Pilihan
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Raja Jerónimo: Dibaptis di Manado, Digulingkan di Siau

Raja Jerónimo: Dibaptis di Manado, Digulingkan di Siau

  • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
  • visibility 66
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 6 Maret 1569 seorang Jesuit muda di Ternate menyelesaikan sepucuk surat panjang untuk saudara-saudaranya di India. Di bagian penutup ia menulis catatan peredaran: surat ini hendaknya dibaca lebih dulu di Malaka, baru diteruskan ke India.[^1] Penulisnya, Pero Mascarenhas, baru saja kembali dari pelayaran enam bulan menyusuri Siau, Sangihe, Manado, Bolaang, dan Kaidipang.

Di dalamnya ada kisah sebuah kampung di pantai barat Pulau Siau bernama Passem, yang dua kali didatangi pasukan dalam lima bulan. Percobaan pertama, pada September 1568, gagal. Percobaan kedua, pada Januari 1569, dikerjakan oleh sembilan belas orang dan berakhir dengan lebih dari seribu orang menjadi tawanan raja mereka sendiri. Nama raja tersebut adalah Jerónimo (nama baptisnya) dan Pasuma nama aslinya.

Keduanya berasal dari catatan kaki editor pada DM (Documenta Melacensia) I hlm. 414, yang menyandarkannya pada dua sumber terpisah: Souza I III 2 34 untuk nama baptis, dan Marta 115 serta Relación Dueñas f. 9v untuk nama asli. Di catatan yang sama editor menegaskan bahwa Marta pada hlm. 115 keliru menyebutnya “João” — sebab João adalah nama putranya, yang dibaptis bersamanya pada 1563 dalam usia dua tahun dan sudah memerintah Siau pada 1588.

Seorang Raja Kristen Tanpa Rakyat Kristen

Titik berangkatnya 1563. Pater Diogo de Magalhães tiba di Manado dan membaptis rajanya beserta kira-kira seribu lima ratus jiwa. Di antara yang hadir ada seorang tamu: raja Siau, yang meminta dengan sangat supaya ia juga dibaptis. Magalhães mengabulkannya dan memberinya sehelai panji raja Portugal.[^2]

Editor Documenta Malucensia berhenti agak lama pada titik ini, sebab di sinilah sebuah kekeliruan lama masuk ke literatur. Dari keseluruhan konteks surat itu, tulisnya, jelas bahwa raja Siau dibaptis di Manado dan bukan di pulaunya sendiri, berlawanan dengan Guzmán I 190 dan beberapa penulis sesudahnya yang mengikutinya. Nama baptisnya Jerónimo; nama aslinya Pasuma. Antonio Marta pada hlm. 115 menyebutnya “João“, dan menurut editor itu keliru.[^3]

Yang tidak terjadi pada 1563 sama pentingnya dengan yang terjadi. Rakyat Pulau Siau tidak dibaptis. Dalam surat yang sama Magalhães masih menuliskan rencananya: ia bermaksud pergi ke Siau — dua hari perjalanan dari Manado — untuk menjadikan penduduknya Kristen, dan hendak tinggal tiga atau empat bulan lebih dulu untuk mengajar mereka.[^4] Rencana itu tidak terlaksana.

Jadi selama satu setengah tahun berikutnya, Siau adalah sebuah kerajaan yang rajanya Kristen dan rakyatnya tidak.

Rakyat Bangkit Melawan Rajanya

Yang terjadi kemudian dicatat Mascarenhas dengan singkat dan pahit. Setahun setengah kemudian, tulisnya, rakyatnya sendiri bangkit melawan dia: “se levantou a sua gente contra elle“. Salinan naskah yang lain merumuskannya lebih tajam lagi — seluruh kerajaan bangkit justru karena pembaptisan itu, “se alevantou por iso todo o reino“.[^5] Editor menempatkan peristiwanya sekitar Oktober–November 1564, dan dalam ringkasannya atas surat ini ia menyebut mereka dengan lugas sebagai the rebelling people of Siau.[^6]

Perlu ditegaskan karena keliru beredar: yang memberontak adalah rakyat, bukan rajanya. Raja adalah pihak yang digulingkan.

Di seluruh pulau hanya tersisa satu tempat yang tetap memihaknya. Ke situlah ia mengungsi bersama ayah dan saudara-saudaranya, lalu menyeberang ke benteng Portugis di Ternate untuk meminta bantuan.

