Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Kerajaan Manado Dalam Arsip Ibero-jesuit, 1563–1645

Kerajaan Manado Dalam Arsip Ibero-jesuit, 1563–1645

  • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
  • visibility 77
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejarah Manado abad ke-17 biasanya ditulis dari titik yang sudah jauh: catatan Belanda abad ke-19, atau tulisan Indonesia abad ke-20 yang mengutip catatan itu. Padahal ada lapis dokumen yang jauh lebih dekat ke peristiwanya yaitu surat-surat Portugis, Spanyol, dan Jesuit yang ditulis di Ternate, Tidore, Manila, dan Manado sendiri, sebagian sudah diterbitkan dalam edisi kritis sejak 1970-an.

Kalau lapis itu dibaca berurutan, yang muncul bukan barisan angka tahun yang lepas-lepas, melainkan hubungan yang berjalan lebih dari seratus tahun: datang, putus, kembali, gagal, ditinggalkan. Tulisan ini menyusun apa yang benar-benar tercatat, termasuk bagian yang tidak enak dibaca, dan di bagian akhir mencabut beberapa hal yang selama ini beredar tanpa dasar.

Dua catatan di muka. Pertama, nama raja Manado yang paling sering disebut Tololiu tidak muncul dalam bentuk itu di satu pun dokumen sezaman, riwayat namanya dibahas di tulisan terpisah. Di sini ia disebut sebagaimana dokumennya menuliskannya.

Kedua, dokumen-dokumen ini sering menulis “isla de Manados“. Kata isla di sana tidak boleh dibaca harfiah: annua Provinsi Filipina juga menyebut “las islas de Siao, Cauripa y Manados” — dan Kaidipang jelas terletak di daratan lengan utara Sulawesi.[^1] Dalam korpus ini isla dipakai longgar untuk satuan politik pesisir. Ke mana pun letak persisnya, “pulau” bukan buktinya.

1563: Perlombaan Menuju Sulawesi

Bab pembuka sejarah ini bukan kisah keagamaan yang berdiri sendiri. Ia langkah dalam perlombaan.

Pada Maret 1563 Sultan Hairun dari Ternate menyiapkan armada besar di bawah putranya, Babu, untuk mengislamkan dengan paksa orang-orang Sulawesi yang oleh Mascarenhas disebut gentios, dan yang sudah berkali-kali mengirim utusan ke benteng Ternate meminta dikirimi orang yang akan membaptis mereka.

Kapten benteng, Henrique de Sá, dua kali mendesak Rektor Jesuit mengirim seorang padri ke sana. Permintaan pertama tak bisa dipenuhi karena tak ada orang. Ketika Diogo de Magalhães tiba dari Ambon, kapten mengulang permintaannya dan menawarkan dua korakora beserta delapan sampai sepuluh orang Portugis, dengan alasan yang dinyatakan terus terang: kalau mereka mendahului armada Ternate, orang Sulawesi sudah menjadi Kristen dan dengan begitu terhalang menjadi Muslim.[^2]

Hairun berusaha menggagalkannya. Ia menyebarkan kabar bahwa kapal-kapal Spanyol terlihat mendekat berjumlah tiga buah katanya, sehingga kapten menarik pulang korakora yang sudah berangkat sehari sebelumnya. Setelah tujuh atau delapan hari kabar itu terbukti palsu. Musim sudah buruk dan awak korakora menyatakan mereka akan binasa jika berlayar saat itu; kapten memerintahkan berangkat juga, mengancam para nakhoda akan dipasung dengan besi kalau menolak.[^3]

Dua hari dua malam pelayaran dari Ternate, mereka sampai di Manado.

Suara Pembaptisnya Sendiri

Yang terjadi di sana tercatat dalam surat yang ditulis Magalhães dari Manado, 28 Juli 1563, kepada Pero Mascarenhas di Ternate. Suratnya disisipkan utuh ke dalam surat Mascarenhas 10 Februari 1564, dan dengan demikian terpelihara. Itu dokumen tertua yang kita miliki yang ditulis di Manado. Ia terpelihara lewat dua jalur naskah yang terpisah, sehingga bacaannya dapat diadu.[^4]

Isinya, dengan kata-katanya sendiri:

Raja Manado dan rakyatnya memintanya menjadikan mereka Kristen. Ia tidak langsung membaptis. Lima belas hari ia tinggal di sana mengajarkan doktrin dan membicarakan perkara iman, baru kemudian membaptis sang raja bersama seribu lima ratus jiwa, dan menunda sisanya sampai ia kembali dari Tolitoli. Orang Manado, tulisnya, “os mais temidos e esforçados nas armas” — yang paling ditakuti dan paling gagah bersenjata di seluruh negeri itu. Ia menegakkan sebuah salib di pantai dan menyerahkan panji Raja.

Di Manado itu pula ia menemukan raja Siau, dan membaptisnya atas permintaannya yang berulang-ulang: seorang yang menurutnya sangat menjaga keadilan di negerinya, dengan enam ribu prajurit dan pulau berpenduduk dua puluh sampai dua puluh lima ribu jiwa. Ia dibaptis dengan nama Jerónimo; nama aslinya Pasuma. Perlu ditegaskan karena sering keliru ditulis: raja Siau dibaptis di Manado, bukan di pulaunya sendiri.[^5]

Dari Manado ia menyusuri pantai. Di Bolaang ia diterima dengan baik oleh rajanya, seorang putra raja Manado, yang telah diislamkan dengan paksa oleh Kaicil Guzarate, saudara tiri Hairun dan panglima armadanya. Raja itu meminta dibaptis bersama seluruh rakyatnya dan berjanji meninggalkan adat lamanya. Magalhães menundanya sampai ia kembali dari Tolitoli, justru karena orang itu sudah pernah menjadi Muslim. Wilayahnya tujuh atau delapan negeri, semuanya masih gentios, dengan taksiran dua belas sampai lima belas ribu jiwa.[^6]

Di Kaidipang enam negeri berdiri dalam jarak setengah legua di sepanjang pantai. Penduduknya turun ke pantai tiga kali, sekitar tiga ribu orang, membawa bahan makanan dan terus-menerus memintanya membaptis mereka, “mostrando-se mui escandalizados dos tarnates“. Ia membaptis para kepala saja dan menegakkan salib. Lima hari pelayaran lagi ke Tolitoli; seluruh pesisir yang dilewatinya, tulisnya, membenci orang Muslim dan menyatakan tidak akan menjadi Muslim dengan cara apa pun, melainkan Kristen.

