Di Balik Rumah Minahasa: Kebersihan dan Kesehatan pada Awal Abad ke-20
- calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
- visibility 87
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rumah di Langowan (Minahasa), tahun 1924 - Wereldmuseum
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada awal abad ke-20, rumah bukan sekadar tempat tinggal bagi masyarakat Minahasa, tetapi juga menjadi bagian penting dari persoalan kesehatan. Hubungan antara bentuk rumah, kebersihan, makanan, penyakit, dan lingkungan menjadi perhatian dokter A. C. N. Bouvy ketika bertugas selama empat tahun sebagai dokter di Minahasa. Dalam tulisannya De Minahassa en de Geneeskunst, yang diterbitkan pada 1924 dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Bouvy mencoba melihat kesehatan penduduk Minahasa dari pengalaman medisnya sendiri. Karena itu, tulisannya tidak hanya membicarakan penyakit, tetapi juga menggambarkan rumah dan kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa tersebut.¹
Rumah panggung dan persoalan kesehatan
Salah satu hal yang menarik perhatian Bouvy adalah bentuk rumah Minahasa. Ia mencatat bahwa salah satu keuntungan rumah Minahasa terletak pada bangunannya yang berdiri di atas tiang atau steenen neuten. Rumah-rumah tersebut umumnya terbuat dari kayu dengan lantai papan. Menurut pengamatannya, konstruksi demikian memiliki keuntungan tertentu dari sudut pandang kebersihan karena kotoran yang jatuh di lantai dapat masuk melalui celah-celah papan dan tidak seluruhnya tetap berada di dalam ruang rumah. Dengan demikian, bentuk rumah panggung justru dianggap memberikan keuntungan kesehatan tertentu dibandingkan rumah yang langsung berdiri di atas tanah.²
Namun, Bouvy tidak berhenti pada bentuk bangunan. Ia memperhatikan bagaimana ruang dalam rumah digunakan. Di bagian depan terdapat voorgalerij atau serambi yang menurutnya terutama digunakan ketika menerima tamu. Di belakangnya terdapat ruang tempat tinggal, dengan tempat tidur kayu yang umumnya dilengkapi kelambu. Akan tetapi, Bouvy mengkritik penggunaan kelambu yang menurut pengamatannya sering kali lebih bersifat hiasan daripada perlindungan efektif terhadap nyamuk. Ia menemukan kelambu yang berlubang, tidak tertutup sempurna, bahkan tidak selalu dipasang sampai ke bagian dinding.³
Bagi Bouvy, persoalan rumah tidak dapat dipisahkan dari kebersihan penghuninya. Ia menggambarkan bahwa pembersihan rumah dengan air tidak menjadi kebiasaan yang umum. Debu dibiarkan menumpuk pada perabot dan lantai, sementara pakaian menurut pengamatannya jarang dicuci dengan sabun. Ia juga mencatat penggunaan sabun yang masih terbatas dalam kegiatan mandi dan kebersihan tubuh. Dalam pandangan medis Bouvy pada zamannya, keadaan tersebut merupakan persoalan penting karena kebersihan rumah dan tubuh berkaitan langsung dengan munculnya berbagai penyakit kulit dan infeksi.⁴
Rumah, sanitasi, dan penyakit
Persoalan yang lebih besar muncul pada sanitasi lingkungan rumah. Bouvy mencatat bahwa di sejumlah rumah terdapat persoalan berkaitan dengan tempat pembuangan kotoran. Ia bahkan menyebut adanya rumah yang tidak memiliki privaat atau jamban, sementara kotoran dapat ditemukan di sekitar rumah dan dekat dengan tempat memasak. Dalam pandangan medisnya, keadaan tersebut menciptakan lingkungan yang memungkinkan penyakit berkembang dan menyebar. Karena itu, ia melihat pembangunan sanitasi bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan bagian dari pencegahan penyakit.⁵
