Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sejarah » TBC di Residentie Menado: Catatan Statistik Kesehatan Tahun 1925

TBC di Residentie Menado: Catatan Statistik Kesehatan Tahun 1925

  • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
  • visibility 46
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam pertemuan kedokteran di Hindia Belanda tanggal 20 Oktober 1926, Hasskarl Medenbach menyampaikan uraian mengenai statistik kesehatan tentara selama tahun 1925. Statistik tersebut mencakup sekitar 33.000 orang, terdiri atas sekitar 26.000 non-Eropa dan 7.300 orang Eropa. Dalam laporan tersebut, kondisi kesehatan kedua kelompok dibandingkan berdasarkan berbagai jenis penyakit.¹

Salah satu penyakit yang dicatat dalam laporan itu adalah tuberkulosis (T.B.C.) pada paru-paru, pleura, dan laring. Menurut uraian Medenbach, penyakit tersebut secara proporsional ditemukan jauh lebih banyak pada kelompok non-Eropa dibandingkan kelompok Eropa. Angka yang dicatat disebut sekitar tiga kali lebih tinggi daripada yang diperkirakan, dan laporan tersebut menyebut keadaan itu sebagai sesuatu yang menunjukkan lebih besarnya kerentanan kelompok non-Eropa terhadap penyakit tersebut.²

Dalam uraian yang sama terdapat satu keterangan khusus mengenai wilayah Residentie Menado. Setelah membahas TBC pada paru-paru, pleura, dan laring, laporan tersebut menyatakan secara langsung bahwa “In de residentie Menado is het veelvuldig voorkomen van t.b.c. vastgesteld”, yang berarti bahwa banyaknya kejadian TBC telah ditemukan di Residentie Menado.³

Keterangan tersebut berada dalam bagian statistik yang membahas perbedaan penyakit antara orang Eropa dan non-Eropa. Sebelum pembahasan TBC, laporan mencatat bahwa malaria lebih banyak ditemukan pada kelompok non-Eropa, sedangkan demam tifoid justru lebih banyak tercatat pada kelompok Eropa. Untuk malaria, laporan menghubungkannya dengan perlindungan yang lebih sedikit terhadap gigitan nyamuk serta keberadaan di kampong selama izin 24 jam.⁴

Untuk TBC, laporan tidak memberikan angka jumlah penderita khusus untuk Residentie Menado pada bagian tersebut. Yang dicatat adalah bahwa TBC paru-paru, pleura, dan laring secara proporsional lebih banyak ditemukan pada kelompok non-Eropa, sementara Residentie Menado disebut sebagai wilayah tempat banyaknya TBC telah ditemukan. Dengan demikian, keterangan mengenai Menado dalam sumber tersebut berbentuk catatan mengenai frekuensi kejadian, bukan tabel jumlah kasus khusus untuk wilayah itu.⁵

Statistik tahun 1925 itu juga mencatat sejumlah penyakit pernapasan lainnya. Pneumonia lobaris disebut sekitar empat kali lebih banyak pada kelompok non-Eropa dibandingkan kelompok Eropa, sedangkan bronkopneumonia dan asma bronkial disebut sekitar dua kali lebih banyak pada kelompok non-Eropa. Dalam bagian yang sama, laporan menyatakan bahwa kelompok Eropa lebih banyak mengalami beberapa penyakit saluran pencernaan, sementara kelompok non-Eropa lebih banyak mengalami penyakit pada organ pernapasan.⁶

Laporan tersebut kemudian membandingkan keadaan kesehatan antara Java dan Buitengewesten. Untuk beberapa penyakit terdapat perbedaan antara kedua wilayah tersebut. Pada Buitengewesten, angka demam tifoid pada orang Eropa disebut lebih baik dibandingkan di Jawa, yang oleh laporan dikaitkan dengan persentase vaksinasi yang lebih tinggi. Untuk malaria, penderitaan di Buitengewesten disebut lebih banyak daripada di Jawa.⁷

Dalam uraian mengenai Buitengewesten tersebut, sumber tidak memberikan angka tersendiri untuk TBC di Residentie Menado. Keterangan mengenai Menado muncul secara khusus dalam bagian sebelumnya, yaitu setelah pernyataan mengenai tingginya proporsi TBC paru-paru, pleura, dan laring pada kelompok non-Eropa. Karena itu, catatan sumber mengenai Menado dapat ditempatkan sebagai bagian dari uraian statistik kesehatan tahun 1925 tanpa menambahkan angka yang tidak dicantumkan dalam laporan.⁸

Pertemuan tersebut juga membahas penyakit lain, termasuk beri-beri, penyakit kelamin, abses hati, batu saluran kemih, dan furunkulosis. Beri-beri disebut sekitar lima kali lebih banyak pada kelompok non-Eropa dibandingkan kelompok Eropa. Sementara itu, batu pada saluran kemih disebut sekitar enam kali lebih banyak pada kelompok Eropa.⁹

Catatan tentang TBC di Residentie Menado dengan demikian muncul dalam sebuah laporan kedokteran yang menyajikan statistik kesehatan tahun 1925. Sumber tersebut menyebut TBC pada paru-paru, pleura, dan laring sebagai penyakit yang secara proporsional lebih banyak ditemukan pada kelompok non-Eropa, kemudian secara khusus mencatat bahwa banyaknya kejadian TBC telah ditemukan di Residentie Menado. Laporan itu tidak mencantumkan jumlah penderita TBC khusus untuk Residentie Menado dalam bagian yang dibahas.¹⁰

Catatan kaki

1. Hasskarl Medenbach, “Korte beschouwing over de legerstatistiek over het jaar 1925,” dalam Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1927, bagian pertemuan 20 Oktober 1926.