Dalam perjalanan pulang ia singgah lagi di Kaidipang, mendatangi dua negeri, mendirikan salib di masing-masing, dan dalam delapan hari membaptis sekitar dua ribu orang.

Lalu ia kembali ke Manado dan tinggal di sana dengan kata-katanya sendiri, fico pera os confirmar, untuk meneguhkan mereka yang sudah dibaptis. Alasannya juga dinyatakan sendiri: “esta hé a principal cabeça de todo o Celebe” — inilah kepala utama seluruh Sulawesi, dan dari sinilah yang lain akan diperoleh.

“Lebih baik sedikit yang terajar”

Satu paragraf dalam surat itu perlu dibaca berdampingan dengan apa yang akan terjadi enam puluh tahun kemudian.

Magalhães menulis bahwa seluruh Batachina — nama yang di sini tampaknya dipakai untuk lengan utara Sulawesi — padat penduduk, dengan banyak negeri berisi empat, lima, sampai enam ribu jiwa, dan semuanya ingin menjadi Kristen. Namun, tulisnya, ia tidak akan membaptis lebih banyak lagi sampai ada yang mengajar dan membina mereka, “porque me parece que é milhor poucos bem doutrinados que muitos mal doutrinados” — sebab menurutnya lebih baik sedikit yang terajar baik daripada banyak yang terajar buruk. Orang Sulawesi, tambahnya, senang menyanyikan doktrin, dan menyanyikannya terus-menerus di perahu maupun di darat, yang tua maupun yang muda.

Ingatlah kalimat itu. Pada 1620 seorang Visitador Jesuit akan menuduh misi Manado membaptis orang tanpa mengkatekese mereka. Pendiri gereja itu adalah orang yang paling keras menolak justru praktik tersebut.

Untuk seluruh wilayah itu, tulisnya, dibutuhkan dua padri dan seorang bruder [masing-masing untuk Siau, Manado, dan Kaidipang — teksnya hanya menulis hum pera estar, “satu untuk tinggal”]. Kalau hanya dua yang bisa dikirim, sebaiknya keduanya imam, supaya bisa menerima pengakuan.

Tidak satu pun dari itu terpenuhi. Ia sendiri menutup suratnya dengan permintaan yang lebih kecil dan lebih pribadi: agar dikirimi seorang teman, sebab ia menunggu kapal datang supaya ada padri kepada siapa ia bisa mengaku dosa, dan Vosa Reverencia tahu betapa tak terhiburnya berada sendirian tanpa seorang pun untuk itu.

Berapa Banyak, Dan Berapa Lama

Angka-angka Magalhães seribu lima ratus di Manado, dua ribu di Kaidipang, para kepala di beberapa tempat lain berjumlah sekitar tiga sampai empat ribu jiwa. Seratus tahun kemudian Francisco Colín menulis bahwa Manado “tuvo antiguamente quatro mil Christianos”.[^7] Angka itu bukan kekeliruan dan bukan pula tentang abad ke-17: ia menghitung lapis 1563.

Berapa lama Magalhães tinggal? Ia berencana menunggu kapal, lalu menyeberang ke Siau untuk tiga atau empat bulan. Rencana itu tidak terlaksana. Penyunting edisi kritis menaksir ia kembali ke Ternate pada Oktober atau November 1563, taksiran itu tidak dinyatakan dokumennya.[^8]

Yang bertarikh adalah keadaan Februari 1564: pada saat surat Mascarenhas ditulis, raja Manado berada di Ternate, dibawa melihat benteng, dan salah seorang — raja itu atau sang padri — “a-de estar atee Maio“, akan tinggal sampai Mei. Rangkaian anak kalimatnya menempel pada raja Manado, tetapi halaman berikutnya memakai frasa hampir sama untuk Magalhães yang ditugaskan ke Moro “sampai Mei, karena itulah musim yang baik untuk Sulawesi”. Kedua bacaan bertemu pada satu hal yang aman dikutip: Mei adalah musim berlayar ke Sulawesi. Tidak ada dokumen yang membuktikan Magalhães pernah kembali ke Manado.[^9]

Sebuah Keterangan Tahun 1556, dan Batasnya

Satu keterangan menggeser titik awal lebih jauh ke belakang, tetapi tidak sejauh yang sering dikutip.

Sebuah ikhtisar Jesuit melukiskan keadaan tahun 1556 dan menyebut “huma gente chamada celebes, aonde há hum rey christão que se chama el-rey do Manado” — sekelompok orang bernama Celebes, di antaranya ada seorang raja Kristen yang disebut raja Manado — dan menambahkan bahwa tak seorang pun ada di sana untuk mengatakan kepada mereka: jadilah Kristen.[^10]

Dua rambu wajib dipasang sebelum keterangan ini dipakai. Pertama, “Celebes” di situ nama sebuah kaum, bukan pulau. Kedua, dan ini yang menentukan: dalam dokumen yang sama, ungkapan rey christão dipakai untuk raja yang belum dibaptis, paragraf berikutnya menyebut tiga raja Kristen di Makassar yang justru tak punya siapa pun yang mengajar dan membaptis mereka. Jadi keterangan 1556 tidak membuktikan adanya pembaptisan sebelum 1563, dan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa raja yang dibaptis Magalhães adalah pengganti seorang raja Kristen terdahulu.

Yang tersisa dari keterangan itu tetap berharga: pada 1556 Manado sudah dikenal di Maluku sebagai negeri berraja Kristen, tujuh tahun sebelum pembaptis pertama yang namanya kita ketahui datang ke sana.

