Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » 147 Sekolah, tetapi Hanya 25 Persen Dapat Menulis: Krisis Pendidikan Minahasa Tahun 1870

147 Sekolah, tetapi Hanya 25 Persen Dapat Menulis: Krisis Pendidikan Minahasa Tahun 1870

  • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
  • visibility 75
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) menyatakan bahwa lembaga itu telah menghubungkan sekolah dengan setiap pos zending sejak didirikan pada 1797. Dalam catatan yang diterbitkan tahun 1871, para pengurus NZG menyebut pendidikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan para zendeling. Mereka juga menyatakan bahwa kegiatan pendidikan di Minahasa telah dijalankan dengan tekun selama kira-kira 40 tahun. Menurut catatan tersebut, bentuk pengajaran bagi penduduk Minahasa harus disesuaikan dengan kemampuan, tingkat perkembangan, dan keadaan masyarakat setempat.

Salah satu lembaga untuk menyiapkan tenaga pengajar adalah kweekschool atau sekolah pendidikan guru di Tanawangko. Menurut catatan NZG, sekolah itu telah berdiri selama 16 tahun ketika catatan tersebut diterbitkan pada 1871. Sekolah dipimpin oleh zendeling N. Graafland. Akan tetapi, lembaga itu disebut kekurangan sarana dan belum mampu menghasilkan guru dalam jumlah yang dibutuhkan. Graafland bahkan masih mengajar di serambi depan rumahnya karena belum tersedia ruang sekolah khusus.

Aturan perkawinan tahun 1861 kemudian menyediakan bahan pencatatan mengenai kemampuan menulis penduduk Kristen di Afdeling Amurang. Berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 24 Mei 1861, penduduk Kristen pribumi di wilayah pemerintahan Kepulauan Maluku yang ketika itu masih mencakup Keresidenan Manado harus melaporkan rencana perkawinan kepada pejabat pemerintah. Calon pengantin menyerahkan dokumen yang diperlukan, kemudian menandatangani akta bersama para saksi sebelum memperoleh izin untuk melangsungkan perkawinan melalui zendeling-guru atau guru sekolah yang berwenang.

Sejak 1863, NZG berulang kali mengajukan permohonan kepada pemerintah mengenai sekolah-sekolah Minahasa. Lembaga tersebut meminta agar pemerintah mengambil alih sekolah dengan ketentuan tertentu atau memberikan bantuan untuk meringankan biaya yang ditanggung NZG. Permohonan itu berlangsung selama tujuh tahun. Selama belum ada keputusan, NZG menyatakan tidak dapat mengambil tindakan yang pasti untuk memperbaiki keadaan sekolah dan penghasilan guru.

Catatan dari Kawangkoan memperlihatkan perubahan yang terjadi setelah pergantian guru pada Oktober 1868. Penulis laporan dalam Tijdschrift voor Nederlandsch Indië menyatakan bahwa sekolah di negeri utama Kawangkoan sebelumnya mengalami kemunduran. Sesudah seorang guru baru ditempatkan, penulis beberapa kali menyaksikan kemampuannya menghadapi anak-anak. Guru itu juga mengajak mereka melakukan permainan setelah jam sekolah. Sejak penempatannya, jumlah kehadiran murid disebut meningkat.

Selama 1869, pejabat yang menulis laporan tentang hasil pendidikan di Afdeling Amurang mencatat kemampuan para calon pengantin untuk menandatangani akta. Dalam tahun itu terdapat 323 pasangan atau 646 orang yang menikah. Hanya 165 orang dapat menulis, sedangkan 481 orang membubuhkan tanda silang. Dengan demikian, sekitar tiga perempat tidak menulis dan hanya kurang lebih 25 persen menandatangani akta. Angka tersebut secara khusus berasal dari orang-orang yang menikah di Afdeling Amurang selama 1869, bukan dari seluruh penduduk Minahasa.

Hasil pencatatan berbeda di setiap distrik. Di Sonder terdapat 49 orang yang dapat menulis dan 110 orang yang tidak dapat menulis. Di Matani dan Tangkoenei, jumlah orang yang dapat menulis lebih banyak daripada yang tidak dapat menulis. Sebaliknya, hasil di negeri utama Sonder dan Kiawa disebut kurang baik. Laporan itu juga mencatat bahwa 46 dari 110 orang yang tidak dapat menulis di Sonder berusia lebih dari 30 tahun dan dinyatakan tidak pernah menerima pendidikan sekolah.

