Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » Ketika Bolaang Meminta Kristen dan Tak Seorang Pun Datang

Ketika Bolaang Meminta Kristen dan Tak Seorang Pun Datang

  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 101
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada suatu hari di penghujung 1563, seorang raja di pesisir utara Sulawesi meminta kepada seorang padri Portugis agar ia dan seluruh rakyatnya dijadikan Kristen.

Ia mengatakan bahwa ia telah diislamkan dengan paksa dan bahwa ia bersedia memegang adat orang Kristen dan membuang adatnya yang sekarang.

Padri itu tidak melakukannya. Ia menangguhkannya sampai pelayaran pulang dan pelayaran pulang itu tidak pernah menghasilkan apa-apa.

Negeri itu bernama Bolaang. Rajanya tidak pernah kita ketahui namanya dan tulisan ini pada akhirnya adalah tentang mengapa demikian.

1549: Nama Yang Masuk Daftar

Empat belas tahun sebelum peristiwa itu, dari Malaka, Fransiskus Xaverius menulis kepada Juan de Beira, padri yang ditugaskan di Maluku. Suratnya berisi perintah pelaporan bahwa Beira harus menuliskan buah pekerjaannya secara terperinci dan menyebutkan pula “kesiapan yang ada untuk menumbuhkan iman kita” di beberapa daerah yang belum digarap — di antaranya Makassar, Totole, dan os Cellebes.[^1]

Penyunting Documenta Malucensia menetapkan kedua nama terakhir itu. Totole adalah Tolitoli, di pesisir utara-barat laut Sulawesi.[^2] Dan “Os Celebes“, pada pemakaian abad ke-16 ini, berarti ujung timur laut pulau yakni Minahasa, yang kota utamanya dahulu dan sekarang adalah Manado.[^3]

Jadi lengan utara Sulawesi sudah masuk daftar sasaran Serikat Yesus pada 1549. Ia masih kosong ketika Diogo de Magalhães tiba pada 1563, masih kosong ketika Pero Mascarenhas melewatinya pada 1568 dan menurut Superior Maluku sendiri masih kosong pada 1607. Enam puluh tahun sebagai perkara yang selalu ditulis dan tak pernah dikerjakan.

Perlu ditambahkan bahwa istilahnya bergeser. Pada 1606 Luís Fernandes memakai “la gran isla de Mateo, o Celebes por otro nombre” untuk seluruh pulau. Definisi sempit 1549 tidak boleh dipakai untuk seluruh rentang, justru pergeserannya itu sendiri menandai berubahnya cara orang Eropa membayangkan tempat ini.

1563: Permintaan Yang Ditangguhkan

Laporan tentang perjalanan Magalhães sampai kepada kita melalui surat Pero Mascarenhas kepada para Jesuit di Lisbon, bertarikh Ternate 10 Februari 1564.[^4]

Di Manado, Magalhães membaptis raja beserta kira-kira seribu lima ratus jiwa dalam lima belas hari, sesudah mengajarkan doktrin dan berbicara dengan mereka tentang perkara iman. Ia mencatat kesan pribadinya bahwa orang Manado adalah yang paling ditakuti dan paling gagah dalam persenjataan di seluruh negeri itu. Dan ia menutup bagian itu dengan sebuah keputusan yang akan berulang: sisa penduduk akan dijadikan Kristen sepulangnya dari Totole.[^5]

Dari Manado mereka menyusur pesisir, dan tibalah mereka di sebuah tempat bernama Bolão:

“Sesudah menjadikan orang-orang itu Kristen, kami berlayar menyusur pesisir celebes ini. Dan setibanya di sebuah tempat yang bernama Bolão, yang rajanya adalah seorang putra raja Manado yang telah dijadikan Muslim oleh Kaicil Guzarate, ia menyambut kami dengan sangat ramah dan memberi kami segala bekal yang diperlukan, dan berkata kepadaku bahwa Kaicil Guzarate telah menjadikannya Muslim dengan paksa, dan karena itu ia meminta kepadaku agar aku menjadikannya Kristen bersama seluruh rakyatnya, dan bahwa ia akan memegang adat orang Kristen dan membuang adatnya. Dan tidak tampak baik bagiku untuk menjadikannya Kristen saat itu karena ia sudah pernah menjadi Muslim, melainkan sesudah aku kembali dari Totole. Ia mempunyai tujuh atau delapan negeri yang seluruhnya masih gentio, yang di dalamnya, kata orang, ada dua belas atau lima belas ribu jiwa.”[^6]

Dari sini mereka meneruskan perjalanan: “Esok harinya kami pergi ke Cauripa” — Kaidipang.[^7]

Tiga hal perlu dibaca dengan cermat pada bagian ini.

