Gemeente Manado: Perkembangan Sebuah Kota di Masa Desentralisasi, 1919–1930
- calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
- visibility 81
- comment 0 komentar
- print Cetak

10 Januari 1929 di Manado
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada awal abad ke-20, Manado mengalami perubahan penting dalam tata pemerintahan perkotaan. Perubahan tersebut berkaitan dengan kebijakan desentralisasi di Hindia Belanda, yang memberikan sebagian urusan pemerintahan kepada daerah. Dalam buku Vijfentwintig jaren decentralisatie in Nederlandsch-Indië, 1905–1930, A. B. Cohen Stuart secara khusus membahas perkembangan Gemeente Manado dan berbagai pekerjaan yang dilakukan pemerintah kota selama lebih dari satu dekade pertama keberadaannya.
Awal berdirinya Gemeente Manado
Menurut Cohen Stuart, Gemeente Manado berawal dari Gemeentefonds. Pada 23 Desember 1916, Resident Manado mengeluarkan keputusan No. 402 mengenai peraturan pengelolaan dan administrasi dana tersebut. Sebelumnya telah dikenal pula Pasarfonds, yang berkaitan dengan pengelolaan pasar. Kemudian, pada 1 Juli 1919, Manado secara resmi ditetapkan sebagai sebuah daerah perkotaan yang berdiri sendiri dengan sumber keuangan sendiri (zelfstandig gebiedsdeel met eigen geldmiddelen). Sejak saat itu, peraturan desentralisasi mulai diterapkan di Manado.
Berdasarkan Staatsblad 1919 No. 205, Gemeente Manado memiliki sebuah gemeenteraad atau dewan kota. Dewan tersebut terdiri atas sebelas anggota yang berasal dari kelompok masyarakat Eropa, Inlander, dan Vreemde Oosterling. Pada awalnya, ketua dewan adalah Hoofd van Plaatselijk Bestuur. Perubahan terjadi pada November 1928, ketika seorang burgemeester (wali kota) mulai ditempatkan sebagai kepala gemeente. Cohen Stuart kemudian membagi sejarah awal Gemeente Manado ke dalam tiga periode: 1919–1923, 1924–November 1928, dan periode setelah hadirnya burgemeester.
Tahun-tahun awal: bertahan dengan dana terbatas
Periode pertama, 1919–1923, menurut Cohen Stuart belum menunjukkan banyak perkembangan besar. Gemeente terutama melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya sudah dimulai oleh Gemeentefonds dan mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh B.O.W. (Burgerlijke Openbare Werken). Kondisi keuangannya masih terbatas sehingga pemerintah kota pada awalnya lebih banyak mempertahankan fasilitas yang sudah ada daripada melakukan pembangunan besar-besaran.
Ketika gemeente didirikan, dari dana umum pemerintah dialokasikan sekitar f 34.360. Setelah gemeente memiliki tenaga teknis sendiri pada 1922, jumlah tersebut meningkat menjadi f 39.535. Dana tetap ini berkaitan dengan biaya pemeliharaan jalan, jembatan, dan gorong-gorong yang sebelumnya ditanggung oleh B.O.W. Namun, pertumbuhan jaringan jalan dan meningkatnya lalu lintas kendaraan membuat biaya pemeliharaan semakin besar.
Untuk memenuhi kebutuhan keuangan, Gemeente Manado kemudian memperkenalkan berbagai pajak. Di antaranya adalah pajak tambahan atas pajak penghasilan dan pajak pribadi, pajak atas tanah/bangunan (verponding), serta pajak reklame, anjing, minuman keras, dan hiburan. Pada 1923, gemeente juga menerima tanggung jawab atas pengawasan penjualan sagoeweer, yang kemudian disertai dengan peraturan pajaknya.