Di Tombasian, perbandingan orang yang dapat menulis dengan yang tidak dapat menulis adalah sekitar satu berbanding tiga. Malikoe memberikan hasil yang lebih baik daripada negeri-negeri lain dalam distrik tersebut. Data Kawangkoan juga disebut tidak menguntungkan. Hanya Lansot dan Talaitad yang menunjukkan hasil baik, sedangkan di negeri utama Kawangkoan hanya sekitar seperempat orang yang menikah dapat menulis. Jumlah perempuan yang mampu menulis di distrik itu juga dicatat sangat kecil.

Tompaso memberikan hasil terendah di antara distrik-distrik yang dibahas. Sumber menyatakan bahwa hanya sekitar sepertujuh calon pengantin laki-laki dan perempuan yang dapat menulis. Di seluruh distrik itu, hanya dua perempuan tercatat mampu menulis. Romoon juga memperlihatkan hasil yang rendah, meskipun di negeri Wijauw jumlah orang yang dapat dan tidak dapat menulis sama. Hasil di pusat Amurang juga disebut buruk. Secara keseluruhan, penulis laporan menegaskan bahwa tidak lebih dari 25 persen orang yang menikah di Afdeling Amurang tahun 1869 menandatangani akta.

Pada waktu yang sama, NZG menanggung jaringan pendidikan yang besar. Kira-kira catatan tahun 1871 mencatat 117 sekolah milik NZG, 12 sekolah pemerintah, dan 18 sekolah negeri di Minahasa. Jumlah keseluruhannya adalah 147 sekolah, sedangkan penduduk Minahasa disebut paling banyak 113.000 jiwa. Biaya 117 sekolah NZG berjumlah sekitar ƒ6.200 setahun. Pendirian sebagian besar bangunan dikerjakan melalui tenaga sukarela, sementara sebagian alat pelajaran dibayar oleh penduduk.

Menurut NZG, keterbatasan biaya terutama terlihat dalam penghasilan guru. Ada guru yang hanya menerima ƒ40 setahun, sedangkan guru dengan bayaran tertinggi memperoleh ƒ120. Karena penghasilan tersebut tidak mencukupi, guru harus menggunakan banyak waktu untuk mengerjakan kebunnya. NZG menyatakan bahwa keadaan itu mengurangi waktu belajar guru dan menyebabkan orang yang memenuhi syarat memilih pekerjaan lain yang memberikan penghasilan lebih baik.

Krisis pembiayaan berlanjut pada tahun 1870. Bantuan pemerintah sebesar ƒ500 untuk Kweekschool Tanawangko dihentikan pada Maret tahun itu. Bulan September tahun 1870, pemerintah akhirnya menyampaikan jawaban penolakan terhadap permohonan NZG yang telah diajukan berulang kali. NZG menyatakan bahwa sekolah pendidikan guru tersebut perlu menampung 40 murid agar dapat menyediakan sepuluh guru setiap tahun. Sekolah juga memerlukan perluasan rumah, ruang belajar, dan tambahan seorang guru pembantu berkebangsaan Belanda.

Dalam catatan yang terbit tajhun 1871, NZG meminta ƒ8.000 untuk Kweekschool Tanawangko serta menyatakan bahwa pengeluaran bagi sekolah-sekolah perlu ditingkatkan menjadi ƒ15.000. Dengan pendapatan yang tersedia, NZG memperkirakan hanya mampu menanggung ƒ10.000 dan meminta bantuan satu kali serta bantuan tahunan dari masyarakat Belanda. Catatan itu menempatkan pertanyaan mengenai kelangsungan Kweekschool Tanawangko bersama kebutuhan guru bagi 147 sekolah di Minahasa.

Referensi: 

Bestuurders van het Nederlandsch Zendelinggenootschap. “Aan diegenen onder het Nederlandsche volk, die belangstellen in de bevolking van een merkwaardig deel onzer Oost-Indische bezittingen.” De Tijdspiegel. Eerste Deel. Arnhem: D. A. Thieme, 1871, hlm. 661–665.

