Pilihan
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerita Rakyat » Kedatangan Orang Kastejla dan Permulaan Hubungan Minahasa dengan Bangsa Asing Menurut Catatan Riedel (1862)

Kedatangan Orang Kastejla dan Permulaan Hubungan Minahasa dengan Bangsa Asing Menurut Catatan Riedel (1862)

  • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
  • visibility 135
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam hikayat tua tanah Minahasa yang dicatat oleh J.G.F. Riedel, diceritakan bahwa pada suatu masa datanglah pertama kali orang-orang asing berkulit putih yang disebut Tasikelah atau Kastejla (Spanyol). Kedatangan mereka menandai awal hubungan masyarakat Minahasa dengan bangsa dari luar.

Kedatangan Orang Kastejla

Dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa orang-orang Kastejla mula-mula singgah di pulau-pulau di sekitar Minahasa. Mereka kemudian datang dan berlabuh di suatu tempat yang bernama Kimah (Kema), yang dalam hikayat disebut sebagai Winaror ni Tasikelah.

Pada waktu itu, penduduk yang berasal dari pulau Babontehuh melihat kedatangan kapal-kapal besar milik orang asing tersebut.

Mereka datang mendekati kapal itu dan kemudian menunjukkan tempat pelabuhan yang baik bagi para pendatang itu.

Penduduk Babontehuh kemudian mengantar orang-orang Kastejla menuju suatu tempat di pesisir yang bernama Tumpa-an Wenang. Di tempat inilah para pendatang itu berlabuh dan menetap.

Hubungan dengan Penduduk Minahasa

Dalam kisah yang dicatat Riedel, orang-orang Kastejla kemudian mencoba menjalin hubungan dengan penduduk daratan Minahasa. Mereka ingin membeli tanah di dataran Wenang dari orang-orang Pakasa’an Tounbuluh, namun permintaan tersebut tidak diterima.

Setelah itu orang-orang Kastejla berlayar menyusuri pantai menuju wilayah lain dan memasuki daerah Uwuran. Dalam perjalanan tersebut mereka melakukan perampasan barang dan masuk ke pedalaman.

Peristiwa tersebut menimbulkan peperangan antara orang-orang Kastejla dengan penduduk setempat, yaitu orang-orang Toun Wasijan dan Tounbuluh. Dalam peperangan itu banyak orang Kastejla terbunuh di pegunungan.

Setelah peristiwa itu, sisa orang-orang Kastejla kembali ke tempat kedudukan mereka di dataran Wenang.

Wenang Menjadi Tempat Orang Dagang

Dalam kelanjutannya diceritakan bahwa tempat bernama Tumpa-an Wenang kemudian menjadi tempat kedatangan berbagai perahu orang asing.

Riedel menuliskan bahwa di tempat ini datang berbagai pedagang dari beberapa negeri, termasuk orang-orang dari Sangihe dan Ternate, yang menjalin hubungan dengan orang-orang Kastejla.

Karena banyaknya perahu dagang yang datang dan pergi, Wenang kemudian menjadi tempat pemukiman orang-orang dagang.

Namun demikian, hubungan antara penduduk Minahasa dengan orang-orang asing itu sering diikuti oleh peperangan dan pertentangan yang menyebabkan banyak orang terbunuh.

Perubahan Keadaan Tanah Minahasa

Dalam hikayat tersebut Riedel juga mencatat bahwa pada masa itu keadaan tanah Minahasa berubah. Ia menuliskan bahwa rupa keadaan tanah Minahasa menjadi berbeda dari sebelumnya.

Pada masa itu masyarakat mulai mempelajari berbagai hal baru, di antaranya membaca, menulis, dan berhitung.

Selain itu masyarakat juga mulai memakai pakaian dengan berbagai rupa dan warna. Mereka mulai melakukan perjalanan laut serta berdagang dengan orang-orang dari negeri lain.

Pengetahuan mengenai menanam padi dan menenun kain juga kembali dikenal. Dalam hikayat tersebut disebutkan pula bahwa beberapa hewan seperti kuda dan sapi dibawa dari tanah lain.

 

Wailan Pakasa’an Tounbuluh Mendengar Kabar Perdamaian Bangsa Belanda di Ternate

 

Pada masa berikutnya, Wailan Pakasa’an Tounbuluh mendengar kabar bahwa bangsa kulit putih lain—bukan sahabat, melainkan lawan dari Kastejla—telah datang dan berdiam di negeri Ternate, yaitu bangsa Belanda.

Mendengar kabar itu, mereka bermufakat mengutus empat orang, yaitu Supit, Lonto, Pa-at, dan Lonta-an, masing-masing dari bangsa Toun Waririj, Toun Saronsong, Toumuung, dan Kekaskasan. Keempatnya pergi ke Ternate untuk mencari sahabat sekaligus memohon bantuan bangsa Belanda dalam menghadapi dua ancaman: serangan gencar dari Bolaang Mongondow, dan pertikaian dengan Kastejla, dengan maksud menjadikan Kompeni Belanda sebagai bapak dan ibu (pelindung) mereka.

