Pilihan Pembaca
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tradisi Lisan » Tiga Serangkai Penguasa Minahasa: Pacat Supit, Lontoh Tuunan, Dan Paat Kolano

Tiga Serangkai Penguasa Minahasa: Pacat Supit, Lontoh Tuunan, Dan Paat Kolano

  • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
  • visibility 24
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dari tiga serangkai penguasa Minahasa, Lontoh Tuunan adalah yang pertama meninggal pada 1719. Ia disusul Paat Kolano pada 1725, kemudian Pacat Supit Sahiri Macex pada Maret 1738.

Sepeninggal Lontoh Tuunan, putranya, Rondonuwu (Lontoh), menggantikannya sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Sarongsong. Paat Kolano digantikan putranya, Manengkeimuri, sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Tomohon. Sementara itu, setelah Pacat Supit meninggal, putranya, Mongi, menggantikannya sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Tombariri. Anak Supit Sahiri lainnya, Rondonuwu (Supit), kelak mengambil alih posisi Manengkeimuri di Tomohon.

Kematian Lontoh Tuunan dikisahkan terjadi karena sakit. Jenazahnya diwarugakan di ibu kota Sarongsong saat itu, yang kini dikenal sebagai Tulau-Amian Nimawanua. Sayangnya, posisi waruga tersebut tidak lagi diketahui. Seiring berjalannya waktu, keberadaannya terlupakan dan kemungkinan waruga itu telah hancur atau tertimbun tanah setelah gempa bumi tahun 1845. Bencana tersebut menyebabkan penduduk meninggalkan lokasi lama dan pindah ke Sarongsong yang sekarang, di bagian timur kota tua itu.

Versi lain yang berkembang, terutama pada masa pemerintahan Gubernur H.V. Worang, menyebutkan bahwa waruga Lontoh dan Paat berada di Treman, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, tepatnya di samping gereja GMIM Eben Haezar. Penempatan waruga di lokasi tersebut dikaitkan dengan anggapan bahwa keduanya merupakan tokoh dan kepala dari kalangan orang Tonsea. Bahkan, ada penulis yang menggambarkan Paat Kolano sebagai Kepala Tombulu, Supit sebagai Kepala Toulour, dan Lontoh sebagai Kepala Tonsea. Dalam versi Treman, Lontoh disebut sebagai pendiri negeri itu pada 1776.

Klaim bahwa waruga di Treman merupakan milik Lontoh dan Paat juga diperkuat oleh versi silsilah yang menempatkan keduanya sebagai tokoh asal Tonsea sekaligus kerabat dekat. Lontoh adalah anak Regar dan Ringking. Ia menikahi Amben, putri Runtulangi dan Tolang Pinorotan. Sementara itu, Supit merupakan anak Tidadas, kakak Amben, dengan Kowulan. Paat adalah anak Kokory Pinasoke, kakak kedua Amben, dengan Soerensina.

Mengenai kematian Paat Kolano, selain kisah bahwa ia meninggal secara wajar pada usia tua dan diwarugakan di Tomohon, berkembang pula cerita dengan akhir yang tragis. Waruganya di Tomohon juga tidak lagi diketahui keberadaannya. Nimawanua, bekas lokasi kota lama Tomohon hingga 1845, telah menjadi kompleks hunian yang cukup padat di Kelurahan Kolongan. Dalam perkembangan cerita lisan, muncul versi bahwa Paat meninggal karena dibunuh, bahkan kepalanya dipenggal.

Konon, peristiwa itu terjadi ketika Paat pergi dari Tomohon menuju Tonsea. Dalam perjalanan, ia dihadang di lokasi yang berdekatan dengan Airmadidi, kemudian dibunuh dan mayatnya dilemparkan ke dalam jurang. Namun, di Tondano berkembang cerita lain yang menyebutkan bahwa Paat dibunuh di Tataaran. Dalam versi ini, musuh-musuhnya bahkan sampai memenggal kepalanya.

Yang menarik, Belanda seakan enggan mengangkat nama Lontoh dan Paat dalam ingatan resmi mereka. Keadaan ini berbeda dengan Pacat Supit Sahiri, yang jasa-jasa dan namanya kemudian begitu dihormati Belanda sejak dekade kedua abad ke-20.

Setiap tahun, hingga Belanda meninggalkan Minahasa pada 1949, peringatan penandatanganan Kontrak 10 Januari 1679 dilaksanakan pada tanggal 10 Januari. Upacara resmi dipimpin oleh Residen Manado dan berlangsung di monumen peringatan 250 tahun perjanjian Belanda-Minahasa yang dibangun pada 1929. Setelah itu, rombongan melanjutkan kegiatan dengan berziarah ke waruga Sahiri, yakni waruga Pacat Supit, yang dipandang sebagai saksi perjanjian tersebut.

Waruga itu berada di depan gereja Protestan Woloan, yang kini dikenal sebagai gereja GMIM Eben Haezar Woloan II. Pada 1929, waruga tersebut turut dipugar di bawah petunjuk Asisten-Residen Manado, Max Hamerstar.

