Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Jejak Raja Manado dalam Dokumen Portugis dan Spanyol, 1556–1619

Jejak Raja Manado dalam Dokumen Portugis dan Spanyol, 1556–1619

  • calendar_month Selasa, 11 Feb 2025
  • visibility 165
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Manado sudah punya raja Kristen pada tahun 1556 dan rajanya dibaptis Diogo de Magalhães pada 1563, tetapi tak satu pun dokumen abad ke-16 menyebut nama diri raja-raja itu.[^1]

Raja Manado pertama yang namanya tercatat baru muncul pada awal abad ke-17, dalam surat-menyurat Spanyol adalah sekali sebagai penerima surat bernama Tululio (1606), sekali sebagai penulis surat yang menandatangani dirinya Cachiltulo, rey de Manados (1616).

Artikel ini menyusun apa yang dapat dikatakan tentang dirinya dari dokumen dan menandai di mana dokumennya berhenti berbicara.

Nama yang lebih dulu ada: Kaicil Tulo Dari Ternate

Sebelum nama Tulo muncul di Manado, nama itu sudah dikenal dalam dokumen Spanyol sebagai milik seorang pangeran Ternate. Dalam catatan harian pengepungan Ternate tahun 1585, Cachiltulo disebut berulang kali sebagai pembela benteng, sampai ada ungkapan bahwa benteng itu tak akan jatuh selama Cachiltulo masih hidup.[^2]

Dua puluh satu tahun kemudian, ketika armada Manila merebut Ternate pada April 1606, salah satu bastion benteng itu masih disebut orang Spanyol sebagai baluarte que llaman de cachiltulo.[^3]

Sesudah kejatuhan Ternate, Kaicil Tulo termasuk dalam daftar bangsawan yang diangkut ke Manila sebagai tawanan, bersama putranya Cachil Codate dan Cachil Amuja, sepupu raja.[^4]

Ia saudara Sultan Baab Ullah dan paman Sultan Said Berkat. Putranya Kaicil Hamja (dalam dokumen Spanyol Amuxa) dibaptis di Manila dengan nama Pedro de Acuña, pulang ke Ternate pada awal 1627 dan kemudian memerintah sebagai sultan.[^5]

Penyunting Documenta Malucensia III, Hubert Jacobs, memisahkan keduanya dalam indeksnya yakni satu lema untuk “Tulo, Kaicil, pangeran Ternate, ayah Hamja”, satu lagi untuk “Tulo, raja Manado”.[^5]

Pemisahan itu penting untuk semua yang berikut: pada bulan-bulan ketika Kaicil Tulo dari Ternate berada di tangan Spanyol, gubernur Spanyol di Ternate menulis surat kepada seorang raja Manado bernama hampir sama.

1606: surat kepada “Tululio, raja Menado”

Setelah merebut benteng Ternate, Maestre de Campo Juan de Esquivel mengirim surat kepada lima penguasa di sisi utara Sulawesi. Salinan kepala suratnya berbunyi: surat kepada raja Bool, Don Miguel raja Tontoli, Tululio raja Menado, raja Bulan, dan Dongue ratu Cauripa, masing-masing tersendiri, bertarikh 26 Juli 1606.[^6]

Bentuknya Tululio, tanpa gelar Cachil, padahal di berkas yang sama bangsawan Ternate selalu ditulis dengan gelarnya.

Isi suratnya bersifat politik yakni Esquivel mengingatkan bahwa Ternate menguasai benteng itu selama tiga puluh satu tahun secara lalim sampai direbut armada Manila, menyatakan para raja tidak lagi perlu membayar upeti kepada Ternate, mengundang mereka datang sendiri atau mengirim para principales, dan menyertakan sepotong beludru sebagai tanda persahabatan.[^7]

Pembawanya bukan armada, melainkan dua champán dengan delapan belas serdadu di bawah alferez Christoval Suarez, yang berangkat 1 Agustus 1606 dan diharapkan pulang membawa sagu.[^8]

Balasan yang ikut dicetak hanya datang dari dua bersaudara raja Tontoli dan Bool serta dari Ratu Dongue dari Cauripa.[^9]

Dari Menado tidak ada balasan. Untuk tahun 1606 yang kita pegang hanyalah surat kepada Tululio, suaranya sendiri baru terdengar sepuluh tahun kemudian.

