Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja

Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja

  • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
  • visibility 58
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tondano, Minahasa, dalam catatan perjalanan Dr. H. Kraemer tahun 1926

Ada sebuah kisah singkat dalam laporan perjalanan Dr. H. Kraemer ke Minahasa yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan gambaran penting mengenai hubungan antara masyarakat Tondano, kehidupan gereja, dan pemerintah kolonial.

Kraemer mencatat bahwa pada suatu masa di Tondano, masyarakat sedang membangun sebuah gereja. Mereka telah menebang kayu dari hutan dan hendak mengangkutnya menuju tempat pembangunan. Namun, pekerjaan tersebut menghadapi hambatan dari pemerintah Eropa. Setiap kali masyarakat hendak mengangkut kayu, pemerintah menetapkan heerendiensten, yaitu kewajiban kerja yang harus dilakukan penduduk.

Keadaan itu tidak membuat pembangunan gereja berhenti. Justru di sinilah muncul kalimat yang menjadi bagian paling menarik dari catatan Kraemer:

“Toen sleepten de vrouwen het hout.”

yang artinya

“Maka para perempuanlah yang mengangkut kayu tersebut.”

Ketika pembangunan gereja berhadapan dengan kerja wajib

Kisah tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Sebelum menceritakan kayu gereja, Kraemer menulis bahwa pernah ada masa ketika orang-orang Tondano yang pergi ke gereja mendapatkan pukulan rotan dari pihak pemerintah Eropa. Namun, menurut catatannya, mereka tetap pergi ke gereja.

Setelah itu Kraemer langsung memberikan contoh pembangunan gereja.

Masyarakat telah menebang kayu dan mempersiapkan bahan bangunan. Masalahnya muncul ketika kayu tersebut hendak dibawa dari hutan ke lokasi pembangunan. Pemerintah kolonial, menurut Kraemer, setiap kali mengeluarkan ketentuan heerendiensten ketika masyarakat hendak melakukan pengangkutan. Dengan demikian, pekerjaan pembangunan gereja terus berhadapan dengan kewajiban kerja yang ditetapkan pemerintah.

Tetapi masyarakat menemukan jalan lain.

Para perempuan mengambil alih pekerjaan mengangkut kayu.

Kraemer tidak memberikan nama perempuan-perempuan tersebut, jumlah mereka, maupun tanggal pasti kejadian itu. Ia juga tidak menjelaskan secara rinci berapa banyak kayu yang mereka angkut. Karena itu, informasi yang dapat kita pastikan dari sumber hanyalah bahwa perempuan Tondano turut mengangkut kayu untuk pembangunan gereja ketika pekerjaan tersebut terhambat oleh pemberlakuan heerendiensten.

Bukan sekadar kisah pembangunan gereja

Bagi Kraemer, peristiwa tersebut mempunyai makna yang lebih luas.

Ia sedang membahas apa yang menurutnya merupakan persoalan dalam proses perubahan masyarakat Minahasa. Kraemer menggambarkan Minahasa sebagai masyarakat yang dalam waktu kurang dari satu abad mengalami perubahan besar: dari masyarakat yang sebelumnya memiliki struktur kehidupan dan kepercayaan yang berbeda, menjadi masyarakat Kristen yang berada di bawah pemerintahan modern dan memiliki jaringan pendidikan serta jalan yang semakin berkembang.

Perubahan tersebut, menurut Kraemer, bukanlah sesuatu yang sederhana. Ia menggambarkannya sebagai semacam “guncangan psikologis” bagi masyarakat yang mengalami perubahan begitu cepat.

Dalam konteks itulah ia melihat hubungan antara pemerintah kolonial dan proses kristenisasi sebagai persoalan yang rumit.

Menurut Kraemer, masyarakat Minahasa melihat pemerintah yang secara historis mereka kaitkan dengan agama baru tersebut, tetapi pada saat yang sama mengalami sikap dan tindakan pejabat yang menurutnya bertentangan dengan semangat agama yang sedang mereka anut. Ia bahkan menulis tentang adanya “permusuhan dan perlawanan langsung” dari pihak pejabat terhadap proses kristenisasi.

