Bantik dalam Arsip: Riwayat yang Dapat Diperiksa, 1675–1910
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- visibility 84
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto pria Bantik sekitar tahun 1880 (repro KITLV)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Menulis sejarah orang Bantik menghadapi satu kesulitan yang jarang diakui: bahan tertulis tentang mereka sedikit, terpencar, dan hampir seluruhnya dibuat oleh orang lain. Selama lebih dari dua abad, sejak nama itu pertama kali masuk arsip sampai awal abad ke-20, Bantik selalu muncul sebagai objek keterangan, dilihat dari benteng, dari kapal, dari meja residen, dari daftar suku yang disusun orang Tombulu dan Tontemboan.
Baru pada 1902 seorang Bantik menulis tentang Bantik, dan bahkan naskah itu pun, seperti akan terlihat nanti, disusun di atas kerangka yang bukan miliknya.
Tulisan ini tidak berusaha menutup kekosongan itu dengan cerita. Yang dikerjakan sebaliknya: menyusun apa saja yang benar-benar dapat dibaca dari dokumen sezaman, dan menyatakan dengan jelas di mana dokumennya berhenti.
Yang Tidak Dapat Dikatakan
Tidak ada dokumen yang diketahui menyebut Bantik sebelum tahun 1675. Korpus surat misi Iberia abad ke-16 dan ke-17 untuk kawasan ini berbicara panjang tentang Manado, Siau, Kaidipang, Bolaang, dan Sangihe, tetapi sejauh pemeriksaan yang sudah dilakukan tidak menyebut Bantik.[^1]
Ini bukan bukti bahwa mereka belum ada di situ, ketiadaan dalam satu korpus hanya berarti korpus itu tidak melihat ke arah sana melainkan penanda bahwa segala cerita asal-usul yang beredar hari ini tidak punya sandaran dokumen sezaman.
Seorang pengunjung dari kalangan zending mencatat bahwa di satu distrik penduduk harus menjalani 190 hari kerja rodi, kerja negeri, dan kerja tanaman sepanjang tahun 1890 saja; bahwa pajak kepala (hasil) baru dinaikkan tajam; dan bahwa yang berangkat ke Buitenzorg untuk mengadu kepada Gubernur Jenderal serta menuntut penyelidikan tak berpihak adalah kepala Distrik Sonder.
Pengaduan itu berbuah penyelidikan Ds. Wielandt yang laporannya tak pernah diterbitkan, pengiriman Gallois sebagai komisaris pemerintah, dan akhirnya mosi Tweede Kamer untuk menghapus monopoli kopi.[^2]
Sonder, bukan Bantik. Besar kemungkinan klaim yang beredar itu adalah kisah Minahasa umum yang berpindah alamat.
1675: Nama Yang Masuk Arsip
Penyebutan tertulis paling awal yang dapat diperiksa berasal dari laporan visitasi gereja dan sekolah yang disusun pendeta Jacobus Montanus dan bertarikh Ternate, 17 November 1675.
Montanus datang ke Manado, tinggal lima belas hari, berkhotbah enam kali, membaptis enam belas anak. Ia mencatat bahwa lebih dari separuh penduduk Negeri Manado sudah memeluk Kristen sejak beberapa waktu. Lalu, dengan nada yang jelas berbeda, ia beralih ke sekelilingnya. Tiga negeri di sekitar Fort Amsterdam ia sebut namanya — “Aris, Bantik, en Clabbat” — dan penduduknya, tulisnya, masih memeluk “Alfoerize Duivels-diensten“; sebagian di antara mereka tidak pernah menerima lebih daripada percikan air baptis dari seorang awam atau pastor Spanyol.[^3]
Dua hal patut dicatat dari kalimat pendek itu. Pertama, pada 1675 Bantik sudah merupakan satuan yang bernama dan berbatas, sejajar dengan Ares dan Klabat, cukup dikenal sehingga tak perlu dijelaskan kepada pembaca di Ternate. Kedua, letaknya sudah persis seperti kemudian: di lingkaran luar Manado, dekat benteng tetapi bukan bagian dari negeri raja.
1677: Bantik Sebagai Kekuatan Yang Berperang
Dua tahun kemudian arsipnya jauh lebih terang. Gubernur Maluku Robertus Padtbrugge melakukan perjalanan ke Sulawesi Utara dari Agustus sampai Desember 1677, dan jurnal perjalanannya dicatat hari demi hari.
