Kerajaan Loloda dan Bolaang Mongondow: Mengungkap Jejak Sejarah yang Terlupakan
- calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
- visibility 71
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kaicil. Hi. Djami Bin Syamsuddin Jou/Jogugu Moloku Loloda 1945 – 1977
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di kawasan timur Nusantara, sejarah sering kali bergerak mengikuti arah angin dan arus laut. Jalur pelayaran yang menghubungkan Halmahera, Kepulauan Sangihe, pesisir Minahasa, hingga Bolaang Mongondow bukan sekadar lintasan perdagangan rempah, melainkan juga ruang perjumpaan antarelite politik, pertukaran budaya, dan pembentukan silsilah kerajaan.
Di antara simpul-simpul sejarah itu, Kerajaan Loloda di Halmahera Utara menyimpan kisah yang menarik karena jejaknya diduga hadir dalam tradisi kebangsawanan Bolaang Mongondow melalui nama dan garis genealogi para penguasanya.[^1]
Meski tidak setenar Ternate, Tidore, Bacan, maupun Jailolo yang dikenal sebagai empat pilar Maluku Kie Raha, Loloda merupakan salah satu entitas politik tua di pesisir barat laut Halmahera.
Dalam berbagai kronik kolonial dan tradisi lokal, kerajaan ini telah dikenal jauh sebelum ekspansi besar Kesultanan Ternate pada abad ke-16.[^2]
Namun, hubungan Loloda dengan Bolaang Mongondow tidak dapat dipahami sebagai kisah penaklukan atau perpindahan penduduk secara besar-besaran.
Bukti-bukti yang tersedia justru lebih mengarah pada hubungan maritim, aliansi politik, dan perkawinan antarkeluarga bangsawan yang lazim terjadi di kawasan timur Indonesia.
Kerajaan Tua di Pinggir Halmahera
Sumber-sumber kolonial Belanda maupun tradisi lisan Maluku Utara menggambarkan Loloda sebagai kerajaan yang memiliki posisi strategis di pesisir utara Halmahera.
Sebelum Ternate berkembang menjadi kekuatan dominan, Loloda memiliki ruang politik sendiri dalam jaringan perdagangan rempah yang menghubungkan Halmahera, Papua, Sulawesi, hingga Mindanao.[^3]
Dalam tradisi genealogi Maluku, asal-usul para penguasa sering ditautkan kepada tokoh legendaris Jafar Shadik, yang diyakini menjadi leluhur simbolik bagi sejumlah kerajaan di Maluku Utara.
Dari garis tradisi inilah kemudian berkembang berbagai dinasti, termasuk yang berkaitan dengan Bacan dan Loloda.[^4]
Para sejarawan modern menilai kisah tersebut lebih tepat dipahami sebagai legitimasi politik kerajaan daripada silsilah biologis yang dapat diverifikasi sepenuhnya.
Namun, tradisi semacam itu memiliki peranan penting dalam membangun identitas dan hubungan antarkerajaan di kawasan timur Nusantara.
Mengapa Nama Loloda Muncul di Bolaang Mongondow?
Pertanyaan yang kerap muncul ialah mengapa nama Loloda kemudian dikenal dalam lingkungan istana Bolaang Mongondow.
Jawabannya tidak sederhana. Dalam tradisi kerajaan-kerajaan maritim Nusantara, penggunaan nama wilayah atau kerajaan lain pada gelar seorang penguasa sering menjadi penanda hubungan genealogis, prestise politik, ataupun hasil perkawinan elite.
Nama tersebut tidak selalu menunjukkan asal-usul etnis seseorang, melainkan dapat mencerminkan jaringan diplomatik yang sedang dibangun.[^5]
Karena itu, penyebutan Loloda Mokoagow dalam tradisi Bolaang Mongondow lebih tepat dipahami sebagai simbol keterhubungan dengan dunia politik Maluku Utara daripada bukti bahwa penguasa Mongondow berasal dari Halmahera.
Datu Binangkang dan Kompleksitas Identitas
Dalam historiografi Bolaang Mongondow, sosok Datu Binangkang merupakan salah satu tokoh penting yang kemudian dikaitkan dengan nama Loloda Mokoagow. Namun, penelitian silsilah menunjukkan bahwa identifikasi tokoh ini tidak sepenuhnya sederhana.
Tradisi tutur dan sejumlah penelitian genealogi membedakan antara figur Dodi Mokoagow dengan Loloda Mokoagow (Datu Binangkang).
Dalam sejumlah versi, keduanya dipandang sebagai tokoh yang berbeda, sementara versi lain menghubungkan keduanya dalam satu garis keturunan.
Karena itu, penggunaan nama Loloda pada Datu Binangkang sebaiknya dipahami sebagai bagian dari konstruksi sejarah dinasti yang berkembang dalam tradisi lokal, bukan sebagai identitas etnis yang bersifat mutlak.[^6]
Pendekatan semacam ini lebih sesuai dengan metode historiografi modern yang membedakan antara fakta dokumenter, tradisi lisan, dan legitimasi politik kerajaan.
