Pilihan Pembaca
light_mode
Topik Menarik
Beranda » Sejarah » Akhir Sebuah Jabatan: Kematian Paat dan Runtuhnya Tiga Hakim Kepala

Akhir Sebuah Jabatan: Kematian Paat dan Runtuhnya Tiga Hakim Kepala

  • calendar_month 9 jam yang lalu
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Selama empat puluh tahun, negeri Tomon dipimpin dua orang bernama Paat, seorang ayah dan anaknya. Sang ayah naik dari pangkat kapitan menjadi hukum mayor dan wafat sebelum akhir Agustus tahun 1697. Anaknya bernama Rontom Paat, menggantikan dan memegang jabatan itu sampai wafat pada 1720. Bersama Soepit dari Tombariri dan Lonto dari Sarongsong, keduanya termasuk “tiga hakim kepala” negeri-negeri pegunungan Minahasa pada masa Kompeni VOC.

Arsip Kompeni tidak pernah membedakan keduanya. Ayah dan anak tersebut sama-sama ditulis “Paat” saja. Karena itu riwayat mereka harus dipisahkan dari tahun, pangkat, dan sebutan yang menyertai nama itu.

Paat tua: dari kapitan ke hukum mayor

Nama Paat pertama kali muncul dalam arsip sekitar tahun 1680–1681 sebagai seorang kapitan Tomon. Dalam laporan bawahan opperhoofd Van Meijert dari pedalaman, ia berkali-kali disebut “Capt paat van Tomon”, orang yang membawa kabar dari negeri-negeri atas. Salah satunya kabar tentang Hukum Romatti dari Tondano yang bergerak dengan perahu.[1] Waktu itu hukum mayor Tomon masih Mangenanto. Saat itu, Paat yang mengabarkan bahwa “hoecom Mangenanto vergaderinge heeft”, Mangenanto sedang mengadakan rapat.[2]

Pada Maret 1692 ia sudah menjadi hukum mayor. Ketika ratusan orang Mongondow menempati Ponosakan dan menyerang Tonsawang, ia termasuk tiga hukum mayor yang malam itu juga dikirim ke negeri-negeri pegunungan. Tugasnya menenangkan orang gunung dan menjaga agar mereka hanya bertahan.[3] Pada akhir Mei 1692 dialah yang melapor bahwa sebelas negeri pegunungan sudah berbaris ke Passang untuk membela Tonsawang.[4]

Pada 16 Desember 1693 namanya berada di urutan pertama surat para bobato negeri atas “Paat Hoecoem majoor van Tomon”, disusul Soepit dari Tombariri dan Lonto dari Sarongsong.[5] Pada April 1695 ia mendampingi Pieter Alsteijn dalam perjalanan ke negeri-negeri pegunungan. Dalam daftar kepala negeri yang disusun Alsteijn, ia tercatat sebagai “hoekkom majoor paat”. Di daftar yang sama juga ada seorang “Capitain paat”.[6] Kemungkinan besar kapitan itu putranya.

1697: ayah wafat, anak naik sementara

Pada Rabu 28 Agustus 1697 pagi, dua utusan Kompeni dari Ternate bernama Daniel Fiers dan Jan Walraven de La Fontaine, menerima kedatangan para kepala negeri pegunungan di loji benteng Amsterdam Manado. Yang datang adalah “de twee hoofft hoekums Soupit en Lonto, mitsgaders den provisioneel dito … paat”, yaitu dua hukum kepala Soepit dan Lonto, ditambah Paat yang diangkat “sementara”.[7] Paat tua sudah tidak ada.

Dalam rapat besar dua hari kemudian, pengangkatan itu diumumkan di depan semua kepala negeri. Jurnal mencatat:

“in plaats van den overleden hooft hoecum majoor paat, desselfs zoon, als de naaste daar toe sijnde, den capitain Rontom paat, op de negorij tomon”

Artinya: “sebagai ganti mendiang hukum mayor kepala Paat, anaknya sebagai yang terdekat untuk itu, kapitan Rontom Paat di negeri Tomon”. Pengangkatan itu masih menunggu restu pemerintah VOC di Ternate.[8]

Alasannya patut dicatat adalah de naaste, yang terdekat. Jabatan turun kepada kerabat terdekat kepala yang wafat, dan nama Paat pun ikut turun. Dalam rapat yang sama Paat muda langsung harus menghadapi berperkara. Lonto menggugatnya soal seorang budak dan hak asuh seorang anak.[9]

Nama “Rontom” hanya muncul di jurnal rapat ini. Sesudah 1697 ia selalu ditulis “Paat” saja, sama seperti ayahnya.

Rontom Paat, hakim kepala 1699–1720

Pada 1699 sebutan “sementara” sudah hilang. Dalam rapat besar tahun itu ia tercatat bersama Soepit dan Lonto sebagai “de drie hooft hoecums majoors soepit, Lonto, en paat”.[10] Pada 10 September 1699 ketiganya menandatangani Nader Contract dengan Kompeni VOC di loji dekat benteng Amsterdam.[11] Jadi restu Ternate sudah turun antara 1697 dan 1699.

