Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Profil » Desa » Kayuuwi: Sebuah Negeri Tua di Persimpangan Mitos, Ingatan, dan Sejarah

Kayuuwi: Sebuah Negeri Tua di Persimpangan Mitos, Ingatan, dan Sejarah

  • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
  • visibility 75
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Minahasa, sebuah nama tempat sering kali lebih tua daripada peta yang mencatatnya. Nama-nama itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan jejak ingatan tentang perjalanan leluhur, pembukaan hutan, perpindahan manusia, dan perjumpaan masyarakat lokal dengan kekuatan-kekuatan besar yang datang dari luar.

Salah satu nama yang menyimpan lapisan sejarah panjang itu adalah Kayuuwi. Dalam sejumlah arsip kolonial, nama tersebut ditulis dalam variasi ejaan seperti Kayu-Uwi atau Kayuuwi.

Menariknya, istilah itu tidak merujuk pada komoditas kayu tertentu sebagaimana sering diasumsikan, melainkan sebuah ro’ong atau permukiman tradisional tua yang kemudian berkembang menjadi Desa Kayuuwi di Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Jejak sejarah Kayuuwi hari ini dapat dibaca melalui dua jalur ingatan yang berjalan berdampingan: arsip kolonial yang tersimpan dalam historiografi Minahasa dan tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat.

 

Ketika Sejarah Masih Berupa Tutur

 

Sebelum nama Kayuuwi tercatat dalam administrasi kolonial, masyarakat setempat mewariskan kisah-kisah mengenai asal-usul mereka melalui cerita para tetua.

Salah satu catatan penting mengenai hal ini direkam oleh Rommi Kumontoy melalui kompilasi sejarah lokal dan oral history masyarakat Kayuuwi.[^1]

Menurut tutur tersebut, pada masa yang digambarkan masih diselimuti hutan lebat dan kabut waktu, terdapat delapan orang yang berasal dari wilayah Tountumaratas. Di antara mereka disebut nama-nama yang kemudian hidup dalam ingatan masyarakat: Dotu Kapero, Dotu Pandeiroth, dan Dotu Kalangi.

Mereka digambarkan sebagai pemburu tangguh yang menjadikan hutan sebagai rumah dan alam sebagai guru.

Mereka bergerak ke arah barat, menembus rimba, melintasi sungai dan bukit, hingga menemukan kawasan yang dipenuhi pohon Wasian atau Cempaka.

Di tempat itu mereka membangun pondok-pondok sederhana dan mulai menetap.

Namun kerinduan pada kampung asal Tountumaratas disebut tidak pernah hilang. Setiap kali mereka kembali, masyarakat menyambut mereka dengan ungkapan:

“Ni mayo se tou imbasian.”

Yang berarti:

“Telah datang orang-orang yang tinggal di antara pohon Wasian.”

Seiring berjalannya waktu, penyebutan Tou Imbasian diyakini berubah menjadi Tou Tombasian, lalu kemudian menjadi Tombasian.

Kisah tersebut berlanjut pada generasi berikutnya melalui dua tokoh lain: Piay dan Karengis. Mereka disebut mengembara lebih jauh hingga menemukan kawasan sungai bercabang dengan hutan yang kaya satwa buruan.

Tempat itu dinamai Nimanga, yang berarti “bercabang”. Saat ini masyarakat menghubungkannya dengan kawasan perkebunan Wurucik atau Mawale.

Ketika jumlah penduduk semakin bertambah, permukiman awal kemudian berpindah ke kawasan yang lebih luas di bagian selatan atau tenggara, tepatnya di sebelah barat Sungai Kayuuwi pada daerah yang disebut Usu, yang kini diperkirakan berada di sekitar wilayah SD Inpres dan sekitarnya.

Di tempat inilah, menurut tradisi lisan masyarakat, komunitas awal Kayuuwi berkembang di bawah kepemimpinan Tonaas Rorimpandey.^2

Tutur lokal juga menyimpan beberapa penjelasan mengenai asal-usul nama Kayuuwi.

Sebagian menghubungkannya dengan istilah kayu ma uwi dalam bahasa Tontemboan yang berarti pohon yang memiliki akar menyerupai umbi. Penafsiran lain menyebut istilah kayu kale uwi, yakni pohon yang di sekitarnya tumbuh banyak tanaman umbi.

Sementara versi lain menghubungkannya dengan ungkapan penghormatan masyarakat:

“Ni ma’ayo re’e se tou marenak anduru indoyongan maroyong ing Kayumauwi.”

Yang kemudian disederhanakan menjadi:

“Nima’ai re’e se Kayumauwi”

dan pada akhirnya berubah menjadi Kayuuwi.

