Pilihan Pembaca
light_mode
Topik Menarik
Beranda » Sejarah » Sebelas Negeri Mengangkat Senjata: Ketika Tonsawang Terancam Serbuan Mongondow 1692

Sebelas Negeri Mengangkat Senjata: Ketika Tonsawang Terancam Serbuan Mongondow 1692

  • calendar_month 10 jam yang lalu
  • visibility 15
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada akhir Maret tahun 1692, di istana Raja Mongondow di Pajoa, dua utusan Kompeni VOC bertanya kepada Raja Loloda Mokoagow, apa buktinya bahwa orang Tonsawang yang membunuh rakyatnya? Raja pun menjawab singkat.

Kepala-kepala orang yang dibunuh itu katanya, masih dipajang di depan rumah hukum di Tonsawang, “staande ten toon voor de huijsinge vanden hoecum”. Itu sudah cukup sebagai bukti.1

Jawaban itu hanya satu potongan dari perkara yang selama berbulan-bulan menyeret Tonsawang, Ponosakan, Tonsea, Kerajaan Mongondow, dan hampir seluruh negeri di pegunungan Minahasa. Jejaknya tersimpan dalam jurnal dan surat dua utusan Ternate, fiskal Jacob Claasz dan asisten Jan Walraven de la Fontaine yang dikirim untuk menyelesaikannya.

Tulisan tangan arsip Den Haag

Tulisan tangan arsip Den Haag (nationaalarchief.nl)

Tulisan tangan Istana Pajoa pada arsip kemungkinan besar adalah Poyowa, kini di Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu.

Lima Orang Dibunuh di Teluk Amurang

Pada 10 November 1691, Kopral Pieter Favorauw, wakil Kompeni VOC di Bolaang tiba di Manado. Ia melapor bahwa lima orang Bolaang dibunuh di sekitar Amoera, yaitu Amurang.2

Menurut kabar yang beredar, pembunuhnya orang dari “het agter dorp Tonsawan”, negeri Tonsawang di balik pegunungan. Pada hari Natal 1691, Residen Manado Harmen Jansz Steijnkuijler juga mencatat perkara Tonsawang dalam catatan hariannya.3

Di Ternate, dewan menilai keadaan di Manado sudah terlalu kusut. Menurut dewan VOC, Residen Steijnkuijler sendiri “zig te veel heeft ingewikkelt”, sudah terlalu terlibat sehingga perintah apa pun kepadanya justru bisa memperkeruh suasana. Karena itu diangkat dua utusan khusus, dibekali instruksi tertulis yang lengkap. Steijnkuijler hanya diperintahkan menaati apa pun yang mereka perintahkan atas nama Kompeni VOC.

Tepat ketika keduanya bersiap berangkat, pada Minggu 17 Februari 1692 sekoci De Tonijn tiba dari Batavia membawa kabar pergantian pimpinan. Gubernur-Jenderal Camphuys mundur, dan Ternate akan mendapat gubernur baru yaitu Cornelis van der Duijn. Para utusan berangkat ke Manado pada 21 Februari 1692.4

Serbuan Pertama, Maret 1692

Tak lama sesudah tiba di Manado, para utusan mendengar bahwa orang Mongondow sedang bergerak, tetapi belum jelas ke mana.

Pada 1 Maret mereka menulis kepada Raja Loloda untuk memberitahukan kedatangan mereka, dengan harapan gerakan itu bisa dihentikan.5 Kabar yang datang kemudian makin buruk yaitu “alde volkken van den conincq Laloda, in optogt waren, naar Tonsawan”, semua rakyat Raja Loloda sedang berbaris menuju Tonsawang.6

Sersan Daniel Febert dikirim ke wilayah pegunungan lewat Langowan menuju Pasan bersama beberapa serdadu, seorang kopral, dan seorang bobato dari tiap negeri bawah. Pada Rabu 19 Maret 1692, sekitar tengah hari, ia kembali dan melapor secara lisan dari Kakas.

