Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Tragedi di Teluk Kema: Saat Korvet Belanda Zr. Ms. Sumatra Dilalap Api

Tragedi di Teluk Kema: Saat Korvet Belanda Zr. Ms. Sumatra Dilalap Api

  • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
  • visibility 65
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada dini hari 16 Mei 1854, suasana tenang di perairan Kema, pelabuhan penting di pesisir timur Minahasa, mendadak berubah menjadi kepanikan.

Kobaran api melalap Zr. Ms. Sumatra, sebuah korvet milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang tengah berlabuh untuk mengisi perbekalan.

Hanya dalam hitungan jam, kapal perang yang menjadi kebanggaan armada Hindia Belanda itu berubah menjadi bangkai kapal yang tenggelam di dasar laut.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu kecelakaan maritim terbesar yang pernah terjadi di perairan Sulawesi Utara pada pertengahan abad ke-19.

 

Kapal Perang dalam Misi Patroli

 

Korvet Zr. Ms. Sumatra merupakan kapal perang layar berbobot sekitar 942 ton dengan persenjataan 26 meriam. Kapal ini dibangun di galangan Rotterdam, diluncurkan pada 1848, dan mulai berdinas pada 1849.

Pada 1854 kapal tersebut menjalankan patroli di perairan Maluku dan Indonesia Timur di bawah komando Kapten-Letnan Hendrik Wipff.

Pada 14 Mei 1854, Sumatra menjatuhkan jangkar di Kema. Persinggahan itu bukan tanpa alasan. Banyak awak kapal terserang demam tropis sehingga mereka membutuhkan bahan makanan segar dan kina (quinine), obat utama untuk mengobati malaria pada masa itu.

Keberadaan Kema sebagai tempat pengisian logistik menunjukkan bahwa pelabuhan kecil di Minahasa tersebut telah menjadi simpul penting bagi armada Belanda yang beroperasi di kawasan timur Nusantara.

 

Api Muncul Menjelang Fajar

 

Menurut laporan resmi yang kemudian diberitakan berbagai surat kabar Belanda, sekitar pukul 03.30 dini hari tanggal 16 Mei 1854, awak kapal menemukan asap tebal berasal dari ruang penyimpanan di bawah geladak.

Api menjalar dengan sangat cepat.

Walaupun seluruh awak kapal berusaha memadamkannya menggunakan semua peralatan yang tersedia, kobaran api tidak lagi dapat dikendalikan.

Menjelang pukul 06.00, harapan menyelamatkan kapal mulai sirna. Dua jam kemudian, sekitar pukul 08.00, perhatian sepenuhnya dialihkan untuk menyelamatkan seluruh awak kapal.

Dalam waktu kurang dari setengah hari, kapal perang itu habis dilalap api sebelum akhirnya tenggelam di tempat berlabuhnya.

 

Penyebab Kebakaran yang Mengejutkan

 

Beberapa bulan setelah kejadian, hasil penyelidikan resmi Angkatan Laut Belanda mengungkap penyebab yang tidak disangka-sangka.

Api ternyata berasal dari sekarung biji kopi yang baru saja disangrai, kemudian disimpan di ruang penyimpanan makanan. Panas yang masih tersisa diduga memicu pembakaran spontan (spontaneous combustion) hingga menghasilkan asap dan kemudian menyulut kebakaran besar.

 

Ilustrasi

Ilustrasi

 

Ketika asap pertama kali terdeteksi, ruang di bawah geladak sudah dipenuhi panas dan asap pekat sehingga tidak mungkin lagi dimasuki awak kapal.

Laporan resmi menyatakan bahwa semua upaya pemadaman gagal. Dalam beberapa jam, kapal yang sebelumnya menjadi kebanggaan armada Belanda berubah menjadi puing yang tenggelam di perairan Kema.

 

Seluruh Awak Berhasil Diselamatkan

 

Di tengah musibah itu, terdapat satu kabar baik. Tidak ada korban jiwa.