Empat Tahun Menunggu

Bantuan itu tidak datang. Mascarenhas menulis bahwa raja itu menanti pertolongan bertahun-tahun dengan susah payah bagi dirinya maupun bagi para Jesuit, dan bahwa akhirnya “Tuhanlah yang menolongnya, dan bukan manusia” — lalu ia mengutip Filipi 2:21, bahwa semua orang mencari kepentingannya sendiri dan bukan kepentingan Yesus Kristus.[^7]

Kalimat itu jarang diperhatikan, padahal ia sebuah tuduhan. Yang dituduh bukan orang Siau maupun orang Ternate, melainkan orang Portugis di Ternate sendiri, yang selama empat tahun membiarkan seorang raja Kristen luntang-lantung di benteng mereka.

Kabar Dari Sebuah Perahu Manado

Perubahan datang pada 1568, dan dari arah yang tidak diduga. Ketika capitão-mor Gonçalo Pereira Marramaque bersiap berangkat menemui orang Kastila — ia berlayar dari Talangame pada 26 Agustus 1568 — sebuah perahu Celebes tiba dari “ilha do Manado, que he christã“. Kabar yang dibawanya: seluruh negeri kerajaan Siau, kecuali satu, sudah kembali kepada ketaatan mereka, dan sedang menunggu rajanya pulang untuk melakukan sembahyang — kata Melayu yang oleh editor diterangkan sebagai salam takzim yang menyatakan tunduk.[^8]

Rektor Luís de Góis lalu memutuskan mengirim Mascarenhas mendampingi raja pulang, meskipun dengan begitu ia tinggal sendirian memikul seluruh pekerjaan benteng. Capitão-mor memerintahkan Lourenço Furtado de Mendonça berjalan di depan dengan fusta-nya dan mengantar mereka sampai ke Siau — naskah menulis “Afonso”, dan editor mengoreksinya — serta berjanji bahwa apabila Pulau Siau belum seluruhnya memberikan ketaatan kepada raja, sepulangnya dari orang Kastila ia akan singgah dan menghancurkan semua musuh raja itu.[^9]

Janji itu memang akhirnya dilaksanakan — editor sendiri menandainya dan menunjuk pembacanya ke nomor 22 sampai 26 surat ini. Tetapi yang melaksanakannya bukan dia.

Percobaan Pertama, September 1568

Rombongan berangkat dari Ternate pada hari Santo Bartolomeus, 24 Agustus 1568. Minggu berikutnya, 29 Agustus, Mascarenhas mempersembahkan misa di Manado, dan di sanalah mereka mendengar keadaan yang sebenarnya: hanya separuh negeri Siau yang berpihak kepada raja, dan separuh lagi berperang melawannya.[^10]

Dari Manado mereka langsung menuju tempat yang paling kuat sekaligus musuh utama raja, yaitu Passem, sebuah kampung di tengah pantai barat pulau itu. Begitu tersiar kabar di darat bahwa raja telah tiba dengan fusta Portugis, para pemuka yang sudah memihaknya berkumpul dan naik ke kapal untuk melakukan sembahyang, mencium kakinya, sebagian sambil menangis. Mascarenhas mencatat bahwa pemandangan itu menggembirakan dirinya maupun orang Portugis: melihat hormat dan cinta yang ditunjukkan orang yang disebutnya “gente tam barbara” kepada rajanya.[^11]

Tiga hari lamanya mereka berusaha membujuk rakyat Passem tunduk. Raja, Furtado, dan Mascarenhas bergantian menjanjikan pengampunan dan kelimpahan serta bersumpah tidak akan berbuat jahat sedikit pun kepada mereka. Rakyat Passem tidak mau mempercayai mereka. Furtado akhirnya mempersenjatai serdadunya dan turun ke darat bersama kira-kira tiga ratus orang.

Yang terjadi kemudian menentukan segalanya. Penduduk tidak menunggu: mereka meninggalkan kampung itu dan lari ke sebuah gunung. Furtado hendak mengejar, tetapi orang-orang Siau sendiri menolak ikut naik — karena melihat orang Portugis terlalu sedikit, dan karena mereka sangat takut kepada orang Passem, yang disebut paling suka berperang dan paling berani di seluruh Pulau Siau.[^12]

Musim berbalik dan Furtado harus kembali menemui capitão-mor tepat waktu. Ia meninggalkan Siau pada hari Bunda Maria bulan September, 8 September 1568. Sebuah rincian kecil menandai betapa mereka menganggap serius perkara itu: ia dan seluruh serdadunya telah mengaku dosa sehari sebelum mendarat di Passem, dan raja sendiri ikut mengaku dosa.[^13]