1614: kerajaan yang ingin lepas dari Ternate

Delapan tahun kemudian Manado muncul dalam laporan Gubernur Spanyol di Maluku, Don Gerónimo de Silva, bertarikh 3 Juli 1614.

Sebuah galai Spanyol berlayar ke sana, menukar kain dengan sagu dan padi, lalu berunding dengan Kapten Juan Martínez de Liédena. Orang Manados menawarkan bantuan membangun benteng dan menjamin pangan, alasan yang mereka kemukakan adalah melepaskan diri dari “perbudakan orang Ternate” yang merampas harta dan perempuan. Laporan itu mencatat pula bahwa mereka membenci Belanda dan bersahabat dengan Raja Tidore.[^10]

Nama rajanya tidak disebut. Tetapi arah politik yang tampak di sini, mendekat ke Spanyol untuk lepas dari Ternate. Ini adalah arah yang dua tahun kemudian dinyatakan Cachiltulo dengan suaranya sendiri.

1616: Suaranya Sendiri

Pada 21 Juni 1616 raja Manado menulis kepada Gubernur Silva. Kepala salinannya menyebut “Cachiltulo, rey de Manados“, dan suratnya ditutup dengan tanda tangan yang sama.[^11]

Inilah satu-satunya bentuk namanya yang keluar dari pihaknya sendiri yakni Cachiltulo adalah gelar bangsawan Maluku Kaicili yang dilekatkan pada nama Tulo.

Isinya menempatkan pembaptisannya pada posisi yang jelas. Pada 21 Mei kapal San Antonio melintas; sang raja memanggil dua padri Fransiskan di kapal itu dan menyatakan ingin menjadi Kristen serta sahabat Raja Spanyol. Suratnya dibawa padre comisario fray Pascual de Torrella.[^11]

Balasan Silva dari Tidore, 25 Juni 1616, menegaskan hal yang sama: sang raja “bersiap menerima baptisan suci” (masih calon) dan meminta rohaniwan serta serdadu untuk pertahanan kerajaannya, permintaan yang belum dapat dipenuhi karena bantuan dari Manila belum tiba.[^12]

Jadi pada Juni 1616 Cachiltulo belum dibaptis, dan yang ia minta bukan hanya padri, melainkan juga serdadu.

September 1616: Surat Adiknya

Tiga bulan kemudian datang surat kedua dari Manado, tetapi bukan dari tangan raja. Surat itu bertarikh “De Manado 15 de setiembre de 1616″ dan ditandatangani “Don Enrique”. Penulisnya menyatakan bahwa kakaknya, sang raja, sedang pergi ke Cauripa untuk menjenguk vasal-vasalnya dan menyuruhnya menulis atas namanya.

Lalu ia menulis kalimat yang tak ada di surat mana pun sebelumnya: él es moro y yo christiano artinya sang raja Muslim, sedangkan ia sendiri Kristen. Sang raja sangat ingin menjadi Kristen dan orang Manado seluruhnya meminta padri serta pasukan garnisun untuk negeri itu, dengan tawaran bahwa dari sana wilayah Spanyol bisa dipasok bahan makanan yang berlimpah.[^13]

Alasan yang diberikan kali ini konkret. Orang Manado tidak mau lagi berdagang dengan orang Ternate dan Belanda, sebab ketika mereka menghancurkan Siau, mereka datang juga ke Manado dan membakar negeri itu. Sejak itu hilang kemauan baik terhadap mereka. Raja meminta peluru dan mesiu, Don Enrique meminta sebuah musket, karena semua senjatanya telah dirampas Belanda.[^13]

Surat ini mengubah gambaran tentang Cachiltulo pada tiga titik. Pertama, pada 1616 ia bukan penguasa “kafir” yang menunggu agama baru, melainkan seorang Muslim yang cocok dengan gelar Ternate yang ia pakai, dan cocok pula dengan laporan 1620 bahwa ia menikah lagi dengan perempuan Muslim.

