Pilihan
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Menelusuri Jejak Pengabdian Medis di Tanah Tonsea: Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Hermana Lembean (1940)

Menelusuri Jejak Pengabdian Medis di Tanah Tonsea: Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Hermana Lembean (1940)

  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • visibility 94
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di lereng perbukitan Tonsea yang tenang, Desa Lembean menyimpan sebuah jejak pengabdian yang telah melintasi rezim kolonial, perang dunia, hingga pergolakan politik lokal.

Di sanalah berdiri Rumah Sakit Hermana sebuah institusi kesehatan yang lahir bukan sekadar dari kebutuhan medis, melainkan dari perjumpaan iman, solidaritas sosial, dan ilmu kedokteran modern pada masa Hindia Belanda.

Berdiri resmi pada 28 Februari 1940, RS Hermana menjadi salah satu tonggak awal pelayanan kesehatan Katolik di wilayah Minahasa Utara.

Sejarahnya menyingkap wajah lain pembangunan kesehatan di Nusantara: inisiatif lokal yang digerakkan komunitas religius, ditopang keahlian dokter kolonial, dan dikerjakan bersama masyarakat desa.

 

Berawal dari Tanah 44 Are (1925)

 

Cikal bakal RS Hermana bermula jauh sebelum bangunannya berdiri. Pada 1925, pimpinan Kongregasi Suster Jesus Maria Joseph (JMJ) di Belanda, Moeder Aldegonda, membeli sebidang tanah seluas 44 are di Lembean.

Pembelian ini merupakan bagian dari strategi misi kesehatan Katolik di Minahasa yang sejak awal abad ke-20 berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan layanan medis di wilayah pedalaman.

Menariknya, lokasi awal yang direncanakan untuk rumah sakit sebenarnya berada di Airmadidi, pusat pemerintahan Distrik Tonsea saat itu.

Namun aspirasi umat dan masyarakat Lembean yang menghendaki fasilitas kesehatan lebih dekat dengan komunitas mereka membuat rencana berubah. Tanah yang telah dibeli pun menjadi pusat pembangunan.

Proses pendirian berlangsung dalam semangat gotong royong khas Minahasa. Para suster JMJ bekerja bersama umat setempat, sementara koordinasi teknis konstruksi ditangani Bruder Boers dan Werkhomen tokoh teknis misi yang berpengalaman membangun fasilitas religius dan sosial di wilayah Manado.

Dengan sumber daya terbatas namun semangat kuat, bangunan rumah sakit mulai terwujud menjelang akhir 1930-an.

 

Profil: Peran Sentral Dr. H.P.C. Ooman

 

Di balik berdirinya RS Hermana Lembean, terdapat figur medis penting: Dr. H.P.C. Ooman (dalam literatur Belanda juga ditulis Oomen). Pada masa itu ia menjabat Kepala Rumah Sakit Gunung Maria di Tomohon—pusat layanan kesehatan Katolik terbesar di Minahasa.

Dalam sejarah kedokteran kolonial, Ooman dikenal sebagai salah satu dokter misioner yang menekankan integrasi higienitas tropis, nutrisi klinis, dan perawatan preventif pendekatan yang relatif maju untuk fasilitas kesehatan di wilayah luar Jawa pada 1930-an. Keterlibatannya di Lembean bersifat konseptual dan teknis.

Ia memberikan arahan desain ruang perawatan, ventilasi tropis, serta standar kebersihan bangunan agar sesuai praktik medis modern Hindia Belanda.

Peran Ooman memastikan RS Hermana tidak hanya menjadi bangunan misi, tetapi fasilitas medis yang memenuhi standar pelayanan kesehatan zamannya suatu capaian penting bagi wilayah rural Minahasa kala itu.

 

Peresmian yang Menggugah Sejarah

 

Setelah proses pembangunan yang panjang, RS Hermana Lembean diresmikan pada 28 Februari 1940. Peristiwa ini menjadi momentum sosial besar bagi Distrik Tonsea.