Pertama, penangguhannya sendiri bukan perlakuan khusus. Rumusan “sesudah kembali dari Totole” yang dipakai untuk raja Bolaang adalah rumusan yang sama persis yang baru dipakai satu paragraf sebelumnya untuk sisa penduduk Manado. Yang khas pada Bolaang hanyalah alasan yang ditempelkan: porquanto fora já mouro — karena ia sudah pernah menjadi Muslim. Alasan itu tidak diberikan kepada siapa pun yang lain dalam surat ini.

Kedua, Kaicil Guzarate bukan tokoh kecil. Ia saudara tiri Sultan Hairun dari pihak ibu, dan kapten kepala armadanya.[^8] Pengislaman raja Bolaang, kalau demikian bukan dakwah melainkan tindakan negara Ternate.

Ketiga, negerinya belum Muslim. Tujuh atau delapan negeri di bawahnya, kata surat itu, seluruhnya masih gentio (pagan/kafir). Yang kita hadapi adalah seorang raja Muslim, paksaan atas penduduk yang belum Muslim dan yang meminta agar seluruh susunan itu dipindahkan sekaligus.

Penyunting modern menilai penangguhan itu sebagai langkah bijak dari pihak Magalhães. Penilaian itu adalah penilaian penyunting, bukan keterangan dokumen dan pembaca berhak menimbangnya sendiri.[^9]

1568: Singgahan Yang Bukan Untuknya

Lima tahun kemudian Mascarenhas sendiri berlayar ke sana. Laporannya bertarikh Ternate 6 Maret 1569.[^10]

Sebelum sampai ke Bolaang, ia sudah menyatakan kebijakannya dengan terang. Ketika kerabat-kerabat raja Siau memintanya membaptis orang-orang di suatu negeri, ia menjawab dan menuliskannya kepada atasannya dalam orang pertama:

“Melihat bahwa yang telah kami jadikan Kristen di negeri ini sudah banyak sedangkan kami begini sedikit, sehingga kami tak dapat mengunjungi mereka kecuali sangat jarang, apalagi memelihara mereka, aku mengelak sebaik yang aku bisa, dengan memberi mereka harapan bahwa padri-padri yang kelak datang untuk tinggal di Celebes akan mengerjakannya dan bahwa aku sendiri datang tak lebih daripada meninjau yang sudah jadi.[^11]

Lalu ia sampai ke Bolaang dan alasan kedatangannya bukan rajanya:

“Akhirnya aku berangkat ke Cauripa dan, sambil menyusur pesisir pulau Celebes, aku singgah di negeri utama raja Bollão untuk mencari anak muda yang ditinggalkan Padre Diogo de Magalhães di Manado, sebab ia tinggal di sana pada waktu itu. Karena raja Bollão ini adalah putra raja Manado dan meskipun ia Muslim, ia sangat ingin menjadi Kristen. Pada waktu aku tiba, rajanya tidak ada di situ, sebab ia sedang pergi ke Bool — yang ia juga rajanya — lima puluh atau enam puluh legua jauhnya. Tetapi ibunda raja, begitu tahu bahwa aku ada di pelabuhannya, mengirim kepadaku dari negerinya babi, ayam, dan sagu; dan mengirim pesan agar aku sudi datang ke negeri itu yang letaknya jauh dari pelabuhan tempatku berada karena berada jauh ke dalam menyusuri sungai dan bahwa di sana ia akan memberiku sambutan sebaik yang ia bisa.[^12]

Dan jawabannya:

“Karena aku tidak menghendaki dan tidak mencari apa pun di negeri itu selain anak muda tadi, aku pun segera berangkat ke Cauripa.”[^13]

Undangan itu tidak terlewat karena kesempitan waktu. Ia ditolak dengan sadar dan Mascarenhas menuliskannya sendiri tanpa dalih apa pun. Anak muda yang dicarinya itu telah ditinggalkan Magalhães sekitar November 1563, jadi ia telah tinggal di sana kira-kira enam tahun.[^14]

Perhatikan pula geografinya, karena ia mengunci letak Bolaang: rutenya Manado → Bollão → Kaidipang, satu pelayaran menyusur pesisir utara dan rajanya juga raja Bool, yang menurut penyunting terletak di pesisir yang sama, lebih ke barat, ke arah Tolitoli.[^15]

1606–1607: Tetangganya Yang Dibaptis

Empat puluh tahun berlalu tanpa jejak. Ketika kawasan ini muncul lagi dalam arsip, yang berkuasa di Ternate sudah Spanyol, bukan Portugis.

