Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel Sejarah » Dua Pagar Kayu dan Perebutan Takhta Bolaang 1672–1673

Dua Pagar Kayu dan Perebutan Takhta Bolaang 1672–1673

  • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
  • visibility 37
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 2 Juni 1672 seorang raja datang ke Manado untuk mengadu. Arsip Kompeni menyebutnya “raja Amoera”. Orang Siau baru saja mendarat di negerinya di Bolaang, membawa serta saudaranya sendiri bernama Maccarompius dan mendudukkannya di sana sebagai tandingan. Untuk melindunginya, mereka membuat dua pagar kayu dan menempatkan lima belas orang bersenjata di dalamnya.

Peristiwa ini dikenal dalam tulisan-tulisan lama sebagai “kubu Spanyol di Amurang”. Arsip aslinya bercerita lain. Kubu itu berupa pagar kayu, didirikan orang Siau dan berdiri di Bolaang. Orang Spanyolnya hanya segelintir. Dan Kompeni yang menyebut raja itu sekutunya, memilih tidak bertindak.

Raja Amoera

Raja Amoera bukan raja sebuah kerajaan bernama Amurang. Ia raja Bolaang yang pada masa itu bermukim di teluk Amurang.

Pada 1665 utusan Kompeni Van Voorst mendapati “raja Loloda di Amoura” dan pada 1677 catatan harian Kompeni di Batavia masih menyebut “raja kecil Amoura”.[1]

Dokumen-dokumen tentang peristiwa 1672 tidak menyebut namanya. Mereka hanya menulis “raja Amoera”, dan menyebut tanahnya “sijn land van boolang” (tanahnya, Bolaang).[2] Namanya baru diberikan Gubernur Padtbrugge sepuluh tahun kemudian yaitu Maccarompius adalah saudara “den Coning Loloda van Boulan” (raja Loloda dari Bolaang).[3]

Ringkasan Batavia menyebut raja ini berada “di bawah perlindungan Yang Mulia”, yaitu Staten-Generaal, badan pemerintahan tertinggi Belanda.[4] Peristiwa 1672 memperlihatkan apa arti perlindungan itu dalam kenyataan bahwa ketika negerinya didatangi orang Siau, Kompeni tidak membelanya, malah melarangnya membela diri.

Pengaduan 2 Juni 1672

Komandan Kompeni di Manado, vaandrig (letnan dua) Jochum Sipman, melaporkan pengaduan itu kepada Cornelis Francx, pejabat Kompeni yang ketika itu memimpin pemerintahan di Ternate dengan gelar Presiden.

Raja Siau, kata raja Amoera, datang dengan armadanya, “bestaende in seven groote prauwen” (terdiri atas tujuh perahu besar), disertai pater Yesuit Emanuel Espagnol, seorang ajudan dan dua serdadu Spanyol. Mereka mendarat di sungai Bolaang, membawa Maccarompius masuk ke negeri itu bertentangan dengan kehendak raja dan melengkapinya “met 2 paggers” (dengan dua pagar kayu). Di dalam pagar itu ditinggalkan lima belas orang Siau bersenapan “tot sauvegarde” (sebagai pengawal) Maccarompius.[5]

Raja Siau juga menuntut dari raja Amoera beberapa meriam kecil, emas, budak dan orang-orang bawahan yang dikatakan menjadi hak Maccarompius. Dengan begitu, tulis Sipman, raja Siau menjadikan dirinya pelindung atas tanah Bolaang milik raja Amoera.[6]

Jumlah orang Spanyol dalam rombongan itu penting. Seorang ajudan dan dua serdadu tidak membangun kubu dan tidak menjaganya. Tenaga dan kepentingannya datang dari Siau.

