Ciri Khas Bahasa Melayu Manado
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- visibility 91
- comment 0 komentar
- print Cetak

Warga Manado di Pelabuhan kota Manado 1930 KITLV
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bahasa Melayu Manado merupakan salah satu bahasa di Minahasa yang pada 1981 dinilai masih sedikit dideskripsikan. F.S. Watuseke dan W.B. Watuseke-Politton menyebutnya sebagai Melayu Minahasa atau Melayu Manado. Sejumlah teks yang lebih tua telah memperlihatkan pemakaiannya, antara lain tulisan L. Mangindaan, Menopo, E.C. Godee Molsbergen, F.S.A. de Clercq, dan dua hikayat yang dimuat N. Graafland. Tersedia pula daftar kata Melayu-Minahasa, Melayu-Kakas-Langowan, dan Melayu-Alifuru dalam koleksi naskah Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde di Leiden.
Sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-19, Sulawesi Utara berada di bawah Gubernur Ternate. Bentuk bahasa Melayu yang dibicarakan Watuseke digunakan sebagai bahasa resmi Melayu dalam korespondensi dan perjanjian VOC dengan para kepala di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Pemerintah Belanda kemudian melanjutkan pemakaiannya sampai sesudah 1850. Bahasa yang sama juga dipergunakan untuk menyebarkan agama Kristen di Minahasa dan daerah sekitarnya. Para zendeling memilih bahasa tersebut dibandingkan bahasa-bahasa daerah Minahasa.
Ketika sekolah-sekolah zending dibuka, bahasa Melayu itu dijadikan bahasa pengantar. Dengan demikian, bahasa tersebut menjadi bahasa pemerintah, gereja, dan sekolah. N. Graafland dan J.G.F. Riedel juga menulis buku pelajaran sekolah zending menggunakan bentuk Melayu tersebut. Graafland bahkan menerbitkan buku kecil mengenai geografi Minahasa pada 1890, meskipun pemerintah ketika itu sudah menggunakan bahasa Melayu baku dari Sumatra. Menjelang akhir abad ke-19, buku-buku pelajaran bagi sekolah di Minahasa mulai ditulis menggunakan bahasa Melayu baku.
Watuseke membedakan bahasa tersebut dari Melayu Manado sebagai bahasa pergaulan. Melayu Manado yang dimaksudnya ialah Melaju-Pasar atau Passer-Maleis, yaitu bahasa lisan yang digunakan dalam pergaulan di Manado serta menjadi bahasa penghubung umum di Minahasa dan wilayah sekitarnya. Bagian utama kosakatanya berasal dari bahasa Melayu, tetapi banyak kata telah diperpendek atau mengalami perubahan bentuk. Di dalamnya juga terdapat kata-kata dari bahasa Belanda, Spanyol, Portugis, Ternate, dan bahasa-bahasa Minahasa.
Menurut Watuseke, Melayu Manado mula-mula digunakan di permukiman pesisir Minahasa dan kemungkinan bukan berasal dari penutur Minahasa sendiri. Bahasa itu diduga menjadi bahasa sehari-hari kelompok yang disebut burgers, yang menetap di Manado dan kota-kota pesisir tempat berdirinya benteng VOC, seperti Kema, Likupang, Amurang, dan Tanawangko. Pada awal abad ke-19, Belang juga termasuk dalam jaringan permukiman tersebut. Para burgers bekerja sebagai tentara VOC dan kemudian dimasukkan ke dalam kesatuan schutterij.
Kelompok tersebut memperoleh kawasan permukiman tersendiri yang disebut Kampung Borgo. Watuseke mencatat bahwa pada 1846 penduduk Manado, Kema, dan Amurang bahkan diperintahkan residen untuk menyerahkan lingkungan tertentu kepada kelompok burgers. Mereka baru disamakan kedudukannya dengan orang Minahasa pada 1929 dan sejak saat itu dapat mengikuti pemilihan Minahasaraad, baik sebagai pemilih maupun sebagai calon. Watuseke juga mencatat pendapat yang menyatakan bahwa kelompok itu berasal dari Maluku dan membawa bahasanya dari kawasan Ternate.
Kemiripan kuat antara Melayu Manado dan Melayu Ternate menyebabkan sejumlah penulis menyebutnya sebagai Melayu Maluku. Watuseke menyatakan bahwa jumlah kata yang berasal dari bahasa Ternate dalam Melayu Manado sangat banyak, sedangkan kata yang berasal dari bahasa-bahasa Minahasa lebih sedikit. Meskipun demikian, beberapa kata Minahasa seperti lanut, litir, mapalus, pontar-pontar, dan una telah masuk ke dalam perbendaharaan Melayu Manado. Pengaruh Bahasa Indonesia kemudian semakin terlihat, terutama dalam istilah modern dan resmi yang dipelajari melalui sekolah.
Watuseke juga mencatat perubahan kosakata antargenerasi. Istilah Bahasa Indonesia seperti dagu, pipi, bahu, dan paha semakin sering digunakan daripada bentuk Melayu Manado lama seperti oko, pongo-pongo, kefe, dan pala-pala. Menurutnya, generasi tua di Kota Manado masih menggunakan Melayu Manado yang paling murni. Dalam pelafalannya, tekanan umumnya jatuh pada suku kata kedua dari belakang. Beberapa vokal juga dapat dipanjangkan, seperti butuul, tamaang, dan buluung atau bluung.
Ciri yang tampak jelas dalam teks Melayu Manado berjudul “Kita pe Tikus” ialah pemakaian kata kita sebagai kata ganti orang pertama tunggal. Dalam daftar kata yang menyertai teks, Watuseke menerjemahkan kita sebagai ik, yaitu “saya” atau “aku”. Kalimat Tu Tikus itu kita sajang skali berarti bahwa penutur sangat menyayangi anjing yang disebut Tikus. Bentuk pa kita berarti “kepada saya” atau “pada saya”, sedangkan kita pe mama berarti “ibu saya”. Kata pe berfungsi sebagai penanda hubungan kepunyaan.
Untuk kata ganti orang pertama jamak, teks menggunakan torang, yang diterjemahkan sebagai “kami” atau “kita”. Bentuk torang pe rumah berarti “rumah kami”, sedangkan pa torang berarti “kepada kami” atau “pada kami”. Kata tong muncul sebagai bentuk pendek dari torang. Untuk orang ketiga jamak digunakan dorang atau dong, sedangkan ngana digunakan untuk “kamu”. Dengan demikian, kata kita dalam Melayu Manado yang dicatat Watuseke bukan menunjukkan orang pertama jamak seperti dalam Bahasa Indonesia, melainkan orang pertama tunggal: “saya” atau “aku”.
Cerita “Kita pe Tikus” juga memperlihatkan penggunaan Melayu Manado dalam percakapan sehari-hari sekitar akhir 1948. Kisah itu menceritakan seekor anjing bernama Tikus, pemeriksaan polisi terhadap anjing yang tidak diikat, serta usaha pemiliknya menyelamatkan anjing tersebut. Watuseke menyebut bahasa dalam cerita itu sebagai bahasa pergaulan yang digunakan kalangan terdidik. Melalui teks, terjemahan Belanda, dan daftar katanya, tulisan tersebut mendokumentasikan pemakaian kita, torang, tong, dorang, dong, ngana, serta penanda kepunyaan pe dalam Melayu Manado.
Referensi:
Watuseke, F.S., dan W.B. Watuseke-Politton. “Het Minahasa- of Manado-Maleis.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 137, no. 2/3 (1981): 324–346.
- Penulis: Engel Yong
