Menelusuri Jejak Pengabdian Medis di Tanah Tonsea: Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Hermana Lembean (1940)
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- visibility 94
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rumah Sakit Hermana 14 September 1945 (Australian War Memorial)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di lereng perbukitan Tonsea yang tenang, Desa Lembean menyimpan sebuah jejak pengabdian yang telah melintasi rezim kolonial, perang dunia, hingga pergolakan politik lokal.
Di sanalah berdiri Rumah Sakit Hermana sebuah institusi kesehatan yang lahir bukan sekadar dari kebutuhan medis, melainkan dari perjumpaan iman, solidaritas sosial, dan ilmu kedokteran modern pada masa Hindia Belanda.
Berdiri resmi pada 28 Februari 1940, RS Hermana menjadi salah satu tonggak awal pelayanan kesehatan Katolik di wilayah Minahasa Utara.
Sejarahnya menyingkap wajah lain pembangunan kesehatan di Nusantara: inisiatif lokal yang digerakkan komunitas religius, ditopang keahlian dokter kolonial, dan dikerjakan bersama masyarakat desa.
Berawal dari Tanah 44 Are (1925)
Cikal bakal RS Hermana bermula jauh sebelum bangunannya berdiri. Pada 1925, pimpinan Kongregasi Suster Jesus Maria Joseph (JMJ) di Belanda, Moeder Aldegonda, membeli sebidang tanah seluas 44 are di Lembean.
Pembelian ini merupakan bagian dari strategi misi kesehatan Katolik di Minahasa yang sejak awal abad ke-20 berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan layanan medis di wilayah pedalaman.
Menariknya, lokasi awal yang direncanakan untuk rumah sakit sebenarnya berada di Airmadidi, pusat pemerintahan Distrik Tonsea saat itu.
Namun aspirasi umat dan masyarakat Lembean yang menghendaki fasilitas kesehatan lebih dekat dengan komunitas mereka membuat rencana berubah. Tanah yang telah dibeli pun menjadi pusat pembangunan.
Proses pendirian berlangsung dalam semangat gotong royong khas Minahasa. Para suster JMJ bekerja bersama umat setempat, sementara koordinasi teknis konstruksi ditangani Bruder Boers dan Werkhomen tokoh teknis misi yang berpengalaman membangun fasilitas religius dan sosial di wilayah Manado.
Dengan sumber daya terbatas namun semangat kuat, bangunan rumah sakit mulai terwujud menjelang akhir 1930-an.
Profil: Peran Sentral Dr. H.P.C. Ooman
Di balik berdirinya RS Hermana Lembean, terdapat figur medis penting: Dr. H.P.C. Ooman (dalam literatur Belanda juga ditulis Oomen). Pada masa itu ia menjabat Kepala Rumah Sakit Gunung Maria di Tomohon—pusat layanan kesehatan Katolik terbesar di Minahasa.
Dalam sejarah kedokteran kolonial, Ooman dikenal sebagai salah satu dokter misioner yang menekankan integrasi higienitas tropis, nutrisi klinis, dan perawatan preventif pendekatan yang relatif maju untuk fasilitas kesehatan di wilayah luar Jawa pada 1930-an. Keterlibatannya di Lembean bersifat konseptual dan teknis.
Ia memberikan arahan desain ruang perawatan, ventilasi tropis, serta standar kebersihan bangunan agar sesuai praktik medis modern Hindia Belanda.
Peran Ooman memastikan RS Hermana tidak hanya menjadi bangunan misi, tetapi fasilitas medis yang memenuhi standar pelayanan kesehatan zamannya suatu capaian penting bagi wilayah rural Minahasa kala itu.
Peresmian yang Menggugah Sejarah
Setelah proses pembangunan yang panjang, RS Hermana Lembean diresmikan pada 28 Februari 1940. Peristiwa ini menjadi momentum sosial besar bagi Distrik Tonsea.
Peresmian dilakukan oleh Residen Manado, Van Rhijn, mewakili pemerintah Hindia Belanda. Pemberkatan dipimpin Vikaris Apostolik Manado, Mgr. W. Panis, menandai rumah sakit sebagai karya pelayanan iman.
Sekitar 40 hukum tua (kepala desa) Tonsea hadir sebagai saksi menunjukkan bahwa rumah sakit ini sejak awal dipandang sebagai milik bersama masyarakat, bukan semata lembaga misi.
Dr. Ooman turut hadir dan menyampaikan sambutan mewakili kalangan medis. Kehadirannya menegaskan legitimasi profesional rumah sakit baru ini di jaringan kesehatan Katolik Minahasa yang saat itu telah berkembang di Tomohon, Manado, dan wilayah pesisir.
Bertahan Melewati Badai Perang
Sejarah RS Hermana nyaris seketika diuji oleh perubahan geopolitik global. Pada Februari 1942, tentara Jepang menduduki Minahasa.
Para suster dan tenaga medis Belanda di Lembean ditangkap dan diinternir ke kamp di Manado. Pelayanan kesehatan pun terguncang hebat.
Bangunan rumah sakit tetap berdiri, tetapi operasionalnya terhenti atau berjalan terbatas di bawah tekanan militer. Masa ini menjadi fase paling rapuh dalam sejarah Hermana.
Namun benih pengabdian yang telah ditanamkan tidak hilang. Setelah Jepang menyerah pada 1945, jaringan misi Katolik perlahan kembali menghidupkan layanan kesehatan di Minahasa, termasuk di Lembean.
RS Hermana kemudian melewati periode Republik awal dan bahkan pergolakan Permesta pada akhir 1950-an. Dalam setiap fase krisis, rumah sakit ini kembali berfungsi sebagai ruang perlindungan sosial tempat perawatan bagi warga sipil di tengah konflik.
Warisan Pelayanan di Tanah Tonsea
Lebih dari delapan dekade setelah peresmiannya, RS Hermana Lembean tetap berdiri sebagai simbol kontinuitas pelayanan kesehatan berbasis iman di Sulawesi Utara.
Ia lahir dari kombinasi unik: visi misi religius Eropa, pengetahuan medis kolonial, dan partisipasi masyarakat Minahasa.
Sejarahnya menunjukkan bahwa modernisasi kesehatan di daerah bukan hanya proyek negara kolonial atau republik, melainkan juga hasil kerja komunitas lokal yang memaknai kesehatan sebagai bagian dari panggilan kemanusiaan.
Di Lembean, rumah sakit bukan sekadar tempat berobat. Ia adalah jejak panjang solidaritas, dari tanah 44 are yang dibeli pada 1925 hingga pelayanan yang terus hidup di abad ke-21.
Referensi
- Arsip KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), Inventory 138 (H 1422 Collection Thomas Cool): dokumen rencana ekspansi RS Hermana Lembean (1950).
- KMM (KomMissieMemoires): kumpulan sejarah lisan misionaris Belanda tentang pelayanan kesehatan di Sulawesi Utara masa kolonial dan perang.
- Kronik internal Kongregasi Suster-suster JMJ Provinsi Manado: riwayat pendirian biara dan RS Hermana Lembean.
- Steenbrink, Karel (2007). Catholics in Indonesia, 1808-1942: A Documented History, Vol. 2. Leiden: KITLV Press.
- Penulis: Moderator Malesung
