Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Profil » Evert Langkay: Loyalis Republik dari Minahasa yang Menggerakkan Laskar KRIS di Medan Revolusi

Evert Langkay: Loyalis Republik dari Minahasa yang Menggerakkan Laskar KRIS di Medan Revolusi

  • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
  • visibility 102
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tidak banyak nama pejuang asal Minahasa yang jejaknya tersimpan rapi dalam ingatan publik nasional.

Di antara nama-nama yang lebih sering disebut dalam sejarah revolusi Indonesia, sosok Evert Langkay justru berada di balik layar, menjadi penggerak organisasi, pemersatu berbagai kelompok bersenjata, sekaligus salah satu loyalis Republik yang konsisten sejak zaman kolonial hingga Indonesia merdeka.

Perjalanan hidup Langkay memperlihatkan kesinambungan perjuangan yang jarang dimiliki seorang aktivis. Ia mengalami tiga rezim yang berbeda pada pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan militer Jepang, dan Revolusi Kemerdekaan, namun sikap politiknya tidak pernah berubah.

Baginya, kemerdekaan Indonesia bukan sekadar cita-cita, melainkan tujuan yang harus diperjuangkan dengan risiko kehilangan kebebasan, bahkan nyawa.

Di balik kiprahnya, terdapat hubungan yang menarik dengan salah satu tokoh pendiri bangsa asal Minahasa, Mr. A.A. Maramis, yang berulang kali menjadi pelindung sekaligus mentor politiknya.

Hubungan keduanya memperlihatkan bagaimana jejaring intelektual dan nasionalis Minahasa memainkan peran penting dalam sejarah Republik.

 

Menjadi Aktivis Sejak Remaja

 

Keterlibatan Evert Langkay dalam dunia pergerakan dimulai ketika usianya baru sekitar 17 tahun. Pada pertengahan dekade 1930-an, ia aktif di Soerja Wirawan, organisasi kepanduan yang berafiliasi dengan Partai Indonesia Raya (Parindra).

Pada masa itu, organisasi kepanduan bukan sekadar wadah pendidikan karakter, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kesadaran kebangsaan bagi generasi muda Hindia Belanda.[^1]

Aktivitas politik tersebut membuat Langkay berkali-kali berhadapan dengan aparat kolonial. Ia beberapa kali ditangkap dan diadili karena dianggap terlibat dalam kegiatan yang membahayakan ketertiban pemerintah Hindia Belanda.

Dalam setiap proses hukum yang dijalaninya, ia memperoleh pembelaan dari seorang pengacara muda Minahasa yang kelak menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Mr. Alexander Andries Maramis.[^2]

Hubungan keduanya tidak hanya sebatas relasi advokat dan klien. Maramis melihat semangat nasionalisme Langkay sebagai sesuatu yang patut dipertahankan. Kelak, hubungan inilah yang berulang kali menyelamatkan Langkay pada masa-masa paling genting.

 

Lolos dari Penggerebekan Polisi Kolonial

 

Salah satu peristiwa yang memperlihatkan keberanian Langkay terjadi pada 1937.

Ketika itu ia menghadiri sebuah pertemuan rahasia para aktivis pergerakan di kawasan Gang Kenari, Jakarta Pusat. Pertemuan tersebut kemudian digerebek polisi kolonial.

Sejumlah aktivis berhasil ditangkap. Salah satunya adalah Sutan Murad, yang kemudian dibuang ke Tanah Merah, Boven Digoel, tempat pengasingan politik paling ditakuti pada masa Hindia Belanda.

Berbeda dengan rekan-rekannya, Evert Langkay berhasil meloloskan diri sebelum aparat berhasil menangkap seluruh peserta pertemuan.[^3]

Peristiwa itu menjadi salah satu titik penting yang memperlihatkan bagaimana aktivitas bawah tanah kaum nasionalis selalu dibayangi ancaman penjara maupun pembuangan.

