Serangan Raja Loloda Mokoagow dan Kekalahan di Pedalaman Tonsawang 1692
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Para waraney Minahasa bertempur mempertahankan tanah mereka dari serbuan pasukan Bolaang Mongondow di bawah Raja Loloda Mokoagow 1692 (ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada pertengahan Maret 1692, pasukan Raja Loloda Mokoagow dari Mongondow menyerbu negeri Tonsawang dan dipukul mundur. Menurut laporan VOC, hanya sekitar dua orang Mongondow tewas dan sepuluh orang terluka, di pihak Tonsawang dua orang gugur. Lalu sisa pasukan Mongondow lari ke pantai.[1]
Kisah ini tersimpan dalam jurnal dua utusan Kompeni dari Ternate, Jacob Claasz dan Jan Walraven de La Fontaine, yang kebetulan sedang berada di benteng Amsterdam Manado. Dari jurnal itu kita bisa mengikuti perang ini hari demi hari mulai dari kabar pertama, pertempuran, sampai perundingan dua bulan kemudian.
Dendam yang dibawa ke pedalaman
Menurut Raja Loloda, orang Tonsawang sudah lama membunuh rakyatnya. Yang terakhir adalah lima orangnya dipenggal di teluk Amoera, dan kepala mereka dipajang di depan rumah hukum di Tonsawang.[2] Ketiga hukum mayor di Manado juga menduga orang Mongondow datang untuk membalas pembunuhan orang-orang mereka di Bolang.[9]
Kabar bahwa ratusan orang Mongondow sedang berbaris ke pedalaman sudah sampai ke benteng pada akhir Februari 1692. Pada 1 Maret para utusan VOC menulis surat kepada raja. Mereka berharap kabar itu tidak benar, dan kalau benar, meminta raja untuk menarik pasukannya sampai mereka bertemu.[3][4] Namun surat itu tidak dijawab.
Pada 12 Maret Gugugu Homjouko dari Bolaang yang ikut mengantar surat itu, kembali ke Manado. Ia membawa kabar yang lebih jelas bahwa semua orang Raja Loloda sedang berbaris menuju ke Tonsawang, termasuk dua saudara raja sendiri, sehingga negeri mereka nyaris kosong.[5]
Ponosakan ditempati, 14 Maret
Perang ini melewati wilayah Ponosakan, negeri tetangga Tonsawang. Hukum Makatoppa dari Ponosakan baru saja pulang dari rapat kepala-kepala negeri di benteng Amsterdam pada 11 Maret.[6]
Sesampainya di rumah, ia mendapati negerinya dan tiga kampung di bawahnya yakni Boelorija, Montoij, dan Boekoij, sudah ditempati beberapa ratus orang Mongondow.[8]
Pada Jumat 14 Maret sekitar pukul enam petang, pesan Makatoppa sampai ke benteng lewat dua utusan dari Tomon dan Kakaskasen. Pesan tersebut mengatakan bahwa Ponosakan memohon perlindungan Kompeni. Sejauh itu orang Mongondow belum membunuh atau menjarah siapa pun.[7][8]
Para utusan VOC lalu meminta pendapat tiga hukum mayor yaitu Paat, Soepit, dan Lonto. Jawaban mereka mengejutkan, bahwa Ponosakan tidak akan banyak dirugikan, dan bisa jadi Ponosakan sendiri yang memanggil orang Mongondow. Sasaran sebenarnya adalah Tonsawang.[9]
Malam itu juga ketiga hukum mayor dikirim ke pegunungan untuk menenangkan orang gunung dan menjaga agar mereka hanya bertahan. Sersan Daniel Febert disiapkan untuk menyusul bersama seorang kopral, enam serdadu dan seorang bobato dari setiap negeri bawah. Perintahnya adalah berjalan lewat Langowan ke Passang dan mencegah segala tindakan bersenjata.[8][9]
Kompeni menunggu kabar, 15 Maret