Kompeni VOC menahan diri

Pada 4 Juli 1672 Sipman, sersan Harman Smit, Joannes van der Linden dan Ruben Baudon bermusyawarah di Manado. Orang Siau di dalam pagar sudah ditegur lewat raja Amoera. Jawaban mereka tegas yakni mereka ditempatkan di sana oleh raja mereka dan akan “met Maccarompius leven en sterven” (hidup dan mati bersama Maccarompius). Raja Amoera menuduh raja Siau hendak “de croon van ‘t hooft te nemen” (merampas mahkota dari kepalanya) dan meminta izin untuk mengusir mereka dengan kekerasan.[7]

Kompeni tidak memberi izin. Raja Amoera diminta tetap tenang sampai Presiden Francx tiba dan sersan Harman Smit dikirim dengan dua serdadu. Pegangan tertulis untuk Smit, bertanggal 5 Juli 1672, dibuka dengan kalimat:

“Wanneer UE met d’compagnie vanden Coning op Boolang komt, kunt vernemen hoe ‘t daar gelegen is, en of de Coning en de Chiaauwers met malkanderen in oorlog getreden sijn of niet.”[8]

Artinya: “Kalau Tuan, bersama rombongan raja, tiba di Bolaang, selidikilah bagaimana keadaan di sana dan apakah raja dan orang Siau sudah saling berperang atau belum.”

Smit diperintahkan memperingatkan orang Siau dan kalau perang sudah pecah, berdiri di tengah dan mendamaikan. Ringkasan Batavia merumuskannya lebih pendek: sersan itu “geen partij te kiesen” (tidak boleh memihak).[9]

Ringkasan yang sama mengakui akibatnya. Raja Amoera sebenarnya sudah bertekad mengusir saudaranya yang memberontak beserta pengikutnya dan “hanya oleh orang-orang kita” ia dibelokkan dari niat itu. Yang terjadi hanyalah sebuah teguran “ramah tetapi sungguh-sungguh” dari raja sendiri, lalu sebuah tuntutan resmi yang diantar sersan Belanda. Sementara itu Maccarompius tetap menguasai separuh negeri.[10]

Mengapa Kompeni VOC menahan diri? Belanda dan Spanyol sedang terikat perdamaian. Menyerang kubu yang dijaga orang Siau, dengan seorang Yesuit dan beberapa serdadu Spanyol di belakangnya, bisa dibaca sebagai pelanggaran perdamaian itu.

Siau bergerak lebih jauh

Batavia membalas pada 11 Januari 1673. Presiden Francx diminta meyakinkan pihak-pihak di sana bahwa kalau orang Siau menyerang atau mengganggu mereka tanpa sebab, Kompeni akan datang menolong dan menuntut ganti rugi, asal mereka sendiri tidak mengganggu siapa pun.[11]

Pada awal 1673 orang Siau bergerak lagi, kali ini ke Sangihe. Bersama pater Espagnol, pater Francisco de Miedes dan kapten Spanyol Andreas Serrano, mereka menyerang raja Taruna (Tahuna), sekutu Kompeni dan dipukul mundur oleh penduduk sendiri.[12]

Francx di depan Siau

Akhir Januari 1673 Presiden Francx berlabuh di depan Siau. Kapten Serrano naik ke kapal bersama kedua pater. Francx bertanya mengapa mereka membantu “den rebelligen Maccarompius tegens sijnen broeder den Coning van Amoera met volk en amunitie van oorlog” (Maccarompius si pemberontak melawan saudaranya, raja Amoera, dengan orang dan perlengkapan perang). Serrano mengakui bantuan itu, tetapi berkata semuanya terjadi di luar pengetahuannya dan langsung ia larang begitu ia tahu.[13]

Francx memberi peringatan keras. Komandan Kompeni di Manado sudah diperintahkan untuk memperlakukan sebagai musuh setiap orang Kastilia (Spanyol) atau Siau yang datang membantu Maccarompius “op Boelang” (di Bolaang), tanpa mengecualikan siapa pun.[14]