 

Menghadapi Kekejaman Pendudukan Jepang

 

Berakhirnya pemerintahan Belanda tidak serta-merta menghadirkan kebebasan.

Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Langkay tetap mempertahankan sikap perlawanannya. Aktivitas bawah tanah yang dilakukannya membuat ia dua kali ditangkap oleh tentara Jepang.

Dalam penahanan tersebut, ia mengalami penyiksaan berat. Penangkapan kedua bahkan disertai tuduhan bahwa dirinya mengorganisasi gerakan anti-Jepang.

Situasi menjadi semakin berbahaya karena aparat militer Jepang menetapkan bahwa apabila Langkay tertangkap untuk ketiga kalinya, hukuman pancung telah menantinya.(^4)

Melihat ancaman tersebut, A.A. Maramis kembali turun tangan.

Melalui jaringan yang dimilikinya, Maramis mengupayakan agar Langkay memperoleh pekerjaan resmi di bawah administrasi militer Jepang.

Ia kemudian ditempatkan pada bagian hubungan masyarakat di markas Kaigun (Angkatan Laut Jepang) di Jalan Bungur, Jakarta.

Penempatan tersebut menjadi semacam perlindungan politik yang membuat Langkay terhindar dari pengawasan langsung aparat keamanan Jepang, sekaligus menyelamatkan nyawanya.(^5)

 

Memimpin KRIS di Medan Revolusi

 

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Evert Langkay memasuki babak perjuangan yang paling menentukan.

Ia dipercaya memimpin Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), organisasi perjuangan yang menghimpun masyarakat Sulawesi di Pulau Jawa untuk mempertahankan Republik.

Tugas tersebut bukan pekerjaan ringan.

Langkay harus menyatukan bekas prajurit KNIL, para pemuda nasionalis, kelompok masyarakat sipil, hingga sejumlah tokoh lokal Betawi yang ikut mengangkat senjata melawan kembalinya Belanda.

Di tengah keragaman latar belakang itu, Langkay berhasil membangun koordinasi yang memungkinkan KRIS menjadi salah satu kekuatan penting di Jakarta.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, ia mendapat dukungan langsung dari dua tokoh besar Minahasa, yaitu Mr. A.A. Maramis dan Dr. G.S.S.J. Ratulangi, yang bertindak sebagai penasihat organisasi.[^6]

 

Pertempuran Jatinegara dan Para Pejuang Muda

 

Nama KRIS kemudian identik dengan sejumlah pertempuran mempertahankan Jakarta, terutama di kawasan Jatinegara.

Wilayah tersebut menjadi salah satu garis pertahanan penting ketika pasukan Belanda berusaha menguasai kembali ibu kota.

Di antara anggota KRIS terdapat banyak pejuang asal Minahasa, termasuk pasangan ayah dan anak dari Ranowangko, Odo Martinus Runtunuwu dan Bernardus Runtunuwu.

Bernardus gugur ketika usianya baru menginjak 14 tahun, menjadikannya salah satu pejuang termuda dalam sejarah revolusi Indonesia.

Pengorbanan mereka kemudian dikenang melalui Monumen Perjuangan Jatinegara, yang berdiri di seberang Gereja Koinonia Jakarta sebagai penanda salah satu lokasi pertempuran penting KRIS melawan Belanda.[^7]

 

Perbedaan Pandangan dan Integrasi ke TNI

 

Sebagaimana banyak organisasi perjuangan pada masa revolusi, KRIS tidak sepenuhnya bebas dari dinamika internal.

Dalam perkembangannya, Evert Langkay yang ketika itu berpangkat Kolonel mengalami perbedaan pandangan dengan Letnan Kolonel Jan Rapar mengenai arah organisasi.

 

Letkol Evert Langkah dan Mayor Jan japar Komandan Pertahanan Laskar KRIS di Jawa

Letkol Evert Langkah dan Mayor Jan japar Komandan Pertahanan Laskar KRIS di Jawa

 

Perselisihan tersebut berujung pada keputusan Langkay untuk mengundurkan diri dari kepemimpinan KRIS.