Pasukan Mongondow sudah bertempur dengan orang Tonsawang, “dat van weder sijde twee personen waren doot gebleven”, dua orang tewas di masing-masing pihak, lalu orang Mongondow mundur ke pantai.7

Dari pertempuran itu lahir sengketa baru. Orang Ponosakan mengizinkan orang Mongondow menguburkan dua jenazah mereka di negeri Ponosakan.

Bagi orang Tonsawang, itu sama saja dengan memihak musuh. Gubernur Ternate kemudian mencatat bahwa penguburan itu dianggap buruk “niet alleen bij de Tonsawanders maar ook meest bij alle d’andere dorpluijden”, bukan hanya oleh orang Tonsawang, tetapi oleh hampir semua orang negeri lain.8

Para Bobato Datang ke Manado

Esok paginya 20 Maret, para bobato dari negeri-negeri selatan dan pegunungan sudah menunggu di loji. Nama mereka tercatat satu per satu.

  • Tombasian: hukum Barongan dan Mongbaring.
  • Langowan: hukum mayor Boeijsang, bersama kapitan, letnan, dua sersan, kopral, dan marinyonya.
  • Roemon (kemungkinan Rumoong): hukum Oondung, bersama kapitan, sersan, kopral, dan dua marinyonya.
  • Pasan: hukum Tololieuw dan Soloean, kapitan Babo, dan kopral Toemebang.
  • Ponosakan: hukum Boeijsan dan Timpal.
  • Kakaskasen: lengkap dengan semua pejabatnya, dari hukum Tiekonowe dan kapitan Cierang sampai marinyo Lomonpoi.

Mereka menyalami para utusan satu per satu.9

Hukum Soepit menjelaskan mengapa ia terlambat. Ia baru kembali dari Tonsawang, dan di sana ia sendiri menyaksikan bahwa orang Tonsawang, Pasan, dan Ratahan sudah bentrok dengan orang Tonsea.

Ia memperkirakan para bobato Tonsea, Ratahan, dan Pasan akan segera datang. Tetapi ia ragu orang Tonsawang mau datang, karena “de zaken aldaar niet wel en stonden”, keadaan di sana tidak baik.10

Ketika rapat bubar dan para bobato pulang, orang Ponosakan mendapat kabar di tengah jalan bahwa beberapa ratus orang Mongondow sudah menyerbu negeri mereka. Hukum Ponosakan bernama Makatoppa, segera mengirim utusan kepada para komisaris, “met versoek om hulpe tot haarder bescherminge”, meminta bantuan untuk melindungi negerinya.11

Ke Istana Pajoa

Para utusan VOC memutuskan menemui raja sendiri. Mereka berlayar dengan perahu hoeker Den Bril ke Bolaang, lalu berjalan kaki ke pedalaman, dipandu antara lain oleh Kaicil Manoppo, putra raja. Malam pertama mereka bermalam di dusun Salmandongen.

Pada Selasa 25 Maret, hujan lebat memaksa mereka membuat pondok di hutan, karena menurut para pemandu Sungai Wanga sedang banjir dan tidak bisa diseberangi.

Esok harinya, sekitar pukul sepuluh pagi, mereka tiba di dusun Wanga dan beristirahat di rumah hukumnya bernama Dallack, sebelum melanjutkan perjalanan ke Pajoa.12 Jadi Wanga terletak di jalan dari Bolaang ke istana, di tanah Mongondow sendiri.

Di Pajoa, raja menjelaskan bahwa pasukannya tidak bermusuhan dengan Ponosakan, “als sijnde hun beste vrunden en bloetverwanten”, karena mereka adalah sahabat terbaik dan kerabat sedarah.

Musuhnya adalah Tonsawang. Menurut raja, orang Tonsawang sudah berkali-kali membunuh rakyatnya, dan baru-baru ini memenggal lima orang lagi di teluk Amurang. Ia tidak sanggup lagi menahan rakyatnya membalas, apalagi beredar kabar bahwa orang Tonsawang sudah terlihat di sekitar Wanga.

