Pilihan Pembaca
light_mode
Topik Menarik
Beranda » Sejarah » Pertumbuhan Ternak dan Perubahan Pertanian Minahasa

Pertumbuhan Ternak dan Perubahan Pertanian Minahasa

  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 4
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Perubahan pertanian Minahasa pada abad ke-19 tercatat dalam penggunaan hewan untuk mengangkut hasil kebun dan mengolah sawah. Dalam De Minahassa, haar verleden en haar tegenwoordige toestand, terbit pada 1867, N. Graafland menggambarkan pedati penarik hasil produksi, sapi pembajak, serta pekerjaan pertanian bersama. Sementara itu, David Henley dalam Fertility, Food and Fever menyusun perkembangan jumlah ternak berdasarkan laporan dari beberapa periode. Kedua sumber memberikan keterangan berbeda yang saling melengkapi: pengamatan kegiatan sehari-hari dan rangkaian angka yang dilaporkan.

Menurut Henley, jumlah kuda di Minahasa meningkat dari beberapa ratus sekitar 1820 menjadi lebih dari 8.000 pada 1845. Ia mengaitkan peningkatan tersebut dengan penggunaan kuda menggantikan pengangkut manusia pada masa awal penanaman kopi wajib. Perkembangan itu kemudian mengalami gangguan akibat penyakit ternak pada dasawarsa 1845–1855. Angka dan penjelasan tersebut merupakan rekonstruksi Henley dari sumber terdahulu, sehingga digunakan di sini dengan tetap menyebutnya sebagai keterangan dalam kajiannya.

Pengangkutan hasil produksi memperoleh perhatian tersendiri dalam buku Graafland. Ia menulis bahwa sebelumnya muatan dibawa di punggung kuda atau manusia. Residen Scherius kemudian memerintahkan pembuatan pedati untuk mengangkut hasil produksi, khususnya kopi. Sapi jantan digunakan sebagai hewan penariknya. Menurut Graafland, dalam beberapa tahun pedati bermunculan di sejumlah distrik. Penduduk juga mempelajari cara menjinakkan sapi, melubangi hidungnya, dan melatih hewan tersebut untuk menarik kendaraan.

Graafland menjelaskan bahwa pedati terdahulu mempunyai konstruksi yang berat. Sumbu dan rodanya seluruhnya terbuat dari kayu. Roda berupa potongan kayu padat, sedapat mungkin diambil dari bagian akar pohon. Bagian atas kendaraan juga berat, tetapi kuat, dan diberi atap untuk melindungi hasil angkutan dari hujan. Pada kendaraan yang digambarkannya itu, sumbu dan roda berputar bersama. Keterangan ini mendahului uraian Graafland mengenai perubahan bentuk dan bahan pedati.

Dalam perkembangan berikutnya, menurut Graafland, bantuan dan petunjuk zendeling N. P. Wilken berperan dalam pembuatan sumbu besi yang tetap. Dengan susunan tersebut, hanya roda yang berputar. Roda juga dilengkapi lingkaran besi yang kuat. Graafland menyebut bahwa Residen Jansen memerintahkan penggunaan pedati menurut model itu. Ia kemudian menggambarkan pembaruan kendaraan di berbagai tempat dan menyatakan bahwa jalan tidak lagi begitu rusak oleh roda seperti sebelumnya. Penjelasan mengenai hasil perubahan tersebut merupakan pengamatannya.

Kendaraan dengan roda berpelek dan berjari-jari juga didatangkan dari Jawa. Namun, Graafland menilai kendaraan tersebut secara umum kurang memuaskan. Ia mengemukakan kemungkinan bahwa kendaraan itu tidak cukup tahan untuk digunakan di daerah pegunungan. Karena sumber menyampaikannya sebagai kemungkinan, penyebab tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai kepastian. Bagian ini memperlihatkan bahwa dalam catatan Graafland terdapat lebih dari satu bentuk kendaraan, dengan penilaian yang berbeda mengenai penggunaannya.