Celah 1556–1563 sebagian bersebab teknis. Pada 1 Desember 1559 Baltasar Dias menulis dari Malaka bahwa sudah tiga tahun para padri di Maluku menderita perang dan kelaparan, dan dua tahun ia tanpa kabar dari sana.[^11] Jalur Malaka–Maluku praktis putus; keterangan November 1556 tentang raja Manado adalah kabar terakhir sebelum saluran itu menutup.

29 Agustus 1568: Misa Di Manado

Lima tahun kemudian Mascarenhas sendiri ke sana. Ia meninggalkan benteng Ternate pada hari S. Bartolomeus, 24 Agustus 1568, menumpang fusta Lourenço Furtado de Mendonça, dan pada Minggu berikutnya, 29 Agustus 1568, memimpin misa di Manado.

Di sana ia mendapat kabar bahwa baru separuh negeri di Siau yang tunduk kepada rajanya, sedangkan separuh lagi masih melawan. Dari Manado rombongan berlayar ke Siau.[^12]

Perjalanan itu berlanjut jauh. Kampanye di Siau; sebuah gereja dibangun di negeri yang setia, dan di sanalah ia membaptis ayah raja Siau, “hum velho homrado e bem inclinado” yang senang mendengar dan menanyakan perkara iman. Akhir September ia memberi tahu raja bahwa ia hendak ke Manado menengok orang-orang Kristen di sana; lalu datang korakora dari Sangihe membawa para pembesar Kolongan, yang memotong rambut panjang mereka di hadapannya sebagai tanda kesungguhan, dan pada 4 Oktober ia berangkat ke Sangihe bersama raja Siau.

Di Kolongan raja dan ratu beserta seluruh pembesar dan istri mereka dibaptis pada hari yang sama, sekaligus menerima sakramen perkawinan; sebuah salib tinggi didirikan, kayunya dicari dua tiga hari dan hanya boleh disentuh kaum bangsawan.[^13]

Baru sesudah itu Manado dikunjungi untuk kedua kalinya. Rombongan berangkat dengan lima perahu pada 1 November 1568, dua hari kemudian tiba di Manado, dan Mascarenhas tinggal delapan sampai sepuluh hari di sana. Selama itu datang menemuinya orang-orang yang disebutnya batechina, yang mengatakan kepadanya bahwa jumlah mereka lebih dari seratus ribu jiwa. Mereka mengundangnya datang dan membaptis mereka — dan ia menolak, karena tidak ada padri yang bisa ditinggalkan.[^14]

Dari Manado perjalanan diteruskan ke Kaidipang, di mana sudah ada “os christãos de Cauripa” yang perlu ditengok — jadi jemaat di sana mendahului kedatangannya — dengan singgah di Bolaang. Ia tinggal dua puluh hari, dan di sana pun menolak membaptis penduduknya dengan alasan yang sama.[^15]

Dua penolakan dalam satu pelayaran. Pola itu berulang di seluruh dokumen berikutnya: yang kurang bukan orang yang mau dibaptis, melainkan orang yang membaptis.

Tiga hal lain layak dicatat. Bolaang dan Kaidipang sudah dikunjungi Jesuit pada 1568, dua nama yang empat puluh tahun kemudian muncul lagi sebagai penerima surat Spanyol. Pelayaran Manado–Siau memakan dua hari. Dan siapa “batechina” itu tidak pasti: penyunting menduga mereka orang Gorontalo, bukan penduduk Halmahera, meski nama itu dalam dokumen Spanyol 1606–1607 baku dipakai untuk Halmahera. Angka seratus ribu adalah keterangan yang mereka sampaikan sendiri, bukan taksiran Mascarenhas.

Yang Tersisa Lima Puluh Tahun Kemudian

Lapis Kristen 1563–1568 itu tidak bertahan. Yang terjadi sesudahnya baru terbaca lewat kesaksian dari tahun 1617, ketika Jesuit kembali.

Laporan itu satu tuturan orang pertama yang tak terputus, dari seorang padri yang benar-benar tinggal di Manado menyebutkan bahwa orang Manado, menurut penuturan mereka sendiri sudah pernah Kristen. Buktinya ia temukan langsung: seorang tua bernama Mascarenhas, dan seorang lain yang masih bisa menyanyikan Pollo sinal da santa cruz dengan senang hati serta memperagakan bagaimana doktrin dulu diajarkan lengkap dengan hukuman bagi yang tidak menghafalnya. Naskah lain memberi gagasan sedikit berbeda: orang tua itu membentuk tanda salib di depan mata mereka. Yang bertahan di kedua bacaan sama: sisa pengajaran 1568 berupa gerak dan hafalan, bukan doktrin. Lalu, tulisnya, “depois que os mouros os senhorearão, por força os fizerão tomar a ley de Mafamede“.[^16]

Penutur laporan ini sering disebut Scalamonti. Atribusi itu tidak dapat dipertahankan: §3–§5 terbukti satu tuturan yang sama, dan isinya cocok dengan padri yang diutus berdua dan keduanya jatuh sakit — yakni Andrea Simi, rekan Cosme Pinto. Nama Simi sendiri masih lapis simpulan, bukan pernyataan dokumen.[^17]

Ia menyebut Mascarenhas sebagai pembaptisnya; surat 1569 menyebut Magalhães. Selisih itu wajar untuk ingatan berjarak setengah abad, dan nama Mascarenhas yang disandang orang tua tersebut justru menunjukkan kunjungan 1568 meninggalkan bekas. Yang pasti dari kedua sumber: ada kekristenan di Manado pada 1560-an, dan islamisasi datang belakangan serta dengan paksaan.