Pada entri Sabtu 4 September 1677, beberapa kepala desa dari Ares, Klabat, dan “Manado Bantik” menghadap. Padtbrugge mencatat, dengan sinis, bahwa semangat mereka baru muncul setelah dijamu arak secukupnya. Yang mereka minta adalah izin menyerang kembali negeri Datan, Tonsahan, dan Poeloesaccan — sebab, kata mereka, Sala mereka belum dipenuhi.[^4]
Sala di sini bukan istilah keagamaan. Jurnal itu sendiri memberi artinya di halaman lain: ganti rugi.[^5]
Yang membuat Padtbrugge menolak bukan kekerasannya, melainkan bentuk pembayarannya. Ia menulis bahwa perkara itu tidak diselesaikan dengan penggantian barang-barang kecil bernilai rendah, sebagaimana disangka atasannya selama ini, melainkan dengan penyembelihan seorang perempuan tua.
Ia menyebut cara itu lazim pada mereka, dan menambahkan keberatannya bahwa kebiasaan semacam itu belum juga hilang setelah sekian lama Spanyol berkuasa di situ.
Penting membaca teks ini persis sebagaimana bunyinya. Padtbrugge menolak memberi izin menyerang; ia tidak menulis bahwa ia melarang ritualnya. Pada 15 Oktober ia baru mencatat bahwa orang-orang Alfur di pihaknya hendak mengambil paksa dengan senjata apa yang tertunggak dari perkara Sala itu, dan bahwa ia bukan hanya menghalangi niat tersebut tetapi juga sudah mengusahakan jalan keluarnya.[^6]
Sisi lain hari itu tak kalah menarik dan biasanya terlewat: sesudah urusan Sala, sisa audiensi justru berisi tawar-menawar balok kayu dan rotan, dan para kepala pulang tanpa memberi jawaban.
Mengapa Bantik Berdiri Sendiri: Bukti Bahasa
Penyunting jurnal Padtbrugge, P. A. Leupe, menambahkan catatan kaki yang di kemudian hari ternyata sangat berharga. Menerangkan ketiga negeri lawan Bantik pada peristiwa 1677 — Ratahan, Tonsawang, dan Ponosakan — ia mencatat bahwa bahasa mereka menyerupai bahasa Bantik dan berbeda dari sisa Minahasa.[^7]
Pengamatan seorang penyunting abad ke-19 itu bertahan di hadapan linguistik modern. Bantik tergolong rumpun Sangirik, bukan Minahasa; kerabat terdekatnya ada di cabang Sangirik Selatan bersama Ratahan. Ia dituturkan di sekitar sepuluh desa yang mengelilingi Manado, dari Talawaan di utara sampai Sea (laut) di selatan, dan hanya berbagi 38 persen kosakata dengan Tombulu — skor tertinggi antara bahasa Sangirik mana pun dan bahasa Minahasa mana pun, tetapi tetap jauh di bawah ambang kekerabatan.[^8]
Bukti leksikal yang lebih tak terduga muncul dari dokumen yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk itu, dan akan dibicarakan di bagian tentang tahun 1902.
1764: Bantik Dalam Politik Walak
Untuk abad ke-18, satu peristiwa dapat dilacak. Menurut berkas Kompeni yang disalin E. C. Godée Molsbergen, pada 1764 seorang hukum orang Bantik bernama Mandagie ditangkap Residen Seidelman dan dikirim ke Batavia dengan kapal Enkhuizen, tetapi lolos di Selat Buton. Tahun itu juga Bantik didamaikan dengan Tateli, Lotta, dan Kakaskasen, lalu bersama Tonsea berhadapan dengan Klabat, Ares, dan negeri Kristen baru.[^9]
Yang terbaca di sini bukan sebuah suku terpencil, melainkan pemain dalam persekutuan yang bergeser-geser: pada 1677 Bantik berdiri bersama Ares dan Klabat, pada 1764 berhadapan dengan keduanya. Nama Mandagie akan kembali seratus tiga puluh delapan tahun kemudian dalam keadaan yang terbalik sama sekali, tetapi kesamaan marga bukan bukti kekerabatan, dan pertautan itu belum dapat dibuktikan.