Pada 2 Mei 1606 Luís Fernandes, Superior Maluku menulis kepada Raja Spanyol.[^16] Ia menyatakan telah delapan belas tahun berada di Maluku, jadi ia sezaman dengan seluruh generasi terakhir orang Portugis di sana. Suratnya memuat penilaian atas “la gran isla de Mateo, o Celebes por otro nombre“: penduduknya lembut, tidak suka perang, sebagian besar ditindas raja Ternate, dan akan mudah masuk agama Katolik karena hampir semuanya masih gentiles.[^17]

Dua hal patut dicatat di sini. Kategori “hampir semuanya masih gentil (pagan/kafir)” adalah kategori yang sama yang dipakai Magalhães pada 1563 atas negeri-negeri Bolaang. Dan penilaian tentang watak penduduk bertabrakan langsung dengan penilaian Magalhães, yang menyebut orang Manado sebagai yang paling ditakuti dan paling gagah dalam persenjataan. Dua penulis, dua watak yang berlawanan dan keduanya sedang meyakinkan atasannya masing-masing. Selisih itu lebih baik disajikan apa adanya daripada didamaikan.

Yang paling keras justru vonisnya atas seluruh masa Portugis:

“Pengetahuan tentang pulau ini bukan hal baru, tetapi orang Portugis di Tidore tidak punya kekuatan untuk melawan raja Ternate dan berpijak di sana, lebih daripada sesekali mengambil bekal — yang di sana banyak dan murah”.[^18]

Seabad kehadiran Portugis di lengan utara Sulawesi, dirangkum oleh pihak yang paling berkepentingan menyatakan sebaliknya: tahu tempatnya, tak sanggup berpijak, sesekali mengambil bekal.

Sesudah itu barulah datang gerakan yang sungguh-sungguh. Pada 26 Juli 1606 sepucuk surat dikirim dari Ternate kepada beberapa raja di pesisir utara Sulawesi, balasan mulai datang pada Oktober dan November tahun itu.[^19] Hasilnya dilaporkan Fernandes kepada Jenderal Claudio Acquaviva pada 31 Maret 1607:

“Orang-orang dari enam puluh legua jauhnya berlayar sendiri ke Siau untuk berunding dengan padri di sana, meminta dijadikan Kristen dan menawarkan istri, anak, serta vasal mereka. Dan sebagai buah pertama, padri di Siau — António Pereira — mengatekese lalu membaptis seorang raja dari sebuah negeri utama di pulau itu, bernama Bool, sesudah memberinya keterangan yang cukup tentang iman dalam bahasanya sendiri, yang dikuasai padri itu dengan baik.[^20]

Perhatikan bahwa mekanismenya terbalik dari 1563. Bukan padri yang datang membawa armada, melainkan orang yang datang sendiri, bukan pembaptisan massal dalam lima belas hari melainkan katekese dalam bahasa setempat lebih dulu.

Yang membalas, dibaptis. Bolaang tidak membalas dan tidak dibaptis.

1609: Perintah Yang Keluar Terlambat

Dua hari sesudah surat kepada Acquaviva, Fernandes menulis lagi kepada Raja Spanyol.[^21] Isinya benteng, cengkih, Makian, Ambon dan pada paragraf terakhir, kawasan kita:

“Tentang Isla de Matheo yang besar, tampaknya Tuhan hendak memakai Yang Mulia sebagai alat untuk membawa jiwa-jiwa itu kepada iman-Nya yang kudus dan menjadikan Yang Mulia tuan atasnya, sebab tiga atau empat raja di sana berseru dan meminta agar mereka menjadi Kristen dan sahabat orang Spanyol.”[^22]

Teksnya hanya berbunyi “tiga atau empat raja”. Nama Manado, Bolaang, Kaidipan, Buol dan Tolitoli seluruhnya berasal dari catatan kaki penyuntingnya, yang mengambilnya dari terbitan Colín–Pastells.[^23] Itu lapis penyunting, bukan lapis dokumen dan harus dinyatakan demikian.

