Pilihan Pembaca
light_mode
Topik Menarik
Beranda » Sejarah » Akhir Sebuah Jabatan: Kematian Paat dan Runtuhnya Tiga Hakim Kepala

Akhir Sebuah Jabatan: Kematian Paat dan Runtuhnya Tiga Hakim Kepala

  • calendar_month Jumat, 6 Nov 2026
  • visibility 18
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selama empat puluh tahun, negeri Tomon dipimpin dua orang bernama Paat, seorang ayah dan anaknya. Sang ayah naik dari pangkat kapitan menjadi hukum mayor dan wafat sebelum akhir Agustus tahun 1697. Anaknya bernama Rontom Paat, menggantikan dan memegang jabatan itu sampai wafat pada 1720.

Bersama Soepit dari Tombariri dan Lonto dari Sarongsong, keduanya termasuk “tiga hakim kepala” negeri-negeri pegunungan Minahasa pada masa Kompeni VOC. Dalam arsip Kompeni Paat, Soepit dan Lonto bergelar hooft hoecum majoor, “hukum mayor kepala”, tetapi surat Ternate tahun 1725 menyebut mereka hooftrigters, “hakim kepala”, sebutan yang menonjolkan peran mereka sebagai pemutus perkara di antara negeri-negeri pegunungan.

Arsip Kompeni tidak pernah membedakan kedua Paat. Ayah dan anak tersebut sama-sama ditulis “Paat” saja. Karena itu riwayat mereka harus dipisahkan dari tahun, pangkat, dan sebutan yang menyertai nama itu.

Paat tua: dari kapitan ke hukum mayor

Nama Paat pertama kali muncul dalam arsip sekitar tahun 1680–1681 sebagai seorang kapitan Tomon. Dalam laporan bawahan opperhoofd Van Meijert dari pedalaman, ia berkali-kali disebut “Capt paat van Tomon”, orang yang membawa kabar dari negeri-negeri atas. Salah satunya kabar tentang Hukum Romatti dari Tondano yang bergerak dengan perahu.[1] Waktu itu hukum mayor Tomon masih Mangenanto. Saat itu, Paat yang mengabarkan bahwa “hoecom Mangenanto vergaderinge heeft”, Mangenanto sedang mengadakan rapat.[2]

Pada Maret 1692 ia sudah menjadi hukum mayor. Ketika ratusan orang Mongondow menempati Ponosakan dan menyerang Tonsawang, ia termasuk tiga hukum mayor yang malam itu juga dikirim ke negeri-negeri pegunungan. Tugasnya menenangkan orang gunung dan menjaga agar mereka hanya bertahan.[3] Pada akhir Mei 1692 dialah yang melapor bahwa sebelas negeri pegunungan sudah berbaris ke Passang untuk membela Tonsawang.[4]

Pada 16 Desember 1693 namanya berada di urutan pertama surat para bobato negeri atas “Paat Hoecoem majoor van Tomon”, disusul Soepit dari Tombariri dan Lonto dari Sarongsong.[5] Pada April 1695 ia mendampingi Pieter Alsteijn dalam perjalanan ke negeri-negeri pegunungan. Dalam daftar kepala negeri yang disusun Alsteijn, ia tercatat sebagai “hoekkom majoor paat”. Di daftar yang sama juga ada seorang “Capitain paat”.[6] Kemungkinan besar kapitan itu putranya.

1697: ayah wafat, anak naik sementara

Pada Rabu 28 Agustus 1697 pagi, dua utusan Kompeni dari Ternate bernama Daniel Fiers dan Jan Walraven de La Fontaine, menerima kedatangan para kepala negeri pegunungan di loji benteng Amsterdam Manado. Yang datang adalah “de twee hoofft hoekums Soupit en Lonto, mitsgaders den provisioneel dito … paat”, yaitu dua hukum kepala Soepit dan Lonto, ditambah Paat yang diangkat “sementara”.[7] Paat tua sudah tidak ada.

Dalam rapat besar dua hari kemudian, pengangkatan itu diumumkan di depan semua kepala negeri. Jurnal mencatat:

“in plaats van den overleden hooft hoecum majoor paat, desselfs zoon, als de naaste daar toe sijnde, den capitain Rontom paat, op de negorij tomon”

Artinya: “sebagai ganti mendiang hukum mayor kepala Paat, anaknya sebagai yang terdekat untuk itu, kapitan Rontom Paat di negeri Tomon”. Pengangkatan itu masih menunggu restu pemerintah VOC di Ternate.[8]

Alasannya patut dicatat adalah de naaste, yang terdekat. Jabatan turun kepada kerabat terdekat kepala yang wafat, dan nama Paat pun ikut turun. Dalam rapat yang sama Paat muda langsung harus menghadapi berperkara. Lonto menggugatnya soal seorang budak dan hak asuh seorang anak.[9]

Nama “Rontom” hanya muncul di jurnal rapat ini. Sesudah 1697 ia selalu ditulis “Paat” saja, sama seperti ayahnya.