1874: Angka Dari Luar
Untuk sebagian besar abad ke-19, keterangan kuantitatif tentang Bantik hanya tersedia lewat perantara, dan itu harus dinyatakan setiap kali dipakai.
Survei kependudukan yang dijalankan A. C. J. Edeling pada 1874, yang berkasnya tersimpan di Nationaal Archief dan sejauh ini baru terbaca melalui lampiran kajian Henley, menempatkan Distrik Bantik pada angka kematian anak tertinggi di seluruh Minahasa: 43,20 persen, di atas Ponosakan dan Tombariri, sementara rata-rata Minahasa 31,72 persen. Dari 1.152 rumah tangga, rata-rata 2,64 anak pernah lahir dan 1,50 anak masih hidup per rumah tangga, terhadap rata-rata Minahasa 4,18 dan 2,82. Hampir tiga dari sepuluh perkawinan tidak berketurunan.[^10]
Angka-angka ini bukan hiasan. Duapuluh delapan tahun kemudian, seorang Bantik akan menuliskan gejala yang sama dari dalam dan menjelaskan sebabnya sendiri.
1885: Suku Yang Tidak Ikut
Pada Agustus 1885, zendeling M. H. Schippers menulis dari Maumbi sebuah tulisan tentang orang Bantik, dan ia menulisnya untuk menjelaskan sebuah kegagalan: mengapa mereka tidak mau dibaptis. Sementara penduduk Minahasa sebagian besar sudah dikristenkan, katanya, suku Bantik sampai saat itu merupakan pengecualian sebagaimana mereka berbeda pula dalam adat perkawinan dan berbicara bahasa yang jauh menyimpang.
Ia menambahkan keterangan yang tidak ada di tempat lain: walau negeri-negeri mereka tak bersekolah kecuali di ibukota distrik, sebagian besar orang Bantik, perempuan maupun laki-laki, berbahasa Melayu cukup baik; mereka memasok pasar pribumi dengan tembakau dan merupakan pembuat periuk yang sangat baik.[^11]
Yang paling tidak lazim adalah penilaiannya. Schippers menolak menyebut sikap itu kekeraskepalaan; ia menulis bahwa keengganan mereka justru bukti ada lebih banyak karakter pada mereka daripada pada anggota kebanyakan suku lain.[^12]
Ia punya alasan untuk berhati-hati: di distriknya sendiri, Maumbi, kepala distrik pernah memutuskan bahwa rakyatnya akan memeluk Kristen, dan dalam waktu singkat seluruh distrik dibaptis massal.
Dua kunjungannya ke Bantik memperlihatkan bagaimana penolakan itu bekerja. Di Bengkol, 3 Agustus 1884, dari sekian banyak yang mendaftar hanya tujuh orang dapat ditemukan, semuanya pemegang jabatan: hukum tua, juru tulis negeri, para kepala jaga. Yang lain sudah mengatur diri agar tidak ditemukan.
Di Talawaan, 7 September, hukum tua menyambutnya dengan pertanyaan apakah ia harus dibaptis; ia menolak memintanya, dan berkata kalau memang harus, ia akan tunduk saja supaya tidak mendapat kesulitan. Ketika Schippers menjawab tidak ada soal “harus”, wajahnya berseri, dan ia mengaku masih terikat sepenuh hati pada adat leluhurnya.[^13]
Satu istilah dari kunjungan itu layak dicatat. Penduduk menyebut kekristenan sebagai “agama Pemerintah Belanda”, dan Schippers merasa perlu meluruskan bahwa mereka tidak wajib memeluknya sebagaimana mereka wajib berodi dan menanam kopi.[^14]
Itulah keterangan sezaman paling tajam tentang bagaimana agama baru itu dipahami di Bantik: sebagai kewajiban ketiga, sebaris dengan rodi dan kopi.