Surat itu sampai ke Madrid dan di sanalah kita menemukan keping terakhir. Naskah aslinya memuat sembilan ringkasan margin oleh anggota Consejo de Indias, kebanyakan bernada menutup perkara, hendaknya digabungkan dengan berkas lain atau: tak ada yang perlu dijawab.

Hanya pada paragraf terakhir, yakni tentang tiga atau empat raja Isla de Mateo, ada keputusan sungguhan: agar hal ini ditulis kepada Gubernur Filipina dan agar ia dalam segala hal membantu maksud baik raja-raja itu. Suratnya diperiksa dan diputus pada 31 Januari 1609.[^24]

Dari seluruh isi surat, hanya bagian tentang raja-raja Sulawesi utara yang dianggap perlu ditindaklanjuti. Perintahnya keluar. Tidak ada padri yang datang ke Bolaang.

Mengapa Tak Seorang Pun Datang

Jawabannya ada di surat yang sama dan bukan berupa alasan melainkan angka.

Di seluruh “gran ysla de Mateo” tidak ada seorang padri pun. Yang ada hanya satu orang di Siau, yang bahkan tidak sanggup memenuhi kewajiban melayani Siau sendirian. Dan untuk seluruh Maluku: lima padri dan satu bruder, seluruhnya tua dan sakit, letih dan habis oleh perang-perang yang lalu — dua di Moro, satu di Siau, dua orang bersama seorang bruder di Ternate.[^25]

Itulah sebab yang sama yang membuat Magalhães menangguhkan pada 1563 dan Mascarenhas mengelak pada 1568. Empat puluh empat tahun, tiga penulis, satu keadaan.

Ada pula sebab yang kedua, yang lebih sulit dilihat karena berupa kategori. Pada 1607 Fernandes menulis bahwa selama masih ada moros di kepulauan ini mustahil memiliki vasal yang setia, “sebab orang Muslim adalah musuh orang Kristen”, dan perkara itu baru selesai bila raja Tidore masuk Kristen.[^26]

Itu penggolongan yang sama persis yang dipakai Magalhães untuk menangguhkan raja Bolaang: porquanto fora já mouro. Berjarak empat puluh empat tahun, dua penulis, satu cara berpikir.

Dan ada sebab ketiga yang bekerja di hulu. Xavier pada 1549 memerintahkan Beira menulis hanya “perkara-perkara yang membangun”, dan menjaga diri agar tidak menulis yang tidak membangun; seluruh surat harus lewat satu tangan di Malaka.[^27]

Penyaringan itu terjadi sebelum apa pun sampai ke Eropa. Kegagalan seperti Bolaang jarang meninggalkan jejak dan yang membuat kasus ini istimewa justru bahwa ia meninggalkan jejak.

Dari Sisi Mongondow

Kalau arsip Iberia tidak memberi nama, mungkinkah silsilah setempat memberikannya?

Kajian klasik tentang raja-raja Bolaang Mongondow adalah karangan W. Dunnebier dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.[^28] Di akhir uraiannya Dunnebier memuat daftar “mereka yang namanya terdapat dalam dokumen-dokumen resmi”.

Daftar itu dimulai dari nomor sembilan: Loloda’ Mokoagow atau Datoe Binangkang, ±1653–1693 dan bahkan itu pun masih bertanda kira-kira. Dari nomor sepuluh ke bawah semuanya kontrak bertarikh: Jacobus Manoppo, kontrak 20 Mei 1695; Franciscus Manoppo, 31 Desember 1731; dan seterusnya sampai 1947.[^29]

Artinya nomor satu sampai delapan tidak lolos ujian itu. Deret raja Bolaang Mongondow yang benar-benar berdokumen adalah deret kontrak dengan Kompeni dan pemerintah kolonial, bukan silsilah.

Dan dari mana nomor satu sampai enam berasal? Dunnebier membuka sumbernya sendiri: bahan tentang leluhur dan raja pertama Mokodoloedoet ia ambil dengan beberapa tambahan dan perubahan, dari sebuah naskah Melayu berjudul Hikajat keradjaan Bolaang Mongondow moelai dari zeman poerbakala hingga pada masa ini, karangan Radja Datoe Cornelis Manoppo, bertarikh Kotobangon, 31 Agustus 1909.[^30]

Itu ditulis oleh raja yang sedang menjabat, empat tahun sesudah ia berkontrak, delapan tahun sesudah Bolaang Mongondow ditempatkan di bawah seorang Controleur sendiri. Permintaan Dunnebier agar versi berbahasa Mongondow ditulis tidak pernah terpenuhi.

