Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Surat Kartini untuk Minahasa: Kekaguman pada Tomohon dan Cahaya Pendidikan

Surat Kartini untuk Minahasa: Kekaguman pada Tomohon dan Cahaya Pendidikan

  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • visibility 82
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 24 September 1902, Raden Ajeng Kartini menulis sebuah surat yang memperlihatkan sisi lain dari dirinya: seorang perempuan Jawa yang bukan hanya memikirkan emansipasi dan pendidikan, tetapi juga pencarian spiritual yang mendalam.

Dalam surat yang ditujukan kepada N. Adriani itu, Kartini menyebut sebuah wilayah yang jauh dari Jepara, namun begitu dekat dengan hatinya: Minahasa, terutama Tomohon.

Bagi banyak orang, nama Kartini identik dengan perjuangan pendidikan perempuan di Jawa.

Namun sedikit yang mengetahui bahwa ia menaruh perhatian besar terhadap perkembangan pendidikan dan kehidupan masyarakat di tanah Minahasa pada awal abad ke-20.

Dalam surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam buku Door Duisternis Tot Licht, Kartini berkali-kali menunjukkan kekagumannya terhadap kemajuan masyarakat Minahasa.

Perhatian itu tumbuh ketika Kartini membaca laporan tentang sekolah pendidikan guru pribumi atau kweekschool di Tomohon.

Ia juga menaruh minat besar pada meisjesschool, sekolah asrama bagi gadis-gadis pribumi di Tomohon.

Di mata Kartini, kemajuan pendidikan di Minahasa menjadi bukti bahwa bangsa-bangsa pribumi di Hindia Belanda memiliki kemampuan untuk berkembang dan berdiri sejajar dengan bangsa lain.

Kartini menulis dengan penuh antusias bahwa setiap kabar dari Minahasa selalu membangkitkan perhatiannya.

Ia ingin datang langsung ke sana, mengenal rakyatnya, mempelajari sejarahnya, dan melihat bagaimana pendidikan dijalankan bagi perempuan pribumi.

Kekaguman itu bukan semata-mata karena keberhasilan pendidikan modern, melainkan juga karena ia melihat adanya semangat kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat Minahasa.

Dalam surat tersebut, Kartini bahkan menyebut Minahasa sebagai tempat di mana “pekerjaan peradaban” sedang tumbuh.

Ungkapan itu menunjukkan bahwa bagi Kartini, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari nilai-nilai sosial dan moral yang menopangnya.

⁣⁣⁣Dalam suratnya, Kartini menulis dengan penuh kekaguman pada kweekschool dan meisjesschool di Tomohon:⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
“𝘓𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘪𝘴𝘸𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘪𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘶𝘮𝘪 (kweekschool) 𝘥𝘪 𝘛𝘰𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪; 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘨𝘦𝘮𝘣𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳. 𝘔𝘦𝘳𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢-𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘏𝘪𝘯𝘥𝘪𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘨𝘶𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘫𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶! 𝘉𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘔𝘪𝘯𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘈𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘴𝘳𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴-𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘶𝘮𝘪 (meisjesschool) 𝘥𝘪 𝘛𝘰𝘮𝘰𝘩𝘰𝘯.” ⁣⁣
⁣⁣
“𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘔𝘪𝘯𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘪𝘯𝘢𝘩𝘢𝘴𝘢. 𝘒𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳.”⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
Namun yang paling menyentuh adalah bagaimana Kartini melihat kehidupan rohani di sana. Ia membayangkan Minahasa sebagai tempat yang damai, penuh kasih, dan dihuni orang-orang yang hidup untuk melayani sesama. Di tengah kegelisahan hidupnya, Kartini merindukan suasana yang dapat menenangkan jiwa: lingkungan yang dipenuhi cinta kasih dan pengabdian kepada manusia.⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
Dalam surat itu Kartini juga menulis kalimat yang sangat dalam:⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
“𝘚𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯! 𝘒𝘪𝘯𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘨𝘦𝘮𝘢 𝘴𝘶𝘤𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘬𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪. 𝘖𝘩! 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘦𝘳𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘋𝘪𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢. 𝘈𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘬𝘪𝘮𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩!” ⁣⁣
⁣⁣
“𝘋𝘪𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘦𝘮𝘢𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘪: 𝘬𝘦𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘴𝘪𝘩.”⁣⁣
⁣