Beberapa keterangan lain dari karangan yang sama: ibukota Distrik Bantik bernama Singkil dan memiliki sekolah gubernemen yang digolongkan di antara yang terbaik di Minahasa; di seluruh Bantik tidak ada seorang pun penganut Katolik; dan kecuali di ibukota, belum seorang perempuan atau gadis pun dibaptis.[^15]
1896: Digolongkan Bukan Minahasa
Pada 29 Juni 1895 Residen Menado, E. J. J. Jellesma, menunjuk sebuah komisi orang-orang pribumi terpandang untuk memberikan hukum adat yang berlaku di Minahasa. Komisi itu merampungkan kerjanya pada 25 Januari 1896.[^16]
Di halaman pertama laporan itu, penduduk asli Minahasa dibagi atas tujuh stam, dengan To-Bantik sebagai huruf e. Lalu, di halaman berikutnya, menyusul satu kalimat yang menentukan: tiga suku yang terakhir disebut — Bantik, Tonsawang, dan Pasan-Ratahan-Ponosakan — pada umumnya tidak dianggap oleh suku-suku lain sebagai termasuk ke dalam bangsa Minahasa.[^17]
Kalimat ini sering dikutip, dan hampir selalu dikutip keliru, seolah-olah merupakan pengakuan Bantik atas dirinya sendiri. Bukan. Ketiga anggota komisi seluruhnya Tombulu dan Tontemboan; dan dalam daftar empat belas kepala distrik yang menanggapi laporan itu, tidak ada kepala Distrik Bantik.[^18]
Yang direkam dokumen 1896 adalah penggolongan yang dibuat tetangga-tetangganya, dalam sebuah rapat yang tidak dihadiri Bantik. Bahwa penggolongan itu kebetulan sejalan dengan bukti bahasa tidak mengubah asal-usulnya.
1902: Bantik Menulis, Dalam Kerangka Orang Lain
Antara 1900 dan 1902 pemerintah kolonial mengumpulkan tulisan dan nasihat dari para kepala pribumi Minahasa. Dari program itu lahir dua naskah karya P. A. Mandagi, hukum tua (kepala negeri) Malalayang, Distrik Bantik — satu tentang penguasaan tanah, satu tentang perkawinan, kekerabatan, dan waris.[^19]
Naskah tanah memuat perincian yang tak ada di tempat lain. Tanah Bantik dibagi dua kelompok besar: yang belum pernah dibuka dan bertutup hutan berat (hagoedangan), yang sejak domeinverklaring jatuh menjadi tanah negara; dan yang pernah dibuka (sasanghoiang), dipilah lagi menurut lama diberakan — sanghoï, hahata boehoe, hahata hahangang, kahajoeang. Tanah perorangan disebut tana pasini, tanah keluarga tanan tahana, warisan boendoe.[^20]
Dua bagian menonjol karena tidak mungkin datang dari mana pun selain dari dalam. Yang pertama adalah kisah tanah luas di tenggara Malalayang, yang dahulu diserahkan penduduk ke dalam perlindungan kepala distrik pertama Bantik, lalu diakui sebagai miliknya lewat pernyataan “sukarela” yang ditandatangani di bawah pengaruh jabatannya.
Ketika jandanya hendak menjualnya, penduduk melawan. Mandagi menutup bagian itu dengan kalimat yang sengaja dingin: bahwa penduduk benar, akan disetujui siapa pun yang mengetahui hubungan rakyat Bantik dengan para kepalanya.[^21]
Seorang kepala negeri, dalam terbitan resmi pemerintah, memihak rakyatnya melawan atasannya.
Yang kedua menyentuh soal permukiman lama. Mandagi mencatat tanah distrik di Goenoeng Bantik, di perbatasan Bantik dan Kakaskasen, serta di bukit Boekidi dekat Talawaan Bantik, dan menyebut keduanya sebagai bekas letak negeri-negeri lama yang didirikan para leluhur bersama.[^22]
Ini satu-satunya keterangan tentang permukiman awal Bantik yang berasal dari sumber Bantik dan tercetak dalam terbitan yang dapat diperiksa. Ia tidak memberi tarikh dan tidak boleh dipaksa memberi tarikh, tetapi ia memberi tempat.
Naskah keduanya menyusun sendiri rantai sebab bagi angka-angka Edeling: mas kawin yang besar menimbulkan utang; menantu menjalani setahun angkoemang di rumah mertua; tekanan mertua yang berkepentingan menarik mas kawin baru mendorong perceraian; sesudah cerai banyak laki-laki membujang lama. Ditambah satu norma yang belum ditemukan padanannya dalam sumber Minahasa lain: orang Bantik malu memperanakkan anak dari umur empat puluh lima ke atas. Kesimpulannya ia tulis sebagai pertanyaan retoris — bahwa hampir tiap tahun lebih banyak yang mati daripada yang lahir.[^23]
Dan di sini kejujuran menuntut satu tambahan yang tidak menyenangkan.