Sumber tertua yang ia punya jauh lebih tipis: sebuah geslachtsregister berbahasa Bolaang Mongondow, ditulis seorang panghoeloe djogoegoe pada 1836, disalin Wilken dan Schwarz pada 1866 dan tercetak dalam Mededeelingen jilid XV dan tentang Mokodoloedoet isinya, kata Dunnebier, sangat singkat.[^31]

Satu-satunya tokoh dalam silsilah itu yang bersinggungan tarikh dengan 1563 adalah nomor tiga, Kinalang atau Damopolii, yang menurut Dunnebier “agaknya hidup pada pertengahan abad ke-16”. Ia digambarkan sebagai pahlawan perang yang berhasil melawan berbagai suku dataran tinggi Mongondow, bukan raja pesisir yang tunduk pada Ternate, bukan putra raja Manado dan tak sepatah pun tentang Islam atau permintaan dibaptis.[^32]

Tetapi Dunnebier sendiri kemudian membongkar tokoh itu. Bentuk namanya, ki Kinalang inta ki Damopolii — “Kinalang yang adalah Damopolii” — menimbulkan dugaan padanya bahwa perbuatan Ramopolii, pahlawan Minahasa yang kemudian menjadi raja di Bolaang dan menundukkan orang Mongondow, belakangan dilekatkan kepada Kinalang dengan menyamakan keduanya.[^33]

Jadi satu-satunya jangkar abad ke-16 dalam silsilah Mongondow adalah sebuah nama gabungan dan kepahlawanannya adalah kepahlawanan orang dari Minahasa.

Daftar pustaka Dunnebier menerangkan mengapa episode 1563 tidak muncul sama sekali dalam karangannya karena di sana tidak ada satu pun sumber Portugis atau Spanyol. Semuanya Valentijn, Mededeelingen, Graafland, Godée Molsbergen, Schwarz, ensiklopedia, dan karya-karya Belanda lain.[^34]

Ia tidak mengabaikan episode itu, episode itu memang tidak pernah ada dalam kumpulan sumbernya.

Riedel, Delapan Puluh Tahun Sebelumnya

Karangan yang lebih tua dan yang justru paling dekat sasarannya adalah tulisan J. G. F. Riedel pada 1869 tentang kekuasaan raja-raja Bolaang atas Minahasa. Riedel menulis dari Minahasa, bekerja dari cerita dan tradisi orang Bolaang, Minahasa, dan Sangihe, dan menyatakan dengan tegas bahwa perbandingan kritis diperlukan bukan hanya untuk menguji kebenaran para penulis sejarah lama, melainkan juga untuk menentukan seberapa jauh tradisi yang ada boleh dipercaya.

Dan justru di situlah kita melihat batas saluran dokumennya. Dalam sebuah catatan kaki, Riedel menyatakan bahwa meski sudah menyelidiki di kalangan penduduk, ia tidak berhasil mengetahui apakah orang Portugis pernah mengunjungi Manado. Yang ia punya hanyalah keterangan Valentijn, bahwa pada 1568 Jesuit Didacus Magellanes dikirim ke Manado untuk penjelajahan dan membaptis raja Manado dan raja Siau beserta 1.500 orang mereka. Dan ia menutup dengan permintaan agar titik ini diberi penjelasan lebih lanjut.[^35]

Perhatikan apa yang terjadi di sini. Seorang etnograf yang tinggal di tempatnya, yang sedang menulis khusus tentang kekuasaan raja-raja Bolaang, sudah memegang serpihan peristiwa 1563 — nama padrinya, angka seribu lima ratus, kedua raja — tetapi melalui Valentijn dengan tarikh yang meleset lima tahun dan tanpa Bolaang sama sekali. Yang justru ada di bagian tengah pelayaran itu tak pernah sampai kepadanya. Ia bukan tidak mencari namun saluran dokumennya yang terputus.