Kedua, di dalam keluarga raja sudah ada seorang Kristen bernama baptis, Don Enrique, setahun sebelum misi Jesuit tiba; siapa yang membaptisnya dan kapan tidak disebut. Ketiga, bila “vasal-vasal di Cauripa” dibaca harfiah, raja Manado mempunyai bawahan di Kaidipang pada 1616 dan keterangan yang sejalan dengan kehadiran raja Cauripa, Banidaca, di Manado dua tahun sebelumnya, tetapi belum dapat dipastikan dari surat sesingkat ini.

Satu masalah harus dinyatakan terang. Kepala salinan yang dibubuhkan penyalin menyebut penulisnya “don Enrique, hermano del rey de Bool”, adik raja Bool dan bukan raja Manado. Isi suratnya menunjuk ke arah lain yaitu ditulis dari Manado, berbicara atas nama “los manados todos“, tentang negeri “kami” yang dibakar. Raja Bool pun sudah dibaptis sekitar 1607, sehingga sulit disebut Muslim yang ingin menjadi Kristen pada 1616.[^14]

Kemungkinan besar kepala salinan itulah yang keliru, tetapi selama naskah aslinya belum diperiksa, pembacaan surat ini sebagai surat keluarga raja Manado adalah simpulan dari isi, bukan dari bunyi kepalanya. Raja yang dimaksud juga tidak dinamai karena dikatakan bahwa ia Cachiltulo bersandar pada jarak tiga bulan dari surat Juni.

1617: Permintaan Ketiga dan Pembaptisan

Maestre de campo Lucas de Vergara Gabiria tiba di Ternate pada 26 April 1617. Menurut sertifikat Kapten Juan de Azevedo yang dibuat di Manila pada 12 Juli 1617, raja Manado memintanya secara langsung ketika Vergara melintasi pelabuhannya: ia ingin dikristenkan, dia dan seluruh rakyatnya. Vergara lalu mengirim dua padri Jesuit.[^15]

Itulah permintaan ketiga, sesudah surat Juni dan September 1616, dan karena sertifikat bertarikh Juli sudah menyebut pengiriman itu, keberangkatan misinya jatuh antara Mei dan Juni 1617.

Salah seorang Jesuit itu pasti Cosme Pinto; rekannya disebut Scalamonti dalam satu catatan penyunting dan Andrea Simi dalam catatan lain di jilid yang sama.[^16] Bersamaan dengan misi itu Vergara membangun sebuah benteng kecil di Manado dengan sepuluh serdadu, antara Mei dan September 1617. Permintaan Cachiltulo akan serdadu, bukan hanya padri, akhirnya dipenuhi.

Surat Andrea Simi dari Ternate, 12 Mei 1618, menyatakan raja Manado dibaptis pada 1617 oleh para Jesuit yang diutus Vergara.[^17] Surat tahunan Provinsi Cochin, 20 November 1619, mengulang kabar itu lewat laporan Scalamonti.[^18]

Satu hal harus dinyatakan: dokumen 1617–1619 menyebut “raja Manado” tanpa nama. Bahwa raja yang dibaptis pada 1617 adalah Cachiltulo merupakan simpulan dari kesinambungan permintaan 1616 dan pemenuhannya setahun kemudian. Kesimpulan yang kuat dan juga ditarik oleh Jacobs, tetapi tetap simpulan.[^19]

1620: Sesudah Baptisan

Tiga tahun kemudian nada laporannya berbalik. Visitator Manuel de Azevedo, menulis dari Ternate pada paruh kedua 1620, melaporkan bahwa di Manado baru lima puluh orang dibaptis dan mereka Kristen “hanya namanya”, masuk agama karena takut kepada orang Spanyol dan karena hadiah. Rajanya sendiri, katanya, menikah lagi dengan seorang perempuan Muslim dan meninggalkan istri Kristennya dan para padri diperlakukan buruk.