Raja Siau sendiri dipanggil ke kapal. Mula-mula ia tampak gugup, lalu tenang melihat Francx bersikap ramah. Dia memberikan penjelasan bahwa rakyatnya tidak pernah ia kirim untuk itu. Orang-orang Maccarompius datang meminta bantuan dan ia menyuruh mereka pulang “na Boelang” (ke Bolaang) tanpa menjanjikan apa-apa. Ketika Francx menariknya ke samping, raja itu menyatakan bantuan kepada Maccarompius diberikan “door de padres alleen” (oleh para pater semata).[15]

Keterangan ini bertentangan dengan laporan Sipman yang menyebut raja Siau sendiri datang dengan tujuh perahu besar. Kedua pihak punya alasan untuk berkata begitu bahwa raja Siau sedang berhadapan dengan Presiden Kompeni VOC di atas kapalnya dan raja Amoera sedang meminta pertolongan.

Francx kemudian meminta raja Siau datang ke Manado dalam empat belas hari untuk menyelesaikan perkara dan memanggil pula raja-raja Sangihe.[16] Pada 12 Juni 1673 ia menulis kepada Serrano bahwa ia akan berangkat ke Manado dua minggu lagi.[17] Sembilan hari kemudian, pada 21 Juni 1673, raja Siau justru membuat perjanjian dengan raja Kaidipang bernama Binnancal di negeri Kaidipang.[18]

Apa yang tersisa

Tak satu pun dokumen 1672–1673 menyebut kedua pagar itu dibongkar. Yang tercatat terakhir adalah Maccarompius memegang separuh negeri dan Kompeni bersiap melawan siapa pun yang datang membantunya di Bolaang.

Akhir ceritanya datang dari Gubernur Padtbrugge, dalam memorie van overgave (laporan serah terima jabatan) tahun 1682. Raja Loloda, tulisnya, lama bertikai dengan saudaranya pangeran Maccarompius, “die bevorens altoos de zijde der Spangiaerden hield, en d’E. Comp: al vrij wat spoox veroorsaekt heeft” (yang selama ini selalu berpihak pada orang Spanyol dan cukup banyak merepotkan Kompeni).

Pertikaian itu terutama soal warisan dan harta. Padtbrugge tidak menyukai keduanya karena Loloda ia sebut kikir dan licik, Maccarompius tak tahu batas dalam tuntutannya, plin-plan dan pemarah. Tetapi “baru-baru ini” ondercoopman (pedagang muda Kompeni) Meijert berhasil kurang lebih mendamaikan mereka.[19]

Teluk Amoera sendiri tidak kembali ke tangan wangsa Bolaang. Pada 1682 Padtbrugge menyebutnya tanah subur yang tak berpenghuni. Orang pegunungan Manado tidak mau mengizinkan Loloda, Maccarompius, atau siapa pun dari keluarga raja Bolaang mendirikan kampung di sana, “van vreese ‘t jock weder op den hals te krijgen” (karena takut kuk itu dipasang lagi di leher mereka). Tanah itu mereka anggap tanah sah mereka sendiri, tempat mereka menanam padi, menyadap aren dan menokok sagu.[20]

Bagaimana peristiwa ini menjadi “kubu di Amurang”

Pada 1684 dokumen-dokumen ini disalin ulang di Ternate dan dikirim ke Batavia sebagai lampiran bernomor.[21]

Pada tahun yang sama Batavia meringkasnya untuk Belanda dalam satu kalimat seorang ajudan dan dua serdadu Spanyol pada 1672 datang “tot Amoera omtrent Manado” (ke Amoera dekat Manado), mendirikan dan menduduki “twee vastigheden” (dua kubu), untuk mendudukkan Maccarompius sebagai raja.[22]

Ringkasan itu menyingkat tiga hal sekaligus. Pihak yang datang adalah armada Siau, bukan tiga orang Spanyol. “Dua kubu” itu adalah dua pagar kayu. Dan “Amoera” adalah gelar raja yang dirugikan, bukan tempat pagar itu berdiri.