Malam itu beredar kabar bahwa Jacobus Manoppo, putra raja yang beragama Kristen, ikut bersama pasukan Mongondow untuk perang. Maka keberangkatan sersan Febert ditahan dulu. Karena sampai pagi tidak ada kabar baru, pada Sabtu 15 Maret Febert diperintahkan berangkat, dengan larangan keras untuk menyerang.[10]
Siang harinya Claas seorang sersan negeri Kakaskasen membawa kabar baru. Orang Mongondow sudah meninggalkan Ponosakan tanpa merusak apa pun dan bergerak ke Tonsawang. Sudah tiga kali mereka bentrok dengan orang Tonsawang, tetapi belum ada yang tewas.[10]
Gugugu Siau Jeronimo Darras dan Kapitan Laut Lalita sudah mencoba membujuk mereka mundur, tetapi malah diusir. Orang Datahan ikut memohon perlindungan, karena orang Mongondow mengancam akan mendatangi mereka sesudah Tonsawang.[11]
Malam itu juga Febert menulis surat pendek dari Kakaskasen. Kabar yang ia dengar sama yakni orang Mongondow sudah berada di Tonsawang.[12]
Pertempuran di Tonsawang
Sersan Febert berjalan dari Kakaskasen ke Tomon, lalu pada 16 Maret ke Tondano. Di Tondano ia diberi tahu bahwa keterangan lengkap hanya bisa didapat di Cacas, maka ia meneruskan perjalanan ke sana. Di Cacas ia bertemu para bobato setempat serta para hukum Tomon dan Kakaskasen.[13]
Dari merekalah sersan Febert mendengar jalannya pertempuran. Orang Mongondow memang sempat berada di Ponosakan, tetapi tidak berbuat apa-apa di sana. Mereka kemudian berhadapan dengan orang Tonsawang. Dalam pertempuran itu dua orang Mongondow tewas dan sepuluh luka, sedangkan dua orang Tonsawang gugur. Orang Mongondow lalu melarikan diri ke pantai.[1]
Tanggal pertempuran tidak tercatat. Pada 15 Maret siang belum ada korban jiwa, sedangkan pada 16 Maret di Cacas sudah ada empat orang tewas. Jadi pertempuran itu terjadi sekitar 15–16 Maret 1692.[10][13]
Febert kembali melalui rute Tondano, Tomon, dan Kakaskasen.[14] Rabu 19 Maret menjelang tengah hari ia tiba di benteng dan melapor bahwa dua orang tewas di masing-masing pihak, dan orang Mongondow mundur ke pantai.[15]
Sore harinya beberapa orang alifuru datang dengan kabar yang sama. Orang Tonsawang sudah memukul mundur orang Mongondow, walaupun pasukan itu belum sepenuhnya pergi.[16]
Kuburan di Ponosakan
Pertempuran itu meninggalkan sengketa baru. Dua orang Mongondow yang gugur dikuburkan di Ponosakan dengan izin orang Ponosakan. Tonsawang marah karena bagaimana mungkin tetangga mereka menguburkan musuh mereka?[16] Kabar sengketa ini sudah sampai ke Febert pada tengah malam 17 Maret.[14]
Para utusan VOC memerintahkan Residen Manado Steijnkuijler mencegah segala kekerasan sampai mereka kembali. Pada 20 Maret mereka sendiri berlayar ke Bolaang, lalu berjalan ke Pajoa untuk menemui raja.[17][18]
Raja tidak mengaku kalah
Di Pajoa, Raja Loloda membela diri. Ia menyebut pembunuhan rakyatnya oleh orang Tonsawang sebagai alasan serangan itu. Ia sudah memanggil pulang pasukannya begitu surat Kompeni tiba katanya, tetapi mereka sudah lebih dulu bertempur.[19][20]
Para utusan menjawab bahwa main hakim sendiri tidak dibenarkan, apalagi Tonsawang tidak pernah menolak memberi ganti rugi. Rakyat raja juga sudah melanggar perjanjian, karena masuk ke wilayah Manado tanpa izin residen Kompeni.
