Sejarah Desa Tumaluntung Minahasa Utara: Jejak Dotu Rotti dan Asal Usul Negeri Tua Tonsea
- calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
- visibility 156
- comment 0 komentar
- print Cetak

Waruga desa Tumaluntung Tonsea ada 305 lebih yang utuh 261 waruga, yang lainnya rusak karena tidak terawat (Herry Lumempouw, 2021)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di antara hamparan perbukitan dan lembah subur di Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, berdiri Desa Tumaluntung, sebuah desa tua yang menyimpan jejak panjang perjalanan masyarakat Tonsea. Bagi warga setempat, Tumaluntung bukan sekadar wilayah administratif, melainkan ruang sejarah yang diwariskan turun-temurun sejak pertengahan abad ke-17.
Kisah Tumaluntung bermula pada tahun 1656 ketika sekelompok leluhur Minahasa meninggalkan Kembuan atau Tonsea Lama untuk mencari tempat pemukiman baru.
Dalam catatan sejarah lokal yang diwariskan oleh mantan Hukum Tua Albert Warouw, rombongan tersebut dipimpin oleh Dotu Rotti bersama 37 orang leluhur beserta keluarga dan pengikutnya.^[1]
Perjalanan panjang itu melintasi sejumlah kawasan yang kini menjadi bagian dari wilayah Minahasa Utara. Mereka bergerak dari Kembuan menuju Walantakan, Wewuringen, Tinengadan si Kooko, Sawangan, hingga akhirnya tiba di sebuah tempat yang dikenal sebagai Kadimbatu.
Membaca Petunjuk Alam
Bagi masyarakat Minahasa kuno, alam bukan hanya ruang hidup, tetapi juga sumber petunjuk. Karena itu, keputusan menentukan lokasi pemukiman sering kali didasarkan pada tanda-tanda yang diyakini berasal dari Opo Empung, Sang Pencipta.
Di Kadimbatu, rombongan kemudian terpecah menjadi beberapa kelompok.
Kelompok yang dipimpin Dotu Wagiu, adik Dotu Rotti, semula hendak bergerak ke arah kanan. Namun, dua ekor burung yang tampak saling bertarung dianggap sebagai pertanda untuk menghentikan perjalanan.
Setelah menunggu selama tiga hari, seekor burung manguni memberikan arah baru ke sebelah kiri. Mereka akhirnya menemukan sumber air di wilayah yang kini dikenal sebagai Doud Tumetenden.
Sementara itu, kelompok Dotu Makalew bergerak menyusuri tepian Kali Tondano. Perjalanan mereka terhenti setelah seekor ular hitam besar melintang di jalur yang akan dilewati.
Pertanda tersebut ditafsirkan sebagai larangan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian menetap dan menamai wilayah itu Kinaengkoan, yang kini dikenal sebagai Kawangkoan di Kelawat Bawah.^[2]
Adapun Dotu Rotti bersama pengikutnya melanjutkan perjalanan ke arah timur hingga tiba di sebuah dataran yang dikelilingi pegunungan. Di tempat itu, ketika mereka sedang makan bersama, seekor burung besar menjatuhkan kotoran tepat di lokasi perjamuan.
Peristiwa tersebut membuat kawasan itu dikenal dengan sebutan pata’ian ni ko’ko’. Rombongan menetap di sana selama kurang lebih 23 tahun.^[1]
Dari Matalengteng Menjadi Tumaluntung
Seiring waktu, lokasi tersebut dianggap kurang nyaman untuk dihuni. Rombongan Dotu Rotti kemudian berpindah sekitar 500 meter ke arah utara.
Di tempat baru itu mereka menemukan sebuah air terjun yang menghasilkan suara bergema kuat. Bunyi jatuhan air yang terdengar seperti “teng, teng, teng” menginspirasi nama Matalengteng, yang secara harfiah merujuk pada bunyi air yang jatuh.
Nama tersebut kemudian mengalami perubahan menjadi Mataluntung. Dalam perkembangan berikutnya, pada tahun 1725, nama itu disempurnakan menjadi Tumaluntung.
Dalam bahasa Tonsea, kata tersebut berkaitan dengan makna gema, gaung, atau sesuatu yang termasyhur. Nama itu bukan hanya menggambarkan suara alam yang khas, tetapi juga menjadi simbol harapan agar negeri yang dibangun para leluhur dikenal luas oleh generasi mendatang.^[3]
Menghadapi Ancaman Perompak
Masa-masa awal berdirinya Tumaluntung tidak selalu berlangsung damai.
Tradisi lisan masyarakat setempat menyebutkan bahwa wilayah pesisir Minahasa Utara kerap menjadi sasaran kelompok perompak yang datang dari arah Loloda, Mangindano, dan Tasikela.
Mereka memasuki pedalaman melalui jalur sungai dari Pelabuhan Kema untuk menculik penduduk dan merampas hasil bumi.
Menghadapi ancaman itu, Dotu Rotti menugaskan Dotu Gerung bersama para waranei atau ksatria desa untuk menjaga kawasan timur.
