Opo Telew: Sang Penjaga Cakrawala Pantai Timur Minahasa, dan Sayap Ksatria yang Terlupakan
- calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
- visibility 97
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Angin laut yang berhembus dari Laut Maluku senantiasa membawa aroma garam dan cerita lama ke pesisir timur Minahasa.
Di sebuah tanjung berbukit di Desa Tumpaan, Kakas, alam seolah menyimpan sebuah rahasia besar tentang seorang pria yang namanya pernah menggetarkan nyali para perampok samudra. Ia adalah Opo Telew, sosok yang hidup di antara dua dunia: fakta sejarah kolonial dan legenda mistis masyarakat lokal.
Secara administratif, sejarah mencatat keberadaan Opo Telew pada era 1820-an. Saat itu, Minahasa sedang mengalami transisi besar di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Nama Telew tercatat sebagai salah satu dari “Empat Opo” atau pemimpin masyarakat yang memiliki otoritas kuat di wilayah Makatete dan Waruasey, Minahasa Utara.
Tugas yang dipikulnya tidaklah ringan. Bersama Opo Koloai dan Opo Paemanan, Telew memimpin pemindahan pemukiman penduduk dari wilayah pedalaman Waruasey menuju jalur Jalan Pos (Grote Postweg). Keputusan strategis ini diambil agar masyarakatnya tetap aman namun memiliki akses langsung ke jalur ekonomi baru yang sedang dibangun pemerintah kolonial antara Manado dan Kema.
Namun, di balik jabatannya sebagai Tonaas atau Ukung, rakyat lebih mengenalnya sebagai “Jago Terbang”. Julukan ini bukan sekadar bumbu cerita, melainkan memori kolektif tentang kehebatannya menjaga pantai timur dari ancaman paling mengerikan pada abad ke-19: serangan bajak laut Mangindano (Lanun) dari Filipina Selatan.
Pada masa itu, pantai timur seperti Kema dan Likupang adalah “zona merah”. Perampok Mangindano datang dengan perahu cepat untuk menjarah desa dan menculik penduduk. Di sinilah Opo Telew tampil sebagai Coast Guard tradisional. Ia memimpin pertahanan pesisir dengan taktik yang tak terduga, yang kemudian melahirkan mitos bahwa ia bisa melayang di udara.
Kesaktiannya dalam melompat jauh atau berpindah tempat dalam sekejap dikaitkan dengan ilmu Lelipuran, sebuah puncaknya ilmu Waranei (ksatria) Minahasa. Dalam pertempuran, ia dikisahkan mampu melompat dari tebing tinggi langsung ke atas geladak perahu musuh sebelum mereka sempat mendarat. Pendaratannya yang mengejutkan sering kali dianggap sebagai kemampuan “terbang” oleh lawan yang ketakutan.
Secara fisik, penampilan Opo Telew mencerminkan disiplin tinggi seorang ksatria. Ia memiliki rambut panjang yang selalu tampak klimis dan licin. Ini adalah gaya rambut Tounipus khas subetnis Tonsea dan Tombulu. Rambut itu diolesi minyak kelapa kental agar dalam pergumulan satu lawan satu, musuh tidak bisa menjambak atau mencengkeram kepalanya.
Setiap pergerakannya di medan laga didukung oleh persenjataan yang mumpuni. Senjata utamanya adalah Santi, pedang pendek khas Minahasa dengan ujung yang berat. Santi dirancang untuk tebasan mematikan di ruang sempit, seperti di atas dek kapal yang penuh sesak oleh musuh.
Selain Santi, ia juga mahir menggunakan Kelung, perisai kayu hitam yang dihiasi ukiran perlindungan. Kelung bukan sekadar alat tangkis, melainkan bagian dari pertahanan diri yang sangat lincah. Di tangan Opo Telew, perisai ini menjadi tameng yang tak tertembus sekaligus senjata tumpul untuk menghantam wajah lawan.
Sebagai senjata cadangan, ia menyelipkan keris di balik pakaiannya. Berbeda dengan keris Jawa, keris yang digunakan para ksatria Minahasa era itu cenderung lurus dan fungsional sebagai senjata pamungkas untuk pertempuran jarak sangat dekat atau “hidup-mati”.
Taktik pertahanan yang ia terapkan juga melibatkan sistem peringatan dini. Melalui pos-pos pantau di bukit-bukit tinggi, para Waranei memantau cakrawala. Begitu armada Mangindano terlihat, isyarat asap atau bunyi Tetengkoran segera dikirimkan ke desa-desa di pedalaman agar penduduk segera mengungsi.
Salah satu lokasi strategis yang menjadi markas pengintaiannya adalah sebuah bukit di Desa Tumpaan. Di tempat yang kini dikenal sebagai Bukit Telew, ia menghabiskan masa-masa tugas terakhirnya. Bukit ini bukan sekadar pos militer, melainkan tempat di mana spiritualitas dan strategi militer menyatu.
Dikisahkan oleh Tonaas Rommy Kilala, Bukit Telew hingga kini masih dianggap memiliki aura wingit. Tradisi lisan menyebutkan adanya “pasukan ular” yang menjaga bukit tersebut. Siapa pun yang mendaki dengan niat jahat atau hati yang kotor akan dihalangi dan dikejar oleh segerombolan ular gaib sebelum sempat mencapai puncak.
Sisi keramat bukit ini bahkan diakui oleh para pemimpin modern. Pada tahun 1970-an, Gubernur Sulawesi Utara saat itu, H.V. Worang, sering datang ke bukit ini untuk ba ator. Ini adalah bentuk penghormatan gubernur kepada leluhur yang telah berjasa melindungi tanah Minahasa dari serangan asing di masa lampau.