Laut Maluku sebagai Penghubung
Secara geografis, Laut Maluku tidak memisahkan Halmahera dan Sulawesi Utara, melainkan justru menghubungkannya.
Sejak berabad-abad lalu, jalur laut tersebut dilalui pedagang rempah, pelaut, penyebar agama, prajurit, hingga utusan diplomatik.
Di bawah pengaruh Kesultanan Ternate, hubungan politik antara Halmahera dan pesisir utara Sulawesi semakin intensif.
Para bangsawan dari wilayah bawahan Ternate, termasuk Loloda, kerap terlibat dalam misi diplomatik maupun militer ke kawasan Bolaang Mongondow dan Minahasa.[^7]
Dalam konteks inilah perkawinan politik menjadi instrumen penting. Aliansi antarkeluarga kerajaan tidak hanya mempererat hubungan diplomatik, tetapi juga memperkuat legitimasi kekuasaan dan menjaga keamanan jalur perdagangan laut.
Berbeda Bahasa, Berbeda Asal Usul
Salah satu kekeliruan yang sering muncul dalam tulisan populer ialah menganggap hubungan antara Loloda dan Bolaang Mongondow sebagai bukti bahwa masyarakat Mongondow berasal dari Halmahera.
Kajian linguistik justru menunjukkan sebaliknya.
Bahasa Mongondow termasuk rumpun Austronesia, khususnya kelompok Gorontalo–Mongondow yang memiliki hubungan dekat dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Utara dan Filipina Selatan.[^8]
Sebaliknya, bahasa-bahasa asli Halmahera Utara, termasuk Loloda, tergolong dalam rumpun Papua Barat (West Papuan) yang secara linguistik berbeda dari Austronesia.[^9]
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa hubungan kedua kawasan bukanlah hasil perpindahan populasi besar-besaran, melainkan interaksi elite, perdagangan, dan proses asimilasi yang berlangsung selama berabad-abad.
Jejak yang Tinggal dalam Nama
Sejarah tidak selalu meninggalkan benteng, prasasti, atau istana yang megah. Kadang-kadang, ia bertahan dalam sebuah nama yang diwariskan turun-temurun.
Nama Loloda yang melekat pada salah satu penguasa penting Bolaang Mongondow menunjukkan bagaimana hubungan antarkerajaan di kawasan timur Nusantara tidak dibangun semata melalui peperangan, tetapi juga melalui diplomasi, perkawinan, dan jaringan maritim.
Dalam perspektif itu, Loloda bukanlah kerajaan yang “mendirikan” Bolaang Mongondow, dan masyarakat Mongondow bukan pula keturunan langsung masyarakat Halmahera.
Akan tetapi, sejarah politik kedua wilayah pernah bertemu dalam ruang yang sama: Laut Maluku, yang selama berabad-abad menjadi jalan raya peradaban Nusantara.
Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa identitas kerajaan di Indonesia Timur dibentuk oleh jaringan yang saling terhubung, tempat darah, gelar, dan nama menjadi bagian dari strategi diplomasi sekaligus warisan sejarah yang masih dapat ditelusuri hingga kini.
Catatan Kaki
[^1]: Leonard Y. Andaya, The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period (Honolulu: University of Hawaiʻi Press, 1993), hlm. 51–55.
[^2]: Ch. F. van Fraassen, Ternate, de Molukken en de Indonesische Archipel (Leiden: Rijksuniversiteit te Leiden, 1987), hlm. 112–118; François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, Deel I (Dordrecht: Joannes van Braam, 1724), hlm. 280–284.
[^3]: François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën, Deel I, hlm. 280–284; R. Z. Leirissa, Halmahera dan Raja Ampat: Struktur Kerajaan di Indonesia Timur (Jakarta: UI Press, 1990), hlm. 78–82.
[^4]: A. Atakasi, Sejarah dan Tradisi Lisan Maluku Utara (Ternate: Cabang Dinas Kebudayaan, 2010), hlm. 44–47.
[^5]: David Henley, Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600–1930 (Leiden: KITLV Press, 2005), hlm. 104–108; A.B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), hlm. 135–142.
[^6]: W. Dunnebier, Het Bolaang-Mongondowsche Rijk (‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1953), hlm. 41–45; Memorie van Overgave Residensi Manado.
[^7]: E.C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahasa tot 1829 (‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1928), hlm. 45–52.
[^8]: James N. Sneddon, Proto-Gorontalo-Mongondic Phonology and Vocabulary (Canberra: Australian National University, 1984), hlm. 1–12.
[^9]: C.L. Voorhoeve, The Languages of the North Halmahera Stock (Canberra: Australian National University, 1988), hlm. 181–209.
- Penulis: Moderator Malesung