Riedel juga memegang serpihan lain dari pelayaran 1568, bahwa orang Datahan menyatakan kepada Mascarenhas kesediaan mereka menjadi Kristen.[^36] Adegan Bolaang tidak ikut sampai.

Sisi silsilahnya pun tak sepakat dengan Dunnebier. Pada Riedel, Damopoliih justru salah seorang raja Bolaang yang ibunya orang Minahasa bahwa ia membujuk orang Mongondow menerima saudaranya Wantaniah sebagai datu, lalu pergi ke Minahasa dan menikahi Teteon, putri seorang kepala Tooeoenpakewa, dengan mas kawin sebidang tanah antara Rano ni apo dan Poigar. Klaim keturunan Damopoliih atas tanah-tanah itulah, kata Riedel, yang menimbulkan banyak peperangan.[^37]

Dunnebier membalik arahnya, baginya Ramopolii adalah pahlawan Minahasa yang kemudian menjadi raja di Bolaang. Dua versi berlawanan arah atas satu nama dan tak satu pun yang menyentuh 1563.

Raja Tanpa Nama

Maka raja Bolaang 1563 itu tidak bernama dari dua arah sekaligus. Arsip Iberia memberi peristiwanya tetapi tidak pernah namanya yakni pada 1563 ia “seorang putra raja Manado”, pada 1569 “raja Bollão“, pada 1607 hanya “tiga atau empat raja”. Silsilah Mongondow memberi nama-nama tetapi tidak sanggup menjangkau ke belakang 1653 dan di titik yang seharusnya bertemu, namanya sendiri ternyata pinjaman.

Dua deret yang seharusnya bersinggungan dan sama sekali tidak saling mengenal.

Ada satu adegan pada 1890-an yang saya kira menerangkan sebagian sebabnya. Ketika Paul dan Fritz Sarasin bermalam di rumah raja di Kotobangon, mereka melihat seorang keturunan muda dari raja tua yang dahulu dimakzulkan Belanda. Ia mengenakan sorban merah bersulam emas, sementara orang lain memakai kopiah anyaman rotan. Dan kepada mereka diberi isyarat bahwa sesungguhnya kepada pemuda itulah martabat raja itu milik. Adapun raja yang sedang menjabat — demikian kesan kedua pelancong itu — tampaknya kurang berwibawa di pedalaman.[^38]

Dokumen memberi nama kepada yang menandatangani, bukan kepada yang diakui. Itu berlaku untuk daftar kontrak abad ke-18 dan ke-19 dan berlaku juga dengan cara lain, untuk seorang raja pada 1563 yang meminta sesuatu, ditangguhkan dengan sebuah alasan yang hanya diberikan kepadanya, disinggahi sekali lagi lima tahun kemudian oleh seorang padri yang mencari orang lain dan sesudah itu tidak pernah dituliskan namanya oleh siapa pun.

Lampiran I — Balam, Bolam, Bolão

Surat 1563 itu terbit dalam dua edisi modern, dan keduanya membaca nama negeri itu dengan berbeda. Artur Basílio de Sá mencetak “Balam” dan mengidentifikasinya dalam catatan kaki sebagai Belang, di pesisir tenggara Minahasa.[^39] Jacobs mencetak “Bolão” dan mengidentifikasinya sebagai Bolaang.

Perkaranya tertutup oleh aparat kritis. Pada baris 72 halaman 414, Jacobs mencatat varian naskah A: “Bolam“.[ ^40] Pada surat 1569 teks utamanya berbunyi Bollão, dengan varian naskah B “Bolão“.[^41] Jadi seluruh saksinya:

Bacaan Sumber
Bolão D 125, teks utama
Bolam D 125, naskah A
Balam Sá, edisi lain surat yang sama
Bollão D 162, teks utama
Bolão D 162, naskah B

Dalam ortografi Portugis abad ke-16, –ão dan –am adalah dua cara menuliskan diftong sengau yang sama (capitam / capitão), dan kerap disingkat dengan tilde. Selisih Balam / Bolam / Bolão adalah selisih penyalin, bukan selisih tempat.

Deretnya berlanjut ke sumber Belanda. Riedel mencatat bahwa Valentijn dan penulis-penulis lama lain menyebut negeri itu Boelan, Bolan, atau Boelang.[^42]

Geografinya menutup perkara dari arah kedua. Pada 1563 rutenya Manado → menyusur pesisir → Bolão → Kaidipang. Pada 1569 rutenya sama dan rajanya juga raja Bool yang terletak di pesisir yang sama lebih ke barat. Belang, di pesisir tenggara Minahasa tidak bisa duduk di tengah rute mana pun dalam kedua surat itu. Identifikasi Sá gugur.

