Dari Tululio ke Tololiu: Jejak Perubahan Nama Raja Manado
- calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
- visibility 111
- comment 0 komentar
- print Cetak

de radja van Manado Tululio (ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dalam penulisan sejarah Minahasa, nama Tololiu biasa disebut sebagai raja Manado awal abad ke-17 yang berhubungan dengan Spanyol dan kemudian dibaptis.
Nama itu muncul di berbagai tulisan tanpa alamat sumber, seolah tinggal dikutip dari arsip. Kenyataannya lain, dokumen-dokumen sezaman memang menyebut seorang raja Manado tetapi tidak satu pun menuliskannya sebagai “Tololiu”. Bentuk itu lahir jauh belakangan dan jalur kelahirannya bisa dilacak selangkah demi selangkah.
Tulisan ini tidak membahas apa yang dilakukan raja tersebut, itu bahan tulisan tersendiri. Yang dilacak di sini hanya namanya yaitu dari mana tiap bentuk berasal, siapa yang menuliskannya dan pada titik mana dua orang berbeda tergabung menjadi satu.
1606: Tululio, Sebuah Alamat Surat
Kemunculan tertua ada dalam berkas Spanyol pasca-perebutan Ternate. Setelah armada Manila merebut benteng Ternate dari Ternate pada 1606, maestre de campo Juan de Esquivel mengirim surat kepada lima penguasa di pesisir utara Sulawesi. Kepala salinannya:
Copia de la carta que scriuio el Maestre de Campo á los rreyes de Bool Don Miguel rrey de Tontoli Tululio rrey de Menado rrey de Bulan y Dongue Reyna de Cauripa á cada uno de por si en ventiseis de Julio de mil seiscientos seis.[^1]
Surat-surat itu bertarikh 26 Juli 1606 dan dibawa pada 1 Agustus oleh alferez Christoval Suarez dengan dua champán dan delapan belas serdadu, sebuah utusan kecil bukan armada. Isinya adalah para raja tak perlu lagi membayar upeti kepada Ternate, sang raja diundang datang sendiri atau mengirim orang besarnya dan disertakan sepotong beludru sebagai tanda persahabatan.[^2]
Satu hal perlu ditegaskan. Yang dicetak dalam berkas itu hanyalah balasan dari dua bersaudara raja Tontoli dan Bool, serta dari Ratu Dongue di Kaidipang. Dari Manado tidak ada balasan. Untuk tahun 1606 kita hanya memiliki surat kepada Tululio, bukan surat darinya. Nama itu pada titik ini, tak lebih dari sebuah alamat.
1616: Cachiltulo Bersuara
Sepuluh tahun kemudian raja Manado menulis sendiri. Suratnya tersimpan dalam kumpulan korespondensi Gubernur Spanyol Maluku Gerónimo de Silva, yang diterbitkan pada 1868. Kepala salinannya:
Tanto de carta quel Cachiltulo, rey de Manados, escribió á el gobernador don Gerónimo de Silva en 21 de junio de 1616[^3]
dan surat itu ditutup dengan tanda tangan yang sama: De V. S. servidor Cachiltulo, rey de Manados. Isinya bercerita bahwa pada 21 Mei sebuah kapal singgah, ia memanggil dua padri Fransiskan yang ada di kapal itu dan menyatakan keinginannya menjadi Kristen serta bersahabat dengan Raja Spanyol.
Surat itu dibawa oleh padre comisario fray Pascual de Torella. Balasan Silva dari Tidore, empat hari kemudian, menegaskan bahwa raja tersebut “queda dispuesto para recibir el santo bautismo” — masih calon, belum dibaptis — dan mencatat bahwa yang diminta bukan hanya rohaniwan, melainkan juga serdadu untuk mempertahankan kerajaannya, permintaan yang tak bisa dipenuhi karena bantuan dari Manila belum tiba.[^4]
Di sini bentuk namanya jelas Cachiltulo, yakni Kaicili Tulo gelar bangsawan Maluku ditambah nama. Bukan Tululio, apalagi Tololiu.
Ada ironi yang layak dicatat bahwa seorang raja yang memakai gelar Ternate justru meminta Spanyol membebaskannya dari kekuasaan Ternate.
Dua Orang Bernama Tulo
Di sinilah persoalan mulai. Pada tahun-tahun yang sama, di Ternate, hidup seorang bangsawan bernama sama: Kaicil Tulo, saudara Sultan Baab Ullah, paman Sultan Said Berkat dan ayah Kaicil Hamja (Hamzah) yang di Manila dibaptis dengan nama Pedro de Acuña. Namanya bahkan menempel pada salah satu baluarte benteng Ternate.[^5]
Kedua orang ini berbeda dan pemisahannya bukan dugaan penulis tulisan ini. Hubert Jacobs, penyunting edisi kritis dokumen-dokumen Maluku, mencantumkan keduanya sebagai dua lema terpisah dalam indeks jilid yang sama yaitu Tulo, Kaicil, Prince of Ternate, father of Hamja dan di bawahnya, Tulo, King of Manado.[^6] Siapa pun yang menulis tentang “Kaicil Tolo” perlu menyatakan yang mana yang dimaksud.
Siapa Menyatukan Tululio 1606 Dengan Cachiltulo 1616?