Laporan Sipman, pegangan untuk sersan Smit dan ucapan Francx di depan Siau, tiga dokumen yang ditulis di tempat dan pada waktunya, semuanya menyebut Bolaang.

Dari ringkasan yang terlalu pendek itulah lahir cerita tentang kubu Spanyol di Teluk Amurang. Yang sebenarnya terjadi adalah perebutan takhta Bolaang dengan Siau sebagai pendukung sang pemberontak, dua Yesuit di belakangnya dan Kompeni yang memilih menonton.

Catatan

1. E. C. Godée Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (1928), hlm. 23 dan 52.
2. Nationaal Archief, Den Haag (NL-HaNA), VOC, 1.04.02, inv. 1394, lampiran No. 19 pada surat Ternate 1 Oktober 1684, fol. 562 (scan 1187).
3. Memorie Padtbrugge 1682, dalam Godée Molsbergen 1928, hlm. 77.
4. NL-HaNA, VOC, 1.04.02, inv. 7528, generale missive (surat umum Batavia) 31 Mei 1684, hlm. 18 (scan 1114): “onder de protexie van haer Ho: Mo:” (di bawah perlindungan Yang Mulia Staten-Generaal).
5. Inv. 1394, No. 19, petikan surat Jochum Sipman kepada Presiden Cornelis Francx, fol. 562 (scan 1187).
6. Ibid.: “sijnde Bassen, goud, slaven, vassalen die Maccarompius mogten competeren” (yaitu meriam kecil, emas, budak, dan orang-orang bawahan yang mungkin menjadi hak Maccarompius).
7. Inv. 1394, keputusan Manado 4 Juli 1672, ditandatangani Jochum Sipman, Harman Smit, Joannes van der Linden dan Ruben Baudon, fol. 562v–563 (scan 1188–1189).
8. Inv. 1394, No. 20, “Memorie voor den sergeant Harman Smit” (pegangan untuk sersan Harman Smit), Manado, 5 Juli 1672 (scan 1190).
9. Inv. 7528, hlm. 19 (scan 1115).
10. Inv. 7528, hlm. 18–19 (scan 1114–1115).
11. Inv. 1394, No. 21, petikan surat Batavia kepada Francx dan Dewan di Ternate, 11 Januari 1673, fol. 564 (scan 1191).
12. Inv. 1394, No. 22, petikan surat Francx kepada Gubernur Ambon Anthonij Hurt, 26 Januari 1673 (scan 1191–1192); inv. 7528, hlm. 19–20 (scan 1116).
13. Inv. 1394, No. 23, petikan surat Francx dan Dewan kepada Hurt, 26 Januari 1673, fol. 565 (scan 1193).
14. Ibid.
15. Inv. 1394, No. 23 (scan 1194).
16. Inv. 7528, hlm. 21–22 (scan 1117–1118).
17. Inv. 1394, No. 26, petikan surat Francx kepada kapten Andreas Serrano di Siau, 12 Juni 1673, fol. 567 (scan 1197).
18. Inv. 1394, No. 27, “Translaat uijt het Spaans contract of verbond brief tusschen de Coningen van Chiauw en Caudipan” (terjemahan dari bahasa Spanyol surat perjanjian antara raja Siau dan raja Kaidipang), Kaidipang, 21 Juni 1673 (scan 1197).
19. Memorie Padtbrugge 1682, dalam Godée Molsbergen 1928, hlm. 77.
20. Ibid., hlm. 76.
21. Inv. 1394, lampiran No. 18–27, salinan disahkan di Kastil Oranje, Ternate, 29 September 1684, dilampirkan pada surat Ternate 1 Oktober 1684 (scan 1185–1197).
22. Inv. 7528, hlm. 17–18 (scan 1113–1114).