Pedati terutama dipakai untuk mengangkut kopi dan kadang-kadang beras. Graafland juga melihat penggunaannya untuk berbagai keperluan lain, termasuk perjalanan penumpang. Dalam satu pedati kadang-kadang terdapat sekitar sepuluh orang. Selain itu, ia menyebut kereta kecil yang ditarik kuda, anjing, atau manusia. Penggunaannya tidak selalu mudah. Pada jalan menuju kebun, kendaraan dan muatan kadang-kadang harus diangkat melewati tempat tinggi atau dikeluarkan dari lumpur.

Dalam kegiatan pertanian, Graafland membedakan alat untuk kebun kering dan persawahan. Pada kebun kering, ia menyebut penggunaan sekop dan cangkul. Di sawah, penduduk juga menggunakan bajak Jawa, terutama di Tondano dan Kakas. Hewan yang paling banyak digunakan untuk menarik bajak ialah sapi jantan dan sapi kebiri. Dengan demikian, sapi dalam uraian Graafland memiliki fungsi sebagai penarik pedati sekaligus sebagai tenaga untuk membantu pengolahan sawah.

Percobaan menggunakan kerbau juga disebut dalam buku yang sama. Graafland menulis bahwa kerbau didatangkan dari Gorontalo, tetapi menurut pengamatannya hewan tersebut tampaknya tidak berkembang baik. Ia menduga cara pemeliharaan mungkin turut berpengaruh. Keterangan ini merupakan dugaan yang disampaikan Graafland, bukan kesimpulan pemeriksaan peternakan. Bagian tersebut tidak memberikan dasar untuk menyatakan bahwa pemeliharaan kerbau selalu gagal atau memberikan hasil serupa di seluruh wilayah Minahasa.

Penggunaan hewan kerja berlangsung bersama praktik mengistirahatkan tanah. Graafland mencatat bahwa setelah satu musim penanaman, lahan dapat dibiarkan selama dua, tiga, hingga lima tahun apabila tersedia tanah lain. Di sekitar Sonder, ia menggambarkan keadaan ketika lahan lama harus ditanami kembali setiap tahun atau dengan selang yang lebih pendek. Tanah bekas kebun itu disebutnya djoeramej. Dalam uraian yang sama, ia menyatakan bahwa pemupukan belum dikenal dalam praktik pertanian yang sedang dijelaskannya.

Tenaga manusia tetap mendapat tempat dalam pengolahan lahan dan pemanenan. Graafland menerangkan bahwa pekerjaan pertanian dilakukan bersama melalui mapaloes. Bantuan bersama juga digunakan untuk memindahkan kayu dan membangun rumah. Dalam pembahasan pemanenan padi, ia menggambarkan pengambilan bulir satu per satu dengan tangan. Catatan ini memperlihatkan bahwa penggunaan bajak dan hewan penarik hadir berdampingan dengan pekerjaan yang masih memerlukan banyak tenaga manusia.

Untuk periode berikutnya, Tabel 31 dalam buku Henley mencatat 13.836 kuda dan 28.430 sapi pada 1900. Pada 1920, jumlah yang dilaporkan adalah 14.591 kuda, 38.681 sapi, dan satu kerbau, dengan keseluruhan 53.273 ternak besar. Henley memperingatkan bahwa statistik ternak, terutama dari abad ke-19, tidak sepenuhnya dapat diandalkan. Angka tersebut karena itu perlu dibaca sebagai jumlah yang dilaporkan dalam sumber yang digunakannya, bukan sebagai pencacahan yang bebas dari keterbatasan.

Referensi

Graafland, N. 1867. De Minahassa, haar verleden en haar tegenwoordige toestand. Jilid I. Rotterdam: M. Wijt & Zonen.

Henley, David. 2005. Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600–1930. Leiden: KITLV Press.

