Pilihan
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Manado, Nama yang Berlayar dari Peta Dunia: Jejak Portugis, Spanyol, dan VOC di Tanah Wenang

Manado, Nama yang Berlayar dari Peta Dunia: Jejak Portugis, Spanyol, dan VOC di Tanah Wenang

  • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
  • visibility 162
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jauh sebelum menjadi ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, nama Manado sudah tercatat dalam buku cetak Lisabon, surat-surat Jesuit, korespondensi gubernur Spanyol, dan catatan harian Kompeni.

Jejak itu sering diceritakan ulang dengan mencampur tiga hal: tahun peristiwa, tahun dokumen ditulis, dan tahun dokumen dicetak. Tulisan ini menelusuri nama Manado hanya melalui sumber yang alamatnya dapat diperiksa, dan memisahkan ketiga lapis waktu itu.

1523: Gugusan Yang Dilihat Dari Laut

Sebutan tertua menurut tahun peristiwa terdapat dalam Tratado karya António Galvão, yang dicetak di Lisabon pada 15 Desember 1563. Buku itu menulis tahun tanpa angka ribuan. Galvão menceritakan bahwa pada Mei “523” Kapten Maluku António de Brito mengutus sepupunya, Simão d’Abreu, mencari jalan dari Borneo ke Malaka.

Dalam pelayaran itu rombongan melihat “ylhas de Manada Panguensara“. Mereka lalu melewati selat Dantreminao, Taguina, kepulauan São Miguel pada 7° lintang utara, Borneo, Pedra Branca, dan Selat Singapura sebelum tiba di Malaka.[1]

Kata kerjanya menentukan. Untuk Manada, Galvão memakai houveram vista (mendapat pandangan), kata yang juga ia pakai untuk Pedra Branca, karang penanda arah yang mustahil didarati. Hanya untuk Malaka ia memakai ungkapan tiba di kota. Jadi yang tercatat untuk 1523 adalah penampakan dari laut, bukan pendaratan. Cetakan ulang tahun 1731 memuat kalimat yang sama dan tetap menulis “523”.[2]

Galvão menjabat kapten benteng Ternate pada 1536–1540 dan wafat pada 1557, sehingga bukunya terbit sesudah ia meninggal.

Soal makna, manada memang kata benda Iberia yang berarti kawanan. Kata itu bahkan muncul dalam korpus misi, misalnya dalam surat Francisco Peres dari Malaka tahun 1548 (“manadas de la gentilidad“).[3] Namun pada Galvão, Manada berdiri dalam deret nama tempat sebuah rute, sejajar dengan Panguensara, Dantreminao, dan Taguina. Kedudukan itu membuatnya terbaca sebagai nama tempat yang ditulis menurut pendengaran, bukan sebagai terjemahan.

1556: Seorang Raja Bernama Menurut Negerinya

Dokumen bertarikh tertua yang menyebut Manado adalah surat yang ditandatangani Padre Baltasar Dias SJ di Malaka pada 19 November 1556. Keterangannya berasal dari para Jesuit yang baru tiba dari Maluku. Di antara bangsa-bangsa yang belum mendapat pengajar, surat itu menyebut “huma gente, que se chamão Selebes“. Di sana ada seorang raja Kristen yang disebut “El-Rei do Manado“.[4]

Kalimat ini mengubah cara membaca seluruh riwayat nama. Manado tidak pertama kali muncul sebagai sebutan pelaut untuk ruang laut yang kabur. Ia muncul sebagai nama sebuah negeri yang punya raja. Kata “Selebes” di sini pun masih nama suatu kaum, belum nama pulau.