Pandangan tersebut menjadi semakin penting ketika Bouvy membahas malaria dan typhus. Ia menilai bahwa hampir tidak ada wilayah di Minahasa yang benar-benar terbebas dari malaria, sementara daerah rawa dan pesisir lebih sering menjadi tempat berkembangnya nyamuk Anopheles. Menurutnya, pencegahan malaria harus dilakukan melalui pengeringan rawa, penghilangan genangan air, pemberantasan tempat berkembang biak nyamuk, penggunaan kelambu, serta pengobatan dengan kina. Dengan demikian, rumah dan lingkungan permukiman dipandang sebagai bagian dari garis depan dalam perjuangan melawan penyakit.⁶
Typhus juga menjadi perhatian Bouvy. Ia menyebut penyakit tersebut bersifat endemik di Minahasa dan banyak ditemukan terutama di sekitar Manado dan Tondano. Dalam pengamatannya, lalat merupakan salah satu ancaman kesehatan yang penting karena dapat membawa kontaminasi dari kotoran menuju makanan dan tubuh manusia. Karena itu, ia mendorong penggunaan saluran pembuangan yang baik, tempat sampah tertutup, pemusnahan sampah, penggunaan jamban, serta perlindungan makanan dari lalat. Bouvy bahkan menggambarkan kondisi lingkungan belakang rumah di pusat Manado yang menurutnya sangat kotor dan memiliki genangan air tidak jauh dari pasar.⁷
Rumah dan kehidupan keluarga
Kesehatan rumah tangga juga terlihat dari cara masyarakat merawat orang sakit. Bouvy memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak. Ia menilai bahwa perawatan bayi dan anak di rumah masih menghadapi banyak persoalan, terutama dalam hal kebersihan makanan dan tubuh. Ia mencatat praktik pemberian makanan yang menurut pengamatannya dilakukan dengan tangan dan kuku yang tidak bersih, serta kebiasaan tertentu ketika anak sakit yang mencampurkan perawatan sehari-hari dengan praktik tradisional dan kepercayaan mengenai roh jahat. Bagi Bouvy, kebersihan makanan, keteraturan pemberian makanan, dan perawatan kulit merupakan hal yang dapat mengurangi angka kematian anak.⁸
Menariknya, tulisan Bouvy juga memperlihatkan bagaimana rumah menjadi tempat bertemunya pengetahuan medis modern dan kebiasaan lama. Ketika penyakit menyerang, ia mengamati bahwa sebagian masyarakat masih menggunakan berbagai cara pengobatan tradisional, termasuk ramuan tumbuhan, daun yang dikunyah, tembakau atau sirih untuk luka, hingga praktik pengasapan dan persembahan dalam keadaan tertentu. Bouvy mengkritik sejumlah praktik tersebut dari sudut pandang kedokteran Barat, tetapi catatannya justru penting bagi sejarah karena memperlihatkan bahwa pengobatan masyarakat Minahasa pada masa itu tidak sepenuhnya bergantung pada dokter dan rumah sakit.⁹
Rumah Minahasa di tengah wabah
Hubungan antara rumah dan kesehatan semakin terlihat ketika Minahasa menghadapi epidemi influenza pada 1918 (dikenal dengan Flu Spanyol). Bouvy mencatat bahwa influenza mulai muncul di Manado pada Juli dan Agustus 1918 dalam bentuk yang relatif ringan, tetapi pada akhir Oktober penyakit tersebut kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar dan berlangsung selama sekitar tiga bulan. Dalam menghadapi penyakit tersebut, ia menekankan pentingnya istirahat di tempat tidur. Menurut pengalamannya, banyak orang sakit tidak benar-benar menjalankan bedrust dan masih bangun atau keluar rumah ketika kondisi tubuh belum pulih.ⁱ⁰