Naskah tanah Mandagi disusun di atas kerangka karangan G. A. Wilken, ketika itu kontrolir di Ratahan, yang terbit hampir tiga puluh tahun sebelumnya.[^24]
Pembagian dua kelompok besar, keempat subkategori beserta rentang tahunnya, rumusan tentang hak turun-temurun anggota distrik, dan kalimat tentang bagaimana tanah keluarga terbentuk ketika kehidupan kekeluargaan masih penuh tenaga — semuanya berpindah nyaris kata demi kata. Yang diganti hanya istilahnya: di tempat Wilken menulis poesaka, Mandagi menulis boendoe noe gagoedang.
Temuan ini melemahkan sebagian naskah dan justru menguatkan sebagian yang lain. Bagian yang menyalin harus dibaca sebagai skema kolonial, bukan adat Bantik.
Sebaliknya, semua yang tidak ada pada Wilken — kisah Malalayang, negeri lama di Goenoeng Bantik dan Boekidi, seluruh perbendaharaan kata Bantik, rantai sebab demografis — berdiri makin kokoh sebagai kesaksian, karena tak mungkin dipinjam.
Ada pula hasil sampingan yang tidak disangka. Karena kedua naskah menyebut enam kategori tanah yang sama persis, istilahnya dapat dijajarkan. Wilken mencatat talun, uma, rekat, sawukaw, kakaian; Mandagi mencatat hagoedangan, sanghoï, hahata boehoe, hahata hahangang, kahajoeang. Enam kategori, nol kata sekerabat. Sebuah daftar istilah agraria yang dikumpulkan untuk keperluan kodifikasi hukum tanah, tanpa niat apa pun ke arah itu, menjadi bukti bahwa Bantik memang bukan bahasa Minahasa persis seperti yang dicatat Leupe pada 1867.
1907: Yang Terlihat Dari Dekat
Laporan terakhir yang dapat diperiksa untuk kurun ini datang dari J. G. de Haan, zendeling di Taratara. Ia membuka dengan keterangan administratif yang tak ada di tempat lain: Distrik Bantik terbelah dua oleh ibukota Manado, tempat penduduk yang sama sekali berlainan tinggal.
Bagian selatan yang lebih kecil, terdiri atas dua negeri — Malalayang, 6 km dari Manado, dan Kalasey, 12 km — termasuk wilayah kerjanya; bagian utara tidak ia kenal.[^25]
Sebuah distrik yang terpotong oleh ibukota karesidenan menjelaskan banyak hal, termasuk mengapa keterangan tentang Bantik selalu datang sepotong-sepotong.
Bagian paling berharga menyangkut perkawinan. Menurut “keabsahan” yang berlaku — pertunangan di hadapan Kontrolir dan peneguhan oleh pemuka agama — hampir tidak ada orang Bantik yang menikah. Yang menikah begitu, tulisnya, hanya empat orang: hukum tua, penolong injil, hukum kedua, dan seorang bekas hukum tua.
Alasannya ia catat sebagai alasan perempuan: laki-laki sebenarnya mau saja menikah secara sah, tetapi perempuan tidak berminat, sebab sekarang merekalah yang berkuasa di rumah — kalau dinikahkan di hadapan Kontrolir, hilanglah kuasa itu dan laki-laki yang jadi tuan.[^26]
Ini keterangan langka dalam seluruh berkas: sebuah penolakan terhadap pranata kolonial yang alasannya dinyatakan, dan alasan itu menyangkut kuasa di dalam rumah tangga.
Ia juga menempatkan angka Mandagi dalam terang lain — apa yang dari luar tampak sebagai kerapuhan perkawinan, dari dalam merupakan susunan yang dipertahankan oleh pihak yang diuntungkannya.
De Haan juga menguatkan Mandagi pada dua titik dari sumber yang sepenuhnya merdeka: perkawinan Bantik berlangsung dengan mas kawin dan dengan syarat suami menjadi hamba setahun di rumah mertuanya, dan perceraian mudah terjadi. Tetapi ia menambahkan satu hal yang tidak ada pada Mandagi: selama pasangan belum bercerai menurut cara mereka sendiri, kesetiaan suami-istri di Bantik hampir tak bercela, dan menurutnya lebih baik daripada di suku-suku Minahasa lain yang sudah menikah secara sah.[^27]
Pemerian paling terperinci tentang praktik keagamaan Bantik juga ada di sini. Sebagian besar makam di Malalayang beratap daun kering di atas tiang bambu, sehingga pekuburan tampak seperti kampung mungil berisi pondok kecil.
