Pilihan Pembaca
light_mode
Topik Menarik
Beranda » Sejarah » Pasar Ikan Manado

Pasar Ikan Manado

  • calendar_month Rabu, 4 Nov 2026
  • visibility 8
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada hari pertamanya di Manado dalam perjalanan 1855, Pieter Bleeker berjalan ke pasar dan melihat beberapa ikan yang belum dikenalnya. Pengalaman itu dicatat dalam Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, terbit pada 1856. Bleeker mengikuti perjalanan Gubernur Jenderal A.J. Duymaer van Twist pada September dan Oktober 1855. Di sela kegiatan rombongan, ia mengamati kota serta berusaha menambah koleksi alamnya. Pasar menjadi salah satu tempat yang dikunjunginya untuk pekerjaan tersebut.

Manado yang digambarkan Bleeker berada di tepi teluk dan pada sisi kiri sungai. Ia memperkirakan penduduk kota berjumlah lebih dari 2.500 orang. Dengan memasukkan negeri Bantik dan Negeri Baru yang berdekatan, perkiraannya meningkat menjadi sekitar 4.000 orang. Angka-angka tersebut mengikuti cakupan permukiman yang dibedakannya pada saat kunjungan. Di bagian barat kota, dekat tempat kapal berlabuh, terdapat benteng, kantor residen, barak, gudang pemerintah, dan pasar beratap.

Rumah penduduk Eropa berada di sebelah utara dan selatan benteng, sedangkan kawasan Tionghoa terletak di sebelah timurnya. Kawasan yang disebut terakhir berbatasan dengan sungai. Rumah residen berada pada batas timur kawasan tersebut. Bleeker juga mencatat jalan-jalan utama yang lebar dan pada banyak tempat saling berpotongan tegak lurus. Di antara pengamatannya atas susunan kota itu, ia menyempatkan diri melihat barang yang diperdagangkan di pasar.

Pasar Manado ditutup sebuah bangunan beratap dan menurut Bleeker cukup ramai dikunjungi. Barang dagangannya meliputi buah, gambir, tembakau, sirih, garam, kain, barang kecil, serta ikan. Garam dijual dalam keranjang memanjang dari daun palma dan dari jauh sempat disangkanya sebagai gula yang belum dimurnikan. Ia membandingkan ragam barang itu dengan yang dijumpai pada pasar di kota-kota utama Jawa. Penilaiannya mengenai perputaran perdagangan lebih terbatas: pasar Manado disebut mempunyai kegiatan yang berarti dibandingkan beberapa pasar lain yang dibahas dalam perjalanan tersebut.

Bleeker membedakan keberadaan bangunan pasar dengan berlangsungnya kegiatan pasar. Bangunan semacam itu disebut terdapat di Manado, Amurang, Tomohon, Sonder, Tondano, Kakas, Kema, dan Belang. Akan tetapi, ia menyatakan pasar diselenggarakan di Manado, Tomohon, Kakas, dan Tondano. Hanya pasar Manado yang disebut dipachtkan, dengan nilai 3.250 gulden pada 1855. Keterangan ini merupakan gambaran yang diberikan bukunya tentang keadaan pasar pada masa kunjungan.

Di antara ikan yang belum dikenalnya, Bleeker menyebut anggota kelompok Mesoprion, Lethrinus, Sicijdium, Julis, dan Leptocephalus. Ia kemudian menyatakan daftar ikan yang diamati di berbagai tempat selama perjalanan akan disajikan pada bagian akhir karya. Nama kelompok tersebut memperlihatkan bahwa pengamatannya disertai pencatatan ilmiah. Namun, pernyataan “belum dikenal” itu merujuk pada pengetahuan Bleeker saat melihatnya; bukan keterangan bahwa semua ikan pasar tersebut kemudian ditetapkan sebagai spesies baru.

Mengenai persediaan, Bleeker menilai penangkapan ikan di Manado belum dilakukan dalam skala besar meskipun teluknya kaya ikan. Ia berpendapat konsumsi ikan kering di pedalaman Minahasa masih dapat ditingkatkan. Bahkan kebutuhan kota sendiri menurutnya belum terpenuhi dengan cukup. Ia menghubungkan keadaan itu dengan mahalnya ikan di Manado, yang disebut lebih mahal daripada di Batavia, tempat ikan juga sudah dinilainya tidak murah.