Orang Spanyol di sana tinggal tujuh atau delapan orang dan terus sakit kemudian Scalamonti wafat di Manado. Gubernur Luis de Bracamonte bertekad menarik semua orang Spanyol dan padri, menurut penyunting penarikan itu memang dilaksanakan.[^20]

Laporan ini perlu dibaca dengan rem. Azevedo tidak pernah ke Manado yakni ia menulis dari Ternate atas laporan orang lain dan klaimnya bahwa orang dibaptis tanpa pengajaran bertentangan dengan keterangan Scalamonti sendiri.

Penyunting juga mengakui tidak jelas berapa istri sang raja dan mana yang ratu. Raja 1620 pun tidak dinamai. Tetapi bila laporannya benar sebagian saja, persekutuan yang dicari Cachiltulo sejak 1616 hanya bertahan sekitar tiga tahun.

Satu Nama, Tiga Kemungkinan

Kaicili adalah gelar bangsawan dalam tradisi Ternate. Yang memakainya di Manado pada 1616 adalah penguasa yang dalam surat yang sama meminta serdadu Spanyol untuk melepaskan diri dari tekanan Ternate. Gelar itu menandai dari mana kosakata kekuasaan di pesisir ini berasal, sekaligus menandai ke arah mana politiknya bergerak.

Tetapi nama itu juga membuka soal yang belum terjawab dan dokumen yang ada belum memilih salah satu dari tiga kemungkinan.

Pertama, Tululio 1606 dan Cachiltulo 1616 adalah orang yang sama, yang pada 1616 menulis dengan gelar Ternate yang tidak dipakai Esquivel untuknya.

Kedua, kemiripan dengan Kaicil Tulo dari Ternate dirapikan oleh penyalin di Ternate atau Madrid yang lebih akrab dengan nama pangeran itu.

Ketiga, yang paling kecil kemungkinannya adalah Kaicil Tulo Ternate sendiri, sesudah masa tawanan, muncul sebagai penguasa Manado. Untuk itu belum ada satu dokumen pun dan upaya memulangkan para tawanan Ternate dari Manila pada 1611 diketahui gagal.

Kemungkinan pertama punya pembanding yang bisa diperiksa. Pada 1563 seorang Cachil Guzarate sudah bekerja di Bolaang, tetangga Manado,[^21] dan pada 1675 utusan Tontoli ke benteng Belanda di Manado masih bergelar Kaitsjili Coloja.[^23]

Pada September 1616 raja Tidore sendiri menutup suratnya kepada Silva dengan tanda tangan Cachilmole,[^22] jadi gelar itu lazim dipakai para penguasa dalam surat resmi mereka. Gelar Kaicili hidup di pesisir utara Sulawesi selama lebih dari seabad, dan dipakai bangsawan setempat, bukan hanya orang Ternate.

Batasan Dokumen

Nama sezaman yang ada hanyalah Tululio (1606) dan Cachiltulo (1616). Penyamaan keduanya adalah identifikasi penyunting, bukan pernyataan dokumen. Keduanya tidak berbentuk Minahasa. Kaitan dengan nama Tololiu yang beredar kemudian dalam silsilah dan tradisi lisan adalah persoalan tersendiri yang harus diargumentasikan, bukan diandaikan.

Agama Cachiltulo sebelum 1617 hanya diketahui dari satu kalimat adiknya, dalam surat yang kepala salinannya menyebut raja Bool. Nama baptis raja yang dibaptis pada 1617 tidak diketahui.

