalete, Tonsea, Minahasa Utara, pada 12 Maret 1919. Ia dikenal sebagai tokoh militer dan politik Indonesia yang memiliki peran besar dalam perjuangan dan pembangunan daerah Sulawesi Utara. Worang mencatat sejarah sebagai putra Sulawesi Utara pertama yang meraih pangkat Jenderal TNI AD bintang satu pada Januari 1965 […]

  • Rumah Sakit Pembantu di Sonder dan Tomohon

    Rumah Sakit Pembantu di Sonder dan Tomohon

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Sonder Pelayanan kesehatan yang dilakukan kalangan zending di Minahasa telah berlangsung sebelum berdirinya rumah sakit pembantu. J. W. Gunning, dalam tulisannya De Protestantsche Zending in de Minahassa tahun 1924, mencatat bahwa para zendeling di Minahasa berusaha memberikan bantuan medis kepada penduduk. Gunning menghubungkan pendirian sebuah hulpziekenhuis atau rumah sakit pembantu dengan tahun 1906. Tetapi dalam […]

  • Pemandangan Kota Manado 1910

    Pemandangan Kota Manado 1910

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Rede van Menado, gezien vanaf de Wenangheuvel.   Sumber: KITLV – http://hdl.handle.net/1887.1/item:804759

  • Ilustrasi

    Jejak Daniel Rotinsulu: Putra Tonsea di Medan Perang Jawa

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Di tengah berkecamuknya Perang Jawa (1825–1830), pemerintah kolonial Hindia Belanda menghadapi krisis besar. Perlawanan yang dipimpin Pangeran Diponegoro menguras kas negara, memakan ribuan korban, dan memaksa Batavia mencari bala bantuan hingga ke wilayah-wilayah terluar Nusantara. Dari Minahasa, lahirlah sebuah kontingen yang kemudian dikenang dalam sejarah sebagai Pasukan Tulungan. Di antara para pemimpinnya, nama Kapitein Daniel […]

  • Bartram Bichon, Residen Manado 1706–1710 (ilustrasi)

    Peradilan yang Gagal, Rakyat yang Melawan: Membaca Krisis Minahasa dari Memorie 1710

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Historiografi Minahasa awal abad ke-18 mencatat satu fase krisis yang tidak hanya dipicu oleh konflik bersenjata, tetapi juga oleh kegagalan sistem hukum itu sendiri. Dalam karya Geschiedenis van de Minahassa tot 1829, tergambar jelas bagaimana runtuhnya wibawa peradilan adat menjadi salah satu akar instabilitas di wilayah tersebut. Gubernur Maluku, Jacob Claesz, melalui laporan Memorie van […]

  • Manado Setelah 30 September 1965: Dari Aksi 7 Oktober hingga Pembersihan PKI dalam Catatan CIA dan Sejarah Kota Manado

    Manado Setelah 30 September 1965: Dari Aksi 7 Oktober hingga Pembersihan PKI dalam Catatan CIA dan Sejarah Kota Manado

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Pada pertengahan 1960-an, kehidupan politik Kota Manado berlangsung di tengah persaingan sejumlah partai. Dalam Sejarah Kota Manado 1945–1979, F.E.W. Parengkuan, L.Th. Manus, Rino S. Nihe, dan Djoko Suryo mencatat bahwa pada periode 1961–1971 terdapat sejumlah partai politik yang memiliki cabang dan aktivitas di kota ini. Di antara yang paling menonjol adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), […]

expand_less