1606: Lima Raja Menerima Surat

Setelah armada Manila merebut benteng Ternate pada 1606, Spanyol berusaha melepaskan penguasa-penguasa pesisir utara Sulawesi dari Ternate. Maestre de campo Juan de Esquivel menulis kepada lima orang sekaligus pada 26 Juli 1606: raja Bool, Don Miguel raja Tontoli, Tululio raja Menado, raja Bulan, dan Ratu Dongue di Cauripa.[^18]

Surat-surat itu dibawa pada 1 Agustus oleh alferez Christoval Suarez dengan dua champán dan delapan belas serdadu, utusan kecil bukan armada. Isinya: para raja tak perlu lagi membayar upeti ke Ternate, yang menguasai benteng itu secara zalim selama tiga puluh satu tahun sampai direbut armada Manila; sang raja diundang datang sendiri atau mengirim orang besarnya; disertakan sepotong beludru sebagai tanda persahabatan. Utusan diminta dilepas cepat “con el sagú que pudieren traer“.[^19]

Perlu ketelitian di sini. Yang dicetak dalam berkas itu hanyalah balasan raja Tontoli dan Bool — Don Miguel Pololibuta, dari Bool, 10 Oktober 1606, mengabarkan armada Makassar merampok Tontoli, seratus empat puluh orang terbunuh termasuk paman mereka, dua ratus perempuan ditawan, dan meminta senjata api serta balasan Ratu Dongue dari Cauripa, 1 November 1606. Dari Manado tidak ada balasan.

Setahun kemudian sebuah laporan Jesuit kepada Raja Spanyol menyebut “tres o quatro reis” di Pulau Matheo — nama Spanyol untuk Sulawesi — yang menyatakan ingin menjadi Kristen dan bersahabat dengan Spanyol, dan mencatat bahwa Esquivel mengirim orang ke sana mencari bahan pangan karena pulau itu berlimpah. Yang menamai kelima raja tersebut adalah catatan penyunting, bukan teksnya.[^20]

1608: Permintaan Lewat Jalur Dagang Siau

Antara surat Esquivel dan kesaksian-kesaksian tahun 1614 ada satu mata rantai yang jarang dipakai, padahal ia yang paling terang menyatakan pola seluruh periode ini.

Annua Provinsi Cochin bertarikh 25 November 1608 melaporkan bahwa orang dari Menado, Cauripa, dan Celebes meminta padri dengan sangat mendesak, dan permintaan itu sampai lewat perdagangan mereka dengan orang Siau. Tiga orang principal dibaptis, dan sepulangnya mereka menjadi sahabat orang Portugis, “sendo antes vassalos do emigo ternate” — sebelumnya vasal musuh, orang Ternate. Paragraf berikutnya menyatakan sebabnya tanpa malu-malu: karena negeri-negeri itu berlimpah pangan, persahabatan tersebut penting bagi benteng, dan orang Spanyol kini dapat pergi ke sana dengan aman mencari bekal. Kapten mendesak agar Padre Antonio Pereira dikirim, sebab ia dikenal para principal dan menguasai bahasanya.[^21]

Delapan tahun sebelum surat Cachiltulo, permintaan padri dan kepentingan pangan sudah tercatat dalam satu paragraf yang sama.

1610: Dua Fransiskan di Kaidipang

Pada 1610 dua Fransiskan, Sebastián de San José dan Antonio de Santa Ana, berlayar dari Ternate ke lengan utara Sulawesi dan tiba di Kaidipang, mendirikan kapela sementara, dan mengunjungi Ratu Dongue — nama yang sama dengan penerima surat Esquivel empat tahun sebelumnya. Keduanya terbunuh pada Juni 1610.

Rinciannya bertabrakan antar-sumber: satu versi menempatkan Sebastián terbunuh dalam perjalanan ke raja Buol dan Antonio ditangkap di Kaidipang lalu dibawa ke Tagulandang dan dipenggal; versi lain menempatkan keduanya mati di Tagolanda. Perbedaan itu belum terselesaikan, dan penyelesaiannya ada pada berkas yang belum dibuka: laporan yuridis kemartiran keduanya konon dibuat di Manila, Ternate, dan Makau atas perintah Paus, dan Gregorio de San Esteban menulis riwayatnya tersendiri.[^22]

Yang tidak bertabrakan adalah bahwa pada 1610 sudah ada rohaniwan yang mencoba menetap di pesisir utara, dan bahwa mereka tidak bertahan.

1614: Sagu, Padi, dan Tawaran Benteng

Kesaksian berikutnya lebih rinci. Dalam surat Gubernur Maluku Gerónimo de Silva kepada Juan de Silva bertarikh 3 Juli 1614 dilaporkan bahwa sebuah galai Spanyol berlayar ke Manado, menukar kain dengan sagu dan padi, lalu berunding dengan Kapten Juan Martínez de Liédena. Orang Manado menawarkan bantuan membangun benteng dan menjamin pangan.

Motifnya dinyatakan terang: lepas dari “servitud de los terrenates” yang merampas harta dan perempuan mereka. Taksiran penduduk lebih dari sembilan sampai sepuluh ribu jiwa, pelabuhannya baik, jaraknya tiga puluh lima legua; mereka membenci Belanda dan bersahabat dengan raja Tidore.[^23]

Dari rangkaian yang sama ada surat Banidaca, raja Cauripa, yang justru ditandatangani “de esta isla de Manados á 29 de junio de 1614“ — ia sedang berada di tempat lain, bukan di negerinya sendiri; ia sendiri mengaku sedang “en otra tierra y no en la mia“.[^24]

Dua hal penting dipegang: pada 1614 orang Manado membenci Belanda dan bersahabat dengan Tidore, dan yang mereka tawarkan adalah pangan serta tenaga untuk sebuah benteng Spanyol.

1616–1617: Tiga Kali Meminta

Baru pada 1616 raja Manado menulis sendiri, dan suratnya terpelihara:

Tanto de carta quel Cachiltulo, rey de Manados, escribió á el gobernador don Gerónimo de Silva en 21 de junio de 1616[^25]

Isinya: pada 21 Mei kapal San Antonio singgah; ia memanggil dua padri Fransiskan yang ada di kapal itu dan menyatakan ingin menjadi Kristen serta bersahabat dengan Raja Spanyol.

