Sejarah Desa Pinamorongan: Jejak Leluhur Tountemboan dan Perlawanan Heroik Minahasa
- calendar_month Senin, 26 Jan 2026
- visibility 219
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Desa Pinamorongan di Minahasa bukan sekadar sebuah wilayah administratif.
Di balik bentang alamnya yang bergunung dan subur, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan leluhur, perjanjian adat, bencana, dan perang besar yang ikut membentuk identitas masyarakat hingga hari ini.
Sejarah Pinamorongan berakar pada peristiwa besar yang dikenal sebagai pembagian wilayah Minahasa di Pinawetengan pada tahun 1428. Peristiwa ini, menurut tradisi lisan, dipimpin oleh Lumimuut dan menjadi tonggak awal pemisahan etnis-etnis Minahasa ke dalam wilayah budaya masing-masing.
Migrasi Tountemboan Menuju Tenggara
Setelah pembagian di Pinawetengan, kelompok etnis Tountemboan mulai bergerak ke arah tenggara. Dalam perjalanan panjang itu, rombongan melewati berbagai daerah yang kini menjadi desa-desa tua di Minahasa.
Sebagian dari mereka memilih menetap di wilayah yang dianggap layak huni, termasuk di kawasan Kawangkoan.
Namun tidak semua berhenti di sana. Di bawah kepemimpinan Tonaas Mawokto, sebagian rombongan melanjutkan perjalanan bersama para tokoh adat yang dikenal sebagai para Dotu: Dotu Mondoringin, Dotu Tutu, Dotu Rumokoy, Dotu Sumewur, Dotu Salombaktas, Dotu Kaleeb, Dotu Makarawung, Dotu Sangian, dan Dotu Ladow.
Perjalanan ini berakhir pada tahun 1464, ketika mereka tiba di sebuah wilayah yang kelak dikenal sebagai Pinamorongan.
Pohon Beringin di Bukit Watuleley
Untuk menandai kedatangan mereka, para leluhur menanam sebuah pohon beringin di Bukit Watuleley.
Pohon ini menjadi simbol awal kehidupan baru dan penanda hak ulayat mereka atas tanah tersebut. Hingga kini, masyarakat setempat percaya bahwa yang tersisa hanyalah keturunan dari pohon asli yang telah mati dimakan usia.
Namun, wilayah itu bukanlah tanah kosong. Sebelum rombongan Tountemboan tiba, sudah ada sekelompok masyarakat yang tinggal di sebuah kawasan bernama Tawaang, yang kini menjadi area perkebunan.
Lokasi persis permukiman tua itu tidak lagi diketahui, tetapi jejaknya hidup dalam cerita turun-temurun.
Dari Tanah Tandus ke Kaki Gunung
Awalnya, para pendatang menetap di wilayah bergunung dan berbatu. Mereka mencoba bercocok tanam, namun tanah yang tandus membuat hasil panen selalu gagal.
Karena kondisi alam yang tidak bersahabat itu, tempat tersebut diberi nama Rumbia, berasal dari istilah Marumbi-rumbi yang menggambarkan keadaan tanah yang kering dan tidak subur.
Pencarian tanah yang lebih baik akhirnya membawa mereka ke sebuah kawasan di kaki gunung.
Di sana berdiri Gunung Manembo, yang hingga kini dikenal sebagai gunung tertinggi di wilayah Desa Pinamorongan. Di tempat inilah kehidupan mulai berkembang dengan lebih stabil.
Wabah Penyakit dan Perjanjian Leluhur
Kedamaian itu tidak berlangsung lama. Sebuah wabah penyakit yang dikenal sebagai sampar atau kolera melanda pemukiman dan merenggut banyak nyawa, terutama anak-anak.
Tragedi ini mengguncang masyarakat dan memunculkan perdebatan besar: apakah mereka harus kembali ke Rumbia atau mencari wilayah baru.
Akhirnya, para leluhur sepakat membagi diri menjadi dua kelompok. Satu kelompok kembali ke Rumbia, sementara yang lain mencari tempat baru.
Sebelum berpisah, mereka membuat perjanjian adat yang sakral: meskipun terpisah wilayah, mereka tetap satu sebagai saudara, dan tanah pertanian yang ditinggalkan harus tetap dihormati oleh semua keturunan.
Perang Besar dengan Kerajaan Bolaang Mongondow
Memasuki sekitar abad ke-18, wilayah Minahasa diguncang perang besar melawan Kerajaan Bolaang Mongondow.
Konflik ini berakar pada klaim kerajaan bahwa sebagian tanah Minahasa adalah wilayah taklukannya di masa lampau.
Klaim tersebut ditolak oleh puak-puak Minahasa, karena tanah itu secara nyata telah lama dihuni oleh orang Minahasa.
Pertentangan yang tak menemukan jalan damai akhirnya berubah menjadi perang berkepanjangan. Dalam salah satu fase paling genting, pasukan Minahasa terdesak, dan banyak wilayah jatuh ke tangan pasukan Bolaang Mongondow.
Saat itulah Pinamorongan menjadi benteng terakhir Minahasa.
Serban Merah dan Kemenangan Terakhir
Ketika pertempuran memuncak, para Tonaas Minahasa memerintahkan seluruh pejuang mengenakan serban merah di kepala. Tanda ini berfungsi untuk membedakan kawan dan lawan di tengah kekacauan medan perang.
Setelah pertempuran sengit, Minahasa akhirnya meraih kemenangan. Legenda setempat menyebutkan bahwa Raja Bolaang Mongondow tewas di ujung Desa Pinamorongan, terkena bambu runcing yang dilemparkan oleh seorang Tonaas Minahasa.
Mayat sang raja tidak dibawa kembali oleh pasukannya. Bambu yang menancap di tubuhnya konon tumbuh menjadi rumpun bambu yang masih dikenal oleh masyarakat hingga kini sebagai penanda peristiwa besar itu.
Dari Rumbia ke Pinamorongan
Untuk mengenang kemenangan dan semangat perlawanan, nama Rumbia diubah menjadi Pinorongan, yang menggambarkan keberanian dan keteguhan orang Minahasa.
Pada masa pendudukan Belanda, nama itu kemudian disesuaikan menjadi Pinamorongan, yang digunakan hingga sekarang.
Warisan Sejarah yang Terus Hidup
Kisah Pinamorongan bukan hanya cerita tentang perpindahan dan peperangan, tetapi juga tentang perjanjian leluhur, ikatan persaudaraan, dan hubungan manusia dengan tanahnya. Nilai-nilai itu masih hidup dalam adat, tradisi, dan ingatan kolektif masyarakat hingga hari ini.
Di tengah modernisasi, sejarah Pinamorongan tetap menjadi pengingat bahwa desa kecil di kaki gunung ini pernah menjadi saksi perjuangan besar Minahasa dalam mempertahankan martabat dan wilayahnya.
- Penulis: Moderator Malesung