Peresmian dilakukan oleh Residen Manado, Van Rhijn, mewakili pemerintah Hindia Belanda. Pemberkatan dipimpin Vikaris Apostolik Manado, Mgr. W. Panis, menandai rumah sakit sebagai karya pelayanan iman.

Sekitar 40 hukum tua (kepala desa) Tonsea hadir sebagai saksi menunjukkan bahwa rumah sakit ini sejak awal dipandang sebagai milik bersama masyarakat, bukan semata lembaga misi.

Dr. Ooman turut hadir dan menyampaikan sambutan mewakili kalangan medis. Kehadirannya menegaskan legitimasi profesional rumah sakit baru ini di jaringan kesehatan Katolik Minahasa yang saat itu telah berkembang di Tomohon, Manado, dan wilayah pesisir.

 

Bertahan Melewati Badai Perang

 

Sejarah RS Hermana nyaris seketika diuji oleh perubahan geopolitik global. Pada Februari 1942, tentara Jepang menduduki Minahasa.

Para suster dan tenaga medis Belanda di Lembean ditangkap dan diinternir ke kamp di Manado. Pelayanan kesehatan pun terguncang hebat.

Bangunan rumah sakit tetap berdiri, tetapi operasionalnya terhenti atau berjalan terbatas di bawah tekanan militer. Masa ini menjadi fase paling rapuh dalam sejarah Hermana.

Namun benih pengabdian yang telah ditanamkan tidak hilang. Setelah Jepang menyerah pada 1945, jaringan misi Katolik perlahan kembali menghidupkan layanan kesehatan di Minahasa, termasuk di Lembean.

RS Hermana kemudian melewati periode Republik awal dan bahkan pergolakan Permesta pada akhir 1950-an. Dalam setiap fase krisis, rumah sakit ini kembali berfungsi sebagai ruang perlindungan sosial tempat perawatan bagi warga sipil di tengah konflik.

 

Warisan Pelayanan di Tanah Tonsea

 

Lebih dari delapan dekade setelah peresmiannya, RS Hermana Lembean tetap berdiri sebagai simbol kontinuitas pelayanan kesehatan berbasis iman di Sulawesi Utara.

Ia lahir dari kombinasi unik: visi misi religius Eropa, pengetahuan medis kolonial, dan partisipasi masyarakat Minahasa.

Sejarahnya menunjukkan bahwa modernisasi kesehatan di daerah bukan hanya proyek negara kolonial atau republik, melainkan juga hasil kerja komunitas lokal yang memaknai kesehatan sebagai bagian dari panggilan kemanusiaan.

Di Lembean, rumah sakit bukan sekadar tempat berobat. Ia adalah jejak panjang solidaritas, dari tanah 44 are yang dibeli pada 1925 hingga pelayanan yang terus hidup di abad ke-21.

 

Referensi

  1. Arsip KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), Inventory 138 (H 1422 Collection Thomas Cool): dokumen rencana ekspansi RS Hermana Lembean (1950).
  2. KMM (KomMissieMemoires): kumpulan sejarah lisan misionaris Belanda tentang pelayanan kesehatan di Sulawesi Utara masa kolonial dan perang.
  3. Kronik internal Kongregasi Suster-suster JMJ Provinsi Manado: riwayat pendirian biara dan RS Hermana Lembean.
  4. Steenbrink, Karel (2007). Catholics in Indonesia, 1808-1942: A Documented History, Vol. 2. Leiden: KITLV Press.
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Manado Setelah 30 September 1965: Dari Aksi 7 Oktober hingga Pembersihan PKI dalam Catatan CIA dan Sejarah Kota Manado

    Manado Setelah 30 September 1965: Dari Aksi 7 Oktober hingga Pembersihan PKI dalam Catatan CIA dan Sejarah Kota Manado