Seorang raja Manado bernama Dom Fernando baru muncul dalam surat tahunan 1645, dua puluh delapan tahun kemudian itu bisa orang yang sama di usia tua, bisa penerusnya dan nama itu tidak boleh dipindahkan ke Cachiltulo.[^24]

Tarikh naik takhta, asal-usul dan akhir hayat Cachiltulo tidak tercatat dalam korpus mana pun yang diperiksa.

Rantai transmisi tiap keping juga sebaiknya diingat saat mengutipnya. Dokumen 1606 sampai kepada kita lewat transkripsi Pablo Pastells sekitar 1902 atas berkas Archivo General de Indias, lalu masuk ke literatur berbahasa Belanda dan Indonesia lewat satu catatan kaki Van Aernsbergen tahun 1925.[^25]

Berkas Silva dicetak pada 1868 dari sebuah salinan sezaman milik Martín Fernández de Navarrete dan tiap suratnya berkepala Tanto de carta yang artinya salinan, bukan naskah asli. Surat-surat Jesuit 1617–1620 sampai lewat edisi kritis Hubert Jacobs (1984).

Catatan Kaki

[^1]: Surat Baltasar Dias, Malaka, 19 November 1556, dalam Hubert Jacobs SJ (ed.), Documenta Malucensia I (1542–1577), Roma: Institutum Historicum Societatis Iesu, 1974, D 63, hlm. 202; baptisan 1563: D 125 §6, dan Artur Basílio de Sá (ed.), Documentação para a História das Missões do Padroado Português do Oriente: Insulíndia, vol. III, Lisboa: Agência Geral do Ultramar, 1955, dok. 8, hlm. 64–73.

[^2]: Catatan harian pengepungan Ternate 1585, dalam Francisco Colín SJ, Labor evangélica, ed. Pablo Pastells SJ, jilid III, Barcelona: Henrich y Compañía, 1900–1903, hlm. 39–40 (A. de I. 1—2—1/13, R.º 20).

[^3]: Surat Juan de Esquivel, 9 April 1606, Colín–Pastells III, hlm. 48; bastion yang sama dalam sertifikat Pedro de Acuña untuk Azcueta, hlm. 320 (A. de I. 67-6-36).

[^4]: Colín–Pastells III, hlm. 55 (daftar tawanan ke Manila; R.º 4); lihat juga capitulaciones 10 April 1606, hlm. 49. Menurut Jacobs, nama seorang pangeran lain hilang dalam pencetakan tepat sebelum “Cachil Tulo” di hlm. 55: Hubert Jacobs SJ (ed.), Documenta Malucensia III (1606–1682), Roma: Jesuit Historical Institute, 1984, hlm. 6 catatan 22.

[^5]: Andrea Simi kepada Vitelleschi, Ternate, 28 Maret 1629, Documenta Malucensia III, D 140, hlm. 469–471, catatan 11 dan 13; indeks jilid yang sama, hlm. 775.

[^6]: “Copia de la carta que scriuio el Maestre de Campo á los rreyes de Bool Don Miguel rrey de Tontoli Tululio rrey de Menado rrey de Bulan y Dongue Reyna de Cauripa á cada uno de por si en ventiseis de Julio de mil seiscientos seis”, dalam Relación keadaan Maluku 3 Mei 1606 – 31 Maret 1607 masa pemerintahan Juan de Esquivel, §15, Colín–Pastells III, hlm. 63–64 (A. de I. 1—2—1/14, R.º 21).

[^7]: Colín–Pastells III, hlm. 64, §16.

[^8]: Colín–Pastells III, hlm. 63–64, §15–16.

[^9]: Colín–Pastells III, hlm. 64, §17–24 (Don Miguel Pololibuta, Bool, 10 Oktober 1606; Ratu Dongue, Cauripa, 1 November 1606).

[^10]: Surat Don Gerónimo de Silva kepada Don Juan de Silva, 3 Juli 1614, dalam Correspondencia de don Gerónimo de Silva con Felipe III, D. Juan de Silva, el Rey de Tidore y otros personajes, desde abril de 1612 hasta febrero de 1617, sobre el estado de las Islas Molucas, Colección de documentos inéditos para la historia de España (CODOIN), tomo LII, Madrid: Imprenta de la Viuda de Calero, 1868, hlm. 222–223.

