Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Dari Persahabatan ke Benteng Kayu: Awal Hubungan Manado dan VOC 1653–1656

Dari Persahabatan ke Benteng Kayu: Awal Hubungan Manado dan VOC 1653–1656

  • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
  • visibility 14
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada awal 1656, beberapa utusan dari Manado tiba di benteng Kompeni VOC di Malayu, Ternate. Mereka dan juru bahasa Craen Leendertsz membawa kabar yang langsung menarik perhatian Gubernur Simon Cos, di negeri Kali tumbuh pohon cengkih yang sudah berbuah.¹ Bagi Kompeni, yang sedang memusnahkan cengkih di luar Ambon demi monopolinya, kabar itu cukup memberi alasan untuk mengirim kapal.

Kedatangan utusan itu bukan yang pertama. Tiga tahun sebelumnya, raja Manado sudah meminta persahabatan dengan Kompeni dan sebuah pos dagang tetap di negerinya.²

Artikel ini mengikuti catatan-catatan itu, dari kapal De Beer pada 1653 sampai barikade kayu yang didirikan Kompeni di tempat kedudukan raja pada November 1656. Semua keterangan diambil dari surat-surat Kompeni dan Jesuit yang ditulis pada masa itu.

Raja di Sungai Amoura

Raja yang mengirim utusan itu sedang berada dalam keadaan sulit. Ia tidak lagi tinggal di Manado lama (tua), tetapi di tepi sungai Amoura, kira-kira tujuh atau delapan mil di sebelah barat. Kompeni menyebut orang-orangnya de gevluchte Manaders, orang Manado yang mengungsi.³ Arsip Kompeni pada masa ini tidak pernah menyebut nama raja itu.⁴

Dua puluh tahun sebelumnya, raja Manado justru mencari pelindung pada Spanyol. Pada 1637 ia meminta bantuan Gubernur Spanyol di Ternate untuk melawan sebagian rakyatnya yang memberontak.

Ia juga mengirim putra mahkotanya, yang berumur sekirar 16 atau 17 tahun untuk dibesarkan para Jesuit di Manila dan meminta padri untuk membaptis rakyatnya.⁵

Hubungan dengan Spanyol kemudian memburuk. Pada 1644 Kompeni dan Ternate menyerang Timon, pusat kedudukan Spanyol di pedalaman tetapi gagal. Beberapa bulan kemudian Spanyol memilih mundur ke benteng Gamalamma mereka di Ternate dan selama tujuh tahun negeri itu tidak mereka datangi.⁶

Sesudah perdamaian pada tahun 1651, mereka kembali ke Manado tahun 1653.

Seorang kapten Spanyol bernama Bartholomeo de Soisa, muncul di sisi timur ujung utara Sulawesi dan menuntut upeti beras tahunan atas nama Raja Kastilia.⁷ Menurut Gubernur Cos, Spanyol tidak membeli beras itu. Mereka mengambilnya sebagai upeti sepersepuluh, sekitar seratus last padi dan beras setahun.⁸

Di sekitar Amoura ada kampung-kampung alifuru di pegunungan. Pada 1656 penduduknya masih takut kepada Spanyol, sehingga ragu-ragu memihak raja Manado.⁹ Raja membutuhkan pelindung baru.

Kapal De Beer dan Permintaan Logie, 1653

Kompeni pertama kali datang ke Manado karena beras. Batavia kesulitan mengirim beras ke Maluku, sehingga setahun sebelumnya memerintahkan Ternate mencarinya di ujung utara Sulawesi.¹⁰

Gubernur Ternate Jacob Hustaert lalu mengirim fluit De Beer ke Manado. Kapal itu disambut cukup baik, tetapi hanya pulang membawa 9–10 last padi. Waktunya terlalu singkat, sehingga padi tidak sempat diturunkan dari pedalaman.

Namun Batavia tetap optimis. Kalau penduduk sudah terbiasa dengan kedatangan kapal setiap tahun, Ternate bisa mendapat satu muatan kapal beras setahun, dengan harga 13–14 real per last yang dibayar dengan kain.¹¹ Juru bahasa Craen Leendertsz Geel ikut dalam pelayaran itu. Atas perintah Hustaert ia mendatangi Manado dan negeri Kali.¹²

Ketika pasukan VOC masih di sana, Bartholomeo de Soisa muncul di sisi timur ujung Sulawesi. Ia menuntut upeti beras dan mengancam penduduk di sisi lain.