Tongkat komando kemudian dilanjutkan oleh Jan Rapar.

Meskipun demikian, perbedaan tersebut tidak mengurangi kontribusi KRIS terhadap perjuangan nasional.

Seiring proses penataan angkatan perang Republik, banyak anggota KRIS kemudian diintegrasikan ke dalam Tentara Nasional Indonesia, terutama memperkuat jajaran Brigade XVI, sehingga pengalaman tempur mereka tetap menjadi bagian dari kekuatan militer nasional.[^8]

 

Mengabdi Setelah Perang Usai

 

Berakhirnya revolusi fisik tidak mengakhiri pengabdian Evert Langkay.

Ia tetap aktif bersama komunitas pejuang dan tokoh-tokoh Kawanua dalam berbagai kegiatan kenegaraan.

Perhatian utamanya tertuju pada nasib para mantan pejuang yang telah mempertaruhkan hidup selama revolusi.

Karena itu, Langkay aktif memperjuangkan hak-hak veteran melalui Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Ia tercatat duduk dalam struktur kepengurusan pusat organisasi tersebut dan turut memperjuangkan pengakuan negara terhadap jasa para pejuang kemerdekaan.[^9]

 

Jejak yang Layak Diingat

 

Nama Evert Langkay mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh besar revolusi Indonesia.

Namun, perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun bukan hanya oleh para negarawan yang berdiri di podium, melainkan juga oleh para organisator lapangan yang menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang demi mempertahankan Republik.

Ia pernah diburu pemerintah kolonial, disiksa tentara Jepang, memimpin laskar rakyat di garis depan revolusi, hingga mengabdikan masa tuanya untuk memperjuangkan kesejahteraan veteran.

Dalam sejarah Minahasa maupun sejarah nasional, Langkay adalah representasi generasi pejuang yang memilih tetap setia kepada Republik dalam setiap perubahan zaman. Kisahnya menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari keberanian banyak nama yang belum seluruhnya memperoleh tempat yang layak dalam ingatan kolektif bangsa.

 

Catatan Kaki

 

[^1]: Petrik Matanasi, “A.A. Maramis Melindungi Evert Langkay,” Historia.id, 26 Juni 2025.

[^2]: Petrik Matanasi, “A.A. Maramis,” Historia.id.

[^3]: Petrik Matanasi, “A.A. Maramis Melindungi Evert Langkay,” Historia.id.

[^6]: Petrik Matanasi, “A.A. Maramis Melindungi Evert Langkay,” Historia.id; A.A. MARAMIS, SH., AnyFlip (edisi digital).

[^7]: Bert Toar Polii, “Pahlawan Muda yang Terlupakan Bernardus Runtunuwu,” Kompasiana, 10 Februari 2026.

[^8]: “Pertempuran Merah Putih Manado 1946,” dokumen arsip sejarah, Scribd.

[^9]: Sejarah Legiun Veteran Republik Indonesia, dokumen resmi LVRI; A.A. MARAMIS, SH., AnyFlip (edisi digital).

 

Daftar Pustaka

 

  • A.A. MARAMIS, SH. AnyFlip (edisi digital).
  • Legiun Veteran Republik Indonesia. Sejarah Legiun Veteran Republik Indonesia.
  • Matanasi, Petrik. “A.A. Maramis.” Historia.id.
  • Matanasi, Petrik. “A.A. Maramis Melindungi Evert Langkay.” Historia.id. 26 Juni 2025.
  • Polii, Bert Toar. “Pahlawan Muda yang Terlupakan Bernardus Runtunuwu.” Kompasiana. 10 Februari 2026.
  • Pertempuran Merah Putih Manado 1946. Dokumen arsip sejarah (Scribd).
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • (repro foto L.F van Gent)