“Netralitas” kolonial yang dipertanyakan

Bagian ini juga memperlihatkan kritik Kraemer terhadap konsep netralitas pemerintah kolonial.

Menurutnya, pemerintah seharusnya bersikap netral terhadap persoalan agama. Namun, ia melihat adanya kontradiksi ketika pemerintah yang mengaku netral justru melakukan tindakan yang menurutnya menghambat kegiatan keagamaan masyarakat.

Kisah pembangunan gereja di Tondano menjadi salah satu contoh yang ia gunakan.

Masyarakat ingin membangun gereja. Mereka sudah menyiapkan kayu. Namun ketika hendak mengangkut kayu, kewajiban kerja diberlakukan. Pada akhirnya, perempuan mengambil alih pekerjaan tersebut.

Karena itu Kraemer menyebut keadaan tersebut sebagai suatu “vermin keling der neutraliteit”, yang dalam konteks tulisannya mengarah pada kritik terhadap penyimpangan atau kerusakan prinsip netralitas pemerintah.

Ia kemudian bertanya secara retoris bagaimana mungkin orang-orang Kristen Minahasa yang sederhana tidak mengalami kebingungan batin ketika menghadapi keadaan seperti itu.

Perempuan yang muncul di balik sejarah gereja

Yang membuat kisah ini menarik bagi sejarah lokal adalah bahwa nama perempuan-perempuan tersebut tidak dicatat.

Kraemer hanya menulis satu kalimat pendek:

“Toen sleepten de vrouwen het hout.”

Tetapi satu kalimat tersebut memberi kita gambaran bahwa perempuan bukan sekedar penonton dalam pembangunan kehidupan gereja. Dalam situasi tertentu, mereka mengambil bagian langsung dalam pekerjaan fisik yang dibutuhkan agar pembangunan gereja tetap berjalan.

Namun, penting untuk tidak menambahkan cerita yang tidak terdapat dalam sumber. Kraemer tidak mengatakan bahwa mereka melakukan aksi demonstrasi, tidak menyebutnya sebagai pemberontakan, dan tidak menyebut nama mereka. Karena itu adalah keteguhan atau keterlibatan perempuan Tondano dalam pembangunan gereja, bukan “pemberontakan perempuan Tondano”.

Sebuah kisah kecil dari perubahan besar Minahasa

Laporan Kraemer bukan sekadar catatan perjalanan. Nationaal Archief mencatat dokumen ini dalam topik Indonesia Timur sebagai Verslag van de reis van dr H. Kraemer naar Ambon en de Minahassa van 2 september–8 november 1926, laporan dari Nederlandsch Bijbelgenootschap tahun 1926.

Di dalam laporan itu, Kraemer berusaha memahami perubahan sosial dan keagamaan yang sedang berlangsung di Minahasa. Ia melihat masyarakat yang telah mengalami perubahan besar akibat Kekristenan, pendidikan, dan pemerintahan kolonial, tetapi sekaligus menghadapi berbagai ketegangan dalam proses tersebut.

Dalam konteks itu, kisah perempuan Tondano yang mengangkut kayu menjadi lebih dari sekedar cerita pembangunan sebuah bangunan.

Ia memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat mempertahankan pekerjaan yang dianggap penting bagi kehidupan gerejanya ketika berhadapan dengan hambatan administratif kolonial.

Dan di tengah catatan panjang tentang agama, pemerintahan, pendidikan, dan kolonialisme, Kraemer meninggalkan satu kalimat pendek yang justru sangat kuat:

“Toen sleepten de vrouwen het hout.”

yang artinya

“Maka para perempuanlah yang mengangkut kayu tersebut.”

 

Sumber: H. Kraemer, Verslag van de reis van Dr. H. Kraemer naar Ambon en de Minahassa van 2 September–8 November 1926, Nederlandsch Bijbelgenootschap, 1926.

Catatan: judul “Ketika Perempuan Tondano Mengangkut Kayu untuk Membangun Gereja” adalah judul interpretatif untuk artikel; bukan judul asli dalam laporan Kraemer. Fakta utamanya berasal dari kalimat Belanda “Toen sleepten de vrouwen het hout.”