 

Dari Pembukaan Hutan Menuju Negeri Tua

 

Di luar tradisi lisan, sejumlah catatan sejarah Minahasa menunjukkan bahwa perkembangan permukiman awal di kawasan Kawangkoan berkaitan erat dengan sistem walak, yakni kelompok kekerabatan yang membentuk struktur sosial-politik masyarakat Minahasa.[^3]

Tradisi lokal dan catatan sejarah menyebut bahwa tokoh-tokoh seperti Lalawi, Tontering, dan Rontos termasuk para pembuka lahan awal yang mendirikan beberapa negeri tua seperti Kinali, Kayuuwi, Lana, Kiawa, dan Matani.[^4]

Permukiman-permukiman tersebut kemudian menjadi bagian dari kelompok masyarakat Tou-Kawangkoan yang berada dalam rumpun Tounkimbut.

Pada masa kepemimpinan Kiroyan sebagai penghulu Tounkimbut Atas, kawasan Kayuuwi berkembang menjadi komunitas agraris yang hidup di dataran tinggi Minahasa.

 

Ketika Minahasa Berjumpa VOC

 

Memasuki abad ke-17, perubahan besar mulai datang ke jazirah utara Sulawesi.

Kehadiran Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mengubah peta politik lokal. Ancaman ekspansi dari Kerajaan Bolaang Mongondow mendorong sejumlah kepala walak Minahasa mencari aliansi dengan VOC.

Pada 10 Januari 1679, Gubernur VOC untuk Maluku, Robertus Padtbrugge, merumuskan perjanjian persahabatan dengan 23 kepala walak Minahasa.[^5]

Perwakilan dari Tonkimbut Atas dan Tonkimbut Bawah, yang meliputi wilayah Kawangkoan dan sekitarnya, termasuk kawasan Kayuuwi, ikut berada dalam struktur politik tersebut.

Perjanjian ini kemudian menjadi salah satu titik awal masuknya Minahasa ke dalam pengaruh politik VOC.

 

Dari Tonaas Menjadi Hukum Tua

 

Ketika VOC runtuh dan pemerintahan beralih ke Hindia Belanda, terjadi restrukturisasi besar dalam sistem pemerintahan lokal Minahasa.

Pada pertengahan abad ke-19, sistem walak yang sebelumnya relatif mandiri mulai diubah menjadi sistem distrik kolonial.[^6]

Kawasan Kayuuwi masuk ke dalam Distrik Kawangkoan.

Perubahan tersebut juga mengubah sistem kepemimpinan masyarakat.

Tonaas, yang sebelumnya memiliki legitimasi adat dan spiritual, perlahan menjadi bagian dari struktur administrasi kolonial melalui jabatan Hukum Tua.

Arsip lokal mencatat beberapa nama pemimpin awal:

  • Rorimpandei — Tonaas (1775–1830)
  • Arnold Palar — Tonaas (1830–1862)
  • Barnabas Lintang — Masa transisi Tonaas–Hukum Tua (1862–1892)
  • Estevanus Lapian — Hukum Tua (1892–1916)[^7]

 

Madiara, Kepercayaan Lama, dan Datangnya Zending

 

Transformasi masyarakat Kayuuwi tidak hanya terjadi dalam bidang politik dan pemerintahan.

Catatan para misionaris Belanda menggambarkan bahwa masyarakat Minahasa pedalaman masih sangat dipengaruhi sistem kepercayaan tradisional.[^8]

Di Kayuuwi, masyarakat awal diyakini mengenal berbagai ritual yang berkaitan dengan penghormatan leluhur, ritus penyucian kampung, dan praktik pengobatan spiritual yang dikenal dengan istilah Madiara.

Ketika sekolah-sekolah zending mulai berdiri pada paruh kedua abad ke-19, perubahan sosial mulai berlangsung.

Pendidikan modern dan penyebaran agama Kristen secara perlahan mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat.

Namun sebagaimana dicatat para misionaris, unsur-unsur kepercayaan lama tidak sepenuhnya hilang. Sebagian bertahan dalam bentuk tradisi yang hidup secara diam-diam di tengah masyarakat.

Hingga hari ini, sejumlah situs seperti Air Terjun Nimanga, Waruga Opo Waraney, dan Batu Beranak masih dipandang sebagai bagian dari jejak ingatan sejarah masyarakat Kayuuwi.

Di tempat-tempat itu, masa lalu seolah belum sepenuhnya pergi.

Ia tetap hidup dalam batu, dalam nama tempat, dan dalam cerita yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

 

Catatan Kaki

 

[^1]: Rommi Kumontoy, Catatan Sejarah Lokal dan Tutur Lisan Kayuuwi, kompilasi oral history masyarakat Kayuuwi.

[^3]: J.G.F. Riedel, De Minahasa tot 1825 (Batavia: Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, 1872).

[^4]: Jessy Wenas, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa (Sulawesi Utara, 2007).

[^5]: E.C. Godeé Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Batavia: Landsdrukkerij, 1928).