Ketika ditanya apa buktinya, raja menyebut kepala-kepala yang dipajang di depan rumah hukum Tonsawang.13

Ketika ditanya mengapa ia tidak mengadu dulu kepada residen di Manado, raja menjawab bahwa ia memang berniat begitu, tetapi kabar serbuan datang lebih dulu. Para utusan memintanya “op ‘t vriendlijkste”, dengan sangat ramah, supaya tidak bertindak sendiri dan mengirim wakil ke Manado ketika mereka kembali ke sana. Raja menyanggupi.

Pada 31 Maret, dari atas kapal Den Bril dalam pelayaran ke Kaidipang, para utusan melapor kepada gubernur VOC bahwa raja dan orang Tonsawang sama-sama sudah diperintahkan diam sampai mereka kembali.14

Rapat di Manado, Mei 1692

Para utusan kembali ke Manado pada pertengahan Mei. Pada hari Minggu 18 Mei, empat bobato Tonsawang akhirnya datang.

Mereka mengaku terlambat diberi kabar. Keesokan harinya, utusan Ponosakan dan Tonsawang dipanggil bersama. Orang Tonsawang menyatakan bersedia menghormati Kompeni, tetapi mereka meminta izin menyerang Ponosakan kalau orang Ponosakan tetap keras kepala.

Menurut mereka, Ponosakan adalah “volk van geen trouw”, orang yang tidak bisa dipercaya, karena “houdende so wel met den conink van Magondo als met de Comp:”, mereka berpihak kepada raja Mongondow sekaligus kepada Kompeni.15

Hukum Romocko dari Tonsawang lalu menceritakan asal mula perkara.

Beberapa hari sebelum perdamaian terakhir antara Tonsea dan Ponosakan, hukum Makatoppa dari Ponosakan menyatakan bersahabat dengan Tonsawang. Ia berjanji bahwa kalau orang Mongondow datang, Ponosakan akan menutup jalan bagi mereka.

Berpegang pada perjanjian itu, orang Tonsawang membuka kembali jalan-jalan yang sebelumnya mereka tutup. Lewat jalan itulah orang Mongondow melintasi Ponosakan, mendekati Tonsawang, dan membunuh beberapa penduduknya.

Ketika hukum mayor Lonto dan utusan Kompeni lain memperingatkan Ponosakan supaya menutup jalan, menurut Romocko peringatan itu disangkal dan ditolak.16

Kontrak Dibacakan, Para Kepala Menimbang

Sebelum perkara diputus, kontrak dengan Kompeni dibacakan “jnde alphoerese tale”, dalam bahasa Alfur, bahasa orang pegunungan.

Semua kepala negeri mendengarkan dengan saksama dan membenarkan bahwa itulah syarat persekutuan mereka dengan Kompeni. Ponosakan dan Tonsawang masing-masing ditanya apakah mereka akan menaatinya, dan keduanya berjanji. Para kepala lalu meminta salinan kontrak dalam bahasa mereka sendiri, dan para utusan menjanjikannya.17

Kemudian setiap kepala negeri ditanya dengan pertanyaan apakah Ponosakan bersalah? Manado, Bantik, dan Ratahan membela Ponosakan. Negeri itu diserbu kata mereka dan tidak sanggup bertahan.

Namun kepala-kepala negeri lain menyatakan Ponosakan “ten hoogsten schuldig”, sangat bersalah.

Para utusan menilai pendapat orang Aris yang paling mendekati kebenaran. Makatoppa memang sempat memberi kabar kepada Kompeni tentang kedatangan orang Mongondow kata orang Aris, tetapi ia juga wajib memberi kabar kepada Tonsawang, karena atas janjinya orang Tonsawang sudah membuka jalan-jalan mereka.18

Dua Budak dan Satu Preseden

Para kepala negeri yang menganggap Ponosakan bersalah lalu mengusulkan denda yaitu dua budak, “een voor d’E Comp: en een omme te Toktokken”, satu untuk Kompeni dan satu lagi untuk dikorbankan dalam upacara toktoken, ditambah emas, kain, dan senapan.