Pindah Dua Kali

Ketika Pacat Supit Sahiri Macex meninggal di Tomohon pada Maret 1738, terjadi keributan besar. Jenazahnya diperebutkan oleh sejumlah balak besar Minahasa, yakni Ares, Tombariri, Tondano, dan Tomohon. Masing-masing menginginkan Supit diwarugakan di wilayah mereka sendiri.

Putranya dari istri asal Ares, Suanen, yaitu Hukum Mayoor Tololiu, yang sangat dekat dengan Residen Manado, menginginkan ayahnya dikuburkan di Tikala, ibu kota Ares. Sementara itu, Mongi, putra Supit dari istri asal Tombariri, Woki Konda, menghendaki agar ayahnya dikuburkan di Katingolan, ibu kota Tombariri. Putranya di Tondano juga mengklaim bahwa Supit lebih pantas dikuburkan di Tondano.

Namun, semua pihak akhirnya tidak berdaya menghadapi keputusan Rondonuwu, putra tertua Supit dari istri pertamanya, Laya. Rondonuwu, yang menjabat Hukum Mayoor, memutuskan bahwa Pacat Supit akan dikuburkan di Kamasi, berdampingan dengan waruga Laya.

Putra-putra Supit lainnya cukup puas dengan keputusan tersebut, tetapi Mongi dan para kepala Tombariri di Katingolan tidak demikian. Mereka merencanakan pencurian waruga Supit dari Kamasi.

Rencana itu dijalankan pada suatu malam ketika penduduk Kamasi benar-benar tertidur pulas. Puluhan pria Tombariri menggali dan menarik waruga Pacat Supit dari liang kuburnya menggunakan tali yang terbuat dari bambu teling muda atau buluh tumatikak. Selama penggalian berlangsung, para wanita Tombariri menarikan Sinauan untuk memberikan semangat kepada para pria yang bekerja.

Tidak lama kemudian, waruga itu berhasil diangkat. Mereka lalu memikulnya beramai-ramai ke arah barat, menuju lokasi ibu kota Tombariri di Katingolan. Ritual Sinauan mengiringi perjalanan mereka hingga waruga tiba di negeri tersebut dan kemudian dikuburkan kembali.

Rondonuwu awalnya marah atas tindakan adik tirinya itu. Namun, setelah Mongi menjelaskan bahwa ayah mereka paling layak dan pantas dikuburkan di Katingolan, tempat ia dahulu memerintah, Rondonuwu akhirnya menerima keputusan tersebut.

Setelah Mongi memindahkan ibu kota Balak Tombariri ke Lolah, bekas ibu kota lama di Katingolan hanya menyisakan negeri bernama Woloan. Negeri ini kemudian dihancurkan oleh gempa bumi dahsyat pada 8 Februari 1845.

Gempa yang kerap dikaitkan dengan letusan Gunung Lokon itu berlangsung selama sembilan hari sembilan malam. Bencana tersebut menelan banyak korban jiwa, menimbulkan retakan besar di berbagai tempat, serta memunculkan ancaman longsor di bagian utara dan selatan Katingolan yang memang memiliki tebing. Penderitaan penduduk Woloan semakin berat karena pada saat itu juga berjangkit wabah penyakit.

Para pemimpin Woloan di Katingolan ketika itu, yang dihadiskan terdiri atas Tonaas Rumondor, Walian Pontoh, Putoosan Kapoh, dan Teterusan Makal, akhirnya menyepakati pemindahan negeri ke tempat yang lebih aman di bagian selatan, yaitu lokasi Woloan sekarang.

Untuk menentukan waktu dan kelayakan pemindahan tersebut, mereka melaksanakan acara Linigauan hingga tiga kali sebelum akhirnya memperoleh tanda yang dianggap baik. Pemindahan Woloan pada 1845 berlangsung semarak. Waruga Pacat Supit juga ditarik dari liang kuburnya dan diusung beramai-ramai ke lokasi baru yang hanya berjarak sekitar satu kilometer.

Pemindahan negeri dan waruga Supit dimeriahkan dengan pesta rakyat. Penduduk menabuh berbagai bunyi-bunyian dan memainkan musik lengdeng, yakni gitar dari bambu yang dimainkan dengan cara diketik-ketik sehingga menghasilkan bunyi deng-deng.

Khusus dalam ritual pemindahan waruga Pacat Supit yang ditarik menggunakan tali buluh tumatikak, para wanita turut memeriahkan suasana dengan menarikan Mangaloong. Setelah tiba di lokasi baru, waruga itu ditanam kembali di tengah-tengah permukiman, yang kini masuk Kelurahan Woloan II, Kecamatan Tomohon Barat.

Ketika zendeling Tanawangko, Nicolaas Graafland, melakukan pembaptisan pertama di Woloan pada 14 Oktober 1860, ia segera membangun gereja sederhana di dekat waruga Pacat Supit Sahiri. Pada masa itu, lokasi tersebut merupakan pusat kegiatan agama alifuru masyarakat Woloan.

Gereja yang kemudian berkembang sebagai gereja Protestan bersimbol ayam dan kini bernama Eben Haezar seakan menjadi satu kesatuan dengan waruga Supit. Waruga itu sendiri telah beberapa kali mengalami pemugaran.