Alasannya, beberapa tahun sebelumnya seorang padri Spanyol dibunuh di Kali, sebuah negeri penghasil beras yang besar.¹³ Laporan Jesuit Spanyol tahun 1671 masih mengingat orang Manado sebagai orang yang pernah membunuh padri.¹⁴

Dalam keadaan inilah raja Manado mengambil langkah pertama. Batavia mencatat “Ende heeft den vorst van Manado sijne gesanten aenden nederlandtsen Gouverneur in Ternate gesonden, om nader vrundtschap met denselven te maeken ende een vaste logie vande Compe. in sijn landt te hebben.” Raja mengirim utusan untuk mempererat persahabatan, dan meminta Kompeni membuka pos tetap di negerinya. Batavia tidak langsung memutuskan. Perkara itu diserahkan kepada pertimbangan Superintendent De Vlamingh dan Dewan VOC Ternate.¹⁵

Kompeni punya alasan sendiri untuk tertarik. Dalam perintah tertanggal 2 Agustus 1654 kepada Gerrit Roos, schipper-komandan armada yang dikirim ke Bima, Solor, dan Timor untuk mengganggu para pedagang Makassar, Superintendent De Vlamingh menyebut rencana penempatan pasukan “omtrent Tagalando ende Manado”, untuk menguasai ujung timur laut Sulawesi dan menghalangi perahu Makassar berlayar ke Maluku.¹⁶ Bagi raja Manado, Kompeni adalah pelindung terhadap Spanyol. Bagi Kompeni, Manado adalah lumbung beras sekaligus pos jaga.

Kabar Cengkih dari Kali, Awal 1656

Selama tiga tahun permintaan raja belum terjawab. Yang akhirnya membuat Kompeni datang adalah cengkih.

Kompeni VOC ingin menjadi satu-satunya penjual cengkih, sehingga pohon cengkih di luar Ambon ditebang semua. Pada 1656 Gubernur Simon Cos menyuruh orang-orang Mardijker menyisir hutan Makian. Mereka memusnahkan 580 pohon cengkih tua yang sudah berbuah, belum termasuk tunas-tunas mudanya.¹⁷

Pada awal 1656, utusan Manado dan juru bahasa Craen memberi tahu Kompeni bahwa di negeri Kali tumbuh pohon cengkih yang sudah bisa berbuah. Hustaert, yang kini menjadi gubernur Ambon membalas surat Cos tanggal 12 Mei.

Pada 13 Juni 1656 ia menulis bahwa Cos punya “seer groote redenen”, alasan yang sangat kuat untuk mengirim jacht Molucco ke Manado, karena pohon-pohon itu harus dimusnahkan. Hustaert juga heran mengapa Craen tidak melihat pohon itu ketika berada di Kali pada 1653 atau kenapa diam begitu lama. Ia menduga jumlahnya tidak banyak.¹⁸

Sumber tidak menjelaskan mengapa para utusan sendiri membawa kabar itu. Yang jelas, kabar tersebut memberi Kompeni alasan kuat untuk datang ke tempat raja Manado tinggal.

Andriesz di Sungai Amoura, Juli–Agustus 1656

Untuk tugas itu Cos memilih Kapten Paulus Andriesz. Ia bukan orang baru di sini. Dua belas tahun sebelumnya pada 1644, dialah yang memimpin ekspedisi Kompeni VOC yang gagal ke Timon.¹⁹

Kali ini tugasnya ada tiga yakni memusnahkan cengkih di Kali, memeriksa Pulau Tagulandang yang belum pernah didatangi orang Belanda dan menyelidiki keadaan orang Manado yang mengungsi serta peluang dagang beras.²⁰

Andriesz berangkat dengan jacht Molucco pada 2 Juli 1656 dan kembali di Ternate pada 12 Agustus. Di Tagulandang ia menebang 453 pohon cengkih, walaupun raja Tagulandang menghitung 448.