De C. “Bijdragen tot de kennis der Minahasa. I. De vruchten van het onderwijs in de afdeeling Amoerang.” Tijdschrift voor Nederlandsch Indië. Derde serie, tahun ke-4, bagian kedua. Zalt-Bommel: Joh. Noman en Zoon, 1870, hlm. 89–93.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Beras Minahasa untuk Maluku: Petani, Pedagang, dan Monopoli pada 1720–1820

    Beras Minahasa untuk Maluku: Petani, Pedagang, dan Monopoli pada 1720–1820

    • calendar_month Sabtu, 17 Okt 2026
    • visibility 70
    • 0Komentar

    Pada awal abad ke-18, beras merupakan komoditas utama yang menghubungkan Minahasa dengan Maluku. Sebagian hasil panen penduduk dibeli untuk dikirim ke wilayah yang membutuhkan pasokan pangan, terutama Ternate. Perdagangan ini melibatkan petani, kepala-kepala setempat, pedagang swasta, serta pejabat VOC. Barang-barang dari luar masuk sebagai pembayaran atas beras yang dikumpulkan dari Minahasa. Menurut David Henley dalam […]

  • Kampung Waruga

    Kampung Waruga, Wisata Budaya Megalitikum yang Sarat Sejarah

    • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Menyusuri Jejak Budaya di Kampung Waruga Minahasa   Jika kamu ingin menyelami sejarah dan budaya lokal Sulawesi Utara, maka Kampung Waruga di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Minahasa Utara, menjadi destinasi yang wajib kamu kunjungi. Lokasi ini menyimpan ratusan makam batu kuno yang disebut waruga, peninggalan khas masyarakat Minahasa zaman megalitikum. Waruga merupakan wadah makam berbentuk kubus […]

  • Seorang Fransiskan dan seorang Jesuit berjalan bersama di tanah Manado (ilustrasi)

    Dua Ordo, Satu Ladang: Perebutan Manado antara Fransiskan dan Jesuit

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Pada suatu hari di benteng Ternate menjelang akhir 1639 atau awal 1640, seorang Fransiskan Spanyol bernama Juan Yranzo mengeluarkan sehelai dokumen kepausan dan menyodorkannya kepada Gubernur Maluku. Ia hendak membuktikan bahwa ia berhak berlayar ke Manado. Gubernur tulisnya kemudian, “tidak mau melihatnya, tidak pula mendengarnya.”[^1] Adegan itu bukan pertikaian teologi, bukan perebutan jiwa, melainkan sebuah […]

  • Jatuhnya Tondano–Tomohon 1958: Saat CIA Mencatat Kekalahan Permesta di Minahasa

    Jatuhnya Tondano–Tomohon 1958: Saat CIA Mencatat Kekalahan Permesta di Minahasa

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Di ruang-ruang analisis di Langley, markas besar CIA, peta Sulawesi Utara pada pertengahan 1958 tidak dilihat sebagai lanskap kepulauan tropis. Ia dibaca seperti papan catur. Setelah Operasi Merdeka pendaratan amfibi TNI yang berhasil menguasai garis pantai para analis Amerika mengalihkan perhatian ke satu benteng terakhir: Dataran Tinggi Minahasa. Di dataran tinggi inilah terletak poros Tondano–Tomohon, […]

  • Faktor-faktor Sejarah dan Sosial di Balik Migrasi Orang Minahasa ke Pulau Jawa pada Masa Kolonial

    Faktor-faktor Sejarah dan Sosial di Balik Migrasi Orang Minahasa ke Pulau Jawa pada Masa Kolonial

    • calendar_month Minggu, 7 Jul 2024
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Migrasi penduduk Minahasa ke Pulau Jawa pada masa lalu dipengaruhi oleh beberapa faktor penting yang berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik pada saat itu. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa orang Minahasa banyak merantau ke Jawa pada tempo doeloe:   1. Pendidikan dan Tugas Pemerintahan: Salah satu alasan utama adalah kesempatan untuk memperoleh pendidikan, […]

  • Sabua dalam Sunyi (Chapter 2 – Wenas & Londo)

    Sabua dalam Sunyi (Chapter 2 – Wenas & Londo)

    • calendar_month Sabtu, 18 Okt 2025
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Jejak itu berakhir di sebuah tanah lembap yang ditumbuhi pohon beringin tua. Udara di sekeliling terasa berat, seperti menahan napas. Londo berhenti menggonggong dan menundukkan kepala, tanda bahwa mereka telah memasuki wilayah asing. Di hadapan mereka, tersembunyi di balik sulur-sulur akar dan pakis liar, berdiri sebuah sabua, gubuk hutan dari bambu tua, beratap rumbia yang […]

expand_less