Para utusan menyebut usul itu “onbillikheijt en wreedheijt”, tidak adil dan kejam, dan menasihati para kepala negeri supaya tidak menghukum orang yang tidak bersalah menggantikan yang bersalah.

Para kepala negeri menjawab dengan adat mereka “dat het lant niet konde gesoent werden als met bloet”, negeri tidak bisa didamaikan kecuali dengan darah.19

Para utusan tahu mereka tidak akan bisa menghapus adat itu, jadi mereka hanya berusaha mencegahnya kali ini. Mereka mengingatkan perkara yang baru dua bulan berlalu.

Lima orang Tonsea dibunuh orang Mongondow yang lalu mundur lewat jalan Ponosakan. Atas keputusan bersama para kepala Tonsea, mereka dikejar oleh letnan Campoer bersama beberapa orang. Campoer baru beberapa bulan menjadi letnan Tonsea. Ia diangkat Residen Steijnkuijler pada akhir September 1691 untuk menggantikan letnan Aloey yang wafat. Campoer tidak menemukan orang Mongondow yang bersalah. Ia lalu membalas dendam kepada penduduk Ponosakan yang ia temui dan membunuh beberapa di antara mereka.

Waktu itu justru orang Ponosakan yang menuntut darah. Para utusan tahu bahwa darah itu akan jatuh pada seorang budak tak bersalah, yang di kalangan mereka disebut toktokken.

Perkara itu akhirnya diputus pada 11 Maret 1692 tanpa darah:

  • Untuk Kompeni, Tonsea harus menyerahkan seorang budak hidup atau enam last padi.
  • Untuk dibagikan menurut adat, mereka menyerahkan lima belas span emas Alfur, lima tombak, lima keris, lima depa kain cita, dan sebuah periuk minyak.
  • Bagi kerabat orang-orang yang terbunuh, Tonsea menyerahkan tiga potong kain guinees.

Orang Ponosakan menerimanya dengan puas.20

Kemudian para utusan VOC bertanya, mengapa sekarang, ketika giliran Ponosakan yang bersalah, para kepala negeri begitu bersemangat menumpahkan “onnosel bloet”, darah orang tak bersalah? Ponosakan memang agak bersalah karena membiarkan orang Mongondow lewat. Tetapi kesalahan itu lebih menyangkut pelanggaran kontrak dengan Kompeni daripada urusan antarnegeri. Para kepala akhirnya setuju menerima denda barang.

Dalam pemeriksaan muncul satu nama yaitu Balondij, seorang Ponosakan yang ikut membantu orang Mongondow. Para bobato Ponosakan menyatakan ia pergi tanpa sepengetahuan dan perintah mereka, dan tidak ada kepala negeri lain yang membantah.

Putusannya ada tiga:

  • Balondij diserahkan kepada Kompeni untuk dihukum sesuai hasil pemeriksaan.
  • Ponosakan harus menebang seratus papan untuk loji dan benteng.
  • Karena menguburkan dua orang Mongondow di negerinya, Ponosakan membayar denda menurut adat yaitu dua span emas, enam depa kain lenan, dua tombak, dua keris, dua depa kain cita.

Besar denda itu disesuaikan dengan denda Tonsea dua bulan sebelumnya.21

Hanya orang Tombariri yang masih berkeras memprotes lewatnya orang Mongondow melalui Ponosakan. Para utusan tidak mau membendung semangat itu. Mereka malah menganjurkan supaya orang Tombariri menjaga kebebasan mereka dan “niemant van buijten komende, in haar land te dulden”, tidak membiarkan orang luar masuk ke tanah mereka.