Yang gugur bersamanya adalah tebakan Sá bahwa Totole berarti Motoling yakni dua tempat terpisah dalam Documenta Malucensia menetapkannya sebagai Tolitoli.

Lampiran Ii — Di Manakah Bolaang Pada 1563?

Catatan kaki Jacobs menempatkan Bolaang 1563 di muara Sungai Lombagin, dengan keterangan bahwa kota itu dipindahkan ke timur pada 1850 dan merujuk Sarasin.[^43]

Rujukan itu menopang. Sarasin mencatat bahwa sesudah meninggalkan Bolaäng dan menyusur pesisir ke barat, mereka tiba di muara Sungai Lombágin, yang terbentuk dari pertemuan Ongkag dan Dumoga. Dan bahwa negeri Bolaäng dahulu terletak di muara Lombagin itu, tetapi dipindahkan lebih ke timur laut sekitar tahun 1850 karena buaya.[^44]

Sungai itu tak dapat diseberangi dengan berjalan atau berenang dan penduduknya memagari pondok dengan bambu agar buaya yang naik ke darat pada malam hari tidak masuk.

Ada penopang kedua yang jauh lebih tua dan dari jalur yang sama sekali terpisah. Riedel mencatat bahwa pasal 17 kontrak Speelman, 18 November 1667 yang ditutup tanpa sepengetahuan orang Bolaang, menyebut Bolaang dengan sebutan “de landen van Lombagij“, yang ia bacakan sebagai Lombagin.[^45]

Jadi nama sungai itu bukan sekadar penanda geografis abad ke-19. Itu sudah dipakai sebagai nama bagi negeri itu dalam dokumen Kompeni pada 1667. Dan menurut Riedel, begitu isi pasal itu diketahui orang Bolaang, mereka menolak kekuasaan Ternate dengan alasan tak pernah tunduk kepada raja-rajanya dan itulah yang dipakai Sultan Sibori untuk menyatakan perang pada 1677.

Satu jejak lagi, yang kini dapat diperiksa langsung. Bartolome Leonardo de Argensola, Conquista de las Islas Malucas (Madrid: Alonso Martin, 1609), hlm. 82 memuat daftar kekuatan militer raja-raja Ternate. Tentang “la estendida isla Matheo” ia menulis bahwa pulau itu mempunyai berbagai kerajaan, tiga puluh legua jauhnya ke arah barat, masing-masing tunduk kepada rajanya sendiri dan seluruhnya kepada raja Ternate, dan menghadap kepadanya dengan orang bersenjata: Totole dan Bool enam ribu prajurit; Gaydupa tujuh ribu; Gorontano dan Iliboto sepuluh ribu; Tomine dua belas ribu; Manado dua ribu; Dondo tujuh ratus; Labague seribu; Pulo dan Iaqua sepuluh ribu.[^46]

Pembacaan “Labague” sebagai Lombagin adalah ditemukan dalam kurung oleh Riedel. Argensola sendiri tidak menyebutkan letaknya dan identifikasi itu belum dapat dipastikan. Perlu dicatat pula bahwa kutipan Riedel meringkas daftar tersebut dan melompati Pulo serta Iaqua.

Kalau identifikasi itu tegak, ia menimbulkan satu tegangan yang lebih baik dinyatakan daripada ditutupi bahwa Argensola pada 1609 menempatkan Labague di antara negeri-negeri yang tunduk kepada raja Ternate. Sedangkan Riedel justru menyatakan bahwa sebelum 1677 Ternate tidak pernah memungut upeti dari Bolaang.

Tetapi perhatikan jenis penalaran pada catatan kaki Jacobs. Sarasin merekam keterangan setempat tentang letak sebelum 1850, jarak sekitar empat puluh tahun. Jacobs kemudian memundurkan letak itu tiga abad lagi ke 1563 dan ia menandainya sendiri dengan rumusan bahwa untuk 1563 kita harus menempatkannya di sana.[^47]

Letak Bolaang pada 1563 karena itu tetap sebuah simpulan penyunting, kini simpulan berkaki dua tetapi tetap simpulan. Yang dinyatakan dokumen abad ke-16 hanyalah bahwa negeri utamanya terletak jauh ke dalam menyusuri sungai, sedangkan pelabuhannya di pesisir.[^48]

Catatan kaki

Untuk membaca/mengunduh data selengkapnya, silakan masuk ke akun komunitas Anda. Jika belum ada silakan register.