[^11]: “Tanto de carta quel Cachiltulo, rey de Manados, escribió á el gobernador don Gerónimo de Silva en 21 de junio de 1616”, CODOIN LII, hlm. 372.

[^12]: Balasan Don Gerónimo de Silva, Tidore, 25 Juni 1616, CODOIN LII, hlm. 372–373. Pada sebagian pindaian angka halaman 373 terbaca “573”; urutan citra memastikan 373.

[^13]: “Tanto de carta que don Enrique, hermano del rey de Bool, escribió á el señor gobernador don Gerónimo de Silva en 15 de setiembre de 1616”, CODOIN LII, hlm. 396–397, ditutup “De Manado 15 de setiembre de 1616.—Este criado de V. S. Don Enrique”. Kepala salinan tercetak “dey de Bool”, salah cetak untuk rey. Angka halaman 397 tercetak dengan glif 3 yang terbaca seperti 5; urutan 396–397–398 memastikannya.

[^14]: Luís Fernandes SJ kepada Jenderal Acquaviva, Ternate, 31 Maret 1607, Documenta Malucensia III, D 16 §15–16, hlm. 66–67.

[^15]: Sertifikat Kapten Juan de Azevedo, Manila, 12 Juli 1617, Documenta Malucensia III, D 95, hlm. 350 (AGI Filipinas 80). Kesaksian ini sebelumnya dikenal lewat Colín–Pastells III, hlm. 572 catatan, dan J. Th. van Aernsbergen SJ, “Chronologisch overzicht van de werkzaamheden der Jezuieten in de Molukken”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 81 (1925), hlm. 18.

[^16]: Kedatangan Vergara Gabiria: Documenta Malucensia III, hlm. 363 catatan 2 (merujuk Lorenzo Pérez, Archivum Franciscanum Historicum VII, 428). Pasangan padri: hlm. 346 catatan 2 (Scalamonti dan Pinto) berbanding hlm. 363 catatan 3 (Simi dan Pinto).

[^17]: Andrea Simi SJ, Ternate, 12 Mei 1618, Documenta Malucensia III, D 102 §2.

[^18]: Surat tahunan Provinsi Cochin, 20 November 1619, Documenta Malucensia III, D 114 §5. Van Aernsbergen 1925, hlm. 20, merujuk keterangan yang sama sebagai surat tahunan Malabar bertarikh 1 Desember 1619; selisih tarikhnya belum diperiksa.

[^19]: Documenta Malucensia III, hlm. 346 catatan 2, hlm. 363 catatan 4, dan hlm. 396 catatan 2, yang menautkan raja Manado 1617 dengan surat Cachiltulo di CODOIN LII, hlm. 372.

[^20]: Manuel de Azevedo SJ kepada André Palmeiro, Ternate, paruh kedua 1620, Documenta Malucensia III, D 122, hlm. 430–431, dengan catatan 3, 4, dan 6 (penarikan: Pérez VII, 623).

[^21]: Documenta Malucensia I, D 125 §7; Sá, Insulíndia III, dok. 8, hlm. 67.

[^22]: Surat raja Tidore kepada Don Gerónimo de Silva, Tidore, 20 September 1616, CODOIN LII, hlm. 397–398.

[^23]: François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, ed. S. Keijzer, Eerste Deel, edisi kedua, Amsterdam: Wed. J. C. van Kesteren & Zoon, 1862, hlm. 565.

[^24]: Surat tahunan 1645, Documenta Malucensia III, hlm. 549. Indeks Jacobs menaruhnya di bawah lema “Manado” tanpa menyatakan identitasnya dengan raja 1617.

[^25]: Van Aernsbergen 1925, hlm. 17 catatan 2, merujuk Colín–Pastells III, hlm. 61–74.