Para utusan juga menjelaskan mengapa mereka bersikap lunak karena seandainya Ponosakan lalai mengabarkan serbuan orang Mongondow tepat waktu, kompeni tidak akan bersikap lunak, kompromis, atau sebaik/selembut itu dalam menghadapi situasi tersebut.22

Sumpah yang Ditunda

Ketika sumpah perdamaian hendak diucapkan, Ponosakan sudah siap, tetapi Tonsawang menolak. Menurut mereka, denda harus ada di tempat lebih dulu. Karena menurut adat negeri mereka, mereka berhak mengirim orang ke Ponosakan untuk mengambil denda itu sebagai eksekusi.

Ponosakan meminta waktu delapan hari. Para utusan memutuskan bahwa denda dibayar dalam sepuluh hari di Ponosakan. Pembayaran itu disaksikan seorang kopral Kompeni, ketiga hukum mayor, dan kepala-kepala semua negeri, lalu sumpah diucapkan di sana. Keputusan itu diterima “met volle genoegen”, dengan sepenuh hati.23

Duri di Kaki Mongondow

Raja Mongondow tidak pernah mengirim wakil. Pada 20 Mei para utusan VOC menulis kepadanya. Mereka heran tidak mendengar kabar sedikit pun dari raja, padahal raja sudah berjanji. Raja diminta segera mengirim utusan untuk menyelesaikan perkara dengan Residen Manado Steijnkuijler.

Kalau tidak, Kompeni “onschuldig te willen sijn”, tidak mau ikut bertanggung jawab, atas kerugian yang kelak menimpa tanah raja dari pihak-pihak yang dirugikan.24

Esok harinya pada 21 Mei, para utusan memutuskan tidak menunggu lagi. Mereka meninggalkan perintah tertulis kepada Steijnkuijler. Perdamaian antara Tonsawang dan Mongondow boleh diusahakan, “maar niet al te vast te maken”, tetapi jangan dibuat terlalu kokoh, dan jangan sampai membuka jalan bagi persekutuan di antara mereka.

Alasannya ditulis sebagai berikut

“dat dien doorn van Tonsawan, nog wat jnde voet der Magonders bleef steken”

Artinya: biarlah duri Tonsawang itu tetap tertancap sedikit di kaki orang Mongondow.25

Sebelas Negeri Berangkat ke Pasan

Belum seminggu sesudah para utusan berlayar ke Siau pada 28 Mei 1692, hukum Paat, Soepit, dan Lonto mengirim kabar lewat kopral Kakaskasen, bernama Panamo. Dari pedalaman Pasan sampai Langowan tersiar kabar bahwa seribu orang Mongondow sudah sampai di Ponosakan, dan seribu lagi di pantai, untuk menghancurkan Tonsawang.

Sore itu juga residen memanggil hukum mayor Soepit. Sesuai pembicaraan mereka sebelumnya, orang pegunungan boleh membela diri melawan orang Mongondow, dan mengusir mereka dari tanah mereka.

Keesokan harinya pada 29 Mei, hukum mayor Paat mengirim kabar lewat anak buahnya bernama Toelar. Para bobato dan rakyat sebelas negeri sudah berangkat ke Pasan untuk membantu Tonsawang, bersama hukum Soepit dan Lonto. Kesebelas negeri itu adalah Tomburierij (Tombariri), Tonsoronson, Tonsea, Tondano, Cacas (Kakas), Rombochen (Remboken), Langoeban (Langowan), Tompasso (Tompaso), Tonbatsan, Romohon, dan Tonkinbout.

Pada 30 Mei, Paat melapor bahwa semua pejabat dan rakyat negeri-negeri atas sudah berangkat, kecuali orang-orangnya sendiri. Residen Steijnkuijler hanya bisa mencatat bahwa mereka pergi “buijten last, of weet van mijn”, tanpa perintah dan tanpa sepengetahuannya. Ia meramalkan bahwa orang Mongondow akan diperlakukan dengan cara yang “dat de coninq: van Magondo niet aangenaam sal wesen”, tidak akan menyenangkan raja Mongondow.