Pada nisan Pacat Supit Sahiri terdapat inskripsi dalam bahasa Melayu tua dengan huruf kapital:

“Inilah Coubur:Der.Hocom Majo:r.Soupit:Ter:D:B: M:S:1738.”

Senyum Pacat Supit Dan Kisah Perkawinannya

Kehebatan Pacat Supit Sahiri Macex bukan hanya terletak pada kecerdasan, wibawa, dan karismanya, melainkan juga pada senyumnya yang memikat. Ketika senyumnya merekah dan ia mulai berbicara, orang-orang dikisahkan mudah terpesona, terutama kaum hawa.

Barisan giginya yang putih berkilau, meskipun terbiasa mengunyah sirih-pinang, konon menjadi salah satu daya tariknya. Bentuk giginya disebut-sebut kecil seperti gigi tikus sehingga membuat siapa pun yang memperhatikannya terpesona.

Gadis pertama yang membuat Supit jatuh cinta adalah Laya, perempuan asal Kamasi. Dari perkawinan mereka lahir seorang putra bernama Rondonuwu dan seorang putri bernama Liwun.

Tidak lama kemudian, Supit jatuh cinta kepada Suanen. Ketika berkunjung ke Manado untuk urusan jabatannya di Benteng VOC dan bertemu dengan Residen, Supit kerap singgah dan bermalam di rumah Rumondor, Kepala Balak Ares di Tikala.

Rumondor telah berusia tua, tetapi memiliki banyak istri. Salah seorang istri mudanya bernama Suanen, yang dikisahkan langsung jatuh hati kepada Supit ketika pertama kali melihatnya.

Pada masa itu, pesta setelah panen padi baru di Ares lazim menjadi ajang perkawinan penduduk Minahasa. Dalam sebuah pesta, Suanen menari dan menghibur suaminya, Rumondor, serta Supit. Di tengah suasana tersebut, ia secara terang-terangan mengungkapkan perasaannya kepada Supit.

Rumondor memahami keadaan itu dan dengan rela hati menyerahkan istri mudanya yang cantik tersebut untuk menjadi istri Supit.

Mendengar kejadian itu, Laya, istri pertama Supit, marah dan mengancam akan mencabik-cabik Suanen. Supit yang takut kepada istrinya tidak berani membawa istri barunya ke Katingolan, ibu kota Balak Tombariri. Sebagai gantinya, ia membangun rumah baru untuk Suanen di Ares. Dari perkawinan tersebut lahir seorang anak lelaki bernama Tololiu.

Beberapa waktu kemudian, sekitar 1682, Supit memimpin pasukan Minahasa untuk membantu komandan Benteng Manado, Sersan Herman Smith, menghukum Balak Pasan-Ratahan, Tonsawang, dan Ponosakan. Balak-balak tersebut telah masuk dalam wilayah Minahasa, tetapi masih membangkang dengan memberikan upeti kepada Raja Bolaang (Mongondow).

Mendengar bahwa Supit memimpin langsung pasukan penyerbu, Kepala Balak Pasan atau bangko bernama Watuseke merasa gentar. Ia kemudian menggunakan siasat yang berkaitan dengan kegemaran Supit terhadap perempuan cantik, sesuatu yang bukan lagi rahasia.

Watuseke memerintahkan putrinya yang cantik, Woki Konda, untuk menyambut kedatangan Supit dan pasukannya di luar Ratahan. Ketika Woki Konda datang bersama para pengiring dengan perhiasan emas dan permata, Supit langsung jatuh cinta kepadanya. Perkawinan mereka pun berlangsung di Ratahan.

Peristiwa itu membawa perubahan politik yang penting. Pasan-Ratahan, Tonsawang, dan Ponosakan tidak lagi bersikap mendua dan secara resmi bergabung sepenuhnya sebagai balak-balak Minahasa.

Sekali lagi, Laya, istri pertama Supit, dilanda kecemburuan dan kemarahan. Ia merajuk, pulang ke Tomohon, dan kembali tinggal di rumahnya di Kamasi. Laya bahkan mengancam akan merobek-robek atau kese’en wajah cantik Woki Konda jika mereka bertemu.

Kepulangan Laya ke Tomohon justru dianggap Supit sebagai kesempatan. Ia membawa istri barunya dari Ratahan menuju Katingolan melalui Sarongsong, mengambil jalan memutar agar tidak melewati Tomohon dan berhadapan dengan ancaman Laya.

Dari perkawinannya dengan Woki Konda, Supit memperoleh anak-anak bernama Mongi, Tinangon, dan seorang putri bernama Kaampungen. Setelah Supit meninggal, Mongi membawa ibunya ke Lolah tua, ibu kota baru Tombariri, hingga ibunya meninggal dan diwarugakan di sana.

Pada masa berikutnya, ketika Supit Sahiri diangkat menjadi Kepala Balak Tondano pada 1710, ia kembali memperistri dua gadis Tondano bernama Riri dan Wair. Dari Riri lahir Nulu, yang kemudian menikah dengan Rambek dan menurunkan kepala-kepala di Tondano.