Di tengah pergulatan hidupnya sebagai perempuan pribumi dalam struktur feodal dan kolonial, Kartini menemukan ketenangan dalam keyakinan spiritual. Ia menulis tentang Tuhan sebagai “Bapa Kasih” yang melindungi manusia dengan cinta dan pengampunan.

Pandangan tersebut memperlihatkan keluasan pemikiran Kartini tentang Ketuhanan. Ia tidak memandang agama sekadar sebagai identitas formal, tetapi sebagai jalan menuju kasih kepada sesama manusia.

Dalam suratnya, ia menyebut bahwa nama Tuhan memiliki “gema suci dan makna kudus” dalam hidupnya. Ia merasa damai setelah menemukan keyakinan bahwa ada kekuatan kasih yang membimbing manusia.

Menariknya, refleksi spiritual itu muncul bersamaan dengan kekagumannya terhadap Minahasa.

Kartini membayangkan sebuah masyarakat yang hidup dalam pendidikan, pelayanan, dan pengabdian kepada sesama. Ia melihat hubungan erat antara kemajuan pendidikan dan nilai kemanusiaan.

Pada masa itu, Minahasa memang dikenal sebagai salah satu wilayah di Hindia Belanda yang mengalami perkembangan pendidikan cukup pesat.

Kehadiran sekolah guru dan sekolah perempuan di Tomohon menjadikan daerah itu sebagai pusat pembelajaran modern di kawasan timur Nusantara.

Kondisi tersebut menarik perhatian banyak tokoh pergerakan dan intelektual bumiputra, termasuk Kartini.

Meski keinginannya untuk mengunjungi Minahasa tidak pernah terwujud, surat itu menjadi jejak penting yang memperlihatkan hubungan emosional Kartini dengan tanah Minahasa.

Dari Jepara, ia memandang Tomohon sebagai cahaya kecil peradaban yang memberi harapan bagi masa depan bangsa pribumi.

Lebih dari satu abad kemudian, surat itu tetap relevan untuk dibaca kembali. Di dalamnya terdapat gagasan tentang pendidikan, kemanusiaan, toleransi, dan spiritualitas yang melampaui zamannya. Kartini tidak hanya berbicara tentang emansipasi perempuan, tetapi juga tentang bagaimana manusia menemukan Tuhan melalui kasih dan pelayanan kepada sesama. (Engel Yong)

 

Catatan Kaki

 

  1. R.A. Kartini, Door Duisternis Tot Licht (1912), kumpulan surat-surat Kartini yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
  2. Surat Kartini kepada N. Adriani tertanggal 24 September 1902 memuat pandangannya mengenai pendidikan di Minahasa, khususnya kweekschool dan meisjesschool di Tomohon.
  3. Tomohon pada awal abad ke-20 dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan modern di Minahasa, terutama melalui sekolah guru dan pendidikan perempuan yang berkembang di bawah pengaruh zending dan pemerintah kolonial.
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Dari kiri ke kanan L. Oesoe, S.D. Paparang, P. Sasenggala, W.A. Sarapil, A.L. Andaria, B. Makaminang, dan J.H. Kathiandagho.⁣⁣⁣ Tahuna, 24 September 1927 (Leiden University Libraries - KITLV)

    Tampungang Lawo dalam Historiografi Sangihe: Antara Memori Kolektif dan Sumber Kolonial

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Di bentangan Laut Sulawesi yang menghubungkan Sulawesi, Kepulauan Sulu, dan Mindanao, Kepulauan Sangihe telah lama menjadi simpul penting dalam jaringan pelayaran Asia Tenggara. Jauh sebelum batas-batas negara modern membelah kawasan ini, laut bukanlah pemisah, melainkan jalan raya yang menghubungkan manusia, perdagangan, kebudayaan, dan kekuasaan. Dalam ingatan kolektif masyarakat Sangihe, kisah awal terbentuknya tatanan politik di […]

