Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Langowan: Koningin Emma Sanatorium di Noöngan

Langowan: Koningin Emma Sanatorium di Noöngan

  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
  • visibility 67
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sejarah Rumah Sakit TBC (Tuberkulosis) di Minahasa dalam Catatan B.C. de Jonge

Tahun 1934 berdiri sebuah gedung fasilitas medis/rumah sakit atau sanatorium untuk penderita penyakit paru-paru (TBC) di Noöngan,  Langowan – Minahasa. Dalam catatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda B.C. de Jonge, sanatorium tersebut disebut sebagai Sanatorium voor longlijders te Noöngan. Pembangunannya dibiayai dari sumbangan rakyat Belanda dalam rangka peringatan 250 tahun hubungan antara Belanda dan para kepala negeri di Minahasa. Pada kunjungannya ke Minahasa tahun 1934, de Jonge mencatat penyerahan sanatorium tersebut kepada College van Regenten van de Minahassa Jubileum Stichting.¹

Sanatorium itu berkaitan dengan Minahassa Jubileum Stichting. Sumber mengenai sejarah rumah sakit kolonial mencatat bahwa yayasan tersebut membiayai sebuah sanatorium di Noongan dengan kapasitas 60 tempat tidur. Fasilitas itu diperuntukkan bagi penderita tuberkulosis dan dibuka pada 1 Oktober 1934. Dalam daftar sanatorium tahun 1940, Noongan tercatat sebagai satu-satunya sanatorium di Celebes, sementara beberapa sanatorium lain tercatat berada di Jawa dan Sumatra.²

Dalam memoarnya, de Jonge memberikan gambaran mengenai keadaan sanatorium ketika ia mengunjunginya pada 1934. Ia mencatat bahwa lokasi dan bangunan sanatorium memberikan kesan yang sangat baik. Pelayanan terhadap pasien juga disebut telah dimulai tidak lama sebelumnya. Pada kesempatan tersebut dilakukan penyerahan sanatorium kepada College van Regenten van de Minahassa Jubileum Stichting.³

Pada kesempatan yang sama, de Jonge mencatat bahwa ia menyampaikan keputusan mengenai pemberian nama kepada lembaga tersebut. Ia memperoleh persetujuan dari Ratu Belanda untuk menggunakan nama “Koningin Emma Stichting”. Karena itu, dalam sumber-sumber sezaman nama fasilitas tersebut muncul sebagai Koningin Emma Sanatorium te Noongan.⁴

Catatan de Jonge juga menyebut persoalan jumlah pasien. Menurutnya, jumlah pasien yang dapat ditampung oleh lembaga tersebut masih terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mengalami persoalan tuberkulosis. Ia mencatat bahwa yayasan tersebut direncanakan menjadi pusat bagi pendirian sejumlah poliklinik di tempat-tempat lain.⁵

Data mengenai kapasitas sanatorium menunjukkan perubahan pada tahun-tahun berikutnya. Pada 1936, kapasitas Koningin Emma Sanatorium tercatat sebanyak 60 tempat tidur. Pada 1937, jumlah tersebut menjadi 70 tempat tidur. Jumlah hari perawatan yang tercatat masing-masing adalah 21.123 hari pada 1936 dan 24.285 hari pada 1937.⁶

Pada 1936, sanatorium menerima subsidi sebesar ƒ13.186,25. Pada 1937 jumlah subsidi yang tercatat adalah ƒ9.321,50. Angka-angka tersebut tercatat dalam data mengenai Koningin Emma Sanatorium di Noongan untuk kedua tahun tersebut.⁷

Kegiatan di Noongan juga tercatat dalam Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië. Pada 8 Oktober 1939 berlangsung sebuah pertemuan di Koningin Emma Sanatorium te Noongan, yang disebut berada dekat Langowan. Dalam pertemuan tersebut dibahas hasil kongres tuberkulosis yang baru berlangsung di Bandung. Setelah itu disampaikan kembali sebuah ceramah yang sebelumnya diberikan oleh Tilaar.⁸

Pertemuan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kemungkinan pembentukan tbc-kampongs, perawatan harian, serta cara memberikan perawatan dengan biaya rendah kepada penderita tuberkulosis berat melalui rumah-rumah sakit pembantu yang terpisah. Catatan mengenai pertemuan tersebut dimuat dalam Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, jilid 81.⁹

Nama Tilaar juga muncul dalam catatan mengenai pelayanan kesehatan di Noongan pada awal dekade 1940-an. Dalam catatan penghargaan kerajaan tahun 1941, A. Tilaar tercatat sebagai Hoofd Gouvernements Indisch arts dan Geneesheer-Directeur Koningin Emma Sanatorium voor longlijders te Noongan.¹⁰