  • Penulis: Alfa Leo

Rekomendasi

  • Sultan Pahang bersama istrinya Maria Menado (Koran Sinar Harapan, 19-07-1969 hal 5, kol. 1-2. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba-Perpustakaan Nasional RI)

    Dari Minahasa ke Istana Pahang: Jejak Langkah Liesbet Dotulong di Era Emas Perfilman Melayu

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Liesbet Dotulong yang kemudian dikenal luas dengan nama panggung Maria Menado lahir pada 2 Februari 1932 di wilayah Minahasa, Sulawesi Utara.[1] Ia berasal dari lingkungan masyarakat Minahasa yang pada masa itu telah memiliki tradisi mobilitas sosial dan pendidikan yang relatif terbuka. Sejak usia dini, Liesbet telah meninggalkan kampung halamannya dan mengikuti keluarga ke Makassar, sebelum […]

  • Replika kapal kerajaan Spanyol, Galleon (2016 - new York)

    Sejarah Kema Minahasa Utara: Puerto de Quemada, Gerbang Timur dalam Catatan Iberia

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Dalam peta pelayaran Eropa abad ke-16 hingga ke-17, garis pantai Sulawesi Utara tidak hanya ditandai oleh Manado. Di sisi timur semenanjung Minahasa, terdapat satu titik strategis yang oleh sebagian penulis sejarah lokal dikaitkan dengan nama-nama seperti “Quemada“, “Kima“, atau “Puerto de Quema” dalam catatan pelayaran Iberia, meski seperti akan diuraikan di bawah, sebagian toponim ini […]

  • Sejarah Berdirinya Desa Sea Kecamatan Pineleng

    Sejarah Berdirinya Desa Sea Kecamatan Pineleng

    • calendar_month Senin, 1 Mei 2023
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Desa Sea adalah salah satu wilayah Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa mulanya adalah sebuah wilayah perkebunan kelapa dan kopi di massa VOC zaman penjajahan Belanda. Para pekerjanya di datangkan dari Minahasa dan Gorontalo. Para pekerja ini sambil bekerja mereka mencari tempat persinggahan/tinggal sementara disekitar perkebunan. Kemudian mereka tinggal menetap disana sehingga oleh pemerintah hindia belanda pada […]

  • Pasar Malam Manado untuk Korban Perang di Tiongkok, 1937

    Pasar Malam Manado untuk Korban Perang di Tiongkok, 1937

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Surat kabar Keng Hwa Poo edisi 27 November 1937 memberitakan gerakan pengumpulan bantuan bagi Palang Merah Tiongkok yang berlangsung di berbagai tempat, termasuk Manado. Gerakan tersebut muncul ketika perang antara Jepang dan Tiongkok menimbulkan banyak korban. Menurut surat kabar itu, mereka yang memerlukan pertolongan bukan hanya serdadu yang terluka atau sakit, melainkan juga penduduk sipil […]

  • Ilustrasi Ai

    Diplomasi “Arak” di Minahasa: Jamuan Makan yang Mengubah Hubungan Adat Menjadi Kontrak Kolonial

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Sejarah tidak selalu ditentukan di medan perang. Dalam beberapa peristiwa, perubahan besar justru terjadi di meja makan. Catatan peneliti kolonial abad ke-19, J.G.F. Riedel, menggambarkan salah satu momen transisi penting dalam sejarah Minahasa: ketika hubungan persahabatan adat perlahan berubah menjadi ikatan politik kolonial melalui jamuan makan dan minuman arak. Peristiwa ini berkaitan dengan perjanjian antara […]

  • Gambar Johann Gottlieb Schwarz saat usia 29 tahun (https://hetutrechtsarchief.nl)

    Johann Gottlieb Schwarz: Pionir Pekabaran Injil dan Pendidikan di Langowan

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Pada 12 Juni 1831, dua orang misionaris asal Eropa, Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwarz, tiba di Manado. Kedatangan keduanya menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan Kekristenan dan pendidikan modern di Minahasa. Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) kemudian memperingati tanggal tersebut sebagai Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Tanah Minahasa.¹ […]

expand_less