1563: Surat Pertama Yang Ditulis Di Manado

Tulisan pertama yang lahir di Manado adalah surat Padre Diogo de Magalhães SJ, yang ditutup “Do Manado, a 28 de Julho de 1563“. Surat itu tersisip utuh dalam surat Pero Mascarenhas dari Ternate bertanggal 10 Februari 1564. Ia terbit dalam suntingan Hubert Jacobs dan suntingan Artur Basílio de Sá; keduanya satu dokumen dalam dua edisi.[5]

Magalhães berangkat mendahului armada Ternate di bawah Kaicil Guzarate, yang sedang mengislamkan pesisir Sulawesi Utara dengan paksa.[6]

Menurut suratnya, raja Manado dibaptis beserta sekitar 1.500 jiwa sesudah lima belas hari pengajaran. Raja Siau, yang kebetulan sedang berada di Manado, ikut dibaptis di sana. Magalhães menyebut Manado “a principal cabeça de todo o Celebe“, kepala utama seluruh Celebes.[7]

Dari Pulau Ke Daratan

Sepanjang abad ke-16, para penulis Portugis menempatkan Manado di sebuah pulau. Mascarenhas, dalam suratnya dari Ternate tanggal 6 Maret 1569, mencatat kedatangan perahu “dos Celebes da ilha do Manado, que he christã“. Surat yang sama membedakan pulau itu dari “ilha dos Cellebes“.[8]

Laporan Antonio Marta tahun 1588 menulis bahwa Magalhães berkhotbah “na ilha de Manado“.[9] Sebuah surat dari Ambon tahun 1597 masih membedakan pesisir pulau Selebes dari “la isla de Manado“.[10]

Kata ilha/isla dalam korpus ini dipakai longgar; Kaidipang, yang terletak di daratan, pun disebut isla. Karena itu bobot buktinya terletak pada pembedaan yang dibuat para penulis, bukan pada kata itu sendiri.[11]

Dokumen Spanyol awal abad ke-17 memperlihatkan pergeseran. Pada 26 Juli 1606, Maestre de Campo Juan de Esquivel di Ternate menyurati beberapa raja Sulawesi Utara, di antaranya “Tululio rrey de Menado“.[12] Pada 21 Juni 1616, raja itu sendiri menulis kepada Gubernur Gerónimo de Silva dan menandatangani diri “Cachiltulo, rey de Manados“.[13]

Dua tahun kemudian, sebuah surat Jesuit dari Ternate tertanggal 12 Mei 1618 menempatkan “reyno de Manados” di Pulau Matheus, “la qual va continuando por terra firme hasta Maquasar“. Laporan tahunan Manila 1619 menegaskannya: Manados “es continente con la de Macaçar“.[14]

Jadi, antara 1597 dan 1618, nama Manado dalam tulisan Iberia sudah melekat pada kerajaan di daratan lengan utara Sulawesi. Nama itu mengikuti kerajaannya.

Rumusan serupa terdapat dalam riwayat Fray Blas Palomino OFM yang dihimpun Francisco de Bilches pada 1653. Di situ Kerajaan Manados disebut berada di pulau Makassar, “al principio de la tierra“. Palomino sendiri wafat pada 10 Maret 1620.[15]

Tahun 1623 Dan Dua Dasawarsa Sesudahnya

Tanggal 14 Juli 1623 diperingati sebagai hari jadi Kota Manado. Namun tidak ada dokumen sezaman yang mencatat pemindahan pusat pemerintahan kolonial dari pulau ke daratan pada tahun itu, dan dokumen yang ada justru menggambarkan keadaan sebaliknya.

Pada paruh kedua 1620, Visitador Jesuit Manuel de Azevedo melaporkan bahwa Gubernur Spanyol Luis de Bracamonte hendak menarik semua orang Spanyol dan padri dari Manado. Penyuntingnya mencatat bahwa penarikan itu benar-benar dilaksanakan.[16]

Kehadiran misi berikutnya baru berdokumen pada 1637.[17] Pada 1623, dengan demikian, tidak ada pemerintahan Spanyol di Manado yang dapat dipindahkan.