Ia memberikan contoh harga hasil laut yang dilihatnya. Tuna kecil dengan panjang belum mencapai satu kaki dijual seharga setengah sampai satu gulden. Seekor penyu laut dengan panjang lebih dari dua kaki dibayar dua belas gulden. Contoh itu dicatat bersama pengamatannya tentang harga dan persediaan. Bleeker tidak menyertakan rangkaian harga sepanjang tahun, sehingga angka tersebut menggambarkan contoh transaksi yang disebut dalam kisah kunjungannya.

Pelaku penangkapan ikan juga disebut secara khusus. Menurut Bleeker, pekerjaan itu hampir seluruhnya berada di tangan kelompok burger Kristen dan Muslim. Sebutan burger mempunyai latar sosial tersendiri. Dalam catatan penyuntingan laporan C.C. Prediger tahun 1804, F.S. Watuseke menjelaskan burgerij sebagai kelompok penduduk dengan asal beragam, antara lain dari Maluku dan Filipina, yang pada masa Kompeni menjalankan kewajiban tertentu serta memperoleh sejumlah hak istimewa.

Laporan Prediger juga memuat keterangan lebih awal mengenai kegiatan menangkap dan menjual ikan. Ia menulis bahwa hasil penjualan ikan dipakai penduduk burger untuk memperoleh beras atau jagung serta kebutuhan lainnya. Keterangan 1804 itu mendahului kunjungan Bleeker lebih dari setengah abad. Kedua sumber sama-sama menghubungkan kelompok burger dengan penangkapan ikan, meskipun tidak memberikan daftar pelaku atau data yang membuktikan susunan pekerjaan tetap sama sepanjang masa di antara keduanya.

Pengamatan Bleeker terhadap ikan berlanjut ketika rombongan memasuki pedalaman. Di Danau Linow, yang ditulisnya sebagai Linoe, ia menyebut gabus yang dikenal setempat sebagai kebos, betok yang disebut geteh-geteh, serta sejenis sidat yang dinamai sugili atau kasili. Nama ilmiah yang dicantumkannya mengikuti pengetahuan pada masa itu. Bleeker menyampaikan keberadaan kelompok-kelompok tersebut dengan kata yang menunjukkan perkiraan, bukan sebagai hasil inventarisasi lengkap seluruh jenis ikan danau.

Ketika membicarakan Danau Tondano, ia kembali merujuk tiga kelompok ikan yang telah disebutnya dalam uraian Danau Linow. Menurutnya, Danau Tondano kaya ikan, tetapi jenisnya tampaknya terbatas pada kelompok tersebut. Pada bagian yang sama ia menjelaskan pemanfaatan danau untuk pengangkutan hasil bumi dan perjalanan penduduk ke sawah di tepi danau. Dengan demikian, catatan perairannya memuat sekaligus keterangan mengenai hewan dan kegiatan penduduk yang menggunakan danau.

Jejak lain penelitian ikan Manado terdapat dalam Eschmeyer’s Catalog of Fishes. Katalog California Academy of Sciences tersebut mencatat Anthias manadensis sebagai nama yang dideskripsikan Bleeker pada 1856, dengan lokalitas Manado dan holotipe bernomor RMNH 5456. Rujukannya menunjuk halaman 39 tulisan dalam Acta Societatis Regiae Scientiarum Indo-Neêrlandicae, jilid 1 nomor 6. Katalog menerima nama Pseudanthias manadensis untuk ikan tersebut.

Entri katalog itu menautkan nama ikan, deskripsi ilmiah, lokalitas, dan spesimen tipe. Buku perjalanan Bleeker menyediakan keterangan berbeda: pengamatannya terhadap ikan yang dijual, keadaan penangkapan, pelaku perikanan, serta ikan perairan pedalaman. Sumber yang diperiksa tidak menghubungkan holotipe tersebut dengan ikan tertentu pada kunjungan pasar hari pertama. Yang tercatat jelas ialah kegiatan pengamatan Bleeker pada perjalanan 1855 dan keberadaan nama ikan dari Manado dalam penerbitan ilmiah tahun berikutnya.