Sesudah itu Mascarenhas tinggal di pulau bersama raja dan dua orang Portugis, di kampung milik sepupu raja yang berpenduduk sekitar tiga ratus orang. Mereka diberi rumah, dan sebuah gereja didirikan tempat ia merayakan misa setiap hari. Di gereja itu ayah raja dibaptis — seorang tua terhormat yang, tulis Mascarenhas, senang mendengar dan bertanya tentang perkara iman, dan berkata bahwa tidak ada Tuhan maupun kebenaran lain selain milik mereka.[^14]

Jadi kedudukan pada akhir September 1568: raja sudah kembali, separuh pulau tunduk, gereja berdiri, ayahnya dibaptis — dan orang Passem utuh di gunung, tidak tersentuh, ditakuti oleh sesama orang Siau sendiri.

Bulan-bulan sesudahnya diisi perjalanan pastoral. Pada akhir September Mascarenhas meminta perahu untuk mengunjungi orang Kristen di Manado, dan raja menyiapkannya sambil menyatakan hendak ikut bersama banyak pemukanya. Justru saat itu datang sebuah kora-kora dari Sangihe membawa semua pemuka Sangihe kecuali rajanya, yang mengatakan bahwa mereka datang tidak untuk urusan lain selain menjemputnya; sebagai tanda kesungguhan mereka memotong rambut mereka, yang biasa dipanjangkan seperti perempuan dan yang berat bagi mereka untuk dipotong.

Dari sana rangkaian perjalanan itu berlanjut: berangkat ke Sangihe pada 4 Oktober bersama raja Siau, pembaptisan seluruh penduduk Kolongan, kembali ke Manado, singgah di Bolaang dalam perjalanan ke Kaidipang, dan dua puluh hari lebih di Kaidipang pada November–Desember 1568.[^15]

Yang Datang Bukan Capitão-mor

Natal 1568 dilewati Mascarenhas di perjalanan; pada 1 Januari 1569 ia sudah berada di depan Siau di laut. Raja telah menyiapkan lima kora-kora untuk mengantarnya kembali mengunjungi orang Kristen di Sangihe.[^16]

Lewat pertengahan Januari, capitão-mor belum juga muncul. Lalu pada suatu pagi tampak dua layar di laut. Raja segera meluncurkan dua kora-kora, dan mereka mendayung tiga sampai empat legua ke arah kapal itu. Mascarenhas menulis bahwa seluruh sukacita mereka — karena mengira capitão-mor datang untuk menghancurkan musuh-musuh raja — berubah menjadi kesedihan: yang datang adalah Men d’Ornellas, salah seorang kapten armada Pereira, dengan sebuah jung dan sebuah fusta. Capitão-mor sudah lewat ke Maluku. Ia memang sempat memerintahkan kapal-kapal dayungnya ke Siau, tetapi badai besar menghalangi.[^17]

Melihat kekecewaan itu, Ornellas dan para serdadunya menawarkan diri melakukan apa yang mereka bisa untuk mengembalikan raja Siau menguasai seluruh tanahnya. Mascarenhas mencatat bahwa hal itu sangat menggembirakan dirinya dan raja, “que estava bem triste“.[^18]

Kampanye ini, dengan kata lain, bukan kebijakan. Ia tawaran sekelompok pelaut yang kebetulan lewat.

Hari Santa Inés: “Mata Padre!”

Sasaran mereka sejak semula adalah tempat yang sama seperti empat bulan sebelumnya. Angin sakal menggagalkan pendaratan di pantai barat; mereka terpaksa berputar lewat utara dan berlabuh di sisi timur pulau.[^19] Percobaan berikutnya juga gagal karena angin menghantam haluan.

Akhirnya mereka mendarat di sebuah tempat kuat dekat tempat jung mereka berlabuh — menurut dugaan editor, Ulu, pelabuhan utama di pantai timur — pada pagi hari Santa Inés, 21 Januari.[^20]

Pertempuran berlangsung sampai petang: Portugis dengan senapan sundut dari bawah, penduduk dengan lemparan batu dari ketinggian, dan menolak segala bentuk perundingan.