Editor: Alfa Leo

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Foto Tropisch Nederland, 13-06-1938 (Engel yong)

    Kawangkoan: Dari Walak Tontemboan Menjadi Pusat Pertumbuhan Minahasa

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Di jantung dataran tinggi Minahasa, berdiri sebuah kawasan yang sejak berabad-abad lalu memainkan peran penting dalam denyut kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakatnya. Nama tempat itu adalah Kawangkoan, wilayah yang dalam perjalanan sejarah tidak hanya berkembang sebagai pemukiman agraris, tetapi juga menjelma menjadi pusat perdagangan, pendidikan, dan administrasi di Minahasa bagian selatan. Transformasi tersebut berlangsung […]

  • Ilustrasi pengejaran perompak oleh kapal uap pemerintah Hindia Belanda di perairan Sulawesi pada abad ke-19.

    Di Antara Letusan Awu dan Perompak: Laut Manado pada 1856

    • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Malam 2 Maret 1856, kapal pemerintah Samarang sedang pulang dari pelayaran ke Kwandang. Di perairan Bolaang Mongondow, awaknya mendengar bunyi seperti tembakan meriam berat. Bunyinya cukup jelas sampai kapal membelokkan haluan ke arah datangnya bunyi.[1] Laporan itu tidak menyebut apa yang disangka awak kapal. Kini kita tahu bunyi itu berasal dari Gunung Awu di Sangihe […]

  • Fray Blas Palomino bersama rombongan Fransiskan dan serdadu Spanyol di tepi Danau Tondano, sekitar 1619.(Ilustrasi)

    Pintu yang Tertutup: Ketika Pedalaman Minahasa Menolak Misionaris Spanyol 1619

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Pada 8 Juni 1619, seorang Fransiskan berusia sekitar lima puluh tahun duduk di benteng kecil Spanyol di tepi pantai Manado dan menulis laporan untuk atasannya di Manila. Namanya Blas Palomino. Selama kurang lebih dua bulan ia keluar-masuk negeri-negeri di pegunungan pedalaman ujung utara pulau Sulawesi. Mencoba mendapat izin tinggal di sana namun gagal dan laporannya […]

  • Pesona

    Pesona Indo Beach Lalumpe, Surga Tersembunyi di Sulut

    • calendar_month Kamis, 31 Jul 2025
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Indo Beach Lalumpe: Destinasi Anti-Mainstream yang Bikin Betah! Kalau kamu bosan dengan tempat wisata yang itu-itu saja, berarti kamu wajib banget cobain main ke Pantai Indo Beach Lalumpe! Terletak di Desa Lalumpe, Sulawesi Utara, pantai ini adalah surga kecil yang belum banyak di jamah wisatawan. Cocok banget buat kamu yang pengen healing atau cari spot […]

  • Putra mahkota belajar di rumah ordo Jesuit (ilustrasi)

    Dari Siau ke Manado: Jejak Anak-Anak Raja dalam Arsip Jesuit

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Pada Juli 1563 seorang padri Jesuit bernama Diogo de Magalhães menulis surat dari Manado. Ia baru saja membaptis raja negeri itu bersama seribu lima ratus orang dalam lima belas hari, dan ia menyebut Manado “kepala utama seluruh Celebes“.[^1] Dalam surat yang sama ia mencatat sesuatu yang mudah terlewat, di Manado itu pula ia menemukan raja […]

  • Wisata God Bless Minahasa

    Wisata God Bless Minahasa, Ikon Baru wisata di Sulawesi Utara

    • calendar_month Kamis, 10 Jul 2025
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Destinasi Baru yang Menarik di Minahasa   Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara secara resmi membuka Taman Wisata God Bless Minahasa pada 19 Maret 2024 melalui acara soft-opening yang dipimpin langsung oleh Gubernur. Pemerintah menempatkan taman ini di Lapangan Dr. Sam Ratulangi, Tondano, sebagai bagian dari proyek revitalisasi kawasan Danau Tondano. Oleh karena itu, taman ini tidak […]

expand_less