Surat itu dibawa padre comisario fray Pascual de Torella. Balasan Silva dari Tidore, 25 Juni, menegaskan bahwa raja tersebut “queda dispuesto para recibir el santo bautismo” — masih calon baptis — dan mencatat bahwa yang diminta bukan hanya rohaniwan melainkan juga serdadu untuk mempertahankan kerajaannya, permintaan yang tak bisa dipenuhi karena bantuan dari Manila belum tiba.[^26] Permintaan itu diulang pada September 1616.[^27]

Yang ketiga disampaikan langsung. Sertifikat Almirante Juan de Azevedo, Manila 12 Juli 1617, menerangkan bahwa maese de campo Lucas de Vergara Gaviria mengirim dua padri Jesuit ke Manado “por avérselo pedido el rey al dicho maese de campo passando por su puerto, disiendo que se quería christianar él y toda su gente“.[^28] Gubernur baru itu tiba di Ternate pada 26 April 1617; permintaan raja disampaikan dalam pelayaran tersebut, dan karena sertifikat Juli 1617 sudah menulis para padri “ha embiado“, keberangkatan misi terkurung ke Mei–Juni 1617.

Nama yang dibubuhkan sang raja sendiri: Cachiltulo, yakni Kaicili Tulo — gelar bangsawan Maluku ditambah nama. Seorang raja yang memakai gelar Ternate, sambil meminta Spanyol membebaskannya dari Ternate.

1617: Benteng, Baptisan, dan Salib di Tepi Danau

Permintaan itu akhirnya dijawab. Vergara Gabiria membangun sebuah benteng di Manado dan menempatkan sepuluh serdadu Spanyol di sana; dua Jesuit — Andrea Simi dan Cosme Pinto — ikut dalam rombongan yang sama.[^29] Scalamonti datang belakangan, dan akan mati di Manado. Pada tahun itu pula sang raja dibaptis.[^30]

Laporan tentang kedatangan itu terperinci. Raja datang sendiri bersama para principaes menyambut. Di pantai mereka menemukan sebuah salib besar sudah tertancap, dan semua mendatanginya untuk berdevosi — para padri lebih dulu, lalu raja, kapten, dan serdadu, diiringi salvo musket. Mereka diinapkan di rumah-rumah dekat sungai, yang kurang sehat dan berdesakan dengan serdadu. Ketika mereka meminta tanah untuk gereja, raja sendiri yang menunjukkan tempatnya dan ikut membersihkannya.

Sang padri kemudian menyeberang ke orang Alifuru — penduduk asli pedalaman — yang menurutnya banyak jumlahnya dan tersebar di berbagai negeri, “especialmente huma perto de certa lagoa que tem em si muitos milhares de almas“. Danaunya tidak dinamai; identifikasi sebagai Tondano berasal dari catatan penyunting.

Ia menegakkan tiga salib di sana. Yang pertama didirikan dengan upacara: ia mengenakan surplis dan stola, mengajak cabo dan kapten galai beserta rombongan, dan menyanyikan Vexilla Regis. Orang Alifuru dari negeri lain mendengar itu lalu meminta didirikan satu lagi, berjanji menjadi Kristen, dan menjamu mereka dengan cara mereka sendiri.[^31]

Tidak ada pembaptisan di sana, tidak ada gereja, dan tidak ada padri yang ditinggalkan.

Dua Ordo, Satu Ladang

Yang jarang diceritakan: misi Manado sejak awal berdiri di atas sengketa.

Pada 1611 Gubernur Cristóbal de Azcueta Menchaca menyerahkan Sulawesi Utara kepada Fransiskan. Jesuit, yang memegang seluruh Maluku lewat padroado Portugis selama sekitar tujuh puluh tahun, memandang penyerahan itu tak berwenang. Maka rangkaian yang tampak seperti satu misi sebenarnya perebutan lahan: Fransiskan Pascual de Torella lewat pada 1616, Jesuit Simi dan Pinto masuk 1617, lalu pada Maret 1619 Fransiskan Blas Palomino dikirim ke Manado bersama dua rekannya — dan pulang ke Ternate dengan tangan hampa.[^32]

Superior Jesuit João Baptista, menulis dari Maluku pada 2 Maret 1619, sudah meramalkannya: kepergian itu akan sedikit hasilnya karena daerah tersebut “paragem do sertão mui remotta do comercio com os hespanhois, sem cuja ajuda se faz pouco”.[^33]

1619 dan 1620: Dua Laporan yang Bertabrakan

Annua Manila 12 Juli 1619 mewartakan “una gran puerta” terbuka bagi Injil di Manado; raja dan para pembesar kerajaannya sudah bertobat, hanya ratunya yang bertahan dalam ketidakpercayaan.[^34]

Annua Cochin untuk tahun 1620 lebih berhati-hati: presidio masih ada, raja sudah Kristen, dua tiga principaes menyusul dibaptis dan wafat dengan tanda keselamatan, tetapi segalanya berjalan “muito devagar” — karena Islam sudah berakar, dan karena Jesuit tak punya kekuatan membantu raja-raja itu melawan musuh mereka, “do que elles fazem grande cabedal”.[^35]

Lalu datang laporan yang membatalkan keduanya.

Visitador Manuel de Azevedo menulis kepada André Palmeiro dari Ternate pada paruh kedua 1620, dan ia membuka dengan menyatakan bahwa ia akan berbicara “com clareza e verdade” — kejelasan dan kebenaran yang, menurutnya, tidak ada pada mereka yang menulis begitu banyak keajaiban dari sana. Sumbernya dinyatakan terbuka: dua padri yang benar-benar tinggal di Manado, Pero Gomes dan Andrea Simi.[^36]

Isinya sebagai berikut. Pada mulanya, karena takut kepada orang Spanyol dan karena beberapa hadiah, lima puluh sampai enam puluh orang — lelaki dan anak-anak — menjadi Kristen; sesudah itu tidak bertambah lagi, dan yang dibaptis tidak lebih dari lima puluh orang. Mereka “christãos só de nome”, sebab padri yang di sana membaptis mereka tanpa katekese.

