Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Batalyon Worang: Pilar Keutuhan NKRI

Batalyon Worang: Pilar Keutuhan NKRI

  • calendar_month Sabtu, 7 Des 2024
  • visibility 109
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada tanggal 21 Maret 1950, Batalyon B (ex-Brigade XVI) secara resmi diubah menjadi TNI Batalyon “Worang” melalui Surat Perintah MBAD No. 320/SU/PH/50 yang ditandatangani oleh KSU-AD Kol. Bambang Soegeng.

Penugasan pertama Batalyon Worang, di bawah pimpinan Mayor H.V. Worang, adalah mengirimkan pasukan ke Makassar, Ibukota Indonesia Timur pada waktu itu, sebagai langkah awal dalam pembinaan keutuhan wilayah NKRI.

 

Batalyon Worang mencapai puncak kehebatannya pada penumpasan RMS (Republik Maluku Selatan), ketika jumlah personelnya mencapai 1.100 orang, menjadikannya sebagai batalyon dengan jumlah terbanyak dalam operasi tersebut.

Batalyon ini terdiri dari beberapa kompi, termasuk Kompi Senapan yang dipimpin oleh Kapten D.J. Somba, Lettu Wim Tenges, Lettu Raf Lalu, dan Lettu Andi Oddang, serta Kompi Bantuan dan Kompi Markas.

 

Batalyon Worang memainkan peran penting dalam berbagai operasi militer yang diamanatkan oleh Presiden Soekarno dan MBAD, termasuk penumpasan pemberontakan Andi Aziz, pengendalian situasi di Sulawesi Utara pasca kekuasaan KNIL, serta peran sentral dalam penumpasan RMS di Ambon.

Setelah penumpasan RMS, Batalyon Worang kembali ke Manado, di mana mereka dipecah menjadi dua bagian, dengan Kompi Somba membentuk Batalyon 707.

 

Selama penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan, Batalyon Worang terus berperan aktif dalam operasi-operasi militer bersama pasukan lain, menunjukkan dedikasi dan keberanian dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

**Kredit Foto**:

Semua foto diambil oleh IPPHOS

Foto Batalyon Worang di Istana Negara diedit oleh Romy Toar Nonutu.

Foto-foto lainnya diedit oleh admin facebook laman Batalyon Worang.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Dotu Resik dan Kepala Otop di Batas Tanah Langowan

    Dotu Resik dan Kepala Otop di Batas Tanah Langowan

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Di tanah Minahasa pada masa lampau, ketika hutan masih lebat dan kabut pagi turun menyelimuti pegunungan, kehidupan masyarakat belum sepenuhnya damai. Antarwalak dan antarwilayah sering terjadi perselisihan. Perompak datang dari pesisir, kelompok-kelompok asing mencoba merebut wilayah, sementara para tona’as, pemimpin perang dan penjaga negeri harus terus berjaga mempertahankan tanah leluhur mereka. Di wilayah Langowan, tanah […]

  • Pembunuhan Keji di Negeri Koya: Tragedi yang Mengguncang Minahasa pada Tahun 1921

    Pembunuhan Keji di Negeri Koya: Tragedi yang Mengguncang Minahasa pada Tahun 1921

    • calendar_month Minggu, 7 Jul 2024
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Pada Rabu, 10 Agustus 1921, tanah Minahasa diguncang oleh sebuah peristiwa tragis yang mencoreng sejarah hukum dan keamanan di wilayah tersebut. Seorang pegawai kejaksaan bernama Julian Mantiri, seorang Inlandsch Officier van Justitie (Jaksa Pribumi), tewas ditikam saat menjalankan tugasnya. Kejadian ini menjadi salah satu kasus pembunuhan paling keji yang pernah tercatat di Minahasa.   Latar […]

  • Desa Matungkas, kecamatan Dimembe, Minut

    Wanua Matungkas: Dari Tanah yang Diungkit Menjadi Ruang Hidup Orang Tonsea

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Di Minahasa, sejarah sebuah kampung sering kali tidak dimulai dari arsip pemerintahan atau keputusan administrasi kolonial. Ia lahir dari cerita yang berpindah dari mulut ke mulut, dari ingatan para tetua, dari nama tempat yang diwariskan turun-temurun, serta dari jejak manusia yang pertama kali membuka tanah. Demikian pula kisah Desa Matungkas di wilayah Tonsea, yang kini […]

  • Nicolaas Graafland 1827 - 1898 (Repro)

    Nicolaas Graafland: Jejak Misionaris yang Membentuk Pendidikan dan Literasi Minahasa

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Di tengah gelombang perubahan kolonial pada abad ke-19, tanah Minahasa mengalami transformasi sosial yang besar. Masyarakat yang sebelumnya bertumpu pada struktur adat dan sosial berbasis walak perlahan memasuki dunia baru melalui pendidikan, agama Kristen, literasi, percetakan, dan jaringan komunikasi yang semakin luas. Di balik salah satu proses perubahan tersebut terdapat nama Nicolaas Graafland. Graafland bukan […]

  • De Voornaamste Hollandsche Woorden in het Maleisch der Minahasa (1869)

    De Voornaamste Hollandsche Woorden in het Maleisch der Minahasa (1869)

    • calendar_month Senin, 8 Mei 2023
    • visibility 27
    • 0Komentar

    Buku “De Voornaamste Hollandsche Woorden in het Maleisch der Minahasa”. Kata-kata utama Belanda dalam Bahasa Melayu Manado di Minahasa. DOWNLOAD – GDRIVE – PDF – 1.6MB Diupload oleh Roderick C. Wahr

  • Alex Kawilarang dan Iwa Kusumasumantri: Ketegangan dalam Catatan CIA Tahun 1954

    Alex Kawilarang dan Iwa Kusumasumantri: Ketegangan dalam Catatan CIA Tahun 1954

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Dalam Current Intelligence Bulletin tertanggal 4 Februari 1954, Central Intelligence Agency (CIA) mencatat kabar mengenai dua komandan teritorial Indonesia, Kolonel Kawilarang dan Kolonel Simbolon. Pemerintah Indonesia dilaporkan telah meminta keduanya mengundurkan diri untuk menghindari pemecatan dan aib. Buletin itu menyebut keduanya sebagai komandan teritorial terkemuka yang antikomunis. Namun, laporan tersebut juga menyatakan bahwa jawaban mereka […]

expand_less