Di Kali ditebang dua belas pohon. Raja Tagulandang berdalih tidak tahu dan mengira rakyatnya sudah menebang semuanya. Cos menyebutnya “blauwe excusen”, alasan kosong, karena tidak satu pohon pun rusak.²¹

Dari Kali, Andriesz menemui orang Manado di tempat pengungsian mereka. Laporannya memberi gambaran pertama tentang Amoura (Amurang) “De Manaders woonen omtrent 7 à 8 mijlen bewesten out Manado, ofte anders de strandt van Calij, aen een Riviere Amoura genaemt.” Sekoci bisa menyusuri sungai sampai ke negeri, yang letaknya hanya sejauh tembakan meriam kecil dari pantai.²²

Andriesz yakin sedikit pasukan akan mengubah keadaan. Menurutnya, kalau Kompeni menempatkan “een cleijn guarnisoentje” (sebuah garnisun kecil) dalam barikade kayu untuk sementara, semua negeri yang dulu berada di bawah Kompeni atau Sultan Mandarsaha akan berbalik, ditambah banyak negeri lain. Negeri-negeri itu katanya, ditarik ke pihak Spanyol secara tidak sah pada masa damai.²³

Beras juga menjanjikan, kalau kapal Molucco mau tinggal lima atau enam hari lagi, 20–30 last padi bisa dibeli. Tetapi waktunya habis, sehingga Andriesz pulang dengan janji dari kedua pihak. Kompeni akan kembali untuk berdagang dan orang Manado akan tekun menanam padi.²⁴ Inilah kesepakatan pertama yang tercatat antara Kompeni dan orang Manado. Bentuknya bukan kontrak tertulis, melainkan janji lisan.

Simon Cos meneruskan usul itu ke Batavia. Suratnya ditulis di Kastil Barneveld, Bacan, pada 31 Agustus 1656 dan ditandatangani bersama Andriesz. Ia mengusulkan pagar kayu dengan 10–12 orang untuk sementara. Dengan satu atau dua perahu, beras bisa diambil sepanjang tahun. Pos itu juga akan menyulitkan Spanyol, yang setiap tahun mengambil upeti sepersepuluh dari sana.²⁵

Lima belas tahun kemudian, Gubernur Ternate sendiri mengakuinya kepada seorang padri Spanyol yang berkunjung. Karena hanya Belanda yang boleh memiliki rempah katanya, Belanda ‘avía cortado las claveras de Therrenate, Tidore, Bactian, Manados, Tagolanda y Sanguil’, telah menebang pohon-pohon cengkih di Ternate, Tidore, Bacan, Manado, Tagulandang, dan Sangir.²⁶

Barikade di Halaman Raja, November 1656

Simon Cos tidak menunggu jawaban Batavia. Dewan Ternate memutuskan gubernur berangkat sendiri ke Manado untuk mendirikan benteng kayu, “op vast vertrouwen” bahwa Batavia akan menyetujuinya. Ia lalu berangkat pada November 1656.²⁷

Barikade itu didirikan di Amoura, di tempat raja Manado tinggal. Isinya dua meriam kecil dan delapan orang Belanda di bawah seorang sersan yang namanya tidak dicatat.²⁸

Menurut Cos, raja tinggal di tepi sebuah teluk besar yang indah dan aman bagi kapal, dan bisa mengerahkan 600–700 orang bersenjata. Kampung-kampung di sekitarnya, yang tidak banyak tunduk kepadanya, selebihnya telah diambil Spanyol pada masa damai. Kalau digabung dengan orang Tagulandang, kekuatannya sekitar 1.500 orang.²⁹

Spanyol segera memprotes, Gubernur Spanyol di Ternate mengeluh bahwa Kompeni membantu sekutunya, “’t Conincxken van Bulan”, si raja kecil dari Bolaang. Surat ini tidak menyebut langsung bahwa raja Bulan sama dengan raja Manado, tetapi keduanya disebut sebagai sekutu Kompeni dalam surat-surat Cos yang sama.

Simon Cos kemudian membalas bahwa Spanyol-lah yang baru merebut negeri Tondano dari raja Manado.³⁰ Pada masa itu juga orang Siau sebagai sekutu Spanyol, memenggal delapan orang dari rumah tangga raja Manado.³¹

Dalam surat Cos berikutnya, raja Manado sudah disebut “den Coninck van Manado, onsen bontgenoot”, artinya raja Manado sekutu kami.³² Permintaan tahun 1653 akan sebuah pos dagang berakhir dengan barikade Kompeni di halaman raja sendiri.

Penutup

Persekutuan ini tumbuh dari kepentingan kedua pihak. Raja yang mengungsi mendapat pelindung terhadap Spanyol dan Siau, serta harapan bahwa negeri-negeri pegunungan akan kembali kepadanya. Kompeni mendapat beras untuk Maluku, kendali atas cengkih dan pos jaga di jalur perahu Makassar.