Mereka kembali kepada upacara dan praktik lama, menikahi perempuan Muslim, tidak datang ke gereja. Sang raja sendiri menikah lagi dengan seorang perempuan Muslim dan meninggalkan istri Kristennya, tidak ke gereja, dan ketika padri mendesak, mereka memperlakukannya dengan sangat buruk. Orang Spanyol di sana tinggal tujuh atau delapan, terus-menerus sakit, “com muitos peccados e escandalos“, dan penduduk tidak takut kepada mereka.

Karena itu, tulis Azevedo, tidak ada harapan hasil kecuali dengan menaklukkan negeri itu dan membangun benteng yang kuat sebab tanpa itu orang Ternate datang setiap hari merampok dan membunuh. Para padri sendiri sepakat dalam musyawarah bahwa jika serdadu ditarik, padri tidak boleh tinggal.

Tetapi orang Spanyol menertawakan gagasan menaklukkan tanah baru yang tak memberi keuntungan rohani maupun jasmani. Gubernur D. Luis de Bracamonte hari itu menyatakan sudah bertekad menarik seluruh orang Spanyol dan padrinya dari sana. Scalamonti wafat di Manado.

João da Cruz pulang dalam keadaan sudah diurapi; Pero Gomes dan Cosme Pinto nyaris habis; semua moços jatuh sakit dan mati. Tidak ada perdagangan dengan negeri itu karena musuh, dan hanya setahun sekali gubernur mengirim galai untuk memasok kebutuhan. Penarikan itu benar-benar dilaksanakan.[^37]

Bagaimana menimbang dokumen ini. Azevedo tidak pernah ke Manado; ia menulis dari Ternate. Tetapi ia bukan menuduh dari kejauhan tanpa dasar: ia menyebut kedua sumbernya, dan ringkasan penyunting edisi kritis justru menilai ia menulis dengan objektivitas yang tidak dimiliki para pelapor lain. Yang ada di hadapan kita adalah dua laporan yang bertabrakan, dan yang belakangan menyatakan sedang mengoreksi yang terdahulu.

Satu titik tetap menjadi selisih antar-saksi: pernyataannya bahwa pembaptisan dilakukan tanpa katekese bertentangan langsung dengan laporan 1617, yang menyatakan para calon dikatekese lebih dulu. Tetapi angka lima puluh, kematian di Manado, dan keputusan penarikan adalah keterangan faktual yang tidak dibantah dokumen lain dan sepuluh tahun laporan yang berbunga-bunga tidak menghasilkan satu pun angka tandingan.

1637–1645: Kembali, Tipis

Dua dekade berikutnya tipis dokumennya. Yang tersisa beberapa keping.

Pada 1637 raja Manado — “40 leguas de Terrenate, que es una punta de Macasar” — mengirim permintaan bantuan kepada Gubernur Pedro de Mindiola melawan pemberontak di kerajaannya sendiri, mengirim putra mahkotanya yang berusia enam belas atau tujuh belas tahun untuk dibesarkan di kalangan Spanyol, dan masih meminta padri untuk membaptis rakyatnya. Anak itu dibesarkan di rumah Jesuit di Manila bersama pangeran Siau yang sebaya.[^38] Dua puluh tahun setelah rajanya dibaptis, rakyatnya masih perlu dibaptis.

Pada 1638 ratu dan anak-anaknya meninggalkan “castra idolorum“, dan sang ratu menikah di hadapan Gereja dengan raja “qui iam tum temporis fidelis extiterat” — yang saat itu sudah lama beriman. Annua Cochin 1642 menyebut orang Manado, meski baru belakangan berada di bawah panji ilahi, “ob in fide firmitatem digni qui veterani dicantur”.[^39]

Frasa “sudah lama beriman” itu perlu dibaca berdampingan dengan laporan 1620, yang menyatakan raja telah kembali beristri Muslim dan menjauhi gereja. Penyunting edisi kritis sendiri mengangkat bahu atas persoalan ini: berapa istri yang dimiliki raja itu, dan siapa di antaranya yang sungguh-sungguh permaisuri, tidak diketahui.[^40] Apakah raja 1638 orang yang sama dengan raja 1617 juga bukan pernyataan dokumen, melainkan tautan penyunting.

Pada 1640 Gubernur Francisco Suárez de Figueroa kembali mengizinkan Fransiskan ke Manado dan Sangihe; Jesuit mencatatnya sebagai sabit yang diayunkan di ladang orang lain.[^41] Sengketa itu berlanjut sampai akhir, dipertajam Restaurasi Portugal 1640 yang memecah dua mahkota dan membuat kedudukan Jesuit Portugis di tengah garnisun Spanyol menjadi rawan.[^42]

Dari sisi Fransiskan ada angka yang jauh lebih besar. Laporan tahunan Manila bertarikh 25 Juli 1642 mengutip Fray Juan Iranzo di Manados: lebih dari lima puluh negeri dan lebih dari lima belas ribu jiwa — orang Spanyol, tambahnya, menyebut lebih dari seratus ribu; sebuah champán berisi dua belas orang Spanyol dikirim; tiga belas atau empat belas kepala Manados dibaptis di biara San Antonio di Ternate lalu pulang.[^43]

Angka itu tidak sebanding kelasnya dengan angka Jesuit. Dalam korpus Fransiskan yang sama, jumlah jiwa lazimnya diturunkan dari basis pajak lewat rasio tetap dari jumlah tributes; laporan Manados 1642 tidak berbentuk demikian — tanpa tribut, tanpa konven, tanpa imam menetap — jadi angkanya proyeksi, bukan hitungan.

Angka terakhir dari masa ini datang dari annua 1645: dari Ternate ke Manado tiga puluh legua; “O rey hé christão, chama-sse Dom Fernando”; ada lebih dari lima ratus orang Kristen dan mereka termasuk pembesar kerajaan; tiga padri tinggal di sana.[^44]

Lima ratus, dari taksiran sembilan sampai sepuluh ribu jiwa pada 1614 dan tiga tahun sesudah lima belas ribu jiwa dilaporkan dari ordo yang lain.