Catatan sumber: Data jumlah ternak dikutip dari tabel dalam buku David Henley, Fertility, Food and Fever (2005), hlm. 538 (paragraf dua dalam artikel). Angka tersebut belum dicocokkan langsung dengan laporan kolonial yang menjadi rujukan Henley.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Foto pengintaian udara jembatan Amurang di sungai Ranoaipo yang diambil dari pesawat Bristol Beaufighter dari Skuadron 31, RAAF, pada tanggal 27 Desember 1944. (AWM)

    Amurang: Dari Pelabuhan Tua Minahasa hingga Benteng Pertahanan

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Di pesisir barat daya jazirah Minahasa, sebuah teluk menghadap Laut Sulawesi. Di sebelah baratnya Sungai Ranoiapo bermuara, dan di tepi pantainya berdiri sisa tembok tua yang kini disebut Benteng Portugis. Tempat ini sekarang bernama Amurang. Arsip VOC tidak menyimpan cerita detail tentang teluk ini. Yang tersimpan adalah serpihan sebuah barikade kayu, seorang raja yang menumpang, […]

  • Lodywik Dirk Ngantung, Maestro Tari Kabasaran Minahasa

    Lodywik Dirk Ngantung, Maestro Tari Kabasaran Minahasa

    • calendar_month Senin, 3 Apr 2023
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Sekadar pengingat, ada sosok yang berjasa dalam pengembangan Tari Kabasaran hingga begitu terkenal. Namanya, Lodywik Dirk Ngantung atau Opa Owik asal Paslaten Tomohon, Sulawesi Utara.   Tari Kabasaran adalah tarian perang dari suku Minahasa, Sulawesi Utara.   Tarian ini kerap terlihat kala penyambutan tamu penting yang datang ke tanah Toar Lumimuut tersebut. Dengan pakaian khas merah […]

  • Peresmian Kantor Borsumij Manado 1938

    Peresmian Kantor Borsumij Manado 1938

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2024
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Pada hari Senin pagi, tanggal 27 Juli 1938, gedung baru milik NV. Borsumij (Borneo Sumatra Maatschappij) di jalan Benteng (Fort Straat) Manado resmi dibuka. Setahun sebelumnya, pihak Borsumij membeli tanah yang terletak di antara lahan milik Lim Oei Tiong (Toko Kopa) dan Hotel Wilhelmina.   Pembangunan gedung ini dipercayakan kepada perusahaan konstruksi Batavia, NV. Hollandsche […]

  • Petisi A.L. Waworuntu kepada Gubernur Jenderal

    Petisi A.L. Waworuntu kepada Gubernur Jenderal

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Dalam tulisan yang berjudul Myth and Reality in Minahasan History: The Waworuntu-Gallois Confrontation oleh Mieke Schouten membahas petisi yang disampaikan Albert Lasut Waworuntu kepada Gubernur Jenderal C. Pijnacker Hordijk. Waworuntu merupakan Hukum Besar atau Mayor Distrik Sonder. Tahun 1891, ia pergi ke Jawa dan memperoleh kesempatan menghadap Gubernur Jenderal. Dalam pertemuan pada Desember tahun itu, Waworuntu […]

  • Masyarakat Minahasa membunyikan bia (kerang) saat Mapalus (ilustrasi)

    Metamorfosis Mapalus: Dari Tradisi Komunal ke Instrumen Kolonial

    • calendar_month Selasa, 24 Mar 2026
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Di tanah Minahasa, Sulawesi Utara, mapalus bukan sekadar praktik gotong royong. Ia adalah fondasi sosial yang mengikat hubungan kekerabatan (taranak) dan komunitas kampung (ro’ong) dalam satu sistem yang menyatu dengan alam. Namun, di balik citra harmonis tersebut, sejarah mapalus memperlihatkan perjalanan panjang, dari mekanisme bertahan hidup hingga menjadi bagian dari mesin kolonial. Untuk memahami transformasi […]

  • Pegawai Walter Kaudern 1917

    Pegawai Walter Kaudern 1917

    • calendar_month Sabtu, 11 Jan 2025
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Potret pegawai Walter Kaudern bersama kerabatnya (suku Minahasa) di sekitar danau Tondano, Sulawesi Utara, yang berdiri di tengah adalah juru masak bersama istrinya, foto dokumentasi Ekspedisi Walter Kaudern ke Sulawesi antara tahun 1917 – 1921.   (The National Museums of World Culture)   ©️ Indonesian Overseas History II

expand_less