Untuk itu mereka berlayar dengan perahu orang Sangihe, membawa tanda besi dan padi sebagai lambang perdamaian dan kehidupan, dihadapkan kepada penghulu pemerintah Belanda.

 

Kedatangan Wakil Kompeni

 

Permintaan itu diterima dengan baik oleh pemerintah Belanda, yang juga menyambutnya dengan menyampaikan bendera besar sebagai tanda persetujuan.

Selanjutnya diutuslah seorang Wakil Raja (Koningi), yang oleh orang Tounbuluh disebut dengan lidah mereka sendiri sebagai Degude menurut ucapan orang tua-tua lainnya, nama itu adalah de Goede datang ke pelabuhan Wenang untuk menyepakati perjanjian pertama, yaitu perjanjian perlindungan Kompeni Belanda.

Dengan kedatangan wakil Kompeni tersebut, dimulailah babak baru hikayat tanah Minahasa yang berlangsung hingga hari ini.

 

Sumber: J.G.F. Riedel, “Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu” (Hhikajatnja Tuwah Tanah Minahasa), Batavia, 1862, Bahagian Kalima, hlm. 55.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Pulau Bentenan Kabupaten Minahasa Tenggara

    Pulau Bentenan: Gerbang Awal Migrasi Leluhur Pasan dan Ratahan

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Di antara beragam komunitas yang membentuk mozaik kebudayaan Minahasa, Pasan dan Ratahan menempati posisi yang istimewa. Keduanya memang telah lama menjadi bagian dari Tanah Malesung, tetapi jejak asal-usulnya memperlihatkan kisah yang berbeda dibandingkan kelompok-kelompok Minahasa lainnya. Jika sebagian besar subetnis Minahasa mengaitkan identitas leluhurnya dengan tradisi Watu Pinawetengan sebagai simbol pembagian wilayah dan kekerabatan, masyarakat […]

  • Foto Pilkada Minahasa 1955 di Tondano

    Foto Pilkada Minahasa 1955 di Tondano

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2024
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Suasana pemilihan umum di Minahasa pada tahun 1955, tampak tanda gambar Manguni dengan nomor urut 40 yang di pakai oleh peserta Pemilu lokal di Minahasa dengan nama-nama tertulis dibagian bawah : – Daan Eduard Mogot – Dirk August Theodorus Gerungan – Inary Paul Lengkong – Frans Piet Parengkuan – Nicolaas John Pongilatan Lokasi foto dipinggir […]

  • Sekilas Kisah Legenda Pertempuran Minahasa & Mongondow di Pegunungan Tareran

    Sekilas Kisah Legenda Pertempuran Minahasa & Mongondow di Pegunungan Tareran

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2024
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Pada sekitar tahun 1560 hingga 1590, ketika orang-orang Mongondow mulai memperluas wilayahnya ke selatan Minahasa, para tonaas (pemimpin adat) suku Minahasa merasa terpanggil untuk mempertahankan tanah leluhur mereka. Musyawarah diadakan di Watu Pinawetengan, sekitar kaki Gunung Soputan, untuk menyusun strategi menghadapi ancaman dari suku Mongondow, yang telah menguasai wilayah barat Kuntung Tareran. Tiga tonaas yang […]

  • Robert Wolter Mongisidi, Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan

    Robert Wolter Mongisidi, Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan

    • calendar_month Minggu, 2 Apr 2023
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Di tanah Makassar yang pernah bergolak oleh revolusi fisik, nama Robert Wolter Mongisidi berdiri sebagai salah satu simbol paling teguh dari perlawanan rakyat Indonesia terhadap kembalinya kolonialisme. Pemuda kelahiran Malalayang, Manado, 14 Februari 1925 itu, akrab disapa Bote, menjalani hidup singkat, namun meninggalkan jejak panjang tentang keberanian, kemanusiaan, dan kesetiaan pada keyakinan. Ia gugur pada […]

  • Cakalang Fufu (foto ist)

    Asap dari Pesisir Utara: Jejak Historis Cakalang Fufu dalam Peradaban Maritim Minahasa

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Di kawasan pesisir Sulawesi Utara, aroma asap kayu dan sabut kelapa yang membungkus ikan cakalang bukan sekadar penanda aktivitas dapur tradisional. Di balik proses pengasapan itu, tersimpan sejarah panjang tentang teknologi bertahan hidup, perdagangan kolonial, hingga transformasi ekonomi maritim Minahasa. Cakalang fufu, ikan cakalang asap khas Minahasa bukan hanya produk kuliner, melainkan bagian dari perjalanan […]

  • Keindahan

    Keindahan Tersembunyi di Taman Wisata Alam Batuputih Sulawesi Utara

    • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Mengenal Keindahan Taman Wisata Alam Batuputih   Sulawesi Utara tidak hanya terkenal dengan keindahan laut Bunaken, tetapi juga menyimpan kekayaan ekowisata darat yang luar biasa. Salah satunya adalah Taman Wisata Alam Batuputih, yang terletak di Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung. Kawasan ini menjadi destinasi favorit para pencinta alam dan fotografer satwa liar.   Keunikan Flora dan […]

expand_less