Sebuah Kematian dengan Dua Versi

Antara 1645 dan 1671 dokumennya nyaris kosong. Satu peristiwa mengisi celah itu, dan ia sampai kepada kita dalam dua bentuk yang tidak bisa didamaikan.

Kronik Fransiskan yang terbit lewat sebuah relasi anonim bertahun 1649 menceritakan sebuah kebangkitan di negeri-negeri “Meados” — dibedakan dalam kalimat yang sama dari Kerajaan Manados, dan disebut selama ini memasok bekal bagi benteng Ternate. Yang bangkit bukan gerakan keagamaan melainkan perlawanan terhadap orang Spanyol yang datang mencari bekal. Beberapa orang Spanyol terbunuh; Fray Juan Yranzo lolos bersama sebagian dari mereka; Fray Lorenzo Garalda menderita banyak kesengsaraan dan mati tujuh hari sesudahnya, jenazahnya ditemukan berlutut lalu disembunyikan penduduk. Menurut penyelidikan provinsial Fray Vicente Argente, penduduk menolak membunuh, tetapi para imam berhala mendesak. Tarikh yang diberikan badan teks: 1643–1644.[^45]

Katalog ordo memberi versi lain, dan angka-angkanya berasal dari buku kematian. Entri untuk Fray Lorenzo Garralda menyebut ia berasal dari Nagore di Navarra, berkaul 4 Februari 1633, berangkat ke Maluku sekitar 1638, tinggal di biara Ternate, lalu menuju kerajaan Manados dan tiba di pueblo de Cale. Sang raja kecil dan beberapa orang mendengarkannya dengan senang, tetapi para imam berhala menghasut. Ia ditombak dan dipenggal sedang berkhotbah pada 13 Februari 1642; kepalanya, jubah, dan tali pinggangnya dipasang di ujung tiang di tanah lapang negeri; jenazahnya tinggal berlutut di tempat kemartiran, dan delapan hari kemudian ditebus beberapa orang Spanyol, dibawa ke Manila, dan dimakamkan di biara ordo di samping altar utama.[^46]

Ketiganya bertabrakan pada titik yang paling menentukan: tanggalnya, cara matinya, dan nasib jenazahnya. Angka tujuh hari pada versi 1649 menempel pada kematian yang berlarut; pada katalog, angka delapan hari menempel pada penebusan jenazah. Satu penjelasan yang mungkin: “1643 dan 1644” adalah tarikh penyelidikannya, bukan tarikh peristiwanya — Argent baru terpilih menjadi provinsial pada kapitel 17 Januari 1643, sehingga penyelidikannya mustahil mendahului tarikh itu.

Yang selamat di kedua saluran hanya nama orangnya dan rumus tentang para imam berhala — dan rumus itu sudah dipakai untuk peristiwa 1619, jadi ia konvensi penulisan misi, bukan kesaksian ganda. Keterangan versi 1649 yang justru paling bertahan adalah yang tak berguna bagi ceritanya sendiri: bahwa negeri-negeri itu memasok bekal, dan bahwa yang datang hari itu adalah orang Spanyol pencari bekal.

Nama Cale dalam katalog itu belum bisa dipertemukan dengan toponim mana pun di Minahasa lewat sumber sezaman; tradisi gerejawi setempat mengaitkannya dengan Desa Kali di Pineleng, tetapi penetapan itu berasal dari abad ke-20 dan tarikh yang dipakainya berbeda lagi.

1671: Dari Pemohon Menjadi Pemasok

Keping terakhir datang dari sebuah laporan panjang Francisco de Pareja di Manila, 25 Januari 1671, dan ia memperlihatkan pembalikan yang sempurna.

Pertama, kekerasan. Kebanggaan orang Siau, tulis Pareja, adalah bahwa mereka tidak pernah membunuh padri, “como hicieron los Manados”. Teksnya sendiri tidak menyebut ordo, nama, maupun tahun; penyunting membacanya sebagai sejumlah Fransiskan yang dibunuh orang Manado pada masa lampau, dan rujukannya mengarah ke kepustakaan Fransiskan.[^47] Setelah kepustakaan itu ditelusuri, gemanya punya nama: Palomino pada 1620, dan Garralda pada 1642 atau 1643–1644.

Kedua, benteng. Di Manado, tulis Pareja, orang Belanda sedang membangun sebuah benteng batu yang besar di pantai, enam atau delapan legua jauhnya dari negeri Tomun — yang oleh penyunting diidentifikasi sebagai Tomohon, kota pedalaman sekitar dua puluh kilometer dari kota Manado sekarang — “donde tuvimos los españoles un pequeño pressidio”.[^48]

Kalau bacaan itu benar, presidio Spanyol berada di pedalaman bukan di pesisir. Dua rambu: jarak enam sampai delapan legua tidak cocok dengan dua puluh kilometer, dan Pareja tidak menyatakan presidio yang mana serta kapan. Satu rambu lagi soal bentengnya: menurut catatan penyunting, sesudah bangunan kayu, Belanda mulai membangun benteng batu pada 1666 dan menamainya Amsterdam — jadi yang dilihat Pareja pada 1671 adalah pekerjaan yang sudah berjalan beberapa tahun.[^49]

Ketiga, dan yang paling menjelaskan: beras. Belanda berbenteng di sana, tulis Pareja, karena kelimpahan padi yang luar biasa, yang darinya mereka memasok Ternate, Ambon, dan selama tiga tahun terakhir perang melawan Makassar. Di presidio itu ada seratus infanteri dan lebih dari dua puluh orang Pampanga yang dulu melarikan diri dari Ternate Spanyol. Motif kedua mereka adalah menguasai kepulauan dan bangsa-bangsa tetangga Manado, hingga seluruh Sangihe.