Hubungan dengan orang asing tidak selalu damai. Katalog Fransiskan susunan Félix de Huerta mencatat bahwa Fray Lorenzo Garralda OFM ditombak dan dipenggal ketika berkhotbah di negeri Cale, dalam “pequeño reino de Manados“, pada 13 Februari 1642. Delapan hari kemudian jenazahnya ditebus beberapa orang Spanyol dan dibawa ke Manila.[18]

Kerajaan itu tetap bertahan. Laporan tahunan Jesuit tahun 1645 mencatat bahwa raja Manado beragama Kristen, bernama Dom Fernando, dengan sekitar lima ratus orang Kristen dari kalangan pemuka kerajaan.[19]

Kompeni di Manado

Dalam Dagh-Register Kompeni, Manado tampak sebagai pos kecil yang dipertahankan karena beras. Pada Juli 1664 dilaporkan bahwa penanaman padi di Manado belum dianggap tanpa harapan, “dies is de besetting aldaer noch gecontinueert“.[20]

Laporan dari Ternate tanggal 4 Oktober 1665 mencatat penyerahan padi di Manado dan menyebut Koning Loloda di Amurang. Laporan yang sama mencatat bahwa raja dan para kepala menghendaki sebuah redut batu dengan gudang padi, “in plaetse van de houte vesting ende logie“. Resolusi 30 Desember 1665 menyetujui permintaan itu.[21]

Jadi benteng batu di Manado lahir dari permintaan penguasa setempat, dan tujuannya menyimpan beras.

Kontrak 1679 dan 1699

Kontrak 10 Januari 1679, yang disusun Robertus Padtbrugge, mendaftar lebih dari dua puluh negeri, termasuk Manado, Aris, Bantik, dan Klabat.

Namun yang membubuhkan tanda hanya juru bahasa Bastiaan Saway, hakim Maondy, serta kapitan Pacat Soepit dan Pedro Ranty. Alasannya dinyatakan dalam teks itu sendiri: bangsa-bangsa tersebut tidak mengenal tulisan.[22]

Kontrak pembaruan 10 September 1699 mencantumkan wakil tiap negeri, dan untuk Manado tercatat David Liaha.[23]

Raja Manado pada masa itu, Loloda, tidak turut menandatangani. Laporan Pendeta Jacobus Montanus tahun 1675 sudah menyebutnya raja yang hanya bergelar raja dalam nama.[24]

Tak lama sesudah kontrak 1679, Loloda bergabung dalam pemberontakan Sultan Sibori dari Ternate.[25]

Wenang Dalam Arsip Dan Dalam Tradisi

Dalam dokumen abad ke-16 dan ke-17 yang dikutip di sini, nama Wenang tidak muncul. Kedua kontrak Kompeni menyebut Manado sebagai negeri tersendiri, tetapi tidak menyebut Wenang.[22][23]

Montanus pada 1675 menyebut tiga negeri di sekitar Fort Amsterdam, yaitu Aris, Bantik, dan Clabbat. Ia juga menamai sungai yang bermuara sekitar empat ratus langkah di utara benteng “Menangelabo“.[24]

Wenang tampil terutama dalam tradisi yang dicatat pada abad ke-19. Dalam hikayat yang dihimpun J.G.F. Riedel (1862), orang asing kulit putih yang disebut Tasikelah atau Kastejla pertama kali berlabuh di “perlabohan Kimah”.

Sisa penduduk pulau Babontehu lalu datang membawa tanda persahabatan dan menghantar mereka ke pelabuhan yang lebih baik di “Tumpa-an Wenang“, di sebelah barat dataran atau sungai Wenang. Sesudah berulang kali diusir Pakasa-an Tounbuluh dari pedalaman, orang Kastejla bertempat di pesisir Wenang. Tempat itu kemudian menjadi pelabuhan singgah perahu Sangihe, Ternate, dan pendatang lain.[26]

N. Graafland menerbitkan dua hikayat Melayu, dengan pengantar bertanggal Tanawangko, 5 Juli 1867. Menurut Graafland, hikayat itu disusun beberapa tahun sebelumnya oleh seorang Manado terpelajar yang tidak disebut namanya. Isinya dapat diringkas begini:

  • Leluhur orang Manado datang dari Batjan dan menetap di pulau Babontehu.
  • Mereka biasa memancing di “djiko Benang“.
  • Mereka pindah ke “tanah benang” sesudah yaki yang dilepas orang Bolaang Mongondow merusak tanaman. Dalam terjemahan Belandanya, Graafland menulis nama itu Wenang.
  • Hikayat ditutup dengan enam orang Babontehu yang menuntun sebuah kapal Kompeni ke Wenang. Sesudah itu pulau Babontehu diberi nama “Manado Tuwa“, yang “terpakej sampej kapada harij-harij ini“.