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Desa Pulutan (ANRI, 1920)

    Pulutan dan Jejak Gerabah Tertua Minahasa: Warisan Austronesia yang Bertahan Hingga Kini

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Di tepian kawasan Danau Tondano, di antara bentang alam subur Minahasa yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat pertanian dan perkebunan, berdiri sebuah desa yang memiliki identitas budaya berbeda. Desa Pulutan, yang kini berada di Kecamatan Remboken, Kabupaten Minahasa, bukan hanya dikenal sebagai perkampungan tua, melainkan juga sebagai pusat tradisi gerabah yang diwariskan lintas generasi. Berbeda […]

  • Muntu-Untu, Kopero, Mandey (Ilustrasi)

    Watu Pinawetengan: Jejak Persatuan Minahasa dari Musyawarah Leluhur

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Pada Juli 1896, J.G.F. Riedel menulis tiga halaman dari Batavia tentang sebuah batu di kaki bukit Tonderukan, dekat Kanonang. Tujuannya sederhana, ia ingin batu itu tidak dirusak. Tiga halaman itu kemudian menjadi hulu hampir semua yang orang percayai tentang Watu Pinawetengan, termasuk hal-hal yang sama sekali tidak ada di dalamnya.[^1] Tetapi tulisan 1896 itu bukan […]

  • Kaicil. Hi. Djami Bin Syamsuddin Jou/Jogugu Moloku Loloda 1945 – 1977

    Kerajaan Loloda dan Bolaang Mongondow: Mengungkap Jejak Sejarah yang Terlupakan

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Di kawasan timur Nusantara, sejarah sering kali bergerak mengikuti arah angin dan arus laut. Jalur pelayaran yang menghubungkan Halmahera, Kepulauan Sangihe, pesisir Minahasa, hingga Bolaang Mongondow bukan sekadar lintasan perdagangan rempah, melainkan juga ruang perjumpaan antarelite politik, pertukaran budaya, dan pembentukan silsilah kerajaan. Di antara simpul-simpul sejarah itu, Kerajaan Loloda di Halmahera Utara menyimpan kisah […]

  • Desa Tanggari, kecamatan Airmadidi, Minahasa Utara

    Jejak Tontewoh di Tepi Sungai Tua: Membaca Sejarah Tanggari dari Waruga hingga Tutur Leluhur

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Di Minahasa, sejarah tidak selalu bermula dari arsip pemerintahan atau laporan kolonial. Sebagian sejarah lahir dari batu-batu tua, sungai yang mengalir selama berabad-abad, dan cerita yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Desa Tanggari, yang kini berada di wilayah Kabupaten Minahasa Utara, menyimpan lapisan sejarah yang panjang. Di masa sekarang, Tanggari lebih dikenal […]

  • Situasi depan benteng Amsterdam di Manado 1731 (ilustrasi)

    Benteng dan Politik Identitas: Strategi VOC Menguasai Manado pada 1731

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Dalam sejarah awal kolonialisme di jazirah utara Sulawesi, kekuatan militer tidak pernah berdiri sendiri. Di balik tembok benteng dan laras senapan, terdapat strategi sosial yang dirancang untuk menjaga stabilitas kekuasaan VOC di Minahasa. Gambaran itu tampak jelas dalam Memorie van Overgave yang disusun Gubernur Maluku, Jacob Christiaan Pielat, pada 9 Juni 1731. Dokumen tersebut memperlihatkan […]

  • Yunus Moningka (repro javapost.nl)

    Junus Moningka: Prajurit KNIL yang Bertahan di Hutan Mori Melawan Jepang

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • visibility 99
    • 0Komentar

    MANADO, 1988 — Ingatan tentang perang kadang tidak kembali dalam bentuk cerita yang utuh. Ia hadir melalui wajah, foto lama, atau nama seorang komandan yang telah puluhan tahun berlalu. Di sebuah rumah di Manado, seorang pria berusia 67 tahun tak kuasa menahan air mata ketika seorang jurnalis dan sejarawan Belanda, Michiel Hegener, mengajaknya kembali ke […]

expand_less