Supit juga dipercaya memiliki banyak selir di berbagai tempat. Ia merupakan tokoh berkarisma yang kehadirannya di berbagai negeri selalu disambut seperti kedatangan seorang raja. Ia kerap ditandu seperti para Residen Manado, menerima bermacam hadiah, budak-budak atau ata, serta harta lainnya.

Namun, di balik kisah kebesaran dan karismanya, berkembang pula cerita bahwa Supit mengidap penyakit rematik yang disebut supi. Bahkan, nama penyakit tersebut dikaitkan dengan namanya.

Versi-versi Tentang Naiknya Supit Ke Kuasaan

Bagaimana Supit naik ke jenjang kekuasaan memiliki sejumlah versi. Paulus Supit dan Lodewijk Wenas mengisahkan bahwa pada awalnya Supit mengakali ayah tirinya, Ombeng, yang ketika itu menjabat Kepala Balak Tombariri di Katingolan.

Pada suatu kesempatan, Kompeni Belanda mengundang para kepala Minahasa untuk menghadiri pertemuan di Benteng Amsterdam, Manado. Lodewijk Wenas menghubungkan peristiwa tersebut dengan Kontrak 10 Januari 1679. Namun, Paulus Supit menegaskan bahwa kejadian itu berlangsung ketika VOC Belanda belum lama mendarat di Minahasa dan mulai menjalin hubungan dengan kepala-kepala setempat.

Konon, Supit mengatakan kepada Ombeng bahwa Belanda meminta para kepala datang dengan mengenakan pakaian berwarna merah. Ombeng tidak menyetujui permintaan tersebut karena sedang berduka setelah kematian Winuni, ibu kandung Supit. Akhirnya, Supitlah yang dikirim untuk mewakili Balak Tombariri dalam pertemuan di Manado.

Karena kepintarannya, Supit kemudian memperoleh gelar Kapitein dari Belanda dan diakui sebagai Kepala Balak Tombariri. Ombeng yang sangat menyayanginya menyetujui penggantian dirinya, meskipun mendapat protes dari anak kandungnya sendiri, Ogi, yang merasa berhak atas jabatan tersebut.

Dalam Kontrak 10 Januari 1679, pihak VOC Belanda diwakili oleh Gubernur Maluku Dr. Robertus Padtbrugge atas nama Gubernur Jenderal Rijcloff van Goens. Tokoh-tokoh Minahasa yang ditonjolkan dalam kontrak tersebut adalah Pacat Supit, jurubahasa Bastian Saway, Hukum Mandey, dan Pedro Ranty.

Nama Lontoh dan Paat tidak disebutkan, kecuali nama balak mereka. Dalam kontrak itu, Tomohon tercantum pada urutan keenam, Tombariri pada urutan ketujuh, dan Sarongsong pada urutan kedelapan.

Dua versi lain yang dikemukakan Paulus Supit, Lodewijk Wenas, Emiel Lontoh, dan Arie Mandagi menjelaskan mengapa Lontoh Tuunan dan Paat Kolano tidak tercatat dalam kontrak tersebut. Kedua versi itu sama-sama mengaitkan ketidakhadiran nama mereka dengan tindakan Supit.

Versi pertama menyebutkan bahwa Lontoh Tuunan, sebagai tokoh tertua dan pemimpin mereka, seperti halnya Paat, tidak memahami bahasa Melayu. Ketika mereka tiba di Manado menjelang pertemuan, Supit berbicara kepada Lontoh dan Paat. Ia berpesan, “Kalau Kompeni bertanya, kalian cukup menjawab ene,” yang berarti iya.

Pada hari pertemuan, ketika Belanda menanyakan siapa pemimpin mereka, Supit memanfaatkan kesempatan itu. Dengan menggunakan bahasa Melayu yang dikuasainya, ia menyatakan bahwa dirinya adalah pemimpin mereka, bukan Lontoh Tuunan.

Untuk memperkuat pernyataannya, Supit kemudian bertanya kepada Lontoh dan Paat dalam bahasa Tombulu, “Benar, kan?” Tanpa mengetahui makna sesungguhnya dari pertanyaan tersebut dalam konteks yang sedang berlangsung, Lontoh dan Paat menjawab, “Ene!”

Akibatnya, Supit dianggap sebagai kepala dan menjadi orang yang menandatangani Kontrak 10 Januari tersebut.

Menurut kelanjutan cerita dalam versi ini, Lontoh Tuunan dan Paat akhirnya mengetahui siasat Supit dan menolak menandatangani kontrak. Baru pada masa berikutnya, ketika Belanda kembali berusaha menentukan pemimpin Minahasa, ketidaksenangan Lontoh dan Paat terhadap Supit berusaha diredakan dengan memberikan kedudukan yang sama kepada ketiganya sebagai Hukum Mayoor Kepala. Menurut sejarawan Bert Supit, pengangkatan itu terjadi pada 1689.

Versi kedua menyebutkan bahwa ketika Belanda mengundang para kepala Minahasa untuk menghadiri pertemuan pada 10 Januari 1679 di Benteng Amsterdam, Manado, ketiga tokoh tersebut berangkat dari Tomohon dan singgah untuk mandi di sebuah mata air di Pineleng, dekat Lota, yang ketika itu merupakan ibu kota Balak Kakaskasen.