Yang mereka teriakkan sebagai jawaban atas tawaran damai, menurut Mascarenhas, adalah: “Mata Padre! Mata Padre!” — dalam bahasa portugis, tercetak begitu saja di tengah teks Portugis.[^21] “Bunuh Padre!” — mata dari kata kerja Portugis matar (membunuh), bentuk perintah/orang ketiga tunggal; padre berarti imam.

Ia menambahkan bahwa tampaknya mereka mengenalinya dari salib yang dikenakannya, sebab tidak ada arah yang dihujani batu sebanyak tempat ia berdiri.

Kalimat itu sekaligus dokumen tentang bagaimana pihak seberang membaca peristiwa ini. Bagi mereka yang datang bukan sekadar armada Portugis, melainkan agama yang lima tahun sebelumnya telah membuat raja mereka digulingkan.

Pidato Dari Kaki Bukit

Menjelang sore, rajalah yang menyelesaikan pertempuran itu, dan ia menyelesaikannya dengan berbicara. Dari bawah ia memanggil para principales (tokoh masyarakat) negeri itu satu per satu dengan nama mereka, mengingatkan bahwa ia raja alamiah mereka turun-temurun dari nenek moyangnya dan mereka vasalnya, dan bahwa mereka telah meninggalkan dia demi seorang tiran yang sesungguhnya vasalnya sendiri — bahwa mereka meninggalkan tuan demi hamba.[^22]

Bersamaan dengan itu para serdadu menemukan jalan memutar di sisi lain bukit dan mulai menembak dari arah sana. Kombinasi keduanya menyelesaikan perkara. Para pemuka turun lewat tangga — satu-satunya jalan naik dan turun dari tempat itu — untuk melakukan sembahyang kepada raja, dengan syarat yang mereka tawarkan sendiri: dua puluh budak untuk para serdadu, dan dari setiap orang terhormat di dalam, kira-kira dua puluh orang, dua puluh lima sampai tiga puluh pardao dalam bentuk emas.

Nama tiran itu tidak pernah disebut — tidak di sini, tidak di bagian mana pun surat yang menceritakan kedua kampanye, dan tidak pula dalam ringkasan editor atas kedua puluh tujuh nomornya, yang menyebut pihak seberang hanya sebagai para pemberontak, satu kelompok, dan kelompok terakhir.[^23]

Passem, Fajar 23 Januari

Esoknya, Sabtu 22 Januari, rombongan berjalan kaki menyeberangi pulau menuju Passem — kampung yang pada September lalu ditinggalkan penghuninya dan tidak jadi dikejar. Rinciannya kecil tetapi berharga: para serdadu berjalan hanya dengan sebatang bambu di tangan, sebab orang Siau yang membawakan senjata mereka karena jalannya jauh.[^24] Mereka berjalan sepanjang hari, makan dan tidur di tempat itu.

Sebelum fajar mereka bersenjata dan masuk. Passem digambarkan sangat kuat, baik karena letaknya di sebuah bukit yang sangat tinggi maupun karena dindingnya. Saat mendaki, mereka ketahuan oleh para penjaga yang melihat sumbu senapan yang menyala. Penduduk mengangkat senjata dan batu. Lalu, tulis Mascarenhas, dengan pertolongan Tuhan dan Santo Ildefonso yang hari itu harinya — 23 Januari — orang Portugis masuk dan membunuh seratus jiwa, baik saat masuk maupun dalam pengejaran. Kalimat penutupnya datar: “Todo o que quiz peleyjar, morreo” — semua yang hendak melawan, mati.[^25]

Seribu Tawanan

Lebih dari seribu jiwa mengungsi ke sebuah gunung — pengulangan persis apa yang mereka lakukan pada September, kecuali bahwa kali ini pengejaran benar-benar disiapkan. Portugis bersiap memburu mereka ke sana, sampai mereka mengirim permintaan pengampunan nyawa. Raja mengabulkannya dengan dua syarat: pertama, semuanya menjadi tawanan miliknya; kedua, mereka segera menyerahkan dua puluh budak beserta seluruh emas dan harta yang mereka punya kepada orang Portugis. Syarat itu diterima, dan para pemuka datang mencium kaki raja menurut adat mereka.[^26]

Inilah harga pemulihan itu, dan sebaiknya dituliskan apa adanya: seorang raja Kristen dikembalikan ke atas takhtanya dengan menjadikan lebih dari seribu bekas rakyatnya sebagai miliknya sendiri.