    H. Pantow: Ketika Prajurit Minahasa Memimpin Brigade Marsose di Flores

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Sejarah militer Hindia Belanda pada awal abad ke-20 mencatat keterlibatan sejumlah tokoh dari Minahasa yang menunjukkan keberanian di berbagai medan operasi. Salah satu nama yang jejaknya terekam dalam arsip surat kabar dan literatur sejarah adalah H. Pantow. Ia tercatat sebagai prajurit yang tidak hanya menjalankan tugas militer, tetapi juga menunjukkan keberanian serta kecakapan taktis ketika […]

  • Sejarah Desa Pinapalangkow atau Kalewo’an Minahasa

    Sejarah Desa Pinapalangkow atau Kalewo’an Minahasa

    • calendar_month Minggu, 9 Jun 2024
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Desa Pinapalangkow terletak di distrik Sondér dan didirikan oleh Wumbene, seorang anak dari Silap dan Licep. Awalnya, Wumbene tinggal di Sondér. Suatu hari, ia memutuskan untuk menjelajahi hutan yang lebih dalam. Dalam penjelajahannya, Wumbene menemukan sebuah dataran yang dianggapnya cocok untuk pemukiman baru. Setelah kembali ke Sondér, Wumbene mengajak beberapa temannya untuk mendirikan desa di […]

  • gunung tampusu

    Gunung Tampusu, Pesona Alam Tersembunyi di Minahasa

    • calendar_month Rabu, 30 Jul 2025
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Gunung Tampusu: Pesona Alam Tersembunyi di Minahasa   Gunung Tampusu merupakan salah satu destinasi wisata alam yang terus mencuri perhatian para pecinta alam di Sulawesi Utara. Terletak di wilayah Minahasa, gunung ini menyimpan potensi keindahan yang belum sepenuhnya dikenal luas oleh wisatawan. Dengan ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut, Gunung Tampusu menawarkan suasana […]

  • Tompaso Baru, Minahasa Selatan (tt @lihatsulut)

    Menelusuri Jejak Tompaso Baru: Dari Jalur Niaga Kuno hingga Wanua Perintis di Minahasa Selatan

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Di bentang pegunungan dan hutan Minahasa Selatan, nama Tompaso Baru menyimpan kisah panjang tentang perpindahan manusia, pembukaan hutan, hingga strategi masyarakat lokal menghadapi tekanan kolonial. Wilayah ini bukan sekadar hasil pemekaran administratif, melainkan bagian dari dinamika sosial masyarakat Tontemboan yang sejak abad ke-19 bergerak mencari ruang hidup baru di luar pusat-pusat kekuasaan kolonial. Jejak sejarah […]

  • Kacang Batik di Kinali (Indra Walangitan)

    Kinali: Desa Tua di Jantung Kawangkoan yang Dibentuk Kopi dan Zending

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • visibility 276
    • 0Komentar

    Di lereng subur kawasan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, berdiri sebuah desa tua bernama Kinali. Sekilas, ia tampak seperti desa-desa agraris lain di dataran tinggi Minahasa. Namun di balik bentang kebun, jalan kampung, dan rumah-rumah tua yang masih tersisa, Kinali menyimpan jejak panjang transformasi sosial Minahasa: dari era peperangan antarkelompok walak, masuknya kolonialisme Belanda, tanam paksa kopi, […]

  • Menjelajah

    Menjelajah Pesona Danau Tondano, Surga Alam di Sulawesi Utara

    • calendar_month Selasa, 1 Jul 2025
    • visibility 85
    • 0Komentar

    ✨ Menjelajah Keindahan Danau Tondano di Sulawesi Utara Halo, Sobat Traveler! Kalau kamu lagi cari tempat liburan yang tenang, sejuk, dan punya pemandangan kece, Danau Tondano wajib banget masuk bucket list kamu. Terletak di Kabupaten Minahasa, sekitar 45 km dari Kota Manado, danau ini merupakan danau terbesar di Sulawesi Utara, lho! Dengan udara yang sejuk […]

expand_less