Dalam cerita ini, Lontoh yang menjadi kepala rombongan melepaskan pakaian kebesaran ketonaasannya. Pakaian itu kemudian diambil Supit. Ketika tiba di Manado, Supit diterima oleh Residen Manado dan ditunjuk oleh Gubernur Robertus Padtbrugge sebagai pemimpin dengan gelar Kapitein.

Konon, sejak kejadian tersebut, muncul perang dingin antara Supit Sahiri di satu pihak dan Lontoh Tuunan yang didukung Paat Kolano di pihak lain. Perseteruan itu disebut berlanjut hingga beberapa generasi, bahkan setelah ketiganya meninggal.

Ketegangan kemudian berlanjut di antara keturunan mereka. Manengkeimuri, putra Paat Kolano, dijatuhkan oleh Rondonuwu, putra Supit dari Laya, dari jabatan Kepala Balak Tomohon. Dalam kisah tersebut, Rondonuwu dibantu oleh adik tirinya, Tololiu dari Ares, yang memiliki kedekatan dengan Residen Manado.

Menurut Lodewijk Wenas, perang dingin antara keturunan ketiga tokoh itu baru berakhir ketika Lukas Wenas, yang membawa darah Lontoh Tuunan, Paat Kolano, dan Supit Sahiri, tampil berkuasa di Distrik Tomohon pada 1862, hampir dua abad kemudian.

Kontroversi Ternate

Pacat Supit Sahiri Macex dihadiskan lahir sekitar 1642, Lontoh Tuunan pada 1640, dan Paat Kolano pada 1650. Perkiraan ini bertentangan dengan tulisan Graafland yang menyebutkan bahwa Supit mencapai usia 110 tahun, sehingga tahun kelahirannya seharusnya 1628.

Dengan perkiraan tahun kelahiran tersebut, ketiganya tidak mungkin menjadi utusan Minahasa ke Ternate pada 1654 untuk mengundang Belanda datang ke Minahasa, sebagaimana selama ini banyak dipercayai. Jika perkiraan itu benar, Paat masih berusia kanak-kanak, sedangkan Lontoh dan Supit baru memasuki usia dewasa.

Sebaliknya, jika memperhatikan ketokohan ayah dan kakek mereka yang masih hidup serta aktif berperang mengusir Spanyol pada 1644, kronologi tersebut terasa masuk akal. Paat Kolano baru menjadi Kepala Balak Tomohon pada 1680, menggantikan kakeknya, Tonaas Tamboto. Lontoh menggantikan ayahnya, Mandagi, pada 1675, sedangkan Supit Sahiri menggantikan ayah tirinya, Ombeng, pada 1678 atau 1680.

Nama ketiganya baru tercatat secara resmi bersama-sama dalam Kontrak 10 September 1699 dengan Residen Manado Kapten Paulus de Brieving dan Asisten-Residen Samuel Hatting.

Mabuk Kuasa

Setelah belasan tahun, dominasi para kepala dari kalangan Tombulu tersebut tentu menimbulkan ketidaksukaan di antara kepala-kepala balak dari subetnis lain. Terlebih lagi, kepemimpinan ketiga tokoh itu diwarnai berbagai laporan mengenai tindakan sewenang-wenang, pemerasan, pilih kasih, dan ketidaknetralan.

Persoalan tersebut kemudian dikisahkan berbuntut pada eksodus penduduk ke Minahasa Selatan. Perpindahan itu selanjutnya dimanfaatkan oleh Kerajaan Bolaang (Mongondow) untuk kembali menegaskan klaimnya atas wilayah di seberang Sungai Poigar.

Menurut Bert Supit, tokoh pertama yang dipecat adalah Pacat Supit Sahiri Macex pada 10 Januari 1711. Lontoh Tuunan menyusul pada 12 Januari 1712, sedangkan Paat Kolano menjadi yang terakhir pada 3 Februari 1722.

Setelah itu, jabatan Kepala Hukum Mayoor ditiadakan. Supit, Lontoh, dan Paat hanya menjadi kepala balak di wilayah masing-masing.

Upaya terakhir untuk menempatkan seorang pemimpin Minahasa di atas pemimpin lainnya kembali dicoba pada 1739. Gagasan tersebut diajukan oleh Residen Manado Jan Smit dan kemudian diterapkan oleh Gubernur Maluku di Ternate, Marten Lelievelt, yang menjabat pada 1739–1744.

Sang gubernur menunjuk Tololiu Supit, putra Pacat Supit Sahiri dari Suanen yang menjabat Kepala Balak Ares, sebagai perantara dengan gelar Hukum Mayoor Kepala.

Namun, upaya itu kembali gagal. Seakan-akan para penyandang gelar Kepala Hukum Mayoor selalu mabuk kekuasaan dan kehilangan kendali. Meskipun terus dibela oleh Residen Manado Johannes Pauwen, jabatan Tololiu Supit akhirnya dicopot pada 30 Juli 1743.

Tiga Serangkai Penguasa Minahasa

Pacat Supit Sahiri Macex, Lontoh yang dikenal sebagai Lontoh Tuunan atau Lontoh Tuunan Mandagi, dan Paat alias Paat Kolano merupakan tiga tokoh Minahasa paling terkenal pada penghujung abad ke-17 dan permulaan abad ke-18. Mereka dikenal sebagai tiga serangkai penguasa Minahasa.