  • Walian Abad Ke-15: Peran dalam Sejarah Minahasa

    Walian Abad Ke-15: Peran dalam Sejarah Minahasa

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2024
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Pada abad ke-15, jalur perdagangan rempah-rempah yang berkembang pesat di Ternate dan Tidore membawa pengaruh besar ke Minahasa. Pelabuhan-pelabuhan di wilayah ini menjadi ramai oleh pedagang dari berbagai bangsa, termasuk Cina, Arab, Portugis, dan Spanyol. Interaksi ini tidak hanya melibatkan barang dagangan tetapi juga budaya, agama, dan konflik.   Minahasa dalam Perdagangan Global   Ekspedisi […]

  • Frederik Sigismund Alexander de Clercq, kontrolir Minahasa 1891 (repro familiedeclercq.com)

    190 Hari Rodi: Beban Berat Rakyat Minahasa di Bawah Pemerintahan Kolonial

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Satu tahun berisi 365 hari. Dalam sebuah karangan kecil yang terbit di Belanda pada November 1892, disebutkan bahwa penduduk salah satu distrik di Minahasa sepanjang tahun 1890 menjalani 190 hari kerja wajib gabungan heerendienst, negorijdienst, dan cultuurdienst.[^1] Lebih dari separuh tahun. Angka semacam itu mudah dicurigai sebagai angka pihak yang sedang berdebat. Karena itu tulisan […]

  • Gereja di tengah sawah. Di latar belakang terlihat Danau Tondano dan M. Oostwoud Wijdenes (repro foto Tropisch Nederland 1935)

    Tourikeran dan Toulawanan: Asal-Usul Orang Tondano Sebelum Era Kolonial

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • visibility 235
    • 0Komentar

    Di tepian Danau Tondano yang tenang hari ini, tersimpan jejak panjang sebuah peradaban air yang pernah menjadi pusat kehidupan masyarakat Minahasa bagian timur. Sebelum jalan-jalan kolonial dibuka, sebelum pemerintah Hindia Belanda membentuk distrik dan birokrasi modern, masyarakat Tondano telah hidup dalam tatanan sosial yang mapan, egaliter, dan sangat bergantung pada danau sebagai sumber kehidupan. Sejarah […]

  • Dari Lembeh ke Lombagin: Awal Mula Konflik Minahasa dan Lahirnya Bangsa Bolaang

    Dari Lembeh ke Lombagin: Awal Mula Konflik Minahasa dan Lahirnya Bangsa Bolaang

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Sejarah Minahasa tidak hanya ditandai oleh kisah asal-usul para leluhur seperti Lumimuut dan Toar. Dalam naskah tua abad ke-19 yang disusun oleh J.G.F. Riedel, Inilah Pintu Gerbang Pengatahuwan Itu… Hhikajatnja Tuwah Tanah Minahasa (1862), tercatat pula periode yang penuh gejolak: masa peperangan antara masyarakat Minahasa dan kelompok yang kemudian dikenal sebagai bangsa Bolaang. Riedel menempatkan […]

  • Linguistik Bahasa Melayu Manado: Dari Bahasa Perantara hingga Identitas Regional

    Linguistik Bahasa Melayu Manado: Dari Bahasa Perantara hingga Identitas Regional

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Bahasa Melayu Manado (atau Minahasa- of Manado-Maleis) merupakan salah satu varian bahasa Melayu dialek pasifik yang memiliki jejak sejarah dan perkembangan linguistik yang unik di kawasan Semenanjung Utara Sulawesi. Meskipun menjadi sarana komunikasi utama masyarakat di Minahasa dan sekitarnya, bahasa ini sempat dikategorikan sebagai salah satu bahasa daerah yang relatif kurang banyak didokumentasikan dan dianalisis […]

expand_less