Seluruh awak kapal berhasil dievakuasi ke daratan Kema. Namun hampir seluruh barang pribadi, pakaian, dan perlengkapan mereka musnah terbakar. Hanya sebagian kecil inventaris kapal yang berhasil diselamatkan.

 

Kapten-Letnan Hendrik Wipf (wikimedia)

Kapten-Letnan Hendrik Wipf (wikimedia)

 

Laporan koran Nieuwe Rotterdamsche Courant memuji disiplin para perwira dan awak kapal. Komandan H. Wipff secara khusus menyampaikan penghargaan atas ketenangan dan keberanian seluruh anak buahnya selama menghadapi bencana.

 

Sambutan Hangat Masyarakat Kema

 

Salah satu bagian paling menarik dari laporan tersebut adalah sikap masyarakat setempat.

Para korban disebut diterima di darat dengan penuh simpati dan keramahan. Penduduk Kema membantu para pelaut yang kehilangan hampir seluruh harta bendanya akibat kebakaran.

 

Kepala Distrik Tonsea, Majoor Outfoort Johan Palenkahu (Repro/ L Van Gent)

Kepala Distrik Tonsea, Majoor Outfoort Johan Palenkahu (Repro/ L Van Gent)

 

Tindakan tersebut memperlihatkan bahwa pelabuhan Kema bukan sekadar tempat singgah kapal-kapal kolonial, tetapi juga memiliki masyarakat yang mampu memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pelaut yang tertimpa musibah. Kepala distrik Tonsea pada tahun tersebut adalah Majoor Outfoort Johan Palenkahu.

 

Bangkai Kapal Menjadi Bahaya Pelayaran

 

Karena korvet itu tenggelam di lokasi pelabuhan, pemerintah kolonial segera memasang rambu suar (baak) di atas lokasi bangkai kapal untuk memperingatkan kapal-kapal lain yang melintas.

Dua tahun kemudian, pemerintah Hindia Belanda bahkan memutuskan menjual bangkai kapal tersebut melalui lelang umum yang dilaksanakan oleh Residen Menado.

 

Jejak Sejarah Maritim Minahasa

 

Musnahnya Zr. Ms. Sumatra memperlihatkan betapa strategisnya Kema dalam jaringan pelayaran Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19.

Pelabuhan ini menjadi tempat pengisian logistik, pengobatan awak kapal, hingga persinggahan armada perang yang berpatroli di Laut Maluku dan Papua.

Tragedi 16 Mei 1854 sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman bagi kapal-kapal layar pada masa itu tidak hanya datang dari badai atau peperangan, tetapi juga dari bahaya kebakaran yang dapat muncul akibat kelalaian kecil di tengah pelayaran panjang.

Hingga kini, kisah tenggelamnya Zr. Ms. Sumatra tetap menjadi salah satu episode penting dalam sejarah maritim Sulawesi Utara, sekaligus memperlihatkan bagaimana Kema pernah memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah pelabuhan di pesisir Minahasa.

 

Referensi

 

  1. Nieuwe Rotterdamsche Courant, Batavia, 22 Juni 1854, laporan mengenai kebakaran Zr. Ms. Sumatra di Kema.
  2. Bredasche Courant, 17 Agustus 1854, laporan resmi Departemen Angkatan Laut Belanda mengenai penyebab kebakaran korvet Sumatra.
  3. Stichting Maritiem Historische Data, kronik kapal perang Belanda Zr. Ms. Sumatra.
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Minahasa dalam Lensa Misionaris Tahun 1931

    Minahasa dalam Lensa Misionaris Tahun 1931

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Lima foto berikut berasal dari Almanak van O. L. Vrouw van het Heilig Hart edisi tahun 1931, sebuah almanak yang diterbitkan oleh Kongregasi Misionaris Hati Kudus (MSC). Melalui tulisan Pastor Jac. Duray, pembaca diajak melihat kehidupan Minahasa pada awal abad ke-20 dari sudut pandang seorang misionaris Katolik. Meski beberapa pandangannya mencerminkan perspektif kolonial dan keagamaan […]