Sayangnya, kondisi saat ini sungguh kontras dengan kemegahan sejarahnya. Bukit Telew kini tampak seperti situs yang terbengkalai. Rumput ilalang tumbuh liar menutupi jejak-jejak keberadaan sang pahlawan, seolah waktu mencoba menghapus memori tentang keberanian yang pernah ada di sana.
Lebih memprihatinkan lagi, sebuah batu besar yang secara turun-temurun diyakini sebagai tempat duduk Opo Telew saat ia bersemedi, kini telah raib. Hilangnya benda bersejarah ini menjadi pukulan telak bagi pelestarian sejarah lokal. Tanpa artefak fisik, generasi muda hanya akan mengenal Opo Telew sebagai dongeng belaka.
Namun, semangat Opo Telew tidak sepenuhnya musnah. Sekitar dua kilometer dari bukit tersebut, tepatnya di Desa Kayuwatu, darah sang ksatria masih mengalir deras. Desa ini merupakan pemukiman induk bagi keturunan langsung Opo Telew yang hingga kini terus merawat silsilah keluarga mereka.
Keturunan-keturunan ini membentuk sebuah wadah yang disebut Rukun Telew. Organisasi ini menjadi benteng terakhir yang menjaga agar narasi kepahlawanan kakek buyut mereka tetap hidup. Di sana, cerita tentang “Jago Terbang” diceritakan kembali dalam setiap pertemuan keluarga, dari generasi ke generasi.
Meski tempat semedinya terlantar, secara sembunyi-sembunyi masih ada orang-orang tertentu yang datang ke Bukit Telew untuk melakukan ritual penghormatan. Mereka percaya bahwa meski batunya telah hilang, energi sang penjaga pantai masih bersemayam di puncak bukit itu, memantau cakrawala timur yang kini mulai tenang.
Keberadaan Opo Telew memberikan perspektif baru tentang bagaimana Minahasa bertahan di abad ke-19. Ia membuktikan bahwa masyarakat lokal tidak pasif di bawah kolonialisme, melainkan memiliki sistem pertahanan mandiri yang sangat efisien untuk melindungi kedaulatan tanah dan nyawa penduduknya.
Kombinasi antara kekuatan fisik (Waranei), kecerdasan strategi (Ukung), dan kekuatan spiritual (Tonaas) menjadikan sosok Telew sebagai pemimpin yang lengkap. Ia adalah manifestasi dari nilai-nilai luhur Minahasa yang selalu mengedepankan perlindungan terhadap keluarga dan tanah air (Mapalus dalam bentuk pertahanan).
Membaca esai tentang Opo Telew adalah upaya untuk “pulang” ke akar sejarah. Kita diajak untuk melihat bahwa keamanan yang kita nikmati di pesisir Sulawesi Utara saat ini adalah hasil dari tetesan keringat dan darah para ksatria masa lalu yang berdiri tegak menghadapi badai dari utara.
Rukun Telew di Kayuwatu adalah bukti bahwa identitas tidak bisa dihapus hanya dengan hilangnya sebuah batu. Mereka adalah “monumen hidup” yang membawa nama besar Telew menembus zaman, melampaui segala keterbatasan dokumentasi tertulis yang sering kali abai terhadap pahlawan lokal.
Pemerintah daerah dan masyarakat adat sebenarnya memiliki tanggung jawab moral untuk memugar kembali Bukit Telew. Menjadikannya situs cagar budaya bukan hanya soal pariwisata, melainkan soal menghormati martabat bangsa sendiri agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi.
Bayangkan jika Bukit Telew ditata kembali dengan baik; ia bisa menjadi simbol ketangguhan bahari Minahasa. Generasi masa depan bisa berdiri di puncak yang sama dengan sang Opo, menatap laut yang sama, dan merasakan semangat keberanian yang sama untuk menjaga tanah air mereka.
Hingga saat ini, jika Anda berdiri di pesisir Tumpaan saat matahari terbenam, seolah-olah Anda bisa melihat bayangan seorang pria berambut klimis sedang melayang di antara tebing karang. Itu bukanlah ilusi, melainkan sisa-sisa energi dari seorang penjaga yang berjanji tidak akan pernah membiarkan negerinya jatuh ke tangan perampok.
Opo Telew adalah pengingat bahwa pahlawan tidak selalu datang dengan seragam resmi atau tercatat dalam buku sejarah nasional yang tebal. Kadang, mereka hidup dalam doa-doa di Bukit Telew, dalam tebasan Santi yang legendaris, dan dalam rukun keluarga di Desa Kayuwatu.
Tulisan ini merupakan sebuah ajakan untuk tidak lagi membiarkan Bukit Telew terlantar. Kehilangan batu semedi adalah sebuah tragedi, namun kehilangan ingatan kolektif tentang perjuangan Opo Telew adalah bencana budaya yang jauh lebih besar bagi masyarakat Minahasa.
Biarlah esai ini menjadi pengingat bahwa sayap ksatria dari Tumpaan itu belum patah. Selama masih ada keturunan yang mengingat namanya dan tonāas yang menceritakan kisahnya, Opo Telew akan tetap “terbang” menjaga cakrawala timur Minahasa, hari ini hingga selamanya.
Satu hal yang pasti, meski zaman terus berganti, semangat sang penjaga pantai akan selalu ada di sana—di antara desau angin pesisir dan puncak sunyi Bukit Telew—menanti kita untuk kembali menghargai jasa-jasanya yang luar biasa.
Penulis: Recky Paulus Runtuwene
- Penulis: Moderator Malesung