Menjelang malam dinyalakan lampu dan api tungku; di bawah atap itu terdapat ranjang berkelambu, kasur dan bantal, meja lengkap dengan piring dan kendi, serta batu tungku dan periuk di tanah — sebab arwah yang berkeliaran harus dapat melihat, memasak, dan makan. Namun menurut orang Bantik sendiri, catat De Haan, arwah itu pergi kepada Tuhan Allah. Ketika ia bertanya mengapa lampu itu dinyalakan, jawabannya: itu adat di kampung ini.[^28]
Pada 24 Juli 1906 ditahbiskan gereja kayu baru di Malalayang dan diteguhkan guru baru, Pieter Loeměntoet. Hadir Hukum Besar Pertama Bantik beserta keluarganya dan para hukum tua negeri-negeri Bantik.[^29]
Satu rambu perlu ditambahkan. De Haan melukiskan orang Bantik sebagai bertubuh sangat langsing dan anggun dalam gerak; Schippers, dua puluh satu tahun sebelumnya, menulis mereka jauh lebih kekar daripada suku-suku lain.[^30]
Pemerian jasmani dalam sumber-sumber ini adalah kesan, bukan pengukuran, dan sebaiknya tidak dipindahkan ke dalam tulisan sejarah sebagai data.
Yang Masih Gelap
Pada 1910, ketika kedua naskah Mandagi diterbitkan, Distrik Bantik masih ada, ia menulis tentangnya dengan kata kerja masa kini, sementara pada terbitan yang sama Distrik Ares sudah disebut sebagai bekas distrik.[^31]
Kapan persisnya Distrik Bantik ikut dihapus belum dapat ditegakkan dari sumber yang dapat diperiksa, dan tarikh yang beredar di tulisan populer sebaiknya tidak dikutip sampai nomor Staatsblad atau Regeeringsalmanak-nya sendiri terbaca.
Dua berkas lain masih terbuka. Berkas asli survei Edeling di Nationaal Archief belum dibaca langsung. Dan nama para kepala Distrik Bantik tetap luput: Schippers tidak menyebut nama kepala distrik yang sudah Kristen pada 1885, dan De Haan hanya menyebut jabatannya tanpa nama. Sesudah Mandagie tahun 1764, tidak satu pun kepala Bantik disebut namanya dalam seluruh sumber yang sudah diperiksa.
Seluruh periode sebelum 1675 pun tetap kosong. Sejarah yang hanya bisa dibuktikan sepanjang dua ratus tiga puluh lima tahun tetap lebih berharga daripada seribu tahun yang tak dapat diperiksa satu kalimat pun.
Catatan
[^1]: Keadaan pemeriksaan, bukan bukti negatif yang tuntas: penyapuan yang sudah dilakukan atas korpus surat misi Iberia untuk kawasan ini belum menemukan penyebutan Bantik. Pemeriksaan lema demi lema pada indeks masing-masing jilid masih perlu dilakukan.
[^2]: A. Bierens de Haan, “De Minahasa”, Nederlandsch Zendingstijdschrift, cetak-lepas 15 hlm., bertarikh November 1892; hlm. 8, 9, 10, dan 15. Karangan ini tidak menyebut Bantik sama sekali. Jangan dikelirukan dengan J. G. de Haan (catatan 25).
[^3]: François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, ed. S. Keijzer, Eerste Deel, cetakan kedua (Amsterdam: Wed. J. C. van Kesteren & Zoon, 1862), hlm. 565. Laporan visitasi ds. Jacobus Montanus, bertarikh Ternate 17 November 1675.
[^4]: Het journaal van Padtbrugge’s reis naar Noord-Celebes en de Noordereilanden, ed. P. A. Leupe, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde deel XIV (1867), hlm. 118–119. Perjalanan berlangsung 16 Agustus–23 Desember 1677. Leupe penyunting, bukan penulis.
[^5]: Ibid., hlm. 141.