Raja diminta mengirim beberapa bobato ke Manado supaya perkara ini bisa diselesaikan, dan raja menyetujuinya.[19][20]
Perundingan di benteng, Mei 1692
Perselisihan Tonsawang dan Ponosakan pecah lagi pada awal Mei, dan para bobato dipanggil ke benteng. Bobato Ponosakan baru datang pada 16 Mei, dan perundingan dibuka pada hari Senin 19 Mei.[21]
Hukum Romocko dari Tonsawang membuka perkaranya. Beberapa hari sebelum serangan, Makatoppa dari Ponosakan berjanji akan menahan orang Mongondow kalau mereka datang. Karena janji itu, Tonsawang membuka kembali jalan-jalan yang sebelumnya mereka tutup. Lewat jalan itulah orang Mongondow masuk. Ponosakan bahkan menghalangi orang alifuru yang datang membantu Tonsawang.[22]
Ponosakan menjawab bahwa mereka diserbu dan tidak sanggup melawan. Tonsawang menerangkan bahwa orang Ponosakan ikut berbaris bersama orang Mongondow, dan orang Mongondow yang gugur dikuburkan di negeri mereka.[23] Setelah kontrak Padtbrugge dibacakan kembali, hampir semua kepala negeri menyatakan Ponosakan bersalah. Ponosakan didenda, lalu Tonsawang dan Ponosakan berdamai.[24][25]
Duri di kaki orang Mongondow
Perdamaian dengan Mongondow sendiri tidak pernah terjadi, karena bobato yang dijanjikan raja tidak datang. Pada 20 Mei para utusan menulis lagi kepada raja, mendesaknya segera mengirim utusan untuk berunding dengan Residen Steijnkuijler.[26]
Musim angin timur untuk berlayar sudah dekat, jadi para utusan VOC harus pulang ke Ternate. Mereka meninggalkan pesan yang menarik untuk residen Steijnkuijler yakni perdamaian Tonsawang dan Mongondow memang harus diusahakan, tetapi jangan terlalu kokoh. Menurut mereka, ada gunanya kalau “duri Tonsawang itu masih sedikit tertancap di kaki orang Mongondow”.[27]
Seminggu kemudian, pada 29 Mei, kabar menakutkan datang lewat Langowan bahwa seribu orang Mongondow dikabarkan sudah tiba di Ponosakan, dan seribu lagi menunggu di pantai. Sebelas negeri pegunungan, dari Tombariri sampai Tondano dan Tomohon, segera berbaris menuju ke Passang untuk membela Tonsawang.[28] Kabar itu ternyata tidak terbukti. Pada 11 Juni orang-orang yang baru datang dari Manado melaporkan bahwa di sana keadaan tenang dan tidak ada gerakan apa pun.[29]
Jadi, siapa yang menang?
Di medan tempur, Tonsawang yang menang. Semua laporan sepakat bahwa pasukan Mongondow dipukul mundur ke pantai dengan korban luka lebih banyak.[1][15][16]
Di meja perundingan, Tonsawang juga dibenarkan, karena hampir semua kepala negeri menyatakan Ponosakan bersalah.[24]
Tetapi perkara dengan Mongondow tidak pernah selesai. Raja tidak mengaku kalah, utusannya tidak datang, dan Kompeni sendiri sengaja membiarkan permusuhan itu tetap hidup. Yang tersisa dari perang tahun 1692 ini adalah sebuah duri yang dibiarkan tertancap.
Akhir kata
Perang Tonsawang tahun 1692 mungkin hanya berlangsung singkat, tetapi arsip VOC menyimpan jejak tentang dendam, keberanian, dan rumitnya hubungan antarnegeri di Minahasa pada akhir abad ke-17.
Pasukan Mongondow akhirnya mundur ke pantai, tetapi permusuhan tidak benar-benar berakhir. Bahkan Kompeni VOC memilih membiarkan bara konflik itu tetap menyala. Sejarah mencatat kemenangan Tonsawang di medan perang, tetapi juga memperlihatkan bahwa di balik setiap perdamaian, selalu ada kepentingan politik yang bermain.
Catatan kaki
Member Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Alfa Leo