[^6]: Nicolaas Graafland, De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand (Batavia, 1867).

[^7]: Arsip Monografi dan Catatan Kepemimpinan Desa Kayuuwi, Kecamatan Kawangkoan Barat.

[^8]: F.S.A de Clercq, Korte Bijdragen tot de Kennis der Minahassa (1870); Nicolaas Graafland, De Minahassa: Haar Verleden en Haar Tegenwoordige Toestand.

  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Tollelieuw dan Mackatoppa, berjalan bersama di tengah ketegangan politik Minahasa dan Bolaang Mongondow pada 1695.(ilustrasi)

    Nama-Nama Pemimpin Minahasa dalam Catatan VOC Tahun 1695

    • calendar_month 12 jam yang lalu
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Pada April 1695 seorang pejabat Kompeni VOC berkeliling ke negeri-negeri Minahasa. Ia mencatat nama setiap bobato, yaitu para pemimpin negeri dari hukum sampai marinyo, serta jumlah lelaki bersenjata, perempuan, dan anak di tiap negeri. Daftarnya masih tersimpan di Nationaal Archief, Den Haag, sebagai lampiran surat dari Ternate bertanggal 1 Oktober 1695. [1] Daftar itu memuat […]

  • Transformasi pemerintahan Minahasa besar-besaran terjadi setelah peristiwa Benteng Moraya (Ilustrasi)

    Transformasi Walak: Dari Persekutuan Otonom ke Mesin Administrasi Kolonial

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Perubahan besar dalam sejarah Minahasa tidak selalu hadir dalam bentuk perang terbuka. Sebagian justru berlangsung senyap melalui pergeseran struktur sosial, pengaturan ulang wilayah, dan redefinisi kekuasaan. Sistem walak, yang semula menjadi fondasi kehidupan masyarakat Minahasa, mengalami transformasi mendasar hingga akhir dekade 1820-an. Catatan sejarah yang dihimpun dalam Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 karya E.C. […]

  • Barisan mobil turis kapal Plancius yang mengunjungi Sawangan 1924 (foto Buku 𝘝𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘷𝘦𝘯 𝘦𝘯 𝘸𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯 𝘪𝘯 𝘐𝘯𝘥𝘪𝘦-𝘏𝘰𝘳𝘴𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘓.𝘏.𝘊. 1928/ Engel yong)

    Sawangan, Desa Tua Minahasa yang Menyimpan Rahasia Waruga

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Di wilayah utara Minahasa, tepatnya di kawasan Sawangan, Kecamatan Airmadidi, terbentang sebuah lanskap sejarah yang menyimpan lapisan peradaban panjang masyarakat Tonsea. Desa ini bukan sekadar permukiman tua di Minahasa Utara, melainkan salah satu ruang kebudayaan penting yang merekam perjalanan masyarakat Minahasa dari era megalitikum, masa walak tradisional, hingga penetrasi kolonial Belanda dan Jepang. Sawangan dikenal […]

  • Rumah Keluarga Warokka Kawangkoan

    Rumah Keluarga Warokka Kawangkoan

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Rumah adat Warokka berasal dari Desa Kumelembuay, Kecamatan Motoling. Saat ini rumah tersebut terletak di Kelurahan Sendangan, Kecamatan Kawangkoan, tepat di depan pertigaan jalan raya dan di depan kantor pembantu Bupati wilayah Kawangkoan.⁣⁣⁣     Rumah ini merupakan warisan dari orang tua, almarhum Lamberthus Alanos Warokka, yang pernah menjabat sebagai Hukum Besar Kawangkoan dan wafat […]

  • Rumah Sakit Pembantu di Sonder dan Tomohon

    Rumah Sakit Pembantu di Sonder dan Tomohon

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Sonder Pelayanan kesehatan yang dilakukan kalangan zending di Minahasa telah berlangsung sebelum berdirinya rumah sakit pembantu. J. W. Gunning, dalam tulisannya De Protestantsche Zending in de Minahassa tahun 1924, mencatat bahwa para zendeling di Minahasa berusaha memberikan bantuan medis kepada penduduk. Gunning menghubungkan pendirian sebuah hulpziekenhuis atau rumah sakit pembantu dengan tahun 1906. Tetapi dalam […]

  • Bangka sebagai Tempat Labuh Armada Jepang dalam Operasi Menado 1942

    Bangka sebagai Tempat Labuh Armada Jepang dalam Operasi Menado 1942

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Dalam operasi Jepang untuk merebut Menado pada Januari 1942, Bangka disebut sebagai tempat labuh yang harus dipertahankan dan dijaga. Kapal-kapal yang selesai membongkar muatan direncanakan berpindah ke sana, sementara satuan pangkalan membangun pertahanan pada jalur masuknya. Kegiatan tersebut dicatat dalam The Operations of the Navy in the Dutch East Indies and the Bay of Bengal, […]

expand_less