Tidak ada kontrak tertulis. Yang ada hanya janji lisan di tepi sungai Amoura dan sebuah barikade kayu. Kontrak tertulis pertama dengan raja dan para kepala Manado baru dibuat pada 1679.³³ Sepuluh tahun sesudah barikade berdiri, raja di Amoura itu justru memutuskan hubungan dengan Kompeni dan bertahan di negerinya. Kisah itu akan ditulis terpisah.

Catatan

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Penampakan gereka protestan pertama di Sulawesi Utara, Oude Kerk, di awal abad ke 20. Gereja ini didirikan oleh Belanda pada tahun 1677. Gereja yg terletak di Lawangirung ini sekarang menjadi GMIM Sentrum Manado (KITLV-Robert Moningka)

    Negeri Baru dan Politik Ruang Kolonial di Manado

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Di balik hiruk-pikuk pusat Kota Manado hari ini, tersimpan jejak sebuah eksperimen sosial kolonial yang pernah dirancang secara sistematis oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Sebuah catatan penting dalam karya sejarawan Belanda Dr. E.C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829, membuka tabir mengenai bagaimana agama, tata ruang, dan kekuasaan dilebur menjadi satu perangkat kontrol […]

  • Potret prajurit suku Bantik di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, foto sekitar tahun 1900 (KITLV/Ohannes Kurkdjian)

    Ketika Bantik Menolak Tunduk: Sejarah Berdarah Kopi di Manado

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Memasuki dekade 1820-an, arah kolonialisme Belanda di Minahasa mengalami perubahan besar. Setelah kemenangan militer dalam Perang Tondano dan pulihnya kekuasaan Belanda pasca-interegnum Inggris pada 1817, pemerintah Hindia Belanda tidak lagi semata-mata berfokus pada penaklukan wilayah. Perhatian utama mereka mulai bergeser ke eksploitasi ekonomi agraria yang lebih sistematis. Di tengah perubahan tersebut, kopi muncul sebagai komoditas […]

  • Sirih sebagai Pesan Lamaran di Minahasa

    Sirih sebagai Pesan Lamaran di Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Keterangan mengenai sirih sebagai sarana menyampaikan lamaran di Minahasa tercatat dalam buku Hendrik Blink yang diterbitkan pada 1898. Dalam pembahasannya mengenai kehidupan rumah tangga dan adat perkawinan masyarakat Kepulauan Indonesia, Blink menyebut bahwa sirih mempunyai peranan penting dalam penyampaian perasaan dan permintaan untuk menikah. Ia secara khusus memberikan contoh dari masyarakat Minahasa, yang dalam sumber […]

  • Auditorium Unima

    Sejarah Universitas Negeri Manado (UNIMA) Pencetak Guru Profesional di Indonesia Timur

    • calendar_month Senin, 27 Jan 2025
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Universitas Negeri Manado (UNIMA) adalah salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia Timur. Berlokasi di Tondano, Sulawesi Utara, UNIMA telah melahirkan banyak alumni yang sukses di berbagai bidang. Namun, tahukah Anda bagaimana perjalanan panjang UNIMA hingga menjadi seperti sekarang ini? Mari kita telusuri sejarahnya yang dimulai dari tahun 1955. Berawal dari PTPG Tondano Cikal […]

  • Beras Minahasa yang Diperebutkan Spanyol dan VOC

    Beras Minahasa yang Diperebutkan Spanyol dan VOC

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, beras telah menjadi salah satu bahan makanan utama di Minahasa. Dalam A History of the Minahasa c. 1615–1680, Jouke S. Wigboldus menulis bahwa sampai abad ke-16, beras dan daging babi merupakan makanan yang menonjol. Penduduk menjalankan pertanian berpindah, sedangkan sawah sederhana ditemukan terutama di sekitar Danau Tondano. Tanah masih tersedia dalam […]

  • Para bajak laut memasuki teluk Manado abad 18 (ilustrasi)

    Meriam di Teluk Manado: Perang Minahasa dan VOC Melawan Bajak Laut Sulu

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Pada paruh kedua abad ke-18, Manado bukan sekadar kota pelabuhan kecil di ujung utara Celebes. Kawasan ini merupakan simpul penting jaringan perdagangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sekaligus medan konflik maritim yang nyaris tak pernah benar-benar tenang. Di balik aktivitas perdagangan beras, emas, dan hasil bumi Minahasa, terdapat ketegangan besar yang terus menghantui pesisir Manado: ancaman […]

expand_less