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Pada pertengahan 1960-an, kehidupan politik Kota Manado berlangsung di tengah persaingan sejumlah partai. Dalam Sejarah Kota Manado 1945–1979, F.E.W. Parengkuan, L.Th. Manus, Rino S. Nihe, dan Djoko Suryo mencatat bahwa pada periode 1961–1971 terdapat sejumlah partai politik yang memiliki cabang dan aktivitas di kota ini. Di antara yang paling menonjol adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), […]

  • Pengayauan dan Tumbal Hewan di Minahasa — Antara Kepercayaan, Pembangunan, dan Ketakutan

    Pengayauan dan Tumbal Hewan di Minahasa — Antara Kepercayaan, Pembangunan, dan Ketakutan

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Kira-kira tahun 1931, tulisan karya misionaris Katolik Pater Jac. Duray menggambarkan suasana yang berbeda dari gambaran sederhana tentang Minahasa sebagai masyarakat yang telah meninggalkan praktik pengayauan. Dalam artikel berjudul “Koppensnellen in de Minahassa”, yang dimuat dalam Almanak Missiehuis Tilburg jilid 41, Duray justru menceritakan bagaimana kabar tentang koppenzoekers yang artinya “pencari kepala (pengayauan)” menimbulkan ketakutan […]

  • Ilustrasi orang Spanyol dan Minahasa mendirikan tiga salib dalam kegiatan misi Jesuit di area danau.

    Tiga Salib di Tepi Danau Tondano Tahun 1617

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Pada suatu hari di tahun 1617, sebuah rombongan mendaki dari pesisir Manado ke pedalaman. Di dalamnya ada seorang pastor Jesuit, seorang cabo (kapten sebuah galai Spanyol) dan anak buah mereka. Di sebuah negeri besar di dekat sebuah danau, sang pastor mengenakan sobrepelis dan stola lalu sementara sebuah salib ditegakkan mereka menyanyikan Vexilla Regis prodeunt. Dua […]

  • Pantai Pasir

    Pantai Pasir Putih Lembeh, Surga Tersembunyi di Ujung Sulut

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Pantai Pasir Putih Lembeh: Surga Kecil yang Bikin Kamu Betah Berlama-lama Halo, para pencinta pantai! Kalau kamu lagi cari tempat liburan yang tenang, cantik, dan jauh dari hiruk pikuk kota, Pantai Pasir Putih Lembeh adalah jawabannya. Terletak di Pulau Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara, pantai ini punya segala yang kamu butuhkan untuk liburan santai — pasir […]

  • Ilustrasi Ai

    Diplomasi “Arak” di Minahasa: Jamuan Makan yang Mengubah Hubungan Adat Menjadi Kontrak Kolonial

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Sejarah tidak selalu ditentukan di medan perang. Dalam beberapa peristiwa, perubahan besar justru terjadi di meja makan. Catatan peneliti kolonial abad ke-19, J.G.F. Riedel, menggambarkan salah satu momen transisi penting dalam sejarah Minahasa: ketika hubungan persahabatan adat perlahan berubah menjadi ikatan politik kolonial melalui jamuan makan dan minuman arak. Peristiwa ini berkaitan dengan perjanjian antara […]

  • Menelusuri Jejak Sejarah Leilem: Dari Wanua Tua di Sonder hingga Sentra Kayu Minahasa

    Menelusuri Jejak Sejarah Leilem: Dari Wanua Tua di Sonder hingga Sentra Kayu Minahasa

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Di lereng sejuk pegunungan Minahasa, tepatnya di wilayah Kecamatan Sonder, berdiri sebuah desa yang namanya telah lama dikenal di Sulawesi Utara: Leilem. Kini, Leilem identik dengan sentra industri kayu dan rumah panggung Minahasa. Namun di balik reputasi itu, tersimpan jejak sejarah panjang yang menghubungkan tradisi leluhur Minahasa, penyebaran agama Kristen pada masa kolonial, hingga tumbuhnya […]

expand_less