Referensi

Bleeker, Pieter. Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel. Jilid I. Batavia: Lange & Co., 1856.

California Academy of Sciences. Eschmeyer’s Catalog of Fishes. Entri Anthias manadensis Bleeker, 1856. Diakses 3 November 2026.

Watuseke, F.S., dan D.E.F. Henley. “C.C. Predigers verhandeling over het plaatselijke bestuur en de huishouding van de Minahasa in 1804.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 150, no. 2 (1994): 357–385.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Jesajas Pongoh 1878 - 1934 (Repro Ai)

    Jesajas Pongoh, Sersan Marsose Minahasa Penerima Militaire Willems-Orde di Tiga Palagan

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Dalam sejarah militer Hindia Belanda, nama-nama serdadu bumiputra kerap tenggelam di balik bayang-bayang para perwira Eropa. Mereka hadir sebagai angka dalam laporan operasi atau sekadar statistik korban dalam arsip kolonial. Namun, sesekali muncul sosok yang melampaui batas rasial dan hierarki itu figur yang reputasinya bahkan diakui oleh para jenderal Belanda sendiri. Salah satu di antaranya […]

  • Lukisan Danau Tondano (1856)

    Lukisan Danau Tondano (1856)

    • calendar_month Senin, 16 Des 2024
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Het meer van Tondano met herten op de voorgrond Vervaardigingsjaar : 1865 – 1872 Tekenaar : L.H.W.M de Stuers Danau Tondano,Sulawesi Utara dengan latar depan sekumpulan rusa…tahun pembuatan antara tahun 1865 – 1872 (Geheugenvannederland, juru gambar : Louis Henri Wilhelmus Merkus de Stuers)

  • Rumah Sakit Pembantu di Sonder dan Tomohon

    Rumah Sakit Pembantu di Sonder dan Tomohon

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Sonder Pelayanan kesehatan yang dilakukan kalangan zending di Minahasa telah berlangsung sebelum berdirinya rumah sakit pembantu. J. W. Gunning, dalam tulisannya De Protestantsche Zending in de Minahassa tahun 1924, mencatat bahwa para zendeling di Minahasa berusaha memberikan bantuan medis kepada penduduk. Gunning menghubungkan pendirian sebuah hulpziekenhuis atau rumah sakit pembantu dengan tahun 1906. Tetapi dalam […]

  • Konsep Penguatan Pemuda Kawanua  Menyongsong Bonus Demografi

    Konsep Penguatan Pemuda Kawanua Menyongsong Bonus Demografi

    • calendar_month Selasa, 11 Apr 2023
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Istilah “kawanua” menjadi cukup populer di berbagai paguyuban berbasis entitas Sulawesi Utara, bukan hanya populer secara local dan nasional tapi juga secara internasional. Dalam persepsi umum, kawanua kerap di identikan dengan warga Sulut dengan segala ragam etnis dan religius yang telah hidup sekian lama dengan harmonis. Secara territorial etnis, Sulawesi Utara di dominasi oleh etnis […]

  • Pakaian Wanita Minahasa era 60-an

    Pakaian Wanita Minahasa era 60-an

    • calendar_month Sabtu, 7 Sep 2024
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Dua orang wanita muda asal Minahasa berpose dalam sebuah acara kepemudaan di Australia, 10 Maret 1962 Misses Triena and Isla Sorongan, daughters of Andrew Sorongan from Minahassa , sheltered from the rain under an Indonesian “pajong” at the garden party held at the Wingham International Friendship Centre, March 10, 1962. Source Getty Image Colored by […]

  • Air Terjun

    Air Terjun Kali Minut Hidden Gem Alam yang Bikin Hati Adem!

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Selamat Datang di Surga Tersembunyi Minahasa Utara! Halo, Sobat Petualang! Kalau kamu lagi suntuk, capek, atau pengen ‘kabur’ sejenak dari rutinitas, kayaknya kamu perlu liburan yang menyatu dengan alam. Nah, ada satu tempat kece di Minahasa Utara yang mungkin belum banyak orang tahu, tapi worth it banget buat dikunjungi — Air Terjun Kali. Serius deh, […]

expand_less