Dalam surat yang sama, bertanggal 31 Mei 1692, Steijnkuijler menyampaikan sebuah desas-desus. Tak lama sebelum para utusan berangkat, hukum Makatoppa dari Ponosakan dikabarkan pergi ke istana Mongondow dan meminta raja mengirim orang untuk membantu, karena orang Tonsawang hendak menjarah negerinya.

Kalau kabar itu benar kata Steijnkuijler, itu bisa menjelaskan mengapa raja Mongondow tidak pernah mengirim utusannya ke Manado.26

Sebelas negeri pegunungan bergerak membela satu negeri di perbatasan selatan tanpa menunggu Kompeni. Ketiga hukum mayor yang memimpin mereka, Paat, Soepit, dan Lonto, adalah “de drie hoecums majoors”, tiga hukum mayor yang sejak Maret dianggap sanggup menengahi perkara itu.

Jawaban dari Laut

Surat residen Steijnkuijler sampai ke tangan para utusan di dekat Pulau Biaro, dibawa seorang Manado bernama Salomon. Surat tersebut membuat para utusan VOC menjadi ragu.

Menurut mereka, jumlah dua ribu orang itu “door de vrees vrij wat sal zijn gemultipliceert”, sudah dilipatgandakan oleh rasa takut, dan kopral Kompeni di Bolaang pun tidak melaporkan apa-apa.

Mereka mengingatkan residen Steijnkuijler bahwa dalam perdamaian terakhir sudah kelihatan sebagian besar kepala negeri, termasuk ketiga hukum mayor, berprasangka terhadap Ponosakan, terutama terhadap Makatoppa. Jadi kabar dari pihak mereka harus diterima dengan hati-hati.

Meski begitu, para utusan memberi perintah dengan tegas :

  • Kalau kabar itu benar, orang Mongondow harus meninggalkan tanah Kompeni VOC dalam dua puluh empat jam, atau menanggung akibatnya “op hun hals”, di atas leher mereka sendiri.
  • Ponosakan harus menutup jalan bagi semua pasukan asing, atau diperlakukan “als breekers van het contract”, sebagai pelanggar kontrak yang baru saja mereka perbarui.
  • Orang pegunungan harus ditahan dalam batas kepatutan.

Tetapi kalau orang Mongondow terus menyerang, tidak ada alasan membiarkan penindas rakyat Kompeni, “te meer de natuur selfs leert, dat yder het sijne beschermen mag”, apalagi alam sendiri mengajarkan bahwa setiap orang boleh membela miliknya.27

Sesudahnya

Pada 16 Juli 1692, Ternate melaporkan ke Batavia bahwa sebelum sersan dan kopral Kompeni sampai di Tonsawang, orang Mongondow sudah dua kali bertempur dengan orang Tonsawang. Ada korban di kedua pihak, dan masing-masing merampas senjata lawan.28

Bagaimana pertempuran besar di akhir Mei itu berakhir akan ditulis terpisah.

Nasib Balondij belum diketahui. Satu atau dua tahun kemudian, sebuah surat Melayu masih menyebut orang Mongondow “bellom djadi badameij dengan orang Tonsawang”, belum juga berdamai dengan orang Tonsawang.29

Akhir kata

Sejarah tahun 1692 ini memperlihatkan bahwa negeri-negeri pegunungan Minahasa bukanlah ruang yang terpisah-pisah tanpa hubungan. Jauh sebelum kata Minahasa digunakan di antara Tonsawang, Pasan, Ponosakan, Tonsea, hingga negeri-negeri di utara, terdapat perjanjian, perselisihan, kepentingan, dan solidaritas yang jauh lebih rumit daripada yang sering kita bayangkan.

Arsip VOC memang ditulis oleh orang asing, tetapi di antara baris-barisnya tersimpan suara para hukum, keputusan para bobato, dan gerak sebelas negeri yang memilih turun tangan ketika salah satu dari mereka terancam.

Tiga abad lebih telah berlalu. Nama-nama itu mungkin mulai terlupakan, tetapi peristiwa ini mengingatkan kita bahwa sejarah Minahasa tidak hanya dibentuk oleh benteng dan kekuasaan kolonial, melainkan juga oleh keputusan orang-orang negeri sendiri.