Pada Januari 1702 seorang anak ditemukan mati di negeri Paat. Sebagai kepala negeri tempat kejadian, “den hooft hoecum majoor Paat, wiens negorij het is”, ia harus memberi keterangan. Ia menyatakan tidak ada bekas tikaman, tebasan, atau pukulan pada tubuh anak itu.[12]

Pada bulan Juli tahun 1710, ketika para kepala negeri dipanggil ke loji, Paat sudah mulai diwakili. Pada Rabu 16 Juli, yang turun bersama Lonto adalah “de soon van den mede hooft hoeccum maijoor paat”, putra Paat. Tetapi Paat sendiri masih aktif. Di hari-hari yang sama ia naik ke pegunungan bersama Soepit sebagai salah satu dari “dua hukum mayor kepala”.[13]

Tahun terakhirnya ditandai perselisihan dengan Soepit. Pada Senin 19 Agustus 1720, Paat dan Lonto datang ke benteng mengadukan “brutaliteijten en souvereiniteijt” Soepit, yaitu kekasaran dan sikapnya yang sewenang-wenang. Paat sendiri yang berbicara.[14] Beberapa hari kemudian orang Tombariri melukai lima orang, “in weerwil van den hoeckum Paat”, dan ditentang Paat. Soepit bahkan menulis surat kepada Raja Bolaang Jacobus Manoppo, untuk memperkuat dirinya melawan Paat dan Lonto.[15]

Pemakaman 1720

Paat wafat tidak lama sesudah pengaduannya, sebelum 8 Oktober 1720. Pada tanggal itu Residen Adriaan van Leene melaporkan ke Ternate pengeluarannya untuk kematian dan pemakaman sang hakim kepala.

Dalam surat 10 Juli 1721, dewan VOC Ternate menyetujui pengeluaran itu “op het afsterven, en plegtige ter aarde bestellinge van den hooft hoeccum majoor Paat”, untuk kematian dan pemakaman khidmat hukum mayor kepala Paat. Biayanya berupa barang yang diberikan kepada dua hakim kepala lainnya, Soepit dan Lonto yaitu 21 pon mesiu dan 30 kan arak.[16]

Di surat yang sama dewan VOC Ternate menyetujui usul residen Manado agar tidak ada orang yang diangkat menggantikan Paat dengan gelar itu, sejauh hal itu bisa dihindari tanpa menyinggung siapa pun. Dua kepala yang tersisa pun kelak hanya akan menjadi hukum mayor biasa, tanpa tongkat komando dari Kompeni.[16]

Akhir tiga hakim kepala

Lonto wafat tidak lama kemudian. Surat Ternate 28 Juni 1723 sudah menyebut “alsoo Lonto, en Paat overleden is”, karena Lonto dan Paat sudah wafat, sehingga Soepit dipandang sebagai yang terutama.[17]

Soepit sendiri wafat pada 20 Desember 1724. Menurut surat Ternate 12 Juni 1725, dengan kematiannya “uijtgestorven sijnde drie hooftrigters Paat, Lonto, en Soepit”: ketiga hakim kepala sudah tiada. Sejak itu setiap negeri Manado diperintah oleh kepalanya sendiri.[18] Pada 1726 Ternate menegaskan keputusan itu.[19]

Jadi jabatan yang dipegang ayah dan anak Paat selama lebih dari dua puluh tahun itu tidak diwariskan lagi. Jabatan itu sengaja dibiarkan habis, dimulai dari kematian Rontom Paat.

Paat-Paat yang lain

Nama Paat tidak hanya ada di Tomon. Agar tidak tertukar, ada empat jejak lain dalam arsip yang perlu dipisahkan.

  • Paat kedua di Tomon, 1693. Surat para bobato 16 Desember 1693 menyebut, sesudah hukum mayor Paat, seorang lagi: “Paat Hoecoem en Soenetoe Cap:n van Tomon”.[5] Paat ini sudah berpangkat hukum, sedangkan Rontom pada 1697 masih kapitan. Siapa dia belum bisa dipastikan.
  • Paat dari Aris. Pada 1699 tercatat seorang “Capitain Paat vande negorije aris”.[20] Kemungkinan dialah “paat Capitain” yang ikut menandatangani surat para kepala negeri bawah, 13 Juli 1696.[21] Pada 1719–1720 ia sudah hukum Aris yang buta, dan diganti oleh Mogo “insteden van den blinden en buijten staat zijnde Hoekkum Paat”, menggantikan Hukum Paat yang buta dan tidak cakap lagi.[22] Paat yang buta ini bukan Paat dari Tomon.
  • Sersan Paat dari Tomohon, 1726. Para hukum mayor Tomohon mengeluhkan sersan mereka yang bernama Paat, yang pergi dari negerinya bersama sekelompok orang.[23]
  • Hukum Paat sesudah 1720. Seorang “h: paat” ikut menandatangani surat dua puluh dua kepala negeri yang dipimpin Tololiu Soepit, sekitar 1729–1731.[24] Ia generasi sesudah Rontom, mungkin putranya yang pada 1710 mewakili ayahnya.