Selain memimpin balak masing-masing, ketiganya menyandang kedudukan sebagai perantara dengan gelar Hoofd Hoecums (Hukum) Majoor. Posisi tersebut membuat kekuasaan mereka melampaui kepala-kepala balak lainnya.

Jabatan Hukum Mayoor Kepala atau Kepala Hukum Mayoor menempatkan mereka sebagai pemimpin di atas para kepala balak di Minahasa yang hanya menyandang gelar Hukum Mayoor.

Pengangkatan Supit, Lontoh, dan Paat, yang jabatan serta namanya tercatat secara resmi dalam kontrak pada 10 September 1689, merupakan bagian dari upaya pemerintah VOC untuk mengatur dan mengendalikan para kepala Minahasa. Namun, mungkin pengangkatan tersebut telah berlangsung beberapa waktu sebelumnya.

Sejak awal, kepala-kepala Minahasa merupakan pemimpin merdeka di wilayah masing-masing, yang dalam sejumlah penggambaran disebut sebagai presiden atau raja. Dengan jumlah personel VOC di Manado yang terbatas, Belanda membutuhkan perantara yang memiliki kedudukan di atas kepala-kepala lain. Tujuannya adalah mempermudah komunikasi, hubungan dagang, dan pengumpulan pemasukan bagi kas Kompeni.

Kerabat

Hal yang menarik dari ketiga Hukum Mayoor Kepala Minahasa ini adalah bahwa semuanya berasal dari subetnis Tombulu, lebih khusus lagi dari wilayah Kota Tomohon sekarang.

Pacat Supit merupakan Kepala Balak Tombariri yang ketika itu beribu kota di Katingolan, kini berada di kawasan ampiteater Yayasan Masarang, Kelurahan Woloan I Utara, Kecamatan Tomohon Barat.

Lontoh Tuunan memimpin Balak Sarongsong yang ibu kotanya masih berada di Tulau-Amian Nimawanua, kini di kawasan persipatan Kelurahan Tumatangtang dan Lansot, Kecamatan Tomohon Selatan.

Sementara itu, Paat Kolano memimpin Balak Tomohon yang berpusat di Nimawanua, kini Kelurahan Kolongan I, Tomohon Tengah. Jarak antara ibu kota balak-balak tersebut relatif dekat. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, perjalanan antarlokasi itu paling lama hanya sekitar setengah jam.

Di antara ketiganya, Pacat Supit merupakan tokoh yang paling kontroversial sekaligus paling menonjol. Karena itu, ia sering terkesan sebagai kepala dan pemimpin utama mereka. Padahal, yang paling tua adalah Lontoh Tuunan, seorang tokoh yang digambarkan kalem dan suka mengalah.

Pacat Supit adalah anak Posumah, panglima Tomohon dari Talete, yang kini masuk Kecamatan Tomohon Tengah. Ia juga merupakan cucu Lumi Worotikan dengan Suey.

Kakeknya, Lumi, adalah Kepala Pakasaan Tomohon sekaligus pemimpin besar Tombulu. Ia dikisahkan mengobarkan perang besar untuk mengusir Spanyol dari Tanah Minahasa pada 10 Agustus 1644, setelah martabatnya dihina dan ia bahkan ditempeleng oleh seorang serdadu Spanyol berpangkat rendah.

Setelah berhasil mengenyahkan Spanyol, Lumi kemudian memimpin pasukan Tombulu dari Tomohon untuk mengusir Raja Bolaang (Mongondow), Loloda Mokoagow, hingga ke pesisir selatan Minahasa. Ia akhirnya tewas di lereng pegunungan Wulurmahatus. Nama Worotikan yang digunakan untuk menyebut kawasan tersebut hingga sekarang dipandang sebagai bentuk penghormatan untuk mengenangnya.

Ayah Supit, Posumah, dihadiskan sebagai panglima besar Tomohon. Dalam perang pengusiran Spanyol pada 1644, ia disebut berhasil mengayau kepala pemimpin Spanyol terakhir di Minahasa, yang menurut sejarawan Hersevien Manus Taulu bernama Don Pedro Alkasas.

Posumah menikahi Winuni, perempuan asal Tombariri. Dari perkawinan tersebut lahir Supit dan seorang anak perempuan bernama Rego, yang kelak menikah dengan Mumamengko.

Posumah meninggal pada usia muda karena terbunuh dalam peperangan ketika Spanyol berulang kali berusaha menguasai kembali Minahasa. Ia diwarugakan di Limondok atau Sumondak, negeri lama Talete. Pada 2000-an, lokasi tersebut telah berdiri rumah Wali Kota Tomohon ketika itu, Jefferson Rumajar.

Setelah suaminya meninggal, Winuni menerima pinangan Ombeng, Kepala Tombariri yang juga telah menduda setelah istrinya, Tongkang, meninggal dunia. Sejak itu, Supit kecil pindah dan tinggal di Katingolan, Kelurahan Woloan I Utara, yang ketika itu menjadi ibu kota Tombariri.