Dan itulah pembalikannya. Pada 1671 Sultan Ternate memerintahkan dua korakora disiapkan di Manado dan tujuh belas di Sangihe untuk ekspedisinya ke Mindanao.[^50] Kerajaan yang pada 1606–1617 berkali-kali memohon lepas dari Ternate, enam puluh lima tahun kemudian menyediakan kapal untuk Ternate.

Bacaan Atas Keseluruhan

Kalau seluruh rangkaian ini dibaca sekaligus, tiga hal menonjol.

Yang diminta bukan padri saja, melainkan padri dan serdadu. Hampir setiap permintaan dari pihak Manado menyandingkan keduanya: 1608 permintaan padri berdiri dalam paragraf yang sama dengan kepentingan bekal, 1614 tawaran membangun benteng, Juni 1616 “religiosos y soldados“, 1637 bantuan melawan pemberontak. Annua 1620 menyatakannya paling terang: yang mereka hargai besar adalah kemampuan menolong melawan musuh. Ketika Spanyol tak mampu memberikannya, hubungan itu layu; ketika Belanda mampu, mereka menetap.

Komoditasnya bergeser. Sagu pada 1606, sagu dan padi pada 1614, dan pada 1671 beraslah yang membuat Belanda membangun benteng batu. Manado tidak pernah menjadi tujuan karena rempah; ia lumbung bagi garnisun orang lain.

Kristenisasi abad ke-17 sangat tipis. Lima puluh orang pada 1620, lima ratus pada 1645, dari penduduk yang ditaksir sembilan sampai sepuluh ribu. Angka lima belas ribu pada 1642 datang dari kelas laporan yang berbeda dan tidak menopang dirinya sendiri. Rajanya dibaptis, kembali menikahi perempuan Muslim, dan dua puluh tahun kemudian masih meminta padri untuk membaptis rakyatnya. Setiap gambaran tentang Manado yang serta-merta menjadi Kristen pada abad ke-17 bertabrakan dengan angka-angka ini.

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Piet Jan Lang: Pejuang Perang Dunia II di Manado

    Piet Jan Lang: Pejuang Perang Dunia II di Manado

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2024
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Sejarah heroik sering kali terukir dalam tragedi, dan kisah Piet Jan Lang adalah salah satu yang tidak akan pernah dilupakan. Sebagai anggota tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands Indisch Leger – KNIL), Piet Jan Lang menunjukkan keberanian luar biasa dalam melawan kekuatan militer Jepang selama pertempuran sengit di sekitar Manado, Sulawesi Utara, pada awal Perang […]

  • Bersama Presiden Indonesi

    Dr. Sam Ratulangi, “Agitator Intelektual” yang Mengguncang Logika Kolonial Belanda

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Nama Sam Ratulangi atau Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi tercatat secara khusus dalam arsip Politieke Inlichtingen Dienst (Dinas Intelijen Politik) Hindia Belanda. Ia bukan pemberontak bersenjata yang bergerilya dari hutan ke hutan. Sebaliknya, pemerintah kolonial memandangnya sebagai ancaman yang lebih kompleks: seorang “agitator intelektual”. Bagi rezim kolonial, Ratulangi adalah anomali. Ia menguasai bahasa, logika, […]

  • Pinabetengan: Dari Batu Musyawarah Leluhur hingga Desa Bersejarah di Jantung Minahasa

    Pinabetengan: Dari Batu Musyawarah Leluhur hingga Desa Bersejarah di Jantung Minahasa

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Di dataran tinggi Tompaso, Kabupaten Minahasa, berdiri sebuah situs batu besar yang hingga kini terus mengundang perhatian para sejarawan, antropolog, hingga peziarah budaya. Batu itu dikenal sebagai Watu Pinawetengan, sebuah monumen megalitik yang dalam ingatan kolektif masyarakat Minahasa dipercaya sebagai tempat pembagian wilayah dan permufakatan leluhur berbagai sub-etnis Minahasa. Situs ini secara administratif berada di […]

  • Uit De Minahasa Bahasa Indonesia – J.A.T Schwarz (1908)

    Uit De Minahasa Bahasa Indonesia – J.A.T Schwarz (1908)

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Berikut terjemahan dari publikasi Ethnographica “Uit De Minahasa”, dengan topik: Deskripsi Watu Pinawetengan Pakaian Adat Minahasa Lama Pembuatan kain Wa’u dan lanut Deskripsi Tongkat Tona’as Minahasa Lama Karena cetakan aslinya tidak begitu bagus, saya pertama-tama menyalinnya secara manual dan memindahkannya ke dalam bahasa Belanda modern. Baru kemudian diterjemahkan dan foto serta gambar dibersihkan dan diperbaiki. […]

  • Hampir 13.000 Penduduk Minahasa Meninggal dalam Wabah 1853–1854

    Hampir 13.000 Penduduk Minahasa Meninggal dalam Wabah 1853–1854

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Menjelang pertengahan abad ke-19, jumlah penduduk Minahasa mendekati 100.000 jiwa. Pieter Bleeker dalam Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel, terbit pada tahun 1856, mencatat 95.661 penduduk tahun 1849. Jumlah itu menjadi 96.815 tahun 1850, kemudian 99.255 tahun 1851 dan 99.588 tahun 1852. Angka 1853 tetap 99.588 jiwa. Rangkaian tersebut menjadi dasar perbandingan ketika […]

  • Tontemboansche Teksten, Vertaling – J.A.T. Schwarz (1907)

    Tontemboansche Teksten, Vertaling – J.A.T. Schwarz (1907)

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Tontemboansche Teksten, Vertaling – J.A.T. Schwarz – 1907 , versie 2, compleet.pdf VERSI LENGKAP DAN TERKOREKSI Pada versi terdahulu, ada beberapa halaman hilang di sana-sini. Hal ini telah diperbaiki, dan penomoran halaman sekarang sudah benar. Buku ini bagian dari “Tontemboansche Teksten”, Tontemboansche Teksten, Vertaling – J.A.T. Schwarz – 1907.pdf Buku ini berbahasa Belanda. Kumpulan Hikayat-2 […]

expand_less