Dengan demikian, pada akhir 1930-an Koningin Emma Sanatorium di Noongan merupakan lembaga yang secara khusus berkaitan dengan perawatan penderita tuberkulosis. Data tahun 1936 dan 1937 mencatat kapasitas tempat tidur dan jumlah hari perawatan, sedangkan catatan tahun 1939 menunjukkan bahwa sanatorium tersebut juga menjadi tempat pertemuan untuk membicarakan persoalan penanggulangan tuberkulosis.¹¹

Pada tahun 1940, Noongan masih tercatat sebagai sanatorium tuberkulosis di Celebes. Dalam daftar regional sanatorium, Celebes tercatat memiliki satu sanatorium, yaitu Noongan di Langowan.¹²

Note:

– Koningin Emma Sanatorium te Noongan – dalam konteks sejarah kolonial, “Koningin Emma” merujuk kepada Ratu Emma (Emma van Waldeck-Pyrmont), ibu dari Ratu Wilhelmina. Kalau dalam terjemahan bahasa Indonesia Sanatorium Ratu Emma di Noongan (sebelum menjadi Rumah Sakit Noongan ‘sekarang Rumah Sakit Umum Daerah Noongan)

– Nama lengkap Tilaar adalah Adolf Tilaar, beliau lahir di Tondano pada tahun 1893 anak dari Phillip Tilaar dan Augustien Maengkom. Pada tahun 1918 Tilaar lulus Stovia kemudian pertama kali ditempatkan di Tahuna sampai 1922 setelah itu dipindahkan menjadi Indische arts (dokter pribumi) di Kotamobagu sampai tahun 1932 dipindahkan ke Noongan menjadi direktur Rumah Sakit Paru yang baru saja didirikan. Dokter Tilaar menikah pertama kali dengan Raunkonda Walanda (anak dari ibu Maria Walanda – Maramis) sesudah kematian istri pertama dokter Tilaar menikah dengan zuster Marie Jacoba Ratulangi seorang kepala perawat di RS. Noongan. Dokter Adolf Tilaar meninggal pada tahun 1943 semasa penjajahan Jepang. (Kontributor data Tilaar: Romy Toar Nonutu)

Referensi: 

– B.C. de Jonge, Herinneringen van Jhr. Mr. B.C. de Jonge (ed. S.L. van der Wal). Wolters-Noordhoff, Groningen 1968

– Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, jilid 81, 1939.

– Koninklijk Besluit 8 Agustus 1941 No. 3 – Ridder in de Orde van Oranje-Nassau kepada A. Tilaar, Hoofd Gouvernements Indisch arts, Geneesheer-Directeur Koningin Emma Sanatorium voor longlijders te Noongan

Catatan kaki:

1. B.C. de Jonge, Herinneringen, bagian “Het jaar 1934”, mengenai kunjungan ke Minahasa dan penyerahan Sanatorium voor longlijders te Noöngan kepada College van Regenten van de Minahassa Jubileum Stichting.

2. Sumber sejarah rumah sakit kolonial mencatat Koningin Emma Sanatorium te Noongan, Noongan, Minahassa, sebagai sanatorium tuberkulosis, dengan pengelola College van Regenten Minahassa Jubileum Stichting dan pembukaan pada 1 Oktober 1934. Data lain menyebut kapasitas 60 tempat tidur.

3. B.C. de Jonge, Herinneringen, bagian “Het jaar 1934”.

4. Ibid. De Jonge mencatat bahwa ia menyampaikan persetujuan Ratu untuk pemberian nama “Koningin Emma Stichting”.

5. Ibid. De Jonge mencatat keterbatasan jumlah pasien dan rencana menjadikan lembaga tersebut sebagai pusat bagi poliklinik di tempat lain.

6. Data Koningin Emma Sanatorium, 1936–1937: kapasitas 60 dan 70 tempat tidur; masing-masing 21.123 dan 24.285 hari perawatan.

7. Data subsidi Koningin Emma Sanatorium: ƒ13.186,25 pada 1936 dan ƒ9.321,50 pada 1937.

8. Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (GTNI), jilid 81, mengenai pertemuan 8 Oktober 1939 di Koningin Emma Sanatorium te Noongan.

9. Ibid., mengenai pembahasan tbc-kampongs, dagverpleging, dan perawatan penderita tuberkulosis berat melalui rumah sakit pembantu.

10. Catatan keputusan penghargaan kerajaan tahun 1941 yang mencatat A. Tilaar sebagai Geneesheer-Directeur Koningin Emma Sanatorium voor longlijders te Noongan.