  • Sangihe Sebelum 1600: Kerajaan, Raja, dan Tradisi yang Terputus

    Sangihe Sebelum 1600: Kerajaan, Raja, dan Tradisi yang Terputus

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • visibility 85
    • 0Komentar

    Ada dua kumpulan bahan tentang masa awal Sangihe, dan keduanya nyaris tidak pernah bertemu. Yang pertama adalah kisah Gumansalangi dan Kerajaan Tampungang Lawo — diwariskan lisan, ditulis ulang berkali-kali dalam seabad terakhir, dan kini menjadi kerangka baku hampir semua tulisan populer tentang asal-usul Sangihe. Yang kedua adalah surat-surat Jesuit Portugis dari Ternate, Tidore, dan Ambon […]

  • Penyambutan Gubernur Robertus Padtbrugge di pantai Manado pada Hari Natal 1678.(ilustrasi)

    Natal 1678 di Manado: Enam Belas Hari Sebelum Kontrak Pertama VOC

    • calendar_month 20 menit yang lalu
    • visibility 3
    • 0Komentar

    Kedatangan Gubernur Padtbrugge, enam belas hari sebelum kontrak 10 Januari 1679 Pada hari Natal 1678, seorang gubernur Belanda mendarat di pantai Manado. Dua pendeta Protestan dan sejumlah pater Yesuit menyambut kedatangannya. Pemandangan itu menyimpan ironi sejarah bahwa setahun sebelumnya, kedua kelompok rohaniwan tersebut berada di pihak yang berlawanan dalam konflik yang melibatkan Kompeni VOC dan […]

  • Masyarakat Minahasa membunyikan bia (kerang) saat Mapalus (ilustrasi)

    Metamorfosis Mapalus: Dari Tradisi Komunal ke Instrumen Kolonial

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Di tanah Minahasa, Sulawesi Utara, mapalus bukan sekadar praktik gotong royong. Ia adalah fondasi sosial yang mengikat hubungan kekerabatan (taranak) dan komunitas kampung (ro’ong) dalam satu sistem yang menyatu dengan alam. Namun, di balik citra harmonis tersebut, sejarah mapalus memperlihatkan perjalanan panjang, dari mekanisme bertahan hidup hingga menjadi bagian dari mesin kolonial. Untuk memahami transformasi […]

  • Grup Musik Bia asal Desa Batu (RRI, 2010)

    Dari Walak ke Birokrasi Belanda: Kisah Negeri Batu dalam Lembaran Sejarah Minahasa

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Sejarah desa-desa di Minahasa tidak hanya tersimpan dalam tradisi lisan dan ingatan kolektif masyarakat, tetapi juga terekam dalam lembaran-lembaran arsip pemerintahan Hindia Belanda. Melalui dokumen administratif kolonial, jejak perkembangan sebuah desa dapat ditelusuri secara lebih sistematis, terutama terkait struktur pemerintahan, pendataan penduduk, hingga kewajiban ekonomi yang dibebankan kepada masyarakat. Salah satu wilayah yang muncul dalam […]

  • Perjanjian 10 Januari 1679 antara Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dan Pemimpin Masyarakat Minahasa

    Perjanjian 10 Januari 1679 antara Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dan Pemimpin Masyarakat Minahasa

    • calendar_month Rabu, 7 Agt 2024
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Nama Minahasa berasal dari “Persekutuan Sembilan Suku”, yang merujuk pada persatuan sembilan suku yang terletak di utara Sulawesi setelah perjanjian pada abad ke-15. Sembilan suku ini adalah: Tonsea, Tontemboan, Tombulu, Tondano, Tonsawang, Pasan Ratahan, Ponosakan, Bantik, dan Babontehu. Pada abad ke-16, bangsa Spanyol mendarat di pulau Sulawesi dan pada tahun 1574 mengirim utusan ke Minahasa. […]

expand_less