Supit bahkan menjadi anak angkat Ombeng dan sangat disayangi, melebihi kecintaan Ombeng kepada putra-putranya dari Tongkang, yaitu Rapar dan Ogi. Keadaan inilah yang membantu menjelaskan bagaimana Supit kemudian tampil sebagai Kepala Balak Tombariri menggantikan Ombeng.

Lontoh Tuunan sendiri merupakan keturunan para Kepala Pakasaan Sarongsong secara turun-temurun, dimulai dari Kalelekinupit, Sampouw, Tiow, dan Manangka.

Ia adalah anak Mandagi dengan Kumetar alias Kinetar. Kakeknya, Tonaas Wuwung, memimpin Sarongsong dalam perang pengusiran Spanyol pada 1644. Sementara itu, ayahnya, Mandagi, selain menjabat kepala balak, dikenal sebagai panglima Tombulu yang memimpin langsung pasukan Sarongsong dalam perang mengusir Raja Bolaang, Loloda Mokoagow, pada 1673.

Paat Kolano, yang paling muda di antara ketiganya, berasal dari garis keturunan penguasa Tomohon dan Ares. Ayahnya, Lewlew alias Leilei, yang diwarugakan di Talete, adalah anak Kepala Tomohon bernama Tamboto dan Winuwus. Ia juga merupakan cucu Tonaas Mokoagow atau Rori, yang memimpin kaum Tomohon berpindah dari Meiesu.

Ibu Paat bernama Mananuner, seorang perempuan cantik putri Kepala Balak Ares, Lolong, dan Baong.

Istri Dan Keturunan Pacat Supit

Pacat Supit memiliki tiga istri resmi. Istri tertuanya adalah Laya, perempuan asal Kamasi, salah satu dari dua negeri awal Tomohon yang masih bertahan hingga sekarang dan kini menjadi bagian dari kelurahan di Kecamatan Tomohon Tengah.

Istri keduanya adalah Suanen dari Ares, putri lain dari Lolong. Namun, terdapat pula versi yang menyebutkan bahwa Suanen merupakan putri atau bahkan istri muda Rumondor, Kepala Balak Ares setelah masa pemerintahan Lolong.

Istri ketiga Supit adalah Woki Konda, putri Watuseke, Kepala Balak Pasanbangko atau Ratahan.

Selain ketiga istri tersebut, Supit dikenal memiliki istri lain, termasuk Riri dan Wair dari Tondano, serta sejumlah perempuan dari berbagai negeri di Minahasa.

Konon, Supit dikenal mata keranjang atau don juan. Bahkan, berkembang pameo, “Ada Supit ada wanita.” Ketika melakukan turne ke berbagai negeri Minahasa, kepala-kepala balak dan hukum negeri dikisahkan kerap menyediakan gadis cantik untuk menyambutnya.

Memiliki banyak istri dan selir memang masih menjadi bagian dari tradisi dan adat sebagian kepala atau orang kaya Minahasa pada masa lalu, terutama sebelum Kristenisasi. Tidak mengherankan apabila keturunan Supit Sahiri kemudian tersebar dan berkuasa di berbagai wilayah.

Keturunannya tidak hanya ditemukan di Tombariri melalui Mongi dan Tinangon, anak-anaknya dari Woki Konda, tetapi juga di Tomohon melalui Rondonuwu dari Laya. Rondonuwu kelak juga berkuasa di Tombariri melalui keluarga Andries.

Di Ares, garis keturunannya berlanjut melalui Tololiu Supit dari Suanen. Di Tondano, keturunannya berlanjut melalui Riri. Sementara itu, di Ratahan, keturunannya hadir melalui putrinya dari Woki Konda, Kaampungan.

Bahkan, pengaruh keturunan Supit menjangkau Tonsea melalui cucunya dari garis Ares, Wongkol Tololiu, yang menikah dengan Hukum Mayoor Xaverius Dotulong.

Berbeda dengan Supit Sahiri, Lontoh Tuunan digambarkan sebagai tokoh alim yang hanya memilih seorang istri, yaitu Sumengkar alias Sengkar, adik Lewlew sekaligus bibi Paat Kolano.

Sumengkar banyak dikisahkan sebagai salah seorang perempuan paling cantik di Minahasa pada masanya. Kecantikannya membuat ia sudah dilamar sejak usia dini. Pada awalnya, Sumengkar menikah dengan Rapar dari Tombariri, kakak tiri Supit Sahiri yang meninggal pada usia muda.

Meskipun telah menjanda dengan tiga anak, kecantikan Sumengkar konon justru semakin bersinar ketika ia dilamar Lontoh Tuunan.

Dari perkawinan tersebut lahir anak-anak bernama Rondonuwu, Pandeirot, Sumindo, Meno, Pangemanan, dan Topowene, yang kelak menurunkan dinasti Waworuntu. Anak tirinya bernama Tiwow, Ringkitan, dan Sukar.

Sementara itu, Paat Kolano, yang paling muda dan disebut paling tampan di antara ketiganya, memiliki sejumlah istri. Namun, istri resminya disebut bernama Ringkitan, anak Lawit dan Eror.