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Sejarah Penginjilan di Langowan

    Sejarah Penginjilan di Langowan

    • calendar_month Selasa, 8 Okt 2024
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Kisah Sejarah Penginjilan Langowan DOWNLOAD – GDRIVE – PDF – 800KB *sumber langowan.com

  • Memori Kolonial di Tanah Minahasa: Sebuah Retrospeksi dari Majalah Tong Tong, 1962

    Memori Kolonial di Tanah Minahasa: Sebuah Retrospeksi dari Majalah Tong Tong, 1962

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Arsip-arsip peninggalan era kolonial sering kali menjadi jendela waktu yang merekam denyut kehidupan masyarakat lokal dari kacamata pendatang. Salah satu kepingan sejarah tersebut terekam dalam majalah Tong Tong edisi 15 Maret 1962, melalui sebuah artikel bertajuk “MINAHASA een andere negorij (DEEL II)”. Catatan ini memberikan deskripsi yang hidup mengenai lanskap sosial, budaya, dan alam Minahasa […]

  • Tontemboansche Teksten – Aantekeningen – J.A.T. Schwarz (1907)

    Tontemboansche Teksten – Aantekeningen – J.A.T. Schwarz (1907)

    • calendar_month Rabu, 8 Mei 2024
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Buku ini ditulis dalam Bahasa BELANDA (Minahasa). Ini adalah buku yang ditulis oleh J.Alb.T. Schwarz, di mana ia menceritakan Hikayat-hikayat yang diceritakan kepadanya oleh orang tua di Minahasa. Dalam bagian ini adalah catatan-catatan lengkap mengenai Hikayat-hikayat tsb. Ini untuk mereka yang mengerti bahasa Belanda, menyukai cerita-cerita Minahasa, dan mungkin ingin menerjemahkan cerita-cerita tersebut ke dalam […]

  • Masyarakat Minahasa membunyikan bia (kerang) saat Mapalus (ilustrasi)

    Metamorfosis Mapalus: Dari Tradisi Komunal ke Instrumen Kolonial

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Di tanah Minahasa, Sulawesi Utara, mapalus bukan sekadar praktik gotong royong. Ia adalah fondasi sosial yang mengikat hubungan kekerabatan (taranak) dan komunitas kampung (ro’ong) dalam satu sistem yang menyatu dengan alam. Namun, di balik citra harmonis tersebut, sejarah mapalus memperlihatkan perjalanan panjang, dari mekanisme bertahan hidup hingga menjadi bagian dari mesin kolonial. Untuk memahami transformasi […]

  • Penggalian kembali watu Pinawetengan 19 Juli 1888 (𝘜𝘪𝘵 𝘖𝘯𝘻𝘦 𝘒𝘰𝘭𝘰𝘯𝘪ë𝘯 — 𝘏. 𝘝𝘢𝘯 𝘒𝘰𝘭, 1903⁣⁣⁣. Engel Yong)

    Minahasa dan Jejak Demokrasi Tertua di Indonesia

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Ada satu klaim yang hampir selalu muncul ketika orang berbicara tentang sejarah politik Minahasa, bahwa di Watu Pinawetengan, sekitar tahun 670 Masehi, para leluhur mengadakan musyawarah besar yang melahirkan demokrasi tertua di Indonesia. Klaim itu punya dua bagian. Bagian pertama, bahwa Minahasa lama diperintah lewat permusyawaratan, tanpa raja tunggal, dengan satuan-satuan wilayah yang berdiri sendiri […]

  • Ilustrasi Ai

    Memahami Kronologi Pemukiman Manado: Wenang, Babontehu, dan Transformasi Nama

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Sejarah pemukiman di Teluk Manado dalam arsip kolonial merekam pergeseran pusat perdagangan dan pertahanan militer. Dokumen VOC abad ke-17 cenderung mengabaikan nama lokal demi kepentingan administrasi, namun catatan etnografis Nicolaas Graafland (1898) serta analisis topografi A.H. Verkuyl (1938) memberikan perspektif pelengkap. Kedua rujukan tersebut menegaskan bahwa “Manado” merupakan nama yang berasal dari pulau, sedangkan “Wenang” […]

expand_less