Dalam konteks ini, Bouvy bahkan membandingkan tempat tidur tradisional dengan kebutuhan pasien yang sedang sakit. Ia mencatat bahwa tempat tidur sederhana berupa papan keras atau peti dengan alas tipis tidak selalu memberikan tempat istirahat yang baik bagi pasien. Menurut pengalaman medisnya, pasien lebih nyaman menggunakan tempat tidur dengan kasur. Ia juga memperingatkan bahwa rumah yang sangat terbuka dapat membuat pasien mengalami perubahan suhu dan terkena angin, sesuatu yang menurutnya berbahaya terutama ketika influenza telah menyerang paru-paru.¹¹
Rumah sebagai bagian dari sejarah kesehatan Minahasa
Tulisan Bouvy menunjukkan bahwa sejarah rumah Minahasa tidak dapat dipisahkan dari sejarah kesehatan masyarakat. Rumah panggung memberikan keuntungan tertentu dalam mengurangi penumpukan kotoran di dalam rumah, tetapi persoalan kebersihan, sanitasi, air, jamban, makanan, nyamuk, lalat, dan perawatan orang sakit tetap menjadi tantangan. Bouvy melihat bahwa perbaikan kesehatan membutuhkan perubahan lingkungan permukiman secara keseluruhan, termasuk pembangunan saluran air, pengelolaan sampah, dan perbaikan sanitasi.¹²
Namun, sumber ini juga harus dibaca secara kritis. Bouvy menulis sebagai dokter kolonial Eropa pada 1924, sehingga penilaiannya terhadap kebersihan, makanan, rumah, dan kebiasaan masyarakat Minahasa sangat dipengaruhi oleh ukuran kedokteran dan kebudayaan Eropa pada zamannya. Beberapa istilah dan penilaian yang digunakannya mencerminkan cara pandang kolonial dan tidak dapat begitu saja dianggap sebagai gambaran objektif mengenai masyarakat Minahasa. Meski demikian, kesaksian Bouvy tetap berharga karena memberikan gambaran langsung mengenai kondisi rumah, sanitasi, penyakit, dan kehidupan sehari-hari Minahasa dari sudut pandang seorang dokter yang bekerja di wilayah tersebut.¹³
Pada akhirnya, De Minahassa en de Geneeskunst memperlihatkan bahwa rumah Minahasa pada awal abad ke-20 merupakan bagian dari sejarah kesehatan masyarakat. Rumah panggung, lantai papan, kelambu, tempat tidur, dapur, jamban, halaman, air, makanan, serta cara merawat anggota keluarga semuanya berkaitan dengan bagaimana penyakit dapat dicegah atau justru berkembang. Karena itu, tulisan Bouvy tidak hanya penting bagi sejarah kedokteran, tetapi juga bagi sejarah kehidupan sehari-hari Minahasa. Dari catatan seorang dokter tersebut, kita dapat melihat bahwa persoalan kesehatan pada masa itu bukan hanya tentang obat dan rumah sakit, melainkan juga tentang bagaimana orang Minahasa tinggal, makan, tidur, membersihkan rumah, dan merawat orang sakit di rumah mereka sendiri.¹⁴
Catatan kaki
- A. C. N. Bouvy, “Uit en over de Minahasa. I. De Minahassa en de Geneeskunst,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 80 (1924), hlm. 364–396.
- Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” hlm. 381–382.
- Ibid., hlm. 381–382.
- Ibid., hlm. 382–383.
- Ibid., hlm. 382–383.
- Ibid., hlm. 387–388.
- Ibid., hlm. 389–390.
- Ibid., hlm. 384–385.
- Ibid., hlm. 376.
- Ibid., hlm. 386–387.
- Ibid., hlm. 387.
- Ibid., hlm. 388.
- Bouvy menjelaskan bahwa tulisannya didasarkan antara lain pada pengalamannya selama empat tahun bertugas sebagai dokter di Minahasa.
- Bouvy, “De Minahassa en de Geneeskunst,” hlm. 381–382.
- Penulis: Engel Yong