Dua anaknya yang terkenal dari Ringkitan adalah Manengkeimuri dan Liwun. Liwun kelak menurunkan Lontoh Tuunan (2), Kepala Balak Tomohon yang dikenal sebagai salah seorang pemimpin besar Minahasa dalam perang di Tondano pada 1808–1809.

Dengan demikian, ketiga serangkai penguasa Minahasa tersebut sebenarnya masih memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat dekat. Paat Kolano bahkan memanggil Pacat Supit dan Lontoh Tuunan dengan sebutan paman.

Sumber Dan Narasumber

Tulisan ini merupakan sari dari tulisan-tulisan yang pernah dipublikasikan melalui surat kabar dan radio pada 1980-an, 1990-an, dan 2000-an.

Narasumber utama pada 1983–1986 adalah Paulus Quirenus Rudolf Supit dari Kamasi, pengarang novel Kasih Ibu; Arie Michail Mandagi dari Lansot, mantan Hukum Besar dan Kepala Pakasaan Sarongsong; Emiel Lontoh dari Kolongan, budayawan; serta Lodewijk Elisa Wenas dari Matani, sejarawan keluarga Wenas.

Pustaka

  • Riwayatmu Tomohon, stensilan Depdikbud Tomohon, 1986.
  • Tomohon Kotaku, Dinas Pendidikan Nasional Tomohon, 2005.
  • Tomohon Dulu dan Kini.
  • Penulis: Moderator Malesung

Rekomendasi

  • Walian Minahasa (Ilustrasi)

    Ketika Alam Menjadi Kalender: Jejak Pengetahuan Waktu Orang Minahasa

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2026
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Di tengah ketiadaan kalender tertulis seperti yang dikenal dalam tradisi Barat, masyarakat Minahasa pada masa pra-kolonial justru mengembangkan cara tersendiri dalam memahami waktu. Bukan angka dan tanggal yang menjadi acuan, melainkan alam langit, hutan, dan tanda-tanda ekologis yang menjadi penunjuk ritme kehidupan. Catatan para misionaris dan pejabat Hindia Belanda pada abad ke-19 menunjukkan bahwa masyarakat […]

  • 147 Sekolah, tetapi Hanya 25 Persen Dapat Menulis: Krisis Pendidikan Minahasa Tahun 1870

    147 Sekolah, tetapi Hanya 25 Persen Dapat Menulis: Krisis Pendidikan Minahasa Tahun 1870

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) menyatakan bahwa lembaga itu telah menghubungkan sekolah dengan setiap pos zending sejak didirikan pada 1797. Dalam catatan yang diterbitkan tahun 1871, para pengurus NZG menyebut pendidikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaan para zendeling. Mereka juga menyatakan bahwa kegiatan pendidikan di Minahasa telah dijalankan dengan tekun selama kira-kira 40 tahun. Menurut […]

  • Inilah Kita Baca Akan Tanah Minahasa – N. Graafland (1867)

    Inilah Kita Baca Akan Tanah Minahasa – N. Graafland (1867)

    • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Buku Inilah Kita Baca Akan Tanah Minahasa – N. Graafland (1867) DOWNLOAD – GDRIVE – 3MB – PDF

  • Sulawesi Utara Dalam Sumber-Sumber Asia Hingga 1667

    Sulawesi Utara Dalam Sumber-Sumber Asia Hingga 1667

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Sering diandaikan bahwa sebelum orang Eropa datang, Manado dan daratan Sulawesi Utara sudah dikenal luas oleh kerajaan-kerajaan Asia seperti Majapahit, pelaut Tiongkok atau Gowa. Andaian itu wajar, sebab pesisir ini terletak di jalur antara Filipina dan Maluku. Namun ketika sumber-sumber Asia yang tersedia dibaca satu per satu, gambarannya menjadi lain. Pulau-pulau di utara memang tercatat. […]

  • Legenda Opo Kawatak: Penjaga yang Tersisih dari Gunung Lokon

    Legenda Opo Kawatak: Penjaga yang Tersisih dari Gunung Lokon

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Menurut cerita tua masyarakat Tombulu, pada masa Opo Toar dan Lumimuut, keturunan mereka dipilih dan ditempatkan untuk menjadi penghuni sekaligus penjaga gunung-gunung dan bukit-bukit yang tersebar di seluruh tanah Minahasa, yang pada masa lampau dikenal sebagai Malesung. Di antara para keturunan itu, sebenarnya Opo Kawatak telah dipilih untuk menghuni dan menjaga Gunung Lokon. Namun, keputusan […]

  • Willem Cornput: Raja Kaidipang yang Muncul dalam Arsip VOC

    Willem Cornput: Raja Kaidipang yang Muncul dalam Arsip VOC

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Pada 2 Juli 1727, di kasteel Orange di Ternate, sebuah akta pendek ditandatangani. Isinya bukan penaklukan, bukan penyerahan wilayah dan bukan pula perjanjian dagang. Isinya perdamaian antara seorang raja dan para kepala negeri yang berada di bawahnya, yang sudah beberapa waktu berselisih. Raja itu bernama Willem Cornput, raja Kaidipang. Para kepala itu berasal dari negeri […]

expand_less