Catatan dan Sumber Arsip

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Piet Jan Lang: Pejuang Perang Dunia II di Manado

    Piet Jan Lang: Pejuang Perang Dunia II di Manado

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2024
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Sejarah heroik sering kali terukir dalam tragedi, dan kisah Piet Jan Lang adalah salah satu yang tidak akan pernah dilupakan. Sebagai anggota tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands Indisch Leger – KNIL), Piet Jan Lang menunjukkan keberanian luar biasa dalam melawan kekuatan militer Jepang selama pertempuran sengit di sekitar Manado, Sulawesi Utara, pada awal Perang […]

  • De kampung Rurukan bij Tomohon (Arsip Utrecht 1904)

    Jejak Sejarah Rurukan: Dari Tradisi Tumani Tombulu hingga Sentra Hortikultura Pegunungan Minahasa

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Di lereng timur Gunung Mahawu, pada hamparan tanah vulkanik yang subur dan berhawa sejuk, berdirilah Rurukan sebuah wilayah tua yang kini berstatus kelurahan di Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Di balik bentang kebun sayur dan panorama pegunungan yang kini dikenal wisatawan, Rurukan menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah Minahasa: mulai dari tradisi pembukaan hutan […]

  • Manfaat Produktif Dari Minat Membaca Terhadap Masyarakat Indonesia Di Era Digital

    Manfaat Produktif Dari Minat Membaca Terhadap Masyarakat Indonesia Di Era Digital

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Oleh Jerry Bambuta – Pendiri Forum Literasi Masyarakat Dalam sejarah peradaban manusia, membaca/menulis termasuk salah satu tradisi paling kuno yang telah melalui proses evolusi seiring perkembangan peradaban manusia. Di era sejarah masa lalu, manusia menulis dengan menggunakan berbagai media seperti daun lontar, kertas papyrus, kulit hewan, atau juga di atas prasasti batu atau logam. Bahkan, […]

  • melihat

    Melihat Keajaiban Batu Dinding Kilo Tiga di Bitung!

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • visibility 68
    • 0Komentar

    🪨 Melihat Keajaiban Batu Dinding Kilo Tiga di Bitung: Eksotis & Instagramable! Hai, traveler sejati! 🌿 Kalau kamu lagi cari destinasi wisata alam yang unik dan belum banyak diketahui orang, yuk melihat Batu Dinding Kilo Tiga di Kota Bitung, Sulawesi Utara bisa jadi pilihan yang pas banget! Tempat ini menyuguhkan keajaiban alam yang bikin kamu […]

  • Kain Bentenan dalam Catatan Graafland dan Jasper–Pirngadie

    Kain Bentenan dalam Catatan Graafland dan Jasper–Pirngadie

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Dalam De Minahassa yang terbit pada 1867, N. Graafland menulis tentang bentenangsch fabrikaat, atau tenunan Bentenang. Ia menjelaskan dalam catatan kaki bahwa Bentenang dahulu merupakan nama bersama bagi distrik Passan dan Ratahan. Graafland belum memakai sebutan “kain Bentenan” dalam bagian tersebut. Buku terbitan 1867 ini mencatat keberadaan dan pemakaian tenunannya, tetapi tidak menyebut kapan kain […]

  • Watu Tumotowa Desa Lelema, Minsel (foto Iwan Sual)

    Batu Suci Tumotowa dan Awal Peradaban Minahasa

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Di tengah lanskap perkampungan atau Wanua tradisional Minahasa, keberadaan monumen batu tidak sekadar menjadi bagian dari bentang alam. Dalam catatan para etnografer, pejabat, dan misionaris kolonial Belanda pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, batu-batu ini justru menempati posisi sentral sebagai pusat kosmis sekaligus penyangga tatanan sosial. Salah satu yang paling menonjol adalah Watu Tumotowa, […]

expand_less