2. Ibid., keterangan mengenai T.B.C. paru-paru, pleura, dan laring.

3. Ibid., “In de residentie Menado is het veelvuldig voorkomen van t.b.c. vastgesteld.”

4. Ibid., statistik demam tifoid dan malaria.

5. Ibid.

6. Ibid., keterangan mengenai beri-beri, pneumonia lobaris, bronkopneumonia, dan asma bronkial.

7. Ibid., perbandingan Jawa dan Buitengewesten.

8. Ibid.

9. Ibid.

10. Ibid., bagian statistik TBC.

  • Penulis: Engel Yong

Rekomendasi

  • Para elite penerus kerajaan Bolmong kembali mengajukan klaim atas sebagian wilayah Minahasa (ilustrasi)

    Ambisi yang Terpatahkan: Tuntutan Bolaang dan Rapuhnya Tata Kelola Adat Minahasa

    • calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Setelah disahkannya Perjanjian 10 September 1699 di Fort Amsterdam, Manado, kawasan utara Sulawesi memasuki fase transisi yang menentukan. Harapan akan stabilitas pasca-konflik ternyata belum sepenuhnya terwujud. Dalam periode ini, Minahasa menghadapi dua tekanan sekaligus: ancaman eksternal dari kekuatan regional dan kelemahan internal dalam tata kelola pemerintahan adat.   Klaim Teritorial Bolaang: Ujian Awal Kedaulatan   […]

  • Douglas A-26 Invader (ditunjuk B-26 antara 1948-1965) adalah pesawat light bomber bermesin ganda dan pesawat serangan pengintai.

    Elang-Elang Besi di Langit Minahasa: Profil Pilot AUREV Permesta

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Pecahnya pergolakan Permesta di Sulawesi Utara melahirkan salah satu kekuatan udara paling disegani dalam sejarah pemberontakan di Indonesia: AUREV (Angkatan Udara Revolusioner). Kekuatan ini unik karena menggabungkan idealisme perwira pembelot lokal dengan keahlian teknis tentara bayaran internasional yang disokong penuh oleh CIA melalui operasi rahasia. Dalam “radar” Washington, kekuatan udara ini menjadi kunci untuk menciptakan […]

  • Majoor H.W Dotulong bersama pasukan tiba di pelabuhan Semarang 1829 (ilustrasi)

    Ketika Minahasa Mengirim Pasukan ke Perang Jawa

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Pada tahun keempat Perang Jawa, tentara Hindia Belanda kekurangan orang. Perekrutan serdadu di pulau-pulau luar Jawa yang diatur lewat dokumen Resolutie 13 Februari 1827 hasilnya mengecewakan.¹ Satu-satunya kabar baik datang dari Maluku. Sultan Ternate dan Sultan Tidore bersedia mengirim orang ke Jawa, tetapi hanya sebagai pasukan bantu (hulptroepen), bukan sebagai serdadu tetap. Jenderal De Kock menyambut […]

  • Pantai Temboko Lehi, Satu-Satunya ‘Hot Water Beach’ di Indonesia

    Pantai Temboko Lehi, Satu-Satunya ‘Hot Water Beach’ di Indonesia

    • calendar_month Senin, 28 Jul 2025
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Pantai Temboko Lehi: Satu-Satunya ‘Hot Water Beach’ di Indonesia   Pantai Temboko Lehi atau yang biasa disebut Pantai Lehi berada di Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. Letaknya sekitar 137 km dari pusat kota Manado, dan pantai ini menghadirkan salah satu fenomena alam paling unik di Indonesia: air laut yang […]

  • Waruga Pinkan Magogunoy di Desa Kema III

    Jejak Pingkan-Matindas dan Tewasnya Raja Bolaang Mongondow

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Di balik kabut historiografi Sulawesi Utara abad ke-16, tersimpan sebuah kisah yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Minahasa: legenda Pingkan dan Matindas. Selama berabad-abad, cerita ini diwariskan dari generasi ke generasi sebagai roman tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Namun ketika tradisi lisan dibaca berdampingan dengan silsilah keluarga, genealogi kerajaan, toponimi lokal, dan catatan etnografi kolonial, […]

  • Pakaian Wanita Minahasa era 60-an

    Pakaian Wanita Minahasa era 60-an

    • calendar_month Sabtu, 7 Sep 2024
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Dua orang wanita muda asal Minahasa berpose dalam sebuah acara kepemudaan di Australia, 10 Maret 1962 Misses Triena and Isla Sorongan, daughters of Andrew Sorongan from Minahassa , sheltered from the rain under an Indonesian “pajong” at the garden party held at the Wingham International Friendship Centre, March 10, 1962. Source Getty Image Colored by […]

expand_less