11. Data kapasitas dan kegiatan Koningin Emma Sanatorium pada 1936–1939.

12. Data mengenai persebaran sanatorium pada 1940 yang mencatat Noongan sebagai satu-satunya sanatorium di Celebes.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • H.V. Worang dan Lengkong Worang: Dua Saudara Minahasa di Pusaran Sejarah Permesta

    H.V. Worang dan Lengkong Worang: Dua Saudara Minahasa di Pusaran Sejarah Permesta

    • calendar_month Minggu, 16 Feb 2025
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Pergolakan daerah pada akhir 1950-an di Indonesia Timur, khususnya gerakan Perjuangan Semesta (Permesta), bukan sekadar konflik antara pusat dan daerah. Di Sulawesi Utara, pergolakan itu juga menyentuh ruang paling personal: keluarga. Salah satu kisah yang sering dikenang dalam sejarah lokal Minahasa adalah perjalanan dua bersaudara dari Tontalete, Tonsea—Hein Victor (H.V.) Worang dan Lengkong Worang—yang memilih […]

  • Robertus Padtbrugge adalah Gubernur Maluku dari VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda) yang menjabat pada akhir abad ke-17 sekitar 1677–1682 (ilustrasi)

    Minahasa yang Tak Pernah Tunduk: Membongkar Klaim Kekuasaan Bolaang dari Arsip Kolonial

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Rekonstruksi sejarah semenanjung utara Sulawesi pada abad ke-17 menunjukkan bahwa kekuasaan politik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kontrol atas informasi. Arsip Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), khususnya laporan Robertus Padtbrugge, memberikan gambaran kritis terhadap klaim-klaim teritorial penguasa lokal serta dinamika politik yang berlangsung di wilayah Minahasa dan Bolaang.   Klaim Hegemoni Bolaang […]

  • Johannes Rotikan, Pahlawan KNIL dari Minahasa yang Membunuh Singamangaraja XII

    Johannes Rotikan, Pahlawan KNIL dari Minahasa yang Membunuh Singamangaraja XII

    • calendar_month Senin, 14 Jul 2025
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Johannes Rotikan adalah seorang fuselier (juru tembak) lahir di Tara-tara Tomohon, Sulawesi Utara, yang tercatat dalam sejarah militer Hindia Belanda sebagai tokoh penting dalam penumpasan perlawanan Singamangaraja XII, Raja Batak terakhir yang berjuang melawan kolonialisme Belanda. Rotikan bergabung dalam pasukan marechaussee (marsose), satuan elite KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger), dan bertugas dalam berbagai operasi militer di […]

  • FS Watuseke (repro/Rommy Nonutu)

    F.S. Watuseke: Penjaga Ingatan Minahasa yang Mengabadikan Sejarah dan Bahasa Nusantara

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Di antara nama-nama besar yang meletakkan dasar kajian sejarah dan kebudayaan Minahasa pada abad ke-20, Frans Sumampouw Watuseke (F.S. Watuseke) menempati posisi yang istimewa. Ia bukan hanya seorang sejarawan, tetapi juga antropolog dan ahli bahasa yang mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk merekam jejak peradaban masyarakat Minahasa dan kawasan Indonesia Timur. Berkat ketekunan dan ketelitian ilmiahnya, […]

  • Lengkong Wuaya: Antara Legenda dan Jejak Sejarah Minahasa

    Lengkong Wuaya: Antara Legenda dan Jejak Sejarah Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Di lereng Gunung Klabat, Sulawesi Utara, masyarakat Minahasa menyimpan berbagai kisah tentang para waraney, tokoh-tokoh perang yang dipercaya menjaga wilayah mereka dari ancaman luar. Salah satu nama yang kerap muncul dalam tradisi lisan adalah Lengkong Wuaya, figur kepahlawanan yang dikaitkan dengan wilayah Tonsea. Namun, sebagaimana banyak kisah yang diwariskan secara turun-temurun, keberadaan tokoh ini tidak […]

  • Penjara tua Kema kini jadi Cagar budaya (Eldio Rambi, 2025)

    Kema: Pelabuhan, Benteng, dan Penjara di Pesisir Timur Minahasa

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Kema terletak di pesisir timur lengan utara Sulawesi, menghadap Laut Maluku. Letak itulah yang menjelaskan hampir seluruh riwayatnya. Manado menghadap ke barat dan menjadi berombak pada musim muson barat; Kema menghadap ke timur, ke jalur yang menghubungkan Sulawesi Utara dengan Maluku dan kepulauan di utara. Siapa yang menguasai keduanya menguasai kedua sisi lengan utara Sulawesi. […]

expand_less