Mascarenhas kemudian merangkum akibatnya. Dengan hancurnya Passem dan tunduknya negeri yang lebih dulu bersembahyang, seluruh Pulau Siau takluk kepada raja. Orang Celebes tercengang, dan berkata bahwa kini mereka mengerti tipu muslihat orang Ternate yang tidak pernah berkata benar: orang Ternate menanamkan dalam kepala mereka bahwa orang Portugis tidak bisa berjalan di darat, padahal dengan mata sendiri mereka melihat orang-orang itu seperti burung dan seperti alafuros hutan, dan berjalan lebih baik daripada siapa pun di antara mereka; dan mereka melihat betapa tak kenal takutnya orang-orang itu, sebab hanya sembilan belas orang memasuki tempat sekuat itu dan menaklukkannya dengan pedang.[^27]

Kata alafuros di sini diterangkan editor sebagai orang Alfur, penduduk asli banyak pulau di timur laut Nusantara yang sebagian besar tinggal di pegunungan pedalaman.[^28] Yang menarik, dalam kalimat ini kata itu dipakai sebagai pujian dan sebagai ukuran pembanding: yang membuat orang Portugis mengesankan adalah bahwa mereka bergerak di darat seperti orang Alfur.

Perlu dicatat pula apa yang tidak dikatakan Mascarenhas. Tiga ratus orang Siau yang menolak naik gunung pada September itu tidak disebut lagi. Yang tinggal dalam ingatan suratnya hanyalah sembilan belas orang Portugis.

Raja Yang Dipuji Karena Ketundukannya

Beberapa halaman sebelum kisah perang itu, Mascarenhas menyisipkan pujian panjang bagi raja Siau, dan justru di situlah dokumen ini paling banyak menceritakan tentang penulisnya sendiri.

Raja itu, tulisnya, salah seorang yang paling ditakuti di seluruh Celebes, dikenal dan didengar di mana-mana; ia menemani Mascarenhas ke setiap tempat yang dikunjunginya, sehingga di mana-mana Mascarenhas diterima dengan hormat.

Raja itu berkata kepada orang banyak bahwa tidak ada hukum yang benar selain hukum para Padre, dan bahwa ia sendiri telah mengalaminya: ia telah kehilangan ayah dan ibu, harta dan tanahnya, dan semua itu ia temukan kembali pada para Padre, yang menanggung hidupnya di Ternate lalu membawanya kembali dan mendudukkannya di atas tanah yang telah hilang itu.[^29]

Lalu datang kalimat penutup pujian itu: raja itu, tulis Mascarenhas, akhirnya lebih tunduk kepada kehendak kami daripada seorang budak kepada tuannya, dan apa yang tampak baik bagi kami, itulah yang baik baginya, dan tidak ada yang lain.[^30]

Tidak perlu ditambahi tafsir. Pujian tertinggi yang dapat diberikan penulis surat ini kepada seorang raja adalah bahwa raja itu tidak lagi punya kehendak sendiri.

Yang Dibawa Pulang

Rombongan meninggalkan Siau dengan raja menguasai seluruh pulaunya. Sebagai penutup, raja menyerahkan putra sulungnya kepada Mascarenhas untuk dibesarkan dan diajar di rumah Jesuit di Ternate — anak berumur delapan atau sembilan tahun, digambarkan sangat lincah dan sangat elok.[^31]

Anak itu dapat dilacak. Menurut Informação Antonio Marta tahun 1588, pangeran ini dibaptis bersama ayahnya di Manado pada 1563 ketika berumur dua tahun, bernama D. João, dan pada 1588 ia sendiri sudah menjadi raja Siau yang memerintah.[^32]

Di sinilah kekeliruan Marta yang ditunjuk editor menjadi terang: nama João yang oleh Marta dilekatkan pada sang ayah sebenarnya nama sang anak.

Satu janji tidak jadi ditepati. Lima kora-kora yang sudah disiapkan untuk membawa Mascarenhas kembali mengunjungi orang Kristen Sangihe tidak pernah berlayar; ia langsung pulang ke Ternate.[^33]

Wilayah Passem di Siau (yang kerap dieja demikian dalam arsip kolonial atau literatur sejarah) saat ini dikenal dengan nama Paseng.

Apa yang dapat dan tidak dapat disandarkan pada dokumen ini. Ini bukan kronik netral, dan sebaiknya tidak dipakai seolah-olah begitu.