Rontom Paat, hakim kepala 1699–1720

Pada 1699 sebutan “sementara” sudah hilang. Dalam rapat besar tahun itu ia tercatat bersama Soepit dan Lonto sebagai “de drie hooft hoecums majoors soepit, Lonto, en paat”.[10] Pada 10 September 1699 ketiganya menandatangani Nader Contract dengan Kompeni VOC di loji dekat benteng Amsterdam.[11] Jadi restu Ternate sudah turun antara 1697 dan 1699.

Pada Januari 1702 seorang anak ditemukan mati di negeri Paat. Sebagai kepala negeri tempat kejadian, “den hooft hoecum majoor Paat, wiens negorij het is”, ia harus memberi keterangan. Ia menyatakan tidak ada bekas tikaman, tebasan, atau pukulan pada tubuh anak itu.[12]

Pada bulan Juli tahun 1710, ketika para kepala negeri dipanggil ke loji, Paat sudah mulai diwakili. Pada Rabu 16 Juli, yang turun bersama Lonto adalah “de soon van den mede hooft hoeccum maijoor paat”, putra Paat. Tetapi Paat sendiri masih aktif. Di hari-hari yang sama ia naik ke pegunungan bersama Soepit sebagai salah satu dari “dua hukum mayor kepala”.[13]

Tahun terakhirnya ditandai perselisihan dengan Soepit. Pada Senin 19 Agustus 1720, Paat dan Lonto datang ke benteng mengadukan “brutaliteijten en souvereiniteijt” Soepit, yaitu kekasaran dan sikapnya yang sewenang-wenang. Paat sendiri yang berbicara.[14] Beberapa hari kemudian orang Tombariri melukai lima orang, “in weerwil van den hoeckum Paat”, dan ditentang Paat. Soepit bahkan menulis surat kepada Raja Bolaang Jacobus Manoppo, untuk memperkuat dirinya melawan Paat dan Lonto.[15]

Pemakaman 1720

Paat wafat tidak lama sesudah pengaduannya, sebelum 8 Oktober 1720. Pada tanggal itu Residen Adriaan van Leene melaporkan ke Ternate pengeluarannya untuk kematian dan pemakaman sang hakim kepala.

Dalam surat 10 Juli 1721, dewan VOC Ternate menyetujui pengeluaran itu “op het afsterven, en plegtige ter aarde bestellinge van den hooft hoeccum majoor Paat”, untuk kematian dan pemakaman khidmat hukum mayor kepala Paat. Biayanya berupa barang yang diberikan kepada dua hakim kepala lainnya, Soepit dan Lonto yaitu 21 pon mesiu dan 30 kan arak.[16]

Di surat yang sama dewan VOC Ternate menyetujui usul residen Manado agar tidak ada orang yang diangkat menggantikan Paat dengan gelar itu, sejauh hal itu bisa dihindari tanpa menyinggung siapa pun. Dua kepala yang tersisa pun kelak hanya akan menjadi hukum mayor biasa, tanpa tongkat komando dari Kompeni.[16]

Akhir tiga hakim kepala

Lonto wafat tidak lama kemudian. Surat Ternate 28 Juni 1723 sudah menyebut “alsoo Lonto, en Paat overleden is”, karena Lonto dan Paat sudah wafat, sehingga Soepit dipandang sebagai yang terutama.[17]

Soepit sendiri wafat pada 20 Desember 1724. Menurut surat Ternate 12 Juni 1725, dengan kematiannya “uijtgestorven sijnde drie hooftrigters Paat, Lonto, en Soepit”: ketiga hakim kepala sudah tiada. Sejak itu setiap negeri Manado diperintah oleh kepalanya sendiri.[18] Pada 1726 Ternate menegaskan keputusan itu.[19]

Jadi jabatan yang dipegang ayah dan anak Paat selama lebih dari dua puluh tahun itu tidak diwariskan lagi. Jabatan itu sengaja dibiarkan habis, dimulai dari kematian Rontom Paat.

Paat-Paat yang lain

Nama Paat tidak hanya ada di Tomon. Agar tidak tertukar, ada empat jejak lain dalam arsip yang perlu dipisahkan.

  • Paat kedua di Tomon, 1693. Surat para bobato 16 Desember 1693 menyebut, sesudah hukum mayor Paat, seorang lagi: “Paat Hoecoem en Soenetoe Cap:n van Tomon”.[5] Paat ini sudah berpangkat hukum, sedangkan Rontom pada 1697 masih kapitan. Siapa dia belum bisa dipastikan.
  • Paat dari Aris. Pada 1699 tercatat seorang “Capitain Paat vande negorije aris”.[20] Kemungkinan dialah “paat Capitain” yang ikut menandatangani surat para kepala negeri bawah, 13 Juli 1696.[21] Pada 1719–1720 ia sudah hukum Aris yang buta, dan diganti oleh Mogo “insteden van den blinden en buijten staat zijnde Hoekkum Paat”, menggantikan Hukum Paat yang buta dan tidak cakap lagi.[22] Paat yang buta ini bukan Paat dari Tomon.
  • Sersan Paat dari Tomohon, 1726. Para hukum mayor Tomohon mengeluhkan sersan mereka yang bernama Paat, yang pergi dari negerinya bersama sekelompok orang.[23]
  • Hukum Paat sesudah 1720. Seorang “h: paat” ikut menandatangani surat dua puluh dua kepala negeri yang dipimpin Tololiu Soepit, sekitar 1729–1731.[24] Ia generasi sesudah Rontom, mungkin putranya yang pada 1710 mewakili ayahnya.