Saluran Kwala Mati dalam kondisi lama
Pasar sebagai sumber pendapatan penting
Salah satu bagian paling menarik dari uraian Cohen Stuart adalah mengenai pasar-pasar Manado. Selain pajak, gemeente memperoleh pendapatan yang cukup penting dari usaha pasar. Bahkan Cohen Stuart menyebut pasar-pasar gemeente sebagai “de kurk … waarop het geheele gemeentewezen drijft”, sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa pentingnya pendapatan pasar bagi keberlangsungan pemerintahan kota.
Pendapatan pasar meningkat dari sekitar f 35.000 pada 1920 menjadi f 69.000 pada 1929. Pada periode yang sama, beberapa fasilitas pasar mengalami pembangunan dan perbaikan. Pasar Forbes Wels muncul pada 1922 menggantikan pasar ikan lama, sedangkan Pasar Tellings, yang sebagian rusak akibat kebakaran pada 1922, kemudian sebagian besar dibangun kembali.
Pada tahun-tahun berikutnya, fasilitas pasar terus diperbaiki. Pada 1926 dibangun pasar makanan baru dengan biaya f 25.000, kemudian pada 1927 dibangun pasar sayuran baru. Tempat kendaraan di kawasan pasar diperkeras, drainase diperbaiki, dan bangunan pasar lama mendapatkan perbaikan.

Rumah es milik pemerintah (gemeente Manado) kota di kawasan pasar
Jalan dan sanitasi mulai menjadi perhatian utama
Memasuki periode kedua, sejak 1924, kemampuan Gemeente Manado semakin berkembang. Salah satu proyek penting adalah pengaspalan jalan. Pada 1924 dilakukan percobaan pengaspalan yang hasilnya dianggap baik. Pada akhir tahun tersebut diputuskan agar seluruh jalan utama gemeente secara bertahap diaspal. Selama 1925–1929, pengeluaran untuk pengaspalan mencapai puluhan ribu gulden setiap tahun.
Bidang lain yang mendapat perhatian besar adalah kesehatan lingkungan dan sanitasi. Persoalan Kwala-mati diselesaikan pada 1925–1926, sementara sebuah rencana sanitasi besar telah disahkan pada 24 Desember 1924. Selama 1924–1927, sekitar f 75.000 dari dana biasa gemeente digunakan untuk pembangunan saluran dan pekerjaan sanitasi. Saluran pembuangan juga dibangun melewati kawasan Kampung Cina dan beberapa kampung yang berada di daerah rendah dan berawa.
Pada akhir 1925, diberlakukan pula Bouw- en Woonverordening, yaitu peraturan mengenai bangunan dan tempat tinggal. Peraturan ini memberikan pengawasan yang lebih ketat terhadap pembangunan rumah di dalam wilayah gemeente.
Sario dan lahirnya Sportpark
Perkembangan kota juga terlihat di kawasan Sario. Pada 1925 Gemeente Manado membeli sebidang tanah dengan nomor Verp. No. 218. Pembelian tersebut menjadi langkah awal gemeente dalam membangun grondbedrijf, atau usaha pertanahan. Pada 1926, sekitar 5/9 bagian tanah tersebut diubah menjadi sportpark.
Pada November 1926, Sportclub “Vooruit” sudah mengadakan races di tempat tersebut. Cohen Stuart menyebut perlombaan itu sebagai “een waar succes!”, atau “benar-benar sukses”. Ia juga mencatat bahwa lintasan pacuan kuda memenuhi kebutuhan masyarakat karena paardenrennen atau pacuan kuda merupakan geliefde volkssport—olahraga rakyat yang populer.
Sportpark Sario tidak semata-mata dibangun untuk memperoleh keuntungan. Pemerintah gemeente memandang bahwa olahraga perlu didukung dan fasilitas tersebut juga dimaksudkan untuk olahraga sekaligus hiburan masyarakat. Modal yang ditanamkan di sportpark mencapai lebih dari f 75.000. Pendapatan eksploitasi tercatat sekitar f 5.000, sedangkan pengeluaran eksploitasi sekitar f 3.000, tanpa memperhitungkan penyusutan.