Penulisnya ikut serta dalam kedua ekspedisi yang ia ceritakan dan ia sendiri pihak yang dilempari batu. Suratnya ditulis atas perintah Rektor sebagai pelengkap surat umum D 161, dan diedarkan sebagai bacaan pembangun rohani: pada salinan Cochin, Polanco menuliskan catatan bahwa surat itu bersifat de edificación, sementara versi Italianya dinilai editor sendiri telah dirapikan dan dipercantik sedemikian rupa sehingga lebih mengabdi edifikasi daripada historisitas.[^34]

Angka-angkanya — seratus yang terbunuh, lebih dari seribu yang mengungsi, sembilan belas penyerbu — tidak dapat diperiksa silang dengan dokumen lain mana pun. Pihak yang dikalahkan tidak punya suara di sini kecuali dalam satu teriakan, dan pemimpin mereka tidak pernah diberi nama.

Yang dapat disandarkan padanya justru hal-hal yang tidak menguntungkan penulisnya, dan karena itu lebih kuat: bahwa pembaptisan 1563 mengakibatkan raja Siau kehilangan kerajaannya; bahwa rakyat pulau itu tidak pernah dibaptis lebih dulu; bahwa ia menunggu empat tahun di Ternate tanpa ditolong, dan Jesuit yang menulis surat ini menyalahkan bangsanya sendiri untuk itu; bahwa percobaan militer September 1568 gagal karena orang Siau yang setia sendiri menolak naik gunung.

Penyelesaiannya empat bulan kemudian dikerjakan oleh rombongan yang kebetulan singgah, bukan oleh kekuatan resmi yang menjanjikannya. Hasil akhirnya seribu orang menjadi tawanan raja mereka sendiri; dan bahwa hal terbaik yang dapat dikatakan penulis tentang raja yang dipulihkan itu adalah bahwa ia tunduk sepenuhnya.

Catatan

Semua rujukan di bawah ini dari buku Hubert Jacobs SJ (ed.), Documenta Malucensia I (1542–1577), Monumenta Historica Societatis Iesu (Roma, 1974), disingkat DM I. Dua dokumen dipakai:

D 125 — Pero Mascarenhas SJ, atas perintah Marcos Prancudo, kepada para Jesuit di Lisboa, Ternate, 10 Februari 1564, DM I hlm. 412–420. Mulai nomor 6 dokumen ini memuat surat Diogo de Magalhães dari Manado yang dilampirkan utuh di dalamnya.

D 162 — Pero Mascarenhas SJ, atas perintah Rektor Luís de Góis, kepada para Jesuit di India, Ternate, 6 Maret 1569, DM I hlm. 529–544, dengan pengantar kritis dan ringkasan isi pada hlm. 528–529.

Rambu naskah untuk D 162: menurut keterangan editor tentang edisinya, enam nomor pertama dicetak dalam dua kolom berdampingan (Teks A dan Teks B), sedangkan selebihnya dicetak sebagai Teks A dengan varian Teks B dalam aparatus dan varian Teks C hanya bila kata-katanya berbeda. Kisah percobaan pertama (nomor 4 sampai 6) karena itu tersedia dalam dua saluran naskah sekaligus, sedangkan kisah kampanye Januari (nomor 20 sampai 27) hanya dalam Teks A. Kutipan Portugis diambil apa adanya dari edisi Jacobs, termasuk ejaannya.

[^1]: D 162, hlm. 544. Menurut catatan editor pada halaman yang sama, istilah “carta geral” di situ agaknya mencakup D 161 sekaligus D 162.

[^2]: D 125 §5–6, DM I hlm. 413–414. Angka seribu lima ratus jiwa pada §6, hlm. 413. Pada hlm. 413 editor juga mencatat bahwa menurut D 63 §44 raja Manado pada 1556 sudah Kristen, sehingga raja yang dibaptis pada 1563 mungkin penggantinya.

[^3]: Catatan kaki editor pada DM I hlm. 414, dengan rujukan kepada Guzmán I 190, Souza I III 2 34, Marta 115, dan Relación Dueñas f. 9v.

[^4]: D 125 §11, DM I hlm. 415.

[^5]: D 162 §2, DM I hlm. 530–531; Teks A dan Teks B pada kolom berdampingan.

[^6]: Catatan kaki editor pada hlm. 531 untuk penanggalan, dan ringkasan isi nomor 2 pada hlm. 528.

[^7]: D 162 §2, Teks A, DM I hlm. 531; kutipan Kitab Suci diidentifikasi editor sebagai Filipi 2:21. Teks B pada halaman yang sama merumuskan penantian itu sebagai “amdou muito tempo sem o poder alcançar”.