Graafland juga mencatat bahwa bahasa “oud-Manadosch“, yang pada masanya hanya dikenal samar oleh segelintir orang, paling mirip bahasa Sangir.[27]

Kedua tradisi memuat motif yang sama, yakni orang Babontehu menuntun kapal asing ke Wenang; hanya kapalnya yang berbeda. Keduanya juga menempatkan Wenang di pesisir daratan. Menurut hikayat Graafland, sebutan Manado Tua bagi pulau itu lahir kemudian.

Manaroh: Sebuah Penjelasan Dari Abad Ke-19

Tradisi Riedel juga menawarkan penjelasan tentang nama kota. Pelabuhan di Tumpa-an Wenang dinamai “Winaror atawa Pahawinaroran ni Tasikelah“, yang kemudian “mendjadi Manaroh sampej pada harij-harij ini“. Orang Babontehu yang menetap di pantai sebagai penuntun orang Kastejla lalu ikut menyandang nama itu di mata penduduk daratan.[26]

Rumusan “pahawinaroran ni Tasikela” muncul lagi dalam tulisan Riedel tahun 1869.[28] Dengan demikian, pada pertengahan abad ke-19 sudah terekam bentuk setempat Manaroh, sekaligus sebuah kisah tentang asal-usulnya.

Kisah itu sukar didamaikan dengan dokumen. Nama Manada sudah tercetak untuk peristiwa 1523, dan seorang raja Manado sudah tercatat pada 1556, jauh sebelum kehadiran Spanyol di Sulawesi Utara yang berdokumen sejak 1606. Semua bentuk tertulis tertua juga memakai huruf d: Manado (1556, 1563), Manada (1563), Menado (1606), dan Manados (1614–1619). Tradisi Riedel karena itu bernilai sebagai rekaman bentuk Manaroh dan sebagai ingatan setempat tentang kedatangan orang asing. Ia belum dapat dijadikan bukti asal nama.

Penutup

Dokumen sezaman tidak mendukung gagasan bahwa Manado adalah nama buatan pelaut Eropa.

Sejak 1556, yang mereka rekam adalah nama sebuah kerajaan setempat beserta rajanya. Pelayaran, misi, dan kolonialisme tidak melahirkan nama itu; yang mereka bentuk adalah perjalanannya.

Mula-mula ia nama negeri yang oleh penulis Portugis ditempatkan di pulau. Lalu ia menjadi kerajaan di daratan dalam surat-surat Spanyol. Akhirnya ia menjadi pos beras dan benteng batu yang diminta penguasanya sendiri, yang kelak tumbuh menjadi kota.