Akhir kata

Kisah Paat dari Tomon memperlihatkan bahwa sejarah Minahasa tidak hanya dibentuk oleh peperangan dan perjanjian dengan Kompeni, tetapi juga oleh para pemimpin negeri yang menjalankan kekuasaan, menjaga kehormatan, dan menentukan arah pemerintahan.

Nama Paat mungkin hanya tersisa dalam lembaran arsip VOC, tetapi jejak dua generasi keluarga ini menjadi bagian penting dari sejarah politik di Minahasa yang patut diingat.

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Menggali Maengket Tountemboan: Jejak Budaya, Ingatan, dan Dedikasi Seorang Guru

    Menggali Maengket Tountemboan: Jejak Budaya, Ingatan, dan Dedikasi Seorang Guru

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Di tengah arus modernisasi yang kian deras, warisan budaya sering kali terancam menjadi sekadar fragmen masa lalu, diingat samar, lalu perlahan dilupakan. Namun di Minahasa, Sulawesi Utara, sebuah tarian tradisional bernama Maengket tetap bertahan, bukan hanya sebagai pertunjukan seni, melainkan sebagai rekaman hidup masyarakatnya. Maengket tidak sekadar menghadirkan gerak dan irama. Ia adalah narasi kolektif […]

  • Anak-Anak di Rurukan Menghafal Perkalian hingga 20 kali 20

    Anak-Anak di Rurukan Menghafal Perkalian hingga 20 kali 20

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Alfred Russel Wallace dalam tulisannya berjudul On the Progress of Civilisation in Northern Celebes di hadapan Ethnological Society of London pada 24 Januari 1865. Tulisan tersebut kemudian diterbitkan dalam Transactions of the Ethnological Society of London pada 1866. Wallace menjelaskan bahwa uraiannya dibatasi pada bagian paling utara Sulawesi. Ia bermaksud menggambarkan keadaan alam dan penduduk […]

  • Kolonel Sumual bersama ajudan dan panglima AUREV Petit Muharto Kartodirdjo di Morotai 28 April 1958

    Kolonel Sumual bersama ajudan dan panglima AUREV Petit Muharto Kartodirdjo di Morotai 28 April 1958

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2024
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Lieutenant colonel H.N.Ventje Sumual second from left is flanked by an aide ,on the right is Major Muharto, as they stands on runway of Allied made military airport in Morotai after their captured the base on April 28 1958. Colored by Romy Toar Nonutu

  • Kakaskasen, 19 November 1945 — Otto Vanger's Garage (repro AWM)

    Bayang-Bayang Kelam di Tanah Minahasa: Jejak Jugun Ianfu di Mahakeret, Kakaskasen, dan Kaaten

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Menelusuri jejak perempuan Minahasa dalam dokumen intelijen 1945, kesaksian pascaperang, dan arsip kejahatan perang   Sejarah pendudukan Jepang di Sulawesi Utara tidak hanya meninggalkan jejak pertempuran, barak, dan pemerintahan militer. Di balik sejarah perang itu terdapat kisah lain yang jauh lebih sunyi: perempuan-perempuan muda yang ditempatkan di rumah hiburan militer Jepang. Nama Mahakeret di Manado […]

  • Tentang Roderick C. Wahr

    Tentang Roderick C. Wahr

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2024
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Bagaimana Mencari Informasi/Gambar/Foto (Termasuk tautan yang bermanfaat) Saya tertarik dengan sejarah, khususnya Indonesia, lebih tepatnya Minahasa. Tetapi saya juga tertarik pada: Musik, Teknologi, kemajuan, alam semesta, komputer, agama-agama dunia, psikologi, pengembangan diri dan terutama pada manusia. Singkatnya, saya hanya memiliki banyak minat dan ingin tahu segalanya. Itu sebabnya saya punya banyak pertanyaan. Saya ingin tahu […]

  • Rumah Sakit Hermana 14 September 1945 (Australian War Memorial)

    Menelusuri Jejak Pengabdian Medis di Tanah Tonsea: Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Hermana Lembean (1940)

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Di lereng perbukitan Tonsea yang tenang, Desa Lembean menyimpan sebuah jejak pengabdian yang telah melintasi rezim kolonial, perang dunia, hingga pergolakan politik lokal. Di sanalah berdiri Rumah Sakit Hermana sebuah institusi kesehatan yang lahir bukan sekadar dari kebutuhan medis, melainkan dari perjumpaan iman, solidaritas sosial, dan ilmu kedokteran modern pada masa Hindia Belanda. Berdiri resmi […]

expand_less