[^6]: Ibid., hlm. 183, entri Jumat 15 Oktober 1677.
[^7]: Ibid., hlm. 119, catatan kaki penyunting.
[^8]: J. N. Sneddon, Proto-Sangiric and the Sangiric Languages, Pacific Linguistics B-91 (Canberra, 1984). Data Bantik dikumpulkan Sneddon dari penutur di Malalayang.
[^9]: E. C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Weltevreden: Landsdrukkerij, 1928), hlm. 125.
[^10]: David Henley, Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600–1930 (Leiden: KITLV Press, 2005), Lampiran E, bersumber pada A. C. J. Edeling, “Memorie omtrent de Minahasa”, 13 Agustus 1875, Nationaal Archief. Dikutip tidak langsung; berkas aslinya belum diperiksa.
[^11]: M. H. Schippers, “Iets over den stam der Bantiks”, Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap deel XXX (1886), hlm. 94–105, dalam rubrik “Dagboeken, Verslagen en Brieven uit de Zending”; bertarikh Maumbi, Agustus 1885. Keterangan di paragraf ini hlm. 94–95.
[^12]: Ibid., hlm. 95.
[^13]: Ibid., hlm. 98–100.
[^14]: Ibid., hlm. 101.
[^15]: Ibid., hlm. 104–105 (Singkil dan sekolahnya), hlm. 102 catatan kaki 1 (tak ada penganut Katolik), hlm. 104 (perempuan belum dibaptis).
[^16]: Rapport over de ‘adat kebiasaan, uitgebracht door een inlandsche commissie (1896), dalam Adatrechtbundel III (Minahasa), bezorgd door de Commissie voor het adatrecht, uitgegeven door het Koninklijk Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië (‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1910), hlm. 1. Besluit Residen 29 Juni 1895 no. 208.
[^17]: Ibid., hlm. 1–2.
[^18]: Ibid., hlm. 2–3. Anggota komisi: A. B. Kalengkongan, bekas kepala jaksa Menado; J. M. Pakara, bekas mayor Tombariri; A. B. Waworuntu, bekas mayor Sonder.
[^19]: P. A. Mandagi, “Landbezit in Bantik” (1902), dalam Adatrechtbundel III, hlm. 164–169, di bawah bagian “Verhandelingen en adviezen van inlandsche hoofden (1900–1902)”; dan “Over het huwelijk, de verwantschap en het erfrecht bij de Bantiks (1902)”, dalam Adatrechtbundels IX (‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1914), Serie M Minahasa no. 13, hlm. 53–83. Pada kedua terbitan ia disebut hukum tua Malalayang. Apakah ia orang yang sama dengan Petrus Alexander Mandagie, Hukum Besar Bantik pada dasawarsa berikutnya, belum dapat dipastikan.
[^20]: Mandagi, “Landbezit in Bantik”, hlm. 164.
[^21]: Ibid., hlm. 167.
[^22]: Ibid., hlm. 168.
[^23]: Mandagi, “Over het huwelijk…”, hlm. 61–62 dan hlm. 64 catatan kaki 1.
[^24]: G. A. Wilken, “Het landbezit in de Minahasa (Bijdrage tot de kennis van het landbezit in den Indischen Archipel)”, Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap deel XVII (1873), hlm. 107–137; bagian yang dibandingkan hlm. 108–111.
[^25]: J. G. de Haan, “Een en ander over Bantik”, Mededeelingen vanwege het Nederlandsch Zendelinggenootschap deel LI (1907), hlm. 34–44, dalam rubrik “Dagboeken, brieven en verslagen uit de zending”. Penulis disebut berkedudukan
[^26]: Ibid., hlm. 35.
[^27]: Ibid., hlm. 36. Bandingkan angkoemang pada Mandagi, “Over het huwelijk…”, hlm. 61–62.
[^28]: Ibid., hlm. 37–38.
[^29]: Ibid., hlm. 40–42.
[^30]: Ibid., hlm. 40; bandingkan Schippers, “Iets over den stam der Bantiks”, hlm. 94–95.
[^31]: Adatrechtbundel III, hlm. 168 catatan kaki 1 (catatan penyunting): sebidang tanah di ibukota Menado terdaftar atas nama “penduduk distrik Ares (yang dahulu)”.
- Penulis: Moderator Malesung