Sario Sport (taman olahraga Sario)
Sario juga menjadi kawasan penting bagi perkembangan kota
Tanah yang tersisa di Sario kemudian dimanfaatkan sebagai lahan bangunan. Di kawasan tersebut muncul beberapa fasilitas, termasuk pembangkit listrik Nederlandsch-Indische Gas Maatschappij, rumah-rumah di sekitarnya, serta kampemen polisi bersenjata yang baru. Cohen Stuart mencatat bahwa investasi tanah gemeente di kawasan Sario memberikan hasil yang baik; tanah yang dibeli pada 1925 seharga f 45.000 kemudian menghasilkan penerimaan dari penjualan tanah yang, sampai akhir Desember 1929 dan di luar area sportpark, mencapai f 59.320,75.

Pacuan Kuda di Sario
Dari lampu minyak menuju listrik
Salah satu simbol perubahan Manado pada akhir 1920-an adalah penerangan jalan. Sampai Mei 1929, jalan-jalan kota masih diterangi lampu minyak (gasoline lamps). Setelah itu, Manado memasuki era penerangan listrik. Pembangkit listrik di Sario diresmikan dalam sebuah upacara pada 27 Maret 1929.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari perkembangan fasilitas kota yang semakin kompleks: pasar diperbaiki, jalan diaspal, sanitasi ditingkatkan, fasilitas pemadam kebakaran diperbarui, dan penerangan listrik mulai tersedia.
Munculnya burgemeester
Pada 1 November 1928, Manado memasuki periode baru ketika seorang burgemeester mulai memimpin gemeente. Sebelumnya, ketua dewan dijabat secara ex officio oleh Hoofd van Plaatselijk Bestuur. Cohen Stuart menilai perubahan tersebut memberikan kepemimpinan harian yang lebih terfokus karena burgemeester dapat mencurahkan perhatiannya kepada satu gemeente.
Pada periode awal burgemeesterschap tersebut, berbagai peraturan baru diselesaikan, antara lain mengenai pajak, administrasi penduduk, pasar, tempat penginapan, lalu lintas, penyembelihan, persewaan kendaraan, dan berbagai urusan perkotaan lainnya.
Pemerintah kota juga mulai memberi perhatian pada perumahan, kesehatan kota, perbaikan kampung, dan penghijauan. Kampung Sindoelang dan Titiwoengen diperbaiki, sementara di Wenangheuvel direncanakan sebuah taman dan perhatian terhadap penanaman pohon di sepanjang jalan ditingkatkan.
Manado menjelang 1930
Menjelang 1930, gambaran Manado dalam buku Cohen Stuart adalah sebuah kota yang sedang berkembang dan memperluas fungsi pemerintahannya. Pada akhir uraian, Manado disebut memiliki lebih dari 25.000 penduduk dan merupakan satu-satunya pelabuhan besar ekspor-impor di Keresidenan Manado. Karena posisi tersebut, penulis menilai Manado memiliki prospek masa depan yang kuat, meskipun tetap membutuhkan kebijakan keuangan yang hati-hati.
Periode 1919–1930 merupakan masa penting dalam sejarah perkotaan Manado. Berdasarkan catatan A. B. Cohen Stuart, pembentukan Gemeente Manado bukan hanya perubahan administratif. Dalam satu dekade lebih, pemerintah kota secara bertahap mengambil tanggung jawab atas pasar, jalan, sanitasi, pemadam kebakaran, penerangan, olahraga, pertanahan, pemakaman, dan berbagai pelayanan publik.
Sumber: A. B. Cohen Stuart, Vijfentwintig jaren decentralisatie in Nederlandsch-Indië, 1905–1930, bagian “De Gemeente Manado”, hlm. 441–448.
- Penulis: Engel Yong