Akhir kata

Kisah Paat dari Tomon memperlihatkan bahwa sejarah Minahasa tidak hanya dibentuk oleh peperangan dan perjanjian dengan Kompeni, tetapi juga oleh para pemimpin negeri yang menjalankan kekuasaan, menjaga kehormatan, dan menentukan arah pemerintahan.

Nama Paat mungkin hanya tersisa dalam lembaran arsip VOC, tetapi jejak dua generasi keluarga ini menjadi bagian penting dari sejarah politik di Minahasa yang patut diingat.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Pantai Bentenan

    Pantai Bentenan di Minahasa Tenggara

    • calendar_month Minggu, 22 Jun 2025
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Keindahan Alami Pantai Bentenan yang Menawan   Pantai Bentenan terletak di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Pantai ini dikenal dengan hamparan pasir putih yang lembut dan laut biru yang jernih. Saat matahari terbit atau tenggelam, garis pantainya menyajikan pemandangan yang sangat memukau. Tidak heran jika banyak wisatawan lokal maupun luar daerah memilih tempat ini untuk […]

  • Robertus Padtbrugge adalah Gubernur Maluku dari VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda) yang menjabat pada akhir abad ke-17 sekitar 1677–1682 (ilustrasi)

    Karakter, Geografi Etnis, dan Konflik Internal Minahasa 1682

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Dalam arsip Memorie van Overgave tahun 1682, Gubernur VOC Robertus Padtbrugge meninggalkan lebih dari sekadar laporan administratif. Ia menyusun sebuah potret etnografis yang tajam mengenai masyarakat di semenanjung utara Sulawesi, khususnya wilayah Minahasa yang hingga kini menjadi rujukan penting dalam historiografi kolonial. Berdasarkan verifikasi terhadap buku Geschiedenis van de Minahassa tot 1829, catatan tersebut memperlihatkan […]

  • Tari Maengket: Warisan Budaya Minahasa yang Menyatukan Seni, Spiritualitas, dan Gotong Royong

    Tari Maengket: Warisan Budaya Minahasa yang Menyatukan Seni, Spiritualitas, dan Gotong Royong

    • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
    • visibility 243
    • 0Komentar

    Tari Maengket adalah salah satu tarian tradisional paling ikonik dari Suku Minahasa, Sulawesi Utara. Tarian ini memadukan gerak tari, nyanyian kolektif, musik tradisional, serta nilai sosial budaya dalam satu pertunjukan komunal yang sarat makna. Lebih dari sekadar hiburan, Maengket menjadi refleksi kehidupan agraris, semangat mapalus (gotong royong), dan spiritualitas masyarakat Minahasa yang diwariskan lintas generasi. […]

  • Toar dan Lumimuut (Ilustrasi)

    Dari Graafland hingga Schwarz: Evolusi Pencatatan Legenda Toar dan Lumimuut

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Kisah Toar dan Lumimuut merupakan salah satu mitos asal-usul paling penting dalam tradisi masyarakat Minahasa. Cerita ini telah diwariskan secara lisan selama berabad-abad sebelum akhirnya dicatat oleh para penulis Eropa pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Beberapa sumber tertulis yang sering dijadikan rujukan berasal dari karya Nicolaas Graafland dalam De Minahassa: haar verleden en […]

  • Sejarah Rumah Adat Warokka di Batu Pinabetengan

    Sejarah Rumah Adat Warokka di Batu Pinabetengan

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Pada tahun 1987, sepupu saya, Willie Warokka, yang merupakan Ketua Tenis Meja KONI DKI Jakarta, mengajak saya untuk melihat rumah adat Warokka di Kawangkoan. Rumah adat ini dibangun oleh nenek moyang kami, Alanos Kawengian Warokka, yang menjabat sebagai Tonaas Kepala Walak Kawangkoan. Rumah adat tersebut saat itu masih berdiri di Kawangkoan, meskipun kini sudah dipindahkan […]

  • Pasar dan Denyut Ekonomi Kota Manado pada 1933

    Pasar dan Denyut Ekonomi Kota Manado pada 1933

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Bagaimana kegiatan ekonomi Kota Manado pada awal dekade 1930-an? Sebuah catatan penting yang disusun oleh burgemeester F. H. van de Wetering pada 16 Juni 1933 memberikan gambaran cukup rinci mengenai kehidupan ekonomi kota. Dalam De Gemeente Manado: Nota van Overdracht, kegiatan ekonomi Manado tidak hanya terlihat dari keberadaan pasar, tetapi juga dari pelelangan ikan, rumah […]

expand_less