Catatan kaki

  1. António Galvão, Tratado que compôs o nobre & notauel capitão Antonio Galuão… ([Lisboa]: em casa de Ioam da Barreira, 1563), fol. 48v; faksimile di Biblioteca Nacional Digital, purl.pt/15321.
  2. António Galvão, Tratado dos Descobrimentos Antigos, e Modernos, feitos até a Era de 1550 (Lisboa Occidental: Officina Ferreiriana, 1731), hlm. 61.
  3. Surat Francisco Peres, Malaka, 4 Desember 1548, dalam Artur Basílio de Sá (ed.), Documentação para a História das Missões do Padroado Português do Oriente: Insulíndia, vol. I (Lisboa: Agência Geral do Ultramar, 1954), dok. 77, hlm. 585–586.
  4. Surat Baltasar Dias SJ kepada para Jesuit di Portugal, Malaka, 19 November 1556, dalam Sá, Insulíndia, vol. II (1955), dok. 38, hlm. 233–272, di sini hlm. 267; juga Hubert Jacobs SJ (ed.), Documenta Malucensia I (Roma: IHSI, 1974), D 63 §44, hlm. 202.
  5. Surat Pero Mascarenhas SJ, Ternate, 10 Februari 1564, yang memuat surat Diogo de Magalhães, Manado, 28 Juli 1563: DM I, D 125, hlm. 412–420 (penutup surat Magalhães hlm. 416); Sá, Insulíndia, vol. III (1955), dok. 8, hlm. 64–73.
  6. DM I, D 125 §2–5 dan catatan 13.
  7. DM I, D 125 §6, §10 (hlm. 415), dan catatan 11 hlm. 414.
  8. Surat Pero Mascarenhas SJ, Ternate, 6 Maret 1569, DM I, D 162 §2 (hlm. 530), §16 (hlm. 538), §18 (hlm. 539).
  9. Antonio Marta SJ, [Tidore, April] 1588, dalam Jacobs (ed.), Documenta Malucensia II (Roma: IHSI, 1980), D 73 §44, hlm. 261.
  10. DM II, D 114 (Ambon, 13 Mei 1597), hlm. 439.
  11. Jacobs (ed.), Documenta Malucensia III (Roma: IHSI, 1984), hlm. 674.
  12. Relación Juan de Esquivel, Ternate, 3 Mei 1606 – 31 Maret 1607, §15, ditranskripsi dalam Pablo Pastells SJ (ed.), Francisco Colín SJ, Labor evangélica, jil. III (Barcelona: Henrich y Compañía), hlm. 63–64.
  13. “Carta de Cachiltulo, rey de Manados, á don Gerónimo de Silva”, 21 Juni 1616, dalam Colección de documentos inéditos para la historia de España, t. LII (Madrid: Viuda de Calero, 1868), hlm. 372.
  14. DM III, D 83 (Cochin, 10 Desember 1616), hlm. 312; D 102 §2 (Ternate, 12 Mei 1618), hlm. 363; D 113 (Manila, 12 Juli 1619), hlm. 396.
  15. Francisco de Bilches SJ, Santos y santuarios del obispado de Iaen y Baeza (Madrid, 1653), Parte I, cap. LXVIII–LXIX, hlm. 218–223.
  16. Surat Manuel de Azevedo SJ kepada André Palmeiro, [Ternate, paruh kedua 1620], DM III, D 122, hlm. 430–431 dan catatan 6.
  17. Surat Juan López kepada Diego de Bobadilla, Cavite, 23 Juli 1637, DM III, D 151, hlm. 506–507.
  18. Félix de Huerta OFM, Estado geográfico, topográfico, estadístico, histórico-religioso de la santa y apostólica provincia de S. Gregorio Magno (Binondo: Imprenta de M. Sánchez y Compañía, 1865), hlm. 404–405.
  19. DM III, hlm. 549 (laporan tahunan 1645).
  20. J.A. van der Chijs (ed.), Dagh-Register gehouden int Casteel Batavia… Anno 1664 (Batavia: Landsdrukkerij; ‘s-Hage: M. Nijhoff, 1893), hlm. 289 (22 Juli).
  21. Dagh-Register… Anno 1665 (Batavia: Landsdrukkerij; ‘s-Hage: M. Nijhoff, 1894), hlm. 292 (4 Oktober) dan 417 (30 Desember).
  22. J.E. Heeres & F.W. Stapel (ed.), Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum III (1934), dok. CDXXV, hlm. 173–176.
  23. F.W. Stapel (ed.), Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum IV, dok. DCVI, hlm. 161–167.
  24. Laporan Jacobus Montanus, Ternate, 17 November 1675, dalam François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, ed. S. Keijzer, jil. I (Amsterdam: Wed. J.C. van Kesteren & Zoon, 1862), hlm. 565–567.
  25. David Henley, “A Superabundance of Centers: Ternate and the Contest for North Sulawesi”, Cakalele 4 (1993), hlm. 39–60.
  26. J.G.F. Riedel, Inilah pintu gerbang pengatahuwan itu…, bahagijan kalima (Batavia: Landsdrukkerij, 1862), hlm. 49–53.
  27. N. Graafland, “De Manadorezen”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 3e volgreeks, deel III [= deel XV], hlm. 382–393: keterangan penyusun dan bahasa oud-Manadosch (hlm. 384); pengantar bertanggal Tanawangko, 5 Juli 1867 (hlm. 385); “Permulaan Hikajet Distrikt Manado itu” (hlm. 385–387, terjemahan hlm. 387–389); “Hikajet bagimana awrang Babontehu sudah meninggalkan puloh Babontehu” (hlm. 390–391, terjemahan hlm. 391–393).
  28. J.G.F. Riedel, “Het oppergezag der vorsten van Bolaang over de Minahasa”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde XVII (1869), hlm. 506 dan catatan 3.
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Hikayat Leluhur Suku Tountemboan dan Penyebarannya di Tanah Minahasa