[^8]: D 162 §2, DM I hlm. 530. Catatan kaki editor menerangkan ssumbaaya sebagai sembahyang (Melayu), salam khidmat yang menyatakan ketaatan, dan mencatat bahwa Gonçalo Pereira berlayar dari Talangame pada 26 Agustus 1568.

[^9]: D 162 §3, Teks A, DM I hlm. 532; rumusan sejajar Teks B pada hlm. 531–532. Catatan kaki editor pada hlm. 531 mengoreksi “Afonso” Furtado menjadi Lourenço Furtado de Mendonça, dan catatan kaki pada hlm. 532 menunjuk nomor 22 sampai 26 sebagai pelaksanaan janji itu. Ringkasan isi nomor 3 pada hlm. 528 menyebut janji itu berlaku untuk kepulangan Gonçalo Pereira dari Cebu.

[^10]: D 162 §4, DM I hlm. 532; penanggalan 24 dan 29 Agustus 1568 menurut catatan kaki editor pada halaman yang sama, yang juga mengidentifikasi tempat pertama itu sebagai Paseng dengan rujukan ke nomor 5.

[^11]: D 162 §4, DM I hlm. 532–533, Teks A dan Teks B.

[^12]: D 162 §5, DM I hlm. 533. Catatan kaki editor pada halaman yang sama menerangkan Paseng sebagai kampung di tengah pantai barat Siau.

[^13]: D 162 §5, DM I hlm. 533–534; hari Kelahiran Santa Perawan, 8 September, menurut catatan kaki editor pada hlm. 533.

[^14]: D 162 §6, DM I hlm. 533–534, Teks A dan Teks B.

[^15]: D 162 §7–8, DM I hlm. 534–535, dengan catatan kaki editor tentang Sangihe pada hlm. 534; lanjutan perjalanan menurut ringkasan isi nomor 9 sampai 19, hlm. 529, dan lama tinggal di Kaidipang menurut §19 dan catatan kaki editor, hlm. 540.

[^16]: D 162 §21, DM I hlm. 540–541. Editor menandai 1 Januari 1569 untuk “dia de nossa festa de Jesu”, dan mencatat bahwa keterangan “20 tantos de Janeiro” tidak dapat sepenuhnya tepat.

[^17]: D 162 §22, DM I hlm. 541. Men d’Ornellas diidentifikasi editor sebagai salah seorang kapten armada Gonçalo Pereira; dalam ringkasan isi hlm. 529 namanya dieja Mem de Ornelas.

[^18]: D 162 §23, DM I hlm. 541.

[^19]: D 162 §23, DM I hlm. 541; catatan kaki editor pada halaman itu menghubungkan sasaran ini dengan Paseng pada nomor 5.

[^20]: D 162 §23, DM I hlm. 542, dengan dugaan editor mengenai Ulu sebagai pelabuhan utama pantai timur dan penanggalan hari Santa Inés pada 21 Januari.

[^21]: D 162 §23, DM I hlm. 542.

[^22]: D 162 §24, DM I hlm. 542.

[^23]: D 162 §4–6 dan §24, DM I hlm. 532–534 dan 542; ringkasan isi nomor 23 sampai 26, DM I hlm. 529.

[^24]: D 162 §25, DM I hlm. 542–543; penanggalan Sabtu 22 Januari menurut catatan kaki editor.

[^25]: D 162 §25, DM I hlm. 543; hari Santo Ildefonso, 23 Januari, menurut catatan kaki editor.

[^26]: D 162 §26, DM I hlm. 543.

[^27]: D 162 §26, DM I hlm. 543.

[^28]: Catatan kaki editor pada hlm. 543, dengan rujukan silang ke Treatise 367.

[^29]: D 162 §20, DM I hlm. 540. Keterangan “kehilangan ayah dan ibu” perlu dibaca sebagai kehilangan dalam pembuangan, bukan kematian: ayahnya masih hidup dan dibaptis di Siau pada 1568 (§6, hlm. 533–534), dan pada 1564 raja mengungsi bersama ayah dan saudara-saudaranya (§2, hlm. 531).

[^30]: D 162 §20, DM I hlm. 540. Naskah induk berbunyi negro; Teks C menggantinya dengan escravo menurut aparatus pada halaman yang sama.

[^31]: D 162 §27, DM I hlm. 544.