Pertanyaan berikutnya lebih halus. Apakah Tululio yang dikirimi surat pada 1606 orang yang sama dengan Cachiltulo yang menulis pada 1616?
Dokumennya tidak pernah menyatakan itu. Sebuah laporan Jesuit kepada Raja Spanyol hanya menyebut adanya “tres o quatro reis” di Pulau Matheo — nama Spanyol untuk Sulawesi — yang menyatakan ingin menjadi Kristen dan bersahabat dengan Spanyol. Yang menamai kelima raja itu dan menautkannya ke berkas Esquivel adalah catatan kaki Jacobs, bukan teksnya.[^7]
Demikian pula penyamaan “Kaicil Tulo of Manado” dengan surat 1616 dilakukan Jacobs di tiga tempat berbeda, selalu dengan rujukan ke halaman korespondensi Silva.[^8]
Artinya penggabungan pertama yang bisa dipertanggungjawabkan dilakukan seorang penyunting pada 1984, atas dasar kesinambungan jabatan dan kemiripan bentuk nama.
Itu inferensi yang masuk akal dan berkualitas tinggi, tetapi tetap inferensi dan sebaiknya disebut demikian, bukan dikutip seolah dokumen abad ke-17 sendiri yang menyatakannya.
1925: Tululio Kembali, Lewat Belanda
Jalur masuk nama itu ke dalam literatur berbahasa Belanda dan kemudian Indonesia adalah satu catatan kaki. Dalam sebuah artikel tentang kekristenan di Sulawesi Utara, J. A. van Aernsbergen mendaftar penerima surat Esquivel: Don Miguel Pololibuta raja Tolitoli, saudaranya raja Buol, “de radja van Manado Tululio“, raja Bolaang dan Dongue ratu Kaidipang — dengan rujukan ke halaman berkas Colín–Pastells.[^9]
Perlu dicatat, penulisan ulang ini tidak sepenuhnya setia. Dokumen aslinya menulis “rrey de Bulan“; Van Aernsbergen menulis “raja van Bolaang“. Apakah keduanya sama memerlukan argumen tersendiri. Dari catatan kaki inilah bukan dari Colín–Pastells, apalagi dari arsip Sevilla bahwa hampir seluruh penyebutan Tululio dalam tulisan Indonesia berasal.
Abad Ke-20: Menjadi Tololiu
Langkah terakhir terjadi di Minahasa sendiri. Bentuk Tololiu menempel pada raja Manado abad ke-17 dan sekaligus bertemu dengan lapis yang sama sekali lain yaitu Tololiu Tua, tokoh Tombulu dalam tradisi tutur dan silsilah yang disebut sebagai leluhur beberapa keluarga Minahasa dan Tololiu sebagai nama diri yang lazim pada abad ke-18 dan ke-19.
Satu contoh menunjukkan betapa mudah lapis-lapis ini bercampur. Sebuah foto koleksi KITLV memperlihatkan tugu berundak bertulisan MINAHASA / ANNO 1929 di Woloan, disusun dengan waruga-waruga yang dikumpulkan dan ditata ulang.
Keterangan yang beredar menyebut salah satu waruga itu milik “Tololio Topit, kepala walak penanda tangan perjanjian VOC 1679″. Tetapi perjanjian 1679 itu ada teksnya, lengkap dengan penutupnya.
Yang membubuhkan tanda hanya empat orang pribumi, juru bahasa Bastiaan Saway, richter Maondy, serta kapitan Pacat Soepit dan Pedro Ranty di samping Robbertus Padtbrugge dan juru tulisnya. Tidak ada Tololiu, tidak ada Topit; “Topit” hampir pasti salah baca atas Soepit. Bahkan gambaran umum bahwa “para kepala walak menandatangani perjanjian 1679″ keliru: lebih dari dua puluh negeri hadir, tetapi hanya empat orang yang menandatangani, dan alasannya dinyatakan dalam dokumen itu sendiri.[^10]
Jadi tugu 1929 adalah monumen peringatan, bukan waruga di tempat asalnya dan atribusinya adalah keterangan abad ke-20 bukan hasil pembacaan atas batunya.
Penutup
Lima bentuk, satu garis:
- Tululio (1606) — alamat sepucuk surat Spanyol, tanpa balasan.
- Cachiltulo (1616) — satu-satunya bentuk yang ditulis oleh atau untuk orang itu sendiri, dengan gelar Maluku.
- Kaicil Tulo — normalisasi seorang penyunting pada 1984, yang sekaligus memisahkannya dari Kaicil Tulo pangeran Ternate.
- Tululio kembali (1925) — satu catatan kaki Belanda, dengan satu nama lain yang sudah berubah bentuk.
- Tololiu (abad ke-20) — bentuk Minahasa, yang di jalan bertemu dan menyatu dengan Tololiu Tua.
Tidak satu pun perpindahan itu terjadi dalam sumber sezaman. Semuanya terjadi di meja penulis dan penyunting, masing-masing dengan tahun dan alamatnya sendiri.
Itu bukan alasan untuk berhenti memakai nama Tololiu, nama tetap boleh hidup dan berubah tetapi cukup alasan untuk berhenti menuliskannya seolah demikianlah ia tercatat dalam arsip.
Catatan kaki
Member Komunitas
Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.
- Penulis: Alfa Leo