Pertempuran besar kemudian terjadi di wilayah Kayawu yang kini menjadi bagian dari Desa Kawiley. Dalam kisah yang diwariskan turun-temurun, pasukan Tumaluntung berhasil mengalahkan para perompak.
Pemimpin mereka yang dikenal dengan nama Santerina disebut melarikan diri setelah mengalami kekalahan.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari memori kolektif masyarakat Tumaluntung dan turut membentuk identitas kepahlawanan yang masih dikenang hingga kini.
Pengaruh VOC dan Pemerintah Kolonial
Memasuki akhir abad ke-17, hubungan Minahasa dengan VOC mulai membawa perubahan besar dalam tata pemerintahan lokal.
Setelah penandatanganan Traktat 10 Januari 1679 antara VOC dan para kepala walak Minahasa, wilayah Tumaluntung masuk dalam struktur pemerintahan Walak Tonsea.^[4]
Perubahan tersebut berlangsung secara bertahap. Sistem kepemimpinan adat yang sebelumnya dipimpin Tonaas mulai diintegrasikan ke dalam sistem administrasi kolonial.
Dari sinilah lahir jabatan Hukum Tua yang kemudian dikenal sebagai kepala desa.^[5]
Pada tahun 1745, wilayah Tumaluntung mengalami pemekaran menjadi tiga negeri, yakni Tumaluntung, Tumopo, dan Wangurer. Namun pada 1854 pemerintah Hindia Belanda kembali menyatukan ketiganya menjadi satu wilayah administrasi bernama Negeri Tumaluntung.
Perubahan kembali terjadi pada 1917 ketika Tumaluntung, Paslaten, dan Lembean digabungkan dalam sistem Hukum Tua Sambung. Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1922, kebijakan tersebut dihentikan dan Tumaluntung kembali memperoleh status sebagai desa yang berdiri sendiri.
Dari Peladang Menjadi Sentra Agraris
Selain mengubah struktur pemerintahan, masa kolonial juga membawa transformasi ekonomi.
Masyarakat yang sebelumnya mengandalkan sistem ladang tradisional mulai diperkenalkan pada komoditas perdagangan seperti kopi dan kelapa. Produksi kopra kemudian menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat hingga memasuki abad ke-20.
Pada periode yang sama, para misionaris dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) mulai aktif di wilayah Tonsea. Kehadiran mereka tidak hanya memperkenalkan agama Kristen Protestan, tetapi juga membuka sekolah-sekolah rakyat yang meningkatkan tingkat literasi masyarakat secara signifikan.^[6]
Menjaga Warisan Leluhur
Hingga kini, Tumaluntung tetap dikenal sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Minahasa di Minahasa Utara.
Tradisi Mapalus, yang menekankan semangat gotong royong dan kerja bersama, masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Nilai tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sebagai fondasi solidaritas sosial.
Di bidang seni budaya, Tumaluntung dikenal sebagai salah satu sentra pengembangan Kolintang, alat musik tradisional Minahasa yang telah mendunia.
Desa ini juga mempertahankan Tari Kabasaran, tarian perang yang melambangkan keberanian para waranei, serta Tari Maengket, tarian syukur agraris yang masih ditampilkan dalam berbagai perayaan adat.
Lebih dari tiga setengah abad setelah pertama kali dibuka oleh para leluhur, Tumaluntung terus berdiri sebagai saksi perjalanan panjang masyarakat Tonsea. Di tengah arus modernisasi, desa ini tetap menyimpan jejak sejarah yang memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas membangun identitasnya melalui migrasi, perjuangan, dan pelestarian budaya.
Catatan Kaki
- Catatan sejarah lokal Desa Tumaluntung yang disusun dan diwariskan oleh mantan Hukum Tua Tumaluntung, Albert Warouw (Alm.).
- Kisah migrasi, burung manguni, dan ular hitam sebagai penanda wilayah merupakan bagian dari kosmologi Malesung Kuno yang dikenal luas dalam tradisi lisan masyarakat Minahasa.
- Nicolaas Graafland, De Minahassa (Rotterdam: Nijgh, 1867), menjelaskan bahwa banyak nama kampung di wilayah Tonsea berasal dari karakteristik bentang alam, terutama sungai dan air terjun.
- Traktat 10 Januari 1679 antara Gubernur VOC Robertus Padtbrugge dan para kepala walak Minahasa yang menandai awal hubungan politik formal antara VOC dan Minahasa.
- David E. F. Henley, Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies (Leiden: KITLV Press, 1996), mengenai transformasi struktur pemerintahan adat Minahasa ke dalam birokrasi kolonial Hindia Belanda.
- F. S. Watuseke, berbagai kajian sejarah pendidikan dan zending di Minahasa abad ke-19; lihat pula Graafland, De Minahassa, mengenai peran NZG dalam penyebaran pendidikan dasar dan agama Kristen di Minahasa.
- Penulis: Moderator Malesung