    Hikayat Leluhur Suku Tountemboan dan Penyebarannya di Tanah Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Di tanah Minahasa yang subur dan dikelilingi pegunungan, hidup kisah-kisah tua tentang perjalanan para leluhur yang membuka kampung, membagi wilayah, dan menurunkan keturunan yang kemudian menjadi bagian dari masyarakat Tountemboan. Cerita ini diwariskan turun-temurun sebagai pengingat tentang asal-usul, persaudaraan, dan perpindahan besar para pendiri walak di Minahasa. Konon, pada masa ketika manusia masih mencari tempat […]

  • Frans Sumampouw Watuseke

    Tondano Dan Bukan Toulour

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Tondano, kota yang terkenal di pusat wilayah Minahasa di Sulawesi Utara, terletak di sisi utara Danau Tondano di dataran tinggi Tondano. Kota ini telah menjadi ibu kota Kabupaten Minahasa sejak Juni 1962. Penduduknya adalah masyarakat penutur bahasa Tondano yang termasuk dalam kelompok etnolinguistik Tondano. Kelompok ini tidak hanya mendiami kota Tondano, tetapi juga wilayah barat […]

  • Waruga atau makam Sahiri Supit Kepala Walak Tombariri, ayah dari Tololiu Supit di Woloan (1910-1930 KITLV/Xuki Media)

    Dinamika Kekuasaan Tololiu Supit di Manado Tahun 1739

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Di balik hubungan dagang antara VOC dan Minahasa pada abad ke-18, tersimpan sebuah proyek politik kolonial yang jauh lebih besar: pengendalian struktur kekuasaan lokal. Bagi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), stabilitas produksi dan distribusi hasil bumi tidak mungkin tercapai tanpa pengawasan langsung terhadap para pemimpin pribumi. Karena itu, kompeni tidak hanya membangun benteng dan jalur perdagangan, […]

  • Kebun Kopi Tondano 1847

    Kebun Kopi Tondano 1847

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Pemandangan daerah Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) dengan perkebunan kopi nya baru dibuka pada tahun 1847. Sumber: Weekblad voor Indie, 1912. Koleksi Perpustakaan Nasional RI (Atk)

  • Sejarah Singkat Desa Tanamon Minahasa

    Sejarah Singkat Desa Tanamon Minahasa

    • calendar_month Minggu, 5 Jan 2025
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Desa Tanamon memiliki asal-usul dari bahasa Bantik, di mana kata “Tanamon” berarti “tanaman kami.” Pada pertengahan abad ke-18, wilayah ini sudah menjadi tempat pemukiman yang dihuni oleh dua suku utama, yakni suku Bantik dan Mongondow. Sebagian besar penduduk pada masa itu mengandalkan mata pencaharian sebagai pembuat garam dan nelayan. Pada tahun 1886, Tanamon telah menjadi […]

  • S. J. Warouw (Semuel Jusof Warouw) – Tokoh Minahasa di Pusaran Negara Indonesia Timur

    S. J. Warouw (Semuel Jusof Warouw) – Tokoh Minahasa di Pusaran Negara Indonesia Timur

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Prof. Dr. Semuel Jusof Warouw (1900–22 Oktober 1983) adalah seorang dokter spesialis mata (oftalmolog), akademisi, dan politisi asal Minahasa, Sulawesi Utara, yang memainkan peran penting dalam fase awal pembentukan negara Indonesia pasca-Proklamasi. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT) pada periode singkat namun krusial, 11 Oktober 1947 – 12 Januari 1948, […]

expand_less