[^32]: Catatan kaki editor pada hlm. 544, merujuk Marta 108 serta D 184 §22 dan D 213 §19.

[^33]: Catatan kaki editor pada hlm. 544, membandingkannya dengan rencana pada §14 dan persiapan pada §21.

[^34]: Keterangan editor tentang naskah dan peredaran D 162, DM I hlm. 528.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Kisah SS Swartenhondt dan MV Norse Lady: Kapal yang Terlibat dalam Konflik Permesta

    Kisah SS Swartenhondt dan MV Norse Lady: Kapal yang Terlibat dalam Konflik Permesta

    • calendar_month Jumat, 7 Jun 2024
    • visibility 118
    • 0Komentar

    SS Swartenhondt adalah kapal penumpang yang dimiliki oleh Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), yang mulai beroperasi pada tahun 1924 hingga 1959. Kapal ini memiliki peran penting dalam sejarah pelayaran Indonesia, termasuk pada masa-masa penuh ketegangan saat konflik Permesta meletus pada tahun 1958. Pada awal tahun tersebut, SS Swartenhondt menjadi salah satu kapal yang ditahan oleh kelompok […]

  • 147 Sekolah, tetapi Hanya 25 Persen Dapat Menulis: Krisis Pendidikan Minahasa Tahun 1870

    147 Sekolah, tetapi Hanya 25 Persen Dapat Menulis: Krisis Pendidikan Minahasa Tahun 1870

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) menyatakan bahwa lembaga itu telah menghubungkan sekolah dengan setiap pos zending sejak didirikan pada 1797. Dalam catatan yang diterbitkan tahun 1871, para pengurus NZG menyebut pendidikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan para zendeling. Mereka juga menyatakan bahwa kegiatan pendidikan di Minahasa telah dijalankan dengan tekun selama kira-kira 40 tahun. Menurut […]

  • Sejarah Desa Lelema Minahasa

    Sejarah Desa Lelema Minahasa

    • calendar_month Selasa, 10 Des 2024
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Desa Lelema memiliki sejarah panjang dan menarik yang penuh dengan perjuangan dan dinamika perpindahan lokasi pemukiman. Pada mulanya, desa ini berada di sebuah wilayah bernama Lekler, yang terletak sekitar 2 kilometer di sebelah timur lokasi Desa Lelema yang ada saat ini. Lokasi tersebut sekarang dikenal dengan nama Masaka dan berada di sekitar Jalan Trans Sulawesi. […]

  • Alfred Russel Wallace pernah menginap di Airmadidi tahun 1859 (Wikipedia)

    Airmadidi dalam Lanskap Kolonial: Dari Jantung Tonsea hingga Simpul Logistik Minahasa

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Di pesisir utara Pulau Sulawesi, nama Airmadidi tidak sekadar merujuk pada wilayah administratif modern. Dalam lintasan sejarah, kawasan ini tampil sebagai simpul penting yang menghubungkan peradaban lokal Minahasa khususnya sub-etnis Tonsea dengan dinamika kolonial yang membentuk ulang struktur ruang, ekonomi, dan kekuasaan di kawasan tersebut. Jauh sebelum kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan administrasi Hindia […]

  • Józef Jeka: Dari Ace Pilot Polandia Hingga Misi Rahasia di Indonesia

    Józef Jeka: Dari Ace Pilot Polandia Hingga Misi Rahasia di Indonesia

    • calendar_month Jumat, 8 Mar 2024
    • visibility 21
    • 0Komentar

    Nama Józef Jeka mungkin tak sepopuler para jenderal besar Perang Dunia II. Namun, jejak hidup pilot tempur asal Polandia ini melintasi dua babak sejarah besar: pertempuran udara melawan Nazi di Eropa dan operasi rahasia Amerika Serikat di Asia Tenggara pada puncak Perang Dingin. Kisahnya adalah potret keberanian, migrasi, dan politik global yang berkelindan di balik […]

  • Pantai Bahu Mall

    Pantai Bahu Mall, Spot Sunset di Tengah Kota

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Pantai Favorit Warga Manado di Tengah Kota   Pantai Bahu Mall merupakan salah satu destinasi tepi laut yang mudah diakses di Kota Manado, Sulawesi Utara. Terletak di belakang Bahu Mall, pengunjung bisa langsung menikmati suasana pantai hanya dengan berjalan kaki dari area parkir pusat perbelanjaan. Karena itulah, pantai ini menjadi tempat favorit warga untuk bersantai, […]

expand_less